Mindset dan Konsep Islam

shutterstock_194620346

Proses menuju sukses bukan proses mudah. Pun demikian ketika seseorang telah berada pada puncak sukses, tak mudah untuk terus berada di sana dan tetap merendah. Dengan asumsi itu, seseorang yang ingin menggapai kesuksesan perlu memiliki ‘pikiran’ yang baik. Dari pola pikir yang benar, akan melahirkan mental yang kuat dan pengetahuan tentang apa yang mesti ia lakukan.

Prof. Carol S Dweck PH.D, seorang guru besar di Stanford University mengarang buku yang cukup lengkap tentang hal ini. Buku tersebut berjudul ‘Mindset’. Ia membagi mindset manusia ke dalam dua kelompok besar. Yaitu mindset tetap dan mindset tumbuh. Kesimpulan tersebut muncul setelah beberapa penelitian terhadap banyak orang.

Menurutnya, orang yang memiliki mindset tetap memiliki orientasi hidup yang sangat berbeda dengan orang yang bermindset tumbuh. Misalnya, mindset tetap berorientasi pada pembuktian kualitas diri, haus akan pengakuan dan ingin terlihat lebih menonjol dibanding orang lain. Selain itu, kelompok ini juga percaya bahwa setiap orang hadir ke dunia dengan bakatnya masing-masing. Dan mereka tak akan mampu untuk merubah banyak hal dari ‘bawaan lahirnya’ itu.

Berbeda dengan orang dengan mindset tumbuh. Mereka adalah orang yang melakukan sesuatu karena cinta. Mereka menghargai apa yang mereka kerjakan, tanpa harus mendapat pengakuan orang lain. Berkarya untuk kebahagiaan mereka, bukan untuk mendapat penghargaan. Penghargaan hanyalah ‘efek samping’ atau implikasi dari kerja mereka. Mindset tumbuh juga percaya bahwa sukses adalah hasil dari usaha tanpa henti, bukan hanya karena bakat.

Perbedaan pola pikir ini sangat menentukan sikap seseorang. Kedua-duanya bisa saja sukses, namun orang dengan mindset tumbuh lebih awet dalam keberhasilannya dan lebih cerdas dalam mengelola hubungan antar manusia. Hal ini karena mereka percaya pengembangan diri adalah segalanya. Berbeda dengan mindset tetap yang haus akan pujian, namun menjadi arogan dan angkuh. Bagi mereka, mereka tercipta lebih baik dari orang lain, sehingga mendengar pendapat orang lain (musyawarah) adalah kegagalan. Orang jenis ini payah dalm menghadapi kenyataan yang buruk bagi mereka.

Jika dibandingkan dengan konsep dalam Islam, maka mindset tumbuh sejalan senafas dengan semangat Islam. Hanya saja, konsep Islam lebih memperhatikan orientasi akhirat dibanding dunia. Islam menuntut umatnya untuk bekerja ikhlas hanya karena Allah SWT, bukan untuk mendapat pujian, jabatan atau harta.

Selanjutnya, Allah SWT memerintahkan hambanya untuk selalu bekerja keras. Dalam surah Al-Insyrah ayat 7 disebutkan ‘faidza faraghta fansob’ yang bermakna “jika telah selesai sebuah pekerjaan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan lain”. Di ayat lain juga disebutkan bahwa Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum / seseorang jika bukan mereka sendiri yang merubah dirinya.

Dalam memandang kegagalan pun, seorang muslim tetap harus huznudzon (baik sangka) kepada sang pencipta. Kegagalan bagi seorang muslim adalah ujian dari yang maha bijaksana, sehingga harus dilewati dengan senyuman dan pikiran positif. Lebih dari itu, selaku hamba, ia menyadari akan takdir atau ketetapan Allah SWT baginya. Apalagi, jika dihadapi dengan kesabaran, akan diganjar dengan pahala.

Dengan konsep seperti ini, Islam pernah memimpin peradaban dunia kurang lebih tujuh abad lamanya. Di era itu, muncul banyak ilmuwan muslim yang tak mengenal lelah untuk mengembangkan diri. Mereka dikenal dengan semangat belajar yang tinggi dan pantang menyerah. Sehingga, sudah selayaknya kaum muslimin mengikuti jejak langkah mereka untuk kebangkitan islam yang kedua kalinya.

 

Iklan

Politik Memanas, Mari Tetap Waras!

perpecahan

Pesta politik yang akan dilakukan tahun ini dan tahun depan mulai ramai dibicarakan. Ruang-ruang public mulai banyak diisi konten-konten bersifat politis, negative maupun positif. Para analis professional maupun yang amatir bermunculan. Merespon semua kejadian, lalu mengait-ngaitkan satu dan yang lainnya, menjadi sebuah penjelasan yang tampak masuk akal. Celakanya, mayoritas masyarakat tidak jeli dalam menilai berita. Hal tersebut memicu persengketaan di ruang public.

Ditambah lagi pihak-pihak yang memang sengaja memperkeruh suasana. Mereka bisa siapa saja. Yang jelas, kelompok ini sangat bernafsu mengacaukan Indonesia. Dan momen politik seperti ini merupakan waktu yang sangat tepat. Apalagi, mengadu antar kelompok masyarakat kini sangat mudah.

Peran Medsos

            Yah, mudah. Mereka hanya butuh perangkat HP dan Internet. Memproduksi hoax, lalu disebar ke media social. Warganet dijamin akan mengerubunginya. Seperti semut dan gula. Tak ada lagi sikap tabayyun. Jika berita tersebut menguntungkan kelompoknya, akan dijadikan ‘landasan’ berargumen.

Dengan demikian, medsos memang mengiurkan. Maka bukan tidak mungkin ada transaksi antara ‘produsen’ hoax dan para politisi. Jadilah medsos mesin perusakan dan pembentukan citra ini. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa media social adalah salah satu sasaran utama yang harus ditaklukkan para politisi sebelum menaklukkan lawan politik di hari H Pilkada. Hal ini wajar, mengingat mayoritas DPT yang notabene generasi milenial memiliki akun medsos. Setiap yang memiliki kepentingan berkuasa, pasti melirik medsos.

Maka, jadilah medsos liar tak tekendali. Setiap orang merasa berhak menafsirkan apa yang terjadi. Walaupun mereka tak punya kapabilitas dan kredibilitas dalam masalah itu. Hanya karena menguntungkan baginya. Beberapa orang bahkan hanya membaca satu kalimat saja untuk segera menyimpulkan seluruh isi tulisan.

Kesimpulan

Bangsa ini masih punya banyak PR yang belum selesai. Disintegrasi yang timbul akibat perbedaan semakin meruncing saat-saat pilkada. Berbeda pilihan politik dimaknai sebagai berbeda tujuan. Sementara, hadirnya medsos memudahkan untuk menyulut permusuhan dan kesaling-curigaan. Salah satu sebabnya adalah kurangnya budaya tabayyun dan minat literasi di kalangan masyarakat. Sudah selayaknya setiap insan Indonesia tetap waras sambil berupaya keras merajut kembali persatuan. Karena perpecahan adalah awal kehancuran.

Menerawang Wajah Medsos di Tahun Politik 2018-2019

images (2)

Oktober 2 tahun lalu (2016), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil risetnya tentang pengguna Internet di Indonesia. Dalam data tersebut, disebutkan pengguna Internet di negeri ini telah mencapai 132,7 juta jiwa. Jika mengacu pada data BPS tentang jumlah penduduk sekitar 260 juta jiwa, maka itu setara 51 % penduduk Indonesia.

Lebih lanjut, masih menurut APJII, konten yang paling banyak diakses adalah media social, yaitu sebanyak 97,7 % atau sebanyak 129,2 juta jiwa. Disusul hiburan (128,4 juta), berita (127,9 juta). Sisanya konten pendidikan, komersial dan layanan public. Dari sisi usia, umur 25-29 dan 35-39 menempati posisi teratas, masing-masing 24 juta (jika digabung 48 juta), kemudian kelompok usia 30-34 tahun sebanyak 23,3 juta, 20-24 tahun 22,3 juta, 15-19 tahun 12,5 juta dan terakhir usia 10-14 tahun sebanyak 768 ribu (Buletin APJII, November 2016).

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa penduduk Indonesia sedang beralih menuju era baru, yang mengandalkan koneksi  internet. Selanjutnya, media social menjadi salah satu tujuan utama para pengguna internet tersebut. Dan yang tak kalah penting, kelompok usia muda dan dewasa merupakan pengguna terbesar.

Fakta di atas menjadi menarik mengingat tahun ini adalah tahun politik. Sebanyak 171 daerah yang akan melaksanakan Pilkada. Sementara pemilihan legislative (pileg) dan pemilihan presiden akan dilaksanakan tahun berikutnya, 2019. Tentu, pengguna internet yang didominasi usia ‘pemilih’ akan menjadi rebutan. Mereka adalah ‘makanan’ empuk para kontestan politik.

Hal ini tergambar jelas selama masa kampanye Pilkada DKI 2016 hingga awal 2017. Setiap kandidat memiliki buzzer atau tim cyber. Tim ini berfungsi untuk menjelaskan program-program kandidat kepada pemilih, membentuk citra positif, dan semacamnya. Tentunya, ini adalah sebuah kemajuan. Dengan begitu, masyarakat mengetahui program-program sang kandidat secara detail sehingga menjadi referensi untuk mencoblos.

Sayangnya, selain hal baik di atas, kampanye politik yang dilakukan melalui medsos kerap kali melanggar aturan. Konten bermuatan hoax, SARA, hate speech dan semacamnya masih banyak menghiasi linimasa medsos. Tahun 2016 sendiri, di Jakarta, menurut Polda Metro Jaya, terdapat 1.207 kasus Cyber Crime. Menariknya, dari angka tersebut, pencemaran nama baik melalui medsos adalah yang tertinggi (detik.com, 30 Des. 2016). Bahkan saat Pilkada telah usai, pertarungan di medsos tak berhenti. Pendukung ‘fanatik’ tetap ‘bertarung’. Dalam hal ini, medsos justru memecah belah masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling berhadapan.

Potensi tersebut akan semakin besar di dua tahun depan. Politik seringkali menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Kasus cyber crime bisa jadi semakin marak. Baik dilakukan secara structural, maupun oleh individu semata. Baik dilakukan menurut ‘telunjuk politikus’, maupun inisiatif sendiri.

Medsos memang sangat mudah dimanfaatkan mendapatkan banyak massa. Sebabnya, media social bisa diakses kapanpun dan dimanapun, selama terkoneksi dengan internet. Biayanya pun murah meriah dan tak butuh banyak tenaga dibanding jika harus turun ke lapangan. Efeknya juga sangat besar dan jangkauannya luas. Artinya, penggunaan media social untuk memperoleh simpati sangat efektif dan efisien.

Dilain pihak, mayoritas pengguna medsos tidak kritis terhadap berita yang beredar. Kerap kali, mereka hanya membaca judul berita, lalu membagikan di linimasa miliknya. Atau, berita dari sumber yang belum jelas pun dianggap benar. Hal yang demikianlah yang rentan dimanfaatkan oknum berkepentingan yang tak bertanggung jawab.

Hal ini berkaitan dengan kurangnya minat baca di negeri ini. Membaca berita secara utuh tidak menjadi budaya. Akhirnya, mereka pun menjadi sasaran provokasi orang yang tak bertanggung jawab.

Jika demikian halnya, keberadaan medsos justru menjadi berbahaya. Ia menjadi alat disintegrasi bangsa. Maka, perlu ada upaya serius untuk mengantisipasi hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Selain dengan memblokir akun-akun provokator, website penyebar hoax atau menangkap para pelaku, pemerintah juga perlu menyusun rencana jangka panjang dengan membangun manusia Indonesia. Misalnya, dengan menggalakkan gerakan Indonesia membaca, sosialisasi penggunaan medsos yang baik dan bertanggung jawab melalui seminar-seminar dan meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pemuda. Dengan demikian, upaya penertiban media social bukan hanya sebatas penindakan, namun lebih kepada pencegahan di masa yang akan datang.

 

images (2)

Laa Izzata Illa Bil Islam!!

Aksi-Bela-Palestina.jpg

Kecerebohan Presiden Donald Trump dalam menyikapi konflik Israel-Palestina benar-benar menuai reaksi keras. Berbagai negara mengecam langkah orang nomor satu di AS tersebut. Bahkan, tak sedikit sekutu Amerika yang tak setuju.

Negara-negara islam yang termasuk anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bahkan telah berkumpul di Istanbul dan mendeklarasikan Yerussalem sebagai ibu kota Paletina. Protes juga terus berlangsung, di Iran, Turki, Pakistan, Gaza, dan Malaysia. Indonesia sendiri menggelar aksi besar-besaran Ahad (17/12) lalu di silang monas. Tak hanya itu, di Amerika sendiri berlangsung demo menentang keputusan Trump.

Ironisnya, Presiden dari Partai Republik tersebut malah ngeyel. “Aku hanya memenuhi janji kampanye.” Cuitnya di Twitter. Sebuah jawaban yang tak berkelas dari seorang kepala Negara. Padahal Negara-negara sekutunya seperti Inggris, Perancis dan Jerman tidak setuju. Mereka beranggapan, keputusan tersebut akan membangkitkan kembali aksi terorisme. Sel-sel teroris ISIS akan mendapat alasan bagus untuk kembali meneror.

Terlepas dari itu semua, seorang muslim mestinya bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bagaimanapun, Donal Trump telah membuka kembali mata dunia yang mulai lupa dengan nasib rakyat Palestina. Sekali lagi, kasus ini menyadarkan kembali umat islam bahwa “La Izzata Illa Bil’Islam”. Tidak ada kemuliaan tanpa mempraktekan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selama umat islam masih saling berhadapan, mengabaikan sunnah, tidak tegas dan tidak bangga dengan keislamannya, selama itu pula Islam menjadi mainan Negara-negara adidaya. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Hari ini, Amerika Layak Bersyukur!!

massa-aksi-bela-palestina-membakar-replika-bendera-amerika-serikat-_171215145052-909

“Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya’ud”

Ribuan orang memadati sekitaran Konsulat Amerika di Surabaya. Mereka meneriakkan yel-yel diatas dengan kompak, disusul suara takbir ‘Allahu Akbar’. Suasana yang sukses membakar semangat para ‘mujahid’ pembela palestina. Ditambah lagi suara lantang para orator yang membuat peserta aksi semakin membara.

“Relakah kalian jika Al-Quds dikotori oleh Israel sang penjajah?” Tanya salah satu orator kepada peserta, sekejap, pertanyaan tersebut dijawab “tidak!!”, “Takbir!” balas sang kiai di atas panggung. “siapkah kalian menyerbu konjen amerika jika mereka menolak menerima perwakilan umat islam?”, jamah segera menjawab tegas “siap, Allahu Akbar!!”

Sementara itu, beberapa meter di depan mereka, sekumpulan polisi anti huru-hara lengkap dengan atributnya bersiaga. Siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Namun sayangnya, setelah dua jam berlalu, tak ada satupun dari pihak konsulat jenderal Amerika yang menyatakan siap menerima perwakilan umat Islam. Padahal, niat umat Islam hanya menyampaikan aspirasi terhadap sikap Presiden AS, Donald Trump yang mengakui Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Sebuah sikap ‘banci’ yang ditunjukkan Negara yang selama ini begitu angkuh dan sombong.

Menyadari kepengecutan Amerika yang tak mau mendengar aspirasi kaum muslimin Surabaya, massa mulai memanas. Namun, panitia terus menenangkan. “aksi kita adalah aksi damai, tak boleh anarkis. kecuali jika mereka menolak menerima kita!” tegas panitia. Namun apa daya, umat kehabisan kesabaran. Salah satu peserta maju membawa bendera, hendak menerobos polisi. Para petugas keamanan tersebut merespon, membentuk barikade. Beberapa peserta ikut maju, siap melawan. Situasi memanas. “Yang di depan, mundur, munduuurr, ada saatnya kita maju!” komando keras dari komandan aksi. Para laskar umat islam segera maju, menenangkan  dan meminta massa agar mundur. Lalu, mereka ikut membuat barikade di depan polisi. Menghalangi para mujahid yang telah marah. Melihat situasi seperti itu, petinggi polisi akhirnya menyatakan siap memediasi umat islam dan konjen Amerika, dan komandan aksi menyeru peserta untuk bubar.

………..

Begitulah suasana demonstrasi damai yang digelar oleh gabungan ormas islam Jawa Timur, Jum’at, 15 Desember 2017. Sikap Amerika yang tak gentle hampir saja berujung anarkis. Kaum muslimin yang hadir karena terpanggil oleh Al-Quds telah siap lahir batin menerima kemungkinan terburuk. Untung saja, umat islam masih sangat sabar, toleran dan mengikuti komando. Bisa dibayangkan jika mereka dibiarkan, bisa saja konsulat jenderal Amerika di Surabaya kini teah tiada. Untuk itu, hari ini, Amerika layak bersyukur.

Ternyata Sulit!

ilustrasi-kejahatan-_170305201843-176

Seorang lelaki berbatik kuning tergesa-gesa dijejeran bemo. Dua langkah dibelakangnya, seorang wanita berlari-lari kecil, berusaha menggapai lelaki kurus tersebut. Sekejap kemudian, tangan kirinya menyerahkan sebuah HP ke dalam bemo ketiga yang langsung disambut seorang lelaki lain berbaju biru. Si batik kuning lantas berbalik, melayani rengekan wanita tadi, “Hp? Hp apaan? Gue tak ngerti” ujarnya. “bapak tadi ambil Hp saya di sini.”rengek si wanita menunjuk kantong celananya.”mana Hpnya, gak ada tuh Hp di sini.” Ujar sang lelakiyang kini mengangkat bajunya, berusaha meyakinkan. Dibelakangnya, pria berbaju biru tadi bergegas meninggalkan bemo, melangkah cepat entah kemana.

Sementara itu, kami, yang beberapa langkah dari tempat kejadian hanya bengong. Terlambat sadar bahwa peristiwa tersebut adalah pencopetan. Butuh waktu kurang lebih 4 menit untuk memutuskan apa yang harus kami lakukan. Itupun hanya sekedar memberi tahu si korban (wanita) tentang kronologis kejadian yang kami saksikan. Hanya sebatas itu, jejak Hpnya sudah hilang.

……………….

Kawan, kisah di atas adalah kisah nyata yang kami alami. Waktu itu, kami (berempat) sedang berjalan menuju stasiun pasar senen, salah satu stasiun kereta api. Tepat sebelum memasuki areal stasiun, kejadian itu kami saksikan. Sayangnya, tak ada yang bisa kami lakukan selain apa yang telah kami sebutkan. Pertama, kami beralasan ‘orang jauh’, kedua, tak mau terlibat, ketiga, cuma berempat.

Mungkin, sebagian kita, jika ditanya ‘apa yang akan kamu lakukan jika menyaksikan sebuah kedzoliman?’ kita dengan yakin menjawab ‘saya akan berusaha mencegahnya!’ atau ‘tentu, saya akan membela kebenaran!’, atau mungkin jawaban lain yang tak kalah ‘wahh’. Karena klaim kedzoliman pula, banyak mahasiswa berdemo, para professor menulis di koran, politisi berbicara berapi-api di televise. Tapi, apa yang terjadi ketika kita benar-benar dihadapkan pada situasi kondisi seperti di atas. Tindakan apa yang akan kita lakukan?. Benarkah akan seperti yang kita ucapkan? Ternyata, mencegah kedzoliman itu tak mudah, wajar jika Allah berjanji memberi balasan surga bagi mereka yang memiliki keberanian mencegah kemungkaran.

Dibalik #Kids JamanNow

images (1)

Kids jaman now menjadi istilah yang sangat popular beberapa bulan terakhir. Hampir semua kalangan, kaum muda hingga orang tua telah akrab dengan kalimat blasteran ini. Bagaimana tidak, tiga kata perpaduan Inggris Indonesia ini bertebaran di jagat media social maupun media massa. Jadilah ia artis baru yang langsung nge-top.

Uniknya, kids jaman now selalu disandingkan generasi micin. Entah bagaimana asal-usulnya, yang jelas, dua slang ini diidentikkan dengan ‘style’ generasi masa kini. Khususnya usia-usia SD dan remaja. Kids jaman now atau generasi micin menjadi ‘kata baru’ untuk menggambarkan realitas generasi muda saat ini.

Perilaku-perilaku kids jaman now yang dulunya tak lazim dilakukan oleh usia muda sekarang menjadi hal lumrah. Beberapa video dan foto yang mempertontonkan ‘kedewasaan’ anak yang belum dewasa bertebaran di seantaro medsos. Misalnya, merokok, nge-vape, pacaran, mesra-mesraan dan sikap dewasa lain. Hal-hal itulah yang memicu munculnya anekdot kids jaman now juga generasi micin.

Namun, jika ditelaah lebih jauh, apa yang sebenarnya di balik fenomena ini, maka boleh jadi kita akan menemukan beberapa hal;

Pertama, pembiasaan. Slang ini sepertinya mencoba mensosialisasikan gaya baru di kalangan anak sekarang. Public dipaksa untuk membiasakan diri dengan model generasi saat ini. Bila dibahasakan, media seolah ingin mengatakan “ini loh gaya anak sekarang!”. Sehingga, perilaku yang dulu dianggap aneh, kini biasa-biasa saja. Tentu, hal ini berkaitan dengan paham relativisme, yang menganggap kebenaran tidak mutlak, tapi tergantung kondisi social dan budaya suatu tempat.

Kedua, pengkaburan. Maksudnya ialah, pencetus anekdot ini ingin mengaburkan apa yang memengaruhi kids jaman now. Mereka mengenalan ‘generasi micin’ seakan-akan anak mereka adalah korban micin. Micin sejak beberapa dekade dianggap merusak otak, membuat bodoh. Maka ‘generasi micin’ sebenarnya menyiratkan pesan ‘generasi bodoh karena micin’. Padahal, jika membongkar penyebab utama perilaku kid jaman now adalah media. Yah, baik itu media massa (mass media) atau media social (social media) yang tanpa kontrol. Maka, frase itu dibuat untuk mengaburkan penyebab utama gaya aneh kids jaman now.

Ketiga, pembodohan. Kids jaman now adalah pembodohan public. Ia dibuat hanya untuk mengelola isu. Ketika banyak orang berdebat dengan isu kids jaman now, isu lain ditenggelamkan. Rakyat dihibur dengan hal remeh temeh sementara ‘pemain sirkus’ menyusun rencana.

Tentu, ketiga hal di atas hanyalah pandangan kami semata. Sebagai seorang pemuda, kritis terhadap situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Tidak gampang terbawa arus lingkungan yang bias jadi rekayasa pihak-pihak yang tidak ingin generasi muda peduli pada hal-hal yang lebih besar. Terima kasih.