Inspirasi Dari Jalan

sj_20110822094621_3YxXh

“Sebagai makhluk sosial, manusia butuh orang lain. Jalinan komunikasi akan membentuk simpati. Simpati akan mengundang harmoni. Dan kehidupan yang harmonis adalah modal menuju kebahagiaan sejati”

Tulisan ini aku buat untuk mengenang perjalannku. Yang ke Semarang itu. Dalam artikel sebelumnya (Ngebolang di Semarang), hanya mengangkat tentang perjuangan di perjalanan. Kali ini, tentang inspirasi yang kudapatkan dari interaksi kepada orang-orang. Dan ini lebih menarik.

Inspirasi pertama saat tiba di Salatiga. Kota madya antara Semarang dan Solo. Udaranya dingin, kota itulah yang aku tuju. Di sana, aku menginap di rumah teman dari adik. Saat baru menginjak halaman, suara murattal langsung terdengar. Aku terkesan. Lebih berkesan lagi ketika si mbah – nenek dari temen adikku – bilang kalau di rumah itu tak ada TV. “Maaf nak, gak ada apa-apa di rumah ini. Tak ada TV.” Katanya. Jelas saja, bukan karena tak mampu beli, namun tak mau. Buktinya, keluarga tersebut punya mobil. Rumahnya luas. Punya usaha. Kalau sekedar TV, pasti bisa beli. Tapi yang ada hanya MP3 berisi tilawah yang bunyi 24 jam. HP tentu punya. Untuk keperluan komunikasi. Bagi anak – anak, interaksi dengan gadget dibatasi. Hasilnya? Anak tertuanya lulus di Al-Azhar. Yah, yang di Mesir itu. Yang juga menarik, keluarga itu habis makan cuci piring masing-masing.

Yang kedua, saat aku di masjid Stasiun Tawang. Ngobrol dengan seorang guru PAI. Guru sejak tahun 1985. Usianya 52 tahun. Punya lima anak. Beliau banyak cerita tentang kehidupan keluarga. “Orang tua itu sangat menentukan karakter anak. Orang tua harus menjadikan baiti jannati (rumahku surgaku) bagi setiap anggota keluarga.” Katanya saat ku tanya tentang pendidikan antar generasi. Menurut beliau, anak sekarang rusak bukan hanya karena zaman yang memang berubah, tapi juga karena orang tua yang gagal mendidik. Salah satu cara mendidik yang paling baik, menurut beliau yaitu keteladanan. “Dulu, ayah saya setiap selesai makan, cuci piring sendiri. Ibu saya bilang ‘tuh liat bapak, cuci piring sendiri’, saya waktu itu belum mau ikut, tali setelah menikah baru saya sadar.” Ceritanya bersemangat. Selain itu, si bapak juga berpesan, “hidup ini nyari berkah dek, bukan yang lain.” Hasilnya? Anak pertamanya udah jadi dosen di kampus negeri.

Cerita ketiga dari ibu paruh baya teman duduk di kereta api. Beliau Bhayangkari. Istri polisi. Walau suaminya telah pensiun, beliau masih aktif di Bhayangkari. “Daripada diam di rumah, ikut arisan kan lebih bagus.” Katanya. Yang menarik saat si ibu cerita tentang keponakannya. Yang pergi ke Papua. Sendirian. Demi cinta. Padahal belum nikah. “Kok berani ya!!” Ucapnya keheranan. Aku bilang, ‘anak jaman now emang gitu bu’.

Tentu, ada beberapa orang lagi yang aku ajak bicara. Misalnya, sekelompok remaja asal Palangkaraya yang ke Jawa demi mendaki gunung Semeru. Itu lah hobi. Dilakukan sepenuh hati, sesulit apapun ia. Juga seorang bapak yang kupinjami charger di stasiun. Yang benci naik bus. Karena terlalu laju katanya. Padahal kereta lebih laju. Haha. Ada juga ibu yang mengantar anaknya masuk pesantren di Pasuruan. Ia orang Indramayu, Sunda. Suaminya orang Pasuruan, orang Jawa. Ini menepis mitos kalau orang Jawa tak boleh menikah dengan orang Sunda. Masih di kereta, aku ketemu pemuda dari Tegal. Ia akan kerja di Surabaya. Yah, cari kerja memang sulit. Apalagi saat ini, yang ekonomi sedang lesu. End.

 

 

 

 

Iklan

Ngebolang di Semarang

IMG_20180713_055258_HDR.jpg

Hari Selasa, aku ke Salatiga. Sebuah kota madya setelah Boyolali. Terletak antara Solo dan Semarang. Perlu lebih sembilan jam untuk sampai. Itu jika menggunakan bus. Itupun harus ganti bus di Solo. Sebenarnya bisa langsung, tapi waktu itu aku ketinggalan bus langsung itu. Sampai Salatiga, hawa dingin langsung menyapa. Daerah ini memang dingin. Terletak di kaki Merbabu.

 

Aku bersama adik perempuan ku. Nurul Afifah. Ia memilih mondok di kota tersebut untuk melanjutkan hafalannya. Yang sudah 15 Juz. Pemiliknya bernama Ustadz Mahmud, alumni sekaligus guru di Al-Irsyad. Pondok Pesantren salaf yang cukup terkenal.

 

Pulangnya aku lewat Semarang. Itu keputusan dadakan. Sekalian lihat-lihat ibukota Jawa Tengah ini. Toh ongkosnya sama jika ke Solo. 15 ribu rupiah. Rencananya, aku akan naik kereta. Yang kulihat jam 11 esok hari. Sialnya, tiketnya telah habis. Yang 90 ribu juga habis. Yang ada tinggal yang 100 ribu. Berangkat jam 9 malam. Tiba jam 1.40 di Surabaya. Jadi, aku masih punya waktu 34 jam untuk menikmati hidangan tuhan di Semarang.

 

34 jam tanpa teman, keluarga dan yang lebih parah tanpa charger HP. Sebenarnya aku punya teman, tapi tempatnya agak jauh dari pusat kota. Ongkosnya lumayan. Maka, ku putuskan untuk ngebolang. Ya, ngebolang, bukan di alam bebas, tapi di kota metro. Seperti yang pernah aku lakukan di Jogja, satu setengah tahun lalu. Tapi waktu itu aku bersama teman, 4 orang. Kini aku sendiri. Lebih menantang.

 

Seperti di Jogja, Semarang juga punya Bus Rapid Transit (BRT) trans Semarang. Mirip trans Jakarta. Bodinya bertuliskan ‘Semarang Hebat’. Sekali jalan 3.500,-. Untuk pelajar yang berseragam dan membawa kartu pelajar, cuma di pungut 1.000,-. Murah dan mudah. Untuk naik BRT, harus ke Halte terdekat. Tujuanku simpang lima, yang katanya pusat kota. Di tengahnya ada taman. Tapi karena matahari terik, taman itu sepi. Ku putuskan untuk ke St. Tawang, tempatku naik esok harinya. Disana ada tempat cash milik stasiun. Jadinya aku nyari counter. Beli cash dan pergi. Sampai stasiun, ada yang menarik. Ternyata, setiap hari ada group musik yang menghibur penumpang. Sawer musik. Lagunya tergantung permintaan penumpang. Baru kali itu aku lihat pemetik biola. Lumayan menghibur.

 

Menjelang ashar, HP kucabut, walau belum full. Aku ke masjid. Yang satu kompleks dengan stasiun. Ku lihat google map. Nyari posisi masjid Agung. Tempatnya di Citarum. Untuk ke sana, bisa menggunakan BRT juga. Turunnya di pasar yaik. Yang baru direlokasi. Aku harus manjat pagar untuk sampai di kompleks masjid. Karena lewat samping, kemegahan masjid belum terlihat. Hanya terlihat muda-mudi yang sedang jogging sore. Mengikuti lintasan yang mengelilingi masjid. Aku masuk dan langsung mencari kamar mandi. Sejak pagi aku memang belum mandi. Hehe. Hanya mandi subuh. Setelah mandi, aku naik tangga. Mencari terminal listrik yang nganggur. HP ku sudah mau lowbat lagi. Di situlah kusadari, charger yang belum sehari itu hilang. Entah hilang dimana. Yang jelas di tasku tak ada. Kacau.

 

Kekecewaanku segera tergantikan oleh kemegahan MAJT – Masjid Agung Jawa Tengah – utamanya daerah depan. Daerah itu adalah halaman depan yang terbuka. Dilengkapi payung raksasa buka tutup seperti di Masjid Nabawi. Sore itu banyak pengunjung. Dengan berbagai kegiatan. Mulai jogging, latihan karate, atau sekedar ngisi waktu sore bersama keluarga. Suasananya ramai. Sampai menjelang Maghrib.

 

Orang-orang mulai berdatangan. Dengan baju gamis. Sebagian kaos oblong. Mungkin mereka musafir yang kebetulan lewat situ. Adzan segera berkumandang. Suaranya merdu memanggil. Agar makin banyak yang datang. Selepas shalat, aku keluar. Mencari charger baru. Tanpa HP aktif, suasana kesendirian akan tambah merana. Cukup jauh untuk menemukan counter. Itupun, pilihan chargernya cuma dua. Satu untuk Nokia jadul, satunya yang umum digunakan. Cocok untuk android. Ku beli dan kembali ke masjid. Setelah shalat isya, aku ke lantai dua. Segera mencari colokan, mengecharge HP dan bersiap tidur. Malam itu, aku tidur sendirian. Di MAJT. Setelah mendengar kajian yang dilaksanakan lantai bawah. Ternyata, saat aku berbaring siap tidur, banyak yang datang. Bukan manusia, bukan pula hantu. Tapi nyamuk. Ya, hewan kecil hitam dekil itu sangat menggangu. Apalagi, sukanya terbang Deket telinga. Ihhh, sebel deh pokoknya. wkwkwk. Untung saja ada sarung. Setidaknya cukup untuk melindungi area wajah dari serangan pasukan hitam itu. Jelas saja, tidurku tak nyenyak. Tapi lumayan untuk menghilangkan rasa pegal di kaki.

 

Esoknya, aku masih di masjid yang dibangun selama 4 tahun itu (2002-2006). Pagi hari juga banyak pengunjung. Dari kota-kota sekitar Semarang. Saat matahari sudah agak tinggi, aku jalan melihat lihat kompleks masjid. Lalu menuju perpustakaan Cheng Ho, tak ada pengunjung di sana. Hanya petugas seorang diri. Aku masuk dan memilih buku tentang sejarah imam 4. Lumayan menambah wawasan.

 

Saat sholat Jum’at, jamaahnya ramai. Sang khatib mengangkat masalah toleransi dalam Islam. Bahwa Islam tak memaksa siapapun untuk beriman. Selepas Jum’at memang ada acara pengucapan syahadatain dari 3 orang mualaf. 2 laki 1 perempuan. Sebelumnya mereka cristiani. Saat syahadat itu, si perempuan nangis. Antara bahagia karena telah menemukan agama yang benar atau menyesal mengingat masa lalu. Yang entah bagaimana.

 

Dalam rencana ku, aku akan ke stasiun setelah Jum’at. Tapi karena cuaca terik, aku putuskan untuk istirahat. Tidur hingga menjelang ashar. Setelah itu, aku keluar. Mencari sandalku yang kuletakkan di rak. Tak ada. Di tangga depan. Tak ada. Di samping. Juga tak ada. Di manapun tak ada. Kesimpulannya sandalku hilang. Solusinya ; beli lagi. Lalu ke stasiun lagi, dan berangkat ke Surabaya. Gitu aja.

 

 

 

 

 

Aku Bukan Jomblo!!

IMG_20180708_174608_HDR.jpg

Pertanyaan itu muncul lagi. Kali ini dari sepupu ku. Perempuan. Umurnya sebaya denganku. Entah apa motivasinya, ia bertanya. Pertanyaan yang sejak dulu membuatku ragu. Yah, aku ragu untuk menjawab pertanyaan “Kamu punya pacar?” Atau sejenisnya. Menjawab ‘Ya’ berarti aku berbohong. Menjawab ‘Tidak’ bagiku tidak tepat. Pemuda yang “Tidak punya pacar” akan dianggap sebagai jomblo. Sementara aku tak merasa sebagai jomblo.

Allah yang maha kuasa telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan, pria dan wanita, jantan dan betina. Artinya, sejak lahir pun, kita sudah berpasangan. Agar lebih romantis, Allah belum mempertemukan kita. Dengan si dia. Butuh usaha dan ikhtiar agar perjuangan meraih cinta dari jodoh lebih bermakna. Di sinilah sisi romantisnya.

Lalu, bagaimana mengusahakan agar menemukan ‘sepotong hati’ yang belum ketemu? Bagaimana agar kita menjadi sempurna dengan berpasangan? Ini yang sering disalah-pahami. Ada yang  beralasan ‘pacaran’ adalah pintu awal untuk menikah. Padahal, setelah menjalin hubungan bertahun-tahun, akhirnya putus. Yang menyakitkan jika si dia malah nikah sama orang lain. Lebih parah lagi jika malah kehilangan nyawa atas nama cinta. Seperti banyak kasus itu. Bunuh diri atau dibunuh pacarnya sendiri. Niat cari jodoh, nyawa melayang.

Padahal, Allah telah memberi jalan. Islam memiliki konsep sendiri dalam mencari jodoh. Jika tertarik pada seseorang, syariah memberi jalan untuk berkenalan (ta’aruf). Namun, niat awal dalam bertaaruf haruslah untuk menikah. Bukan untuk gagah-gagahan. Atau pamer. Apalagi jika sebatas pelampiasan. Setelah merasa cocok, barulah melamar. Dalam hal ini, wanita berhak menolak atau menerima.

Dari penjelasan singkat ini, sebenarnya tak ada jomblo. Setiap orang telah memiliki pasangan. Dan diberi jalan untuk menemukan pasangannya. Ada yang mengikuti jalan tersebut, ada pula yang tidak. Beberapa orang – yang sangat baik – memilih menjaga jodoh orang lain. Setelah berpisah, yang tinggal hanya sakit hati. END.

 

Pesan Dari Rusia

10-169

Tahun ini lumayan menegangkan. Setidaknya bagi dua benua. Asia dan Amerika. Entah mengapa, kedua benua ini selalu saja bersinggungan. Marah-marahan. Cuek-cuekan. Gentok-gentokan. Dalam banyak hal. Ekonomi, politik, militer dan sebagainya.

Saat beberapa negara Asia bagian tengah timur bergejolak, U.S.A ikut campur. Mulai Afghansitan, Amerika hadir. Perang Iraq, Amerika bosnya. Perang Suriah, Amerika tak mau ketinggalan. Berebut pengaruh dengan Rusia dan Turki. Terakhir, Polisi dunia itu buat gaduh dunia Islam. Keputusannya memindahkan kedutaan ke Jerussalem sebagai bentuk pengakuan ke Israel dikutuk seluruh dunia. Tapi, tetap saja dilakukan. Walau mayoritas negara-negara anggota PBB menolak. Kita paham, itu memang gayanya si bos dari benua Amerika. Angkuh.

Tapi, itu Asia bagian timur tengah. Dengan Asia timur jauh beda lagi. Negeri paman sam lumayan keteteran. China, negara paling maju di Asia maju sebagai penantang kuat. Ekonominya terkuat kedua di dunia. Tahun ini baru saja meresmikan kapal induk buatan sendiri. Benar-benar buatan sendiri. Tak dibantu siapa pun. Si Trump, yang bilang mau make America great again nantang perang dagang. Dinaikkannya bea cukai barang-barang China. China tak mau kalah. 60 jenis barang impor dari Amerika juga dibuat sengsara. Kebanyakan hasil pertanian. Impass!!

Tahun ini juga, Amerika mau berunding. Dengan salah satu negara Asia timur jauh. Negaranya Kim Jong-Un. Yang rambutnya keren itu. Penyelenggaranya juga di Asia. Tetangga kita, Singapura. Setelah bertahun-tahun maki-makian, ancam-ancaman, olok-olokan, Korut dan AS bersalaman. Berdamai. Itu sejarah besar.

Satu lagi yang bikin tegang. Tadi malam (19/06/2018) Jepang mengalahkan Kolombia. Dalam pertandingan bola sejagad. Itu juga sejarah. Jarang negara Asia bagian ini menang lawan negara dari benua Amerika. Walau bukan menaklukan si AS, setidaknya dari sana. Apalagi, secara itung-itungan, dalam sepakbola, negaranya Falcao lebih hebat dari negaranya Paman Sam.

Itu tanda. Bahwa Asia bisa bangkit. Melawan kepongahan negara digdaya. Amerika harusnya mulai sadar, yang lemah tak selamanya lemah. Dan yang kuat tak selamanya kuat. Dunia itu berputar. Maka yang kuat tak boleh menindas yang lemah. Sekian!!

 

Ketika Malaikat Maut Begitu Dekat

Ilustrasi-Waktu-Kematian

Puasa kali ini aku pulang. Ke Palu. Tempat tinggal keluargaku sejak 2014. Naik pesawat Boeing 707 milik Lion Air. Dari Surabaya-Makassar-Palu. Ongkosnya 850 ribu. Karena puasa, lebih hemat. Tak beli makanan apa-apa. Cuma Apel malang. Buat oleh-oleh.

Saat check in, aku dapat seat 35 F. Tepat di samping jendela. Saat transit di Makassar, aku dapat seat 25 C. Juga di samping jendela. Dan sayap pesawat. Baru kali ini aku duduk di samping jendela. Di siang hari. Saat daratan begitu jelas. Dan awan juga tak menghalangi.

Sepanjang perjalanan, pandanganku ke bawah. Sesekali ngobrol dengan teman duduk. Tapi lebih banyak memperhatikan bumi. Dari ketinggian ribuan kaki. Dan aku begidik. Entah mengapa aku takut. Hamparan daratan Jawa Timur dan lautnya. Darantan tersebut terlihat sama tinggi dengan laut. Apalagi pulau-pulau kecil. Tentu tak berdaya jika laut berontak. Surabaya, dengan gedung tingginya juga akan kalah.

Memikirkan itu, aku sadar. Manusia memang butuh tuhan. Yang mengendalikan semua hal di bumi. Yang menjaga agar air laut tidak menjadi bah. Menjaga tanah tidak longsor. Dan lainnya. Aneh ada manusia sombong. Padahal, mudah saja Allah menghabiskan manusia. Kun fayakun.

Saat transit di Makassar, kami pindah pesawat. Jenisnya sama. Kali ini aku duduk di samping jendela sayap. Posisi itu lebih menakutkan lagi. Aku teringat tulisan DI’s Way tentang penumpang pesawat di Amerika. Ia terisap keluar jendela. Hingga setengah badan. Sebabnya jendelanya terlepas karena terkena sesuatu dari sayap. Menyeramkan. Sepanjang perjalanan, ku kencangkan sabuk di kursi. Ngobrol dengan teman duduk. Dan selalu memperhatikan sayap.

Itu peristiwa pertama. Yang kedua, saat aku telah tiba di Palu dengan selamat. Ternyata, dua hari sebelumnya, teteh (sebutan orang kaili kepada kakek) masuk rumah sakit. Ia adalah adik dari nenek. Ibu dari ibuku. Dulu, ketika sekolah di Makassar, aku sering berkunjung ke rumahnya. Sering.

Esoknya, aku ke rumah sakit. Bersama nenek dan ibu. Menjenguk beliau yang terkulai lemah. Ia kesulitan bernafas. Dan BAB. Tak lama, kami pulang. Malamnya, ada kabar. Beliau masuk ruang ICU jantung. Esok paginya aku pergi lagi. Beliau tak lagi sadarkan diri. Kesulitan berbicara. Dan selalu berontak. Begitu hingga malam. Sore aku pulang. Besoknya datang lagi. Kondisinya sudah sangat lemah.

Aku duduk di sampingnya. Seperti merasakan penderitaannya. Hingga, alat pendeteksi jantung (entah apa namanya) menggambarkan kondisi buruk. Si teteh tak bergerak lagi. Tanteku, anak dari teteh segera memanggil dokter. Semua alat di keluarkan. Nyawa berusaha di selamatkan. Suasananya mencekam. Hingga dokter menyerah. Tuhan telah memanggilnya. Isak tangis pecah.

Itulah pengalaman pertamaku menyaksikan orang meninggal. Tentunya, malaikat maut begitu dekat. Hanya beberapa jengkal dariku. Untung saja bukan aku yang ia singgahi. Masih ada waktu bertaubat.

 

Rasa Malu yang Semakin Jauh

Pengertian Malu, Contoh Sifat Malu dan Manfaat Sifat Malu Dalam Islam

Belum genap sebulan lalu, seorang Bupati terciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tak sendiri, dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) tersebut, lembaga anti-korupsi ini juga mengamankan tiga orang lainnya. Salah satunya ditangkap setelah aksi kejar-kejaran.

Kejadian tersebut sudah lumrah. Pelaku koruptor sudah banyak yang tertangkap. Tapi ada yang sangat mengjengkelkan. Saat sang koruptor mengangkat tangannya. Memberi salam metal dengan wajah tak bersalah. Tak merasa berdosa. Sungguh memuakkan.

Potret tersebut menunjukkan banyak hal. Salah satunya adalah hilangnya budaya malu bangsa kita. Padahal, sebagai bangsa timur, Indonesia dikenal beradab. Salah satunya punya rasa malu. Rasa malu itulah yang menjaganya dari bertindak jahat. Jika rasa malu telah hilang, apa lagi yang akan mencegahnya melakukan perbuatan jahat?

Di Jepang, pejabat yang terindikasi melakukan tindakan tak terpuji, akan segera mundur. Walau belum tentu terbukti salah. Tapi mereka akan malu jika kredibilasnya dipertanyakan publik. Bangsa kita juga sebenarnya memiliki kultur itu. Buktinya, ada anekdot yang terkenal tentang malu. Malu-malu kucing. Artinya malu tapi mau. Istilah ini menggambarkan sikap seseorang yang menahan kemauannya terhadap sesuatu karena malu. Ia lebih memilih menjaga harga dirinya ketimbang kemauannya. Walau pada waktu tertentu, ia bisa berkonotasi negatif.

Selain itu, dalam kultur masyarakat bugis, ada istilah paentengi siri’nu yang berarti tegakkan malumu / harga dirimu. Siri bermakna ganda, malu dan harga diri. Ini menunjukkan perhatian yang sama besarnya terhadap dua kata ini dalam suku bugis. Hal senada juga ada dalam masyarakat kaili. Ala ledo maeya, motangamo taputu. Sebuah kalimat yang berisi pesan agar memiliki rasa malu.

Malu ada fitrah manusia. Makanya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ‘jika engkau tidak malu, maka lakukanlah sesukamu’. Hadits ini seolah-olah mempersilahkan manusia untuk melakukan apapun jika tak malu. Tapi faktanya, manusia memiliki akal dan hati. Kedua hal itulah yang menuntunnya dalam hidup. Dengannya manusia membuat norma-norma social yang mereka sepakati sendiri. Tentang apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Namun, tak ada yang mengawasi siapa melakukan apa selamanya. Rasa malu lah yang menjadi tameng. Baik malu kepada Allah sang pencipta, maupun malu kepada orang lain.

Jika manusia tak lagi punya rasa malu, apa lagi yang akan mencegahnya berperilaku seperti binatang? Hidup tanpa memperhatikan norma-norma sosial. Begitu pula jika nafsu kekuasaan dan kekayaan mengalahkan rasa malu. Korupsi pun tak pikir-pikir lagi.

Memang,globalisasi telah banyak merubah sikap generasi bangsa. Media sosial juga berperan besar. Ia menjadi panggung tanpa malu. Orang-orang yang tampil aneh jutru digemari. Diberi tepuk tangan. Menjadi bahan tertawaan. Dengan alasan kebebasan, apapun dilakukan. Etika ketimuran tak lagi diperhatikan. Yang penting kantong terisi.

Hal-hal yang dulu dianggap memalukan, kini menjadi hal biasa. Anak anak tidak malu lagi jika tak bisa mengaji, remaja tak malu lagi pulang larut malam. Karakter tersebut akhirnya terbawa-bawa. Hingga saat memegang amanah, mereka tak malu menyeleweng.

Jika sudah demikian, tak heran jika negeri ini selalu bermasalah. Problem bangsa datang silih berganti. Khususnya masalah moralitas yang semakin kehilangan perhatian. Korupsi terjadi sepanjang tahun. Begitulah, ketika rasa malu mulai ditinggalkan.

Sebelum rasa malu itu benar-benar hilang tak berbekas, segenap elemen bangsa harus segera bergerak. Bersatu padu mendidik generasi agar merasa malu jika berbuat salah. Malu jika perbuatannya merugikan orang lain. Pada tingkatan yang lebih tinggi, malu kepada penciptanya, Allah SWT, yang Maha Melihat. Bahwa setiap perbuatannya dilihat oleh-Nya. Sehingga menyadari tak ada tempat untuk bersembunyi. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Menagih Janji Reformasi (Refleksi 20 Tahun Reformasi)

aksi-mahasiswa

Indonesia lahir 73 tahun silam setelah melalui proses yang tidak mudah. Berdarah-darah. Setelah lebih tiga ratus tahun hidup dalam penjajahan. Menjadi budak dinegeri sendiri. Tak punya kedaulatan. Maka, pembacaan proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 disambut gagap gempita. Dengan harapan hidup sejahtera.

Sebagai negara merdeka, Indonesia perlu tujuan. Para founding fathers memahami itu. Dibuatlah undang-undang dasar 1945 sebagai modal dasar negara makmur. Didalamnya tercantum empat tujuan mulia dibentuknya pemerintahan Indonesia; melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Dwi tunggal, Bung Karno dan Bung Hatta memulai upaya tersebut. Memimpin bangsa yang baru lahir saat itu penuh rintangan. Cengkraman penjajah belum sepenuhnya lepas. Aksi menggembosi Republik Indonesia (RI) kerap dilancarkan. Khususnya di awal kemerdekaan.

Berbagai tantangan tersebut sangat menguras tenaga bangsa. Elit penguasa juga kerap tak bisa berkompromi atas berbagai perbedaan. Puncaknya kepemimpinan dwi tunggal bubar saat Bung Hatta memilih mundur (1956). Sedang Bung Karno membubarkan konstantuante (legislatif). Situasi politik yang tidak kondusif tersebut menghalangi tercapainya amanat UUD tersebut di atas. Kesejahteraan rakyat terabaikan.

Prahara bangsa semakin dalam saat terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia, 30 September 1965. Gerakan yang dikenal dengan GESTAPU ini menjadi batu loncatan Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan. Beliau meyakinkan rakyat dengan Super Semar (surat perintah sebelas maret).

Selama 32 tahun, sang jenderal menahkodai negeri ini. Ideologi pancasila dikokohkan. Pembangunan juga digalakkan. Sekolah dibangun dimana-mana. Harga sembako diatur agar terjangkau masyarakat bawah. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia cukup disegani.

Namun, era orde baru juga menyimpan cerita pilu. Bapak pembangunan ini cenderung otoriter. Kemunculannya dari kalangan militer diselewengkan demi kekuasaan. Lawan politik diberangus. Rakyat kritis dan pers dibungkam agar tak berisik. Akhirnya, rakyat – khususnya kaum muda dan kaum terdidik – jenuh. Muncul gerakan untuk menumbangkan penguasa.

Gerakan tersebut menemui momentumnya pada tahun 1998 bulan Mei. Krisis ekonomi terjadi. Inflasi tinggi. Pengusaha banyak yang rugi. Mahasiswa menuntut reformasi. Presiden Soeharto dipaksa turun tahta. Meninggalkan istana merdeka. Akhirnya, Tanggal 21, Reformasi memulai cerita. Walau harus menumbalkan empat anak bangsa.

 

Janji Reformasi

Dalam KBBI, reformasi bermakna perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara. Artinya, reformasi menjanjikan perbaikan bangsa. Tentu dalam koridor amanat UUD 45 seperti yang telah disinggung sebelumnya.

Maka, kalangan elit politik merumuskan kembali mekanisme pengelolaan negara. Trias politica dikuatkan tugas dan fungsinya. Daerah diberi kuasa untuk mengelola wilayahnya (otonomi daerah). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk. Militer, aparatur sipil negara dan pegawai negeri sipil dibatasi hak politiknya. Selain mereka memiliki hak politik yang sama. Anggaran untuk pendidikan dinaikkan. Media pers diberi kebebasan bersuara. Pun demikian dengan rakyat, tak perlu takut bicara kritis. Katanya, dengan reformasi tersebut, amanat UUD 1945 dapat terwujud.

Kini, telah 20 tahun era reformasi (21 Mei 98 – 21 Mei 2018), muncul pertanyaan, apakah ‘janji’ reformasi telah terwujud? Atau malah membawa negeri ini semakin absurd?

Faktanya, kebebasan berbicara dan berpendapat menyuburkan caci-maki. Tuduh menuduh, menghina agama lain dan sarkasme. UU pers 1999 berdampak pada oligopoly media. Memang, media tumbuh bagai jamur, tapi hanya dikuasai beberapa kelompok – yang jika dilacak – terkait dengan partai politik tertentu. Akibatnya, konten berita sering tak jujur. Menutupi hal yang merugikan kelompoknya dan memviralkan peristiwa yang menguntungkannya. Sementara hadirnya media social membuat jagat maya dibanjiri hoax. Hujatan kian berani dilontarkan. Adab sosial yang sopan santun mulai dikesampingkan.

Dibidang politik, pemberlakuan otonomi daerah dan pemilihan langsung berdampak pada angka korupsi yang ‘menggila’. Bahkan, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo dalam Acara Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi di Hotel Bidakara, Jakarta (11/12/2017), mengatakan terjadi 313 kasus korupsi yang menimpa kepala daerah. Bahkan, hampir semua elemen pernah tersangkut kasus korupsi, tak terkecuali kalangan yudikatif. Padahal mereka adalah pengadil.

Sementara, penduduk miskin masih banyak. Survei BPS tahun 2017 menyebut angka 26.58 juta jiwa. Setara 10,12%   rakyat Indonesia. Dari sumber yang sama, pengangguran juga banyak. Sekitar 5.50% rakyat belum mendapat pekerjaan. Sementara 72% yang telah dapat kerja, merupakan pekerja penuh (bekerja 35 jam per minggu). Padahal, BBM terus naik. Listrik juga demikian. Harga sembako tentu ikut naik.

Tak heran jika di masyarakat lalu, muncul berbagai atribut bergampar Soeharto melambaikan tangan dengan tulisan ‘wis penak jamanku tho?’. Maknanya, masih enak jamanku kan? Bila demikian halnya, berhasilkah reformasi. Sudah terealisasikah janjinya? Yang berdasarkan pembukaan UUD 1945 alinea keempat, tentang tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia.

 

Pilkada Serentak 2018

Sekecewa apapun bangsa ini, setidaknya reformasi memberi harapan lima tahun sekali. Jika merasa pemerintah – baik daerah maupun pusat – belum mampu memberi kesejahteraan, rakyat memiliki hak pada pemilihan umum untuk memilih yang terbaik.

Tahun ini, tepatnya tanggal 27 Juni mendatang, akan berlangsung pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di 171 kota dan kabupaten. Pilkada serentak ini adalah yang kedua setelah pilkada serentak 2016 lalu. Kebijakan mengadakan pilkada serentak juga didasarkan pada pertimbangan anggaran pemilu yang selalu membengkak. Setidaknya, dengan diadakan serentak, biaya pemilihan umum berkurang.

Sebagai masyarakat pemilih, tentu berharap yang terbaik. Budaya black campaign, money politic dan sejenisnya harus dihentikan. Jika masyarakat pro-aktif menolak cara-cara kotor dalam pemilihan umum dan melihat calon pemimpin dengan jernih, akan lahir pemimpin yang berkompeten dalam mengurus rakyatnya. Khususnya memperjuangkan amanat UUD 1945 agar terlaksana di negara ini. Semoga!

 

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAIL Hidayatullah, Surabaya.

No Telp  : 085323594090