Menerawang Wajah Medsos di Tahun Politik 2018-2019

images (2)

Oktober 2 tahun lalu (2016), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil risetnya tentang pengguna Internet di Indonesia. Dalam data tersebut, disebutkan pengguna Internet di negeri ini telah mencapai 132,7 juta jiwa. Jika mengacu pada data BPS tentang jumlah penduduk sekitar 260 juta jiwa, maka itu setara 51 % penduduk Indonesia.

Lebih lanjut, masih menurut APJII, konten yang paling banyak diakses adalah media social, yaitu sebanyak 97,7 % atau sebanyak 129,2 juta jiwa. Disusul hiburan (128,4 juta), berita (127,9 juta). Sisanya konten pendidikan, komersial dan layanan public. Dari sisi usia, umur 25-29 dan 35-39 menempati posisi teratas, masing-masing 24 juta (jika digabung 48 juta), kemudian kelompok usia 30-34 tahun sebanyak 23,3 juta, 20-24 tahun 22,3 juta, 15-19 tahun 12,5 juta dan terakhir usia 10-14 tahun sebanyak 768 ribu (Buletin APJII, November 2016).

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa penduduk Indonesia sedang beralih menuju era baru, yang mengandalkan koneksi  internet. Selanjutnya, media social menjadi salah satu tujuan utama para pengguna internet tersebut. Dan yang tak kalah penting, kelompok usia muda dan dewasa merupakan pengguna terbesar.

Fakta di atas menjadi menarik mengingat tahun ini adalah tahun politik. Sebanyak 171 daerah yang akan melaksanakan Pilkada. Sementara pemilihan legislative (pileg) dan pemilihan presiden akan dilaksanakan tahun berikutnya, 2019. Tentu, pengguna internet yang didominasi usia ‘pemilih’ akan menjadi rebutan. Mereka adalah ‘makanan’ empuk para kontestan politik.

Hal ini tergambar jelas selama masa kampanye Pilkada DKI 2016 hingga awal 2017. Setiap kandidat memiliki buzzer atau tim cyber. Tim ini berfungsi untuk menjelaskan program-program kandidat kepada pemilih, membentuk citra positif, dan semacamnya. Tentunya, ini adalah sebuah kemajuan. Dengan begitu, masyarakat mengetahui program-program sang kandidat secara detail sehingga menjadi referensi untuk mencoblos.

Sayangnya, selain hal baik di atas, kampanye politik yang dilakukan melalui medsos kerap kali melanggar aturan. Konten bermuatan hoax, SARA, hate speech dan semacamnya masih banyak menghiasi linimasa medsos. Tahun 2016 sendiri, di Jakarta, menurut Polda Metro Jaya, terdapat 1.207 kasus Cyber Crime. Menariknya, dari angka tersebut, pencemaran nama baik melalui medsos adalah yang tertinggi (detik.com, 30 Des. 2016). Bahkan saat Pilkada telah usai, pertarungan di medsos tak berhenti. Pendukung ‘fanatik’ tetap ‘bertarung’. Dalam hal ini, medsos justru memecah belah masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling berhadapan.

Potensi tersebut akan semakin besar di dua tahun depan. Politik seringkali menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Kasus cyber crime bisa jadi semakin marak. Baik dilakukan secara structural, maupun oleh individu semata. Baik dilakukan menurut ‘telunjuk politikus’, maupun inisiatif sendiri.

Medsos memang sangat mudah dimanfaatkan mendapatkan banyak massa. Sebabnya, media social bisa diakses kapanpun dan dimanapun, selama terkoneksi dengan internet. Biayanya pun murah meriah dan tak butuh banyak tenaga dibanding jika harus turun ke lapangan. Efeknya juga sangat besar dan jangkauannya luas. Artinya, penggunaan media social untuk memperoleh simpati sangat efektif dan efisien.

Dilain pihak, mayoritas pengguna medsos tidak kritis terhadap berita yang beredar. Kerap kali, mereka hanya membaca judul berita, lalu membagikan di linimasa miliknya. Atau, berita dari sumber yang belum jelas pun dianggap benar. Hal yang demikianlah yang rentan dimanfaatkan oknum berkepentingan yang tak bertanggung jawab.

Hal ini berkaitan dengan kurangnya minat baca di negeri ini. Membaca berita secara utuh tidak menjadi budaya. Akhirnya, mereka pun menjadi sasaran provokasi orang yang tak bertanggung jawab.

Jika demikian halnya, keberadaan medsos justru menjadi berbahaya. Ia menjadi alat disintegrasi bangsa. Maka, perlu ada upaya serius untuk mengantisipasi hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Selain dengan memblokir akun-akun provokator, website penyebar hoax atau menangkap para pelaku, pemerintah juga perlu menyusun rencana jangka panjang dengan membangun manusia Indonesia. Misalnya, dengan menggalakkan gerakan Indonesia membaca, sosialisasi penggunaan medsos yang baik dan bertanggung jawab melalui seminar-seminar dan meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pemuda. Dengan demikian, upaya penertiban media social bukan hanya sebatas penindakan, namun lebih kepada pencegahan di masa yang akan datang.

 

images (2)

Iklan

Laa Izzata Illa Bil Islam!!

Aksi-Bela-Palestina.jpg

Kecerebohan Presiden Donald Trump dalam menyikapi konflik Israel-Palestina benar-benar menuai reaksi keras. Berbagai negara mengecam langkah orang nomor satu di AS tersebut. Bahkan, tak sedikit sekutu Amerika yang tak setuju.

Negara-negara islam yang termasuk anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bahkan telah berkumpul di Istanbul dan mendeklarasikan Yerussalem sebagai ibu kota Paletina. Protes juga terus berlangsung, di Iran, Turki, Pakistan, Gaza, dan Malaysia. Indonesia sendiri menggelar aksi besar-besaran Ahad (17/12) lalu di silang monas. Tak hanya itu, di Amerika sendiri berlangsung demo menentang keputusan Trump.

Ironisnya, Presiden dari Partai Republik tersebut malah ngeyel. “Aku hanya memenuhi janji kampanye.” Cuitnya di Twitter. Sebuah jawaban yang tak berkelas dari seorang kepala Negara. Padahal Negara-negara sekutunya seperti Inggris, Perancis dan Jerman tidak setuju. Mereka beranggapan, keputusan tersebut akan membangkitkan kembali aksi terorisme. Sel-sel teroris ISIS akan mendapat alasan bagus untuk kembali meneror.

Terlepas dari itu semua, seorang muslim mestinya bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bagaimanapun, Donal Trump telah membuka kembali mata dunia yang mulai lupa dengan nasib rakyat Palestina. Sekali lagi, kasus ini menyadarkan kembali umat islam bahwa “La Izzata Illa Bil’Islam”. Tidak ada kemuliaan tanpa mempraktekan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selama umat islam masih saling berhadapan, mengabaikan sunnah, tidak tegas dan tidak bangga dengan keislamannya, selama itu pula Islam menjadi mainan Negara-negara adidaya. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Hari ini, Amerika Layak Bersyukur!!

massa-aksi-bela-palestina-membakar-replika-bendera-amerika-serikat-_171215145052-909

“Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya’ud”

Ribuan orang memadati sekitaran Konsulat Amerika di Surabaya. Mereka meneriakkan yel-yel diatas dengan kompak, disusul suara takbir ‘Allahu Akbar’. Suasana yang sukses membakar semangat para ‘mujahid’ pembela palestina. Ditambah lagi suara lantang para orator yang membuat peserta aksi semakin membara.

“Relakah kalian jika Al-Quds dikotori oleh Israel sang penjajah?” Tanya salah satu orator kepada peserta, sekejap, pertanyaan tersebut dijawab “tidak!!”, “Takbir!” balas sang kiai di atas panggung. “siapkah kalian menyerbu konjen amerika jika mereka menolak menerima perwakilan umat islam?”, jamah segera menjawab tegas “siap, Allahu Akbar!!”

Sementara itu, beberapa meter di depan mereka, sekumpulan polisi anti huru-hara lengkap dengan atributnya bersiaga. Siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Namun sayangnya, setelah dua jam berlalu, tak ada satupun dari pihak konsulat jenderal Amerika yang menyatakan siap menerima perwakilan umat Islam. Padahal, niat umat Islam hanya menyampaikan aspirasi terhadap sikap Presiden AS, Donald Trump yang mengakui Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Sebuah sikap ‘banci’ yang ditunjukkan Negara yang selama ini begitu angkuh dan sombong.

Menyadari kepengecutan Amerika yang tak mau mendengar aspirasi kaum muslimin Surabaya, massa mulai memanas. Namun, panitia terus menenangkan. “aksi kita adalah aksi damai, tak boleh anarkis. kecuali jika mereka menolak menerima kita!” tegas panitia. Namun apa daya, umat kehabisan kesabaran. Salah satu peserta maju membawa bendera, hendak menerobos polisi. Para petugas keamanan tersebut merespon, membentuk barikade. Beberapa peserta ikut maju, siap melawan. Situasi memanas. “Yang di depan, mundur, munduuurr, ada saatnya kita maju!” komando keras dari komandan aksi. Para laskar umat islam segera maju, menenangkan  dan meminta massa agar mundur. Lalu, mereka ikut membuat barikade di depan polisi. Menghalangi para mujahid yang telah marah. Melihat situasi seperti itu, petinggi polisi akhirnya menyatakan siap memediasi umat islam dan konjen Amerika, dan komandan aksi menyeru peserta untuk bubar.

………..

Begitulah suasana demonstrasi damai yang digelar oleh gabungan ormas islam Jawa Timur, Jum’at, 15 Desember 2017. Sikap Amerika yang tak gentle hampir saja berujung anarkis. Kaum muslimin yang hadir karena terpanggil oleh Al-Quds telah siap lahir batin menerima kemungkinan terburuk. Untung saja, umat islam masih sangat sabar, toleran dan mengikuti komando. Bisa dibayangkan jika mereka dibiarkan, bisa saja konsulat jenderal Amerika di Surabaya kini teah tiada. Untuk itu, hari ini, Amerika layak bersyukur.

Ternyata Sulit!

ilustrasi-kejahatan-_170305201843-176

Seorang lelaki berbatik kuning tergesa-gesa dijejeran bemo. Dua langkah dibelakangnya, seorang wanita berlari-lari kecil, berusaha menggapai lelaki kurus tersebut. Sekejap kemudian, tangan kirinya menyerahkan sebuah HP ke dalam bemo ketiga yang langsung disambut seorang lelaki lain berbaju biru. Si batik kuning lantas berbalik, melayani rengekan wanita tadi, “Hp? Hp apaan? Gue tak ngerti” ujarnya. “bapak tadi ambil Hp saya di sini.”rengek si wanita menunjuk kantong celananya.”mana Hpnya, gak ada tuh Hp di sini.” Ujar sang lelakiyang kini mengangkat bajunya, berusaha meyakinkan. Dibelakangnya, pria berbaju biru tadi bergegas meninggalkan bemo, melangkah cepat entah kemana.

Sementara itu, kami, yang beberapa langkah dari tempat kejadian hanya bengong. Terlambat sadar bahwa peristiwa tersebut adalah pencopetan. Butuh waktu kurang lebih 4 menit untuk memutuskan apa yang harus kami lakukan. Itupun hanya sekedar memberi tahu si korban (wanita) tentang kronologis kejadian yang kami saksikan. Hanya sebatas itu, jejak Hpnya sudah hilang.

……………….

Kawan, kisah di atas adalah kisah nyata yang kami alami. Waktu itu, kami (berempat) sedang berjalan menuju stasiun pasar senen, salah satu stasiun kereta api. Tepat sebelum memasuki areal stasiun, kejadian itu kami saksikan. Sayangnya, tak ada yang bisa kami lakukan selain apa yang telah kami sebutkan. Pertama, kami beralasan ‘orang jauh’, kedua, tak mau terlibat, ketiga, cuma berempat.

Mungkin, sebagian kita, jika ditanya ‘apa yang akan kamu lakukan jika menyaksikan sebuah kedzoliman?’ kita dengan yakin menjawab ‘saya akan berusaha mencegahnya!’ atau ‘tentu, saya akan membela kebenaran!’, atau mungkin jawaban lain yang tak kalah ‘wahh’. Karena klaim kedzoliman pula, banyak mahasiswa berdemo, para professor menulis di koran, politisi berbicara berapi-api di televise. Tapi, apa yang terjadi ketika kita benar-benar dihadapkan pada situasi kondisi seperti di atas. Tindakan apa yang akan kita lakukan?. Benarkah akan seperti yang kita ucapkan? Ternyata, mencegah kedzoliman itu tak mudah, wajar jika Allah berjanji memberi balasan surga bagi mereka yang memiliki keberanian mencegah kemungkaran.

Dibalik #Kids JamanNow

images (1)

Kids jaman now menjadi istilah yang sangat popular beberapa bulan terakhir. Hampir semua kalangan, kaum muda hingga orang tua telah akrab dengan kalimat blasteran ini. Bagaimana tidak, tiga kata perpaduan Inggris Indonesia ini bertebaran di jagat media social maupun media massa. Jadilah ia artis baru yang langsung nge-top.

Uniknya, kids jaman now selalu disandingkan generasi micin. Entah bagaimana asal-usulnya, yang jelas, dua slang ini diidentikkan dengan ‘style’ generasi masa kini. Khususnya usia-usia SD dan remaja. Kids jaman now atau generasi micin menjadi ‘kata baru’ untuk menggambarkan realitas generasi muda saat ini.

Perilaku-perilaku kids jaman now yang dulunya tak lazim dilakukan oleh usia muda sekarang menjadi hal lumrah. Beberapa video dan foto yang mempertontonkan ‘kedewasaan’ anak yang belum dewasa bertebaran di seantaro medsos. Misalnya, merokok, nge-vape, pacaran, mesra-mesraan dan sikap dewasa lain. Hal-hal itulah yang memicu munculnya anekdot kids jaman now juga generasi micin.

Namun, jika ditelaah lebih jauh, apa yang sebenarnya di balik fenomena ini, maka boleh jadi kita akan menemukan beberapa hal;

Pertama, pembiasaan. Slang ini sepertinya mencoba mensosialisasikan gaya baru di kalangan anak sekarang. Public dipaksa untuk membiasakan diri dengan model generasi saat ini. Bila dibahasakan, media seolah ingin mengatakan “ini loh gaya anak sekarang!”. Sehingga, perilaku yang dulu dianggap aneh, kini biasa-biasa saja. Tentu, hal ini berkaitan dengan paham relativisme, yang menganggap kebenaran tidak mutlak, tapi tergantung kondisi social dan budaya suatu tempat.

Kedua, pengkaburan. Maksudnya ialah, pencetus anekdot ini ingin mengaburkan apa yang memengaruhi kids jaman now. Mereka mengenalan ‘generasi micin’ seakan-akan anak mereka adalah korban micin. Micin sejak beberapa dekade dianggap merusak otak, membuat bodoh. Maka ‘generasi micin’ sebenarnya menyiratkan pesan ‘generasi bodoh karena micin’. Padahal, jika membongkar penyebab utama perilaku kid jaman now adalah media. Yah, baik itu media massa (mass media) atau media social (social media) yang tanpa kontrol. Maka, frase itu dibuat untuk mengaburkan penyebab utama gaya aneh kids jaman now.

Ketiga, pembodohan. Kids jaman now adalah pembodohan public. Ia dibuat hanya untuk mengelola isu. Ketika banyak orang berdebat dengan isu kids jaman now, isu lain ditenggelamkan. Rakyat dihibur dengan hal remeh temeh sementara ‘pemain sirkus’ menyusun rencana.

Tentu, ketiga hal di atas hanyalah pandangan kami semata. Sebagai seorang pemuda, kritis terhadap situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Tidak gampang terbawa arus lingkungan yang bias jadi rekayasa pihak-pihak yang tidak ingin generasi muda peduli pada hal-hal yang lebih besar. Terima kasih.

 

Agar Hidayatullah Tetap pada Khittah

images

Sudah menjadi sunnatullah dunia ini diisi oleh ideology yang saling berhadap-hadapan. Ideology bathil dan ideology haq. Konflik itu dimulai ketika iblis membangkang untuk bersujud pada Adam. Ia lalu memohon pada Allah untuk hidup selamanya untuk menyesatkan manusia. Permohonan itu dikabulkan oleh Allah dan mulailah iblis mencari partner.

Kedua ideology yang saling bertentangan tersebut saling tarik menarik. Hal ini telah dikabarkan Allah dalam Al-Qur’an. Banyak cara yang ditempuh oleh masing-masing pihak. Bagi pengusung ideology bathil, apapun cara yang mereka lakukan adalah representasi dari watak iblis. Sombong, angkuh dan mengikuti hawa nafsu. Bertolak belakang dengan pengusung ideology haq yang bersandar pada pengetahuan ilahiyyah.

Jika dianalisis secara adil, berdasarkan yang telah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa abad ke 17 hingga abad ini adalah masanya ideology bathil diangkat oleh Allah. Hal ini dapat dibuktikan dengan kondisi dunia yang mayoritas diisi materialisme, rasionalisme, sekularisme, humanism dan isme-isme lain yang bertentangan dengan ideology haq. Keadaan ini tentu membuat gamang manusia yang memahami posisinya didunia sebagai khalifah, wakil Allah di muka bumi.

Ditengah kegamangan itulah, beberapa orang bergerak untuk mempertahankan yang haq dengan berbagai cara. Salah satunya ialah KH. Abdullah Said yang mendirikan jama’ah Hidayatullah dengan konsep nubuwwah.  Hidayatullah lahir dari kegerahan beliau terhadap kondisi umat Islam yang kewalahan menghadapi perang ‘ideologi’ dan budaya dengan barat. Kaum muda banyak terjebak dalam kubangan fitnah dunia. Waktunya habis berfoya-foya. Sementara orang-orang dewasa tak jauh beda. Pemikirannya kacau, tindakannya malah menjauhkan dari agama. Sementara gempuran ideology dan budaya tak terbendung.

Dalam perjalanan sejarahnya, kehadiran Hidayatullah sedikit banyak mewarnai penyebaran ideology haq ditengah masyarakat Indonesia. Organisasi ini tak butuh waktu lama untuk hadir di setiap provinsi Indonesia. Hal demikian adalah sebuah prestasi luar biasa, namun di sisi lain menjadi ancaman. Prestasi karena tak banyak yang mampu menyamai dan dengan keadaan yang serba pas-pasan. Ancaman karena organisasi ini perlu banyak SDM dan kader yang siap melanjutkan espapeta organisasi. Dan telah menjadi hal lumrah, banyak organisasi islam yang mati atau kehilangan jati diri setelah regenerasi.

Disinilah generasi pelanjut  memainkan peran pentingnya. Kader lembaga yang dikenal dengan Syabab Hidayatullah adalah harapan besar para pendiri (assabiqunal ‘awwalun) organisasi ini. Syabab Hidayatullah dituntut untuk tetap menjaga khittah perjuangan sekaligus menggembangkan lembaga.

Tentu, tugas ini tidak ringan. Ia perlu dikerjakan dengan sepenuh hati sepenuh jiwa. Dalam hal ini, kami memaparkan 4 hal yang mestinya perlu diperhatikan oleh Syabab Hidayatullah dalam menjaga lembaga tetap pada khittahnya, yaitu ;

Pertama, menjaga aqidah. Ya, sebagai organisasi Islam, Hidayatullah mengusung semangat berislam. Maka, memiliki aqidah Islam yang lurus adalah sebuah kewajiban. Syabab Hidayatullah harus menguasai hal ini. Apalagi, era globalisasi yang dimanfaatkan untuk menyebarkan paham-paham barat yang seolah berasal dari Islam terbukti menjebak banyak akademisi muslim. Mereka terkesima dengan pemikiran yang sebenarnya bertentangan dengan aqidah Islam. Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme menjadi momok menakutkan bagi kaum muslimin.

Sejak kemunculan paham ini di tengah-tengah kaum muslimin, beberapa intelektual muslim yang notabene berasal dari organisasi keislaman pun teridentifikasi terpengaruh dengan pemikiran tersebut. Maka,sebelum terjadi,ini perlu dicegah. Salah satu solusi agar ini tak mengjangkiti Hidayatullah ialah dengan berhati-hati dalam belajar. Kemudian, mengkaji Islam secara benar dengan cara yang benar pula. Penanaman aqidah harus dikonsep sedemikian rupa di pesantren-pesantren milik Hidayatullah. Dengan demikian, persoalan penting ini bias teratasi.

Kedua, mempertahankan manhaj lembaga. Hidayatullah hadir bukan tanpa alasan. Saat itu, KH. Abdullah Said melihat kebobrokan masyarakat Islam diIndonesia. Padahal, ormas Islam sudah banyak. Namun mengapa kaum muslimin tak mengalami kemajuan. Sementara itu, dalam pemikiran beliau, Rasulullah hanya butuh 23 tahun untuk menyempurnakan ajaran ini menjadi sebuah solusi bagi masyarakat Arab kala itu. Hasil perenungan yang demikian dalamlah yang menginspirasi KH. Abdullah Said untuk mendirikan jamaah Hidayatullah yang pada perkembangan selanjutnya menjadi organisasi massa (Ormas).

Dengan mengikuti cara Allah mendidik Nabi melalui Wahyu, Hidayatullah tumbuh dan berkembang pesat. Dalam kurun waktu 40 tahun, Hidayatullah telah hadir di hampir 300 tempat seluruh Indonesia. Tentu, fakta ini menjadi tantangan tersendiri bagi Hidayatullah. Karena tidak berproses dari awal, beberapa kader Hidayatullah belum memahami seutuhnya Ke’Hidayatullah’an itu sendiri. Maka, Syabab sebagai pelanjut perjuangan mesti memikirkan hal ini dengan bijaksana. Karena, jika dibiarkan, maka akan terjadi disorientasi terhadap organisasi. Akibat terburuknya ialah keluarnya organisasi ini dari ‘rel’ yang telah disusun oleh para pendiri lembaga.

Ketiga, meningkatkan kompetensi. Globalisasi membuat kompetisi begitu terasa. Dunia yang terbuka, memungkinkan setiap orang berinteraksi dan bertransaksi satu sama lain. Artinya, semua orang (mad’u) bebas memilih pada siapa ia berinteraksi. Maka jika tidak memiliki kompetensi yang cukup, maka organisasi akan ditinggalkan simpatisan atau mad’unya.

Sehingga, setiap organisasi yang mau bertahan, harus kompetitif. Mereka harus punya kompetensi yang cukup untuk bersaing. Maka, tak ada alasan kader Hidayatullah untuk tidak ikut bersaing di dunia modern.

Apalagi, Islam, sebagai agama sempurna telah menyeru umatnya untuk berkompetisi. Fastabiqul Khoirot, kata Allah SWT dalam Al-Qur’an. Kira-kira maknanya “berlomba-lomba lah kalian dalam kebaikan.” Ayat ini jelas mempersilahkan kaum muslimin untuk berkompetisi dalam hal kebaikan. Kita yakin bahwa kaum muslimin adalah kaum terbaik, maka ia harus dibuktikan secara real dalam hidup. Meningkatkan Iman dan Taqwa (Imtaq) tanpa meninggalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah sebuah keharusan. Apalagi, jika kompetensi itu untuk bertarung melawan pengusung ideology kufur.

Keempat, mencetak kader. Kader merupakan pelanjut estapeta perjuangan. Tanpa kader, sebuah kelompok akan mati atau punah. Eksistensi suatu organisasi dimasa mendatang tergantung bagaimana ia mengkader.

Bahkan, jika kembali membuka lembaran sejarah Hidayatullah, terlihar jelas bagaimana para founding fathers sangat memperhatikan tugas ini. Pengkaderan sangat ditekankan. Kader yang dibentuk tentu harus memiliki kriteria yang jelas, seperti memahami organisasi secara utuh, berorientasi akhirat, berkarakter pejuang, loyal dan ikhlas dengan agama.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Budaya Organisasi Dakwah (Menurut Dr. Abdul Mannan, M.A)

Pentingnya Komunikasi Dalam Organisasi.JPGA. Sumber Budaya Organisasi

Secara alami, manusia itu memiliki keinginan untuk hidup berkelompok, karena dengan begitu, ia dapat mengidentifikasian dirinya dengan anggota kelompok lain, dalam rangka menemukan dan mengaktualisasikan dirinya.

Seorang individu yang hidup berkelompok atau berorganisasi biasanya termotivasi oleh adanya kepentingan ideology, politik, ekonomi, social atau keamanan. Dalam berbagai aspek itulah mereka memberikan komitmen kerja dan partisipasinya. Disisi lain, ketika seseorang memutuskan untuk hidup berorganisasi, maka ia secara otomatis terikat oleh aturan dan kesepakatan yang berlaku di organisasi tersebut.

Selanjutnya, untuk melahirkan konsistensi hidup berorganisasi, ia harus memahami falsafah organisasinya.

  1. Falsafah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai individu dan pemimpin umat yang tiada tara bandingnya dalam memberikan celupan budaya. Kepemimpinannya tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan organisasi dakwah.

Buah dari kalimat tauhid pada saat itu adalah budaya kerja keras, disiplin, dan budaya apa saja yang tersimpul dalam satu kata, ‘akhlaq’. Interaksi manusia yang berbudaya tinggi berkat akhlaq yang mulia akan menjamin keseimbangan hidup, sebab budaya yang dilahirkan dari fasafah tauhid pasti memuat misi ‘kaaffatan linnas’ dan ‘rahmatan lil’alamin’.

Maka, dalam menerapkan falsafah tauhid tersebut, manajemen puncak perlu membuat visi-misi yang jelas sebagai tujuan organisasi ;

2. Visi dan Misi

Visi organisasi dakwah islam ialah tegaknya daulah atas dasar syari’ah islam yang bersal dari Allah di muka bumi ini. Adapun misinya ialah ‘kaaffatan linnas’ dan ‘rahmatan lil ‘alamin’, atau kesejahteraan dan kedamaian dunia.

Salah satu tujuan adanya visi-misi organisasi ialah untuk memotivasi semua anggota fungsional dan structural agar berusaha keras menyampaikan misi islam kepada semua sasaran. Apapun statuus sosialnya, setiap anggota organisasi harus aktiv menyampaikan misi dakwah. Bahkan bagi orang yang paham falsafah tauhid secara benar, ia akan merasakan hidupnya gersang tanpa dakwah. Jika prinsip ini disadari oleh semua anggota organisasi dakwah, maka akan tercipta budaya kompetisi yang dalam al-Qur’an disebut dengan kata ‘fastabiqul khairat’.

3. Sejarah Organisasi

Berdirinya sebuah organisasi tentu dilatar belakangi oleh berbagai hal. Salah satunya ialah motivasi dari idealisme penggagasnya. Lahirnya pemikiran dan perasaan idealism pendiri organisasi kerapkali dibentuk oleh lingkungan yang tidak ideal. Sehingga, factor sejarah berdirinya organisasi itu sangat mendominasi tumbuhnya suatu budaya organisasi.

4. Gaya Kepemimpinan

Seringkali, yang menjadi pimpinan puncak sebuah organisasi ialah perdirinya. Hal ini wajar, mengingat sang penggagas pertamalah yang akan mentransfer nilai yang dikandungnya, selain memberi keteladanan bagaimana mengimplementasikan gagasannya.

Menurut Koontz, O’Donnel dan Weihrich, gaya manajemen dapat digolongkan berdasarkan cara seorang pemimpin menggunakan otoritasnya, yaitu;

  • Otokratik ; jenis kepemimpinan yang semua keputusan berada berada dalam kendali pimpinan puncak.
  • Partisipatif (Demokratik) ; sebuah keputusan diambil dengan melibatkan bawahan / anggota organisasi.
  • Free Rein ; gaya seorang pemimpin yang sangat membatasi kekuasaannya dan memberikan banyak kebebasan kepada anggota organisasinya.

Jika melihat gaya kepemimpinan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dapat disimpulkan bahwa beliau memimpin dengan cara ‘demokratik otoriter’. Demokratik dapat dilihat disurah Ali Imron ayat 159. Sedangkan gaya kepemimpinan otoritas tergambar dalam surah An-Nisa ayat 59.

4. Lingkungan

Interaksi lingkungan eksternal dan internal organisasi memerlukan transformasi yang cukup lama untuk saling memahami budaya. Apalagi, jika keberadaan organisasi ditengah masyarakat adalah pendatang baru. Maka, factor lingkungan internal dan eksternal sangat kuat dalam proses mempengaruhi kebijakan organisasi.

a. Lingkungan Eksternal

  • Falsafah hidup
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Politik
  • Teknologi

b. Lingkungan Internal

  • Fungsionaris
  • Anggota / Jama’ah

c. Lingkungan Alam

Karakter sebuah organisasi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam sekitar. Seperti kondisi geografis dan iklim.