Ternyata , KKN adalah rekayasa kita

Hari ini, 1/10/2015, beberapa berita terkait kasus korupsi, di tangkap ataupun di tetapkan menjadi tersangka, seperti buron korupsi dana BOS di tangkap oleh kejari cikarang, bupati Lombok barat di vonis lima tahun oleh majelis hakim, pengakuan terdakwa kasus korupsi alkes kedoteran bahwa ia di suruh berbohong oleh temannya, dan beberapa kasus lainnya. Selain itu kasus yang melibatkan pengacara OC kaligis dan gubernur sumut, gatot pujo nugroho masih terus bergulir.
Hal biasa
Sebenarnya Berita-berita terkait KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) setiap hari menhiasi berbagai media di negri ini, hal ini menunjukan bahwa praktek KKN adalah hal yang biasa terjadi, bahkan menurut beberapa kalangan , setiap hari terjadi kasus KKN di Negara ini, mulai dari pejabat di tingkat bawah hingga tingkat atas, juga di kalangan masyarakat secara umum, beberapa kasus pun melibatkan mafia, seperti kasus mafia migas yang sangat merugikan negara.
Beberapa kasus besar KKN pun menggelinding bagai bola salju, satu kasus saja bisa melibatkan beberapa orang atau bahkan keluarga si tersangka, seolah-olah dana tersebut hanya milik mereka, hal ini juga menunjukan bahwa karakter para pejabat hampir sama atau setidaknya mayoritas dari mereka memiliki tabiat buruk ini, sehingga kasus demi kasus pun terjadi, mulai dari penyelewengan dana social, dana keagamaan, dana import, dll. Bahkan Kasus KKN tidak hanya melibatkan kaum terdidik dan terpelajar, tapi juga melibatkan orang-orang yang mahir dalam agama, seperti yang menimpa LHI dari PKS, suryadharma ali dari PPP, juga tokoh-tokoh lembaga anti korupsi, seperti kasus simulator SIM, dll.
Namun anehnya, di tengah banyaknya kasus KKN, lembaga-lembaga anti korupsi pun terpecah belah, bukannya meluruskan barisan melawan korupsi, seperti perseteruan antara KPK dan POLRI beberapa tahun lalu, yang mengakibatkan terbengkalainya kasus-kasus tersebut, juga memberi kesempatan kepada koruptor untuk meloloskan diri jeratan KKN.beberapa kalangan bahkan menilai bahwa ini adalah ulah mafia KKN.
Karakter bangsa
Banyaknya kasus KKN yang melibatkan hampir semua kalangan masyarakat tentunya meresahkan kita sebagai sebuah bangsa besar, mengapa bisa, begitu banyak pejabat yang melakukan tindak pidana KKN ini,yang semakin memperburuk citra pejabat, sehingga masyarakat pun tak lagi percaya kepada mereka. Namun, terjadinya kasus-kasus tersebut ternyata tidak lepas dari andil kita sebagai masyarakat, sadarkah kita bahwa watak mereka sebenarnya lahir dari rumah-rumah kita, bahkan dalam pengawasan kita, sadarkah kita bahwa kebiasaan-kebisaan buruk kecil kitalah yang menjadikan Negara ini menjadi Negara para koruptor..???
Karakter mayoritas masyarakat di Negara ini sebenarnya tidak jauh dari praktek KKN, setiap hari sebenarnya kita menyaksikan praktek haram ini di depan mata kepala kita, kita sadari ataupun tidak,walaupun mungkin itu adalah hal yang kecil bagi kita, tapi hal kecil itulah yang membiasakan kita melakukan hal yang lebih besar. Tapi, secara sadar, kita melakukan itu di hadapan banyak orang tanpa rasa malu, juga menceritakan kepada kerabat kita seolah-olah hal itu hal yang sangat biasa atau bahkan memang biasa.
Jika di antara kita mempunyai seorang keluarga atau kenalan yang seorang polisi misalnya, lalu ketika kita terkena razia lalu lintas, maka yang akan kita lakukan adalah menghubunginya dan memanfaatkan statusnya sebagai polisi, lalu kita pun bebas dari hukuman, ketika seorang dari kita menginginkan pembuatan kartu SIM atau kartu kartu yang lain, maka kita akan menyogok petugas atau membayar calo’ agar tujuan kita tercapai, ketika kita ingin anak kita lulus dan sekolah di sekolah elit, maka kita akan memesan bangku kosong untuk anak kita atau masuk lewat jendela dengan biaya yang tidak sedikit, lalu ketika kita di amanahkan untuk membagi sesuatu kepada yang membutuhkan, kita malah memberinya kepada kerabat kita walaupun ia tidak masuk kategori penerima, juga ketika kita memimpin suatu perusahaan atau memegang suatu jabatan yang berpengaruh, maka kita akan mengangkat keluarga atau teman kita untuk mengisi posisi tertentu, walaupun ia tidak punya kapasitas untuk itu, itulah contoh sebagian kecil praktek yang menjadi hal umum di masyarakat. Bukankah contoh-contoh di atas termasuk kategori KKN, bukankah praktek-praktek seperti itu biasa kita saksikan atau kita alami..??.
Mungkin, bagi kita hal itu tidak berpengaruh dan juga tidak merugikan Negara, namun sebenarnya kita hanya melakukan itu, karna hanya itulah yang kita bisa lakukan di posisi kita saat itu, lalu bagaimana seandainya kita di amanahi jabatan besar, yang berpengaruh, yang memberi peluang untuk melakukan tindakan korupsi dalam jumlah besar, kita juga mungkin juga melakukan seperti yang di lakukan para koruptor kakap. itulah yang biasa alas an yang di utarakan orang-orang yang takut terjebak dalam praktek haram ini, mereka merasa tidak mampu memegang uang yang membuat mata terbelalak.
Maka dari itu, marilah kita berantas KKN dengan berkomitmen untuk menjauhi hal-hal kecil yang di anggap biasa tersebut, seperti kata pepatah, “sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit” , jika hal itu kita lakukan terus menerus maka akan membentuk karakter kita, sehingga ketika kita telah menjadi pejabat besar, kita pun berani melakukan penyelewengan yang lebih besar karena peluang kita juga besar.wallahu a’lam bisshawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s