langkah rasul membangun peradaban unggul

Saat ini umat islam sedang berada dalam bulan muharram 1437 H, bertepatan dengan November 2015. Muharram adalah bulan pertama dalam urutan bulan-bulan menurut islam atau dalam kelender hijriah, sedangkan tahun hijriah diawali dengan hijrahnya nabi Muhammad SAW dan para sahabat ke kota yatsrib dan menjadi cikal bakal berdirinya peradaban islam yang gemilang diabad-abad selanjutnya.

Itu artinya, bulan muharram adalah bulan yang menjadi saksi bisu bagaimana rasulullah dan para sahabatnya memulai langkah awal di kota yatsrib yang di kemudian hari berganti nama menjadi madinah hingga saat ini.

Maka, marilah kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah tentang apa saja yang rasulullah lakukan diawal hijrahnya dalam cita-citanya membangun peradaban rabbani.

Setidaknya, ada dua aspek yang rasulullah SAW terapkan setibanya di madinah.

Pertama, aspek spiritual dengan membangun masjid. Sebagai mana yang ditulis syeikh shafiyyurrahman al-mubarakfuri dalam sirah nabawiyyah, langkah paling pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid yang kemudian dikenal dengan masjid nabawi, rasulullah SAW terjun langsung dalam pembangunan ini, memindahkan bata dan bebatuan, seraya bersabda, “ya ALLAH, tidak ada kehidupan yang lebih baik dari kehidupan akhirat.” Juga bersabda, “ para pekerja ini bukanlah para pekerja khaibar. Ini adalah pemilik yang paling baik dan palin suci.” Sehingga sabda beliau ini semakin memompa semangat kaum muslimin dalam bekerja, hingga diantara mereka berkata, “jika kita duduk saja, sementara rasulullah bekerja, maka itu adalah tindakan orang sesat.”

Masjid yang didirikan ini nabi bukan hanya untuk melaksanakan shalat semata, tapi juga tempat mengenyam pendidikan bagi semua umat muslim, sebagai balai pertemuan untuk mempersatukan umat islam dan membahas berbagai masalah, juga tempat tinggal kaum muhajirin yang tak membawa harta ke madinah.

Dari secuil paparan diatas, kita bisa mengambil beberapa hikmah, yaitu, bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi uswah di tengah masyarakatnya, ikut merasakan apa yang dirasakan rakyatnya dan menjadi penyemangat mereka, seorang pemimpin juga harus dekat dengan rakyat yang dipimpinnya agar semua rakyat tak takut dalam menyampaikan pendapatnya. kemudian, bahwa masjid seharusnya menjadi tempat untuk menyatukan kaum muslimin dari perpecahan, manjadi tempat musyawarah, juga sebagai pusat komando bagi umat islam, karena masjidlah yang paling memungkinkan untuk mempertemukan muslim satu dengan muslim lainnya setidaknya lima kali sehari, itulah rahasia mengapa kaum muslimin harus sholat berjamaah di masjid, hal ini semakin mempertegas peran sentral masjid dalam islam.

Kedua, aspek sosial dengan mempersaudarakan dan mempersatukan kaum muslimin. Setelah rasulullah membangun masjid, rasulullah lalu mengambil tindakan spektakuler, yaitu dengan mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar.

Tentang hal ini, ibnu qayyim menuturkan, “kemudian rasulullah SAW mempersaudarakan antara orang-orang muhajirin dan kaum anshar di rumah anas bin malik. Mereka yang dipersaudarakan ada Sembilan puluh shahabat, separuh dari muhajirin dan separuhnya dari anshar.”

Beliau mempersaudarakan mereka agar saling tolong-menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meninggal dunia di samping kerabatnya, waris-mewarisi antara yang di persaudarakan ini berlaku hingga turun ayat,”orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat (keluarga) itu lebih berhak terhadap sesama (daripada kerabat yang bukan keluarga).” (QS. Al-anfal ayat 75)

Selain itu, makna persaudaraan ini menurut Muhammad al-ghazali adalah agar fanatisme jahiliah menjadi cair dan tidak ada yang dibela selain islam, juga agar perbedaan-perbedaan warna kulit, dan daerah tidak mendominasi, dan agar seseorang tidak merasa lebih unggul dari yang lainnya.

Di samping mempersaudarakan, rasululullah juga banyak menganjurkan persatuan dan  saling tolong menolong di antara umat islam, agar umat islam semakin solid. Di antara hadits-hadits beliau di masa-masa awal hijrah antara lain; Abdullah bin salam berkata, ”tatkala rasulullah SAW tiba di madinah, aku mendatangi beliau, maka aku bisa melihat bahwa wajah itu bukan lah wajah pendusta. Yang pertama kali kudengar dari beliau adalah sabda beliau, “wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan, dan shalatlah di malam hari ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR At-tarmidzi, ibnu majah, dan Ad-darimi)

Pada tiga poin awal hadits ini mengandung aspek sosial, sebarkan salam, memberi makanan, dan silaturrahim. Pada saat itu perintah berzakat belum turun, namun bisa jadi hadits ini menjadi cikal bakal disyariatkannya zakat, sebagaimana kita ketahui, di masa nabi, zakat diberikan dalam bentuk makanan, sebagai mana poin kedua hadits ini, itu karena pada saat itu, makanan memang yang paling dibutuhkan. Seiring berjalannya waktu, para ulama memfatwakan bolehnya berzakat dengan uang.

Terlepas dari polemik itu, kita bisa melihat betapa zakat mempunyai peranan penting dalam membangun masyarakat yang sejahtera, tentram dan damai. sehingga rasulullah sangat memperhatikan masalah ini, bahkan ALLAH SWT selalu menyandingkan masalah zakat dengat shalat dibanyak ayatnya.

Rasulullah juga pernah bersabda, “orang muslim bagi muslim lainnya, tidak boleh mendzalimi dan menelantarkannya, barangsiapa yang berada dalam kebutuhan saudaranya, maka ALLAH SWT akan berada dalam kebutuhannya, barangsiapa menyingkirkan darinya suatu kesudahan, maka ALLAH SWT akan menyingkirkan satu kesudahan dari berbagai macam kesudahan hari kiamat, barangsiapa menurup aib orang muslim, maka ALLAH SWT akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. muttafaq alaih).

Dari beberapa lembaran sejarah di atas, setidaknya bisa mengambil pelajaran bahwa dalam mencapai cita-cita kita yaitu khilafah, perlu diterapkan sekurang-kurangnya 2 hal, yaitu mendekatkan diri kepada ALLAH SWT, menjalin silaturrahim, membangun jama’ah, dan bermusyawarah. Hal ini bisa di terapkan dalam 1 perbuatan, yaitu shalat berjama’ah di masjid lima kali sehari. Kemudian yang selanjutnya, seorng muslim harus saling tolong-menolong, mempunyai kepekaan social yang tinggi, mempunyai rasa kasih sayang dan suka berbagi. Hal ini bisa di implimentasikan dengan berzakat.

Maka dari itu marilah kita jadikan hadirnya kita di dalam bulan muharram ini dengan mencontoh apa-apa yang telah beliau lakukan atau marilah kita memulai dari awal, sebelum terlambat, sehingga akan lahir kembali peradaban yang menjamin kesejahteraan masyarakat, keadilan para pemimpin,  dan negara yang makmur sentosa. Wallahu a’lam bisshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s