Si perusak masa depanku

 Si perusak masa depanku

Namaku syawal. Aku di beri nama tersebut oleh orang tuaku karna aku lahir pada bulan syawal, atau tepatnya 16 syawal. Aku menghabiskan masa kecil dan remajaku di tempat lahirku, di salah satu kota kecil di Kalimantan utara bersama keluargaku yang sangat sederhana, maklum, ayahku hanya seorang tukan bangunan yang kadang libur berhari-hari karena tak ada kontrak, sedangkan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Walaupun begitu, ayahku sangat perhatian dengan pendidikan anaknya, sehingga aku bisa menamatkan jenjang SMAku dengan tepat waktu. Namun setelah lulus  dari SMA, ayahku  tak snggup lagi membiayaiku untuk kuliah, karena akhir-akhir ini ia tak lagi menerima tawaran kerja disebabkan tubuhnya yang mulai renta.

Akhirnya, setelah minta izin dengan orang tuaku, kuputuskan untuk merantau kekota lain, tujuanku adalah samarinda. Rencanaku mencari pekerjaan dan menabung hasilnya untuk biaya pendaftaran di universitas mulawarman (UNMUL), salah satu universitas terbaik di Kalimantan walaupun aku juga belum yakin aku bisa lulus tes di universitas tersebut.

Setelah sampai di kota samarinda, aku langsung mencari pekerjaan untuk menghidupiku. Karena bekal yang  kubawa hanya cukup untuk beberapa hari saja. Sementara untuk tempat tinggal sementara, aku menumpang dengan seorang temanku saat SMP disebuah kos mungil dipinggiran kota. Setelah tiga hari lalu lalang mencari pekerjaan, akhirnya aku di terima di sebuah counter HP Samsung. Dan sang empunya toko tersebut bersedia menempatkanku di sebuah ruangan kecil yang menyatu dengan toko tersebut.

Akhirnya, keesokan harinya aku pamit dengan temanku dan memindahkan barang-barangku yang mayoritas pakaian ketempat baruku.

“bro, hati-hati kau kalau bergaul disini, banyak orang jahat!” kata temenku saat aku keluar dari kosnya dengan logat khas Kalimantan timur.

“tenang aja bro, akan kuingat pesanmu” kataku sambil berlalu.

Maka hari-hariku pun diisi dengan berdiam diri disebuah kursi biru tanpa sandaran, didepanku sebuah rak kaca panjang dengan berbagai merek HP, mulai dari sambung, oppo, nokia dan banyak merek HP buatan cina, yang baru maupun yang second. aktivitas lainnya yang kuanggap paling mengasyikkan adalah transaksi yang diawali perdebatan harga oleh pelanggan, banyak para pelanggan yang menawar dengan harga yang tak sesuai sehingga aku harus bisa bertahan dengan harga yang telah ditetapkan oleh bosku. Kadangkala setelah berdebat panjang, mereka malah pergi, atau melihat-lihat HP lainnya. Pekerjaan tersebut kulakukan setiap hari kecuali hari minggu. Karena pada hari minggu, aku secara khusus meminta diliburkan untuk refresing.

Hari minggu biasanya kumanfaatkan untuk bermain playstation yang memang kugemari semenjak SD. Permainan kesukaanku adalah sepak bola dan balapan mobil. Dari kebiasaan itulah, aku mulai mengenal para pemuda yang kemudian merubah atau lebih tepatnya menghancurkan hidupku.

Awal aku berkenalan dengan mereka adalah ketika aku datang ketempat PS dengan sedikit terlambat, kudapati tempat tersebut sudah penuh dengan anak-anak lain. Maka akupun menunggu anak yang akan selesai duluan. Pada saat itu seorang pemuda sebayaku yang juga sedang konsentrasi pada permainan bolanya melirik dan memanggilku.

“hey, sini! Maen sama-sama aja, kebetulan aku lagi sendiri nih. Kamu bisa main inikan (bola).” Katanya kepadaku dengan sopan

“oh iya, biasanya aku mainin permainan gitu juga” kataku sambil mengambil stik dan mencoloknya

“kamu suka klub apa kah?” tanyanya serius

“Manchester united dengan bayer munchen” jawabku seadanya

“oo, sama berarti kita, aku juga ngefans ma MU” katanya

Sambil bermain kami ngobrol tentang kehidupan dan pekerjaan kami

“Siapa namamu.?” Katanya membuka percakapan

“syamsul, kamu.?” Jawabku sambil nanya balik

“roy, kamu orang mana kah.?” Tanyanya kembali

“aku dari malinau, tapi tinggal disini, dicounter rezki tuh na” jawabku

“sudah lama tinggal di situ.?”

“Belum sih, baru sekitar sebulanan lh, kalu kamu..?”

“ aku tinggal di lorong depan situ nh, eh kamu merokok gak.?” Katanya sambil mengambil rokok sampoerna dari sakunya.

“oh enggak, terima kasih”.

Obrolan lain pun nyusul menyusul, hinnga tak terasa waktu siang akan segera menyapa. Akhirnya aku pamit dengannya dengan alasan lelah. Ia terlihat sedikit kecewa karena tak punya teman bermain dan kehilangan kesempatan membalas kekalahannya yang baru saja terjadi.

“besok-besok, kesini lagi ya..!” katanya mengharap

“iya, ada nomor teleponmu kah.?”

“o iya, cari aja di sini, namanya no.q” katanya sambil menyerahkan HP samsumg android keluaran terbaru. Setelah kudapatkan, akupun menyerahkannya kembali lalu beranjak pergi.

Setelah perkenalan tersebut, akupun lalu sering keluar malam-malam menuju tempat PS karena mendapat telepon darinya. Dan ketika sampai, aku sudah di tunggu oleh teman-temanya yang lain. Agaknya mereka cukup penasaran denganku karena berhasil mengalahkan teman mereka. Merekapun akhirnya berebutan melawanku. Sampai akhirnya aku mengenal mereka semua dan mulai akrab. Namun itulah awal kehancuranku, awal yang membuat harapan yang ku bawa jauh-jauh lenyap.

setelah aku akrab dengan mereka, mereka akhirnya selalu menghiasi malam-malamku. Hampir setiap took yang kujaga tutup pada jam 10 malam, aku langsung menuju tempat playstasion, nongkrong bersama mereka sambil memetik gitar hingga larut malam. Hingga pada suatu malam.

“ayo teman-teman, jalan yuk” ajak ikbal

“kemana.?” Tanya rian

“jalan-jalan aja, kemana ka, dari pada di sini terus” lanjutnya

“ayolah yuk, ke pantai aja, ayo wal, kamu kan belum pernah jalan-jalan bareng kami” sambung roy sambil melirik kepadaku

“okelah, tapi sampe jam berapa.?” Kataku

“ngga usah mikir jam bro, santai saja” balasnya lagi

“tapi aku besok kerja”

“sekali-kali bolos kn gak apa-apa, hahaha” tutupnya tanpa ingin dibantah

Akhirnya akupun mengikuti mereka dengan berboncengan sama roy, kerena aku belum bisa beli motor juga belu ada niat mau beli. Sesampainya dipantai, masing-masing mereka mengeluarkan rokok kesukaannya.

“ wal, rokok nh, gk usah malu-malu bro, tes-tes dulu” kata roy memaksa

Aku yang ingin menolak jadi tak enak hati, akhirnya malam itu menjadi malam perdanaku mengisap rokok, roy mengajariku bagaimana cara mengisapnya, mengeluarkan asapnya dengan bentuk-bentuk unik, aku pun terbawa malam itu. Kami baru pulang ketika jam menunjukkan pukul 2 WITA.

Pada malam-malam selanjutnya, aku menjadi terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baruku, bahkan malam ke 4 aku kumpul bersama mereka, kebiasaanku bertambah, mabuk karena bir oplosan.

Tersebab itulah, kinerjaku ditoko menurun drastic, ketika aku menjaga toko, mataku merah karena masih ngantuk sehinnga tak bergairah melayani pelanggan. Namun aku masih tetap bertahan.

Setelah lima bulan setelah berkenalan dengan mereka, hidupku benar-benar berubah drastis, yang dulunya hanyalah pemuda kampung yang polos menjadi salah satu anggota geng di ibukota kaltim tersebut. Hingga suatu ketika, ketika bosku datang ketoko pada jam 9-20, aku belum juga bangun, artinya took belum kubukan hingga jam tersebut. Sebenarnya akhir-akhir ini aku sering terlambat membuka toko, namun bosku belum tahu hingga hari itu. Maka pintuku pun digedor sangat kuat hingga aku bangun dengan kaget.

“udah jam berapa nih, kok belum di buka” bentaknya

“maaf pak, ngantuk pak”  mengungkap alasanku

“kenapa, keluluran kan kamu tiap malam, aku sudah tau semuanya, makanya penghasilan makin menurun, mulai sekarang kamu pergi dari sini, kemasi barangmu dan serahkan kuncinya, kamu kupecat” katanya sambil berlalu menuju motornya

“tapi pak, beri saya kesempatan kedua pak, please” kataku memelas, namun bosku bahkan tidak mendengarnya

Ditengah kegalauanku, kutelpon si roy

“eehh, jemput aku nah, di toko” kataku mengharap

“tumben mau jalan siang-siang” jawabnya heran

“nanti kujelaskan, kesini aja dulu” kataku lalu menutup telpon

Setelah ia datang menjemputku, akupun pergi ke rumahnya dan menjelaskan semuanya. Ia lalu mencari-cari solusi untukku.

“emm, santai aja bro, gak usah terlalu di pikirin, nanti kau pasti dapat kerjaan baru tuh” katanya menghibur

Malam pun tiba, dan aku masih dikamarnya roy dengan sejuta perasaan sedih dan galau yang amat sangat. Kebetulan ayah roy sedang keluar kota, sedangkan ibunya telah meninggal beberapa tahun lalu.  Lalu terdengar pintu diketuk.

“(tuk tuk tuk), roy.!” panggilnya

“tunggu bro” balas roy

Roy segera bergegas ke pintu dan membukakan tamunya, lalu mempersilahkannya masuk.

“nih,  pesananmu” katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan dari dalam kaus kakinya

“oh, terima kasih bos, ni uangnya, kamu gak ikutan..?”

“gak, aku ada urusan lain” balasnya sambil menuju motornya

Roy pun masuk kekamarnya dan mulai membuka bungkusan tersebut

“ini nah, kau isap, biar hilang galaumu” katanya menyodorkan benda yang baru kulihat tersebut

“apa nih, narkoba kah..?” tanyaku memastikan

“iya, jenis sabu-sabu”

Tanpa pikir panjang, aku langsung menikmatinya, benar-benar ajaib, masalahku seakan-seakan terbang keangkasa dan tinggallah kenikmatan yang kurasakan. Akhirnya selama tiga malam aku di rumah roy, setiap malam aku selalu menghirup benda haram tersebut, hingga akhirnya aku ketagihan. Maka akupun meminta tolong kepada roy untuk mendapatkan barang tersebut untukku lagi dengan memakai uang hasil kerjaku selama ini.

Minggu-minggu selanjutnya aku sudah akrab dengan barang tersebut, hingga akhirnya dompetku mulai menipis. Akhirnya kuutarakan masalahku ke roy.

“roy, kau punya kerjaan kah buat aku, uangku gk lama habis nih” kataku memelas

“kalau kamu mau, jadi pengedar aja, sekalian pecandu” katanya

“tapi bahaya gak yah, kalau aku ketangkap gimana.?” Jawabku

“makanya belajar dulu ma temanku yang udah pengalaman”

“okelah, tes-tes dulu”

Malam harinya aku dipertemukan dengan pengedar tersebut dan iapun mengajariku trik-trik agar lolos dari polisi. Awalnya aku mengedar bersamanya, namun setelah merasa bisa akupun berpisah.

Hanya butuh waktu tiga bulan sampai aku bisa menyewa sebuah kos-kosan  untuk tempat tinggalku dan membeli sebuah motor second. Pelangganku bertambah, hingga suatu malam aku mendapat telepon.

“ (tuut tuut tuut) halo, dengan syawal yah,..?” katanya

“iya, ini dengan siapa yah..?” tanyaku

“saya rehan, aku mau mesan sabu-sabu lagi, dua bungkus yah..!” jawabnya

“oh, oke bro, tunggu aja, kuambil dulu ma bos, di tempat bisa kan” tanyaku memastikan

“iya” jawabnya lalu mematikan telpon

Akupun pergi menyusuri lorong-lorong sempit tempat sebuah rumah mungil yang biasa kupakai bertransaksi dengan bos. Sesampainya dirumah tersebut.

“ syawal” lalu mengetuk pintu 2+3+3+2 sebagai kodeku

Akupun di bukakan pintu, namun tiba-tiba beberapa orang berpakaian preman ikut menyerbu masuk sambil menyodorkan pistol kearah kami.

“angkat tangan, sindikat kalian telah terbongkar” katanya membentak

Bosku yang berusaha kabur, akhirnya ditembak didaerah telapaknya dan akhirnya meraung kesakitan. Setelah kuperhatikan ternyata diantara mereka ada rehan yang ternyata seorang intel.

Polisi akhirnya membawaku bersama teman-temanku yang didalam rumah beserta beberapa kilo barang bukti.

Akhirnya setelah melalui proses hukum , aku divonis 17 tahun di penjara. Cita-citaku akhirnya lenyap didalam penjara.

Sesekali aku kesakitan karena efek dari narkoba yang biasa kukonsumsi.

Disnilah aku akhirnya menghabiskan masa mudaku, di balik jeruji besi. Kadang kumenyesali perkenalanku dengan roy dan barang-barang tersebut, juga menyesal tidak mendengarkan nasehat orang tuaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s