maulid, tak sekedar merayakan

Sebentar lagi, umat muslim akan kembali merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, tradisi ini sudah berurat akar. Setiap tanggal 12 rabiul awwal, masyarakat Indonesia biasanya akan mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. Tapi sayangnya, perayaannya hanya sebatas perayaan bahkan hanya sekedar menjadi tradisi tahunan dan tak ada perubahan yang lebih baik setelah perayaan itu.

Padahal jika kita betul-betul menghayati, sangat banyak hal yang bias kita petik dalam perayaan mauli dini. Seperti kita ketahui, Rasulullah telah banyak  memberikan contoh dalam setiap bidang kehidupan, baik melalui perbuatan atau pun ucapan beliau. Sebagai umat Muhammad SAW, adalah wajib untuk mengikuti dan meneladani beliau dalam hidup ini.  Salah satu hal yang harusnya menginspirasi kita khususnya bagi para pemimpin adalah kisah tentang bagaimana rasul berkebijakan sebagai pemimpin negara.

Pada saat kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah meraih kemenangan di badr sekitar tahun ke-2 hijriah, kaum muslimin banyak menawan pasukan musuh. Pada saat itulah, rasulullah menginstruksikan hal yang belum terpikirkan oleh banyak orang bahkan para pemimpin sekalipun. Yaitu, siapa saja di antara tawanan yang mampu mengajari anak para kaum muslimin, maka ia akan dibebaskantanpasyarat lain. Hal ini tentunya “tidak seperti biasanya.” Namun  menunjukkan dua hal penting.

Pertama, bahwa ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW sangat menghormati ilmu dan pemiliknya. Bagi Rasulullah SAW, ilmu adalah pondasi yang harus kokoh untuk membangun sebuah Negara dan peradaban. Bahkan ilmu dalam islam disejajarkan dengan iman. Maka tidak heran jika banyak hadits yang menekankan agar umat muslim giat menuntut segala macam ilmu. Karena sejatinya ilmu dalam islam, tak dipisahkan menjadi ilmu agama dan ilmu dunia. Bagi islam, semua ilmu berasal dari Allah SWT yang maha benar. Sehingga semua ilmu itu benar danakan  mendekatkan pemiliknya kepada Allah subhanahu wata’ala jika dipahami secara benar.

Maka tidak heran, jika tak sampai sepuluh abad sejak turunnya risalah yang dibawa rasulullah, ia sudah mampu menjadi sebuah peradaban agung berkat semangat keilmuan di tengah kaum muslimin. Para ilmuan muslim pada saat itu dikenal menguasai bermacam-macam disiplin ilmu. Sebut saja ibnu sina, ibnu khaldun, imam al-ghazali, jabir ibnu hayyan, ibnu firnas, al-farabi dan masih banyak nama lain yang tak kalah mengagumkan dan menjadi rujukan ilmuan kontemporer.

Para pemilik ilmu tersebut lahir karena landasan yang telah Rasulullah buat beberapa abad sebelumnya. Banyak sabda nabi tentang keutamaan-keutamaan bagi mereka yang semangat dalam menutut ilmu. Sehingga hal itulah yang menjadi salah satu motivasi ilmuan-ilmuan muslim abad pertengahan untuk menguasai berbagai bidang keilmuan. Mereka pada umumnya menuntut ilmu bukan karena harta, tahta, atau hal lain, namun memang bertujuan untuk mencari keridhaan Allah dan menjadi penguat akan adanya zat yang maha kuasa.

Kedua, Sebagai seorang negarawan, rasulullah sangat paham posisi anak (baca:pemuda)  dalam suatu organisasi.  Para anaklah yang akan melanjutkan estafeta perjuangan, menggantikan ayah-ibunya yang sudah renta. Maka peningkatan kualitas anak-anak kaum muslim khususnya dalam bidang ilmu, adalah keharusan.  Setali tiga uang, soekarno pun pernah dengan berapi-api berkata “berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan goncangkan dunia.”

Maka, eksis tidaknya suatu organisasi ataupun Negara beberapa tahun kemudian, dapat dilihat dari para anak-anakwarganya. Sebagai  agama, islam sangat memperhatikan masalah ini. Maka tidaklah heran, jika dalam sejarahnya, muncul tokoh-tokoh muslim yang sangat berjasa. Sebut saja zaid bin tsabit, yang memimpin perang pada saat umurnya masih belasan tahun, imam syafii yang punya wewenang berfatwa saat umur masih 13 tahun, sultan Muhammad II atau al-fatih yang mengalahkan konstantinopel juga saat muda, dan sederet nama lain yang tak kalah hebat.

Mereka-mereka lahir bukan karena kebetulan belaka. Namun telah direncanakan beberapa abad sebelumnya. Itu artinya, mereka melalui proses yang berkesinambungan. anak-anak waktu itu memang sangat diperhatikan. Dalam hal ini, para Orang tua dan masyarakat berperan aktif dalam membentuk karakter para pemuda.

Sayangnya, di zaman ini hal itu telah berubah. Pemuda-pemuda muslim tak banyak yang tertarik dengan ilmu. Kalaupun peduli, mereka belajar bukan karena agama, namun lebih karena tuntunan zaman, karena harta atau kedudukan.

Karena tujuan mereka dalam menuntut ilmu bukan karena motivasi Agama, maka tidak heran jika banyak kasus penyelewengan yang melibatkan anak bangsa. Tawuran, nyontek massal, seks bebas hingga kasus narkoba adalah sedikit contoh kasus yang banyak “digeluti” anak-anak muda yang notabene masih terdaftar di sekolah.

Masyarakat pun seolah-olah diam menyaksikan kebobrokan anak-anak mereka. Padahal kontrol social (social control) adalah salah satu strategi ampuh untuk mencetak generasi yang baik lagi sholeh.

Dengan adanya momen mauled inilah, sudah sepantasnya jika kita memanfaatkan untuk intropeksi diri masing-masing. Fungsikan diri kita sebagaimana yang di lakukan Muhammad SAW 14 abadsilam. Semua kelompok masyarakat bisa meneladani beliau, karena beliau selain seorang Nabi, juga pernah menjadi rakyat biasa, pengembala ternak, pedagang di pasar, negarawan, pemimpin tertinggi Negara, komandan perang, suami,sahabat, diplomat dan sekaligus ayah bagi anaknya.Semua terkandung dalam satu tubuh, yaitu Muhammad SAW.

Mari menjadikan hari ini sebagai batu loncatan untuk menjadi manusia yang lebih baik dengan mengaplikasikan perbuatan-perbuatan yang telah Nabi Muhammad contohkan. Kemudian, yakinlah bahwa dengan itu, Negara ini akan menjadi lebih baik dan bermartabat.

PEMERINTAH SUKSES “BUNGKAM” PUBLIK

Akhir-akhir ini Saya merasa ada yang aneh ketika saya membuka kolom opini di jawa pos. Opini di Koran itu sama sekali tidak menyinggung kekisruhan yang sedang terjadi di pusat seperti tulisan-tulisan  hari sebelummya sebelumnya. Padahal, sebelumnya saya telah menduga-duga bahwa opini yang dikirim para pembaca jawapos tak jauh-jauh dari bahasan seputar kasus yang sedang memanas di pusat, yaitu kasus “papa minta saham”. Seperti yang gencar di beritakan banyak media, MKD sedang memproses ketua DPR, setya novanto (setnov) terkait dugaan mencatut nama presiden dan wakilnya ketika minta saham kepada Freeport.

Kasus ini ternyata melibatkan banyak oknum, khususnya elit politik dan pengusaha. Kasusnya bergulir bak bola salju, makin lama makin membesar. Dilain pihak MKD dianggap tak serius untuk menyelesaikan kasus ini. Namun “aneh”nya, di media sebesar jawapos tak terdengar “kicauan” para pakar terkait kasus tersebut. Apa alasannya.?

Ada tiga kemungkinan yang bisa menjadi alasan tak dimuatnya artikel terkait.

pertama, public sudah bosan untuk membahas masalah seperti itu. Betapa tidak, hampir setiap membaca paper, Koran, situs berita, menonton televisi hingga saat membuka akun medsos pun, semuanya tak terlepas dari berita terkait kebobrokan para elit politik. Lama kelamaan, public akhirnya merasa bosan dan antipati terhadap masalah-masalah seperti itu hingga menjauh dan tak lagi membahasnya. Mereka merasa menyerah dan pasrah akan keadaan Negara yang dicintai ini tak kunjung dijauhi penjahat yang tak tahu malu.

Lantas, Public yang sudah muak dan merasa bosan tak lagi percaya dan akan semakin menjauh dari pemimpin-pemimpinnya. Sehingga keharmonisan antara pemimpin  dan rakyat semakin sulit tercapai yang juga akan berimplikasi pada mandeknya program-program pemerintah yang tak mendapat dukungan rakyat.

Hal ini sudah mulai terlihat pada pemilu serentak taggal 9/12/2015 lalu. Menurut data dari KPU, masyarakat yang memilih golput semakin meningkat dari tahun ketahun. Hal ini mengindikasikan dukungan publik terhadap pemerintah semakin menurun setiap tahunnya.

kedua, mungkin saja public sudah kehabisan kata-kata untuk mengomentari kasus-kasus tersebut. Buktinya, sudah puluhan bahkan ratusan artikel kritis atau analisis yang dirilis di media cetak maupun elektonik yang membahasnya. Namun, pemerintah seolah-olah menutup telinga dan cuek. Opini public sama sekali tak dihiraukan.

Para pemimpin di negeri ini seakan-akan sudah tahan dan terbiasa di mendapat cibiran dari rakyat. Hal membuat mereka tak lagi punya rasa malu ketika berbuat salah. Kritikan telah dianggap sebagai angin lalu yang akhirnya akan hilang atau hanya sebatas rutinitas di sebuah Negara.

ketiga, mungkin saja, ada naskah yang masuk ke redaksi jawapos namun tak dipublikasikan dengan alasan karena berkaitan dengan poin pertama dan kedua. Artinya, jawapos juga merasa bosan dengan pembahasan yang itu-itu saja atau artikel yang dikirimkan tidak jauh beda dengan yang sebelum-sebelumnya karena saking banyaknya artikel terkait yang masuk.

Intinya, baik rakyat maupun media sama-sama tak lagi punya mood bagus untuk membahas masalah-masalah terkait karena merasa tak berpengaruh atau tak dihiraukan sama sekali.

Padahal, seorang pemimpin yang baik adalah yang mau menerima saran, aspirasi maupun kritik dari rakyat sebagai bahan evaluasi diri. Tidak malah cuek terhadapnya. Mereka malah lebih siap memasang telinga jika yang berbicara adalah para pengusaha yang butuh “uluran” darinya dan punya dana besar demi memuluskan kepentingannya.

Kondisi seperti ini tentu tak baik bagi kemajuan negeri ini bahkan bisa saja menjadi awal kehancuran. Di tengah kondisi rakyat yang muak dengan ulah para pemimpin yang awalnya mereka percaya mampu membawa perubahan, akan menimbulkan semangat anti-pemerintah. Inilah yang akan menjadi cikal-bakal terjadinya “pemberontakan” terhadap pemerintah.

Hal seperti Inilah sebenarnya yang membuat negeri ini tak maju-maju. Pemimpin dan rakyatnya saling menjauh, saling cuek-mencueki dan saling tuduh-menuduh. Padahal, kemajuan suatu Negara tak akan tercapai bila para pemimpin di Negara tersebut tak mendapat dukungan dari rakyat sebagai “investasi” terpenting bagi negara. Negara-negara besar seperti china, jepang dan lainnya bahkan sangat perhatian dengan rakyatnya. Begitupun sebaliknya, rakyat cinta pemimpinnya.

Akan tetapi, hal tersebut bukan sesuatu yang tak bisa diubah sama sekali. Pemerintah setidaknya masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan citranya kepada public. Sebelum terlambat, pemerintah harus sigap dan jeli memanfaatkan momen seperti ini. Setidaknya, kasus yang sedang bergulir cepat ditangani dan diselesaikan. Hal ini tentu akan mendapat pujian dari public sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam membersihkan para pemimpin dari tindakan penyelewengan yang akan berimbas pada kemajuan negeri ini.

Apalagi, disejumlah daerah di Indonesia beru saja memilih orang baru untuk mengayomi masyarakatnya selama lima tahun kedepan. Diharapkan, para kandidat terpilih tak salah langkah dalam mengambil kebijakan, khususnya yang bersentuhan dengan rakyat. Dan Jangan sampai mengulangi kesalahan yang telah lalu atau bahkan kesalahan baru yang akan membuat “lubang” baru di hati rakyat. Raihlah kepercayaan rakyat dengan kerja nyata. Bukan sekedar janji yang di hanya digaungkan ketika pemilu. Hidup Indonesiaku…!!!

Hariati

Di sebuah rumah mungil nan reot di kawasan pemukiman kumuh Jakarta, terdengar suara isakan tangis yang berusaha ditahan. Di dalamnya, terbujur kaku seonggok mayat yang dibungkun kain kafan. Sementara di sekelilingnya, beberapa pria juga wanita menatapnya, meratapi kepergian tetangganya sekaligus sahabat mereka. Walaupun bukan keluarga, mereka tetap merasa kehilangan sesorang yang senasib. Sementara di sebuah bilik rumah tersebut, seorang wanita berkulit putih meraung dengan perun buncit, meronta-ronta tak karuan hingga akhirnya pingsan.

…………

Dua minggu setelah suami yang dicintainya meninggal dunia, hariati akhirnya terbiasa dengan kesendirian. Menghadapi dunia dalam kesepian. Namun, ia kasihan dengan anak yang sedang dikandungnnya. Sebenarnya, ia pernah berniat menggugurkan janin di rahimnya karena alasan ekonomi, namun tak sampai hati. Ia berfikir setelah melahirkan, ia untuk sementara akan menitipkan bayinya ke panti asuhan di wilayah tersebut lalu ia akan mencari pekerjaan untuk biaya hidupnya dan memulai hidup baru. Hingga saat ini, ia masih menggunakan uang peninggalan suaminya yang tak seberapa.

Sebulan lebih dua minggu ia akhirnye melahirkan. Tidak dengan bantuan bidan, ia melahirkan bayinya hanya dengan bantuan “semangat” dari para tetangganya.

Seperti yang telah direncanakannya, setelah pulih pasca malahirkan, ia segera membawa bayinya ke panti asuhan “kasih bunda” yang dipimpin seorang ibu bernama “firda” ibu firda.Lalu, ia menyusuri jalan sambil menoleh kiri-kanan berharap akan menemukan tempat untuk kerja. Namun, hingga sore menjelang, ia tak kunjung menemukan tempat kerja atau lebih tepat menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk singgah di sebuah warung untuk melepas lelah. Ketika ia duduk, ia tanpa sengaja melihat tulisan “lowongan kerja” di selembar kertas yang di tempel di dinding warung itu. Ia merasa pas dengan tawaran menjadi pembantu rumah tangga dengan syarat : wanita, usia maximal  25 tahun, di selebaran tersebut Tanpa ada rasa curiga. Karena tak punya HP untuk menghubungi nomer tersebut, ia lalu meminjam HP seorang pemuda di sampingnya.  Ia terlihat manggut-manggut ketika menelpon tanda sepakat.

…………

Rumah dengan cat hijau muda yang dikombinasikan dengan putih tulang tersebut terlihat megah. Pagarnya menjulang tinggi, tak mengizinkan para pencuri melewatinya. Maklum, rumah tersebut memang berada di sebuah perumahan elit ibukota. Sangat kontras dengan pemukiman kumuh tak jauh dari situ. Namun, rumah tersebut hanya diisi oleh seorang lelaki berumur sekitar 40-an tahun tanpa istri.

“Mungkin, itulah alasan mengapa ia butuh pembantu.” Pikir hariati

Di situlah hariati bekerja sebagai pembantu. Hari-harinya diisi dengan mencuci, memasak, menyetrika, mangepel dan pekerjaan rumah lainnya. Walaupun sangat sibuk, ia selalu menyempatkan waktu menemui bayinya setiap pulang kerja atau paling tidak menelpon bu’ firda dengan telpon umum.

Jarum jam terus berputar, mengikuti matahari dan bulan yang silih berganti menyinari bumi, hingga hari kelima, ia di panggil oleh majikannya.

“hariati.! Ikut saya..!” perintah majikannya

“baik tuan” balasnya

Hariati terlihat agak gugup duduk dikursi empuk   menghadap seorang lelaki yang lumayan tampan di balik meja itu. Di atas meja itu pula terdapat dua gelas minuman berwarna merah dan sebuah map kuning.

“bagaimana.? Kamu suka kerja disini.?” katanya membuka percakapan

“iya tuan, saya suka, terima kasih mau menerima saya di sini”jawab hariati sopan

“ah, gak usah manggil tuan lh.! Emm,sebenarnya saya hanya merasa kamu cocok di sini”

“baik tuan, eh pak”

“eh, kamu kan baru kerja di sini, jadi kamu perlu menandatangani dokumen ini, biar kamu bisa dapat hak-hak kamu” kata majikannya sambil menyodorkan sebuah map berwarna kuning

Tanpa membaca dan rasa curiga sedikitpun, hariati mengambil pulpen lalu menandatangani dokumen tersebet seadanya. Setelah itu ia mengembalikan dokumen tersebut.

“ini, sirupnya di minum”

“terima kasih pak” jawab hariati lalu meminum sirup itu hingga hanya menyisakan gelasnya

“oke, saya pergi dulu, kamu boleh make barang-barang yang ada disini” kata majikannya lalu beranjak pergi.

“terima kasih pak” tutup hariati

Hariati berdiri dari kursi itu. Namun ia merasa kepalanya pening dan berat. Ia merasa ada yang tidak beres. Ia berusaha keluar dari rumah itu, namun apa daya, belum sampai pintu utama ia telah ambruk ke lantai, pingsan. Majikannya yang sedari tadi memperhatikannya, mengambil HP dari saku celananya lalu menempelkannya di telinga.

“halo…is this alex.?” Katanya

“emm, I have a girl, I think she is pretty…….she haven’t family,…..ya….around  twenty two years old….yap, I wait you” lanjutnya kemudian memutus telpon dan meletakkan HPnya di atas meja. Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil APV memasuki halaman rumah itu lalu pergi.

…………

Hariati mendapati dirinya di sebuah ruangan kecil yang tak ada lubang sama sekali, cahaya di ruangan tersebut hanya dari sebatang lilin. Pandangannya masih berkunang-kunang dan kepalanya agak pening, ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, lalu berdiri. Memerhatikan keadaan sekelilingnya, samar-samar ia mendengar suara derap langkah kaki mendekat. Ia berfikir, mematikan lilin lalu di ambilnya sebatang balok di pojok ruangan. Ketika pintu terbuka, cahaya lampu dari luar menerangi sebagian kamar kecil itu dan seorang lelaki kekar masuk, dengan cepat, ia mengayunkan balok tersebut ke arahnya. Sialnya, ia tak sendiri. Seorang lelaki lain masuk, hariati ketakutan. Namun ia berusaha melawan. Setidaknya ia unggul dengan balok di tangannya, pikirnya. Namun, lawannya bukan lawan sembarangan. Dengan tiga gerakan cepat, ia behasil merampas balok dari tangan hariati lalu membuangnya.

“kau pikir kamu bisa menang, hah” kata lelaki itu ketika berhasil menangkap hariati dan mengikatnya di kursi

“tolong, tolooong..!!!” teriak hariati sambil meronta-ronta

“kau pikir ada yang akan dating menolongmu, hah, ini jam dua malam bung..!! hahaha”

“siapa kalian, apa yang kalian inginkan.?”

“kami hanya warga biasa kok, kami ingin kamu kaya”

“kalian akan menjadikanku pelacur kan” bentak hariati

“ternyata kamu tidak terlalu bodoh umtuk ukuran pembantu, hahaha.” Lalu bergegas keluar dan mengunci pintu

Untungnya, lelaki tadi tak mengikatnya dengan kuat. Ia hanya perlu usaha sedikit untuk melepas ikatannya. Hariati memperhatikan sesosok tubuh di hadapannya. Lalu terpikir olehnya untuk mencari sesuatu. Ia periksa saku celananya dan akhirnya ia menemukan sebuah HP. Derap langkah yang terdengar cepat mendekat. Hariati mengikat tanganya dan kembali ke kursi, mengambil posisi seperti sebelumnya.

Pintu terbuka dan dua orang lelaki masuk.

“sabar yah, jalang, sebentar lagi kamu akan pergi kok.!” Kata lelaki tersebut ketika baru masuk. Kemudian mengangkat sosok tubuh temannya yang sedang pingsan itu keluar. Pintu kembali di kunci.

Hariati segera melepas ikatannya, memeriksa HP yang baru saja di ambilnya dan tersenyum, ia menemukan sesuatu. Ia terlihat serius berfikir. Lalu di tekannya tombol-tombol HP itu dan mulai bicara.

“halo, dengan bu’ firda….ini saya, hariati…….ini alamatnya……….baik bu’”

Lima belas menit kemudian, dua mobil patroli mendekat di rumah itu. Hariati tersenyum penuh kemenangan. Ia mendobrak pintu tersebut sekedar memberi tahu bahwa ada orang di dalamnya.

…………

Keesokan harinya……

“pamirsa, polisi telah menangkap tujuh orang tersangka pembegalan, pencurian, narkoba dan penyelundupan narkoba dan perdaganganmanusia. Mereka di tangkap malam tadi sekitar pukul 02: 30 di jalan W.R. supratman. Sebenarnya,  Gerombolan mereka telah lama menjadi buronan polisi………………hingga saat ini, polisi masih menegmbangkan kasusnya dan di sinyalir akan ada tersangka lain……………….mereka berhasil di tangkap berkat seorang wanita bernama hariati………” kata seorang reporter wanita di layat kaca. Sementara itu, Seorang Wanita dengan bayi di gendongannya tersenyum dan terlihat gembira.

“hariati.! Ada yang nyari nh..! panggil bu’ firda

Ia menuju ruang tamu dan memdapati seorang perempuan dengan kartu persnya.

“jadi, kami dari M-TV bu’, bisa di ceritain kronologi kejadiannya bu’?

Hariati menceritakan dari kisahnya dari awal hingga akhir.

“tapi, bagaimana ibu mengetahui alamatnya, bukannya ibu di sekap?”

“ya, saya melihatnya ketika memeriksa HP bajingan itu, di situ saya melihat foto dengan latar belakang rumah yang ada alamatnya juga, saya hanya menebak dan berharap itu adalah rumah itu.” Jawab hariati menutup pembicaraan.

“oooo, begitu, emm iya, saya pamit dulu, terima kasih atas waktunya” balas reporter tersebut sambil beranjak pergi.

bersinergi membangun negeri

Rakyat Indonesia di beberapa kota dan kabupaten baru saja selesai melaksanakan PEMILU (pemilihan umum) pada 9 desember 2015 secara serentak. Dan tentunya, setiap pemilih berharap bahwa yang dipilihnyalah yang akan menduduki kursi jabatan, dengan alasan yang beragam. Walaupun rakyat telah memilih yang kandidat yang berbeda, namun harapannya hanyalah satu, yaitu mendapatkan pemimpin yang mampu membawa perubahan yang baik.

Namun, jika ditanya apakah mereka (rakyat) yakin bahwa PEMILU kali ini akan membawa perubahan.?, maka akan ditemukan bahwa masih banyak warga yang menjawap dengan ragu. Mungkin, jawaban yang akan diterima adalah “ya, mudah-mudahan saja yang terpilih bisa membawa perubahan.” Atau “ya, bisa iya bisa tidak, hahaha.”

Sikap tersebut sungguh sangatlah wajar, betapa tidak, rakyat berulang-kali dikecewakan oleh pemerintahnya sendiri. Walaupun telah berulangkali melaksanakan PEMILU, namunKasus-kasus korupsi, kolusi, napotisme, kekerasan dan kejahatan masih banyak yang melibatkan pemerintah. Sehingga media-media informasi maupun social masih didominasi oleh berita negative seperti itu.

Hal inilah yang membuat kepercayaan rakyat kepada pemerintah semakin rendah bahkan hilang hingga mereka memilih golput. Saking skeptisnya, sampai-sampai muncul banyak meme-meme liar yang berbau anti-pemerintah, seperti yang ditampilkan metro tv pada acara “mencari negarawan” pada pukul 18:00 tanggal 8/12/2015, kira0kira bunyinya begini, “pemilu bukanlah untuk mencari pemimpin terbaik, tapi menghindari pemimpin terburuk menjadi pemimpin”. Artinya PEMILU hanya untuk mencari pemimpin terbaik di antara pemimpin yang buruk.

Apalagi prestasi Indonesia di kancah internasional sangat sedikit. Olahraga sepakbola mengalami “kevakuman”. Ekonominya pun kalah dari banyak Negara-negara lain yang sebenarnya ber SDA pas-pasan.

Padahal, jika diperhatikan, peluang Indonesia untuk berada pada jajaran Negara-negara berpengaruh di dunia sangatlah terbuka lebar. Indonesia adalah Negara dengan SDA yang melimpah. Barang tambang di perut bumi Indonesia sangat menggiurkan. Selain itu laut Indonesia adalah yang terluas kedua di dunia, hanya kalah oleh kanada.

Namun demikian, apakah negeri ini tak mungkin lagi melakukan perubahan seperti yang diharapkan.?. apakah hal ini sudah menjadi takdir yang tak bisa berubah walau puluhan tahun lamanya kita telah dan akan berusaha.?. akankah rakyat terus sengsara dan kemiskinan merajalela.?. apakah para pemimpin negeri ini memang tak bisa terlepas dari korupsinya, dari penyelewengan jabatannya dan dari kejahatan-kejahatannya.? Atau apakah masih ada harapan bagi kita,?.

Evaluasi diri.!!

Bagaimanapun juga, seorang pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Pemimpin yang baik akan lahir dari rakyat yang baik pula. Banyaknya kasus penyelewengan yang di lakukan para pemimpin daerah dan pusat juga tak terlepas dari kebiasaan mayoritas rakyat di negeri ini. Buktinya, masih banyak perilaku menyeleweng yang dilakukan masyarakat, seperti misalnya, buang sampah sembarangan, penebangan hutan secara illegal, tak mematuhi aturan lalu lintas, tak mau ngantri dan perilaku buruk lainnya yang sudah dianggap biasa.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak masalah selama tak merugikan orang banyak bila dibandingkan dengan para koruptor dari kalangan atas. Tapi sesungguhnya dari kebiasaan itulah yang juga membiasakan rakyat yang kemudian menjadi pemimpin negeri melakukan penyelewengan lain. Artinya, rakyat melakukan penyelewengan kecil karena ia sedang berada pada posisi yang tak mungkin melakukan penyelewengan yang lebih besar. Sehingga ketika ia akhirnya menjadi pemimpin, maka penyelewengan yang dilakukannya akan semakin besar dan besar.

Maka dari itu, baik rakyat maupun pemerintah harus sama-sama mengevaluasi diri untuk kemajuan dan perubahan kearah yang lebih baik.

Mari bersinergi.!!

Perubahan yang terjadi di suatu Negara tak akan tercapai tanpa adanya hubungan timbal-balik antara pemimpin dan yang dipimpinnya. Maka sinergi yang baik adalah keharusan untuk mencapai perubahan.

Jika kita lihat Negara-negara maju, maka akan ditemukan hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyatnya. Di jepang, rakyatnya sangat mematuhi regulasi yang di keluarkan pemimpinnya. China juga di kenal dengan rakyatnya yang nasionalis atau cinta Negara. Pun demikian dengan Negara-negara maju yang lain.

Lantas, bagaimana-mungkin antara rakyat dan pemimpin akan bersinergi membangun negeri jika kesaling-percayaan antara keduanya sudah sangat rendah bahkan tak  ada. Yang terjadi justru saling menyalahkan dan saling merugikan. Sama-sama saling menjauh hingga tercipta jarak yang lebar dan dalam. sama-sama saling memandang sinis hingga saling benci. Sama-sama saling membohongi antara satu dan yang lain.

Jadi, hal yang paling awal dilakukan adalah membangun hubungan yang baik dan dekat antara pemimpin dan rakyatnya dan menjaga hubungan tersebut hingga rasa saling percaya tercipta. Setelah saling-percaya tumbuh, maka tentu rakyat akan mengikuti dan patuh kepada pemimpinnya.

Nah, sekaranglah saatnya untuk membangun semua itu dari awal. Sekaranglah saatnya untuk memperbaiki citra pemerintah. Mumpung masih baru, pemimpin yang akan mengisi kursi kekuasaan harus bisa memanfaatkan momen tersebut. Jangan sampai justru mengikuti jejak buruk para pendahulunya. Jangan sampai mengulangi kesalahan sebelumnya yang akan semakin melenyapkan kemungkinan terjadinya perubahan yang baik pada PEMILU kali ini.

Dan untuk rakyat, hilangkan kebencian lama.!. mari berpikir positif bahwa pemimpin baru kali ini tidak sama dengan yang sebelumnya. Yakinlah bahwa pemimpin baru ini mampu membawa aspirasi rakyat. Dan mari mendukung program-program mereka demi kemajuan negeri. Mari bersinergi membangun negeri..!

sabar, cara mudah hadapi susah

Dewasa ini, problem-problem yang dihadapi manusia kian banyak dan semakin bervariasi. Misalnya, problem ekonomi, sosial, dan lainnya. Maka, banyak di antara manusia yang merasa tak mampu lalu menyerah dan mengakhiri hidupnya. Akhirnya, media-media informasi banyak diisi oleh berita-berita tentang kasus bunuh diri, membunuh atau membuang anak dan kasus-kasus pembunuhan lainnya, hingga menjajakan diri demi kelangsungan hidupnya. Mereka pada umumnya merasa tak mampu dan tak akan mampu menemukan solusi lain yang akan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. padahal is;am sangat mengecam orang yang sengaja mencelakakan dirinya apalagi sampai membunuh diri atau membunuh orang lain dan mengancamnya dengan neraka.

Islam adalah agama kaaffah (menyeluruh), yaitu agama yang mempunyai solusi terhadap semua model masalah yang dihadapi manusia sejak zaman bahula hingga zaman modern bhakan posmodern sekalipun. Kesempurnaan konsep islam tidak lain karena ia memang berasal dari yang maha sempurna, tuhan seluruh alam, pemilik manusia dan yang mengetahui segala sesuatu. Lalu, bagaimana islam memandang masalah ini.? Apakah islam juga mempunyai konsep tentang bagaimana mengahadapi problem-problem dalam kehidupan.? Ya. Tentu saja islam punya. Konsep tersebut adalah sabar.

menurut para pakar Secara etimologi, Sabar berasal dari kata ‘SHABARA-YASBIRU” yang bermakna menahan atau mengekang. Sedangkan secara terminologi adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya dengan syariat dan akal,menahan lisan dari celaan, menahan dari berbuat dosadan sebagainya. Lawan kata dari sabar adalah jaza’u yang berarti keluh kesah atau sedih.

Sebagai seorang muslim, adalah suatu kewajiban untuk menerapkan islam secara kaaffah, termasuk sabar dalam mengahadapi ujuan dan cobaan. Seorang muslim yang sabar percaya bahwa segala cobaan berasal dari Allah SWT untuk mengukur sejauh mana tingkat keimanan kita kepada-NYA. Ia percaya tentang firman Allah dalam surah al-baqarah ayat 155 “dan kami pasti menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.Sehingga ia akan menghadapi ujian-NYA dengan mengikuti apa yang diinginkan sang penguji, yaitu tuhan yang maha esa. ia juga percaya bahwa seberapa besar pun masalahnya, Allah SWT pasti akan memberi jalan keluarnya. cepat atau lambat.

Lihatlah bagaimana rasulullah mencontohkan sifat sabar dalam segala hal. Sebagai seorang rasul, ia sabar dalam menghadapi umatnya. Banyak kisah yang menunjukkan kesabaran rasulullah SAW, salah satunya, ketika rasulullah SAW pergi ke tha’if untuk menyampaikan risalah-NYA, ia malah di sambut oleh makian, cemoohan bahkan lemparan batu oleh penduduk thaif. Maka rasul pun pergi dari tempat tersebut dan beristirahat di bawah pohon kurma, lalu datanglah malaikat yang menawarkan “bantuan” untuk membalas sikap warga tha’if tersebut dengan meminta izin kepada rasulullah SAW untuk “menimpakan” gunung kepada mereka. Namun tawaran tersebut ditolak oleh rasulullah yang agung.

Lalu, lihatlah para salafusshaleh mengaplikasikan sabar dalam hidupnya. Imam ahmad bin hanbal, karena menolak pemahaman mu’tazilah, ia dipenjara dan disiksa sedemikian rupa. Thariq bin ziyad dalam misinya menaklukkan andalusia, ia dengan sabar menghadapi pasukan yang begitu besar dengan membakar kapalnya agar pasukannya tak lari dari arena jihad.Mereka tentu sangat percaya dengan sabda nabi SAW. “barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan hidupnya, maka aku akan menjadi saksi (pemberi syafaat) baginya di hari kkiamat.” (H.R. at-tirmizi)

Namun sebenarnya, sabar bukan hanya bagi mereka yang sedang ditimpa kesulitan atau musibah, sabar juga berlaku bagi seorang guru terhadap muridnya, seorang murid terhadap gurunya dan sabar dalam menuntut ilmu, seorang pemimpin terhadap sikap orang yang dipimpinnya dan sebaliknya, seorang da’i kepada mad’unya, seorang suami terhadap istrinya dan sebaliknya dan juga seorang hamba dalam mematuhi dan menjauhi larangan-NYA memerlukan kesabaran.

Lihatlah bagaimana umar bin khattab menanggapi keluhan seorang wanita miskin kepadanya di malam hari yang tak tahu bahwa dirinya adalah umar, sang amirul mukminin. Bukannya marah, ia malah bergegas memenuhi kebutuhan wanita tersebut. Ini adalah contoh bagaimana seorang pemimpin bersabar atas yang dipimpinnya. Bagaimana akh samsuddin sabar dalam mendidik muhammad II yang kemudian dikenal sebagai al-fatih. Bagaimana pula kesabaran seorang nabi ayyub dalam menghadapi sikap istrinya yang malah meninggalkannya disaat ia kesulitan dengan penyakitnya, juga nabi ibrahim dan ismail, bagaimana keduanya bersabar melaksanakan perintah Allah yang terdengar tak masuk akal. Itulah sebagian contoh tentang kesabaran selain sabar dengan cobaan kesusahan.

  1. Manfaat sabar

Memiliki sifat sabar akan memiliki banyak manfaat. Selain mendapat jaminan syurga dari Allah SWT dan akan mendapat syafaat dari nabi SAW, ia juga akan lebih santai dalam menjalani hidupnya. Ia akan mengalah demi kemaslahatan bersama. Dengan bersikap seperti itu, ia tak akan memiliki musuh, sebaliknya orang-orang akan senang dengannya.

Dalam mengahadapi cobaan pun, ia tak akan merasa kesulitan. Bahkan ia akan menikmatinya. Ia yakin, dengan kesabarannya, Allah SWT akan membantunya dan menghilangkan kesulitannya lalu menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Ia meyakini bahwa Allah SWT akan selalu bersama orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-qur’an.

Jika manusia bisa mengaplikasikan sifat sabar di dunia ini, maka bukan mustahil jika kasus-kasus pembunuhan, kekerasan, bunuh diri, pencurian, bahkan pelacuran akan sulit ditemui bahkan tak terjadi lagi. Wallahu a’lam bisshawab.

urgensi dakwah di tengah arus westernisasi

    1. Latar belakang masalah

    Dakwah memerankan peran vital dalam agama islam sebagai agama yang universal. Tanpa adanya dakwah, maka tersebarnya agama islam ke seluruh dunia adalah hal yang tak mungkin. Dakwah bisa berupa perkataan dan juga perbuatan. Dalam perjalanannya di setiap zaman, dakwah terus menghadapi hambatan-hambatan serius.

    Pada masa awal islam, yakni di zaman Nabi Muhammad SAW, dakwah mendapat hambatan dari kafir qurays. Lalu setelah berkembangnya islam, dakwah terhambat oleh para kaisar dan raja-raja, seperti kaisar Persia dan kaisar bizantium. Namun itu semua berhasi dilalui hingga islam Berjaya dan menguasai hampir sepertiga dunia sekaligus membangun peradaban unggul pada masa itu.

    Seiring berjalannya waktu, peradaban islam mengalami kemerosotan hingga akhirnya tergantikan oleh peradaban lain, yaitu peradaban barat. Seperti kebiasaan pada umumnya, sesuatu yang lebih kuat akan berusaha menguasai yang lemah dengan segala cara. Begitupun yang di lakukan barat terhadap islam. Mereka berusaha menghapus ajaran dan konsep-konsep islam dengan ajaran dan konsep-konsep mereka dengan alasan untuk memajukan dunia. Cara mereka di kenal dengan sebutan westernisasi dan beberapa istilah lain, seperti modernisasi dan globalisasi yang sebenarnya bertujuan sama, yakni menjauhkan manusia dari baying-bayang agama dan mengbuang tuhan.

    Westernisasi pada awalnya disebarkan dengan kolonisasi atau penjajahan pada sekitar abad 17 hingga 19 M. setelah sekian lama menguasai timur, barat akhirnya kembali ke tanah aslinya, namun mereka meninggalkan hal-hal yang merusak di timur, seperti pemahaman sesat, gaya hidup materialistic dan glamour dan konsep-konsep beragama dan bernegara. Tidak hanya itu, seiring berkembangnya IPTEK, mereka memanfaatkannya untuk menyebarkan westernisme ke segala penjuru dunia. Umat islam yang imannya tak kuat akhirnya menjadi korbannya.

    Maka dari itulah, diperlukan cara efektif guna menghindarkan kaum muslimin dari bahaya tersebut. Cara itu tak lain adalah dengan dakwah, namun harus dengan strategi yang tepat, sehingga lebih efisiaen dan efektif. Di era globalisasi ini, sangat banyak cara yang bisa digunakan untuk berdakwah, di antaranya ialah dengan memanfaatkan IPTEK yang mutakhir.

    1. Rumusan masalah

    Apa sebenarnya yang diinginkan oleh barat dengan westernisasi dan apa dampaknya.?

    Apa yang mestinya dilakukan oleh kaum muslimin untuk menghadapi kuatnya arus westernisasi.?

    Seberapa vitalkah peran dakwah dalam menghadapi westernisasi dan bagaimana memanfaatkannya.?

    1. Westernisasi

  1. DEFINISI DAN SEJARAH WESTERNISASI

Westernisasi secara bahasa berasal dari kata “western” yang berarti “barat”. Sedangkan menurut istilah ialah “sebuah proses di mana masyarakat berada di bawah-atas mengadopsi budaya barat dalam berbagai bidang, seperti industry, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, gaya makan, pakaian, bahasa, alphabet, agama, filsafat dll.” [1] dari pengertian di atas, kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa westernisasi ialah suatu proses “pembaratan” nilai-nilai dari agama atau di masyarakat, sehingga nilai-nilai tersebut berganti menjadi nilai-nilai yang lahir dari barat sebagai suatu peradaban.

Westernisasi tidak mengenal ruang dan waktu, iasengaja disebarkan kesegala penjuru dunia dengan tujuan agar masyarakat global menerima ide dan nilai-nilai yang dibawa olehnya. Eropa, sebagai tempat lahirnya peradaban barat menghendaki agar seluruh dunia mengadopsi nilai-nilai yang menjadi bangunan peradaban yang mereka bangun, yang menurut mereka, nilai-nilai itu akan menjadi sesuatu yang akan melepaskan dunia dari kegelapan dan kungkungan agama. Namun, benarkah pendapat mereka tentang agama sebagai sesuatu yang mengungkung.? Bagaimana mereka bisa berpendapat seperti itu.?

Peradaban barat sesungguhnya lahir dari rasa frustasi terhadap agama Kristen (gereja) yang semena-mena. Dalam sejarah barat, khususnya abad pertengahan, di mana pada saat itu islam sedang jaya-jayanya dengan keilmuan dan peradabannya yang agung, barat (baca : eropa) justru terpuruk karena agama. Pada saat itu, ilmuan-ilmuan barat di kungkung oleh otoritas gereja. Mereka tak diberi kebebasan untuk bereksperimen. Salah satu korban dari abad ini yang terkenal ialah galileo galilei, ia berpendapat bahwa bumilah yang mengililingi matahari, namun gereja berkeyakinan sebaliknya. Akibatnya galileo di hokum mati. Karena para ilmuan dibatasi gerak-geriknya, maka barat sangat tertinggal dalam bidang keilmuan.

Namun, para ilmuan tidak menyerah, mereka terus menentang aturan-aturan gereja. Maka lahirlah paham-paham untuk melepaskan diri dari gereja. Di awali oleh Rene Descartes di abad ke-17  dengan paham rasionalismenya yang menuhankan akal (rasio). Mereka berpendapat, bahwa segala sesuatu yang tak masuk akal adalah kebohongan. Lalu diikuti oleh pemahaman-pehaman lainnya yang bertentangan dengan gereja. masyarakat barat akhirnya bebas dari aturan gereja dan berkembang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai oleh peristiwa renaissance. Kristen sebagai agama mayoritas orang eropa dalam hal ini telah berhasil menjadikorban pertama yang diwesternisasikan oleh para ilmuan yang ateis. Bahkan pemindahan pusat asalnya dari yerussalem ke romawi menjadi awal westernisasi Kristen.[2] Setelah Kristen berhasil diwesternisasi, agama lainnya menjadi target selanjutnya.

Pada awalnya, westernisasi di sebarkan melalui kolonialisme atau penjajahan ke negeri-negeri yang lebih lemah, seperti negeri-negeri kaum muslim. Contohnya penjajahan bangsa Indonesia oleh portugis, belanda, dan inggris di abad 17 hingga abad 19. Namun dengan perebutan tanah kekuasaan pada perang dunia kedua, yang melemahkan posisi barat di timur, mereka mengubah penjajahannya dengan pemanfaatan IPTEK. Mereka tak perlu mendiami tanah kaum muslimin untuk menyebarkan westernisme, mereka hanya perlu mengendalikan media berteknologi tinggi untuk westernisasi.[3]

  1. ANTARA WESTERNISASI, MODERNISASI DAN GLOBALISASI

Di kalangan masyarakat, terjadi suatu kesalahan persepsi antara modernisasi, globalisasi dan westernisasi. Masyarakat cenderung menyamakan antara modernisasi, globalisasi dan westernisasi karena ketiganya memang mempunyai makna dan gaya yang hampir sama. Padahal, ketiganya berbeda. Walaupun begitu, antara satu dan lainnya saling berhubungan. Westernisasi seringkali menggunakan kedok modernisasi untuk memuluskan langkahnya.

a). Modernisasi

Modernisasi menawarkan pembaruan secara total di segala lini kehidupan yang dianggab tradisional. Modernisasi berasala dari kata “modo” yang berarti cara, dan “ernus” yang berarti periode waktu masa kini. Para pakar mendefinisikan modernisasi sebagai suatu transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek (J.W. school) atau suatu tranformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi social ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri Negara barat yang stabil (Wilbert E. Moore).[4]

Westernisasi adalah mutlak dari budaya barat, sedangkan modernisasi belum tentu dari barat. Karena teknologi, ilmu pengetahuan dll tidak semuanya berasal dari barat. Modernisasi bisa berarti mengubah cara berfikir dari tradisional dan irrasioanal[5] menjadi cara berfikir yang rasioanal, efisien dan praktis.[6]Jadi modernisasi memiliki jangkauan lebih luas disbanding westernisasi.

Yang perlu digaris-bawahi adalah, seringkali para musuh islam menyebarkan paham-paham sesat dengan alasan modern dan menyatakan bahwa konsep yang di gunakan oleh masyarakat timur  (baca : islam) sebagai konsep yang telah usang dan harus diganti agar bisa maju seperti mereka. Padahal mereka sejatinya ingin menghancurkan agama seperti hancurnya agama Kristen.

b). globalisasi

Globalisasi dimaknai sebagai suatu proses penyebaran unsur-unsur baru (modern), baik itu berupa informasi, pemikiran, gaya hidup maupun teknologi secara mendunia.[7]Ia lebih kepada proses penyebaran nilai-nilai yang kebarat-baratan (westernisme) dan yang baru (modern).

Ketika disebuah Negara terjadi sesuatu, baik berupa ilmu pengetahuan atau teknologi,pun dengan informasi lainnya, maka dengan sekejap, hal itu akan diketahui di Negara lain, sebagai efek dari globalisasi. Adapun perbedaannya dengan westernisasi, bahwa globalisasi bisa bermakna peningkatan kesaling ketergantungan antar Negara di dunia, tidak ada satupun Negara yang bisa hidup sendiri tanpa adanya Negara lain. Sedangkan westernisasi berada pada proses identifikasi dan imitasi budaya barat.[8]

Dengan globalisasi, orang-orang di timur bisa mengetahui apa yang terjadi di barat dan sebaliknya. Dari sinilah disebarkan ide-ide yang bertentangan dengan agama ataupun masyarakat dengan alasan modern. Dengan artian bahwa jarak tidak lagi menjadi sekat pemisah antar Negara.

Di antara alat-alat yang biasa di gunakan oleh globalisasi ialah televise, media social seperti facebook, twitter, instagram dan lainnya. Masyarakat yang belum paham dan lemah iman seringkali menjadi korban globalisasi, dengan mengikuti dan mengadopsi gaya hidup, pemikiran, politik, gaya berpakaian, dan lainnya yang cenderung materialistik.

  1. MANFAAT DAN BAHAYA WESTERNISASI

Hadirnya nilai-nilai barat di dunia timur ksususnya islam memunculkan banyak masalah. Mulai Dari pemikiran dan pemahaman yang salah lagi sesat terhadap tuhan, kehidupan, norma, dan nilai-nilai, yang telah di konsep oleh islam dengan sempurna. Namun demikian, sebenarnya westernisasi bukan tidak membawa manfaat sama sekali, tetapi bisa di bilang kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih banyak dari manfaatnya.

a). Manfaat westernisasi

Hal yang paling ditonjolkan peradaban barat ialah ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak peristiwa renaissance di prancis, ilmu pengetahuan dan teknologi dibarat berkembang pesat, berbanding terbalik dengan barat di abad pertengahan yang sangat tertinggal dalam bidang IPTEK. Dengan penguasaan IPTEK dalam bidang militer seperti membuat senjata, pesawat tempur, tank, dan alat perang lain, mereka berhasil mengusai (menjajah) dunia, khususnya timur. Setelah era itu (era kolonialisme), barat kemudian mengembangkan IPTEK di bidang lain seperti komunikasi dengan HP, internet dll. Kemudian di bidang militer, dibidang ekonomi, bidang politik, bidang pendidikan dan bidang lain yang memudahkan manusia dalam beraktivitas.

Diakui atau tidak, IPTEK yang dikembangkan barat sedikit-banyak memiliki peranan penting dalam kehidupan di zaman ini. Sehingga memanfaatkan IPTEK untuk kemajuan dan kemaslahatan adalah penting.

b). Bahaya westernisasi

Para ilmuan barat (penganut Kristen) pada umumnya tidak menyangkal bahwa masalah mereka yang paling serius adalah permasalahan tentang tuhan[9]. Seperti yang telah disinggung sebelumya tentang bangunan peradaban barat yang anti-tuhan, maka untuk diadopsi secara total oleh masyarakat muslim adalah hal yang tak mungkin, hal ini karena untuk menerapkan budaya barat, maka hal pertama yang harus dilakukan ialah membuang tuhan dan agama yang telah mengatur norma-norma dalam hidup.

Westernisasi menghendaki agar seluruh dunia membuang tuhan Karena dianggap sebagai “dinding” yang menghalangi kemajuan dunia dan menggantinya dengan konsep yang mereka buat. Banyaknya paham-paham sesat seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme, komunisme, rasionalisme, materialisme dan teman-temannya yang melanda negeri-negeri muslim hanyalah salah satu contoh bahaya yang mengintai kaum muslimin.

Diantara westernisasi yang paling berbahaya selain westernisasi pemahaman ialah westernisasi budaya atau gaya hidup. Seperti yang mulai muncul di Negara-negara muslim, dimana para pemuda dan pemudi sangat gemar menkonsumsi makanan dan minuman dari barat, seperti coca-cola, pepsi, hamburger, mcdonal dan sejenisnya. Selain makanan, music, pakaian super mini, rokok juga menjadi tren di masyarakat timur. Para pemudi tak segan-segan memperlihatkan auratnya di jalan-jalan umum, di mall, di pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Para pemudi malu menggunakan kopiah, baju muslim, dan identitas muslim lainnya dan lebih suka dengan celana jeans yang ketat atau celana botol hingga rambur yang bergaya barat. Bahkan gaya-gaya tersebut telah biasa dan dianggap gaul atau gaya anak modern, yang sebenarnya akibat dari westernisasi.[10]

Dari fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa dampak negative dari westernisasi sangat berbahaya bagi muslim bahkan bagi agama lainnya. Westernisasi hingga saat ini setidaknya sudah sangat meresahkan dan telah berhasil menjauhkan muslim dari ajaran agama dan sedikit demi sedikit menghancurkan agama islam.

  1. SIKAP KAUM MUSLIMIN TERHADAP WESTERNISASI

 

Dalam menyikapi westernisasi, kaum muslimin terpecah menjadi beberapa golongan yaitu :

a). Yang berlebihan; yakni mereka yang menerima secara mutlak. Orang seperti inilah yang disebutkan nabi dalam haditsnyabahwa mereka akan mengikuti cara-cara dan ajaran umat lain sejengkal demi sejengkal sehingga apabila umat lain masuk ke dalam lubang biawak, mereka akan mengikutinya.

Inilah sikap para penyeru westernisasi yang berlebihan di dunia islam.

b). Yang menolak sama sekali. Kelompok ini adalah lawan kelompok pertama. Mereka sangat menjauhi setiap hal-hal yang baru dan tidak peduli terhadap dunia pemikiran, ekonomi, politik dan sejenisnya. Mereka ber’uzlah dan menyingkir.

Inilah sikap mereka yang takut bertemu orang lain, yang kuat memegang teguh yang lama dan tak mau menerima hal baru.

c). Yang pertengahan. Mereka tak menerima secara bulat tapi juga tak menolak total. Inilah sikap yang baik sebagai cermin, sebagai manhaj islam yang pertengahan. Inilah golongan orang beriman yang berwawasan luas dan terbuka, yang bangga dengan identitasnya, yang paham tentang risalahnya, dan memegang taguh orisinilitasnya.[11]

Sebagai seorang muslim, kita tak,perlu lari menjauhi westernisasi, karena kita tak akan bisa menjauhi ataupun menolaknya di zaman yang serba canggih ini. Seluruh dunia bahkan telah terkontaminasi oleh virus westernisasi ini.

Hal yang perlu kita lakukan adalah mengokohkan aqidah dan iman kita kepada Allah SWT, agar tidak gampang terpengaruh oleh westernisasi. Kemudian memilih dan memilah apa yang dibawa oleh westernisasi untuk mengambil manfaat dan membuang mudharatnya. Bagaimanapun juga, kita mesti menghadapinya dengan ilmu dan wawasan luas dengan memanfaatkan IPTEK yang tak menyalahi syariat islam. Hal ini lebih efektif  ketimbang tetap berdiam diri dan acuh terhadap perkembangan dunia modern. Setidaknya dengan mengetahui dan memahami seluk-beluk IPTEK, kta lebih paham tentang westernisasi dan kelemahanna kemudia melawan balik demi kebangkitan islam yang memiliki konsep yang lebih sempurna dari konsep barat, karena memang berasal dari yang maha sempurna, maha tahu ata segala sesuatu.

 

 

 

  1. Dakwah

 

  1. DEFINISI DAKWAH

Secara bahasa (etimologi) kata dakwah berasal dari kata “da’a-yad’u” yang berarti memanggil atau menyeru, undangan atau do’a. menurut abdul aziz, secara etimologis kata dakwah berarti : (1) memanggil; (2) menyeru; (3) menegaskan atau membela sesuatu; (4) perbuatan atau perkataan untuk menarik manusia kepada sesuatu; dan (5)memohon atau meminta, atau do’a.[12]artinya, proses penyampaian pesan-pesan tertentu berupa ajakan, seruan, undangan, untuk mengikuti pesan tersebut atau menyeru dengan tujuan untuk mendorong seseorang untuk melakukan cita-cita tertentu.[13]

Sedangakan Secara istilah (terminologi), di antaranya dapat diambil dari al-qur’an surah an-nahl ayat 125 yang artinya; serulah (manusia) kepada jalan tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An-nahl : 125).[14]

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa dakwah ialah mengajak manusia kepada jalan Allah SWT (system islam) secara menyeluruh; baik secara lisan, tulisan maupun perbuatan sebagai ikhtiar (upaya) muslim mewujudkan nilai-nilai ajaran islam dalam realitas kehidupan pribadi (syahsiyah), keluarga (usrah) dan masyarakat (jama’ah) dalam semua segi kehidupan secara menyeluruh sehingga terwujud khairu ummah (masyarakat madani).[15]

Dakwak telah ada semenjak manusia hadir di muka bumi. Mulai zaman nabi adam AS dan nabi-nabi selanjutnya hingga nabi Muhammad SAW, dakwah telah dikenal dan diimplementasikan dalam menyampaikan kebenaran dari Allah. Namun setiap periode memiliki ciri khas tersendiri sehingga gaya dakwahnya pun berbeda.

Di zaman ini, zaman modern, dakwah mendapat rintangan dan halangan yang besar dari dunia barat dengan pemahaman-pemahaman sesatnya dan budaya-budaya yang merusak. Sehingga metode dan strategi dakwah harus disesuaikan dengan ciri dan gaya pada zaman ini. Bisa dengan cara memanfaatkan perkembangan IPTEK dan lainnya.

  1. METODE DAKWAH

Pembentukan sebuah masyarakat baru yang islami tidak terjadi begitu saja. Akan tetapi diperlukan sebuah tahapan yang didasari dengan perencanaan matang yang secara tak langsung menggunakan kaidah yang yang terdapat dalam manajemen dakwah.[16] Seperti sudah disinggung sebelumnya, bahwa perubahan yang diajarkan oleh Al-qur’an memiliki dua tahap, yaitu: pertama, tahap perubahan pemikiran, pemahaman, akidah dan akhlaq, kedua, tahap perubahan kondisi social dan masyarakat.[17]

Untuk melakukan dakwah, seorang da’i tidak boleh asal-asalan, ia harus menggunakan metode yang tepat demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Di antara metode dakwah menurut al-qur’an ialah :

a). bi al-hikmah

metode ini didasarkan pada surat an-nahl ayat 125 yang berbunyi “serulah (manusia) kepada jalan tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An-nahl : 125).

Kata al-hikmah diartikan sebagai al-adl (keadilan), al-hilm (kesabaran dan ketabahan), al-nubuwah (kenabian), al-ilm (ilmu pengetahuan), al-qur’an, falsafah, kebijakan, pemikiran atau pendapat yang baik, al-haqq (kebenaran), meletakkan sesuatu pada tempatnya, kebenaran sesuatu, mengetahui sesuatu, dan yang paling utama dengan ilmu yang paling utama.[18]

Menurut Sayyid Qutb (1997: 22), dakwah dengan metode hikamah akan terwujud apabilamemperhatikan 3 faktor. Yaitu; (1), keadaan dan situasi orang-orang yang didakwahi (mad’u), (2), kadar atau ukuran materi dakwah yang disampaikan agar mereka tidak keberatan dengan beban materi tersebut, dan (3), metode penyaimpain materi dakwah dengan membuat variasi sedemikian rupa yang sesuai dengan kondisi pada saat itu.[19]

b). Al-mauidzah al-hasanah

Di antara pengertian metode ini ialah;

  • Pelajaran dan nasihat yang baik, berpaling dari perbuatan jelek melalui tarhib (dorongan) dan targhib (motivasi); penjelasan, keterangan, gaya bahasa, peringatan, penuturan, contoh teladan, pengarahan, dan pencegahan dengan cara halus.[20]
  • Suatu ungkapan dengan penuh kasih saying yang terpatri dalam kalbu, penuh kelembutan sehingga terkesan dalam jiwa, tidak melalui pelarangan dan pencegahan, sikap mengejek, melecehkan, menyudutkan atau menyalahkan, meluluhkan hati yang keras, dan menjinakkan kalbu yang liar.[21]
  • Kelembutan hati menyentu jiwa dan memperbaiki peningkatan amal.[22]

Prinsip-prinsip metode ini lebih diarahkan kepada mad’u yang tergolong berintelek dan berwawasan rendah atau kelompok awam. Sehingga da’I berperan sebagai pembimbing, teman dekatyang setia, yang memberikannya segala hal yang bermanfaat serta membahagiakan mad’unya.

c). Al-mujadalah al-ahsan

Metode ini merupakan upaya dakwah melalui bantahan, diskusi, atau berdebat dengan cara yang baik, tidak arogan, sopan santun, dan saling menghargai. Dalam pandangan Muhammad Husain yusuf, cara ini diperuntukkan bagi mad’u yang hatinya dikungkung secara kuat oleh tradisi jahiliah, yang dengan sombong dan angkuh melakukan kebatilan, serta mengambil posisi arogan dalan menghadapi dakwah islamiah.[23]

Metode ini menuntut seorang da’i agar memiliki wawasan yang luas dan cakap dalam berargumentasi. Selain itu, seorang da’i (khususnya da’i zaman modern) yang menerapkan metode ini harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan masalah-masalah kontemporer, juga mampu memberi bukti ilmiah yang dapat di cerna akal manusia tentang konsep-konsep islam. Karena, bagi mad’u semacam ini, keindahan bahasa al-qur’an tak berarti apa-apa. Namun haru dingat bahwa, dalam menyampaikan kebenaran harus dengan cara yang baik dan menghargai status mad’u.

Di antara tokoh-tokoh muslim kontemporer yang sering menggunakan metode ini adalah Dr. zakir naik, ahmad deedat, yusuf qardhawi dan lainnya.

  1. TUJUAN DAKWAH

Secara umum, aktivitas dakwah bertujuan menyebarkan ajaran al-qur’an dan hadits yang di bawa oleh Rasulullah SAW.[24]Sehingga tercapai suatu masyarakat yang beriman,  bertaqwa dan hidup sesuai syariat yang telah ditetapkan oleh pemilik dunia dan seisinya.

Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT dengan tujuan untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya dan bersifat universal telah memiliki konsep sempurna dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini yang sesuai dengan fitrah manusia. Maka ia harus diserukan dan disebarkan kepada seluruh umat manusia, cara menyebarkan agama itulah yang disebut sebagai dakwah.

Namun, aktivitas dakwah bukan hanya berlaku bagi sebagian muslim atau hanya berlaku bagi ustadz, kyai atau pemuka agama. Tetapi Allah mewajibkannya bagi setiap muslim. Seorang muslim harus menyeru atau berdakwah kepada manusia sesuai dengan kapasitas yang ia miliki. “sampaikanlah dariku walau satu ayat” itulah petikan sabda Nabi SAW yang berasal dari Allah SWT. Dalan Al-qur’an pun Allah berfirman “demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”[25]

Dari ayat tersebut kita berkesimpulan kaitannya dengan dakwah ialah bahwa orang-orang yang tidak menasehati (dakwah) adalah orang yang merugi.

  1. PERAN VITAL DAKWAH DALAM MENGHADANG WESTERNISASI

Akibat kemunduran islam yang kemudian diakhiri dengan runtuhnya kekhalifahan  islam yang ditandai beralihnya turki utsmani menjadi Negara sekuler, juga seiring peristiwa renaissance di eropa yang menumbuhkan semangat barat untuk melepaskan diri dari agama yang dianggap tidak sesuai dengan akal manusia dan hanya mengungkung kebebasan manusia sehingga menjadikan dunia menjadi “gelap” dan melahirkan peradaban barat yang anti-tuhan, membawa dinamika tersendiri di dunia muslim secara keseluruhan.

Sejak peristiwa tersebut, barat berusaha mengusai dunia dengan kolonialisme. Namun cara ini tak berhasil secara total, karena mendapat perlawanan dari kaum muslimin. Akhirnya, mereka mengubah strategi, yaitu melakukan upaya-upaya pembaratan terhadap islam, baik itu dibidang keilmuan, bidang politik, bidang filsafat dan pemikiran, bidang gaya hidup dan bidang agama. Cara inilah yang disebut westernisasi, namun dibungkus dengan alasan modernisasi atau pembaruan dan disebarkan dengan globalisasi.

Dengan cara ini, banyak kaum muslimin yang terjerat dan terkontaminasi olehnya. Sebagai contoh; dibanyak Negara muslim, muncul pemikiran dan pemahaman sesat mengenai islam, seperti paham SIPILIS (sekularisme, pluralisme, liberalisme) dengan tokoh-tokohnya seperti nasr abdul hamid di mesir, Mustafa Kemal di turki, harun nasution di Indonesia. Nama-nama yang telah disebutkan adalah orang-orang yang berpengaruh di masyarakat sehingga banyak masyarakat yang membenarkan dan mengikuti mereka. Belum lagi di bidang budaya, kaum muslimin, khususnya remajanya, banyak yang ikut-ikutan dengan orang-orang barat.

Dengan fakta tersebut, jika terus dibiarkan, maka akan menjadikan islam hanya sebagai nama dan idetitas, namun tak diaplikasikan sebagaimana mestinya. Sehingga diperlukan sebuah cara yang mampu mencegah hal itu terjadi dan mengembalikan kaum muslimin yang terpengaruh agar kembali kepada jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT. Cara ini tak lain adalah dakwah islamiah, baik dengan lisan, tulisan maupun perbuatan. Maka dalam hal ini dakwah sangatlah penting untuk diaplikasikan dengan semangat seperti semangat para pendahulu islam.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan diatas, di peroleh kesimpulan bahwa islam yang pernah mengusai hamper sepertiga dunia tidak bisa dilepaskan dari peran dakwah. Dakwah menempati posisi sentral dalam agama islam. Islam tak akan diketahui sebagai agama yang benar, universal dan rasianal jika dakwah tak dijalankan. Sebaliknya, islam akan dipahami sebagai agama yang tak berbeda dengan agama lainnya yang irrasional.

Masyarakat barat yang umumnya Kristen cenderung beranggapan bahwa semua agama tak jauh berbeda dengan Kristen yang mereka pahami. Sejarah mencatat, bahwa di abad pertengahan, gereja atas nama agama Kristen sangat membatasi gerak-gerik ilmuan. Akibatnya mereka tak maju dan ketinggalan dalam segala hal. Setelah melewati fase tersebut dan berhasil menyingkirkan agama, mereka akhirnya berhasil membangun peradaban, menggantikan peradaban sebelumnya, yaitu islam lalu menyimpulkan bahwa agama, termasuk islam, hanya akan membawa kegelapan di dunia. Maka dengan semangat membangun dunia yang “baru” dan bebas dari campur tangan tuhan, mereka berusaha menyebarkan ide-ide, budaya, gaya hidup mereka keseluruh dunia atau membaratkan (westernisasi) dunia demi mencapai the new wordl order atau tatanan dunia baru yang dikendalikan oleh mereka.

Hasilnya, banyak kaum muslimin yang terpengaruh dengan mereka. Mulai dari tingkat masyarakat awam, kaum inteleknya hingga alim ulama’nya. Mereka mulai meragukan agama islam dan konsepnya. Di tambah lagi faktanya, islam pada zaman ini, diakui atau tidak, sangat tertinggal dalam bidang IPTEK. Maka banyak diantara mereka yang akhirnya belajar islamnya justru ke barat dan belajar islam melalui orientalis lalu pulang sebagai utusan untuk mempengaruhi kaum muslimin lainya. Sehingga barisan kaum muslimin pun kocar-kacir dan terpecah pecah, lalu muncullah istilah-istilah seperti islam fundamental, islam moderat, islam radikal, islam liberal, islam demokratis dan lainnya.

Islam jelas berbeda dengan Kristen. Konsep tuhan dalam islam bisa di buktikan melalui kemukjizatan al-qur’an juga secara ilmiah, berbeda dengan Kristen yang selalu bermasalah dalam konsep tuhannya. Dalam sejarahnya, Agama islam tak pernah menghadapi problem seperti yang dialami Kristen. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, rasional dan paling sempurna, islam mempunyai segala solusi terhadap masalah yang dihadapi umat manusia. Islam punya konsep muamalah, pilitik, ekonomi, pendidikan dan lainnya yang telah terbukti mampu memajukan dunia, bahkan dalam bidang IPTEK. Sehingga ide westernisasi jelas bertentangan dengan ajaran islam. Maka dari itu, untuk menjelaskan hal ini kepada dunia khususnya barat,dakwah sangat dibutuhkan. Itulah peran vital dakwah dalam islam. Maka muncullah istilah ghazwul fikri, yang bermakna perang pemikiran.

  1. Saran

Tersebab westernisasi, banyak dari kaum muslimin yang ikut-ikutan dan semakin jauh dari ajaran agamanya. Dilain pihak banyak kaum muslimin yang memandang dakwah yang dilakukan dimimbar-mimbar pada hari jum’at atau acara-acara lain hanya sebagai suatu formalitas. Berangkat dari fakta tersebut, maka kami menyarankan agar dilakukan revolusi dakwah. Dari dakwah tradisional menuju dakwah kontemporer atau dakwah yang modern (modernisasi dakwah) namun sesuai ajaran agama islam.

Modernisasi dakwah adalah dakwah yang disesuaikan dengan perkembangan dunia. Untuk merealisasikannya, hal yang terlebih dahulu dilakukan adalah penguasaan IPTEK. Karena, kaum muslimin pada masa ini cenderung lebih menyukai mengakses ceramah dari media social. Kemudian hal yang juga penting adalah mendirikan sebanyak mungkin channel televise bertaraf internasional seperti yang sudah dilakukan al-jazeera, karena sesungguhnya westernisasi juga banyak melalui televise. Hal itu terjadi karena mereka punya banyak channel tv, seperti cnn, bbc, dan juga mengendalikan banyak media local.

Mengajak diskusi juga menjadi strategi dakwah yang efektif. Namun Seorang da’i yang menerapkan metode ini dituntut untuk memperbanyak ilmu pengetahuan yang ilmiah (science), lalu menhubungkannya dengan al-qur’an. sehingga bisa berargumen dengan mad’u yang tidak percaya kepada tuhan (ateis) dan hanya mengandalkan rasio untuk menilai sesuatu itu benar atau salah. Para da’i juga harus mampu memanfaatkan media cetak untuk dakwah atau dakwah lewat tulisan. Bisa dengan membuat blok, web, bahkan facebook dan twitter bisa dimanfaatkan.

Namun, metode modernisasi dakwah seperti yang sudah dijelaskan di atas adalah lebih menargetkan kalangan elit, intelektual, kaum ateis dan mereka yang sudah terlanjur terjangkit westernisasi. Untuk kalangan awam, metode dakwah tradisional masih perlu dilestarikan. Selain itu, Dakwah dengan perbuatan atau keteladanan juga efektif dimasyarakat awam.

.

[1]Di akses dari Wikipedia.com, 1 desember 2015 pukul 12-45

[2] Syed Muhammad naquib al-attas, Islam dan sekularisme, (bandung: PIMPIN, 2011) h. 24

[3]Dr. david sagiv, Islam otentitas liberalisme, (Jogjakarta, LKiS, 1997) h. 10

[4] Diakses dari Wikipedia.com, 1 desember 2015, pukul 12:40

[5] Tidak masuk akal

[6] Diakses dari http:// www.artikelsiana.com/perbedaan globalisasi,- westernisasi- dan- modernisasi/ pada 1    desember 2015, pukul 12:42

[7]ibid

[8]ibid

[9] Syed Muhammad naquib al-attas, op. cit. h. 9

[10] Dr. yusuf al-qaradhawi, islam dan globalisasi dunia (Jakarta: cv. Pustaka al-kausar, 2001) h. 64-65

[11] Ibid., h. 139

[12] Drs. Enjang AS, M.Ag., M.Si. dan Aliyudin, S.Ag., M.Ag, Dasar-dasar ilmu dakwah, (bandung; widya padjadjaran, 2009) h.3-4

[13] Ibidh.4

[14] Ibid

[15] Ibid h.5

[16] M, Munir, S.Ag., M.A. dan Wahyu Ilahi, S.Ag., M.A., manajemen dakwah,(Jakarta; kencana, 2012) h. 258

[17] Ibid.

[18]Drs. Enjang AS, M.Ag., M.Si. dan Aliyudin, S.Ag., M.Ag, op. cit. h.88

[19] Ibid. h. 89

[20] Ibid.

[21] Ibid. h. 90

[22] Ibid.

[23]Ibid.

[24] Acep aripudin, M.Ag dan H. Syukriadi Sambas, Dakwah Damai, (Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2007) h . 107

[25] Lihat, (Q.S. Al-‘asr : 1-3)

 

my hero

UMAR BIN ABDUL ‘AZIZ

By : Muh Faruq Al-mundzir

    In my mind, every people have a hero or heroes, and usually we will follow our hero’s attitude and his style. I have hero too. His name is umar bin abdul aziz, i thought you knew him. He is one of nineteen caliphsdynasty umayyah descendants.so let me tell about him deeply.

He was born on 63 H or 682 M in mesir [but some historian said in madinah] and he was educated by ibnu umar in madinah. His father’s name is abdul aziz bin marwan, governor of mesir and his mother is ummu asim laila binti asim, as we knew, she was known as umar bin khattab’s grandchild. So umar bin abdul aziz is umar bin khattab great grandchild. He is included abdussyam descendants. When he was mature, abdulmalik bin marwancalled him and he merried off umar bin abdul aziz with his daugher, fatimah bin abdul malik. From this marriage, they get a boy and was given name abdul malik bin umar. He lived in two calips era namely al-walid I and sulaiman bin abdulmalik, his cousin.

When al-walid I died, he was changed by sulaiman bin abdul malik. While that, umar and sulaiman are friendship. So sulaiman knew many thing about umar, like his wisdom, kindness and godly.

Time by time passed, and sulaiman got serious sick and his conselor, raja’ bin haiwah asked him about next caliph or his heir. Apperenly, sulaiman didn’s chose from his near family or minister, he precisely showed umar to be his changer. So, raja’ asked him to write his tastement and ask his minister and guvernor to oath name in his testament.

After jum’at prayer, moslems waited and embittered about next caliph. When that, raja’ bin haiwah stood up and said“woke up hi umar bin abdul aziz, cause you were chosen by sulaiman bin abdul malik as caliph after him.”. then, umar stood up and said “hi all of moslems, actually this function was given to me without conference and discussion with me before, i also never ask it. So, i rescind your oath to me ang please choose who want you choose.”. But moslems consist to chose him.

So, on 717 M, he was installed as caliph of moslems. During as caliph, althougt just 2 years 5 month 5 day, he lead wisely and his goverment succes to make prosperous his society’s life. Historians also wrote that, during his era, he led like khulafaurrasyidin’s leading, like his regulations as same as khulafaurrasyidin regulations, and also, when that, nobody moslems has the right to received tithe.Even, the wolves was reluctant to prey on the livestock like goat or sheep. There are the reason why some historian included as umar II and the 5th khulafaurrasyidin.

There are some of his policy :

  • Give the guarantee for his citizen saving ang leaved his prodecesses which their policy were focus for enlarge territorial
  • Try to have netral attitude, and above of group, race, and ethnic
  • Cleared his goverment from dictator and corrupted official and canged them
  • Justice about right and obligation
  • Apply regulation about land tax for moslem and non-moslem
  • Remove and forbad all of big celebrated, cause useless and extravagant
  • Built the roads and lodgings for traveler
  • Channeled the tithe for finance marriagings and private depts

When 720 M, he die, some historians said that he was die cause poisoned by his waiter. And was tombed ondamaskus.