ringkasan buku komunikasi

 

  1. DEFINISI KOMUNIKASI
  • Tiga konseptualisasi komunikasi
  1. Komunikasi sebagai tindakan satu-arah

“komunikasi: transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan symbol-simbol—kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi” [Bernard berelson dan gary A. steiner]

“komunikasi adalah transmisi informasi dengan tujuan mempengaruhi khalayak.” [mary B cassata dan molefi K. asante]

  1. Komunikasi sebagai interaksi

Komunikasi sebagai interaksi dipandang sedikit lebih dinamis daripada komunikasi sebagai tindakan satu arah. Namun pandangan kedua ini masih membedakan para peserta sebagai pengirim dan penerima pesan, karena itu masih berorienatasi sumber, meskipun kedua peran tersebut dianggap bergantian. Jadi, pada dasarnya, proses interaksi yang berlangsung juga masih bersifat mekanis dan statis.

  1. Komunikasi sebagai transaksi

“komunikasi adalah usaha untuk memperoleh makna” [ john R. wenburg dan William W. Wilmot ]

“komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai transaksi transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan” [ William I. gorden ]

  1. FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI
  2. Fungsi komunikasi social

. pembentukan konsep-diri

. pernyataan eksistensi-diri

. untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh kebahagiaan

  1. Fungsi komunikasi ekspresif
  2. Fungsi komunikasi ritual
  3. Fungsi komunikasi instrumental
  4. KONTEKS-KONTEKS KOMUNIKASI
  5. Komunikasi intrapribadi
  6. Komunikasi antarpribadi
  7. Komunokasi kelompok
  8. Komunikasi publik
  9. Komunikasi organisasi
  10. Komunikasi massa
  11. PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI
  12. Komunikasi adalah proses simbolik

Manusia sebagai animal symbolicumberarti makhluk yang membutuhkan symbol-simbol sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi. Sehingga banyak manusia yang memberi makna terhadap symbol-simbol atau lambang, tergantung pada kultur atau kepercayaan suatu masyarakat. Seperti penggunaan angka-angka untuk alamat tinggal hingga mitos yang memakai lambang angka.

  1. Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi

Manusia sebagai makhluk social “tidak dapat tidak berkomunikasi”. Hal itu karena, setiap perilaku manusia bisa ditafsirkan oleh orang lain, seperti ketika ia terlihat cemberut, maka orang akan menafsirkannya sebagai sikap orang yang sedang ngambek. Bahkan jika kita diam sekalipun, orang lain juga bisa menafsirkan berbeda-beda, seperti kita sedang malu, segan, ragu, tidak peduli dan masih banyak tafsiran lain yang orang lain pikirkan tentang sikap kita.

  1. Komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan

Dimensi isi disandi secara verbal, sedangkan dimensi hubungan disandi dengan non-verbal. Dimensi isi menunjukkan apa yang dikatakan, sedangkan dimensi hubungan menujukkan cara mengatakan. Contohnya, seorang gadis mengatakan “ih, kamu jahat” kepada teman prianya dengan nada menggoda, sebenarnya tidak bermaksudkan jahat yang sebenarnya, melainkan bermaksudkan tafsiran lain.

  1. Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan

Dalam komunikasi sehari-hari, terkadang kita mengucapkan pesan verbal yang tidak kita sengaja [ tak direncanakan atau refleksitas]. Namun lebih banyak lagi pesan non-verbal yang kita tunjukkan tanpa sengaja. Hal ini karena kita tidak dapat mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita. Sebagai contoh, perilaku seperti postur tubuh yang tegap, cara berjalan yang mantap ketika menuju podium, kontak mata, dan pakaian yang rapi, boleh jadi mengomunikasikan suatu pesan, misalnya percaya diri.

  1. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu

Makna sebuah pesan juga bergantung pada konteks fisik, ruang, [termasuk iklim, suhu, cuaca, intensitas cahaya dan sebagainya], waktu, social dan psikologis. Seperti misalnya, tertawa terbahak-bahak, bersenda gurau, memakai pakaian berwarna menyala sebagai suatu perilaku non-verbal yang biasa ketika menghadiri suatu pesta pernikahan, namun dianggap kurang sopan jika dilakukan ketika menghadiri acara pemakaman.

  1. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi

Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka juga meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan dan tatakrama yang diberlakukan di suatu tempat, tergantung adat dan kebiasaan masyarakat di tempat tersebut. Kita dapat memprediksi perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya. Dalam masyarakat kita, Anda tidak dapat menyapa dosen anda dengan kata “hai” “kamu” atau “loe” kecuali jika anda siap dianggap kurang ajar oleh orang lain.

  1. Komunikasi bersifat sistemik

Prinsip ini juga sebenarnya berkaitan erat dengan prinsip nomor 5. Setiap individu adalah suatu system yang hidup. Organ tubuh kita saling berhubungan, kerusakan pada mata dapat membuat kepala pusing.

Setidaknya dua system dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi :system internal dan system eksternal. System internal adalah seluruh system nilai yang dibawa oleh individu ketika berkomunikasi, yang ia serap selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan sosialnya. Istilah-istilah lain yang identic dengannya seperti : kerangka rujukan, bidang pengalaman, struktur kognitif, pola pikir, keadaan internal, atau sikap.

Sedangkan system eksternal meliputi unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu, termasuk kata-kata yang ia pilih, isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan di sekitarnya, penataan ruang, cahaya, dan temperatur ruangan. Namun setiap orang mempunyai system eksternal yang berbeda, maka setiap orang tidak memiliki perseptual yang sama, walaupun mereka duduk di ruang yang sama, di kursiyang sama, dan dalam situasi yang sama.

  1. Semakin mirip latar belakang social-budaya semakin efektiflah komunikasi

Semakin banyak hal yang sama antar individu yang berkumunikasi, maka semakin efektif komunikasi tersebut karena komunikasi yang mereka bangun di antara mereka terasa nyambung antara satu dan lainnya, sebagai akibat kemiripan latar belakang orang yang berkomunikasi. Namun, seorang lulusan perguruan tinggi bias saja menikah dengan lulusan SD, akan tetapi, butuh upaya keras untuk menyesuakan diri satu sama lain.

  1. Komunikasi bersifat nonsekuensial

Menurut prinsip ini, komunikasi dalam bentuk dasarnya [tatap muka], sebenarnya tidak cuma linear [ satu arah], namun sirkuler [dua arah]. Hal ini seperti dikemukakan frank dance, Kincaid, dan schramm yang mereka sebut sebagai model komunikasi antarmanusia yang memusat.

Komunikasi sirkuler ditandai dengan beberapa hal, antara lain :

  1. Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara, misalnya komunikator A dan B, bukan pengirim [sender], penerima [receiver], sumber , dan sasaran [destination]. Artinya mereka mengirim dan menerima pesan secara bersamaan.
  2. Prosesnya berjalan dua-arah, sehingga modelnya tidak ditandai dengan satu garis lurusbersifat linear
  3. Dalam praktiknya, kita tidak membedakan pesan dengan umpan balik. Karena pesan kom A sekaligus umpan balik bagi kom B.
  4. Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh lebih rumit, Karena komunikasi antara dua orang juga secara simultan melibatkan diri sendiri [berfikir] sebagai mekanisme untuk menanggapi orang lain.
  5. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional

Seperti waktu dan eksistensi, komunikasi tidak mempunyai awal dan juga akhir, akan tetapi terus berproses. Seperti kata Heraclitus enam abad sebelum masehi bahwa “seorang manusia tidak akan menyeberangi sungai dua kali”. Karena ketika kita melakukan yang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya , maka sesungguhnya hal itu bukanlah fenomena yang sama. Kita, juga sungainya telah berubah.

  1. Komunikasi bersifat irreversible

Suatu perilaku adalah suatu peristiwa. Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Atau setiap peristiwa akan mempunyai implikasi yang abadi [tak terlupakan]. Bila anda memukul seseorang hingga terluka fisik, maka peristiwa dan konsekuensinya telah “terjadi”. Kita tak dapat mengulang waktu dan menghapus peristiwa tersebut. Walaupun kita meminta maaf, hal itu hanyalah perilaku tambahan dari perilaku yang telah “terjadi”. Seperti ungkapan orag inggris “to forgive but not to forget”.

  1. Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah

Banyak persoalan dan konflik yang disebabkan oleh komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea [obat mujarab] untuk menyelesaikan persoalan dan konflik tersebut. karena mungkin masalah tersebut mungkin berkaitan dengan masalah structural. Maka agar komunkasi menjadi efektif, masalah structural juga perlu diatasi. Misalnya, pemerintah akan kesulitan menjalin komunikasi efektifdengan rakyat, jika pada saat bersamaan pemerintah memberlakukan rakyat dengan tidak adil.

  1. MODEL-MODEL KOMUNIKASI

Untuk lebih memahami fenomena komunikasi, maka kita harus menggunakan model-model komunikasi. Model adalah reprentasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Model, jelas bukan fenomena itu sendiri, tetapi, peminat komunikasi termasuk mahasiswa sering mencampuradukkan keduanya. Kita dapat menggunakan kata-kata, angka, symbol, dan gambar untuk melukiskan model suatu objek, teori atau proses. Dalam geometri misalnya, kita menerima teorema Pythagoras yang dimodelkan seperti segitiga siku-siku.

  • Fungsi dan manfaat model

Menurut deutsch, model memiliki empat fungsi, yaitu :

  1. Mengorganisasikan [kemiripan data dan hubungan] yang tadinya tidak teramati
  2. Heuristik atau menunjukkan fakta-fakta dan metode baru yang tidak diketahui
  3. Prediktif, memungkinkan peramalan dari sekadar tipe ya atau tidak hingga yang kuantitatif yang berkenaan dengan kapan dan berapa banyak
  4. Pengukuran, mengukur fenomena yang diukur

Manfaat model menurut Raymond S. ross “model memberi anda penglihatan yang lain, berbeda, dan lebih dekat. Model menyediakan kerangka rujukan, menyarankan kesenjangan informasional, menyoroti problem abstraksi dan menyatakan suatu problem dalam bahasa simbolik bila terdapat peluang untuk menggunakan gambar atau symbol.”

  • Tipologi model

Kita dapat menggolongkan model dengan berbagai cara. Gerhard J. hanneman dan William J. McEwen menggambarkantaksonomi model yang mudah dipahami, dalam suatu grafik yang melukiskan derajat abstraksi yang berlainan.

 

 

Semua model

 

Model fisik

 

Model simbolik
Model ikonik
Model matematik
Model analog

 

 

 

 

 

 

Model verbal
Model mental

 

 

 

 

  • GAMBAR :dari kiri ke kanan, tampak bahwa derajat abstraksi model tersebut menurun. Model mental merepresentasikan proses mental internal, yang tampaknya tidak begitu relevan bagi kita. Model yang mungkin lebih penting adalah model simbolik yang terdiri dari model matematik [ contoh : E=mc2] dan model verbal, lalu model fisik yang terdiri dari model ikonok dan model analog.
  • Model-model komunikasi {suatu perkenalan}

Seperti model pesawat, model komunikasi kurang lebih adalah replika—kebanyakan sebagai model  diagramatik—dari dunia nyata. Oleh karena komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi sulit dimodelkan. Namun penngunaan model dianggap berguna untuk mengidentifikasi unsur-unsur komunikasi dan bagaimana unsur-unsur tersebur berhubungan.

Hingga saat ini, ratusan model komunikasi telah di buat oleh para pakar. Setiap model memiliki kekhasan tersendiri dikarenakan latar belakang keilmuan pembuatnya, paradigm yang digunakan, kondisi teknologis, dan semangat zaman yang melingkunginya. Diantara model-model tersebut ialah :

  1. Model S – R

S menyimbolkan stimulus, sedangkan R berarti respons.

Stumulus ßà respons

Model ini menunjukkan komunikasi sebagai proses aksi — reaksi yang sangat sederhana.

Pola S – R ini ada yang positif dan juga negatif.

  1. Model aristoteles

Model ini adalah model yang paling klasik, yang sering juga disebut model retoris [rhetorical model]. Filosof yunani, aristoteles adalah tokoh yang paling awal mengkaji komunikasi, yang intinya adalah persuasi. Tepatnya, ia mengemukakan tiga unsur dasar proses komunikasi, yaitu pembicara [speaker], pesan [massage], dan pendengar [listener].

Focus komunikasi ini adalah komunikasi retoris, atau lebih dikenal dengan komunikasi public [public speaking] atau pidato.

  1. Model lasswell

Model ini ia kemukakan pada tahun 1948 yang menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya dalam masyarakat. Modelnya ialah ungkapan verbal :

Who.?

Says what.?

In which channel.?

To whom.?

With that effect.?

Model ini sering diterapkan dalam komunikasi massa. Ia mengisyaratkan bahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Walaupun begitu, model ini dikritik karena tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga dianggap terlalu menyederhanakan masalah.

# SEKIAN DAN TERIMA KASIH #

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s