urgensi dakwah di tengah arus westernisasi

    1. Latar belakang masalah

    Dakwah memerankan peran vital dalam agama islam sebagai agama yang universal. Tanpa adanya dakwah, maka tersebarnya agama islam ke seluruh dunia adalah hal yang tak mungkin. Dakwah bisa berupa perkataan dan juga perbuatan. Dalam perjalanannya di setiap zaman, dakwah terus menghadapi hambatan-hambatan serius.

    Pada masa awal islam, yakni di zaman Nabi Muhammad SAW, dakwah mendapat hambatan dari kafir qurays. Lalu setelah berkembangnya islam, dakwah terhambat oleh para kaisar dan raja-raja, seperti kaisar Persia dan kaisar bizantium. Namun itu semua berhasi dilalui hingga islam Berjaya dan menguasai hampir sepertiga dunia sekaligus membangun peradaban unggul pada masa itu.

    Seiring berjalannya waktu, peradaban islam mengalami kemerosotan hingga akhirnya tergantikan oleh peradaban lain, yaitu peradaban barat. Seperti kebiasaan pada umumnya, sesuatu yang lebih kuat akan berusaha menguasai yang lemah dengan segala cara. Begitupun yang di lakukan barat terhadap islam. Mereka berusaha menghapus ajaran dan konsep-konsep islam dengan ajaran dan konsep-konsep mereka dengan alasan untuk memajukan dunia. Cara mereka di kenal dengan sebutan westernisasi dan beberapa istilah lain, seperti modernisasi dan globalisasi yang sebenarnya bertujuan sama, yakni menjauhkan manusia dari baying-bayang agama dan mengbuang tuhan.

    Westernisasi pada awalnya disebarkan dengan kolonisasi atau penjajahan pada sekitar abad 17 hingga 19 M. setelah sekian lama menguasai timur, barat akhirnya kembali ke tanah aslinya, namun mereka meninggalkan hal-hal yang merusak di timur, seperti pemahaman sesat, gaya hidup materialistic dan glamour dan konsep-konsep beragama dan bernegara. Tidak hanya itu, seiring berkembangnya IPTEK, mereka memanfaatkannya untuk menyebarkan westernisme ke segala penjuru dunia. Umat islam yang imannya tak kuat akhirnya menjadi korbannya.

    Maka dari itulah, diperlukan cara efektif guna menghindarkan kaum muslimin dari bahaya tersebut. Cara itu tak lain adalah dengan dakwah, namun harus dengan strategi yang tepat, sehingga lebih efisiaen dan efektif. Di era globalisasi ini, sangat banyak cara yang bisa digunakan untuk berdakwah, di antaranya ialah dengan memanfaatkan IPTEK yang mutakhir.

    1. Rumusan masalah

    Apa sebenarnya yang diinginkan oleh barat dengan westernisasi dan apa dampaknya.?

    Apa yang mestinya dilakukan oleh kaum muslimin untuk menghadapi kuatnya arus westernisasi.?

    Seberapa vitalkah peran dakwah dalam menghadapi westernisasi dan bagaimana memanfaatkannya.?

    1. Westernisasi

  1. DEFINISI DAN SEJARAH WESTERNISASI

Westernisasi secara bahasa berasal dari kata “western” yang berarti “barat”. Sedangkan menurut istilah ialah “sebuah proses di mana masyarakat berada di bawah-atas mengadopsi budaya barat dalam berbagai bidang, seperti industry, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, gaya makan, pakaian, bahasa, alphabet, agama, filsafat dll.” [1] dari pengertian di atas, kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa westernisasi ialah suatu proses “pembaratan” nilai-nilai dari agama atau di masyarakat, sehingga nilai-nilai tersebut berganti menjadi nilai-nilai yang lahir dari barat sebagai suatu peradaban.

Westernisasi tidak mengenal ruang dan waktu, iasengaja disebarkan kesegala penjuru dunia dengan tujuan agar masyarakat global menerima ide dan nilai-nilai yang dibawa olehnya. Eropa, sebagai tempat lahirnya peradaban barat menghendaki agar seluruh dunia mengadopsi nilai-nilai yang menjadi bangunan peradaban yang mereka bangun, yang menurut mereka, nilai-nilai itu akan menjadi sesuatu yang akan melepaskan dunia dari kegelapan dan kungkungan agama. Namun, benarkah pendapat mereka tentang agama sebagai sesuatu yang mengungkung.? Bagaimana mereka bisa berpendapat seperti itu.?

Peradaban barat sesungguhnya lahir dari rasa frustasi terhadap agama Kristen (gereja) yang semena-mena. Dalam sejarah barat, khususnya abad pertengahan, di mana pada saat itu islam sedang jaya-jayanya dengan keilmuan dan peradabannya yang agung, barat (baca : eropa) justru terpuruk karena agama. Pada saat itu, ilmuan-ilmuan barat di kungkung oleh otoritas gereja. Mereka tak diberi kebebasan untuk bereksperimen. Salah satu korban dari abad ini yang terkenal ialah galileo galilei, ia berpendapat bahwa bumilah yang mengililingi matahari, namun gereja berkeyakinan sebaliknya. Akibatnya galileo di hokum mati. Karena para ilmuan dibatasi gerak-geriknya, maka barat sangat tertinggal dalam bidang keilmuan.

Namun, para ilmuan tidak menyerah, mereka terus menentang aturan-aturan gereja. Maka lahirlah paham-paham untuk melepaskan diri dari gereja. Di awali oleh Rene Descartes di abad ke-17  dengan paham rasionalismenya yang menuhankan akal (rasio). Mereka berpendapat, bahwa segala sesuatu yang tak masuk akal adalah kebohongan. Lalu diikuti oleh pemahaman-pehaman lainnya yang bertentangan dengan gereja. masyarakat barat akhirnya bebas dari aturan gereja dan berkembang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai oleh peristiwa renaissance. Kristen sebagai agama mayoritas orang eropa dalam hal ini telah berhasil menjadikorban pertama yang diwesternisasikan oleh para ilmuan yang ateis. Bahkan pemindahan pusat asalnya dari yerussalem ke romawi menjadi awal westernisasi Kristen.[2] Setelah Kristen berhasil diwesternisasi, agama lainnya menjadi target selanjutnya.

Pada awalnya, westernisasi di sebarkan melalui kolonialisme atau penjajahan ke negeri-negeri yang lebih lemah, seperti negeri-negeri kaum muslim. Contohnya penjajahan bangsa Indonesia oleh portugis, belanda, dan inggris di abad 17 hingga abad 19. Namun dengan perebutan tanah kekuasaan pada perang dunia kedua, yang melemahkan posisi barat di timur, mereka mengubah penjajahannya dengan pemanfaatan IPTEK. Mereka tak perlu mendiami tanah kaum muslimin untuk menyebarkan westernisme, mereka hanya perlu mengendalikan media berteknologi tinggi untuk westernisasi.[3]

  1. ANTARA WESTERNISASI, MODERNISASI DAN GLOBALISASI

Di kalangan masyarakat, terjadi suatu kesalahan persepsi antara modernisasi, globalisasi dan westernisasi. Masyarakat cenderung menyamakan antara modernisasi, globalisasi dan westernisasi karena ketiganya memang mempunyai makna dan gaya yang hampir sama. Padahal, ketiganya berbeda. Walaupun begitu, antara satu dan lainnya saling berhubungan. Westernisasi seringkali menggunakan kedok modernisasi untuk memuluskan langkahnya.

a). Modernisasi

Modernisasi menawarkan pembaruan secara total di segala lini kehidupan yang dianggab tradisional. Modernisasi berasala dari kata “modo” yang berarti cara, dan “ernus” yang berarti periode waktu masa kini. Para pakar mendefinisikan modernisasi sebagai suatu transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek (J.W. school) atau suatu tranformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi social ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri Negara barat yang stabil (Wilbert E. Moore).[4]

Westernisasi adalah mutlak dari budaya barat, sedangkan modernisasi belum tentu dari barat. Karena teknologi, ilmu pengetahuan dll tidak semuanya berasal dari barat. Modernisasi bisa berarti mengubah cara berfikir dari tradisional dan irrasioanal[5] menjadi cara berfikir yang rasioanal, efisien dan praktis.[6]Jadi modernisasi memiliki jangkauan lebih luas disbanding westernisasi.

Yang perlu digaris-bawahi adalah, seringkali para musuh islam menyebarkan paham-paham sesat dengan alasan modern dan menyatakan bahwa konsep yang di gunakan oleh masyarakat timur  (baca : islam) sebagai konsep yang telah usang dan harus diganti agar bisa maju seperti mereka. Padahal mereka sejatinya ingin menghancurkan agama seperti hancurnya agama Kristen.

b). globalisasi

Globalisasi dimaknai sebagai suatu proses penyebaran unsur-unsur baru (modern), baik itu berupa informasi, pemikiran, gaya hidup maupun teknologi secara mendunia.[7]Ia lebih kepada proses penyebaran nilai-nilai yang kebarat-baratan (westernisme) dan yang baru (modern).

Ketika disebuah Negara terjadi sesuatu, baik berupa ilmu pengetahuan atau teknologi,pun dengan informasi lainnya, maka dengan sekejap, hal itu akan diketahui di Negara lain, sebagai efek dari globalisasi. Adapun perbedaannya dengan westernisasi, bahwa globalisasi bisa bermakna peningkatan kesaling ketergantungan antar Negara di dunia, tidak ada satupun Negara yang bisa hidup sendiri tanpa adanya Negara lain. Sedangkan westernisasi berada pada proses identifikasi dan imitasi budaya barat.[8]

Dengan globalisasi, orang-orang di timur bisa mengetahui apa yang terjadi di barat dan sebaliknya. Dari sinilah disebarkan ide-ide yang bertentangan dengan agama ataupun masyarakat dengan alasan modern. Dengan artian bahwa jarak tidak lagi menjadi sekat pemisah antar Negara.

Di antara alat-alat yang biasa di gunakan oleh globalisasi ialah televise, media social seperti facebook, twitter, instagram dan lainnya. Masyarakat yang belum paham dan lemah iman seringkali menjadi korban globalisasi, dengan mengikuti dan mengadopsi gaya hidup, pemikiran, politik, gaya berpakaian, dan lainnya yang cenderung materialistik.

  1. MANFAAT DAN BAHAYA WESTERNISASI

Hadirnya nilai-nilai barat di dunia timur ksususnya islam memunculkan banyak masalah. Mulai Dari pemikiran dan pemahaman yang salah lagi sesat terhadap tuhan, kehidupan, norma, dan nilai-nilai, yang telah di konsep oleh islam dengan sempurna. Namun demikian, sebenarnya westernisasi bukan tidak membawa manfaat sama sekali, tetapi bisa di bilang kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih banyak dari manfaatnya.

a). Manfaat westernisasi

Hal yang paling ditonjolkan peradaban barat ialah ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak peristiwa renaissance di prancis, ilmu pengetahuan dan teknologi dibarat berkembang pesat, berbanding terbalik dengan barat di abad pertengahan yang sangat tertinggal dalam bidang IPTEK. Dengan penguasaan IPTEK dalam bidang militer seperti membuat senjata, pesawat tempur, tank, dan alat perang lain, mereka berhasil mengusai (menjajah) dunia, khususnya timur. Setelah era itu (era kolonialisme), barat kemudian mengembangkan IPTEK di bidang lain seperti komunikasi dengan HP, internet dll. Kemudian di bidang militer, dibidang ekonomi, bidang politik, bidang pendidikan dan bidang lain yang memudahkan manusia dalam beraktivitas.

Diakui atau tidak, IPTEK yang dikembangkan barat sedikit-banyak memiliki peranan penting dalam kehidupan di zaman ini. Sehingga memanfaatkan IPTEK untuk kemajuan dan kemaslahatan adalah penting.

b). Bahaya westernisasi

Para ilmuan barat (penganut Kristen) pada umumnya tidak menyangkal bahwa masalah mereka yang paling serius adalah permasalahan tentang tuhan[9]. Seperti yang telah disinggung sebelumya tentang bangunan peradaban barat yang anti-tuhan, maka untuk diadopsi secara total oleh masyarakat muslim adalah hal yang tak mungkin, hal ini karena untuk menerapkan budaya barat, maka hal pertama yang harus dilakukan ialah membuang tuhan dan agama yang telah mengatur norma-norma dalam hidup.

Westernisasi menghendaki agar seluruh dunia membuang tuhan Karena dianggap sebagai “dinding” yang menghalangi kemajuan dunia dan menggantinya dengan konsep yang mereka buat. Banyaknya paham-paham sesat seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme, komunisme, rasionalisme, materialisme dan teman-temannya yang melanda negeri-negeri muslim hanyalah salah satu contoh bahaya yang mengintai kaum muslimin.

Diantara westernisasi yang paling berbahaya selain westernisasi pemahaman ialah westernisasi budaya atau gaya hidup. Seperti yang mulai muncul di Negara-negara muslim, dimana para pemuda dan pemudi sangat gemar menkonsumsi makanan dan minuman dari barat, seperti coca-cola, pepsi, hamburger, mcdonal dan sejenisnya. Selain makanan, music, pakaian super mini, rokok juga menjadi tren di masyarakat timur. Para pemudi tak segan-segan memperlihatkan auratnya di jalan-jalan umum, di mall, di pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Para pemudi malu menggunakan kopiah, baju muslim, dan identitas muslim lainnya dan lebih suka dengan celana jeans yang ketat atau celana botol hingga rambur yang bergaya barat. Bahkan gaya-gaya tersebut telah biasa dan dianggap gaul atau gaya anak modern, yang sebenarnya akibat dari westernisasi.[10]

Dari fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa dampak negative dari westernisasi sangat berbahaya bagi muslim bahkan bagi agama lainnya. Westernisasi hingga saat ini setidaknya sudah sangat meresahkan dan telah berhasil menjauhkan muslim dari ajaran agama dan sedikit demi sedikit menghancurkan agama islam.

  1. SIKAP KAUM MUSLIMIN TERHADAP WESTERNISASI

 

Dalam menyikapi westernisasi, kaum muslimin terpecah menjadi beberapa golongan yaitu :

a). Yang berlebihan; yakni mereka yang menerima secara mutlak. Orang seperti inilah yang disebutkan nabi dalam haditsnyabahwa mereka akan mengikuti cara-cara dan ajaran umat lain sejengkal demi sejengkal sehingga apabila umat lain masuk ke dalam lubang biawak, mereka akan mengikutinya.

Inilah sikap para penyeru westernisasi yang berlebihan di dunia islam.

b). Yang menolak sama sekali. Kelompok ini adalah lawan kelompok pertama. Mereka sangat menjauhi setiap hal-hal yang baru dan tidak peduli terhadap dunia pemikiran, ekonomi, politik dan sejenisnya. Mereka ber’uzlah dan menyingkir.

Inilah sikap mereka yang takut bertemu orang lain, yang kuat memegang teguh yang lama dan tak mau menerima hal baru.

c). Yang pertengahan. Mereka tak menerima secara bulat tapi juga tak menolak total. Inilah sikap yang baik sebagai cermin, sebagai manhaj islam yang pertengahan. Inilah golongan orang beriman yang berwawasan luas dan terbuka, yang bangga dengan identitasnya, yang paham tentang risalahnya, dan memegang taguh orisinilitasnya.[11]

Sebagai seorang muslim, kita tak,perlu lari menjauhi westernisasi, karena kita tak akan bisa menjauhi ataupun menolaknya di zaman yang serba canggih ini. Seluruh dunia bahkan telah terkontaminasi oleh virus westernisasi ini.

Hal yang perlu kita lakukan adalah mengokohkan aqidah dan iman kita kepada Allah SWT, agar tidak gampang terpengaruh oleh westernisasi. Kemudian memilih dan memilah apa yang dibawa oleh westernisasi untuk mengambil manfaat dan membuang mudharatnya. Bagaimanapun juga, kita mesti menghadapinya dengan ilmu dan wawasan luas dengan memanfaatkan IPTEK yang tak menyalahi syariat islam. Hal ini lebih efektif  ketimbang tetap berdiam diri dan acuh terhadap perkembangan dunia modern. Setidaknya dengan mengetahui dan memahami seluk-beluk IPTEK, kta lebih paham tentang westernisasi dan kelemahanna kemudia melawan balik demi kebangkitan islam yang memiliki konsep yang lebih sempurna dari konsep barat, karena memang berasal dari yang maha sempurna, maha tahu ata segala sesuatu.

 

 

 

  1. Dakwah

 

  1. DEFINISI DAKWAH

Secara bahasa (etimologi) kata dakwah berasal dari kata “da’a-yad’u” yang berarti memanggil atau menyeru, undangan atau do’a. menurut abdul aziz, secara etimologis kata dakwah berarti : (1) memanggil; (2) menyeru; (3) menegaskan atau membela sesuatu; (4) perbuatan atau perkataan untuk menarik manusia kepada sesuatu; dan (5)memohon atau meminta, atau do’a.[12]artinya, proses penyampaian pesan-pesan tertentu berupa ajakan, seruan, undangan, untuk mengikuti pesan tersebut atau menyeru dengan tujuan untuk mendorong seseorang untuk melakukan cita-cita tertentu.[13]

Sedangakan Secara istilah (terminologi), di antaranya dapat diambil dari al-qur’an surah an-nahl ayat 125 yang artinya; serulah (manusia) kepada jalan tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An-nahl : 125).[14]

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa dakwah ialah mengajak manusia kepada jalan Allah SWT (system islam) secara menyeluruh; baik secara lisan, tulisan maupun perbuatan sebagai ikhtiar (upaya) muslim mewujudkan nilai-nilai ajaran islam dalam realitas kehidupan pribadi (syahsiyah), keluarga (usrah) dan masyarakat (jama’ah) dalam semua segi kehidupan secara menyeluruh sehingga terwujud khairu ummah (masyarakat madani).[15]

Dakwak telah ada semenjak manusia hadir di muka bumi. Mulai zaman nabi adam AS dan nabi-nabi selanjutnya hingga nabi Muhammad SAW, dakwah telah dikenal dan diimplementasikan dalam menyampaikan kebenaran dari Allah. Namun setiap periode memiliki ciri khas tersendiri sehingga gaya dakwahnya pun berbeda.

Di zaman ini, zaman modern, dakwah mendapat rintangan dan halangan yang besar dari dunia barat dengan pemahaman-pemahaman sesatnya dan budaya-budaya yang merusak. Sehingga metode dan strategi dakwah harus disesuaikan dengan ciri dan gaya pada zaman ini. Bisa dengan cara memanfaatkan perkembangan IPTEK dan lainnya.

  1. METODE DAKWAH

Pembentukan sebuah masyarakat baru yang islami tidak terjadi begitu saja. Akan tetapi diperlukan sebuah tahapan yang didasari dengan perencanaan matang yang secara tak langsung menggunakan kaidah yang yang terdapat dalam manajemen dakwah.[16] Seperti sudah disinggung sebelumnya, bahwa perubahan yang diajarkan oleh Al-qur’an memiliki dua tahap, yaitu: pertama, tahap perubahan pemikiran, pemahaman, akidah dan akhlaq, kedua, tahap perubahan kondisi social dan masyarakat.[17]

Untuk melakukan dakwah, seorang da’i tidak boleh asal-asalan, ia harus menggunakan metode yang tepat demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Di antara metode dakwah menurut al-qur’an ialah :

a). bi al-hikmah

metode ini didasarkan pada surat an-nahl ayat 125 yang berbunyi “serulah (manusia) kepada jalan tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An-nahl : 125).

Kata al-hikmah diartikan sebagai al-adl (keadilan), al-hilm (kesabaran dan ketabahan), al-nubuwah (kenabian), al-ilm (ilmu pengetahuan), al-qur’an, falsafah, kebijakan, pemikiran atau pendapat yang baik, al-haqq (kebenaran), meletakkan sesuatu pada tempatnya, kebenaran sesuatu, mengetahui sesuatu, dan yang paling utama dengan ilmu yang paling utama.[18]

Menurut Sayyid Qutb (1997: 22), dakwah dengan metode hikamah akan terwujud apabilamemperhatikan 3 faktor. Yaitu; (1), keadaan dan situasi orang-orang yang didakwahi (mad’u), (2), kadar atau ukuran materi dakwah yang disampaikan agar mereka tidak keberatan dengan beban materi tersebut, dan (3), metode penyaimpain materi dakwah dengan membuat variasi sedemikian rupa yang sesuai dengan kondisi pada saat itu.[19]

b). Al-mauidzah al-hasanah

Di antara pengertian metode ini ialah;

  • Pelajaran dan nasihat yang baik, berpaling dari perbuatan jelek melalui tarhib (dorongan) dan targhib (motivasi); penjelasan, keterangan, gaya bahasa, peringatan, penuturan, contoh teladan, pengarahan, dan pencegahan dengan cara halus.[20]
  • Suatu ungkapan dengan penuh kasih saying yang terpatri dalam kalbu, penuh kelembutan sehingga terkesan dalam jiwa, tidak melalui pelarangan dan pencegahan, sikap mengejek, melecehkan, menyudutkan atau menyalahkan, meluluhkan hati yang keras, dan menjinakkan kalbu yang liar.[21]
  • Kelembutan hati menyentu jiwa dan memperbaiki peningkatan amal.[22]

Prinsip-prinsip metode ini lebih diarahkan kepada mad’u yang tergolong berintelek dan berwawasan rendah atau kelompok awam. Sehingga da’I berperan sebagai pembimbing, teman dekatyang setia, yang memberikannya segala hal yang bermanfaat serta membahagiakan mad’unya.

c). Al-mujadalah al-ahsan

Metode ini merupakan upaya dakwah melalui bantahan, diskusi, atau berdebat dengan cara yang baik, tidak arogan, sopan santun, dan saling menghargai. Dalam pandangan Muhammad Husain yusuf, cara ini diperuntukkan bagi mad’u yang hatinya dikungkung secara kuat oleh tradisi jahiliah, yang dengan sombong dan angkuh melakukan kebatilan, serta mengambil posisi arogan dalan menghadapi dakwah islamiah.[23]

Metode ini menuntut seorang da’i agar memiliki wawasan yang luas dan cakap dalam berargumentasi. Selain itu, seorang da’i (khususnya da’i zaman modern) yang menerapkan metode ini harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan masalah-masalah kontemporer, juga mampu memberi bukti ilmiah yang dapat di cerna akal manusia tentang konsep-konsep islam. Karena, bagi mad’u semacam ini, keindahan bahasa al-qur’an tak berarti apa-apa. Namun haru dingat bahwa, dalam menyampaikan kebenaran harus dengan cara yang baik dan menghargai status mad’u.

Di antara tokoh-tokoh muslim kontemporer yang sering menggunakan metode ini adalah Dr. zakir naik, ahmad deedat, yusuf qardhawi dan lainnya.

  1. TUJUAN DAKWAH

Secara umum, aktivitas dakwah bertujuan menyebarkan ajaran al-qur’an dan hadits yang di bawa oleh Rasulullah SAW.[24]Sehingga tercapai suatu masyarakat yang beriman,  bertaqwa dan hidup sesuai syariat yang telah ditetapkan oleh pemilik dunia dan seisinya.

Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT dengan tujuan untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya dan bersifat universal telah memiliki konsep sempurna dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini yang sesuai dengan fitrah manusia. Maka ia harus diserukan dan disebarkan kepada seluruh umat manusia, cara menyebarkan agama itulah yang disebut sebagai dakwah.

Namun, aktivitas dakwah bukan hanya berlaku bagi sebagian muslim atau hanya berlaku bagi ustadz, kyai atau pemuka agama. Tetapi Allah mewajibkannya bagi setiap muslim. Seorang muslim harus menyeru atau berdakwah kepada manusia sesuai dengan kapasitas yang ia miliki. “sampaikanlah dariku walau satu ayat” itulah petikan sabda Nabi SAW yang berasal dari Allah SWT. Dalan Al-qur’an pun Allah berfirman “demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”[25]

Dari ayat tersebut kita berkesimpulan kaitannya dengan dakwah ialah bahwa orang-orang yang tidak menasehati (dakwah) adalah orang yang merugi.

  1. PERAN VITAL DAKWAH DALAM MENGHADANG WESTERNISASI

Akibat kemunduran islam yang kemudian diakhiri dengan runtuhnya kekhalifahan  islam yang ditandai beralihnya turki utsmani menjadi Negara sekuler, juga seiring peristiwa renaissance di eropa yang menumbuhkan semangat barat untuk melepaskan diri dari agama yang dianggap tidak sesuai dengan akal manusia dan hanya mengungkung kebebasan manusia sehingga menjadikan dunia menjadi “gelap” dan melahirkan peradaban barat yang anti-tuhan, membawa dinamika tersendiri di dunia muslim secara keseluruhan.

Sejak peristiwa tersebut, barat berusaha mengusai dunia dengan kolonialisme. Namun cara ini tak berhasil secara total, karena mendapat perlawanan dari kaum muslimin. Akhirnya, mereka mengubah strategi, yaitu melakukan upaya-upaya pembaratan terhadap islam, baik itu dibidang keilmuan, bidang politik, bidang filsafat dan pemikiran, bidang gaya hidup dan bidang agama. Cara inilah yang disebut westernisasi, namun dibungkus dengan alasan modernisasi atau pembaruan dan disebarkan dengan globalisasi.

Dengan cara ini, banyak kaum muslimin yang terjerat dan terkontaminasi olehnya. Sebagai contoh; dibanyak Negara muslim, muncul pemikiran dan pemahaman sesat mengenai islam, seperti paham SIPILIS (sekularisme, pluralisme, liberalisme) dengan tokoh-tokohnya seperti nasr abdul hamid di mesir, Mustafa Kemal di turki, harun nasution di Indonesia. Nama-nama yang telah disebutkan adalah orang-orang yang berpengaruh di masyarakat sehingga banyak masyarakat yang membenarkan dan mengikuti mereka. Belum lagi di bidang budaya, kaum muslimin, khususnya remajanya, banyak yang ikut-ikutan dengan orang-orang barat.

Dengan fakta tersebut, jika terus dibiarkan, maka akan menjadikan islam hanya sebagai nama dan idetitas, namun tak diaplikasikan sebagaimana mestinya. Sehingga diperlukan sebuah cara yang mampu mencegah hal itu terjadi dan mengembalikan kaum muslimin yang terpengaruh agar kembali kepada jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT. Cara ini tak lain adalah dakwah islamiah, baik dengan lisan, tulisan maupun perbuatan. Maka dalam hal ini dakwah sangatlah penting untuk diaplikasikan dengan semangat seperti semangat para pendahulu islam.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan diatas, di peroleh kesimpulan bahwa islam yang pernah mengusai hamper sepertiga dunia tidak bisa dilepaskan dari peran dakwah. Dakwah menempati posisi sentral dalam agama islam. Islam tak akan diketahui sebagai agama yang benar, universal dan rasianal jika dakwah tak dijalankan. Sebaliknya, islam akan dipahami sebagai agama yang tak berbeda dengan agama lainnya yang irrasional.

Masyarakat barat yang umumnya Kristen cenderung beranggapan bahwa semua agama tak jauh berbeda dengan Kristen yang mereka pahami. Sejarah mencatat, bahwa di abad pertengahan, gereja atas nama agama Kristen sangat membatasi gerak-gerik ilmuan. Akibatnya mereka tak maju dan ketinggalan dalam segala hal. Setelah melewati fase tersebut dan berhasil menyingkirkan agama, mereka akhirnya berhasil membangun peradaban, menggantikan peradaban sebelumnya, yaitu islam lalu menyimpulkan bahwa agama, termasuk islam, hanya akan membawa kegelapan di dunia. Maka dengan semangat membangun dunia yang “baru” dan bebas dari campur tangan tuhan, mereka berusaha menyebarkan ide-ide, budaya, gaya hidup mereka keseluruh dunia atau membaratkan (westernisasi) dunia demi mencapai the new wordl order atau tatanan dunia baru yang dikendalikan oleh mereka.

Hasilnya, banyak kaum muslimin yang terpengaruh dengan mereka. Mulai dari tingkat masyarakat awam, kaum inteleknya hingga alim ulama’nya. Mereka mulai meragukan agama islam dan konsepnya. Di tambah lagi faktanya, islam pada zaman ini, diakui atau tidak, sangat tertinggal dalam bidang IPTEK. Maka banyak diantara mereka yang akhirnya belajar islamnya justru ke barat dan belajar islam melalui orientalis lalu pulang sebagai utusan untuk mempengaruhi kaum muslimin lainya. Sehingga barisan kaum muslimin pun kocar-kacir dan terpecah pecah, lalu muncullah istilah-istilah seperti islam fundamental, islam moderat, islam radikal, islam liberal, islam demokratis dan lainnya.

Islam jelas berbeda dengan Kristen. Konsep tuhan dalam islam bisa di buktikan melalui kemukjizatan al-qur’an juga secara ilmiah, berbeda dengan Kristen yang selalu bermasalah dalam konsep tuhannya. Dalam sejarahnya, Agama islam tak pernah menghadapi problem seperti yang dialami Kristen. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, rasional dan paling sempurna, islam mempunyai segala solusi terhadap masalah yang dihadapi umat manusia. Islam punya konsep muamalah, pilitik, ekonomi, pendidikan dan lainnya yang telah terbukti mampu memajukan dunia, bahkan dalam bidang IPTEK. Sehingga ide westernisasi jelas bertentangan dengan ajaran islam. Maka dari itu, untuk menjelaskan hal ini kepada dunia khususnya barat,dakwah sangat dibutuhkan. Itulah peran vital dakwah dalam islam. Maka muncullah istilah ghazwul fikri, yang bermakna perang pemikiran.

  1. Saran

Tersebab westernisasi, banyak dari kaum muslimin yang ikut-ikutan dan semakin jauh dari ajaran agamanya. Dilain pihak banyak kaum muslimin yang memandang dakwah yang dilakukan dimimbar-mimbar pada hari jum’at atau acara-acara lain hanya sebagai suatu formalitas. Berangkat dari fakta tersebut, maka kami menyarankan agar dilakukan revolusi dakwah. Dari dakwah tradisional menuju dakwah kontemporer atau dakwah yang modern (modernisasi dakwah) namun sesuai ajaran agama islam.

Modernisasi dakwah adalah dakwah yang disesuaikan dengan perkembangan dunia. Untuk merealisasikannya, hal yang terlebih dahulu dilakukan adalah penguasaan IPTEK. Karena, kaum muslimin pada masa ini cenderung lebih menyukai mengakses ceramah dari media social. Kemudian hal yang juga penting adalah mendirikan sebanyak mungkin channel televise bertaraf internasional seperti yang sudah dilakukan al-jazeera, karena sesungguhnya westernisasi juga banyak melalui televise. Hal itu terjadi karena mereka punya banyak channel tv, seperti cnn, bbc, dan juga mengendalikan banyak media local.

Mengajak diskusi juga menjadi strategi dakwah yang efektif. Namun Seorang da’i yang menerapkan metode ini dituntut untuk memperbanyak ilmu pengetahuan yang ilmiah (science), lalu menhubungkannya dengan al-qur’an. sehingga bisa berargumen dengan mad’u yang tidak percaya kepada tuhan (ateis) dan hanya mengandalkan rasio untuk menilai sesuatu itu benar atau salah. Para da’i juga harus mampu memanfaatkan media cetak untuk dakwah atau dakwah lewat tulisan. Bisa dengan membuat blok, web, bahkan facebook dan twitter bisa dimanfaatkan.

Namun, metode modernisasi dakwah seperti yang sudah dijelaskan di atas adalah lebih menargetkan kalangan elit, intelektual, kaum ateis dan mereka yang sudah terlanjur terjangkit westernisasi. Untuk kalangan awam, metode dakwah tradisional masih perlu dilestarikan. Selain itu, Dakwah dengan perbuatan atau keteladanan juga efektif dimasyarakat awam.

.

[1]Di akses dari Wikipedia.com, 1 desember 2015 pukul 12-45

[2] Syed Muhammad naquib al-attas, Islam dan sekularisme, (bandung: PIMPIN, 2011) h. 24

[3]Dr. david sagiv, Islam otentitas liberalisme, (Jogjakarta, LKiS, 1997) h. 10

[4] Diakses dari Wikipedia.com, 1 desember 2015, pukul 12:40

[5] Tidak masuk akal

[6] Diakses dari http:// www.artikelsiana.com/perbedaan globalisasi,- westernisasi- dan- modernisasi/ pada 1    desember 2015, pukul 12:42

[7]ibid

[8]ibid

[9] Syed Muhammad naquib al-attas, op. cit. h. 9

[10] Dr. yusuf al-qaradhawi, islam dan globalisasi dunia (Jakarta: cv. Pustaka al-kausar, 2001) h. 64-65

[11] Ibid., h. 139

[12] Drs. Enjang AS, M.Ag., M.Si. dan Aliyudin, S.Ag., M.Ag, Dasar-dasar ilmu dakwah, (bandung; widya padjadjaran, 2009) h.3-4

[13] Ibidh.4

[14] Ibid

[15] Ibid h.5

[16] M, Munir, S.Ag., M.A. dan Wahyu Ilahi, S.Ag., M.A., manajemen dakwah,(Jakarta; kencana, 2012) h. 258

[17] Ibid.

[18]Drs. Enjang AS, M.Ag., M.Si. dan Aliyudin, S.Ag., M.Ag, op. cit. h.88

[19] Ibid. h. 89

[20] Ibid.

[21] Ibid. h. 90

[22] Ibid.

[23]Ibid.

[24] Acep aripudin, M.Ag dan H. Syukriadi Sambas, Dakwah Damai, (Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2007) h . 107

[25] Lihat, (Q.S. Al-‘asr : 1-3)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s