bersinergi membangun negeri

Rakyat Indonesia di beberapa kota dan kabupaten baru saja selesai melaksanakan PEMILU (pemilihan umum) pada 9 desember 2015 secara serentak. Dan tentunya, setiap pemilih berharap bahwa yang dipilihnyalah yang akan menduduki kursi jabatan, dengan alasan yang beragam. Walaupun rakyat telah memilih yang kandidat yang berbeda, namun harapannya hanyalah satu, yaitu mendapatkan pemimpin yang mampu membawa perubahan yang baik.

Namun, jika ditanya apakah mereka (rakyat) yakin bahwa PEMILU kali ini akan membawa perubahan.?, maka akan ditemukan bahwa masih banyak warga yang menjawap dengan ragu. Mungkin, jawaban yang akan diterima adalah “ya, mudah-mudahan saja yang terpilih bisa membawa perubahan.” Atau “ya, bisa iya bisa tidak, hahaha.”

Sikap tersebut sungguh sangatlah wajar, betapa tidak, rakyat berulang-kali dikecewakan oleh pemerintahnya sendiri. Walaupun telah berulangkali melaksanakan PEMILU, namunKasus-kasus korupsi, kolusi, napotisme, kekerasan dan kejahatan masih banyak yang melibatkan pemerintah. Sehingga media-media informasi maupun social masih didominasi oleh berita negative seperti itu.

Hal inilah yang membuat kepercayaan rakyat kepada pemerintah semakin rendah bahkan hilang hingga mereka memilih golput. Saking skeptisnya, sampai-sampai muncul banyak meme-meme liar yang berbau anti-pemerintah, seperti yang ditampilkan metro tv pada acara “mencari negarawan” pada pukul 18:00 tanggal 8/12/2015, kira0kira bunyinya begini, “pemilu bukanlah untuk mencari pemimpin terbaik, tapi menghindari pemimpin terburuk menjadi pemimpin”. Artinya PEMILU hanya untuk mencari pemimpin terbaik di antara pemimpin yang buruk.

Apalagi prestasi Indonesia di kancah internasional sangat sedikit. Olahraga sepakbola mengalami “kevakuman”. Ekonominya pun kalah dari banyak Negara-negara lain yang sebenarnya ber SDA pas-pasan.

Padahal, jika diperhatikan, peluang Indonesia untuk berada pada jajaran Negara-negara berpengaruh di dunia sangatlah terbuka lebar. Indonesia adalah Negara dengan SDA yang melimpah. Barang tambang di perut bumi Indonesia sangat menggiurkan. Selain itu laut Indonesia adalah yang terluas kedua di dunia, hanya kalah oleh kanada.

Namun demikian, apakah negeri ini tak mungkin lagi melakukan perubahan seperti yang diharapkan.?. apakah hal ini sudah menjadi takdir yang tak bisa berubah walau puluhan tahun lamanya kita telah dan akan berusaha.?. akankah rakyat terus sengsara dan kemiskinan merajalela.?. apakah para pemimpin negeri ini memang tak bisa terlepas dari korupsinya, dari penyelewengan jabatannya dan dari kejahatan-kejahatannya.? Atau apakah masih ada harapan bagi kita,?.

Evaluasi diri.!!

Bagaimanapun juga, seorang pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Pemimpin yang baik akan lahir dari rakyat yang baik pula. Banyaknya kasus penyelewengan yang di lakukan para pemimpin daerah dan pusat juga tak terlepas dari kebiasaan mayoritas rakyat di negeri ini. Buktinya, masih banyak perilaku menyeleweng yang dilakukan masyarakat, seperti misalnya, buang sampah sembarangan, penebangan hutan secara illegal, tak mematuhi aturan lalu lintas, tak mau ngantri dan perilaku buruk lainnya yang sudah dianggap biasa.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak masalah selama tak merugikan orang banyak bila dibandingkan dengan para koruptor dari kalangan atas. Tapi sesungguhnya dari kebiasaan itulah yang juga membiasakan rakyat yang kemudian menjadi pemimpin negeri melakukan penyelewengan lain. Artinya, rakyat melakukan penyelewengan kecil karena ia sedang berada pada posisi yang tak mungkin melakukan penyelewengan yang lebih besar. Sehingga ketika ia akhirnya menjadi pemimpin, maka penyelewengan yang dilakukannya akan semakin besar dan besar.

Maka dari itu, baik rakyat maupun pemerintah harus sama-sama mengevaluasi diri untuk kemajuan dan perubahan kearah yang lebih baik.

Mari bersinergi.!!

Perubahan yang terjadi di suatu Negara tak akan tercapai tanpa adanya hubungan timbal-balik antara pemimpin dan yang dipimpinnya. Maka sinergi yang baik adalah keharusan untuk mencapai perubahan.

Jika kita lihat Negara-negara maju, maka akan ditemukan hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyatnya. Di jepang, rakyatnya sangat mematuhi regulasi yang di keluarkan pemimpinnya. China juga di kenal dengan rakyatnya yang nasionalis atau cinta Negara. Pun demikian dengan Negara-negara maju yang lain.

Lantas, bagaimana-mungkin antara rakyat dan pemimpin akan bersinergi membangun negeri jika kesaling-percayaan antara keduanya sudah sangat rendah bahkan tak  ada. Yang terjadi justru saling menyalahkan dan saling merugikan. Sama-sama saling menjauh hingga tercipta jarak yang lebar dan dalam. sama-sama saling memandang sinis hingga saling benci. Sama-sama saling membohongi antara satu dan yang lain.

Jadi, hal yang paling awal dilakukan adalah membangun hubungan yang baik dan dekat antara pemimpin dan rakyatnya dan menjaga hubungan tersebut hingga rasa saling percaya tercipta. Setelah saling-percaya tumbuh, maka tentu rakyat akan mengikuti dan patuh kepada pemimpinnya.

Nah, sekaranglah saatnya untuk membangun semua itu dari awal. Sekaranglah saatnya untuk memperbaiki citra pemerintah. Mumpung masih baru, pemimpin yang akan mengisi kursi kekuasaan harus bisa memanfaatkan momen tersebut. Jangan sampai justru mengikuti jejak buruk para pendahulunya. Jangan sampai mengulangi kesalahan sebelumnya yang akan semakin melenyapkan kemungkinan terjadinya perubahan yang baik pada PEMILU kali ini.

Dan untuk rakyat, hilangkan kebencian lama.!. mari berpikir positif bahwa pemimpin baru kali ini tidak sama dengan yang sebelumnya. Yakinlah bahwa pemimpin baru ini mampu membawa aspirasi rakyat. Dan mari mendukung program-program mereka demi kemajuan negeri. Mari bersinergi membangun negeri..!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s