Hariati

Di sebuah rumah mungil nan reot di kawasan pemukiman kumuh Jakarta, terdengar suara isakan tangis yang berusaha ditahan. Di dalamnya, terbujur kaku seonggok mayat yang dibungkun kain kafan. Sementara di sekelilingnya, beberapa pria juga wanita menatapnya, meratapi kepergian tetangganya sekaligus sahabat mereka. Walaupun bukan keluarga, mereka tetap merasa kehilangan sesorang yang senasib. Sementara di sebuah bilik rumah tersebut, seorang wanita berkulit putih meraung dengan perun buncit, meronta-ronta tak karuan hingga akhirnya pingsan.

…………

Dua minggu setelah suami yang dicintainya meninggal dunia, hariati akhirnya terbiasa dengan kesendirian. Menghadapi dunia dalam kesepian. Namun, ia kasihan dengan anak yang sedang dikandungnnya. Sebenarnya, ia pernah berniat menggugurkan janin di rahimnya karena alasan ekonomi, namun tak sampai hati. Ia berfikir setelah melahirkan, ia untuk sementara akan menitipkan bayinya ke panti asuhan di wilayah tersebut lalu ia akan mencari pekerjaan untuk biaya hidupnya dan memulai hidup baru. Hingga saat ini, ia masih menggunakan uang peninggalan suaminya yang tak seberapa.

Sebulan lebih dua minggu ia akhirnye melahirkan. Tidak dengan bantuan bidan, ia melahirkan bayinya hanya dengan bantuan “semangat” dari para tetangganya.

Seperti yang telah direncanakannya, setelah pulih pasca malahirkan, ia segera membawa bayinya ke panti asuhan “kasih bunda” yang dipimpin seorang ibu bernama “firda” ibu firda.Lalu, ia menyusuri jalan sambil menoleh kiri-kanan berharap akan menemukan tempat untuk kerja. Namun, hingga sore menjelang, ia tak kunjung menemukan tempat kerja atau lebih tepat menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk singgah di sebuah warung untuk melepas lelah. Ketika ia duduk, ia tanpa sengaja melihat tulisan “lowongan kerja” di selembar kertas yang di tempel di dinding warung itu. Ia merasa pas dengan tawaran menjadi pembantu rumah tangga dengan syarat : wanita, usia maximal  25 tahun, di selebaran tersebut Tanpa ada rasa curiga. Karena tak punya HP untuk menghubungi nomer tersebut, ia lalu meminjam HP seorang pemuda di sampingnya.  Ia terlihat manggut-manggut ketika menelpon tanda sepakat.

…………

Rumah dengan cat hijau muda yang dikombinasikan dengan putih tulang tersebut terlihat megah. Pagarnya menjulang tinggi, tak mengizinkan para pencuri melewatinya. Maklum, rumah tersebut memang berada di sebuah perumahan elit ibukota. Sangat kontras dengan pemukiman kumuh tak jauh dari situ. Namun, rumah tersebut hanya diisi oleh seorang lelaki berumur sekitar 40-an tahun tanpa istri.

“Mungkin, itulah alasan mengapa ia butuh pembantu.” Pikir hariati

Di situlah hariati bekerja sebagai pembantu. Hari-harinya diisi dengan mencuci, memasak, menyetrika, mangepel dan pekerjaan rumah lainnya. Walaupun sangat sibuk, ia selalu menyempatkan waktu menemui bayinya setiap pulang kerja atau paling tidak menelpon bu’ firda dengan telpon umum.

Jarum jam terus berputar, mengikuti matahari dan bulan yang silih berganti menyinari bumi, hingga hari kelima, ia di panggil oleh majikannya.

“hariati.! Ikut saya..!” perintah majikannya

“baik tuan” balasnya

Hariati terlihat agak gugup duduk dikursi empuk   menghadap seorang lelaki yang lumayan tampan di balik meja itu. Di atas meja itu pula terdapat dua gelas minuman berwarna merah dan sebuah map kuning.

“bagaimana.? Kamu suka kerja disini.?” katanya membuka percakapan

“iya tuan, saya suka, terima kasih mau menerima saya di sini”jawab hariati sopan

“ah, gak usah manggil tuan lh.! Emm,sebenarnya saya hanya merasa kamu cocok di sini”

“baik tuan, eh pak”

“eh, kamu kan baru kerja di sini, jadi kamu perlu menandatangani dokumen ini, biar kamu bisa dapat hak-hak kamu” kata majikannya sambil menyodorkan sebuah map berwarna kuning

Tanpa membaca dan rasa curiga sedikitpun, hariati mengambil pulpen lalu menandatangani dokumen tersebet seadanya. Setelah itu ia mengembalikan dokumen tersebut.

“ini, sirupnya di minum”

“terima kasih pak” jawab hariati lalu meminum sirup itu hingga hanya menyisakan gelasnya

“oke, saya pergi dulu, kamu boleh make barang-barang yang ada disini” kata majikannya lalu beranjak pergi.

“terima kasih pak” tutup hariati

Hariati berdiri dari kursi itu. Namun ia merasa kepalanya pening dan berat. Ia merasa ada yang tidak beres. Ia berusaha keluar dari rumah itu, namun apa daya, belum sampai pintu utama ia telah ambruk ke lantai, pingsan. Majikannya yang sedari tadi memperhatikannya, mengambil HP dari saku celananya lalu menempelkannya di telinga.

“halo…is this alex.?” Katanya

“emm, I have a girl, I think she is pretty…….she haven’t family,…..ya….around  twenty two years old….yap, I wait you” lanjutnya kemudian memutus telpon dan meletakkan HPnya di atas meja. Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil APV memasuki halaman rumah itu lalu pergi.

…………

Hariati mendapati dirinya di sebuah ruangan kecil yang tak ada lubang sama sekali, cahaya di ruangan tersebut hanya dari sebatang lilin. Pandangannya masih berkunang-kunang dan kepalanya agak pening, ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, lalu berdiri. Memerhatikan keadaan sekelilingnya, samar-samar ia mendengar suara derap langkah kaki mendekat. Ia berfikir, mematikan lilin lalu di ambilnya sebatang balok di pojok ruangan. Ketika pintu terbuka, cahaya lampu dari luar menerangi sebagian kamar kecil itu dan seorang lelaki kekar masuk, dengan cepat, ia mengayunkan balok tersebut ke arahnya. Sialnya, ia tak sendiri. Seorang lelaki lain masuk, hariati ketakutan. Namun ia berusaha melawan. Setidaknya ia unggul dengan balok di tangannya, pikirnya. Namun, lawannya bukan lawan sembarangan. Dengan tiga gerakan cepat, ia behasil merampas balok dari tangan hariati lalu membuangnya.

“kau pikir kamu bisa menang, hah” kata lelaki itu ketika berhasil menangkap hariati dan mengikatnya di kursi

“tolong, tolooong..!!!” teriak hariati sambil meronta-ronta

“kau pikir ada yang akan dating menolongmu, hah, ini jam dua malam bung..!! hahaha”

“siapa kalian, apa yang kalian inginkan.?”

“kami hanya warga biasa kok, kami ingin kamu kaya”

“kalian akan menjadikanku pelacur kan” bentak hariati

“ternyata kamu tidak terlalu bodoh umtuk ukuran pembantu, hahaha.” Lalu bergegas keluar dan mengunci pintu

Untungnya, lelaki tadi tak mengikatnya dengan kuat. Ia hanya perlu usaha sedikit untuk melepas ikatannya. Hariati memperhatikan sesosok tubuh di hadapannya. Lalu terpikir olehnya untuk mencari sesuatu. Ia periksa saku celananya dan akhirnya ia menemukan sebuah HP. Derap langkah yang terdengar cepat mendekat. Hariati mengikat tanganya dan kembali ke kursi, mengambil posisi seperti sebelumnya.

Pintu terbuka dan dua orang lelaki masuk.

“sabar yah, jalang, sebentar lagi kamu akan pergi kok.!” Kata lelaki tersebut ketika baru masuk. Kemudian mengangkat sosok tubuh temannya yang sedang pingsan itu keluar. Pintu kembali di kunci.

Hariati segera melepas ikatannya, memeriksa HP yang baru saja di ambilnya dan tersenyum, ia menemukan sesuatu. Ia terlihat serius berfikir. Lalu di tekannya tombol-tombol HP itu dan mulai bicara.

“halo, dengan bu’ firda….ini saya, hariati…….ini alamatnya……….baik bu’”

Lima belas menit kemudian, dua mobil patroli mendekat di rumah itu. Hariati tersenyum penuh kemenangan. Ia mendobrak pintu tersebut sekedar memberi tahu bahwa ada orang di dalamnya.

…………

Keesokan harinya……

“pamirsa, polisi telah menangkap tujuh orang tersangka pembegalan, pencurian, narkoba dan penyelundupan narkoba dan perdaganganmanusia. Mereka di tangkap malam tadi sekitar pukul 02: 30 di jalan W.R. supratman. Sebenarnya,  Gerombolan mereka telah lama menjadi buronan polisi………………hingga saat ini, polisi masih menegmbangkan kasusnya dan di sinyalir akan ada tersangka lain……………….mereka berhasil di tangkap berkat seorang wanita bernama hariati………” kata seorang reporter wanita di layat kaca. Sementara itu, Seorang Wanita dengan bayi di gendongannya tersenyum dan terlihat gembira.

“hariati.! Ada yang nyari nh..! panggil bu’ firda

Ia menuju ruang tamu dan memdapati seorang perempuan dengan kartu persnya.

“jadi, kami dari M-TV bu’, bisa di ceritain kronologi kejadiannya bu’?

Hariati menceritakan dari kisahnya dari awal hingga akhir.

“tapi, bagaimana ibu mengetahui alamatnya, bukannya ibu di sekap?”

“ya, saya melihatnya ketika memeriksa HP bajingan itu, di situ saya melihat foto dengan latar belakang rumah yang ada alamatnya juga, saya hanya menebak dan berharap itu adalah rumah itu.” Jawab hariati menutup pembicaraan.

“oooo, begitu, emm iya, saya pamit dulu, terima kasih atas waktunya” balas reporter tersebut sambil beranjak pergi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s