PEMERINTAH SUKSES “BUNGKAM” PUBLIK

Akhir-akhir ini Saya merasa ada yang aneh ketika saya membuka kolom opini di jawa pos. Opini di Koran itu sama sekali tidak menyinggung kekisruhan yang sedang terjadi di pusat seperti tulisan-tulisan  hari sebelummya sebelumnya. Padahal, sebelumnya saya telah menduga-duga bahwa opini yang dikirim para pembaca jawapos tak jauh-jauh dari bahasan seputar kasus yang sedang memanas di pusat, yaitu kasus “papa minta saham”. Seperti yang gencar di beritakan banyak media, MKD sedang memproses ketua DPR, setya novanto (setnov) terkait dugaan mencatut nama presiden dan wakilnya ketika minta saham kepada Freeport.

Kasus ini ternyata melibatkan banyak oknum, khususnya elit politik dan pengusaha. Kasusnya bergulir bak bola salju, makin lama makin membesar. Dilain pihak MKD dianggap tak serius untuk menyelesaikan kasus ini. Namun “aneh”nya, di media sebesar jawapos tak terdengar “kicauan” para pakar terkait kasus tersebut. Apa alasannya.?

Ada tiga kemungkinan yang bisa menjadi alasan tak dimuatnya artikel terkait.

pertama, public sudah bosan untuk membahas masalah seperti itu. Betapa tidak, hampir setiap membaca paper, Koran, situs berita, menonton televisi hingga saat membuka akun medsos pun, semuanya tak terlepas dari berita terkait kebobrokan para elit politik. Lama kelamaan, public akhirnya merasa bosan dan antipati terhadap masalah-masalah seperti itu hingga menjauh dan tak lagi membahasnya. Mereka merasa menyerah dan pasrah akan keadaan Negara yang dicintai ini tak kunjung dijauhi penjahat yang tak tahu malu.

Lantas, Public yang sudah muak dan merasa bosan tak lagi percaya dan akan semakin menjauh dari pemimpin-pemimpinnya. Sehingga keharmonisan antara pemimpin  dan rakyat semakin sulit tercapai yang juga akan berimplikasi pada mandeknya program-program pemerintah yang tak mendapat dukungan rakyat.

Hal ini sudah mulai terlihat pada pemilu serentak taggal 9/12/2015 lalu. Menurut data dari KPU, masyarakat yang memilih golput semakin meningkat dari tahun ketahun. Hal ini mengindikasikan dukungan publik terhadap pemerintah semakin menurun setiap tahunnya.

kedua, mungkin saja public sudah kehabisan kata-kata untuk mengomentari kasus-kasus tersebut. Buktinya, sudah puluhan bahkan ratusan artikel kritis atau analisis yang dirilis di media cetak maupun elektonik yang membahasnya. Namun, pemerintah seolah-olah menutup telinga dan cuek. Opini public sama sekali tak dihiraukan.

Para pemimpin di negeri ini seakan-akan sudah tahan dan terbiasa di mendapat cibiran dari rakyat. Hal membuat mereka tak lagi punya rasa malu ketika berbuat salah. Kritikan telah dianggap sebagai angin lalu yang akhirnya akan hilang atau hanya sebatas rutinitas di sebuah Negara.

ketiga, mungkin saja, ada naskah yang masuk ke redaksi jawapos namun tak dipublikasikan dengan alasan karena berkaitan dengan poin pertama dan kedua. Artinya, jawapos juga merasa bosan dengan pembahasan yang itu-itu saja atau artikel yang dikirimkan tidak jauh beda dengan yang sebelum-sebelumnya karena saking banyaknya artikel terkait yang masuk.

Intinya, baik rakyat maupun media sama-sama tak lagi punya mood bagus untuk membahas masalah-masalah terkait karena merasa tak berpengaruh atau tak dihiraukan sama sekali.

Padahal, seorang pemimpin yang baik adalah yang mau menerima saran, aspirasi maupun kritik dari rakyat sebagai bahan evaluasi diri. Tidak malah cuek terhadapnya. Mereka malah lebih siap memasang telinga jika yang berbicara adalah para pengusaha yang butuh “uluran” darinya dan punya dana besar demi memuluskan kepentingannya.

Kondisi seperti ini tentu tak baik bagi kemajuan negeri ini bahkan bisa saja menjadi awal kehancuran. Di tengah kondisi rakyat yang muak dengan ulah para pemimpin yang awalnya mereka percaya mampu membawa perubahan, akan menimbulkan semangat anti-pemerintah. Inilah yang akan menjadi cikal-bakal terjadinya “pemberontakan” terhadap pemerintah.

Hal seperti Inilah sebenarnya yang membuat negeri ini tak maju-maju. Pemimpin dan rakyatnya saling menjauh, saling cuek-mencueki dan saling tuduh-menuduh. Padahal, kemajuan suatu Negara tak akan tercapai bila para pemimpin di Negara tersebut tak mendapat dukungan dari rakyat sebagai “investasi” terpenting bagi negara. Negara-negara besar seperti china, jepang dan lainnya bahkan sangat perhatian dengan rakyatnya. Begitupun sebaliknya, rakyat cinta pemimpinnya.

Akan tetapi, hal tersebut bukan sesuatu yang tak bisa diubah sama sekali. Pemerintah setidaknya masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan citranya kepada public. Sebelum terlambat, pemerintah harus sigap dan jeli memanfaatkan momen seperti ini. Setidaknya, kasus yang sedang bergulir cepat ditangani dan diselesaikan. Hal ini tentu akan mendapat pujian dari public sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam membersihkan para pemimpin dari tindakan penyelewengan yang akan berimbas pada kemajuan negeri ini.

Apalagi, disejumlah daerah di Indonesia beru saja memilih orang baru untuk mengayomi masyarakatnya selama lima tahun kedepan. Diharapkan, para kandidat terpilih tak salah langkah dalam mengambil kebijakan, khususnya yang bersentuhan dengan rakyat. Dan Jangan sampai mengulangi kesalahan yang telah lalu atau bahkan kesalahan baru yang akan membuat “lubang” baru di hati rakyat. Raihlah kepercayaan rakyat dengan kerja nyata. Bukan sekedar janji yang di hanya digaungkan ketika pemilu. Hidup Indonesiaku…!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s