maulid, tak sekedar merayakan

Sebentar lagi, umat muslim akan kembali merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, tradisi ini sudah berurat akar. Setiap tanggal 12 rabiul awwal, masyarakat Indonesia biasanya akan mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. Tapi sayangnya, perayaannya hanya sebatas perayaan bahkan hanya sekedar menjadi tradisi tahunan dan tak ada perubahan yang lebih baik setelah perayaan itu.

Padahal jika kita betul-betul menghayati, sangat banyak hal yang bias kita petik dalam perayaan mauli dini. Seperti kita ketahui, Rasulullah telah banyak  memberikan contoh dalam setiap bidang kehidupan, baik melalui perbuatan atau pun ucapan beliau. Sebagai umat Muhammad SAW, adalah wajib untuk mengikuti dan meneladani beliau dalam hidup ini.  Salah satu hal yang harusnya menginspirasi kita khususnya bagi para pemimpin adalah kisah tentang bagaimana rasul berkebijakan sebagai pemimpin negara.

Pada saat kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah meraih kemenangan di badr sekitar tahun ke-2 hijriah, kaum muslimin banyak menawan pasukan musuh. Pada saat itulah, rasulullah menginstruksikan hal yang belum terpikirkan oleh banyak orang bahkan para pemimpin sekalipun. Yaitu, siapa saja di antara tawanan yang mampu mengajari anak para kaum muslimin, maka ia akan dibebaskantanpasyarat lain. Hal ini tentunya “tidak seperti biasanya.” Namun  menunjukkan dua hal penting.

Pertama, bahwa ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW sangat menghormati ilmu dan pemiliknya. Bagi Rasulullah SAW, ilmu adalah pondasi yang harus kokoh untuk membangun sebuah Negara dan peradaban. Bahkan ilmu dalam islam disejajarkan dengan iman. Maka tidak heran jika banyak hadits yang menekankan agar umat muslim giat menuntut segala macam ilmu. Karena sejatinya ilmu dalam islam, tak dipisahkan menjadi ilmu agama dan ilmu dunia. Bagi islam, semua ilmu berasal dari Allah SWT yang maha benar. Sehingga semua ilmu itu benar danakan  mendekatkan pemiliknya kepada Allah subhanahu wata’ala jika dipahami secara benar.

Maka tidak heran, jika tak sampai sepuluh abad sejak turunnya risalah yang dibawa rasulullah, ia sudah mampu menjadi sebuah peradaban agung berkat semangat keilmuan di tengah kaum muslimin. Para ilmuan muslim pada saat itu dikenal menguasai bermacam-macam disiplin ilmu. Sebut saja ibnu sina, ibnu khaldun, imam al-ghazali, jabir ibnu hayyan, ibnu firnas, al-farabi dan masih banyak nama lain yang tak kalah mengagumkan dan menjadi rujukan ilmuan kontemporer.

Para pemilik ilmu tersebut lahir karena landasan yang telah Rasulullah buat beberapa abad sebelumnya. Banyak sabda nabi tentang keutamaan-keutamaan bagi mereka yang semangat dalam menutut ilmu. Sehingga hal itulah yang menjadi salah satu motivasi ilmuan-ilmuan muslim abad pertengahan untuk menguasai berbagai bidang keilmuan. Mereka pada umumnya menuntut ilmu bukan karena harta, tahta, atau hal lain, namun memang bertujuan untuk mencari keridhaan Allah dan menjadi penguat akan adanya zat yang maha kuasa.

Kedua, Sebagai seorang negarawan, rasulullah sangat paham posisi anak (baca:pemuda)  dalam suatu organisasi.  Para anaklah yang akan melanjutkan estafeta perjuangan, menggantikan ayah-ibunya yang sudah renta. Maka peningkatan kualitas anak-anak kaum muslim khususnya dalam bidang ilmu, adalah keharusan.  Setali tiga uang, soekarno pun pernah dengan berapi-api berkata “berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan goncangkan dunia.”

Maka, eksis tidaknya suatu organisasi ataupun Negara beberapa tahun kemudian, dapat dilihat dari para anak-anakwarganya. Sebagai  agama, islam sangat memperhatikan masalah ini. Maka tidaklah heran, jika dalam sejarahnya, muncul tokoh-tokoh muslim yang sangat berjasa. Sebut saja zaid bin tsabit, yang memimpin perang pada saat umurnya masih belasan tahun, imam syafii yang punya wewenang berfatwa saat umur masih 13 tahun, sultan Muhammad II atau al-fatih yang mengalahkan konstantinopel juga saat muda, dan sederet nama lain yang tak kalah hebat.

Mereka-mereka lahir bukan karena kebetulan belaka. Namun telah direncanakan beberapa abad sebelumnya. Itu artinya, mereka melalui proses yang berkesinambungan. anak-anak waktu itu memang sangat diperhatikan. Dalam hal ini, para Orang tua dan masyarakat berperan aktif dalam membentuk karakter para pemuda.

Sayangnya, di zaman ini hal itu telah berubah. Pemuda-pemuda muslim tak banyak yang tertarik dengan ilmu. Kalaupun peduli, mereka belajar bukan karena agama, namun lebih karena tuntunan zaman, karena harta atau kedudukan.

Karena tujuan mereka dalam menuntut ilmu bukan karena motivasi Agama, maka tidak heran jika banyak kasus penyelewengan yang melibatkan anak bangsa. Tawuran, nyontek massal, seks bebas hingga kasus narkoba adalah sedikit contoh kasus yang banyak “digeluti” anak-anak muda yang notabene masih terdaftar di sekolah.

Masyarakat pun seolah-olah diam menyaksikan kebobrokan anak-anak mereka. Padahal kontrol social (social control) adalah salah satu strategi ampuh untuk mencetak generasi yang baik lagi sholeh.

Dengan adanya momen mauled inilah, sudah sepantasnya jika kita memanfaatkan untuk intropeksi diri masing-masing. Fungsikan diri kita sebagaimana yang di lakukan Muhammad SAW 14 abadsilam. Semua kelompok masyarakat bisa meneladani beliau, karena beliau selain seorang Nabi, juga pernah menjadi rakyat biasa, pengembala ternak, pedagang di pasar, negarawan, pemimpin tertinggi Negara, komandan perang, suami,sahabat, diplomat dan sekaligus ayah bagi anaknya.Semua terkandung dalam satu tubuh, yaitu Muhammad SAW.

Mari menjadikan hari ini sebagai batu loncatan untuk menjadi manusia yang lebih baik dengan mengaplikasikan perbuatan-perbuatan yang telah Nabi Muhammad contohkan. Kemudian, yakinlah bahwa dengan itu, Negara ini akan menjadi lebih baik dan bermartabat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s