“Indonesia terancam kembali terjajah”

Jika anda senang membaca berita melalui situs-situs berita nasional, atau anda sering browsing, internetan, googling, atau entah apa namanya, saya sarankan agar anda menyempatkan untuk mengetik kata “narkoba” pada kolom pencarian yang telah disediakan. Maka bisa dipastikan, anda akan menemukan deretan berita terkait narkoba yang sayangnya, berita-berita tersebut semuanya berbau negatif. Dan jika anda adalah warga negara yang baik, anda pasti akan merasa marah, kecewa, sedih, dan tak mungkin senang.
Membaca kasus narkoba dalam angka, seharusnya ia telah dimasukkan kedalam museum rekor indonesia (MURI) dengan prestasi kejahatan yang paling banyak mengirimkan penjahat ke penjara. Menurut Kapolri jenderal Badrotin haiti, selama 2015, polisi mengamankan 1.072.328 pil ekstasi, 23,2 ton ganja serta 2,3 ton sabu. Belum lagi jenis narkoba lain yang makin beragam. Akan tetapi, jumlah tersebut, menurutnya lagi, hanya 20% dari jumlah total narkoba yang beredar di indonesia. Labih lanjut, dalam setahun, polisi juga menangani 40.253 kasus yang mengirim 50.178 tersangka ke penjara. Tren pemakaian narkoba pun naik 13,6% setiap tahun. Akhirnya penjara-penjara didominasi tersangka narkoba yang jumlahnya, menurut Luhut Binsar Pandjaitan (Menkopulhukam) mencapai 60% dari total penghuni jeruji besi.(www.liputan6.com, 24/02/2016).
Namun, kejahatan narkoba tak hanya sampai disitu kawan. Fakta-fakta terkait tak kalah membuat sakit. Seperti yang diberitakan media-media online baru-baru ini, para tersangka narkoba juga bukan orang-orang sembarangan. Ketika Kostrad merazia narkoba, seorang anggota DPR terendus memakai barang haram ini, ia seolah melengkapi “orang-orang penting” yang juga tertangkap, yaitu 4 anggota polisi dan seorang anggota TNI, setelah beberapa hari sebelumnya polisi mengamankan anggota Paspampres yang terindikasi menggunakan narkoba. Tidak hanya itu, orang-orang yang telah tertangkap pun masih berkesempatan menikmati narkoba di penjara dan Lapas-lapas. Herannya, mereka berpesta bersama si sipir penjara yang diamanahi menjaga mereka dari narkoba. Seperti yang terjadi di Lapas Siantar. Aneh, dari tempat yang seharusnya menjadi “neraka” bagi tersangka narkoba berubah menjadi “surga” orang-orang sakit ini.
Dari angka dan fakta di atas, dapat kita bayangkan berapa kerugian yang ditanggung negara dan masyarakat, moril maupun materil. Berapa pasang mata yang menangis karena keluarganya masuk penjara, hingga divonis mati. Berapa anak dan istri yang menanggung beban lahir juga batin. Berapa remaja yang digadang-gadang menjadi penerus bangsa kehilangan masa depan. Sementara, bandar-bandar narkoba taraf internasional menikmati berlapis-lapis uang mereka, yang mereka dapat dari dompet-dompet tipis kita. Mending uangnya disumbangkan ke panti-panti asuhan, atau, lembaga-lembaga sosial, daripada masuk koper-koper besar para bandit yang membuat kita “dikandangkan” bagai hewan.
Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa ya narkoba begitu mudah masuk kenegara ini. Awalnya saya berpikir karena negara ini begitu luas lautnya. Ditambah lagi, kemaritiman ini tak begitu di kuasai. Sehingga memudahkan jaringan bandit internasional membanjiri barang-barang haram berbagai jenis ke negara ini. Tapi saya membaca berita lalu saya renungkan, ternyata analisis itu tak sepenuhnya benar. Penyebabnya tak lain adalah, bangsa ini begitu mudah dikelabui, apalagi dengan dolar-dolar yang bertumpuk-tumpuk. Angan-angan untuk hidup bahagia karena kaya membuat bangsa kita gelap mata. Akhirnya transaksi kerjasama terjadi. Nota kesepahaman ditanda tangani. Para bandit dapat rumah mewah, kita dapat vonis mahkamah. bangsa kita memang payah. Lalu, mau kemana bangsa ini jika kejadiannya seperti ini. Yang diatas sibuk mengumpulkan rupiah, yang ditengah sibuk meelayani para bedebah, yang dibawah akhirnya kena getah. Hanya menjadi tukang cangkul di sawah. Dengan upah sepuluh ribu rupiah. Beli beras pun tak cukup.
Jadi, mari kita berubah, buang jauh-jauh narkoba dari kehidupan kita. Yang terlanjur dipenjara, tobatlah. Yang sedang menikmati, segera berhenti. Yang sudah punya rencana, batalkan segera. Kawan, Mari lawan narkoba bersama-sama. Selamatkan generasi kita sebelum terjajah oleh narkoba. Itu jika anda cinta indonesia.

Iklan

hujan

Titik-titk air jatuh membasahi

Membuat tumbuhan menari-nari

Kucing-kucing berlari menjauhi

Itulah hujan pertama februari

 

hujan selalu datang

tanpa ada yang mengundang

memenuhi selokan-selokan

membanjiri jalanan perkotaan

 

Ingin rasanya kurayu awan

Agar tak berlebihan

Menurunkan air lautan

Dan tak membasahi jemuran

 

Oh……hujan

Engkau adalah harapan

Untuk kehidupan ciptaan tuhan

Namun kadang sebagai cobaan

Bagi mereka yang beriman

Dan sebagai peringatan

Bagi mereka yang ingkar kepada tuhan

 

 

 

 

 

 

 

bangun generasi dengan kolaborasi

Jika ada suatu hal yang harus dimiliki oleh sebuah komunitas, baik itu komunitas kecil seperti organisasi social, oganisasi massa, atau komunitas besar seperti suku, bangsa, agama atau sebuah Negara, maka itu adalah generasi.  Generasi mutlak harus dimiliki demi menjaga eksistensi suatu komunitas tersebut. Tanpa adanya generasi, maka keberlanjutan suatu komunitas di masa yang akan dating adalah mustahil.

Jangankan manusia, hewan pun perlu generasi demi menjaga eksistensi spesiesnya. Lihatlah dinosaurus, di zamannya, ia adalah predator unggulan yang punya kekuatan besar. Namun, pada akhirnya ia juga punah. Selain disebabkan factor alam, kurangnya generasi juga menjadi alasan. Selain itu, hewan-hewan yang yang terancam punah sekarang ini, biasanya adalah hewan-hewan yang membutuhkan waktu lama untuk berketurunan. Sementara hewan yang cepat bereproduksi cenderung aman-aman saja.

Tentunya, manusia tak sama dengan hewan. Itu karena hewan hidup hanya mengikuti naluri ilmiahnya saja dan hidup tanpa tujuan. Sementara manusia telah diberi nafsu atau potensi untuk berbuat baik atau buruk. Jika seorang manusia tidak dituntun kejalan yang benar, maka ia akan menjadi ancaman untuk sekitarnya. Lebih lanjut, manusia telah ditugaskan oleh tuhan untuk mengurus bumi ini dengan aturan yang telah di tetapkan-NYA. Maka membangun generasi yang sesuai yang dikehendaki tentu tidak gampang. Perlu strategi yang baik agar usaha kita membuahkan hasil.

Seorang anak (baca: generasi) yang terlahir kedunia ini akan terpengaruh oleh berbagai hal. Salah satu yang paling dominan ialah lingkungannya. Ia akan tumbuh sesuai apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasa. Itu karena ia meniru apa yang terjadi disekitarnya. Dalam perkembangannya menuju masa remaja, ia akan mulai berfikir sebagai seorang manusia, mengapa ia hidup, dan pertanyaan lainnya. Maka, mulai lahir hingga remaja, diperlukan lingkungan yang baik dan pendampingan dari orang dewasa yang mengerti dan tau tentang tujuan komunitasnya. Sebagai generasi yang disiapkan untuk agamanya misalnya, ia perlu diarahkan untuk memahami agamanya secara utuh menyeluruh. Dengan demikian ia akan tumbuh sebagai generasi yang diandalkan untuk membela agama.

Karena Seorang anak akan merespon dari apa yang ia dengar, ia lihat dan yang ia rasa. Maka Ketika dilingkungannya terjadi banyak kesenjangan, maka jiwanya akan “memberontak”. Sayangnya, kebanyakan dari anak yang seperti ini terjerumus ke hal-hal negative. Contohnya, anak yang hidup dalam keluarga broken home, biasanya anak tersebut juga akan “bermasalah” dikemudian hari. Lalu, seorang anak yang lahir di keluarga yang baik – anti rokok misalnya — namun tak jarang dari mereka yang justru merokok bahkan mabuk-mabukan. Hal ini adalah akibat pergaulannya dengan teman atau lingkungan sekitar. Artinya, orang tua dan lingkungan yang baik adalah dua syarat minimal yang harus terpenuhi.

Apalagi, di zaman modern ini, keinginan-keinginan semakin mudah didapatkan bahkan secara instan. Hal-hal yang dulunya sulit, sekarang menjadi mudah, Yang dulu jauh, menjadi dekat, yang dulu dianggap salah kini biasa-biasa saja, bahkan yang dulu benar kini dianggap salah. Teknologi informasi dan komunikasi seperti televise, handphone android dan internet – yang banyak memuat hal-hal negative bagi anak — semakin mudah dijangkau karena telah merambah rumah tangga. Mungkin bagi orang tua, akses informasi dan alat komunikasi sangat penting. Namun bagi anak yang cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi dan belum paham banyak hal, alat-alat seperti itu justru akan menjerumuskannya kepada kesia-siaan. Buktinya, banyak anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktunya di depan televisi, main game, intrnetan, hingga membuka situs-situs terlarang. Hal ini selain karena kurang pengawasan, juga karena mudahnya mengakses hal-hal negative.

Kolaborasi 4 Pihak

            Tersebab itulah, perlu adanya kolaborasi yang kompak antar pihak-pihak bersangkutan untuk membentuk generasi yang diharapkan. Selain orang tua dan masyarakat (lingkungan) seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada dua pihak lagi yang mesti mendukung hal tersebut. Kedua pihak itu ialah Negara dan sekolah. Maka, 4 pihak inilah yang bertanggung jawab atas pembentukan generasi yang sesuai dengan harapan.

Pertama, pemerintah (Negara) sebagai pihak yang menyusun undang-undang berperan meminimalisir hal-hal yang tidak baik bagi remaja. Contohnya, Negara melalui menkominfo perlu mengeluarkan regulasi tentang konten-konten yang boleh maupun yang tidak boleh disiarkan oleh televisi, membuat aturan mengenai rokok, melakukan “sterilisasi” internet dan lainnya.

Kedua, masyarakat (lingkungan) mesti peduli atau tidak cuek terhadap lingkungannya. Dalam hal ini, tokoh masyarakat harus mampu mengarahkan lingkungan sekitarnya agar sesuai dengan anak-anak sebagai generasi penerus.

Ketiga, orang tua selayaknya telah menanamkan nilai-nilai yang baik sejak kecil dan mengawasi sang buah hati. seperti, memperhatikan gerak-geriknya, memberlakukan jam malam, jam belajar, waktu bermain, jadwal menonton, usia berapa ia diberi handphone dan kendaraan dan sebagainya. Hal ini penting untuk membentuk karakter anak dan membiasakan kebaikan dan kedisiplinan.

Keempat, guru sebagai pihak sekolah perlu berkonsultasi dengan orang tua sang anak dan membantu dalam mengajarkan adab, ilmu pengetahuan, dan turut mengawasi atau tak lepas tangan walaupun tidak di sekolah. Guru juga harus memberi contoh yang baik kepada peserta didiknya. Kemudian, pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan semestinya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kolaborasi 4 pihak diatas, yakinlah pembentukan generasi akan lebih mudah di capai. Dengan asumsi bahwa setiap pihak menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan posisinya masing-masing kemudian saling berkonsultasi dengan pihak lain. Dengan kata lain, mereka harus bergerak dengan kekompakan.

Jika hal ini bisa diimplementasikan, maka beberapa tahun setelah itu, bisa dipastikan, generasi yang diharapkan akan muncul sebagai pahlawan dan akan menyelamatkan bangsa dan agama ini dari keterpurukan. Maka, marilah kita ikut berperan sesuai dengan kapasitas kita demi tercapainya tujuan kita bersama.

Guru

Darimu awan, ku kenal hujan

Darimu malam, ku kenal bulan

Darimu lautan, ku kenal ikan

Darimu ibu, ku kenal kehidupan

Darimu ayah, ku kenal kebijaksanaan

Darimu kawan, ku kenal ketulusan

Darimu guru, ku kenal pengetahuan

Tentang arti kehidupan

Tentang alam semesta

Tentang berperilaku sopan

Engkau Mengusir kebodohan

Untukmu tuhan, terimakasih kuucapkan

Atas guru-guru yang kau kirimkan

Dan anugerah yang kau berikan

Sendiri

Rasanya ku ingin terbang

Menggapai bintang

Menyapa bulan

Lalu terjun ke lautan

 

Membujuk paus biru

Agar mencari pulau baru

Yang tak berpenghuni

Tanpa tikus-tikus berdasi

 

Aku ingin sendiri

Berteman dengan sepi

Bercengkrama dengan mentari

Lalu mati dengan senang hati

 

Daripada hidup berkawan sedih, kecewa

Di negeri yang kaya raya

Namun pejabatnya ahli korupsi

Rakyatnya tak peduli

Dengan nasib orang lain

The New KPK Waited By Big Homework

Friday 18/12/2015, Indonesian people have haven a new structure of komisipemberantasankorupsi (KPK). From 8candidate, Indonesian legislative assembly (DPR) have chosen 5 names. The names was chosen is new people in corruption organization. They are, sautsitumorang, laode Muhammad syarif, irjen (pol) basariapanjaitan, alexandermawartoandagusrahardjo. All of them will lead KPK for 5 years, namely from 2015 until 2020.

While that, 3 candidate who stretchered by KPK internal,busyromuqaddas, sudjornoko and johanbudi nothing chosen. Whereas, proviusly many people hope him to became a leader of KPK.BeCause he have experience as  important man in KPK.

But, Indonesian corruption watch (ICW) confuse that this new leaders can be better than leaders before it. They have a base, some elected leader have  redraports. Moreover, until now, some case is finished yet. Like century case and BLBI case. So, the new KPK was waited by big homework and have to hard word.

But, sautsitumorang, the elected leader of KPK answer this confusing “we should learn from what KPK did  until now. If we tell about fang sharper or not, certainly, we should compare between 1 and other. If not work yet, we not yet prove, our fang is sharp or not.”

Need society support

As citizenry, all of us hope they can  cleaningindonesiangoverment from corruptor and other bad job. So our duty is support them to reach our dream. Whitout society support, they will get difficulty to work goodly.

“society involvement can’t bargained. KPK is different with police or attorney. Cause, except taking measure, KPK also function to prevention. KPK can’t do it alone, but need a cooperation with all side.” Laode m syarif said.

No CompromiseFor Corruption

For a long time, especially since began OTDA (otonomidaerah) era, so many cases about corruption. Althought they have gotten punishment, but a lot of them can go around and corruptor did’n stop stealing society’s right.

So, the solution is don’t compromise with corruptor. Give them hardest punishment, like death punishment and maybe the country take all of their property, then, send them to prison. finally, we must compact to prevent other official corrupt again. Don’t give them a chance to do it.  Let’s clear and clean our country from corruptor, together.

Gawat, Indonesia Darurat Moral.!

Matahari januari belum genap sepuluh hari menyinari bumi indonesia. Namun itu sudah cukup untuk membuat masyarakat Indonesia kembali geleng-geleng kepala. Sebabnya, terkuaknya sindikat pencurian bagasi penumpang oleh petugas bandara, khususnyapetugasdari maskapai lion air. Bahkan, menurut salah satu tersangka, hal tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun hinggatelahmelahirkan “pemain-pemain senior”.(detik.com, 7/01/2016).*

Dengan terendusnya kejahatan ini, semakin membuktikan bahwa masyarakat indonesia sedang “cacat moral”. Berbagai tindak kejahatan terjadi disemua sektor. Pendidikan, kesehatan, transportasi, bahkan agama pun tak lepas dari tindakan penyelewengan. Apalagi hampir semua penyelewengan yang terkuak melibatkan banyak oknum.

Penyelewengan-penyelewengan juga tak hanya dilakukan kalangan atas atau kalangan politisi dan pejabat, namun juga rakyat biasa. Seperti sogok menyogok petugas pelabuhan, guru, bandara dan lainnya demi tujuan tertentu, sudah dianggap hal biasa. Di kalangan murid/siswa,kebiasaan contek menyontek secara massal, tawuran, bolos sekolah belum juga berhenti.

Sebenarnya, kejahatan-kejahatan tesebut adalah akibat dari terkikisnya moral masyarakat yang disebabkan jauhnya masyarakat dari agama. Masjid-masjid dan majelis agama seringkali sepi dari kaum muslim. Beda halnya dengan tempat-tempat hiburan, tempat rekreasi, pasar-pasar maupun mall yang semakin hari makin ramai.

Lebih daripada itu, hilangnya nilai-nilai dalam masyarakat yang materialistis dan individualis, mengakibatkan ketimpangan terjadi di mana-mana. Perayaan hari-hari besar seringkali menjadi ajang “buang-buang” duit, kontras dengan kondisi masyarakat yang melarat, pengemis, pengangguran dan pengamen di bawah umur. Semangat Gotong royong yang sebenarnya adalah identitas masyarakat indonesia semakin tak mendapat tempat di hati rakyat. Di lain pihak, antara pemerintah dan rakyat terdapat jurang pemisah yang semakin dalam. Kepercayaan publik terhadap para pemimpin memudar seiring banyaknya  pelanggaran yang dilakukan kalangan atas yang seringkali dilakukan secara “berjamaah”.

Sementara itu, sekolah-sekolah di indonesia belum mampu memberi solusi dan berfungsi selayaknya. Hingga saat ini, sekolah hanya menjadi tempat tranformasi ilmu belaka, tanpa ditopang dengan nilai-nilai sosial dan agama. Juga, kurikulum yang diterapkan dibanyak sekolah negara hanya berorientasi pada aspek meteri sehingga hanya melahirkan anak-anak yang materialistik. Sehingga kesuksesan seringkali diukur dari banyaknya materi yang dimiliki. Itulah salah satu penyebab banyaknya kasus korupsi selain nafsu yang tak terbendung dan bisikan setan. Para murid juga tak dibekali dengan pengetahuan agama yang memadai.

Kemudian, kontrol keluarga dan masyarakat (sosial control) juga semakin menghilang di masyarakat. Masyarakat terkesan acuh tak acuh dengan problem yang terjadi di sekitarnya. Hal ini semakin “membebaskan” para pelaku kejahatan untuk beraksi. Masyarakat hanya akan tersentak ketika hal yang tak diharapkan terjadi.

 

Jika Hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka bukan tidak mungkin jika dalam beberapa tahun ke depan, bangsa ini akan semakin berbeda dan jauh dari harapan para pendahulunya. Dampaknya, indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk muslim akan kehilangan identitasnya. Padahal kaum muslimin seluruh dunia tentu berharap banyak kepada bangsa besar ini.

Maka, sebelum moral bangsa ini benar-benar hilang, perlu adanya gerakan perbaikan bangsa, terutama kalangan generasi muda bangsa ini. Alasannya simpel, karena generasi muda adalah pelanjut estafeta perjuangan bangsa. Eksis tidaknya suatu bangsa dimasa yang akan datang dapat diukur dari kualitas generasi mudanya. Artinya, Rusaknya moral generasi muda akan berakibat fatal terhadap masa depan suatu bangsa.

PerbaikiPendidikan.!

Untuk menciptakan generasi yang baik danjuga “memutus” mata rantai mafia dan sindikat kejahatan dinegri ini,maka sektor pendidikan mesti diperbaiki. Karena dari sekolahlah akan muncul para penerus bangsa. Untuk itu, sudah saatnya pemerintah bertindak. Kurikulum untuk sekolah-sekolah  harus memperhatikan aspek spiritual peserta didiknya. Penanaman nilai-nilai agama benar-benar perlu diperhatikan. Hal ini untuk menguatkan keyakinan agama sehingga akan menjadi pencegah ketika mereka “berkesempatan” melakukan penyelewengan.

Setelah itu,  penyeleksian pendidik (guru) di sekolah-sekolah perlu diperketat dan diseriusi, tidak hanya memerhatikan aspek kecerdasan, namun juga pengetahuan agama yang memadai. Kemudian, Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti nepotisme harus segera dihentikan. sehingga akan muncul pendidik-pendidik yang profesional dan mampu menjadi contoh bagi murid-muridnya.namun, untuk menarik minat kaum terdidik agar mau menjadi guru, pemerintah setidaknya memerhatikan “kesejahteraan” guru. Sebab, Sudah selayaknya para guru (profesional) diberi apresiasi yang besar oleh negara. Walaupun tujuan menjadi pendidik bukan untuk mencari harta atau kekayaan, namun sekali lagi, sebagai bentuk apresiasi.

Setelah dua hal diatas dapat direalisasikan, sosial control harus terjalin dengan baik. Karena bagaimanapun, diera globalisasi seperti sekarang ini, melakukan kejahatan adalah hal yang sangat mudah. Jika masyarakat tetap cuek dengan sekitarnya, kejahatan-kejahatan-sekecil apapun-akanterlihatseolah-olah mendapat pembenaran. Sehingga akan dilakukan terus-menerus dan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Untuk itu, semua harus melibatkan diri, terutama “orang-orang rumah”. Alasannya, rumah adalah “sekolah pertama” bagi anak. Sehingga orang tua harusmenjaditeladandan memperhatikan moral anak-anaknya sejak dini. Ajarkan mereka tentang nilai-nilai yang baik.

Oleh karena itu, mari kita saling bergandengan tangan. Bersama, Ciptakan lingkungan yang kondusif dan jauh dari hal-hal negatif. Ciptakan hubungan harmonis dengan sekitar. Jadikan hidup kita lebih bermakna dengan kepedulian sosial. Cetak generasi penerus yang bermoral untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Wallahu a’lam bisshawab