bangun generasi dengan kolaborasi

Jika ada suatu hal yang harus dimiliki oleh sebuah komunitas, baik itu komunitas kecil seperti organisasi social, oganisasi massa, atau komunitas besar seperti suku, bangsa, agama atau sebuah Negara, maka itu adalah generasi.  Generasi mutlak harus dimiliki demi menjaga eksistensi suatu komunitas tersebut. Tanpa adanya generasi, maka keberlanjutan suatu komunitas di masa yang akan dating adalah mustahil.

Jangankan manusia, hewan pun perlu generasi demi menjaga eksistensi spesiesnya. Lihatlah dinosaurus, di zamannya, ia adalah predator unggulan yang punya kekuatan besar. Namun, pada akhirnya ia juga punah. Selain disebabkan factor alam, kurangnya generasi juga menjadi alasan. Selain itu, hewan-hewan yang yang terancam punah sekarang ini, biasanya adalah hewan-hewan yang membutuhkan waktu lama untuk berketurunan. Sementara hewan yang cepat bereproduksi cenderung aman-aman saja.

Tentunya, manusia tak sama dengan hewan. Itu karena hewan hidup hanya mengikuti naluri ilmiahnya saja dan hidup tanpa tujuan. Sementara manusia telah diberi nafsu atau potensi untuk berbuat baik atau buruk. Jika seorang manusia tidak dituntun kejalan yang benar, maka ia akan menjadi ancaman untuk sekitarnya. Lebih lanjut, manusia telah ditugaskan oleh tuhan untuk mengurus bumi ini dengan aturan yang telah di tetapkan-NYA. Maka membangun generasi yang sesuai yang dikehendaki tentu tidak gampang. Perlu strategi yang baik agar usaha kita membuahkan hasil.

Seorang anak (baca: generasi) yang terlahir kedunia ini akan terpengaruh oleh berbagai hal. Salah satu yang paling dominan ialah lingkungannya. Ia akan tumbuh sesuai apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasa. Itu karena ia meniru apa yang terjadi disekitarnya. Dalam perkembangannya menuju masa remaja, ia akan mulai berfikir sebagai seorang manusia, mengapa ia hidup, dan pertanyaan lainnya. Maka, mulai lahir hingga remaja, diperlukan lingkungan yang baik dan pendampingan dari orang dewasa yang mengerti dan tau tentang tujuan komunitasnya. Sebagai generasi yang disiapkan untuk agamanya misalnya, ia perlu diarahkan untuk memahami agamanya secara utuh menyeluruh. Dengan demikian ia akan tumbuh sebagai generasi yang diandalkan untuk membela agama.

Karena Seorang anak akan merespon dari apa yang ia dengar, ia lihat dan yang ia rasa. Maka Ketika dilingkungannya terjadi banyak kesenjangan, maka jiwanya akan “memberontak”. Sayangnya, kebanyakan dari anak yang seperti ini terjerumus ke hal-hal negative. Contohnya, anak yang hidup dalam keluarga broken home, biasanya anak tersebut juga akan “bermasalah” dikemudian hari. Lalu, seorang anak yang lahir di keluarga yang baik – anti rokok misalnya — namun tak jarang dari mereka yang justru merokok bahkan mabuk-mabukan. Hal ini adalah akibat pergaulannya dengan teman atau lingkungan sekitar. Artinya, orang tua dan lingkungan yang baik adalah dua syarat minimal yang harus terpenuhi.

Apalagi, di zaman modern ini, keinginan-keinginan semakin mudah didapatkan bahkan secara instan. Hal-hal yang dulunya sulit, sekarang menjadi mudah, Yang dulu jauh, menjadi dekat, yang dulu dianggap salah kini biasa-biasa saja, bahkan yang dulu benar kini dianggap salah. Teknologi informasi dan komunikasi seperti televise, handphone android dan internet – yang banyak memuat hal-hal negative bagi anak — semakin mudah dijangkau karena telah merambah rumah tangga. Mungkin bagi orang tua, akses informasi dan alat komunikasi sangat penting. Namun bagi anak yang cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi dan belum paham banyak hal, alat-alat seperti itu justru akan menjerumuskannya kepada kesia-siaan. Buktinya, banyak anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktunya di depan televisi, main game, intrnetan, hingga membuka situs-situs terlarang. Hal ini selain karena kurang pengawasan, juga karena mudahnya mengakses hal-hal negative.

Kolaborasi 4 Pihak

            Tersebab itulah, perlu adanya kolaborasi yang kompak antar pihak-pihak bersangkutan untuk membentuk generasi yang diharapkan. Selain orang tua dan masyarakat (lingkungan) seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada dua pihak lagi yang mesti mendukung hal tersebut. Kedua pihak itu ialah Negara dan sekolah. Maka, 4 pihak inilah yang bertanggung jawab atas pembentukan generasi yang sesuai dengan harapan.

Pertama, pemerintah (Negara) sebagai pihak yang menyusun undang-undang berperan meminimalisir hal-hal yang tidak baik bagi remaja. Contohnya, Negara melalui menkominfo perlu mengeluarkan regulasi tentang konten-konten yang boleh maupun yang tidak boleh disiarkan oleh televisi, membuat aturan mengenai rokok, melakukan “sterilisasi” internet dan lainnya.

Kedua, masyarakat (lingkungan) mesti peduli atau tidak cuek terhadap lingkungannya. Dalam hal ini, tokoh masyarakat harus mampu mengarahkan lingkungan sekitarnya agar sesuai dengan anak-anak sebagai generasi penerus.

Ketiga, orang tua selayaknya telah menanamkan nilai-nilai yang baik sejak kecil dan mengawasi sang buah hati. seperti, memperhatikan gerak-geriknya, memberlakukan jam malam, jam belajar, waktu bermain, jadwal menonton, usia berapa ia diberi handphone dan kendaraan dan sebagainya. Hal ini penting untuk membentuk karakter anak dan membiasakan kebaikan dan kedisiplinan.

Keempat, guru sebagai pihak sekolah perlu berkonsultasi dengan orang tua sang anak dan membantu dalam mengajarkan adab, ilmu pengetahuan, dan turut mengawasi atau tak lepas tangan walaupun tidak di sekolah. Guru juga harus memberi contoh yang baik kepada peserta didiknya. Kemudian, pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan semestinya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kolaborasi 4 pihak diatas, yakinlah pembentukan generasi akan lebih mudah di capai. Dengan asumsi bahwa setiap pihak menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan posisinya masing-masing kemudian saling berkonsultasi dengan pihak lain. Dengan kata lain, mereka harus bergerak dengan kekompakan.

Jika hal ini bisa diimplementasikan, maka beberapa tahun setelah itu, bisa dipastikan, generasi yang diharapkan akan muncul sebagai pahlawan dan akan menyelamatkan bangsa dan agama ini dari keterpurukan. Maka, marilah kita ikut berperan sesuai dengan kapasitas kita demi tercapainya tujuan kita bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s