Pesanku Untuk Anak Indonesia Di Masa Depan: Setinggi Apapun Prestasimu Dan Seburuk Apapun Nasibmu, Jangan Pernah Lupakan Sejarah Bangsamu

Hy, all of you, how are you? Fine kan. Baguslah. So, saya nulis artikel ini untuk kalian yang ngaku anak Indonesia. Tau nggak kalian tentang sejarah bangsa kita yang penuh dengan tragedi pilu, tentang aksi heroisme para pahlawan demi kemerdekaan yang sekarang kalian nikmati. Kejam banget kalau kalian sampe lupa, atau jangan-jangan kalian gak pernah belajar sejarah, atau mungkin sejarah udah dirubah lagi yah? Tau gak kalian kalau bung karno, presiden pertama kita yang hebat itu pernah bilang “jasmerah= jangan sekali-kali melupakan sejarah”.
Mungkin di antara kalian meresa pengetahuan tentang sejarah tuh udah gk penting. Gak di butuhkan di perusahaan, gak buat bangsa ini maju, gak berlaku lagi di zaman ginian. Atau belajar sejarah gak hasilin banyak uang yang artinya gak merubah hidup yang lagi melarat! Eh jangan salah kalian. Tahu sejarah itu banyak banget manfaatnya loh kawan! Asal kalian gak asal tahu, Cuma nyimpan di memori otak tapi gak pernah di analisis. Jadi gini yah, aku ngasi tau fungsi kita belajar sejarah. Pertama, sejarah itu sebagai motivasi, ya motivasi agar kita gak seperti dulu, motivasi agar kita gak ngulangin kesalahan yang sama. Trus kedua, solusi, jadi, kalau kita tau sejarah kita, kita bakal bisa memberi solusi terhadap permasalahan kita yang berangkat dari sejarah atau pengalaman bangsa kita. Ketiga sebagai petunjuk, ya gak jauh beda sih dengan kedua hal sebelumnya. Sejarah memberi petunjuk yang benar agar tak tersesat dan menyimpang dari tujuan para founding father bangsa besar ini. Yang terakhir atau keempat, sejarah berfungsi sebagai penasehat.
Dengan belajar dan tahu sejarah, bangsa kita tidak akan gegabah dalam suatu kebijakan. Gak sembrono dan gak ceroboh, ia mesti berkaca pada sejarah. Selain itu semua, mengetahui sejarah akan membuat kita bangga dengan bangsa kita, trus akan menumbuhkan rasa nasionalisme, jiwa pejuang dan jiwa-jiwa pemberani. Jadi,setinggi apapun prestasi yang kalian capai, yakinlah, itu gak bakalan tercapai jika dulu para pahlawan kemerdekaan gak ada. Dan bisa-bisa, kalian malah pergi ninggalin bangsa kalian dan mengabdi pada bangsa lain, padahal para pahlawan banyak yang berkorban nyawa agar anak cucunya—ya kalian—bisa bahagian dan tak menderita seperti mereka.
Tapi, seburuk apapun nasib kalian, jangan putus asa. Jika kalian baca sejarah, banyak banget leluhur kita yang hidupnya lebih sengsara, tapi mereka masih punya jiwa membara demi cita-cita mulia, merdeka. Jangan menyerah hanya karena tak punya rumah, biaya hidup mahal dan sebagainya. Tapi berjuanglah memerdekakan diri dari kebodohan, kemiskinan dan raih hidup sejahtera. Merdeka!

Iklan

Presiden Dalam Sehari, Provokasi aja ah.!

“jika kamu punya kesempatan mengganti pak jokowi dalam sehari, apa yang akan kamu lakukan demi Indonesia yang lebih baik.?”

                Hahaha, pertanyaan unik, menarik, ngawur tapi sulit dan menantang. Sehari adalah waktu yang singkat untuk menuntut perubahan dalam skala besar dan luas, sebesar Indonesia, seluas nusantara. Wow.  Perubahan perlu waktu, sehari tak akan cukup. Tapi sebagai seorang presiden, mungkin sehari cukup untuk memulai dan memacu perubahan. Walau hasilnya belakangan. Jadi kalau misalnya, pak jokowi tiba-tiba nunjuk saya (hahaha, kenal aja nggak) mengggantikan beliau, apa yang mesti saya lakukan. Blusukan? Gak ah, indonesia terlalu besar untuk didatangi, paling-paling waktu lebih banyak di jalan dan Cuma ngabisin uang. Reshuffle kabinet? Gak perlu, menteri sekarang berkualitas kok,hehe, tunggu waktu aja. Trus mau ngapain?, gak takut loe kalau di akhirat nanti ditanyain ma tuhan “Faruq, apa yang kamu akukan ketika menjadi presiden, pertanggung-jawabkan kepemimpinanmu!”, masa saya jawab,”maaf tuhan, waktu saya Cuma sehari, Cuma bisa di pake minum kopi di pantai bali, coba setahun-dua tahun, pasti saya gunakan dengan baik.”  (jadi kemana-mana dah bahasannya).

Yah, kalau saya benar-benar dipercaya jadi presiden selama sehari, saya hanya gunakan untuk memprovokasi. (ha, mau revolusi?) gak kok. Jangan salah paham dulu. Provokasi yang saya maksud adalah provokasi yang positive. Pertama, setelah dilantik, saya akan mengumpulkan pejabat pemerintah tingkat atas dan militer, mulai dari menteri, DPR, Polri, TNI, kemudian memprovokasi mereka agar bersatu. Jangan saling sikut-sikutan, tengkaran apalagi korupsi uang rakyat. Karena persatuan pangkal kedamaian. Saya juga akan membahas masalah pendidikan. Utamanya pendidikan karakter atau revolusi mental, itu perlu dimaksimalkan. Memprovokasi mereka agar membuat undang-undang yang pro-rakyat, yang memajukan pribumi. Setelah itu, saya akan menuju GBK. Bukan buat nonton bola! Saya akan pidato di sana. Tapi sebelumnya, saya meminta seluruhs tasiun televisi menyiarkan pidato saya. (itung-itung, buat ngenalin wajah saya yang gagah dan suara saya juga keren, hahaha). Bagaimana pun, kekuatan sebuah Negara itu pada rakyatnya. Kalau Negara mau maju, rakyat harus maju duluan.

Di GBK, saya akan memprovokasi pendengar yang di stadion dan yang lagi takjub di depan televise melihat saya. (udah mulai mimpi nih). Saya akan bilang bahwa persatuan adalah harga mati untuk kemajuan. Mengajak masyarakat untuk bersatu, menggalakkan kembali budaya yang mulai hilang, budaya gotong royong. Kemudian, saya akan memprovokasi rakyat agar menjadi pribadi terdidik. Menegaskan bahwa saatini,  pemerintah punya program revolusi mental dan tak akan sukses jika rakyat tak pro-aktiv. Selanjutnya saya menjelaskan bahwa antara guru, orang tua, tokoh masyarakat serta masyarakat seluruhnya harus saling bersinergi untuk membentuk karakter generasi bangsa. Control social harus dibangun. Provokasi selanjutnya saya khususkan kepada para pemuda bangsa. Bahwa di tangan merekalah nasib bang saini di masa depan. Bahwa pemerintah butuh pemuda-pemudi berkarakter untuk memajukan negeri. Pemuda jangan sampai terjebak oleh narkoba. Dan jangan mau mati sebelum berkarya dan berprestasi. Yang paling akhir saya memprovokasi pejabat Negara dari tingkat RW hingga Gubernur untuk menjadi teladan dan serius mengurus rakyat, terutama masalah persatuan dan pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal.

Harapannya, dengan pidato saya, rakyat mendidih darahnya, terpacu otaknya dan mulai bergerak untuk menyongsong perubahan dengan caranya masing-masing. Kemudian para pemuda meledakkan dirinya dengan prestasi dan karya, bukan dengan bom. Hahaha. (ngomong sih gampang).

2 Hal Yang Saya Takutkan Di Masa Depan

 

Dosen saya pernah bilang bahwa dalam melihat gunung, ada tiga jenis manusia. Yang pertama, mereka yang takjub dengan gunung tersebut. Berbicara tentang keindahannya. Tapi mereka hanya sampai di situ saja, mereka hanya di bawah. Tak berani mendaki ke puncak gunung, bahkan membuat mereka yang ingin mendaki menjadi pesimis karena kata-kata mereka. Mereka sudah merasa puas hanya dengan melihat.

Jenis kedua adalah mereka yang berani mendaki namun tak sampai puncak. Ketika telah mencapai setengah gunung, mereka sudah merasa berhasil. Puas dengan pencapaiannya. Mereka tak sabar menikmati hasil mendaki-nya, walau belum sampai puncak, mereka sudah puas dan tak lagi kepengen ke atas. Jenis orang seperti ini adalah terlalu cepat menikmati hasil.

Yang ketiga, mereka yang tak pernah berhenti hingga mencapai puncak. Mereka punya semangat tinggi melebihi tinggi gunung. Mereka tak akan puas sebelum menggapai puncak. Bahkan mereka mencari gunung yang lebih tinggi untuk didaki, untuk ditaklukkan.

Begitu jugalah dengan sikap manusia ketika menempa diri dan berprestasi. Jenis pertama adalah tipe karyawan, yang kedua tipe menajer, yang ketiga tipe owner. Nah, itulah yang saya takutkan dimasa depan. Saya takut menjadi tipe pertama dan kedua. Saya takut gampang menyerah dan cepat puas. Itulah musuh orang sukses. Padahal puncak masih jauh, kita sudah puas dengan hasil yang kita capai, walaupun bagi orang lain posisi kita sudah fantastis, tapi sebenarnya kita bisa lebih fantastis lagi.

Hal kedua yang saya takutkan di masa depan adalah meninggal sebelum berkarya dan berprestasi. Yah, banyak di antara kita yang terlalu lama menunggu untuk berkarya. Segudang alasan kita lontarkan.paling sering masalah usia. Yang muda bilang,”tenang, masih banyak waktu, kita masih muda.” Dan yang tua bilang,”kita ini sudah tua, tinggal persiapan mau bertemu tuhan, berkarya tuh untuk para pemuda yang masih kuat, sehat.”. Yang lain beralasan tidak ada kesempatan. Sibuk dan lain-lain. Akhirnya, selama hidup tak ada yang ditinggalkan. Tak ada jejak. Masih mending gajah yang meninggalkan gading. Akibatnya, keturunannya tak tau kalau mereka ber-moyang dia. Lha, mau kenal gimana, taka da jejak yang ditinggalkannya. Coba lihat Imam Ghazali, Ibnu Sina, Plato, Aristoteles. Mereka udah lama mati, tapi masih sering disebut-sebut sekarang. Mereka seolah-olah masih hidup. Mengapa? Karena mereka berkarya dan berprestasi. Karena mereka meninggalkan jejak. Kita kapan.? Jangan sampai keturunan kita tak tau siapa kita.!