2 Hal Yang Saya Takutkan Di Masa Depan

 

Dosen saya pernah bilang bahwa dalam melihat gunung, ada tiga jenis manusia. Yang pertama, mereka yang takjub dengan gunung tersebut. Berbicara tentang keindahannya. Tapi mereka hanya sampai di situ saja, mereka hanya di bawah. Tak berani mendaki ke puncak gunung, bahkan membuat mereka yang ingin mendaki menjadi pesimis karena kata-kata mereka. Mereka sudah merasa puas hanya dengan melihat.

Jenis kedua adalah mereka yang berani mendaki namun tak sampai puncak. Ketika telah mencapai setengah gunung, mereka sudah merasa berhasil. Puas dengan pencapaiannya. Mereka tak sabar menikmati hasil mendaki-nya, walau belum sampai puncak, mereka sudah puas dan tak lagi kepengen ke atas. Jenis orang seperti ini adalah terlalu cepat menikmati hasil.

Yang ketiga, mereka yang tak pernah berhenti hingga mencapai puncak. Mereka punya semangat tinggi melebihi tinggi gunung. Mereka tak akan puas sebelum menggapai puncak. Bahkan mereka mencari gunung yang lebih tinggi untuk didaki, untuk ditaklukkan.

Begitu jugalah dengan sikap manusia ketika menempa diri dan berprestasi. Jenis pertama adalah tipe karyawan, yang kedua tipe menajer, yang ketiga tipe owner. Nah, itulah yang saya takutkan dimasa depan. Saya takut menjadi tipe pertama dan kedua. Saya takut gampang menyerah dan cepat puas. Itulah musuh orang sukses. Padahal puncak masih jauh, kita sudah puas dengan hasil yang kita capai, walaupun bagi orang lain posisi kita sudah fantastis, tapi sebenarnya kita bisa lebih fantastis lagi.

Hal kedua yang saya takutkan di masa depan adalah meninggal sebelum berkarya dan berprestasi. Yah, banyak di antara kita yang terlalu lama menunggu untuk berkarya. Segudang alasan kita lontarkan.paling sering masalah usia. Yang muda bilang,”tenang, masih banyak waktu, kita masih muda.” Dan yang tua bilang,”kita ini sudah tua, tinggal persiapan mau bertemu tuhan, berkarya tuh untuk para pemuda yang masih kuat, sehat.”. Yang lain beralasan tidak ada kesempatan. Sibuk dan lain-lain. Akhirnya, selama hidup tak ada yang ditinggalkan. Tak ada jejak. Masih mending gajah yang meninggalkan gading. Akibatnya, keturunannya tak tau kalau mereka ber-moyang dia. Lha, mau kenal gimana, taka da jejak yang ditinggalkannya. Coba lihat Imam Ghazali, Ibnu Sina, Plato, Aristoteles. Mereka udah lama mati, tapi masih sering disebut-sebut sekarang. Mereka seolah-olah masih hidup. Mengapa? Karena mereka berkarya dan berprestasi. Karena mereka meninggalkan jejak. Kita kapan.? Jangan sampai keturunan kita tak tau siapa kita.!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s