Bangkit Bersama Buku

 

Oleh: Muh faruq Al-Mundzir

Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu buku mampu menembus ratusan bahkan jutaan kepala. (Sayyid Qutub)

Kata-kata yang menarik bukan. Begitulah kekuatan buku menurut sang tokoh dari mesir tersebut. Maka tidak berlebihan jika dengan buku, peradaban bisa dilahirkan. Bahkan sejarah pun mengamininya. Tengok lah sejarah peradaban. Romawi kuno, Islam Bahkan barat. Peradaban ketiganya selalu berawal dari buku yang memuat pikiran-pikiran dan ilmu pengetahuan para tokohnya masing-masing. Plato, Sokrates, Pitagoras, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Ghazali, Al-Khawarizmi, Immanuel Kant, Rene Descartes, Nietcze, Karl Max adalah sederet contoh tokoh yang ada dibalik lahirnya peradaban tersebut. Dari mana kita mengetahui mereka, jawabannya dari buku- buku yang mereka tulis. Lihat hasilnya, hadirnya buku das kapital oleh Karl max (walau dibukukan oleh kawannya) telah melahirkan gelombang besar umat manusia yang dikenal dengan kaum komunis. Hanya dengan satu buku, seluruh dunia tahu pikiran kita. Tahu ide-ide besar kita.

Hal di atas adalah salah satu bukti betapa besarnya pengaruh buku. kecuali itu, buku juga merupakan neraca ilmu pengetahuan dan kondisi sosial sebuah daerah. Baik itu kota, provinsi, pulau bahkan negara dan benua. Maka dari informasi yang diperoleh dari buku, seseorang mampu memberi solusi, memberi penilaian, memberi petunjuk dan sebagainya. Maka tidak salah jika buku sangat bisa dijadikan alat untuk bangkit. Untuk membangun sebuah negara yang sejahtera. Dengan buku pula sebuah negara bisa menunjukkan identitas dan eksistensinya. Lihatlah negara-negara maju saat ini. Buku sudah menjadi ciri khas mereka. Bagaimana dengan negara kita tercinta, Indonesia? Baru ini sebuah laporan dari Cental Connecticut State Univrsity (2016) yang menempatkan indonesia di posisi 60 dari 61 negara yang diteliti (Bandung Mawardi, Opini, Jawa Pos, 23 April 2016).

Sementara itu, penelitian sebelumnya tentang jumlah buku yang terbit setiap tahun di sejumlah negara, Indonesia juga terseok di lantai – hanya menerbitkan kurang dari 18.000 judul buku setahun – dalam urutan tersebut. Jepang, yang penduduknya kalah jauh dari kita saja menerbitkan 40.000 judul, India 60.000 lalu China mencapai 140.000 judul buku dalam setahun (kompas.com, Jumlah Terbitan Buku di Indonesia Rendah). Sebagai bangsa besar, sungguh hal tersebut cukup memalukan. Bangsa kita hanya menang kuantitas, tapi kalah dalam kualitas. Relakah kita larut dalam keadaan seperti ini? Lalu, apa yang mesti dilakukan?.

Rendahnya minat baca adalah salah satu faktor minimnya tulisan (baca: buku) yang lahir dari tarian jari anak bangsa. menurut penelitian, orang indonesia yang suka membaca hanya 0,001 persen. Artinya, hanya 1 dari 1000 orang indonesia yang gemar membaca.Padahal, sudah menjadi rahasia umum bahwa membaca adalah salah satu syarat memiliki tulisan yang berpengaruh dan menyentuh. Membaca oleh kebanyakan bangsa kita dianggap sebagai kegiatan belajar yang menjenuhkan, bukan sebagai suatu kesenangan. Jadinya, membaca menjadi beban yang dijauhi. Belum lagi kecendrungan masyarakat postmodern yang lebih senang memelototi gadget berjam-jam dibanding mengeja kata. Para remaja lebih sibuk saling berbalas pesan, memberi komentar dan nge-like di medsos yang membanjiri gadget mereka. Akhirnya, aktivitas mereka terbuang sia-sia. Buku-buku tak tersentuh. Perpustakaan-perpustakaan yang semakin menggeliat tak menarik minat. Era digital benar-benar melenakan anak bangsa.

Di lain pihak, banyak yang suka membaca namun tak berani menulis. Alasannya beragam. Mulai tak mampu merangkai kata, malu kalau tulisannya tak bagus, tak punya waktu hingga alasan klasik, tunggu, masih banyak waktu alias nunda-nunda waktu. Akibatnya, wawasan luas yang mereka miliki hanya tersimpan di kepala. Ketika pergi, pergi pula ilmunya. Terbuang sia-sia. Padahal jika saja mereka menulis, tentu akan abadi dan menjadi sumbangan yang pahalanya mengalir terus menerus walau jasad telah cerai dengan ruh. Apalagi, saat ini telah hadir sebuah aplikasi yang akan membantu para penulis pemula agar tulisannya sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD). Aplikasi tersebut adalah super layouter yang bisa didapatkan melalui situs www.layoutbuku.com.Semoga dengan hadirnya aplikasi semacam ini akan membuat kita semakin semangat dan percaya diri untuk menulis isi otak kita. Sehingga memengaruhi orang lain untuk berubah atau setidaknya menginspirasi banyak orang.

Terakhir, mari mengambil peran dalam membangun identitas bangsa melalui buku. Mari membaca, memahami, mengonstruksi lalu menulis kembali. Tularkan budaya membaca kepada generasi bangsa. Didik para anak agar bersahabat dengan buku-buku yang baik. Ayo, berani menulis. Mulai, mulai, mulai. Berani memulai.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s