Ketika Pasrah Berbuah Hidayah

Masa-masa SMA adalah masa-masa yang penuh kenangan. Setidaknya begitu kata orang. Pun begitu denganku. Di masa SMA-ku, aku termasuk siswa yang keras kepala, egois dan suka dengan ‘sensasi’.

Karena aku sekolah di sebuah madrasah ‘aliyah yang berada dalam lingkungan pesantren, aku merasa terkekang oleh banyaknya peraturan yang ada, apalagi menurut otak kritisku, peraturan-peraturan tersebut tak ‘masuk akal’. Seperti larangan ke warnet dan belajar siang-malam. Menurutku, internet adalah suatu kebutuhan di era ini. Aku selalu berargumen bahwa Rasul telah bersabda ‘didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka tak hidup di zamanmu’. Dalil ini bagiku menunjukkan bahwa umat islam harus menyesuaikan dengan perubahan dunia. Walaupun ustadz beralasan larangan itu bertujuan agar kami terjaga dari hal-hal negatif yang sangat rentan jika kita ke warnet. Mengenai belajar siang-malam, bagiku hal tersebut akan membebani otak dan otak juga perlu istirahat.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menunjukkan kenakalan-kenakalan yang bagiku wajar sebagai remaja yang emosi-nya masih labil. Aku berteman dengan santri-santri yang juga sepertiku, keras kepala. Maklum, kebanyakan mereka adalah anak-anak yang telah terkontaminasi dengan lingkungan luar yang bebas. Bagi kami, masuk pesantren adalah kesalahan fatal. Untung saja, aku dilahirkan dan dididik dalam keluarga yang agamis. Maka, aku punya rambu-rambu dan prinsip sendiri dalam melanggar. Aku punya batasan, seperti tak merokok, tak pacaran dan tak mencuri. Walaupun teman-temanku rata-rata perokok berat.

Masuk kelas dua SMA, aku telah mendapat stigma negatif dikalangan guru lantaran banyaknya pelanggaran yang membuat kepalaku terus digundul. Bahkan hari pertama di kelas dua ku lalui dengan berdiri di depan barisan santri lama dan santri baru juga para ustadz yang baru saja selesai upacara. Bodohnya lagi, aku dijemput sendiri oleh guru sekaligus kepala asrama, sebutlah namanya pak Jo, ia datang demi mengadili-ku di depan santri, maka saat itu aku berdiri dengan pakaian biasa (tak memakai seragam sekolah) bersama dua terdakwa lainnya. Pelanggaran kami adalah main playstation ketika liburan semester dua. Aku benar-benar seperti terpidana mati yang sebentar lagi akan di eksekusi. Aku benar-benar malu. Terutama pada santri baru. Hari pertama mereka rusak oleh penggundulan kepalaku. Hari itu, aku di vonis mendapat surat peringatan ke-dua (SP 2). Artinya, sekali melanggar lagi, aku akan dikeluarkan.

Sayangnya, vonis tersebut sama-sekali tak mempengaruhiku. Aku sama sekali tak berfikir untuk melanggar lagi dan lagi. Aku justru menganggap tindakan ‘mempermalukan’ku di depan publik sebagai surat tantangan oleh ustadz untukku. Sejak itu, aku berjanji tidak akan ketahuan lagi dalam pelanggaran selanjutnya.

Akhirnya, kelas dua SMA ku lalui dengan bersih. Aku benar-benar tak lagi ketahuan walau berkali-kali keluar malam. Berkali-kali ke warnet atau ke PS. Peringatan dari teman-temanku ku anggap angin lalu. Bahkan tak jarang aku membuat lelucon dengan mengolok para guru yang menurutku tak lebih cerdik dariku. Terkait ‘kesombongan’ku, temanku – yang juga selalu melanggar—selalu berkata, “sepandai-pandainya tupai melompat, pada akhirnya akan jatuh juga”. Ungkapan tersebut biasanya ku jawab, “makanya jangan melompat bro”. Jawaban tersebut diiringi tawa kemenanganku.

Selama periode tersebut, aku selalu merasa berada di tepi jurang. Kena sentuhan sedikit saja, aku akan jatuh. Para guru seakan-akan telah melabeliku dengan label suram. Entah sudah berapa kali aku hampir ketahuan. Namun aku selalu saja lolos. Masuk kantor untuk diceramahi, dimarahi, bahkan diancam telah menjadi bagian dari keseharianku di pesantren. Aku tahu bahwa para guru telah menaruh curiga denganku. Mereka hanya butuh bukti yang cukup untuk segera membuatku ‘angkat tas’ alias minggat dari pesantren ini. Karena bagi mereka, keberadaan santri sepertiku bagaikan benalu atau yang lebih parah adalah seperti virus mematikan. Jika tak disingkirkan, akan menulari yang lain. Tapi seperti yang sudah ku bilang, aku adalah ‘penjahat’ yang lumayan cerdik. Mungkin seperki ‘WonderKid’ dalam komik Conan Edogawa.

Waktu terus berjalan sesuai sunnatullah. Ia sama sekali enggan untuk kembali. Waktu tak melihat apa yang manusia lakukan. Baik atau buruk sama sekali bukan urusannya. Tugasnya hanya ‘berlari’ kedepan dan pernah mundur. Walau kadang tersebab itu manusia justru sadar. Sadar akan waktunya yang semakin pendek. Sebuah kesadaran yang biasanya merubah hidup seseorang. Namun itu tidak sepenuhnya berlaku bagiku. Walau kadang iya, aku tetap tak berubah.Akibatnya, ketika penerimaan rapor, aku bersama dua teman lainnya, naik kelas dengan status percobaan. Jika selama satu semester kedepan tak ada perubahan signifikan, maka kami akan dikembalikan ke kelas dua. Entah kenapa, aku sama sekali tak takut dengan ancaman tersebut. Padahal sekitar tiga bulan sebelumnya, salah seorang temanku dikeluarkan karena ketahuan main PS sambil merokok, dua perbuatan yang sangat dilarang di pesantren ini. Memang seolah telah menjadi kutukan kalau ‘kaum’ seperti kami tak banyak yang keluar dari pesantren ini dengan status ‘lulus’. Kebanyakan di drop out atau keluar sendiri. Bahkan selama aku di sini, selalu saja ada korbandari kelas tiga. Padahal jadwal ujian nasional kurang dua bulan lagi. Tapi hal itu sama sekali tak dihiraukan oelh para guru. Hukum tetap berlaku walau dalam keadaan bagaimanapun.

Setengah tahun telah ku lewati sebagai siswa kelas tiga. Tak ada perubahan berarti dari sikap ku, juga kedua kawanku. Akhirnya, para guru sepakat mengembalikanku di kelas dua. Kau tahu kawan, aku menyambutnya dengan tawa. Bagiku, hukuman  tersebut adalah konsekuensi dari sikapku. Sejujurnya, aku—walau keras kepala—jika diberi hukuman, aku selalu menerimanya dengan lapang dada, walau kadang aku juga kesal, dengan begitu, aku merasa sportif. Sebaliknya, dua temanku yang juga di ‘turun-kelaskan’ tak terima. Namun setelah ku bujuk, satu dari mereka akhirnya terpengaruh. Satu lainnya benar-benar tak terima tapi malah menyalahkan guru. Maka, ia tetap belajar bersama kelas tiga yang teman se-angkatan kami.

Hari demi hari kami lewati tanpa merasa ada beban. padahal status kami sangat kritis. Terancam tak ikut ujian nasional yang artinya kami harus menunggu setahun lagi di pesantren ini dengan bayang-bayang hukuman dan cap ‘nakal’ yang seolah telah terstempel di jidat kami.

Keegoisan dan kokonyolan sikap kami akhirnya membuat kami ‘berkantor’ lagi. Tepatnya di panggil ke kantor oleh kepala sekolah untuk diceramahi lalu berjanji tak akan mengulangi lagi. Jika ketahuan sekali lagi, kami berjanji akan rela dikeluarkan. Janji kedua yang harus kami ucapkan adalah bahwa kami akan berubah dan akan mengikuti aturan sekolah seperti belajar, halaqah dan lainnya. Tapi dasar  ‘berkepala batu’, aku tak goyah. Janji tersebut menurutku bukan dariku, aku hanya melakukan apa yang diperintahkan.

Akhirnya, hanya berselang 38 jam setelah diancam, aku kembali melanggar, ke warnet bersama seorang temanku. Sialnya, aku ketahuan oleh seorang petugas keamanan. Otakku berputar cepat, memikirkan cara agar aku tak masuk kantor lagi. Maka kukelabui sang petugas tersebut lalu aku lari. Pada saat itu, aku benar-benar yakin bahwa kisahku di pesantren tamat saat itu juga. Aku yakin akan dikeluarkan. Pada saat itulah aku merasakan puncak kegalauan selama hidup. Pulang sama sekali tak ada dalam rencanaku selanjutnya. Aku sangat maludengan keluargaku jika mereka tahu. Aku benar-benar malu. bahkan aku sempat berfikir untuk bunuh diri. Untungnya, aku masih sangat percaya dengan tuhan. Apalagi pendidikan agama yang tertanam sejak kecil belum sepenuhnya hilang. Maka kuputuskan untuk kabur dari pesantren dan pergi sejauh-jauhnya. Kukemasi barang-barangku lalu ku simpan di sebuah bangunan yang biasa kami tempati untuk sembunyi. Aku tinggal menunggu biaya untuk bisa memuluskan rencana ‘brilian’ku. Berhari-hari aku tak menampakkan diri di depan para guru. Paling-paling hanya dapur tempat ramai yang biasa ku hadiri. Itupun jarang dan selalu sembunyi-sembunyi.

Rupanya, rencanaku ketahuan oleh seorang ustadz. Entah siapa yang memberitahu beliau. Ia kemudian melapor ke ibuku. Maka ketika suatu kali aku tak sengaja bertemu, ia menyapa lalu berkata bahwa ibuku ingin bicara. Akhrnya aku bicara dengan ibuku yang mendengar bahwa aku akan lari. Di seberang telepon, ibuku menangis tersedu-sedu menasehatiku. Aku membantah kalau aku ingin lari. namun tetap saja itu tak merubah apa-apa. Beliau memintaku agar bertahan di pesantren walau harus menunggu setahun lagi. Sementara aku sendiri yakin kalau aku sudah di drop out. Maka beliau memintaku agar pulang saja jika memang benar begitu.

Sore harinya, aku memberanikan diri menghadap kepada kepala sekolah. Aku meminta penjelasan mengenai statusku. Tentang apakah aku masih dianggap santri atau sudah menjadi mantan santri. Aku benar di marahai waktu itu. Kupingku panas mendengan ocehan-ocehan sang kepala sekolah. Entah darimana asalnya, kepala sekolahku berfikir bahwa aku sengaja melanggar agar segera dikeluarkan karena sudah tak tahan plus bosan berada di lingkungan pesantren.

“Enak betul kamu mau keluar gitu aja” kata sang kepala sekolah ketika itu. Aku hanya menunduk sambil tersenyum geli. “Darimana pula ia berfikir begitu” pikirku. Aku memang pengen keluar, tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku hanya akan keluar jika diizinkan oleh orang tuaku yang sebenarnya tak mungkin.

“Kalau kamu pengen keluar, kamu harus bayar biaya selama di sini. Biaya makan, listrik, air dan asrama , kamu kira itu gratis? Totalnya 12 juta.” ujar sang KepSek.

“Iya pak, akan saya bayar.” Aku, yang tak mau kalah berkata sambil beranjak. Gayaku benar-benar mirip anak Bill Gates. Padahal saat itu, selembar uang pun aku tak punya.

“Eh, enak betul antum, bayar sekarang. Kalaupun kamu lari, akan saya tagi ibu dan bapakmu. Kamu mau mau mereka susah gara-gara kamu, hah!!” Suaranya meninggi. Aku kembali duduk. “Rupanya, kabar tentang rencana kaburku telah ia dengar dan yakini.” Gumamku dalam hati.

“Tapi kalau kamu mau berubah, saya beri satu kesempatan lagi untukmu. Kamu tidak saya keluarkan tapi tidak ikut UN tahun ini.” Katanya. Mendengarnya, aku merasa lega dan bersyukur. Tak kusangka aku mendapat kesempatan kedua. Aku tau bahwa sikapku sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alasan untuk di-drop out. Tapi mungkin, para guru takut jika aku benar-benar kabur.

Singkat cerita, ku terima kebijakan tersebut dengan lapang dada. Aku benar-benar mulai berubah karena terkesan dengan sikap guruku. Kini, aku mulai rajin mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan. Tapi tetap saja stigma negatif orang-orang tentangku tidaklah hilang begitu saja. Aku sudah terlanjur dicap ‘nakal’. Ku maknai hukuman tersebut dengan yakin bahwa inilah yang terbaik buatku. Aku berusaha ikhlas menerima keputusan berat ini. Bahwa Allah Yang Maha Bijaksana tidak ingin aku keluar dari pesantren tanpa ada bekas kebaikan. Maka ku katakan kepada temanku bahwa aku tidaklah gagal. Bagiku, Allah SWT menghendaki ini bukan untuk menghukumku. Tapi, Allah SWT memberiku waktu setahun lagi untuk mengambil ancang-ancang agar mampu meloncat lebih jauh dan lebih tinggi dibanding jika aku keluar sekarang.

Seolah belum cukup dengan ‘penderitaanku’, aku kembali ‘berkantor’. Kali ini  karena terlibat perkelahian. Sebabnya, seorang teman se-angkatanku kehilangan HP lalu menuduhku sebagai pelakunya. Karena aku termasuk santri yang punya kelompok, mereka mandatangiku ketika aku sedang sendiri. Saat itu, dua orang dari mereka memukulku. Tentu saja keadaan tidak seimbang ini membuatku kalah telak. Kemarahanku memuncak saat itu. Sebelumnya aku belum pernah berkelahi dengan siapapun kecuali saat kelas 3 SD. Aku termasuk orang yang tak ingin membuat masalah dengan teman.Sebagai seorang remaja yang emosinya masih labil, aku menantang balik dan menginginkan battle yang sportif dan jantan. Single. Namun ia menolak.

Ternyata kabar tersebut sampai ke telinga ustadz. Semua yang terlibat di panggil. Saat itu, aku tidak berusaha membela diri walau si lawanku justru menyalahkanku. Aku hanya mengiyakan walau tak benar. Aku tak ingin memperburuk suasana. Saat itu, sang KepSek lagi-lagi membahas tentang keputusannya tidak mengikutkanku UN. Katanya, keputusan tersebut sudah final. Apalagi karena kasus anyarku ini. Aku cuman pasrah. Aku bahkan sudah sangat siap untuk tinggal di sini setahun lagi.

Sore menjelang maghrib, kawanku berkata bahwa ia siap berduel kembali. Maka aku menyambut dengan antusias. Ketika di WC, aku belajar menendang. Celakanya aku justru terjatuh karena lantai WC tersebut cukup licin. Akibatnya, pelipisku pecah. Seorang guru membawaku ke rumah sakit. Aku merasa sang guru terlalu baik kepadaku padahal selama ini aku selalu menjadikannya bahan olokan, makian dan cacian ketika ngumpul bersama teman-temanku. Aku kembali tersadar. Ternyata selama ini aku benar-benar buruk. Ku sesali perbuatanku yang dulu. Aku benar-benar merasa bersalah. Sepulang dari rumah sakit, aku menyalami teman yang memukulku dan berusaha memaafkannya walau sangat berat.

Hari demi hari berlalu. Hari-hari yang kulewati untuk memperbaiki diri. Hingga tibalah hari H-1 UN. Seperti biasa, ketika UN berlangsung, siswa kelas 1 dan 2 diharuskan mengikuti outbond atau camping. Maka sebagai siswa kelas dua, aku pun ikut. Walaupun aku malu karena tinggal kelas, aku sudah tak berharap para guru membatalkan keputusannya terkait keikut-sertaanku dalam UN. Aku pasrah, menyerahkan segalanya kepada tuhan. Tapi, malam harinya, sehabis  sahalat isya di hutan tempat camping, seorang ustadz yang mendampingi kami memanggilku bersama seorang temanku yang bernasib sama.

“kalian mau ikut UN kah.?” Tanya sang guru.

“Iya ustadz, tentu!” temanku menjawab cepat. Aku mengamini.

“tapi ada syaratnya!” katanya.

“Kalian harus lenjut disalah satu perguruan tinggi milik organisasi ini.” Sang guru melanjutkan. Aku berfikir sejenak. Kami tahu kalau pesantren ini punya banyak jaringan. Termasuk tiga perguruan tinggi yang di bawahi oleh pesantren. Belum sempat aku berfikir matang, temanku langsung mengiyakan. Lagi-lagi aku mengamini sambil membayangkan masa kuliahku yang juga di pesantren. Sejujurnya, aku sudah merasa bosan tinggal di pesantren. Apalagi, jurusan yang terdapat di perguruan tinggi tersebut bukanlah jurusan yang ku rencanakan. Tapi, aku memutuskan untuk menerimanya. Aku hanya berfikir positive bahwa aku memang belum pantas tinggal di lingkungan luar yang sangat bebas. Aku yakin bahwa inilah rencana tuhan untukku. Akhirnya malam itu, aku kembali ke pesantren. Setiba di pesantren, teka-teka mengenai mengapa para guru berubah pikiran secepat ini terjawab. Rupanya, seorang temanku yang juga tak diikutkan UN sangat tak terima. Ia memang menolak ketika ku ajak ikut camping bersama kelas 1 dan 2. Ia malah pergi ke rumah seorang guru lalu menangis bagai seorang hamba yang minta pengampunan tuhan. kabarnya lagi, ia juga mengancam Kepala Sekolah kami untuk melapor ke kemenag. Maklum, ibunya adalah pegawai kemenag. Sang kepsek kelabakan. Ia lalu menggelar rapat dadakan malam itu. Keputusannya, kami boleh ikut UN dengan syarat melanjutkan studi di Perguruan Tinggi milik organisasi.

Esok harinya, aku mengikuti UN yang ditakutkan banyak siswa indonesia itu. Alhamdulillah, aku, juga seluruh temanku dinyatakan lulus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Ketika Pasrah Berbuah Hidayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s