BUKU, Tak Asal Baca.!

Di sebuah kamar

“Wan, coba kamu lihat nih berita!”

“Berita apa sih, kok heboh betul?”

“Ini loh, salah satu Ulama terkenal di negeri ini bilang kalau umat islam boleh memilih pemimpin Non-Muslim!”

“terus kenapa?”

“Maksudnya?”

“Menurut seorang pemikir Muslim, semua agama itu sama aja, semua mengajarkan kebenaran dan akarnya juga sama, dari Agama Ibrahim, jadi perbedaaan Agama itu tak lebih seperti perbedaan Madzhab dalam Islam”

“Ah, nagawur kamu, siapa yang bilang tuh?”

“ Aku baca di buku, bukunya bagus dan argumentatif”

Akhirnya pecahlah perdebatan dikamar tersebut.

Cerita di atas hanyalah ilustrasi tentang besarnya pengaruh yang ditimbulkan dari sebuah buku. Sebuah buku bisa menjadi penyesat namun juga penyelamat, tergantung siapa dan bagaimana isi buku tersebut. Itulah salah satu problem besar kaum muslimin saat ini. Banyaknya pemikiran sesat yang dituang dalam bentuk buku menjadi ganjalan tersendiri bagi umat. Karena ditulis dengan gaya ilmiah, umat sering terkecoh dengan argumen-argumen yang terlihat menarik bahkan seolah-olah fakta.

Maka, seorang Muslim pembaca seharusnya terlebih dahulu telah mengerti tentang pemikiran islam secara baik dan jeli dalam memilih dan memilah buku. Jika pun membaca buku para intelektual Muslim yang pemikirannya nyeleneh, Muslim pembaca seharusnya punya rasa kritis terhadap buku yang dibacanya lalu diimbangi dengan buku-buku lainnya. Dengan demikian, buku-buku yang mengandung hal-hal yang dapat menyesatkan tidak diterima secara ‘telanjang’, namun terimbangi dengan buku-buku lainnya. Lebih dari pada itu, seorang pembaca mesti bisa memahami isi buku, lalu mengkonstruksi isi buku bahkan menulis buku baru yang mengkritik atau menguatkan buku tersebut. Jika hal tersebut bisa diterapkan, tentu akan lahir penulis-penulis baru yang memiliki pandangan berbeda dan bisa menjadi benteng aqidah Muslim lainnya.

Terlebih lagi bagi seorang anak yang belum memahami agama secara sempurna. Alih-alih menambah ilmu, namun justru jatuh ke jurang kesesatan karena buku yang dibacanya menuntun kejalan kesesatan. Sebaliknya, jika bukunya sesuai syariat, tentu akan mengantarkannya pada pemahaman yang baik tentang Islam, adab, dan kehidupan. Lihatlah Imam Syafi’i, seorang ulama besar, walau masih berumur belasan tahun, ia telah membaca dan memahami kitab Al-Muwaatta’ karya Imam Malik yang spektakuler pada masa itu. Hal tersebut tentu memiliki andil terhadap kepakarannya dalam agama.

Maka, dalam kasus ini, orang tua, guru, juga da’i mesti terlibat dalam memilihkan buku yang baik. Alasannya sederhana, karena otak (memori) seorang anak masih ‘kosong’, maka orang tua lah yang akan mengisinya dengan berbagai hal, buruk atau baik, termasuk buku bacaan apa yang dipilihkannya untuk sang buah hati. Wallahu ‘alam Bishshawwab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s