Berislam secara kaaffah

Saya agak sedikit tersenyum ketika membaca tulisan Prof. Dr. Zainal Abidin M.Ag. Di kolom opini koran ini. Artikel tersebut berjudul ”negara islam vs nkri” (radar sulteng. 23/06/2016). Dalam artikel tersebut sang prof secara singkat berusaha membandingkan antara negara islam dan NKRI. Dalam membahas islamic state (negara islam) beliau menyatakan bahwa era madinah di mana rasulullah masih hidup dan menjadi pemimpin kaum muslimin beliau tidak membangun negara islam hanya negara madinah. Katanya tidak di sebutkan negara islam dalam piagam madinah.

Tentu pernyataan tersebut tergesa-gesa. Tidak di sebutkannya negara islam dalam piagam madinah tidak lantas menjadi bukti bahwa negara tersebut bukan negara islam. Mungkin secara implicit kata “negara islam” tak tercantum namun hakekatnya aturan dan prinsip-prinsip dalam negara tersebut berangkat dari nilai-nilai islam.

Selanjutnya secara tersirat sang penulis berkesimpulan negara islam bukanlah solusi untuk muslim di indonesia. Selain itu beliau menyiratkan pesan bahwa negara islam tak cocok dengan NKRI yang pluralis atau memiliki banyak agama yang berbeda. Katanya indonesia bukan hanya milik muslim. Namun demikian beliau tak banyak menjelaskan bagaimana sebenarnya islamic state itu?

Dewasa ini ketika mendengar negara islam orang cenderung “ketakutan”. Mungkin bisa di pahami bahwa hal tersebut ialah bias dari hal-hal buruk yang terjadi dalam negeri-negeri muslim seperti terorisme isis dll. Kondisi tersebut diperparah oleh pemberitaan yang tidak seimbang dari berbagai media. Akhirnya stigma negative tentang islam terbentuk di kalangan masyarakat luas. Padahal jika mereka mau menelusuri lebih jauh tentu akan didapati pemahaman yang benar.

Untuk menjadi sebuah negara yang dikatakan islam sebuah negara tidak mesti menyebutkan secara eksplisit kata “negara islam” akan tetapi yang lebih penting ialah menerapkan system atau konsep-konsep islam dalam kehidupannya. Misalnya tak perlu menamai negara islam indonesia agar bias dikatakan sebagai negara islam. Karena boleh jadi hal itu hanya klaim namun tak sesuai dengan islam. Akan tetapi jikalau seandainya konsep islam diterapkan oleh negara yang tak memakai kata-kata negara islam tentu secara tidak langsung hakekat negara tersebut adalah negara islam seperti yang tercermin pada masa madinah.

Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh yang maha semprna allah swt. Hal tersebut di kabarkan allah dalam surah al-maidah ayat 3. Maka seorang yang mengaku muslim mestinya mengamalkan islam secara sempurna pula atau dalam bahasa agama disebut kaaffah sebagaimana disebutkan dalam surah al-baqarah ayat 208 “masuklah islam secara kaaffah”.  Itulah mengapa islam disebut sebagai “jalan/cara hidup” (way of life). Islam adalah agama komplit dan sesuai fitrah manusia. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali telah ada aturan yang diberlakukan oleh islam bahkan masuk (maaf) wc pun islam telah mengaturnya. Termasuk juga dengan konsep bermasyarakat dan bernegara.

Konsep islam dalam bermasyarakat adalah konsep yang berdasarkan keadilan dan kemaslahatan manusia seluruhnya bukan hanya untuk kaum muslimin. Hal tersebut dibuktikan dengan fakta sejarah. Ketika rasulullah masih memerintah di madinah beliau tetap bermuamalah (bergaul) dengan kaum yahudi bahkan hingga menjadi orang yang member makan seorang yahudi buta setiap hari. Setelah rasulullah wafat giliran abu bakar yang menggantikan peran rasulullah dalam memberi makan yahudi tua tersebut. Kemuudian di masa umar beliau membebaskan jerussalaem tanpa pertumpahan darah setetes pun. Ketika ali menjadi khalifah pun juga terjadi pelajaran berharga saat itu ali mengklaim seorang yahudi telah mengambil baju perangnya yang terjatuh namun sang yahudi tak mengakuinya. Ketika mereka berdua di hadapkan kepada hakim sang hakim justru memenangkan si yahud. Apakah saat itu ali marah? Tidak sama sekali. Ia bahkan memuji si hakim yang tegas walaupun terhadap orang yang menganngkatnya sekalipun.

Masih banyak kisah serupa yang di contohkan para pemimpin muslim tentang bagaimana bermuamalah dengan umat lain dalam negara islam. Makanya ketika islam memimpin peradaban dunia menjadi damai. Umat lain yang berda dalam kekuasaaan islam berasa aman dan damai walau mereka minoritas.

Kisah-kisah tersebut tentu menjadi pembelaan bahwa islam adalah agama damai dan rahmatan lil’alamin serta menjadi bukti bahwa penerapan konsep islam bukan untuk kepentingan muslim semata akan tetapi untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.

Selanjutnya penyataan pak prof yang juga perlu diklaririfikasi ialah bahwa rasulullah saw menanamkan jiwa nasionalisme dalam kaum muslimin madinah dan bukan semangat berislam.

Pernyataan tersebut tentu kurang tepat. Pasalnya jiwa nasionalisme sebenarnya adalah implikasi dari diterapkannya konsep islam itu sendiri. Dalam islam seorang yang mati karena melindungi haknya termasuk mati dalam keadaan syahid. Sedangkan negara (wilayah muslim) dalam konsep islam adalah hak kaum muslim. Artinya seorang muslim semestinya melindungi hak-haknya sendiri bahkan jika perlu di tukar dengan nyawa. Hal tersebutlah yang tampaknya membuat para sahabat terlihat nasionalis madinah.

Maka secara tidak langsung seorang muslim yang benar pasti akan mencintai dan melindungi hak-hak nya termasuk negara mereka. Sikap tersebutlah yang di tontonkan oleh para ulama yang menjadi pahlawan bangsa. Mereka berjuang mengusir penjajah dengan gigih dengan semangat islam dan karena mengamalkan islam.

Adapun NKRI sama sekali bukan masalah. NKRI adalah hasil perjuangan bapak-bapak bangsa demi menjaga kesatuan. Konsep-konsepnya pun banyak yang berangkat dari prinsip islam walau belum sepenuhnya. Bahkan dalam pancasila pun banyak kata-kata yang mencerminkan islam.

Kesimpulan

Dari tulisan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa jika yang dimaksud dengan negara islam oleh pak Prof adalah hanya sekedar mengganti nama negara menjadi negara islam indonesia tentu hal tersebut bukanlah solusi. Akan tetapi jika yang dimaksud dengan negara islam itu adalah konsep islam yang di terapkan negara pasti hal tersebut adalah solusi terbaik karena konsep-konsep islam bukan demi kepentingan muslim semata namun demi kepentingan umat manusia seluruhnya. Karena islam adalah rahamatan lil’alamin. Wallahu a’lam bishshawab.

Sedia Payung Sebelum Hujan

Jika anda membaca judul headline koran ini ( Radar Sulteng sabtu 25/06/2016),  yang mengabarkan tentang sejumlah siswa di surabaya yang menukar pil koplo dengan layanan seks, anda pasti akan geleng-geleng kepala. Itu jika anda benar-benar peduli dengan generasi bangsa. Kabar yang diberi judul “Siswa Smp Barter Pil Koplo Dengan Hubungan Intim” tersebut tentunya semakin menambah panjang deretan kasus kejahatan yang diaktori oleh siswa di indonesia. Tentu hal tersebut adalah “bahaya” bagi identitas bangsa yang di kenal beradab ini.

Sebelum-sebelumnya pun media-media cetak maupun elektronik telah banyak  memuat kasus-kasus serupa. Misalnya kasus pelajar SD yang memerkosa anak di bawah umur, Arisan seks pelajar, pesta miras Dll. Di medsos pun banyak beredar foto-foto pelajar yang berpose dengan rokok atau miras. Mereka dengan bangga memamerkan “kejahatan” mereka tanpa ada rasa bersalah. Padahal remaja-remaja saat inilah yang di proyeksikan akan memimpin indonesia tepat saat usianya yang ke seratus (seabad). Maka perlu langkah cerdas dan tepat demi mempersiapkan calon pemimpin tersebut.

Walaupun kasus-kasus tersebut terjadi di kota-kota besar yang jauh dari sulteng bukan berarti rakyat Sulteng khususnya Palu tidak perlu khawatir. Sebaliknya kita mesti intropeksi dan memeriksa kondisi anak dan remaja di kota yang kita cintai ini. Karena bukan tidak mungkin jika hal seperti itu juga terjadi di sekitar kita namun belum terekspose atau mungkin benih-benihnya sedang tumbuh di sekitar kita. Kalaupun belum Ada bisa jadi lima atau sepuluh tahun mendatang kasus tersebut juga terjadi di kota ini jika kita tidak bertindak mulai sekarang.

Bersinergi

            Dalam membentuk karakter seorang anak, seluruh pihak perlu bersinergi. Hal tersebut demi hasil yang maksimal. Utamanya orang tua sebagai ‘sekolah’ pertama bagi anak harus benar-benar memberi pelajaran dan memberi contoh kepada sang buah hati. Tidak hanya mendidik secara intelektual, namun juga membangun mental spiritual sang anak. Apalagi masa-masa usia emas (golden Age, 1-5 tahun) yaitu saat-saat seorang anak-anak merekan segala yang ia lihat yang ia dengar. Jika hal-hal yang terekam dalam memorinya adalah hal-hal baik maka potensi untuk menjadi pribadi baik juga besar dan berlaku sebaliknya.

Tahapan selanjutnya ialah ketika seorang anak memasuki masa sekolah hingga remaja. Masa-masa inilah yang biasanya menjadi penilaian sukses tidaknya pendidikan pra-sekolah yang diberikan orang tua. Masa-masa ini pula yang membuat banyak orang tua yang kelabakan melihat perilaku anaknya.

Memang masa-masa sekolah dan remaja adalah masa-masa yang krusial. Karena masa inilah anak mulai bersentuhan dengan lingkungan dan teman-teman baru. Juga hal-hal baru, teknologi misalnya. Ditambah lagi dengan saat-saat anak memasuki masa-masa pubertas.

Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar pihak-pihak terkait. Orangtua semestinya tidak berhenti mendidik sang anak walau telah bersekolah. Walau hanya dengan nasehat-nasehat kecil. Atau paling tidak menjaga komunikasi dengan sang anak. Selain itu orang tua mesti intens berkomunikasi dengan guru dan sebaliknya guru pun mesti banyak-banyak mengkomunikasikan murid kepada orang tuanya. Sehingga masing-masing pihak tak bekerja sendiri-sendiri yang berpotensi terjadi benturan antara pendidikan yang diberikan di rumah dan di sekolah. Juga agar tak ada lagi percekcokan antara guru dan orang tua siswa seperti yang sudah-sudah.

Hal yang tak kalah penting adalah lingkungan atau masyarakat. Karena bukan rahasia lagi jika lingkungan juga memiliki Andil besar terhadap pembentuan karakter. Karena tentu, tak selamanya anak terus berada di rumah ataupun di sekolah. Apalagi remaja yang “sosialis” yang sering menghabiskan waktu besama kawan dengan nongkrong dan aktivitas lain di luar rumah. Maka  seluruh anggota masyaraat khususnya pemuka-pemukanya seperti ketua RT, Ustadz, Guru Imam Dll mesti pro-aktif dalam mengontrol lingkungannya. Jangan sampai kita cuek bebek terhadap perilaku anak dan remaja sekitar kita dan baru menyesal ketika hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

Pihak terakhir yang juga harus melibatkan diri adalah pemerintah. Keterlibatannya bias di tunjukan dengan membuat perda-perda yang  berkaitan. Kemudian aparat negara seperti kepolisian yang saat ini sebenarnya sudah terlihat peduli dengan merazia tempat-tempat yang mencurigakan seyogyanya tetap konsisten dan meningkatkan skill serta memperluas jangkauannya. Namun bukan hanya merazia namun juga memberi pendidikan kepada yang terjaring. Bahkan yang tidak.

Proses pendidikan tersebut jika dilakukan dengan komitmen kuat insya allah akan melahirkan generasi-generasi tangguh, teguh, dan patuh terhadap nilai-nilai kebaikan. Syaratnya semua pihak mesti bersinergi. Kecerobohan dan ketidakkompakan salah satu pihak bias berakibat fatal. Seperti yang di ungkapkan seorang Hillary Clinton “ butuh orang sekampung untuk membentuk karakter seorang anak”. Semoga kota ini bisa memberi jawaban terhadap polemik yang tengah dialami bangsa besar ini.  Wallahu a’lam bishshawab.