Sedia Payung Sebelum Hujan

Jika anda membaca judul headline koran ini ( Radar Sulteng sabtu 25/06/2016),  yang mengabarkan tentang sejumlah siswa di surabaya yang menukar pil koplo dengan layanan seks, anda pasti akan geleng-geleng kepala. Itu jika anda benar-benar peduli dengan generasi bangsa. Kabar yang diberi judul “Siswa Smp Barter Pil Koplo Dengan Hubungan Intim” tersebut tentunya semakin menambah panjang deretan kasus kejahatan yang diaktori oleh siswa di indonesia. Tentu hal tersebut adalah “bahaya” bagi identitas bangsa yang di kenal beradab ini.

Sebelum-sebelumnya pun media-media cetak maupun elektronik telah banyak  memuat kasus-kasus serupa. Misalnya kasus pelajar SD yang memerkosa anak di bawah umur, Arisan seks pelajar, pesta miras Dll. Di medsos pun banyak beredar foto-foto pelajar yang berpose dengan rokok atau miras. Mereka dengan bangga memamerkan “kejahatan” mereka tanpa ada rasa bersalah. Padahal remaja-remaja saat inilah yang di proyeksikan akan memimpin indonesia tepat saat usianya yang ke seratus (seabad). Maka perlu langkah cerdas dan tepat demi mempersiapkan calon pemimpin tersebut.

Walaupun kasus-kasus tersebut terjadi di kota-kota besar yang jauh dari sulteng bukan berarti rakyat Sulteng khususnya Palu tidak perlu khawatir. Sebaliknya kita mesti intropeksi dan memeriksa kondisi anak dan remaja di kota yang kita cintai ini. Karena bukan tidak mungkin jika hal seperti itu juga terjadi di sekitar kita namun belum terekspose atau mungkin benih-benihnya sedang tumbuh di sekitar kita. Kalaupun belum Ada bisa jadi lima atau sepuluh tahun mendatang kasus tersebut juga terjadi di kota ini jika kita tidak bertindak mulai sekarang.

Bersinergi

            Dalam membentuk karakter seorang anak, seluruh pihak perlu bersinergi. Hal tersebut demi hasil yang maksimal. Utamanya orang tua sebagai ‘sekolah’ pertama bagi anak harus benar-benar memberi pelajaran dan memberi contoh kepada sang buah hati. Tidak hanya mendidik secara intelektual, namun juga membangun mental spiritual sang anak. Apalagi masa-masa usia emas (golden Age, 1-5 tahun) yaitu saat-saat seorang anak-anak merekan segala yang ia lihat yang ia dengar. Jika hal-hal yang terekam dalam memorinya adalah hal-hal baik maka potensi untuk menjadi pribadi baik juga besar dan berlaku sebaliknya.

Tahapan selanjutnya ialah ketika seorang anak memasuki masa sekolah hingga remaja. Masa-masa inilah yang biasanya menjadi penilaian sukses tidaknya pendidikan pra-sekolah yang diberikan orang tua. Masa-masa ini pula yang membuat banyak orang tua yang kelabakan melihat perilaku anaknya.

Memang masa-masa sekolah dan remaja adalah masa-masa yang krusial. Karena masa inilah anak mulai bersentuhan dengan lingkungan dan teman-teman baru. Juga hal-hal baru, teknologi misalnya. Ditambah lagi dengan saat-saat anak memasuki masa-masa pubertas.

Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar pihak-pihak terkait. Orangtua semestinya tidak berhenti mendidik sang anak walau telah bersekolah. Walau hanya dengan nasehat-nasehat kecil. Atau paling tidak menjaga komunikasi dengan sang anak. Selain itu orang tua mesti intens berkomunikasi dengan guru dan sebaliknya guru pun mesti banyak-banyak mengkomunikasikan murid kepada orang tuanya. Sehingga masing-masing pihak tak bekerja sendiri-sendiri yang berpotensi terjadi benturan antara pendidikan yang diberikan di rumah dan di sekolah. Juga agar tak ada lagi percekcokan antara guru dan orang tua siswa seperti yang sudah-sudah.

Hal yang tak kalah penting adalah lingkungan atau masyarakat. Karena bukan rahasia lagi jika lingkungan juga memiliki Andil besar terhadap pembentuan karakter. Karena tentu, tak selamanya anak terus berada di rumah ataupun di sekolah. Apalagi remaja yang “sosialis” yang sering menghabiskan waktu besama kawan dengan nongkrong dan aktivitas lain di luar rumah. Maka  seluruh anggota masyaraat khususnya pemuka-pemukanya seperti ketua RT, Ustadz, Guru Imam Dll mesti pro-aktif dalam mengontrol lingkungannya. Jangan sampai kita cuek bebek terhadap perilaku anak dan remaja sekitar kita dan baru menyesal ketika hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

Pihak terakhir yang juga harus melibatkan diri adalah pemerintah. Keterlibatannya bias di tunjukan dengan membuat perda-perda yang  berkaitan. Kemudian aparat negara seperti kepolisian yang saat ini sebenarnya sudah terlihat peduli dengan merazia tempat-tempat yang mencurigakan seyogyanya tetap konsisten dan meningkatkan skill serta memperluas jangkauannya. Namun bukan hanya merazia namun juga memberi pendidikan kepada yang terjaring. Bahkan yang tidak.

Proses pendidikan tersebut jika dilakukan dengan komitmen kuat insya allah akan melahirkan generasi-generasi tangguh, teguh, dan patuh terhadap nilai-nilai kebaikan. Syaratnya semua pihak mesti bersinergi. Kecerobohan dan ketidakkompakan salah satu pihak bias berakibat fatal. Seperti yang di ungkapkan seorang Hillary Clinton “ butuh orang sekampung untuk membentuk karakter seorang anak”. Semoga kota ini bisa memberi jawaban terhadap polemik yang tengah dialami bangsa besar ini.  Wallahu a’lam bishshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s