Ayah, I Love U

Aku gelisah, resah. Mengguling kesana-kemari. Bukan karena hari ini aku baru saja dimarahi kepala sekolah dan di ancam tak dinaikkan kelas jika aku tak berubah, tapi karena saat ini, aku sedang menyaksikan si jago merah menghabisi sebuah rumah berdinding papan. Di samping kiriku, berdiri ibu, ia menangis tersedu, menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya dengan pemandangan yang sedang ia saksikan. Aku tegang. Lima meter dari kami, ayah sedang berlari kencang, lantas menerobos masuk ke rumah tersebut.

Tiga menit…….ayah belum juga muncul. Sementara api kian ganas. Asap tebal membumbung tinggi. Warga semakin panik. Berusaha memadamkan api dengan cara apapun yang mereka pikirkan.

“Astaga…..Tuhan, tolong selamatkan ayah dan adikku.” Gumamku. Air mata mulai menetes.

Lima menit………

Tujuh menit……waktu terasa melambat. Ibu kini memelukku. Ia pasti khawatir dengan ayah dan adikku yang belum juga muncul.

Dua belas menit………

“Ibu…..Kak Reza.” Terdengar suara memanggil. Lamat-lamat aku mendengarnya. Aku mencari sumber suara. Lima belas meter dari kami (aku, ibu dan adik pertamaku), Santi, dituntun seorang ibu Dina, tetanggaku, sedang mencari, menoleh kesana-kemari sambil menangis. Ibuku langsung lari menyusul, memeluk adikku erat-erat. Lantas teringat sesuatu.

“Ayahmu mana nak?”

“Pak Mukhtar telah di bawa ke rumah sakit bu, beliau tadi keluar lewat pintu belakang dang langsung meyerahkan Santi sebelum jatuh pingsan.” Ibu Dina yang menjawab, kemudian mengelus punggung ibuku, seakan berkata “Sabar ya.”

Tak butuh waktu lama, ibu langsung bangkit. Menggendong Santi.

“Reza, antar ibu ke rumah sakit. Kasian ayahmu nak.” Ibu berkata sambil terisak. Aku berpikir cepat. Kemuadian berlari kecil, meminjam motor.

Dua puluh menit kemudian, kami telah sampai di rumah sakit terdekat. Tanpa memarkir rapi, kami langsung berlari, tak menghiraukan petuga parkir yang kini berteriak protes. Kami buru-buru. Menuju UGD. Bertanya tentang pasien yang baru tiba. Sang petugas menunjukkan kami kamar tempat ayah sedang dirawat. Namun, kami tah diperbolehkan masuk. Ibu cemas, sangat cemas. Bibirnya tak pernah berhenti mengaharap kepada Tuhan.

Kamudian…….

“Rez, kenapa kau Reza?” aku mendengar suara. Tubuhku berguncang. Aku terbangun, dengan peluh yang membasahi tubuhku. Ah, ternyata Rehan, teman sekamarku yang membangunankan.

“Kau mimpi buruk lagi Rez?” Tanya Rehan memastikan.

“Iya, Han, mimpi itu lagi, aku trauma, aku yang menyebabkan kebakaran itu.”

“Itu kan sudah lima tahun lalu Rez, lagian Ayahmu masih selamat, walau lumpuh. Itu masih lebih baik dari yang tak pernah merasakan kasih sayang ayah.” Rehan menasehati, seperti biasa. Aku tak begitu peduli dengan kata-katanya. Sekarang, aku meraih handphone dan langsung menelpon. “Ah, di angkat.” Gumamku senang.

“Reza, sudah jam dua satu gini kamu belum tidur, nanti di sekolah ngantuk loh.” Suara di seberang sana langsung berujar.

“Ah, ayah, besokkan minggu.” Aku menggantung kalimatku, lalu melanjutkan. “Ayah, I love u.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s