My Teacher My Inspiration

“Ha, Apa, masa iya.? Kamu serius?” Tanyaku kaget. Heri, di ujung telepon terdengar terisak. “Serius Al, Aku dapat kabar dari Wawan, katanya dia sedang diperjalanan kesana. Pokoknya kita harus datang.” Tegas Heri.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.” Ucapku, mulai terisak. Aku, yang kini sedang duduk dibelakang meja kerjaku langsung bangkit. Beberapa rekan memandangku heran. ‘Kenapa pula  si Aldi menangis’, mungkin begitu piker mereka. Aku tak peduli, yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana sampai di rumah Pak Bahar secepatnya. Beliau adalah guruku sekaligus inspirasiku. Melalui beliaulah, Tuhan menurunkan hidayah-Nya.

………..

Ceritanya bermula ketika aku melanjutkan study SMA. Saat itu, aku adalah siswa yang bandel, sulit diatur. Aku ke sekolah hanya sebagai pelarian. Setidaknya aku bisa lebih bebas berekspresi, tanpa diketahui ayahku yang sangat tegas. Itupun, aku sering bolos. Dan yang paling keren, menjadi anggota geng paling ditakuti di sekolah. Memasuki tahun kedua, aku tak banyak berubah walau nilaiku banyak yang merah, bahkan hampir semua. Namaku termasuk yang diblacklist. Tapi bukannya menyesal. Aku justru bangga. Bagiku, hal tersebut menjadi bukti kalau aku pemberani. Berani menentang aturan yang bagiku tak masuk akal, terutama untuk remaja. Aku tidak begitu peduli dengan nilai, apalagi stigma orang terhadapku. Prinsipku, “lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, jangan biarkan orang lain mengendalikanmu”, it’s looking cool boy. Guru-guruku angkat tangan. Berulangkali aku dipanggil ke kantor, di ceramahi, dibotaki, dipermalukan di depan siswa-siswi lain, hingga dicambuk. Namun, hal tersebut justru membuatku kebal dan makin galak. Itu semua ku anggap “The challenge letter”.

Pada akhirnya, aku dikeluarkan dari sekolah. Ayahku murka, ibuku sedih hingga nyaris pingsan. aku? Sangat menyesal. Namun hanya hari itu. Segalanya kembali dihari kedua, saat my geng menemuiku. Aku kembali nongkrong dengan mereka, menghabiskan waktu dengan berfoya-foya. Entah berapa jam yang kuhabiskan percuma. Dengan alasan kebersamaan dan kebebasan, kami bertindak semaunya. Hingga, ayahku memutuskan untuk memasukkanku ke sebuah pesantren.

Aku diantar kesana. Sebelum meninggalkanku, ayah berpesan banyak hal. Menceramahiku panjang lebar. Mungkin cukup untuk dua kali khutbah Jum’at. Setelah itu, ayahku pulang. Sementara aku dituntun menuju asrama oleh calon pengasuhku.

Asrama tersebut berlantai dua, terbuat dari papan. Mungkin papan kayu ulin. Kelak, kuketahui kalau lantai bawah digunakan untuk makan. Sehari di pesantren, aku mulai percaya dengan kata-kata Riswan, teman se-geng-ku yang mengaku pernah nyantri.

“Ha, beneren boy, loe dimasukkan ke pesantren? You will dead!” begitu respon Riswan ketika itu, saat ku kabari aku akan masuk pesantren.

“Why bro, seburuk apa sih pesantren itu?” Tanyaku penasaran

“Wah, buruk banget lah boy, makan hanya dengan sepotong tempe atau tahu, kadang telur dadar tipis bagai kertas, transparan boy, nyuci sendiri, semuanya sendiri, pokoknya loe bakal kabur deh.” Jawab Riswan menakut-nakutiku. Aku ciut.

“But…loe kan suka challenge ya? Tepat sekali, pesantren is good challenge to conquer.? Fight boy!!.” Sela Febri memotivasi.

Mendengarnya, aku tersentak, di mana jiwa-jiwa “sombongku” selama ini. Masa hanya gara-gara masuk pesantren aku takut?.

“Okey, I will prove to you all, aku gak bakalan kabur. I promise, kecuali kalau dikeluarin lagi, hahaha” kataku.

“Licik loe Al, gak kasian loe ma orang tua. Loe mesti berubah lah!!” Arif, temanku yang paling alim menasehati. Aku sedikit tersadar. Hanya sedikit.

………..

Kini, dua bulan ku lalui di pesantren. Belum banyak yang berubah dari diriku. Aku malah berteman dengan Heri, orang nomor satu dalam hal kebandelan, walau tak separah teman-teman lamaku. Aku juga belum pernah melakukan pelanggaran serius. Paling banter aku kesulitan bangun sholat subuh dan banyak ketiduran di kelas.

Hingga…..

“Boy, keluar yuk!” Ajak Heri

“Mau ngapain Her?” tanyaku penuh selidik

“Yahh, Refreshing men, you don’t bore here?”

“Yes I am, but….bagaimana kalau…”

“Just do it bro. jangan takut, aku udah senior masalah ginian.”

Kamipun pergi. Menuju daerah perkebunan warga. Ternyata Heri mengajakku merokok bareng, salah satu pelanggaran berat di pesantren ini. Setelah itu, ia memanjat pohon mangga dan mulai menjatuhkan buah masaknya. Kami menyantapnya bersama.

“Punya siapa ini boy.” Tanyaku

“Punya manusia lah boy, kayak detektif aja loe nanya-nanya.” Jawab Heri santai

“I’m serious men”

“Yeah, and that is the serious answer………hahaha, punya pak Bahar, Guru matematika kita.”

“Oh, kalau ketahuan gimana boy.?”

“Jangan berfikir ketahuan lah boy”

Tiba-tiba…..

“Eh Heri, Lagi ngapain Her” Pak Bahar, yang ternyata sudah ada di belakang kami bertanya. Kami terkejut. Tanpa berkata apa-apa, Heri lari pontang-panting. Aku mengikutinya.

Dua hari setelah itu, kami tak pernah muncul di hadapan pak Bahar, selalu menghindar dari pandangannya, walau ia di kenal baik di kalangan santri, kami takut, malu tepatnya. Ketika ku ceritakan peristiwa itu kepada Wawan, ia menenangkan.

“Kalau pak Bahar sih, loe gak usah takut, beliau itu guru paling baik. Paling disiplin, liat aja, beliau paling cepat datang ke sekolah, cara mengajarnya pun baik, gak pernah marah, sabar banget. Dan dekat dengan siswanya. Waktunya tuh mungkin habis buat mikirin kita-kita. Kamu tau Sawir, waktu dia sakit, beliau tuh yang ngurusin semuanya, administrasinya, gizinya and other. Padahal Sawir tuh nakal banget. Masuk kelas Cuma tidur, apalagi pelajaran matematika. Pokoknya………”

“Al, Kita di panggil Pak Bahar.” Heri datang terburu-buru dengan wajah tegang.

“Jadi gimana nih.” Kataku.

“Don’t be Afraid guys.” Wawan meyakinkan.

Akhirnya kami menghadap Pak Bahar. Ia mengajak kami ke rumahnya dengan sepeda motornya. Bonceng tiga, maklum, rumahnya tak begitu jauh.

Rumah Pak Bahar tak begitu besar, sangat sederhana. Halamannya dipenuhi bebungaan. Kami dipersilahkan masuk di ruang tamu. Tulisan “Teacher is expectation” “The future of it’s country in teacher hand” “Guru, mendidik dengan karakter”. Di sebelah kanan, sebuah rak dengan koleksi-koleksi buku yang beragam ikut menghiasi.

2 menit berlalu…

“Mau di apakan kita boy?” Aku membuka percakapan

“Mana aku tau, liat aja sebentar, apapun itu, you must accept, responsible.”

Kemudian…..

Pak Bahar datang dengan sebuah baki besar. Di atasnya telah tersedia tiga cangkir teh, dua toples kue dan…….dua piring daging mangga yang telah di potong-potong. Aku terkesan. Pak Bahar meletakkan semuanya di atas meja kami, lantas ikut duduk.

“Maaf, Cuma seadanya, ibu lagi keluar. Silahkan dimakan!” seru Pak Bahar ramah.

“Iya pak, terima kasih.” Kataku sopan, nada paling sopan yang keluar melalui mulutku beberapa tahun terakhir.

Pak Bahar kembali masuk. Kami hanya diam, segan untuk memulai makan. Ketika keluar dan melihat makanan belum tersentuh sedikitpun, Pak Bahar kembali mempersilahkan, kali ini di tambah embel-embel “Jangan segan-segan, anggap rumah sendiri nak”. Akhirnya kamipun mulai menyantap.

Di luar dugaan kami, Pak Bahar sama sekali tak menyinggung masalah kami sebelumnya.  Seperti hal tersebut tak pernah terjadi. Hingga kami selesai, ia hanya bilang “ Kalau kalian masih mau ke sini aja, atau ambil aja di pohonnya sendiri.” Kemudian dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai. Kami terlihat akrab.

Kebaikan Pak Bahar seperti mengolok kenakalanku. Diperlakukan sebagai anak baik adalah hal yang langka bagiku, terutama sejak aku mulai berteman dengan anak-anak gaul di sekolah menengah pertamaku. Bahkan oleh orang tuaku sendiri. Cap nakal seolah sudah terstempel di jidatku.

Sejak saat itu, aku mulai banyak berinteraksi dengan beliau. Bercerita tentang masa-laluku, masalah-masalahku, dan impian-impianku, yang terbangun karena kedekatan kami. Ia seperti bukan guru-ku, yang membuat jarak dengan muridnya. ia kadang tampil sebagai sahabat, kadang sebagai ayah bahkan sebagai kakak bagiku, juga santri lainnya. Tanpa ada jarak, tanpa rasa segan. Namun secara perlahan, beliau suntikkan motivasi dan inspirasi, demi masa depan cerah. Untuk muridnya, untuk Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s