Fatamorgana Kemerdekaan

 

Sehari lagi, warna merah putih akan terlihat di mana-mana. Digantung di jalan-jalan gang, di depan rumah-rumah, sekolah-sekolah hingga orang-orang yang dengan gembira memegangnya erat di tangan. Bentuknya pun beragam, mulai dari yang benar-benar kain bendera, plastik hingga bekas gelas aqua serta tiang listrik truk dicat dengan warna tersebut. Menandakan semua merayakan hari besar itu, bahkan benda mati pun ikut berpartisipasi. Tak ketinggalan, kegiatan-kegiatan untuk mengenang perjuangan diadakan di mana-mana. Perlombaan balap karung, panjat pinang hingga upacara penaikan bendera pusaka yang disertai pidato semangat kemerdekaan akan terdengar di mana-mana. Sebuah tradisi yang telah dilakukan lebih dari setengah abad.

Itulah sekilas gambaran perayaan kemerdekaan oleh masyarakat indonesia demi mengenang masa-masa heroik para pahlawan bangsa dalam merebut kemerdekaan. Dengan begitu, generasi bangsa diharapkan tidak melupakan jasa para pahlawan dan meniru semangat mereka. Sayangnya, hanya sampai di situ. Tak lebih. Semua hanya harapan dan angan-angan kosong yang hilang seiring bergantinya hari. Kehidupan masyarakat tak menjadi lebih baik. Korupsi masih menghantui sementara warga miskin menjadi melarat. Ironis.

Diusianya yang ke-72, indonesia belum mampu menjadi kebanggan bagi banyak anak bangsa bahkan di tingkat ASEAN sekali pun. Permasalahan terus bermunculan namun tak banyak yang dapat dilakukan. Apalagi ekonomi belum pulih sepenuhnya. Sementara, menurut beberapa sumber, 75 persen kekayaan Negara dimiliki oleh pendatang asing (non-pribumi). Sementara pemerintah tak terlihat peduli dengan rakyat jalata. Mungkin karena dibungkam dengan harta melimpah.

Ironi Pribumi

Pribumi, sebagai pemilik sah tanah dan Negara justru ketinggalan. Banyak yang berkecukupan, namun lebih banyak yang tak berpenghasilan memuaskan. Para pendatang asing justru makmur. Anehnya, banyak pribumi yang tak sadar telah menjadi bulan-bulanan, tanah milik mereka dibeli asing. Mungin tergiur karena dihargai mahal, tanpa sadar apa yang akan terjedi lima-sepuluh tahun kemudian. Sebagian lagi memilih berdiri di belakang kaum asing.

Pun demikian dengan pemimpin negeri. Banyak yang merasa sang presiden lebih peka terhadap kepentingan asing daripada kepentingan nasional dan pribumi. Tidak heran jika setahun terakhir, isu terkait penduduk asing terus bermunculan, khusus nya china keturunan. Mulai dari pembangunan kereta cepat yang melibatkan hong-kong yang banyak dipertanyakan, tenaga kerja asing yang kabarnya berkeliaran di indonesia, isu komunis hingga isu Pilkada ibu kota yang melibatkan etnis china.

Perselingkuhan para pemimpin dengan asing bisa menjadi awal kehancuran bagi penduduk pribumi. Hanya soal waktu hingga negeri ini beralih menjadi milik asing dan akan menjadikan pribumi termarginalkan bahkan diperbudak di negeri sendiri. Hingga kemerdekaan hanya fatamorgana yang menipu. Yang berupa angan-angan dan arapan kosong akan negeri yang bukan milik kita.

Maka, sebagai bangsa besar, sudah semestinya kita sadar akan ancamn tersebut dan mulai berjuang untuk benar-benar merdeka. Tidak seperti perjuangan para pahlawan tempo dulu yang mengandalkan fisik, bambu runcing dan gerilya, namun dengan semangat belajar, bekerja dan berdo’a. Kecerdasan selalu memempatkan pemiliknya di atas, sedangkan kebodohan selalu mengirim pemiliknya kepada kerendahan.

Iklan