Pengembangan dan Perusakan Hubungan

MAKALAH

“Pengembangan dan Perusakan Hubungan”

 

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ‘Komunikasi Interpersonal’ dan dipresentasikan di kelas Komunikasi dan Penyiaran Islam semester V STAI Luqman Al-Hakim

Oleh :

Muhammad Faruq A
2014.31.11.0020

Maulana Syafi’i
2014.31.11.0017

 

Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim

Surabaya

Tahun Ajaran 2016-2017

 

Kata pengantar

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang masih memberi kesempatan bagi kita untuk berbuat baik kepada makhluk-makhluknya di muka bumi. Dan dengan kesempatan itu pul, kami mampu membuat makalah sederhana ini sesuai waktu yang ditentukan tanpa ada hambatan besar. Shalawat serta salam semoga terus tercurah limpahkan kepada manusia paling sempurna, Nabi Muhammad SAW yang dengannya Allah SWT menurunkan risalah ini sehingga sampai kepada kita.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Tentu, tanpa bantuan dari pihak-pihak tersebut, makalah ini tak akan rampung sebagaimana mestinya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kita semua.

Kemudian, permohonan maaf kami ucapkan kepada pembaca, dosen pengampu serta para mahasiswa atas kesalahan-kesalahan dalam makalah ini. Baik kesalahan huruf, kalimat, susunan kata, atau materi. Terlepas dari itu, kami berharap makalah ini bisa menjadi referensi tambahan dan memudahkan teman-teman dalam memahami materi-materi perkuliahan wawasan pergerakan islam.

Terakhir, kami memohon saran serta kritik yang membangun dari dosen, mahasiswa serta pembaca dalam rangka perbaikan makalah ini. Semoga langkah tersebut menjadi bekal bagi kami untuk membuat makalah yang lebih baik dikemudian hari.


BAB I

Pendahuluan

  1. Latar belakang

Salah satu yang menjadi pembahasan urgent dari mata kuliah komunikasi interpersonal adalah bahasan mengenai hubungan dalam skala antarpribadi. Jika lebih didetailkan, maka kita akan menemukan penjelasan tentang pengembangan hubungan serta perusakannya. Bagaimanapun, bahasan ini sering terjadi dikehidupan manusia.

Kadang kita merasa perlu untuk mengembangkan hubungan kita ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih dekat. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan kita, kita perlu memperhatikan kaidah dan teori-teori yang didasari oleh para ahli tentang pengembangan hubungan. Hal itu juga berlaku bagi perusakan hubungan.

Berangkat dari fakta tersebut, kami berusaha membuat makalah tentang pengembangan hubungan dan perusakan hubungan secara detail dari berbagai sumber dengan harapan mampu menjadi penjelasan yang mudah untuk dipahami khususnya oleh mahasiswa.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa maksud dari pengembangan hubungan?
  3. Bagaimana strategi pengembangan hubungan?
  4. Mengapa kita mengembangkan hubungan?
  5. Apa itu perusakan hubungan?
  6. Apa sebab-sebab perusakan hubungan?
  1. Tujuan makalah
  2. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah komunikasi interpersonal
  3. Memberi penjelasan singkat tentang hubungan
  4. Menjelaskan tentang pengembangan hubungan
  5. Menjelaskan tentang perusakan hubungan

 


BAB II

Pembahasan

  1. Pengertian Hubungan Dalam Komunikasi Interpersonal

Menurut kamus Longman pengertian hubungan ialah “The way in which two people or twu groups feel about each other and behave toward each other[1] (cara dua orang atau dua kelompok merasakam satu dan lainnya dan cara mereka bertingkah laku satu dan lainnya).

Pengertian hubungan merupakan sejumlah harapan yang dua orang miliki bagi perilaku mereka didasarkan pada pola interaksi antara mereka. (Littlejohn,2002). Hubungan antarpribadi dapat di definisikan sebagai serangkaian interaksi antara dua individu yang saling kenal satu sama lain (Duck dan Gilmour, 1981).[2] Sedangkan menurut Miller dan Steinberg (1975) hubungan antarpribadi adalah hubungan komunikasi meliputi prediksi timbal balik berdasarkan data psikologis.[3]

Hubungan yang baik adalah ketika interaksi-interaksi antara dua orang tersebut dapat memuaskan masing-masing pihak. Namun, hubungan yang baik tak tercipta begitu saja dan tidak juga tumbuh serta  terpelihara secara otomatis. Pada kenyataannya, seperti yang dikatakan oleh Canary dan Dainton (2002) bahwa kebanyakan orang yang berakal sehat tahu bahwa hubungan memerlukan usaha.[4] Bahasan selanjutnya akan menekankan tentang pengembangan hubungan dan perusakan hubungan dari sudut pandang kamunikasi interpersonal/antarpribadi.

  1. Pengembangan Hubungan
  1. Tinjauan mengenai proses pengembangan

Apabila kita berbicara tentang pengembangan hubungan antarpribadi, maka kita mengacu pada proses di mana manusia mengadakan kontak antara satu sama lain dan mendasarkan prediksi tentang perilaku komunikasi satu sama lain terutama pada data psikologis.[5] Kesempatan untuk mengadakan kontak jelas merupakan syarat bagi setiap pengembangan hubungan komunikasi. Di luar itu, intensitas serta konteks  komunikasi juga memiliki hubungan yang kuat terhadap hubungan-hubungan lainnya. Selain itu, pertukaran informasi antara keduanya sangat penting karena akan menjadi dasar bagi seseorang dalam menentukan bentuk hubungan yang mereka inginkan.

Menurut Miller dan Steinberg (1975) tiga ciri-ciri mengenai proses pengembangan yang harus dijelaskan karena hal tersebut seringkali menimbulkan kekacauan dan salah pengertian.[6]  Ketiga hal tersebut ialah;

Pertama, orang kadang-kadang lalai dalam mempertimbangkan sifat transaksi proses-proses ini. Dua orang paling sedikit berpartisipasi dalam transaksi dan masing-masing memainkan bagian yang penting. Sedangkan adakalanya bermanfaat untuk memahami mengapa seseorang memutuskan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, namun kita lebih tertarik untuk mempejari bagaimana dua orang mengadakan hubungan satu sama lain secara timbal balik. Untuk menggambarkan secara pragmatis, jika seseorang ingin menciptakan hubungan antarpribadi dengan orang lain, tidak cukup hanya dengan melihat kepentingan dirinya dengan orang itu, namun akan sangat bermanfaat baginya untuk mengetahui apa yang menjadi daya tarik dirinya di mata pihak lain, agar ia bisa memaksimalkan pertukaran mengenai imbalan hubungan. [7]

Kedua, pengembangan hubungan sangatlah kompleks. Proses tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dengan mempelajari satu atau dua variable. Bagian dari proses itu mungkin bersifat kognitif: orang dengan sadar atau sengaja memutuskan untuk membangun hubungan bersama. Teman sekamar misalnya, sebelum bertemu satu sama lain demi keuntungan dan kebaikan, mereka sudah akan berkomunikasi, harus dibedakan antara komunkasi antarpribadi. Proses-proses emosional bisa memberikan dorongan awal, ketika orang jatuh cinta. Komunikasi antarpribadi akan terjadi saat itu, tanpa masing-masing mengambil keputusan apa-apa. Tapi factor-faktor ini tak dapat mempertahankan hubungan jika tak ada saling pengertian, tidak dapat mencapai akurasi dalam komunikasi atau tidak mampu membangun pola-pola kendali secara timbale balik. Selanjutnya, semua hubungan komunikasi berkembang dalam lingkungan sosial.[8]

Namun, tiap pengalaman orang dengan orang lain memengaruhi alasan-alasan mengapa ia membangun hubungan, imbalan macam apa yang ia harapkan dari hubungan tersebut dan terutama penilaiannya mengenai hubungan tersebut.[9]

Ketiga, setiap pendekatan pada pengembangan hubungan harus dibedakan antara kondisi dan proses pengembangan antarpribadi dan non-antarpribadi. Misalnya, menurut konsepsi kita mengenai komunikasi antarpribadi, kebanyakan apa yang biasa dianggap sebagai daya tarik antarpribadi harus digolongka sebagai non-antarpribadi. Kalau dikatakan mencintai seseorang karena fisiknya merupakan contoh daya tarik antarpribadi agaknya tidak konsisten dengan konseptualisasi kita. Anda memilih orang cantik atau ganteng dari golongan atau kelas manusia di mana kultur anda mendefinisikan cantik dan ganteng (subjektif). Akibatnya, bahwa daya tarik bukan lagi bersifat antarpribadi tetapi sosialogis.[10]

  1. Alasan-Alasan untuk Pengembangan Hubungan

Ada empat alasan yang umumnya dugunakan orang yang mengembangkan hubungan;

  1. Mengurangi Kesepian

Adakalanya, seseorang merasa kesepian karena secara fisik ia sendirian, walaupun kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Kali lain kita merasa kesepian walaupun ditengah-tengah khalayak ramai karena mungkin kita punya kebutuhan yang terpenuhi akan kontak yang dekat dan akrab – kadang secara fisik, kadang emosioanal, lebih sering keduanya.[11]

  1. Mendapat Rangsangan

Manusia  merupakan gabungan dari banyak dimensi yang berbeda-beda dan semua dimensi tersebut membutuhkan stimulasi. Kita adalah makhluk intelektual, sehingga kita butuh stimulasi intelektual, misalnya dengan belajar di kelas, diskusi, debat dan kegiatan semacamnya yang akan meningkatkan dan mempertajam dimensi intelektual kita.[12]

  1. Mendapat Pengetahuan-Diri

Sebagian orang mempelajari dirinya dari orang lain. Dalam diskusi mengenai kesadaran diri telah dijelaskan bahwa kita melihat diri sendiri sebagian dari persepsi orang lain. Jika kawan-kawan kita menilai kita sebagai orang yang hangat dan pemurah, bisa jadi kita pun akan menilai demikian terhadap diri kita. Persepsi diri kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini dipikirkan oleh orang lain tentang kita.[13]

  1. Memaksimalkan Kesenangan, Meminimalkan Penderitaan.

Alasan yang paling umum tentang membina hubungan adalah demi memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan. Kita mungkin perlu berbagi rasa dengan orang lain tentang kebahagiaan maupun penderitaan yang kita alami, baik secara fisik maupun secara emosional.[14]

  1. Memprakarsai Hubungan : Jumpa Pertama

Barangkali, aspek paling sukar namun juga paling penting dalam pengembangan hubungan adalah permulaannya. Bertemu dengan seseorang, menampilkan diri sendiri lalu berusaha beralih ke tahap yang lebih tinggi merupakan hal yang sukar.  Menurut Murray Davis dalam Intimate Relations (1973), jumpa pertama terdiri dari enam tahap, yaitu;

  1. Meneliti Kualitas

Kualitas merupakan hal pertama yang menarik orang untuk berhubungan. Kualitas secara fisik yang nampak seperti penampilan, maupun tak tersembunyi seperti kepribadian.

  1. Melihat Lampu Hijau

Jika kualitas telah cocok, selanjutnya kita perlu melihat ‘lampu hijau’ dari kenalan baru kita. Maksudnya adalah, apakah hubungan kita dengannya bisa berlanjut tanpa ada hambatan.

  1. Membuka Perjumpaan

Davis menyarankan agar mencari dua hal, pertama, mencari topik yang menarik lawan bicara kita, kedua, carilah isyarat bahwa orang tersebut siap untuk perjumpaan yang lebih panjang.

  1. Topik yang Memadukan

Maksudnya adalah topik yang anda dan partner anda sukai. Selain itu, topik yang anda bahas akan membantu anda untuk menyatu. Umumnya, topik ini didapat dari analisis atas informasi ‘gratis’ dan dari pertanyaan maupun jawaban anda berdua. Informasi ‘gratis’ maksudnya adalah informasi tentang orang tersebut yang anda dapat selama percakapan berlangsung.

  1. Ciptakan citra yang menyenangkan

Langkah selanjutnya adalah anda harus membuat citra pribadi anda yang kira-kira akan membuat pertner anda tertarik atau terpikat. Sehingga membuat orang tersebut berpikiran untuk melanjutkan pertemuan dilain waktu.

  1. Rencanakan Pertemuan yang kedua

Jika kedua belah pihak telah merasa cocok, hal terakhir yang perlu dilakukan untuk mengembangkan hubungan adalah menentukan pertemuan kedua. Pertemuan tersebut bisa bersifat umum atau khusus.[15]

Selanjutnya, berikut ini disajikan beberapa secara khusus yang dapat diterapkan pada perjumpaan pertama yang bersifat non-verbal dan verbal.

a). Perjumpaan Non-Verbal

  • Ciptakan kontak mata
  • Senyum dan isyaratkan minat anda serta tanggapan positif secara non-verbal
  • Pusatkan perhatian namun jangan sampai membuat orang tersebut tidak nyaman
  • Ciptakan kedekatan fisik atau dekati
  • Peliharalah postur yang terbuka atau mengisyaratkan keterbukaan akan interaksi
  • Beri tanggapan yang nyata dan jelas
  • Kukuhkan perilaku yang positif
  • Hidari sikap yang berlebihan[16]

b). Perjumpaan Verbal

  • Perkenalkan diri anda
  • Pusatkan percakapan tentang partner baru anda
  • Beri pujian atau dukungan
  • Tunjukkan semangat
  • Tekankan hal positif
  • Hindari pengungkapan diri yang negatif atau terlalu akrab
  • Carilah kesamaan.[17]
  1. Model-Model Pengembangan Hubungan
  2. Knapp’s Relationship Escalation Model

Yaitu model pengembangan hubungan yang terdiri dari beberapa tahap;

  • Sebelum mengenal satu sama lain lalu langsung tertarik. Pada tahap ini, masing-masing pihak berusaha membuat kesan pertama yang kekal.
  • Setelah itu, keduanya ingin lebih mengenal satu sama lain. Mereka berbagi hal-hal yang disukan dan tidak disukainya juga mencari hal-hal yang menarik bagi partnernya. Hasil dari tahap ini bisa jadi dua hal yakni ; pertama, antara keduanya merasa cocok dan memutuskan melanjutkan hubungan. Kedua, tidak merasa cocok sehingga mereka memutuskan hubungan.
  • Jika keduanya merasa cocok, mereka akan berupaya untuk menguatkan hubungan. Misalnya dengan membuat komitmen bersama dan bersiap menuju hubungan yang panjang.
  • Tahap selanjutnya dimulai ketika mereka mulai melakukan suatu kegiatan bersama-sama. Misalnya makan malam bersama, belanja bersama dll.
  • Terakhir adalah mereka memutuskan untuk memiliki ikatan.[18]
  1. Knapp’s Relationship Termination Model

Yaitu model pengembangan hubungan yang tak dengan komunikasi efektif dan terjadi kesalahpahaman yang menimbulkan konflik. Hubungan yang stagnan dapat diidentifikasi jika kedua belah pihak saling menghindar.[19]

  1. Duck’s Relationship Filtering Model

Seperti namanya, model ini memiliki beberapa filter yaitu; jarak, persepsi dan penampilan fisik.[20]

 

  1. Perusakan hubungan

Separuh lain dari pengembangan hubungan adalah perusakan-menurunnya hubungan dan kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan (Duck, 1982). Disini kita mengamati hakikat dari perusakan hubungan, beberapa sebab utamanya, serta perubahan komunikasi yang terjadi selama perusakan hubungan.[21]

  1. Hakikat perusakan hubungan

            Yang dimaksud perusakan hubungan adalah melemahnya ikatan yang mempertalikan orang bersama. Perusakan hubungan dapat terjadi secara berangsur atau mendadak, sedikit demi sedikit ekstrim.

  1. Perusakan Berangsur dan Mendadak.

Proses perusakan dapat terjadi berangsur atau mendadak.Murray Davis (1973), dalam intimate relations, menggunakan istilah passing away untuk perusakan berangsur dan sudden death untuk perusakan yang mendadak. Contoh perusakan berangsur (passing away) terjadi bila salah satu pihak mengembangkan hubungan dekat dengan pacar baru dan hubungan ini perlahan-lahan menyingkirkan pacar lama.

  1. Beberapa manfaat putusnya hubungan.

Adakalanya suatu hubungan mungkin tidak produktif bagi salah satu atau kedua belah pihak, dan pemutusan hubungan sering kali merupakan hal yang terbaik. Pemutusan hubungan seperti ini dapat memberikan waktu bagi kedua pihak untuk memperoleh kembali kemandirian dan kebebasan mereka.[22]

  1. Beberapa sebab perusakan hubungan.

Sebab-sebab rusaknya hubungan sama banyak dengan jumlah orang terlibat di dalamnya. Tetapi, kita dapat menyebutkan beberapa sebab utama. Kita mulai dengan melihat beberapa alasan perkembangan hubungan dan mengamati bagaimana perubahan-perubahan pada faktor-faktor ini dapat menyebabkan perusakan hubungan.

a. Alasan-alasan untuk membina hubungan telah meluntur.

Bila alasan kita untuk membina hubungan berubah secara drastis, hubungan itu dapat menjadi rusak. Sebagai contoh, bila kesepian tidak lagi berkurang, hubungan mungkin menuju kehancuran.

b. Hubungan pihak ketiga.

Hubungan dibina dan dipelihara sebagian besar karena di dalamnya, kesenangan menjadi maksimal dan penderitaan menjadi minimal. Bila hal ini tidak lagi terjadi, kecil harapan hubungan itu dapat bertahan.

c. Perubahan sikap hubungan.

Perubahan sifat hubungan pada salah satu atau kedua belah pihak dapat mendorong rusaknya hubungan. Perubahan psikologis seperti perkembangan minat intelektual yang berbeda atau sikap yang tidak besesuaian dapat menimbulkan masalah hubungan.

d. Harapan yang tak terkatakan.

Adakalanya konflik kelihatannya menyangkut soal-soal “remeh”. Siapa yang harus mencici piring dan siapa yg harus mencuci pakaian? Siapa yang harus memasak? Siapa yang akan memakai mobil baru dan siapa yg akan memakai mobil lama? Bagi orang luar masalah-masalah ini tampaknya tidak penting, tetapi ingatlah bahwa dalam konflik ini soal isi (content) bukanlah hal yang pokok.

e. Seks.

Sedikit sekali hubungan seksual yang bebas dari masalah. Menurut Blumstein dan Schwaartz (1963), masalah seksual menduduki tiga besar dalam peringkat masalah yang sering kali di jumpai dalam penelitian terhadap pasangan suami istri baru.

Ketidakbahagiaan dengan pekerjaan sering kali menimbulkan kesulitan hubungan. Riset oleh Philiph Blumstein dan Pepper Schwartz (1983). Menunjukkan bahwa orang tidak bisa memisahkan masalah di tempat kerja dengan hubungan mereka.

f. Masalah Keuangan.

Dalam survei tentang masalah yang dialami pasangan-pasangan, masalah keuangan rupanya cukup mengancam. Uang barangkali merupakan topik yang baru dibicarakan pada tahap-tahap awal suatu hubungan.

Bila suatu hubungan memperhatikan tanda-tanda memburuk tetapi masih ada komitmen kuat pada kedua pihak untuk mempertahankannya, mereka akan mengatasi hambatan dan memperbaiki keadaan.

g. Komitmen keuangan.

Komitmen terkait erat dengan pertimbangan keuangan. Di satu pihak, hanya setelah kedua pihak mengembangkan komitmen yang kuatlah baru mereka bersedia menggabungkan sember daya keuangan mereka.

h. Komitmen waktu.

Komitmen juga dapat didasarkan atas investasi waktu. Orang mungkin merasa bahwa karena telah hidup bersama selama 10 atau 15 tahun, waktu selama ini akan sia-sia jika mereka harus mengakhiri hubungan.

i. Komitmen Emosional.

Adakalanya komitmen didasarkan pada investasi emosional. Orang mungkin merasa bahwa mereka telah banyak menghabiskan energi emosional untuk membina hubungan sehingga sulit bagi mereka untuk memutuskannya begitu saja.[23]

3.      Komunikasi dalam Kerusakan Hubungan

Kerusakan hubungan ditandai dengan pola komunikasi sebagai berikut:

  • Penolakan (Withdrawal)

Secara nonverbal, ruang pribadi semakin besar; berkurangnya sentuhan dan kontak mata; berkurangnya kesamaan serta menghindari penggunaan barang yang berhubungan dengan pasangan (Miller &  Parks, 1982; Knapp & Vangelisti, 2009). Hal ini juga termasuk menghindari percakapan, terutama keinginan untuk mendengarkan.

  • Menutup diri (Decline in self-disclosure)

Mengurangi penyingkapan diri terhadap pasangan dilakukan karena kita memandang pasangan tak lagi mampu menerima kita apa adanya, tidak mendukung maupun empati.

  • Pengingkaran/pembohongan (Deception)

Berkembang sebagai akhir/hancurnya hubungan. Pisah tempat, tidak berkabar bahkan memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan lain (bisa jadi dengan orang lain) yang tidak berhubungan dengan pasangan. Kebohongan juga digunakan untuk menutupi rasa malu karena tidak ingin dipandang rendah.

  • Pesan positif dan negatif (Positive and Negative messages)

Pada hubungan yang sedang bermasalah, intensitas pesan negatif semakin meningkat seiring dengan berkurangnya pesan positif. Memuji beralih menjadi kritikan. Perilaku dalam hubungan pada dasarnya tidak berubah, namun cara pandang terhadap perilaku tersebutlah yang berubah. Kebiasaan yang dulu dimaklumi dan dianggap lucu kini menjadi menyebalkan. Permintaan terhadap perilaku menyenangkan seperti “Tolong ambilkan handukku” semakin berkurang, sebaliknya tuntutan agar pasangan mengurangi perilaku yang tidak menyenangkan semakin meningkat, seperti “Hentikan memakai handukku untuk mengelap tanganmu!” (Lederer, 1984). Bahkan dalam kondisi hubungan yang bermasalah, pesan positif cenderung disampaikan secara negatis. Misalnya, “Aku ingin secangkir kopi untuk sarapanku, sayang” disampaikan ,” Mana kopiku, aku sudah terlambat!”.[24]

BAB III

Penutup

  1. Kesimpulan

Dari bahasan dalam makalah ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengembangan hubungan didasari oleh alasan-alasan logis terkait kepentingan kita. Akan tetapi, dalam mencapai tujuan, ada tahap-tahap yang perlu dilalui oleh kedua belah pihak.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Morissan, Teori komunikasi, dari individu hingga massa, (Kencana, 2013)

Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem, Teori kominikasi Antarpribadi (Kencana, 2011)

Joseph A Devito, Komunikasi Antarmanusia, (Karisma publishing group, 2011)

Internet

http://managementstudyguide.com/interpersonal-relationship-development.htm

http://dokumen.tips/download/link/tugas-kelompok-2-relationship-development-and-deterioration,

Footnote

[1] Longman, Dictionary of contemporary English, dalam Morissan, Teori komunikasi, dari individu hingga massa, Kencana, 2013, hal. 281

[2] Muhammad Budyatna dan Leila Mona Ganiem, Teori kominikasi Antarpribadi, Kencana, 2011, hal. 36

[3] Ibid, hal. 44

[4] Ibid, hal. 36

[5] Ibid, hal. 44

[6] Ibid, hal. 44-45

[7] Ibid, hal 45

[8] Ibid, hal. 46

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Joseph A Devito, Komunikasi Antarmanusia, Karisma publishing group, 2011, hal 268

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Diambil dari http://managementstudyguide.com/interpersonal-relationship-development.htm, pukul 17:12 tgl 25 sept 2016

[19] Ibid

[20] Ibid

[21] Op Cit, Josept A Devito, hal 273

[22] Ibid

[23] Ibid

[24] Diambil dari http://dokumen.tips/download/link/tugas-kelompok-2-relationship-development-and-deterioration, pukul 17:49 selasa 11 Okt 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s