​“Tolong Ajari Kami Cara Mencintai Indonesia” 


28 Oktober 1928 silam, kalian para pemuda seperti kami berkumpul bersama. Dengan semangat membara bersumpah untuk indonesia. Bersumpah untuk berjuang demi kemerdekaan bangsa yang saat itu masih terjajah. Tak terbayang bagaimana gelora kalian demi membawa Indonesia menuju kebebasan dari keterjajahan. 
Oh tuhan, itu dulu, zaman kalian. Itu tahun 1928, sudah 88 tahun yang lalu. Kini, negara yang diperjuangkan oleh kalian amburadul. Masalah datang silih berganti. Krisis politik, krisis ekonomi, krisis sosial adalah contohnya. Tapi semuanya bersumber dari krisis moral. Oh Mr. W.R Soepratman, Maafkan kami tak bisa menjaga Indonesia mu. Maafkan kami belum bisa semangat seperti semangatmu dan kawan-kawan seperjuanganmu. 

Sekarang, seandainya engkau bisa melihat keadaan anak-anak muda penerusmu, mungkin engkau akan menangis, sedih. Pemuda sekarang tak banyak yang punya jiwa patriotisme seperti pemuda jamanmu. Kami sekarang lebih sibuk bersantai di sudut warung dengan kopi dengan Gadget digenggam. Kami kini tak banyak yang siap berkorban seperti kalian dulu. Bahkan kami hilangkan identitas ketimuran kami. Budaya yang dulu kalian jaga kini telah tergantikan. Bahasa yang dulu kalian banggakan kini tak lagi dianggap berharga. Tanah air yang dulu engkau perjuangkan kini carut marut tak karuan. Sementara kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami sibuk dengan urusan pribadi.

Kami tau engkau tak bisa mendengar lagi. Kami tahu engkau tak akan pernah membaca tulisan ini. Kami tau kalau engkau telah pergi menghadap Ilahi. Tapi, pada siapa lagi kami harus meminta semangat. Memang hari bersejarahmu masih diperingati setiap tahun. Tapi….hanya sebatas itu. Para pemimpin negeri ini tak lagi peduli. Tak lagi mau mendengar suara-suara kami. Suara-suara pemuda bangsa yang rindu perubahan. Mereka sibuk dengan diri sendiri, tak jauh beda dengan kami. Sibuk menghitung rupiah-rupiah hasil korupsi. Sibuk mengurus hal-hal yang tak berguna. Sementara kami, para pemuda yang akan mewarnai Indonesia tak digubris aspirasinya, tak dihargai prestasinya. Bahkan mendapat cemoohan, mendapat gertakan hingga pukulan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s