Makalah: Analisis Perang Salib

ANALISIS PERANG SALIB

MAKALAH

Disampaikan untuk memenuhi syarat tugas kuliah

Yang Dipresentasikan di Seminar Kelas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Kelas Takhasus

logo-stail


Oleh:

 

Mohammad Faruq

201431110020

Muhammad Isa Anshori

20143118

 

Dosen Pembimbing:

Nurul Huda, M.Pd.I


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM

SURABAYA

T.A. 2015-2016

 

 

 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, sungguh suatu kesyukuran yang  besar kepada Allah Swt karena masih memberi kekuatan, kesehatan serta nikmat-nikamat lain sehingga dengannya nikmat tersebut, kami mampu menyelesaikan tugas kami yaitu pembuatan makalah dengan tepat waktu tanpa ada masalah berarti. Shalawat serta salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang dengan gagah berani memperjuangkan agama ini. Sehingga agama ini sampai kepada kita.

Kemudian, ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah, khususnya kepada Dosen pengampu mata kuliah ini, Ustadz Nurul Huda, M.Pd.I. Tanpa andil beliau dan teman-teman lain, tentu makalah ini tak akan jadi.

Namun seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, makalah ini juga tak lepas dari kesalahan dan masih jauh dari kesempurnaan. Sebagai manusia biasa yang ak luput dari kesalahan, hal seperti ini tak mungkin dihindari. Maka kami memohon maaf yang sebesar-besarnya terkat hal itu. Selanjutnya kami mohon bimbingan, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak agar kiranya kami bisa memperbaiki hal-hal tersebut.

Demikian kata pengantar ini dibuat, kami ucapkan terima kasih sekaligus permohonan maaf atas kekhilafan kami.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Islam sebagai agama telah melalui berbagai macam kejadian dari awal hingga sekarang.  Berbagai kejadian datag silih berganti demi mewarnai buku sejarah dunia. Hal itu merupakan hal yang wajar dan mesti dilalui oleh golongan besar.

Salah satu peristiwa yang turut menjadi perbincangan dalam sejarah islam yaitu tentang peristiwa perang salib. Sebuah peristiwa yang menjadi penentu kebijakan dunia hingga saat ini. Akan tetapi, sebagian muslim—bahkan kebanyakan—tidak banyak mengetahui tentang peristiwa tersebut.

Berangkat dari fakta tersebut, makalah ini kami hadirkan untuk menjelaskan kepada kita semua hakekat peristiwa tersebut. Bagaimana sebab terjadinya, pelaku-pelakunya, kapan, dimana, dan akibatnya dibahas tuntas dalam makalah ini dengan referensi yang terpercaya.

Semoga dengan hadirnya makalah ini kita bisa mendapat titik terang tentang sejarah perang salib yang sebenarnya dan kita bisa mengambil pelajaran darinya. Lalu, semangat keislaman kita bertambah sehingga izzah islam ini tetap terjaga.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana perjalanan perang salib dari awal hingga akhir.?
  3. Apa yang melatar-belakangi perang salib .?
  4. Seperti apa dampak yang ditimbulkan perang salib.?

 

  1. Tujuan
  2. Memberi pemahaman yang benar tentang peristiwa perang salib.
  3. Mengambil hikmah dari peristiwa perang salib.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian

Perang Salib (bahasa InggrisCrusade, jamak: Crusades) merupakan serangkaian kampanye militer berselang dari tahun 1096 sampai 1487 yang disahkan oleh beberapa paus. Pada tahun 1095 Kaisar Bizantium Alexius I Komnenus mengirimkan seorang utusan kepada Paus Urbanus II untuk meminta dukungan militer dalam konflik Kekaisaran Romawi Timur dengan bangsa Turk yang melakukan migrasi ke arah barat di Anatolia (Turki masa kini). Sang paus menanggapinya dengan memanggil umat Katolik untuk bergabung dengan apa yang kemudian disebut sebagai Perang Salib Pertama.

Secara terminology, Crusade (Perang Salib) adalah sebuah istilah modern yang berasal dari kata Perancis croisade dan Spanyol cruzada; pada tahun 1750 bentuk-bentuk dari kata “crusade” telah terbentuk sendiri dalam bahasa Inggris, Perancis, dan JermanOxford English Dictionary mencatat penggunaannya pertama kali dalam bahasa Inggris oleh William Shenstone pada tahun 1757. Ketika seorang tentara salib mengucapkan suatu sumpah (votus) untuk pergi ke Yerusalem, ia akan menerima sehelai kain salib (crux) untuk dijahitkan di pakaiannya. Hal “mengenakan salib” ini menjadi terkait dengan keseluruhan perjalanan, dan para tentara salib memandang diri mereka melakukan suatu iter (perjalanan) atauperegrinatio (ziarah bersenjata). Inspirasi akan “mesianisme kaum miskin” ini merupakan suatu pengilahian (apotheosis) massal yang diharapkan di Yerusalem.

Salah satu tujuan yang dinyatakan oleh Paus Urbanus adalah menjamin akses para peziarah ke tempat-tempat suci di Tanah Suci yang berada di bawah kendali penguasa Muslim, sementara strateginya yang lebih luas yaitu menyatukan kembali cabang-cabang Timur dan Barat dari dunia Kekristenan setelah perpecahan mereka pada tahun 1054, serta menetapkan diri sebagai kepala Gereja yang dipersatukan. Hal ini mengawali suatu perjuangan yang kompleks selama 200 tahun di wilayah tersebut.

Ratusan ribu orang dari berbagai negara dan kelas yang berbeda di Eropa Barat menjadi tentara salib dengan mengambil suatu sumpah publik dan menerima indulgensi penuh dari gereja tersebut. Beberapa tentara salib adalah para petani yang berharap atas pengilahian di Yerusalem.[5]Paus Urbanus II mengklaim bahwa siapa pun yang ikut serta akan diampuni dosa-dosanya. Selain menunjukkan pengabdian kepada Allah, sebagaimana dinyatakan olehnya, keikutsertaan memenuhi kewajiban feodal dan berkesempatan memperoleh manfaat ekonomi dan politik. Para tentara salib seringkali menjarah negara-negara yang mereka lalui dalam perjalanan, dan berlawanan dengan janji-janji mereka, para pemimpin tentara salib menguasai banyak dari wilayah ini bukan mengembalikannya kepada Bizantium.

Penomoran Perang-perang Salib menjadi bahan perdebatan, beberapa sejarawan menghitung ada tujuh Perang Salib besar dan sejumlah kecil lainnya antara tahun 1096–1291.[3] Kalangan lain menganggap Perang Salib Kelima yang melibatkan Frederik II sebagai dua perang salib, sehingga perang salib yang dilakukan oleh Louis IX pada tahun 1270 menjadi Perang Salib Kedelapan. Terkadang Perang Salib Kedelapan ini dianggap dua, sebab yang kedua dianggap sebagai Perang Salib Kesembilan.

Pandangan pluralistik mengenai Perang-perang Salib berkembang selama abad ke-20, “Perang Salib” dianggap mencakup semua kampanye militer di Asia Barat atau di Eropa yang direstui oleh kepausan. Perbedaan utama antara Perang-perang Salib dan perang suci lainnya adalah bahwa pengesahan untuk melakukan Perang-perang Salib bersumber langsung dari paus, yang mengaku melakukannya atas nama Kristus. Dikatakan demikian karena mempertimbangkan pandangan Gereja Katolik Roma dan mereka yang hidup pada zaman abad pertengahan, seperti Santo Bernardus dari Clairvaux, yang mana memberikan prioritas setara untuk kampanye militer yang dilakukan untuk alasan politik dan untuk memerangi paganisme dan bidah. Definisi yang luas ini mencakup penganiayaan terhadap kaum bidah di Perancis Selatankonflik politik antara umat Kristen di Sisilia,penaklukan kembali Iberia oleh kaum Kristen, dan penaklukan atas kaum pagan di Baltik. Suatu pandangan yang lebih sempit adalah bahwa Perang-perang Salib merupakan perang pertahanan diri di Levant terhadap kaum Muslim untuk membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslim.

  1. Sebab-Sebab Terjadinya

Setelah pasukan Muslim mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Yarmuk pada tahun 636, Palestina berada di bawah kendali Kekhalifahan UmayyahAbbasiyah, dan Fatimiyah Hubungan politik, perdagangan, dan toleransi antara negara-negara Arab dan Kristen Eropa mengalami pasang surut hingga tahun 1072, ketika Fatimiyah kehilangan kendali atas Palentina dan beralih ke Kekaisaran Seljuk Raya yang berkembang pesat. Kendati kalifah Fatimiyah Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus, penerusnya mengizinkan Kekaisaran Bizantium untuk membangunnya kembali. Para penguasa Muslim mengizinkan peziarahan oleh umat Katolik ke tempat-tempat suci. Para pemukim Kristen dianggap sebagai dzimmi dan perkawinan campur tidaklah jarang terjadi. Budaya dan keyakinan hidup berdampingan dan saling bersaing, namun kondisi-kondisi daerah perbatasan tidak bersahabat bagi para pedagang dan peziarah Katolik. Gangguan atas peziarahanoleh karena penaklukan bangsa Turk Seljuk memicu dukungan bagi Perang-perang Salib di Eropa Barat.

Sejumlah pakar sejarah juga  berargumen terkait sebab-sebab terjadinya perang salib. Di antaranya :

Pertama, bahwa perang salib merupakan puncak dari sejumlah konflik antara negeri barat dan negeri timur, jelasnya antara pihak Kristen dan pihak muslim. Perkembangan dan kemajuan ummat muslim yang sangat pesat, pada akhir-akhir ini, menimbulkan kecemasan tokoh-tokoh barat Kristen. Terdorong oleh kecemasan ini, maka mereka melancarkan serangan terhadap kekuatan muslim.

Kedua, munculnya kekuatan Bani Saljuk yang berhasil merebut Asia Kecil setelah mengalahkan pasukan Bizantium di Manzikart tahun 1071, dan selanjutnya Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fatimiyah tahun 1078 M. Kekuasaan Saljuk di Asia Kecil dan yerusalem dianggap sebagai halangan bagi pihak Kristen barat untuk melaksanakan haji ke Bait al-Maqdis.

Ketiga, bahwa semenjak abad ke sepuluh pasukan muslim menjadi penguasa jalur perdagangan di lautan tengah. Para pedagang Pisa, Vinesia, dan Cenoa merasa terganggu atas kehadiran pasukan lslam sebagai penguasa jalur perdagangan di laut tengah ini. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperlancar perdagangan mereka adalah dengan mendesak kekuatan muslim dari lautan ini”

Keempat, propaganda Alexius Comnenus kepada paus Urbanus ll. Untuk membalas kekalahannya dalam peperangan melawan pasukan Saljuk. Bahwa paus merupakan sumber otoritas tertinggi di barat yang didengar dan ditaati propagandanya. Paus Urbanus II segera rnengumpulkan tokoh-tokoh Kristen pada 26 November 1095 di Clermont, sebelah tenggara Perancis. Dalam pidatonya di Clermont sang Paus memerintahkan kepada pengikut kristen agar mengangkat senjata melawan pasukan musim.

  1. Periode-Periode Perang Salib

Perang salib sendiri terdiri dari beberapa periode. Mulai dari jatuhnya kota Yerussalem ke tangan Kristen, kemudian pembebasannya oleh Salahuddin Al-Ayyubi hingga upaya-upaya Kristen untuk merebutnya kembali. Sejarahwan mencatat 8 peperangan yang berhubungan dengan perang salib.

Pertama, Perang Salib I (1096–1099)

Bala tentara salib yang resmi berangkat dari Perancis dan Italia pada bulan Agustus dan September 1096. Sejumlah besar pasukan tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang mana melakukan perjalanan secara terpisah menuju Konstantinopel. Jika memperhitungkan orang-orang selain pejuang, pasukan barat mungkin berjumlah sebanyak 100.000 orang. Para pasukan tersebut melakukan perjalanan ke arah timur lewat jalan darat menuju Konstantinopel, di mana mereka menerima sambutan kehati-hatian dari sang Kaisar Bizantium. Pasukan utamanya, kebanyakan terdiri dari kesatria Norman dan Perancis di bawah kepemimpinan para baron, berjanji untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang hilang kepada kekaisaran tersebut dan mereka berbaris menuju selatan melalui Anatolia. Para pemimpin Perang Salib Pertama ini misalnya Godefroy dari BouillonRobert CurthoseHugues I dari VermandoisBaudouin dari BoulogneTancred dari HautevilleRaymond IV dari ToulouseBohemond dari TarantoRobert II dari Flandria, dan Étienne, Comte Blois. Raja Perancis danHeinrich IV, Kaisar Romawi Suci, saat itu sedang dalam konflik dengan sang Paus dan tidak ikut berpartisipasi.

Bala tentara salib awalnya berperang melawan bangsa Turk dalam Pengepungan Antiokhia yang berlangsung cukup lama, dimulai sejak bulan Oktober 1097 dan berakhir Juni 1098. Ketika mereka memasuki Antiokhia, para tentara salib membantai penduduk Muslim dan menjarah kota tersebut. Namun sejumlah besar pasukan Muslim yang dipimpin oleh Kerboga segera mengepung para tentara salib, yang saat itu berada di dalam Antiokhia. Bohemond dari Taranto berhasil menghimpun kembali para tentara salib itu dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni. Bohemond dan pasukannya tetap memegang kendali atas kota tersebut, kendati telah berjanji mengembalikannya kepada Alexius. Sebagian besar bala tentara salib yang tersisa itu bergerak menuju selatan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di sepanjang pesisir tersebut, dan akhirnya tiba di Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099 dengan hanya sebagian kecil dari kekuatan asli mereka.

Kaum Yahudi dan Muslim berjuang bersama-sama untuk mempertahankan Yerusalem dalam menghadapi invasi kaum Franka itu, tetapi para tentara salib berhasil masuk ke dalam kota tersebut pada tanggal 15 Juli 1099. Mereka mulai melakukan pembantaian penduduk sipil Muslim dan Yahudi, serta menjarah atau menghancurkan masjid-masjid atau kota itu sendiri. Dalam Historia Francorum qui ceperunt Iherusalem karyanya, Raymond D’Aguilers meninggikan tindakan-tindakan yang mana akan dianggap sebagai kekejaman dari suatu sudut pandang modern. Sebagai akibat dari Perang Salib Pertama, tercipta empat negara tentara salib yang utama: Edessa, Antiokhia, Tripoli, dan Yerusalem. Pada suatu tingkatan populer, Perang Salib Pertama dianggap melepaskan suatu gelombang amarah Katolik yang saleh dan emosional, yang mana diungkapkan dalam pembantaian orang-orang Yahudi yang mengiringi perang-perang salib tersebut dan perlakuan kejam atas kaum Kristen Ortodoks “skismatik” dari timur.

Setelah Perang Salib Pertama, berlangsung yang kedua, perang salib yang kurang berhasil dan disebut Perang Salib 1101, di mana bangsa Turk yang dipimpin oleh Kilij Arslan Imengalahkan para tentara salib dalam tiga pertempuran terpisah.

Kedua, Perang Salib II (1147-1187)

Periode kedua ini adalah masa-masa perebutan kembali tanah suci oleh kaum muslim di bawah pimpinan Nurudddin Zanki lalu dilanjutkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi setelah sebelumnya Imaduddin Zanki (ayah Nuruddin Zanki) memulai upaya tersebut. Ia berhasil merebut satu-persatu daerah yang telah dikuasai pasukan salib. Keberhasilannya yang paling gemilang adalah merebut kota Edessa yang merupakan tempat berdirinya salah satu kerajaan Kristen sebagai akibat perang salib pertama.

Dengan jatuhnya kembali kota Edesa oleh pasukan muslim, tokoh-tokoh Kristen Eropa dilanda rasa cemas. St Bernard segera menyerukan kembali perang salib melawan kekuatan muslim. Seruan tersebut membuka gerakan perang salib kedua dalam sejarah Eropa. Beberapa penguasa Eropa menanggapi poiitif seruan perang suci ini. Kaisar jerman yang bernama Conrad III, dan kaisar perancis yang bernama Louis VII segera mengerahkan pasukannya keAsia. Namun kedua pasukan ini dapat dihancurkan ketika sedang dalam perjalanan menuju Syiria. Dengan sejumlah pasukan yang tersisa mereka berusaha mencapai Antioch, dan dari sini mereka menuju ke Damaskus.

Pengepungan Damaskus telah berlangsung beberapa hari, ketika Nuruddin tiba di kota ini. Karena terdesak oleh pasukan Nuruddin, pasukan salib segera melarikan diri ke Palestina, sementara Conrad III dan Louis VII kembali ke Eropa dengan tangan hampa.

Nuruddin segera mulai memainkan peran baru sebagai sang penakluk. Tidak lama setelah mengalahkan pasukan salib, ia berhasil rnenduduki benteng Xareirna, merebut wilayah perbatasan Apamea pada tahun 544 H/1149 M., dan kota Joscelin. Pendek kata, kota-kota penting pasukan salib berhasil dikuasainya. la segera menyambut baik permohonan masyarakat Damaskus dalam perjuangan melawan penguasa Damaskus yang menindas. Keberhasilan Nuruddin menaklukkan kota damaskus membuat sang khalifah di Bagdad berkenan rnemberinya gelar kehormatan “al-Malik al- ’Adil”.

Penaklukkan-penaklukkan tersebut terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada tahun 1187 M. saat itu, kurang lebih 50.000 pasukan muslim di bawah pimpinan Salahudddin Al-ayyubi berhadapan dengan pasukan salib yang berjumlah sekitar 32.000 di bawah pimpinan raja Guy dari Yerussalem. Pertempuran ini dikenal dengan perang hittin, karena terjadi di tanduk hittin, sebuah daerah dekat tiberias di danau galilea.

Karena semangat tak kenal menyerah dan strategi cerdik, pasukan islam memperoleh kemenangan besar. Perang tersebut benar-benar memberi kerugian besar bagi pasukan salib. Sehingga memudahkan Salahuddin merebut kembali Yerussalem dari Kristen.

Sejarahwan mencatat bagimana sikap Salahuddin ketika berhasil membebaskan Yerussalem. Kebijakan yang diambilnya sungguh bijaksana. Ia tak seperti kaum salib saat menaklukkan Yerussalem yaitu membantai penduduk muslim. Salahuddi justru melindungi warga Kristen dan berjanji memberi akses kepada kaum Kristen untuk berziarah ke Yerussalem dengan syarat tak membawa pedang atau senjata.

Ketiga, Perang Salib III (1189-1193 )

Jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan Salahuddin menimbulkan keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan prestis kekuatan mereka yang telah hilang. Menyambut seruan kalangan gereja, maka kaisar Jerman yang bernama Frederick Barbarosa, Philip August, kaisar Perancis yang bernama Richard, beberapa pembesar kristen rnembentuk gabungan pasukan salib. Dalam hal ini seorang ahli sejarah menyatakan bahwa Perancis mengerahkan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan lautnya. Bahkan wanita-wanita Kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini. Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.

Menanggapi serangan besar ini, Salahuddin memutuskan untuk bertahan di dalam negeri. Padahal para Amir menyarankan agar bertahan di luar. Karena itu, pada tanggal 14 september 1189, pasukan muslim terdesak di kota acre. Untung saja kemenakan Salahuddin yang bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengembalikan hubungan dengan Acre. Akan tetapi, kondisi ini tak berlangsung lama, sebab kaum muslim kembali terdesak dan kota Acre kembali terkepung hingga hampir dua tahun lamanya. Segala upaya pertahanan pasukan muslim semakin tidak membawa hasil, bahkan mereka merasa frustasi ketika Richard dan Philip August tiba dengan kekuatan pasukan salib yang maha besar. Sultan Salahuddin merasa kepayahan menghadapi peperangan ini, sementara itu pasukan muslim dilanda wabah penyakit dan kelaparan. Masytub, seorang komandan Salauhuddin akhirnya mengajukan tawaran damai dengan kesediaan atas beberapa persyaratan sebagaimana yang pernah diberikan kepada pasukan Kristen sewaktu penaklukan Yerusalem dahulu. Namun sang raja yang tidak mengenal balas budi ini sedikit pun tidak memberi belas kasih terhadap ummat muslim. la membantai pasukan muslirn secara kejam.

Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersamaan dengan itu Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba d i fucalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin. Setelah berlangsung perdebatan yang kritis, akhirnya sang sultan bersedia menerirna tawaran damai tersebut. ”Antar pihak Muslim dan pihak pasukan salib menyatakan bahwa wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan masing-masing, dan bahwa warga negara kedua belah pihak dapat saling keluar masuk ke wilayah lainnya tanpa, gangguan apa pun”. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang salib ke tiga yakni pada tahun 1193. Enam bulan kemudian, Salahuddin wafat karena sakit. Peristiwa ini sangat menyedihkan bagi kaum muslimin. Bahkan sejarahwan menyebutkan bahwa tidak ada duka sebesar ini setelah kematian empat khalifah pertama selain duka atas meninggalnya Salahuddin.

Keempat, Perang Salib IV

Dua tahun setelah kematian Salahuddin berkobar perang salib keempat atas inisiatif Paus Celestine III. Namun sesungguhnya peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Kristen telah berakhir dengan usianya perang salib ketiga. Sehingga peperangan berikutnya tidak banyak dikenal. Pada tahun 1195 M. pasukan salib menundukkan Sicilia, kemudian terjadi dua kali penyerangan terhadap Syria. Pasukan kristen ini mendarat di pantai Phoenecia dan menduduki Beirut. Anak Salahuddin yang bernama al-Adil segera rnenghalau pasukan salib. la selanjutnya menyerang kota perlindungan pasukan salib. Mereka kemudian mencari tempat perlindungan ke Tibinim, lantaran semakin kuatnya tekanan dari pasukan muslim, pihak salib akhirnya menempuh inisiatif damai. Sebuah perundingan menghasilkan kesepakatan pada tahun 1198M, bahwa peperangan ini harus dihentikan selama tiga tahun.

Kelima, Perang salib V

Belum genap mencapai tiga tahun, Kaisar Innocent III menyatakan secara tegas berkobarnya perang salib ke lima setelah berhasil rnenyusun kekuatan miliier. Jenderal Richard di lnggris menolak keras untuk bergabung dalam pasukan salib ini, sedang mayoritas penguasa Eropa lainnya menyarnbut gembira seruan perang tersebut. Pada kesempatan ini pasukan salib yang bergerak menuju Syria tiba-tiba mereka membelokkan geiakannya menuju Konstantinopel. Begitu tiba di kota ini, mereka membantai ribuan bangsa romawi baik laki-laki maupun perempuan secara bengis dan kejam. pembantai ini berlangsung dalam beberapa hari. Jadi pasukan muslim sama sekali tidak mengalami kerugian karena tidak terlibat dalam peristiwa ini.

Keenam Perang Salib VI

Pada tahun 613 H/1216M, Innocent III mengobarkan propaganda perang salib ke enam. 250.000 pasukan salib, mayoritas Jerman, mendarat di Syria. Mereka terserang wabah penyakit di wilayah pantai Syria hingga kekuatan pasukan tinggal tersisa sebagian. Mereka kemudian bergerak menuju Mesir dan kemudian mengepung kota Dimyat. Dari 70.000 personil, pasukan salib berkurang lagi hingga tinggal 3.000 pasukan yang tahan dari serangkaian wabah penyakit. Bersamaan dengin ini, datang tambahan pasukan yang berasal dari perancis yang bergerak menuju Kairo. Narnun akibat serangan pasukan muslim yang terus-menerus, mereka men jadi terdesak dan terpaksa rnenempuh jalan damai. Antara keduanya tercapai kesepakatan damai dengan syarat bahwa pasukan salib harus segera meninggalkan kota Dimyat.

Ketujuh, Perang Salib VII

Untuk mengatasi konflik politik internal, Sultan Kamil mengadakan perundingan kerja sarna dengan seorang jenderal Jerman yang bernarna Frederick. Frederick bersedia membantunya rnenghadapi musuh-musuhnya dari kalangan Bani Ayyub sendiri, sehingga Frederick nyaris menduduki dan sekaligus berkuasa di Yerusalem. Yerusalem berada di bawah kekuasaan tentara salib sampai dengan tahun 1244 M., setelah itu kekuasaan salib direbut oleh Malik al-shalih Najamuddi al-Ayyubi atas bantuan pasukan Turki Khawarizmi yang berhasil meiarikan diri dari kekuasaan Jenghis Khan.

Kedelapan, Perang Salib VIII

Dengan direbutnya kota Yerusalern oleh Malik al- Shalih, pasukan salib kembali menyusun penyerangan terhadap wilayah lslam. Kali ini Louis IX, kaisar perancis, yang memimpin pasukan salib kedelapan. Mereka mendarat di Dirnyat dengan mudah tanpa perlawanan yang beranti. Karena pada saat itu Sultan Malikal-shalih sedang menderita sakit keras sehingga disiplin tentara muslim merosot. Ketika pasukan Louis IX bergerak menuju ke Kairo melalui jalur sungai Nil, mereka mengalami kesulitan lantaran arus sungai mencapai ketinggiannya, dan mereka juga terserang oleh wabah penyakit, sehingga kekuatan salib dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Turan Syah, putra Ayyub.

Setelah berakhir perang salib ke delapan ini, pasukan Salib-Kristen berkali-kali berusaha mernbalas kekalahannya, namun selalu mengalami kegagalan.

  1. Akibat Perang Salib

Perang salib yang berlangsung lebih kurang dua abad membawa beberapa akibat yang sangat berarti bagi perjalanan sejarah dunia. Perang salib ini menjadi penghubung bagi bangsa Eropa mengenali dunia lslam secara lebih dekat yang berarti kontak hubungan antara barat dan timur semakin dekat. Kontak hubungan barat-timur ini mengawali terjadinya pertukaran ide antara kedua wilayah tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat timur yang”maju menjadi daya dorong pertumbuhan intelektual bangsa barat, yakni Eropa. Hal ini sangat-besar andil dan peranannya dalam meahirkan era renaissance di Eropa.

Pasukan salib merupakan penyebar hasrat bangsa Eropa dalam bidang perdagangan dan perniagaan terhadap bangsa-bangsa timur. Selama ini bangsa barat tidak mengenal kemajuan pemikiran bangsa timur. Maka perang salib ini juga membawa akibat timbulnya kegiatan penyelidikan bangsa Eropa mengenai berbagai seni dan pengetahuan penting dan berbagai penemuan yang telah dikenali ditimur. Misalnya, kompas kelautan, kincir angin, dan lain-lain, Mereka juga menyelidiki sistem pertanian, dan yang lebih penting adalah mereka rnengenali sistem industri timur yang telah maju. Ketika kembali ke negerinya, Eropa, mereka lantas mendirikan sistem pemasaran barang-barang produk timur. Masyarakat barat semakin menyadari betapa pentingnya produk-produk tersebut. Hal ini menjadikan sernakin pesatnya pertumbuhan kegiatan perdagangan antara timur dan barat. Kegiatan perdagangan ini semakin berkembang pesat seiring dengan kemajuan pelayaran di laut tengah. Namun, pihak muslim yang semula menguasai jalur pelayaran di laut tengah kehilangan supremasinya ketika bangsa-bangsa Eropa menempuh rute pelayaran laut tengah secara bebas.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Setelah mengetahui sejarah panjang Perang salib, kita bisa menyimpulkan bahwa perang salib merupakan salah satu perang yang berlangsung lama dan menentukan arah perjalanan dunia. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting dan banyak diperbincangkan oleh public. Selain itu, perang salib adalah puncak perselisihan umat Islam dan Kristen dan akan terus berlanjut. Bahkan zaman ini. Walaupun bukan dengan kontak fisik, tapi dengan cara-cara yang lebih tersembunyi dan terorganisir. Kaum intelektual menyebutnya dengan perang pemikiran (ghazwul fikr).

Kemudian dampak dari perang salib juga sangat besar terutama bagi kaum Kristen. Dari perang saliblah mereka tau tentang system timur yang sangat maju saat itu. Dengan begitu, hasrat mereka untuk maju semakin besar. Hal itu terbukti dengan dibuatnya system industry, pertanian dan pemasaran produk-produk timur oleh bangsa eropa.

Adapun hikmah dari perang salib khususnya bagi kum muslimin, bahwa jatuhnya Yerussalem ke tangan musuh adalah akibat perpecahan dan lemahnya iman kaum muslimin, seperti perebutan kekuasaan, sangat cinta dunia dan takut mati. Sebaliknya, kemenangan kaum muslimin di bawah Salahuddin Al-Ayyubi adalah berkat persatuan dan semangat jihad kaum muslimin. Maka dapat dikatakan bahwa tak ada kemenangan tanpa persatuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s