Mengawal Momentum Kebangkitan

aksi-damai-2-desember-di-monas_20161203_224618Sejak kemunduran kekhalifahan Turki Utsmani berbarengan dengan kebangkitan eropa, lambat laun umat islam tersingkirkan. Di masa kolonialisme, kekayaan umat Islam dirampas, alamnya dieksploitasi dan umat islam dijajah, bahkan di pecah menjadi banyak negara. Akibatnya, kekuatan umat melemah. Lalu, sejak era modern, kedzaliman demi kedzaliman bahkan semakin parah. Di berbagai belahan dunia, ketika umat islam minoritas, tragedy genosida kerap terjadi. Seperti di Bosnia, China, Rohingya dan Chechnya. Lebih parah lagi, di negara yang mayoritas muslim pun terjadi hal serupa. Palestina, Iraq, Afghanistan dan Suriah juga tak luput dari kekejian musuh Islam. Lalu, bagaimana dengan Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi muslim terbanyak di Dunia? Tak jauh berbeda, Muslim Indonesia juga kerap menjadi sasaran ketidakadilan. Beberapa kasus mengindikasikan ketidak-berdayaan Muslim Indonesia dalam menghadapi gempuran musuh. Stigma negative, fitnah keji, konflik agama selalu mengorbankan kaum muslimin. Namun demikian, Allah Subhanahu wata’ala rupanya punya rencana. Dengan kuasa-Nya, Ia ‘membuka kedok’ Ahok saat berpidato di Pulau seribu beberapa bulan lalu. Entah bagaimana ceritanya, pidato tersebut menimbulkan reaksi dahsyat dari kaum muslimin Indonesia, sesuatu yang tak pernah terduga. Aksi demi aksi menuntut keadilan terjadi. Termasuk aksi 212 yang dramatis nan fenomenal. Aksi yang menjadi titik balik umat Islam dalam beragama. Spiritnya tetap menyala dan terus membesar. Kini, semangat itu masih terjaga. Tapi, perlu diingat, Istiqamah merupakan perkara sulit. Apalagi, penguasa menjadi sandungan. Beberapa Ulama’ dikriminalisasi. Umat islam diadu. Hal-hal tersebut bisa saja membuat umat lelah. Lelah dengan penjangnya perjuangan dan banyaknya pengorbanan yang diperlukan. Saling Menasehati Jika dibiarkan, momentum berharga ini akan lepas. Maka, diperlukan kesabaran dan solidaritas umat untuk sama-sama menjaga. Allah SubhanahuWata’ala telah menyiratkan hal tersebut dalam surah Al-Asr ayat 2-3, yang artinya: “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” Pada intinya, sebagai makhluq yang selalu khilaf dan lupa, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sangat dibutuhkan. Dengan demikian, perjuangan panjang nan melelahkan ini tak berakhir sia-sia, tapi membawa kemerdekaan sejati bagi kaum muslimin seluruh dunia. Wallahua’lam bisshawab.

Iklan

Menyingkap ‘Identitas’ Valentine Day

valentineharam1

Jika Agustus terkenal karena terdapat hari kemerdekaan, maka Februari terkenal karena ada Valentine Day, tepatnya tanggal 14 Februari. Ya, bagi sebagian pemuda, valentine Day merupakan waktu yang tepat untuk menunjukkan kasih sayang kepada pasangan masing-masing, bahkan, jikapun kekasihnya bukan kekasih yang ‘halal’.

Valentine Day merupakan salah satu virus budaya barat yang disebarkan ke seluruh dunia melalui era Kolonialisme dan Globalisasi. Tak terkecuali Negeri-negeri muslim. Dengan ‘menekankan’ ‘hari kasih sayang’, barat tampaknya berhasil memprovokasi pemuda-pemuda muslim untuk ikut merayakannya. Apalagi, bagi mereka yang kurang iman, setan akan sangat mudah untuk menjerumuskan mereka ke dalam jurang kemaksiatan. Bahkan ironisnya, beberapa kalangan menjadikan kesempatan ini untuk kepentingan bisnis demi keuntungan pribadi.

Padahal, jika  merunut sejarah Valentine Day, maka kita akan menemukan kejanggalan demi kejanggalan, di ataranya :

Pertama, menyerupai perayaan kaum Romawi.

Sebelum adanya Valentine Day, bangsa Romawi selalu merayakan hari ‘Festival Lupercalia’. Yaitu perayaan yang dipersembahkan kepada dewa Lupercus, dewa kesehatan dan kesuburan dan Juno Februa sebagai Dewi pernikahan dan kesuburan. Perayaan ini dilakukan setiap tanggal 13-15 Februari.

Perayaan itu dimulai dengan menaruh nama-nama perawan di sebuah tempat dalm kertas-kertas yang terpisah. Kemudian para lelaki maju satu persatu untuk mengambilnya secara acak. Siapa yang terpilih, itulah yang akan menjadi partner untuk melakukan hubungan terlarang sepanjang malam.

Kedua, mitologi Yunani dan Satanis.

Dalam mitologi yunani, Lupercus setara dengan Pan yang biasa diilustrasikan sebagai manusia berkaki dan berkepala kambing. Dalam tradisi Yahudi penyembah setan (Satanis),  Pan menjelma menjadi Baphomet yang menjadi perlambangan renegeneratif lelaki dan wanita sekaligus lambang seks.

Diceritakan dalam legenda, Pan mempunyai affair dengan dewi kecantikan dan dewi cinta Aphrodite (Venus), dengan Eros (Cupid, anak Aphrodite). Menurut legenda yang lain, Aphrodite sangat tertarik dengan ketampanan anaknya sehingga melakukan hubungan badan dengan anaknya sendiri.

Adapun Juno Februa merupakan Istri dari Jupiter, pemimpin para dewa. Ia dikenal sebagai Hera yang menikah dengan Zeus pada bulan Gamelion. Yaitu antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari.

Ketiga, Dimodifikasi oleh Kristen.

Ketika kaum Kristen berhasil menguasai Romawi, tahun 494 M, paus Gelasius I mengakulturasi Festival Lupercalia menjadi ‘Festival Penyucian Bunda Maria’. Namun, esensi perayaan ini tetap sama.

Selain itu, Valentine Day pernah pula disandarkan kepada tokoh ‘Saint Valentine’ yang berjuang demi cinta hingga menjadi martir pada 14 Februari, walaupun kebenarannya tak bisa diverifikasi.

Demikian fakta Valentine Day yang tidak banyak diketahui. Pada intinya, perayaan ini adalah perayaan yang dilakukan untuk meneladani semangat Pan, Juno, Lupercus, Cupid, Saint Valentine yang semuanya bermuara pada ‘NAFSU SYAITON’. Sehingga, sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Wallahu A’lam.

 

Tegas atau Tergilas

fpi-habib-rizieq-shihab-foto-ist-709-640x415

Habib Rizieq Shihab, siapa yang tidak familiar dengan nama itu?. Apalagi, beberapa pekan terakhir, namanya terus menghiasi media, elektronik maupun cetak, walau dengan pemberitaan negative. Ketua FPI pusat ini telah berkali-kali dipanggil polisi, bahkan pernah dipenjara. Itu semua karena ketegasannya dalam memberantas kemungkaran. Banyak yang suka dengan beliau namun banyak juga yang menbenci.

Sayangnya, sebagian orang yang membenci juga termasuk umat Islam, bahkan beberapa diantaranya tokoh yang dikenal di tengah masyarakat. Menurut mereka, HBS – begitu biasa ia disebut – tak mencerminkan seorang ulama. Alasannya,  ia orang yang kasar dan bertolak belakang dengan gaya dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam yang penuh dengan kelembutan.

Memang, dalam berbagai kesempatan ceramah atau orasi, HBS selalu menampilkan ketegasan terhadap kemungkaran dan ketidakadilan yang diterima umat Islam. Namun, hal itu tidak bisa menjadi alasan untuk menyalahkannya. Karena dalam Islam, ketegasan kepada perbuatan buruk dan merugikan umat adalah keharusan. Hal itu dikenal dengan istilah nahi mungkar.

Bahkan dalam salah satu ayat Al Qur’an, Allah menyeru umat muslim agar tegas kepada kaum kafirin. Karena mereka sesungguhnya membenci kaum muslimin. Mereka tidak akan  rela kecuali umat Nabi Muhammad mengikuti ajaran mereka. Saat ini, hal tersebut benar-benar terbukti. Al-Qur’an beberapa kali dinistakan. Ajaran islam mereka larang. Umat islam mereka bohongi bahkan ulama mereka habisi dan bully di medsos. Mereka adalah jenis manusia yang suka berkhianat dan mementingkan nafsu duniawi.

Itulah mengapa, dalam perang khaibar, Rasulullah SAW memerintahkan pasukannya untuk membunuh seluruh kaum kafir (Yahudi) laki-laki. Itu semua beliau lakukan dengan berbagai pertimbangan. Nabi tidak ingin orang-orang kafir tersebut menjadi kuat lalu menghabisi kaum muslimin.

Dan itulah yang dilakukan seorang Habib Rizieq Shihab. Ia percaya kepada Al-Qur’an dan Rasulullah SAW tentang bahaya yang mengancam jika tidak tegas kepada kaum kuffar. Walaupun harus menghadapi ancaman dari pembencinya. Yang demikian dialami oleh para pendakwah sejati. Wallahu A’lam.