Menyingkap ‘Identitas’ Valentine Day

valentineharam1

Jika Agustus terkenal karena terdapat hari kemerdekaan, maka Februari terkenal karena ada Valentine Day, tepatnya tanggal 14 Februari. Ya, bagi sebagian pemuda, valentine Day merupakan waktu yang tepat untuk menunjukkan kasih sayang kepada pasangan masing-masing, bahkan, jikapun kekasihnya bukan kekasih yang ‘halal’.

Valentine Day merupakan salah satu virus budaya barat yang disebarkan ke seluruh dunia melalui era Kolonialisme dan Globalisasi. Tak terkecuali Negeri-negeri muslim. Dengan ‘menekankan’ ‘hari kasih sayang’, barat tampaknya berhasil memprovokasi pemuda-pemuda muslim untuk ikut merayakannya. Apalagi, bagi mereka yang kurang iman, setan akan sangat mudah untuk menjerumuskan mereka ke dalam jurang kemaksiatan. Bahkan ironisnya, beberapa kalangan menjadikan kesempatan ini untuk kepentingan bisnis demi keuntungan pribadi.

Padahal, jika  merunut sejarah Valentine Day, maka kita akan menemukan kejanggalan demi kejanggalan, di ataranya :

Pertama, menyerupai perayaan kaum Romawi.

Sebelum adanya Valentine Day, bangsa Romawi selalu merayakan hari ‘Festival Lupercalia’. Yaitu perayaan yang dipersembahkan kepada dewa Lupercus, dewa kesehatan dan kesuburan dan Juno Februa sebagai Dewi pernikahan dan kesuburan. Perayaan ini dilakukan setiap tanggal 13-15 Februari.

Perayaan itu dimulai dengan menaruh nama-nama perawan di sebuah tempat dalm kertas-kertas yang terpisah. Kemudian para lelaki maju satu persatu untuk mengambilnya secara acak. Siapa yang terpilih, itulah yang akan menjadi partner untuk melakukan hubungan terlarang sepanjang malam.

Kedua, mitologi Yunani dan Satanis.

Dalam mitologi yunani, Lupercus setara dengan Pan yang biasa diilustrasikan sebagai manusia berkaki dan berkepala kambing. Dalam tradisi Yahudi penyembah setan (Satanis),  Pan menjelma menjadi Baphomet yang menjadi perlambangan renegeneratif lelaki dan wanita sekaligus lambang seks.

Diceritakan dalam legenda, Pan mempunyai affair dengan dewi kecantikan dan dewi cinta Aphrodite (Venus), dengan Eros (Cupid, anak Aphrodite). Menurut legenda yang lain, Aphrodite sangat tertarik dengan ketampanan anaknya sehingga melakukan hubungan badan dengan anaknya sendiri.

Adapun Juno Februa merupakan Istri dari Jupiter, pemimpin para dewa. Ia dikenal sebagai Hera yang menikah dengan Zeus pada bulan Gamelion. Yaitu antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari.

Ketiga, Dimodifikasi oleh Kristen.

Ketika kaum Kristen berhasil menguasai Romawi, tahun 494 M, paus Gelasius I mengakulturasi Festival Lupercalia menjadi ‘Festival Penyucian Bunda Maria’. Namun, esensi perayaan ini tetap sama.

Selain itu, Valentine Day pernah pula disandarkan kepada tokoh ‘Saint Valentine’ yang berjuang demi cinta hingga menjadi martir pada 14 Februari, walaupun kebenarannya tak bisa diverifikasi.

Demikian fakta Valentine Day yang tidak banyak diketahui. Pada intinya, perayaan ini adalah perayaan yang dilakukan untuk meneladani semangat Pan, Juno, Lupercus, Cupid, Saint Valentine yang semuanya bermuara pada ‘NAFSU SYAITON’. Sehingga, sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Wallahu A’lam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s