Konsekuensi Keimanan

bumi-tangan-2

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang mendustakan [Q.S Al-Ankabut ayat 2-3]

“CUKUP, Keluar dari rumah ini,..kau telah mengecewakanku!” Wajah bapak itu merah padam, suaranya berat, baru kali ini ia semarah itu. “Cepat, jangan sekali-kali memperlihatkan wajahmu itu lagi, PERGIII!!” hardiknya tanpa menoleh.

………………………………

Rian terbangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya. “Ah, mimpi itu lagi!” desahnya.  Ia mengusap wajahnya sambil bangkit, menuju kamar mandi dan berwudhu. Namun bayangan itu tak juga hilang. Kini, raut wajahnya berubah murung, persis seperti anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya. Namun, ia tak berusaha lari dari kenyataan hidupnya itu, ia juga tak menyesalinya. Yah, kejadin 5 bulan lalu itu memang telah merenggut semuanya. Keluarganya, harapan-harapannya, harta bendanya bahkan masa depannya, semua hilang dalam sekejap.

Ia ingat, saat itu, ia baru masuk tahun ajaran ke-2 di salah satu Universitas ternama. Sebagai anak dari orang kaya nan terpandang, ia menjalani hidupnya dengan mudah, santai dan foya-foya. Segala fasilitas telah tersedia, ia betul-betul tipe anak manja. Kehidupan seperti di surga itu tiba-tiba hancur gara-gara ia iseng membaca sebuah tulisan di Mading kampusnya. Tulisan berjudul ‘Hidup setelah mati’ itu ditulis oleh salah satu anak LDK yang kebetulan se-jurusan dengannya. Sebagai anak yang dididik oleh orang tua atheis, awalnya ia ragu dengan argumentasi-argumentasi di tulisan itu, namun ternyata, ia telah terlanjur tersentil dengan pertanyaan-pertanyaan tentang esensi kehidupan, penciptaan hingga masalah akhirat.

Saat itu, tak ada solusi yang ia dapatkan selain bertanya mendalam kepada si pembuat tulisan. Khaidir namanya.

“Dir, kamu kan yang nulis artikel tentang ‘Hidup setelah mati’ di Mading kampus!?” tanyanya to the point saat mereka tak sengaja berpapasan di tangga.

“Iya tuh, kenapa akh?” Khaidir menjawab simple. ‘jangan-jangan, si anak atheis ini dah sadar’ pikirnya.

“Akh? Maksudnya?” Tanya Rian polos.

“Akh itu panggilan ‘sayang’ sesama muslim, dari bahasa Arab, artinya ‘Saudara’!” Jawab Khaidir singkat.

“ow gitu,…eh, aku punya banyak pertanyaan buatmu! Kapan kamu punya waktu, aku pengen diskusi!”

“Ow, bagus tuh, Insya Allah besok yah, di Masjid Al-Hidayah!”

“Oke, siip!” tutupnya sambil berlalu.

Keesokan harinya, Rian dengan antusias datang ke tempat perjanjian, Masjid Al-Hidayah. Di sana, ia telah ditunggu oleh Khaidir beserta beberapa orang yang tidak ia kenal. Namun anehnya, mereka semua terasa akrab.

Mereka pun diskusi tentang banyak hal. Jamuan makan dan minum yang disediakan si Khaidir sama sekali tak disentuh. Bukan karena tak selera, namun karena ia sangat tertarik dengan kata-kata ‘pancingan’ si Khaidir. Diskusi itu ‘dihentikan’ oleh azan dhuhur dan berlanjut keesokan paginya. Hingga hari ke-lima, keyakinannya berubah. Sekarang, ia meyakini tentang keberadaan tuhan, adanya hidup setelah mati, tujuan hidup hingga kebenaran Al-Qur’an. Sesekali, ia ikut sholat walau belum bersyahadat. Barulah dua minggu setelah diskusi ia memantapkan hati untuk bersyahadat secara sembunyi-sembunyi. Hanya disaksikan oleh Khaidir dan teman-temannya.

Semenjak itu, jadwalnya berubah. Jika dulu ia adalah jagonya maksiat, kini ia ahli ibadah. Namun, keimanan memang akan membawa konsekuensi tersendiri. Ikrar dua kalimat syahadat bukanlah kalimat biasa yang dapat ditanggung oleh orang biasa. Ia adalah kalimat luar biasa dengan resiko yang luar biasa pula.

Sebulan kemudian, ketika ia sudah siap untuk mengakui keimanannya, ia dengan gugup membuka pintu. Tepat di kursi sana, ayahnya telah menunggu.

“Rian, apakah betul kamu telah percaya dengan hal-hal yang tak masuk akal itu.” Sergap ayahnya.

“Tidak ayah, saya tak percaya pada hal-hal yang tak masuk akal.” Rian membantah.

“Jawab dengan jujur!!” seru ayahnya sambil mengangkat sebuah buku diari. Rian terkesiap, namun ia telah mempersiapkan jawabannya.

“Yah, saya memang telah percaya dengan keyakinan Islam, namun itu karena semua hal tersebut sangat masuk akal! Saya akan……”

“DIAM, kamu tahu siapa ayah, ayah adalah orang yang paling getol menyuarakan kebebasan hidup dan ketiadaan tuhan. Buku-buku dengan bukti ilmiah dan argumentasi telah ayah tuliskan untuk orang-orang bodoh diluar sana! Tapi ternyata, ayah tak sadar kalau didalam rumah ini juga ada orang seperti mereka!!” ujar ayahnya keras sambil berbalik.

“Saya akan jelaskan ayah, paham komunis itu…!”

““CUKUP, Keluar dari rumah ini,..kau telah mengecewakanku!” Wajah ayahnya merah padam, suaranya berat, baru kali ini ia semarah itu. “Cepat, jangan sekali-kali memperlihatkan wajahmu itu lagi, PERGIII!!” hardiknya tanpa menoleh.

Rian tersentak kaget. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapat respon seberat itu. Padahal, ia telah berdo’a kepada Allah SWT selama ini. Do’a untuk melembutkan hati seperti yang diajarkan oleh Khaidir. ia menjadi lemas, air matanya ingin menetes, namun ia teringat akan ayat yang pernah ia pelajari tentang ujian orang-orang yang mengaku beriman. Ayat itu benar-benar meneguhkan hatinya.

“Baiklah ayah, saya akan pergi dari rumah ini, tapi mudah-mudahan ayah juga akan menemukan kebenaran seperti yang saya temukan!!” Tutupnya sambil berlalu.

………………………………….

Rian tersenyum mengingat kejadian itu. Ia memilih bertahan dengan keyakinannya tentang kebenaran Islam. Walau kini hidupnya susah, serba kekurangan, namun ia tetap semangat menjalaninya bersama Khaidir dan 50 santri lainnya di sebuah Pesantren Mahasiswa. Wawasan keislamannya berkembang pesat.

“creeeng…creeeng…creeeng….” HP Nokia Jadul bergetar di kantongnya. Ia segera menjawab.

“Halo, Assalamualaikum? Dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?” ia langsung menyerang dengan pertanyaan beruntun.

“Waalakumsalam warahmatullahi,..Rian, ini ayahmu,….kamu pulang yah….ayah tunggu kamu”. Suara yang sangat ia kenal itu terdengar. Tak terasa, ia meneteskan air mata. Terharu.
 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s