Makalah Komunikasi Antarbudaya dan Perubahan Sosial

MAKALAH

Komunikasi Antarbudaya dan Perubahan Sosial

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Komunikasi Antarbudaya”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Alim Puspianto M.Kom

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM SURABAYA

T.A 2016/2017

 

Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalm makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Alim Puspianto, M.Kom.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang special dan unik. Special karena memiliki kemampuan berfikir, menalar dan menentukan arah kehidupan dan sejarah. Unik karena berbeda-beda dan mempunyai kekhasan tersendiri disetiap daerah. Manusia terus berkembang dan berkembang.

Salah satu kekhasan manusia adalah sifat social dan kebudayaan yang dimilikinya. Setiap kelompok manusia memiliki cara berbeda dalam bersosial dan berbudaya. Namun, karena perkembangan teknologi, pertemuan-pertemuan antarbudaya tak bisa dielakkan. Antara kelompom masyarakat satu dan masyarakat yang lain tak bisa menghindar dari komunikasi. Maka lahirlah komunikasi antarbudaya yang dinamis.

Komunikasi antarbudaya tentu menimbulkan gejolak. Meninggalkan budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam sebuah kelompok masyarakat lalu menerima kebudayaan lain bukanlah sesuatu yang mudah. Sehingga perubahan social dan budaya lahir bukan tanpa tantangan.

Makalah ini berusaha mengungkap hal-hal tersebut di atas. Setelah mengumpulkan berbagai literature yang ada, penulis berusaha menyajikan teori-teori dan hasil penelitian terhadap masalah ini.

2. Rumusan Masalah

a. Apa definisi Komunikasi Antarbudaya?

b. Apa yang dimaksud dengan perubahan social?

c. Apa hakekat perubahan social dan budaya?

d. Apa sifat-sifat perubahan social dan budaya?

e. Bagaimana tahapan-tahapan perubahan social budaya?

3. Tujuan

a. Menemukan definisi Komunikasi Antarbudaya.

b. Memahami makna perubahan social dan budaya.

c. Memahami hakekat perubahan social dan budaya.

d. Mengetahui sifat-sifat perubahan social dan budaya.

e. Mengetahui tahapan-tahapan perubahan social dan budaya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sekilas Tentang Komunikasi Antarbudaya

Pembicaraan tentang komunikasi antarbudaya tidak dapat dielakkan dari pengertian kebudayaan (budaya). Komunikasi dan kebudayaan tidak sekedar dua kata namun merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dimana studi komunikasi antarbudaya (William dalam Liliweri, 2013: 8) dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi.[1]

Liliweri (2013: 9) mendefinisikan komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara dua orang/lebih yang berbeda latar belakang kebudayaan. Sependapat dengan Jandt (1998: 36) mendefinisikan Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture yang berarti bahwa komunikasi antarbudaya secara umum merujuk pada interaksi face to face diantara orang-orang dengan berbagai kebudayaan yang berbeda.[2]

B. Perubahan Sosial

Perubahan social adalah proses social yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur budaya dan system-system social, dimana setiap tingkatan kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan social yang lama, kemudian menyesuaikan dengan yang baru.[3]

Perubahan social juga dapat diartikan sebagai perubahan pada lembaga-lembaga social dalam suatu masyarakat. Perubahan-perubahan pada lembaga social ini kemudian memberikan pengaruh pada perubahan system sosialnya. Termasuk nilai-nilai pola perilaku ataupun sikap.[4]

Ada pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial itu merupakan suatu respons atau jawaban dialami terhadap perubahan – perubahan tiga unsur utama ;
a. Faktor alam
b. Faktor teknologi
c. Faktor kebudayaan

  • Tahapan tahapan dari perubahan sosial itu sendiri adalah sebagai berikut :
    a. Primitif ; pada tahapan ini manusia hidup secara terisolir dan berpindah –pindah disesuaikan dengan lingkungan alam yang mendukungnya.
    b. Agrokultural ; saat lingkungan alam mulai tidak mendukung maka pilihan buday cocok tanam menjadi pilihan.
    c.  Tradisional ; masyarakat mulai hidup secara menetap disuatu tempat yang dianggap strategis.
    d. Transisi ; kehidupan desa sudah sangat maju, isolasi kehidupan hampir tidak ditemukan lagi.
    e.  Modern ; ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas meninggalkan fase transisi.
    d.  Postmodern ; masyarakt modern yang telah melampaui tahapan – tahapanya.

 

  1. Adapun Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahapan berurutan :
    a. Invensi yaitu proses dimana ide – ide baru diciptakan dan dikembangkan.
    b. Difusi yaitu proses dimana ide – ide itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial
    c. Konsekwensi yakni perubahan – perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi.[5]

 

  1. Hakekat Perubahan Sosial

Studi tentang perubahan sosial-budaya umumnya me­rupakan salah satu dari bermacam-macam studi tentang masyarakat. Mengapa? Karena setiap pola kehidupan atau sodai pattern dapat diidentifikasi dan diuji sepanjang waktu. Per­kembangan simbol-simbol baru yang memberikan makna dalam agama, seni, literatur dan musik merupakan contoh dari per­ubahan kebudayaan, semuanya ini menjadi subjek studi teoritis yang bersifat makro. Sementara itu cara individu berinteraksi dengan seseorang atau dalam proses kelompok kecil, merupakan subjek teori atau studi-studi pada asas mikro. Jika kita sepakat bahwa perubahan sosial-budaya itu meliputi aras makro dan mikro yang terjadi dalam sebuah masyarakat maka ada baiknya kita melihat sejenak paradigma sebuah masyarakat.[6]

Kingsley Davis mengartikan perubahan-perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya timbul pengorganisasian. Contoh ini mudah terlihat dalam masyarakat kapitalis yang juga dikenal oleh masyarakat sekarang, seperti didirikannya pelbagai pabrik yang padat modal (kapital) maka terjadi perubahan hubungan antara buruh dengan majikan yang kemudian menyebabkan perubahan-perubahan dalam oganisasi ekonomi dan politik.[7]

Mac Iver membedakan perubahan sosial antara perubahan utilitarian elements dengan cultural elements yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Karena itu menurutnya, semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat diklasifikasi ke dalam dua kategori tersebut di atas, dimana utilitarian elements merupakan ciri peradaban. Contoh, kita mungkin belum memerlukan alat bantu teknologi hitung seperti kalkulator, namun lantaran sarana tersebut sangat membantu mempercepat penyelesaian pekerjaan matematis maka kita mem­beli kalkulator. Hal menggunakan materi sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan merupakan salah satu bentuk peradaban, yakni tindakan utilitarian elements namun kemauan kehendak motivasi, dorongan menggunakan alat bantu adalah kebudayaan yaitu cultural elements.

 

  1. Sifat-Sifat Perubahan

Dengan memperhatikan model-model perspektif masyarakat yang menjelaskan sistem sosial dan ruang lingkup staft masyarakat tersebut di atas maka para sosiolog maupun antropolog mulai memfokuskan analisis studi mereka terhadap komunitas. Banyak teoritis pada aras makro lebih memilih sebuah bangsa dan kelompok budaya yang luas, misalnya suatu bangsa seperti Indonesia yang berbeda etnik namun berbicara dalam bahasa Indonesia. Hanya sedikit teoritis di asas makro yang berhasil membangun suatu analisis yang mereka sebut “sistem dunia”, misalnya aneka ragam hubungan sistem ekonomi dan politik yang beruang lingkup dunia. Beberapa karakteristik perubahan itu antara lain sebagai berikut:[8]

b. Perubahan Struktural

Setiap orang dalam masyarakatnya mempunyai posisi sosial tertentu, contoh adalah pekerjaan. Dari pekerjaan dapat ditentukan jenis peran setiap orang dalam masyarakatnya. Apabila suatu saat seseorang mendapat promosi maka kita bilang orang itu naik pangkat, karena orang itu berubah peran yang makin tinggi dengan tanggungjawab yang makin besar. Dalam studi mobilitas sosial, perubahan semacam ini digolongkan sebagai perubahan sosial semata-mata dalam peran individu. Kapan kita menyebut­kan sebuah perubahan itu sebagai sebuah perubahan struktural? Kita akan bilang perubahan itu sebagai perubahan struktural kalau perubahan itu mengandung diferensiasi sosial yakni salah satu jenis perubahan struktural karena ada sesuatu yang baru dari perubahan itu, misalnya perubahan yang menghasilkan peran-peran yang lebih khusus (ada pengembangan spesialisasi).

c. Perubahan Dinamika dan Stabilitas

Stabilitas itu penting dalam semua kebudayaan. Acap kali kita mengatakan bahwa jika salah satu nilai mengalami kemajuan dan pertumbuhan, maka di sana akan terjadi dinamika. Hampir semua model masyarakat dipandang sebagai sebuah sistem yang stabil, karena di dalamnya ada struktur institusional untuk me­layani dan menangani pola-pola budaya. Dalam ilmu sosial, istilah stabil itu tidak berarti tidak ada perubahan, sebab di sana ada perubahan yang terjadi perlahan-lahan dari masyarakat masa lalu dan mengikuti perubahan waktu hingga ke masa sekarang Model suatu masyarakat yang cenderung berkembang telah di­jadikan topik bahasan ilmuwan sosial sejak abad 19, tatkala para ilmuwan itu mulai meminjam kata “sistem” dari biologi untuk menjelaskan dinamika stabilitas.[9]

a. Progress

Pilihan sistem dengan memperhatikan dinamika stabilitas merupakan model bagi suatu masyarakat yang didasarkan pada pengalaman historis dari masyarakat industrial. Namun demi­kian di sana ditunjukkan pula betapa banyak negara yang gagal mencapai kemajuan untuk memecahkan masalah-masalah bangsanya. Model ini diimplikasikan dalam perencanaan pem­bangunan untuk menciptakan suatu masa transisi secara gradual dari satu sistem ke sebuah sistem yang lebih baik. Itulah yang banyak negara diaplikasikan sebagai program pem­bangunan berkesinambungan.[10]

d. Perubahan Revolusioner

Model perubahan sosial yang revolusioner tidak berakhir dengan kekacauan sosial, tetapi model ini merupakan model untuk menjelaskan perubahan yang cepat, kacau dan acapkali ditandai dengan perubahan yang relatif stabil dari suatu masyarakat. Dalam teori revolusioner dikatakan bahwa ketegangan sosial dan konflik dapat dipandang sebagai faktor yang me­nentukan pembaharuan sosial, misalnya dari proses evolusi men­jadi revolusi. Perbedaan gradual antara perubahan sosial yang revolusioner dengan evolusioner terletak pada penggantian proses sosial dan struktur sosial.[11]

e. Beberapa Catatan tentang Pembangunan sebagai Perubahan

Jika pembangun­an dilihat sebagai proses perubahan, maka ada beberapa pen­dekatan dalam studi pembangunan yang harus diperhatikan; yaitu: (1) Pendekatan modernitas dan variannya adalah: a. pen­dekatan modernisasi, b. pemerataan kembali dengan pertumbuh­an, c. pendekatan kebutuhan dasar; dan (2) Pendekatan ekonomi politik yang terdiri dari; a. pendekatan ketergantungan, b. pendekatan sistem dunia, dan c. pendekatan artikulasi modus produksi.

Saya hanya mengambil satu pendekatan yang menurut pandangan saya relevan dengan pengaruh perubahan terhadap komunikasi antarbudaya, yakni gagasan fungsionalisme struktural dari Talcot Parsons. Jika konotasi kemajuan ditentukan dalam perbandingan atas perubahan suatu masyarakat modem dengan masyarakat tradisional maka kita akan merujuk pada lima variabel {pattern variables) yang sekaligus menunjukkan tahap pembangunan, yaitu; (1) afektif-netral afektif; (2) partikularistik – universalistik; (3) orientasi kolektif – orientasi diri; (4) status yang diberikan/ askripsi – status yang diperoleh {achievement); dan (5) fungsi tersebar – fungsi spesifik. Pertama, variabel pertama yang dibandingkan antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern adalah afektif-netral-afektif.Parsons ingin menyebutkan bahwa hubungan sosial pada masyarakat tradisional bersifat afektif personal, emosional, tingkat tatap muka. Hubungan sosial dalam masyarakat modern, impersonal, bebas emosi, dan tidak pernah bersifat langsung. Kedua, variabel partikularistik – universalis tik; dalam masyarakat tradisional orang cenderung bekerja sama dengan orang dari latar belakang yang sama, kelompok yang sama, perjanjian kerja bersifat informal dan kadang-kadang ver­bal. Masyarakat modern bersifat universalistik, penduduk kota makin padat, pembagian kerja dengan diferensiasi makin tinggi, pergaulan meluas ke masyarakat yang berbeda, kerja sama dilandasi perjanjian formal/kontrak.[12]

Ketiga, variabel orientasi kolektif dalam masyarakat tradisi­onal mengajarkan kesetiaan serta pengorbanan untuk kelompok (keluarga, komunitas, atau suku). Sebaliknya orientasi diri, mengembangkan kemampuan dan kebebasan individu. Keempat, mengutamakan status askripsi, orang dilihat dari latar belakang keluarga, warna kulit. Dalam masyarakat modem orang dinilai menurut apa yang dicapai dengan prestasi kerja. Kelima, fungsi terrebar menjelaskan bahwa peran seorang sering kali tumpang tindih dan tidak mempunyai batas yang jelas. Sebaliknya, dalam masyarakat modern peran-peran yang berbeda ini biasanya dipegang oleh orang yang berbeda-beda dan cenderung tidak ada ketumpangtindihan.

5. Teori-Teori Perubahan Sosial

a. Teori Evolusi ( Evolution Theory )

Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theories of evolution, dan multilined theories of evolution.[13]

  • Unilinear Theories of Evolution

Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain Auguste Comte dan Herbert Spencer.[14]

  • Universal Theories of Evolution

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen menjadi kelompok yang heterogen.[15]

  • Multilined Theories of Evolution

Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahaptahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.[16]

b. Teori Konflik ( Conflict Theory )

Menurut pandangan teori ini, pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat.[17]

c. Teori Fungsionalis ( Functionalist Theory )

Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .[18]

d. Teori Siklis ( Cyclical Theory )

Beberapa bentuk Teori Siklis adalah sebagai berikut.

  • Teori Oswald Spengler (1880-1936)

Menurut teori ini, pertumbuhan manusia mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat, bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.

  • Teori Pitirim A. Sorokin (1889-1968)

Sorokin berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini adalah kebudayaan ideasional, idealistis, dan sensasi.

1) Kebudayaan ideasional, yaitu kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

2) Kebudayaan idealistis, yaitu kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal.

3) Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

  • Teori Arnold Toynbee (1889-1975)

Toynbee menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian. Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali peradaban Barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahannya.

  1. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya dan Penyebabnya

Perubahan sosial budaya dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk berikut ini.

  • Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat (Evolusi dan Revolusi)
  • Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
  • Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan

 

  1. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya

a . Sebab-Sebab yang Berasal dari Dalam Masyarakat (Sebab Intern)

  • Dinamika penduduk
  • Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat
  • Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
  • Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar.

b . Sebab-Sebab yang Berasal dari Luar Masyarakat (Sebab Ekstern)

  • Adanya pengaruh bencana alam.
  • Adanya peperangan
  • Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari teori-teori yang telah penulis rangkum tentang komunikasi antarbudaya dan perubahan social, dapat disimpulkan beberapaah hal;

  1. Bahwa antara social dan budaya adalah hal yang tak terpisahkan. Keduanya merupakan dua kata yang sangat berkaitan erat satu sama lain. Maka, untuk memahami salah satunya, harus membahas kedua-duanya.
  2. Perubahan social dan budaya adalah hal yang terus menerus terjadi. Hal tersebut telah menjadi hokum alam atau ketentuan kehidupan manusia. Perubahan ini terjadi karena banyak factor. Salah satunya teknologi dan sifat inferioritas manusia.
  3. Perubahan social terjadi karena factor-faktor yang ada. Baik factor tersebut berasal dari internal masyarakat maupun dari eksternal masyarakat.
  4. Perubahan social terjadi untuk memenuhi tuntutan zaman atau agar tak terhindar dari system universl yang dibuat oleh masyarakat mayoritas di dunia.

2. Saran

Perubahan social adalah sebuah keharusan yang mesti dipenuhi agar tak tergilas oleh zaman yang terus berubah. Akan tetapi, perubahan social dan budaya harus dikendalikan oleh setiap anggota masyarakat. Hal tersebut unruk menghindari perubahan yang justru merusak tatanan masyarakat yang telah terbentuk.

Kemudian, perubahan social dan buday tidak berarti meninggalkan system social dan kebudayaan yang menjadi khas sebuah kelompok masyarakat. Perubahan radikal dalam sebuah kelompok masyarakat yang diadopsi dari masyaraaat lain berarti pengkhianatan terhadap budaya leluhur, dengan catatan bahwa system tersebut adalah system yang baik dan bermaslahat.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

BUKU

Berry, J.W. (1999). Psikologi Lintas Budaya, Riset dan Aplikasi. Alih Bahasa dari

Edi Suhardono. 1999.Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Forse, Michel. (2004). “Teori-Teori Perubahan Sosial” dalam Sosiologi, Sejarah dan Pemikirnya. Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Liliweri, A. (2007). Prasangka & Konflik, Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : LkiS.

Samovar, L.A., Porter, R.E., dan McDaniel, E.R. (2010). Komunikasi  Lintas Budaya; Communication Between Cultures. Jakarta: Salemba Humanika

Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi ; suatu pengantar PT Rajawali Pers : Jakarta\

Burhan, Bungin. 2008. Sosiologi komunikasi ; teori, paradigma dan diskursus komunikasi di masyarakat PT kencana : Jakarta

INTERNET

http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.32

http://lembahbanyu.blogspot.co.id/2013/04/komunikasi-antar-budaya-dan-perubahan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

 

 

 

[1] Diambil dari http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.32

[2] Ibid

[3] Diambil dari http://lembahbanyu.blogspot.co.id/2013/04/komunikasi-antar-budaya-dan-perubahan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Diambil dari http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Op cit

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Ibid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s