Orang tua, Benteng Pendidikan Era Digital

Cara Damping Anak di Era Digital.cms

            Terungkapnya kelompok predator anak yang memanfaatkan jejaring media social beberapa waktu lalu menjadi alarm bagi masyarakat tentang bahaya yang mengintai generasi masa depan bangsa. Kasus ini terungkap setelah empat orang angota forum Internasional yaitu Official Loli Candy’s Group itu diamankan kepolisian daerah Metro Jaya.

Menurut penelusuran, grup bejat bersebut memiliki 7000 anggota dan mayoritas aktif.  Jumlah yang cukup mengancam bagi negeri yang terkenal beradab ini. Belum lagi pelaku pedofilia yang beraksi sendiri atau tidak tergabung grup tersebut. Bisa jadi lebih banyak lagi.

Kasus ini juga menambah panjang daftar kasus yang melibatkan anak sebagai korban maupun sebagai pelaku. Masih hangat di ingatan kita, kasus pemerkosaan oleh 4 pemuda di Lampung, lalu kasus pemerkosaan oleh 13 anak belasan tahun di Surabaya, kasus Skip Challenge, hingga viralnya video seorang siswa SD yang dengan pedenya mengungkap ‘isi hatinya’, ditambah lagi dengan beberapa percakapan dan foto-foto mesra anak di bawah umur.

Fakta-fakta tersebut adalah bukti merosotnya moral hingga tingkatan terbawah. Anak-anak pun terdampak oleh arus globalisasi. Padahal, bangsa ini kental dengan norma-norma agama. Dulu dan sekarang. Lalu, mengapa hal ini terjadi?

Jika ditelusuri, dekadensi moral terjadi seiring kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Boleh dikata, semakin maju TIK, maka semakin besar pula dekadensi moral yang terjadi dikalangan anak dan remaja.

Terutama media, baik internet maupun media social, bertanggung jawab atas hal ini. Media berbasis TIK, yang sejatinya dibuat untuk kemaslahatan umat manusia, justru digunakan untuk hal-hal tidak manusiawi. Bahkan digunakan secara terencana untuk merusak moral hingga memantik kebencian kelompok. Setiap orang bebas berbuat apa saja dan sebagai siapa saja dengan medsosnya tanpa takut apa-apa. Apalagi, akun-akun anonym yang tak jelas operatornya.

Ditambah lagi, kini, setiap rumah memiliki ‘kotak ajaib’ atau televise. Lalu balita hingga anak belasan tahun yang mahir dengan gadget adalah hal lumrah. Hal yang dulu dianggap tabu. Dan bisa dipastikan, mayoritas anak beriteraksi dengan media massa dan media sosial setiap hari. Padahal melalui keduanya nilai-nilai baru disebarkan.

Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Dengan demikian, media massa menjadi sumber kebenaran dari sebuah peristiwa. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat, mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan.

Peran Orang Tua

Walau agak terlambat, kondisi kritis ini mesti disikapi secara tepat. Setidaknya untuk mengurangi jatuhnya korban lain. Salah satu solusinya adalah dengan memaksimalkan peran orang tua, guru dan lingkungan dalam mendidik. Ketiganya perlu berkolaborasi membentuk karakter anak agar terhindar dari kejamnya kemoderenan.

Orang tua sebagai pihak yang paling banyak mendampingi anak harus jeli membaca perilaku anak. Termasuk bagaimana mendidik. Jika tidak terlalu dibutuhkan, gadget mestinya dijauhkan dari anak yang masih labil. Termasuk mengawasi siaran-siaran TV yang kurang mendidik untuk dilihat anak.

Hal lain misalnya, memahamkan sang anak tentang tujuan hidup menurut agama. Mengenalkan Masjid sejak dini, mengajarkan qur’an hingga membiasakan membantu sesama. Perilaku-perilaku yang dianggap sepele juga perlu diperhatikan.

Orang tua juga bertanggungjawab mencarikan guru dan aktif berkonsultasi. Hak tersebut agar tercapai kesepahaman tentang makna pendidikan yang sesuai norma-norma ke-Indonesia-an. Sebagai  pihak yang dianggap mengerti konsep mendidik, orang tua harus lapang dada terhadap apapun yang dilakukan sang guru. Muhammad II (Al-Fatih), sang penakluk konstantinopel adalah hasil dari proses pendidikan orang tua yang berkolaborasi dengan guru. Walaupun Al-Fatih anak sultan, sang guru tetap adil dan tegas dalam mendidik beliau.

Namun, perlu diingat, lingkungan adalah hal lain yang juga sangat menentukan hasil dari proses pembentukan karakter. Saking pentingnya, Hillary Clinton pernah berujar “perlu orang sekampung untuk mendidik seorang anak!”. Bagaimanapun, anak tak bisa lepas dari interaksi di lingkungan. Untuk itulah, orang tua bertanggungjawab memilih lingkungan yang baik untuk anak-anaknya. Atau menciptakan lingkungan yang kondusif, paling tidak dengan mengajak tetangga-tetangga untuk sama-sama mendidik.

Jika ketiga hal tersebut bisa dimaksimalkan, hadirnya generasi yang paham agama dan berakhlaq adalah keniscayaan, dan menjadi harapan Islam menuju kejayaannya. Aamiin. Wallahua’alam.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s