Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Makalah Pengorganisasian Dakwah

MAKALAH

Pengorganisasian Dakwah

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengorganisasian Dakwah”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Miftahuddin, M.Si

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017


Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalam makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Miftahuddin, M.Si.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Makna Pengorganisasian Dakwah

Organisasi berasal dari kata “organisme”, yang artinya bagian-bagian yang terpadu dimana hubungan satu sama lain diatur oleh hubungan terhadap keseluruhannya. Oleh karena itu dalam organisasi paling sedikit terdiri atas dua orang yang keduanya saling bekerjasama satu sama lain demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Kerjasama tersebut terbentuk karena didorong oleh kehendak atau motif untuk pencapaian tujuan yang telah disepakati.[1] Adapun dakwah adalah aktivitas mengajak/menyeru manusia ke jalan yang benar menurut Islam. Baik melalui lisan, tulisan maupun perbuatan.

Secara terminologis berarti mengajak dan menyeru umat manusia baik perorangan maupun kelompok kepada agama islam, pedoman hidup yang di ridlai oleh Allah dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar dan amal shaleh dengan cara lisan maupun perbuatan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat nanti

Sehingga, pengorganisasian dakwah berarti keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka penciptaan tujuan yang telah ditentukan.

Sementara itu, Rosyad Saleh mengemukakan bahwa rumusan pengorganisasian dakwah itu adalah “rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi setiap kegiatan usaha dakwah dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan yang harus dilaksanakan serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara satuan-satuan organisasi atau petugasnya.

Pengorganisasian sangat erat hubungannya dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencpai tujuan, walaupun struktur itu bukan merupakan tujuan. Oleh karena itu, organizing dakwah sudah barang tentu disesuaikan dengan bidang garapan dakwah serta lokasi pewilayahan.[2]

Kualitas hubungan antara para pelaku organisasi, lebih-lebih organisasi dakwah, tidak selamanya bersifat formal tetapi juga informal, dalam bentuk perilaku pribadi yang bersifat emosional dan kadang-kadang juga irrasional.[3]

Tugas bagi para da’i adalah merancang sebuah struktur organisasi yang memungkinkan mereka untuk mengerjakan program dakwah secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuanorganisasi. Ada dua poin yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian, yaitu:

  1. Organizational Design [desain organisasi]
  2. Organizational structure [struktur organisasi]

Ketika para manajer menyusun atau mengubah struktur sebuah organisasi, maka mereka terlibat dalam suatu kegiatan dalam desain organisasi, yaitu suatu proses yang melibatkan keputusan-keputusan mengenai spesialisasi kerja, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, serta formalisasi. Jadi, pengorganisasian dakwah itu pada hakikatnya adalah sebagai tindakan pengelompokan, seperti subjek, objek dakwah, dan lain-lain.[4]

  1. Langkah-Langkah Pengorganisasian Dakwah:
  2. Penentuan Spesialisasi Kerja

Spesialisasi kerja diartikan sebagai tingkat kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang ditekuninya,dan tugas-tugas organisasi dibagi menjadi pekerjaaan-pekerjaan terpisah “pembagian kerja”.[5]

Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan yang dinyatakan dalam tiga komponen, yaitu:

  • Keterampilan teknis [technical skill], yaitu pengetahuan mengenai metode, proses prosedur, dan teknik untuk melakukan kegiatan khusus, serta kemampuan untuk menggunakan alat-alat dan peralatan yang relevan bagi kegiatan tersebut.
  • Keterampilan untuk melakukan hubungan antar pribadi [interpersonal skill], yaitu pengetahuan perilaku manusia dan proses-proses hubungan antar pribadi, kemampuan untuk mengerti perasaan, sikap dari motivasi orang lain tentang apa yang ia katakana dan lakukan [empati, sensitivitassosial], kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara jelas dan efektif [kemahiran berbicara, kemampuan persuasive], serta kemampuan untuk membuat hubungan yang efektif dan kooperatif [kebijaksanaan, diplomasi, keterampilan mendengarkan, pengetahuan mengenai perilaku sosial objek dakwah].
  • Keterampilan konseptual [conceptual skill], yaitu kemampuan analitis umum, berpikir nalar, kepandaian dalam membentuk konsep, serta konseptualisasi hubungan yang kompleks dan berarti dua, kreativitas dalam mengembangkan ide serta pemecahan masalah, kemampuan untuk menganalisis peristiwa-peristiwa dan kecenderungan-kecenderungan yang dirasakan, mengantisipasi perubahan-perubahan dan melihat peluang, serta masalah-masalah potensial.[6]
  1. Mendepertementalisasi dakwah

Setelah unit kerja dibagi-bagi melalui spesialisasi kerja maka selanjutnya diperlukan pengelompokkan pekerjaan –pekerjaan yang diklasifikasikan melalui departemensiliasi kerja ,sehingga tugas yang sama atau mirip dapat dikelompokkan secara sama-sama, sehingga dapat di koordinasikan.[7]

Pada tataran ini, secara historis pengelompokan kegiatan dakwah adalah menurut fungsi yang dilakukan atau departementalisasi fungsional. Sebagai contoh, dalam sebuah lembaga dakwah atau manajer dakwah dalam mengorganisasikan lembaganya dengan melakukan rancangan rekayasa umat, departemen finansialnya, bagian administrasinya, departemen dakwah bil-hal, bil-lisan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Kelebihan atau keuntungan dari departementalisasi dakwah adalah akan memperolehefisiensi dan mempersatukan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan, pengetahuan, dan orientasi yang sama ke dalam unit-unit yang sama.[8]

  1. Menentukan rantai komando

Rantai komando adalah sebuah garis wewenang yang tidak terputus membentang dari tingkat atas organisasi terus sampai tingkat paling bawah dan menjelaskan hasil kerja dakwah ke depertemen masing-masing.rantai ini memberikan sebuah kemudahan bagi para da’i untuk menentukan siapa siapa yang harus dituju jika mereka menemui permasalahan dan juga kepada siapa mereka bertanggung jawab.[9]

Dalam rantai komando ini tidak terlepas dari tiga konsep, yaitu:

  • Wewenang
  • Tanggungjawab
  • Komando
  1. Rentang kendali

Rentang kendali merupakan konsep yang merujuk pada jumlah bawahan yang dapat disurvei oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.[10]

Dalam memahami rentang kendali yang efektif dan efisien, maka akan ditentukan dengan melihat variabel kontingensi. Sebagai contoh, semakin banyak latihan dan pengalaman yang dimiliki para da’i, maka semakin berkurang pengawasan secara langsung oleh manajer. Pada variabel-variabel ini juga, sangat menentukan rentang yang pas mencakup kesamaan tugas para da’i, kerumitan tugas-tugas, kedekatan fisik anak buah, derajat sampai dimana prosedur-prosedur baku telah berjalan, canggihnya sistem informasi manajemen organisasi tersebut, kesulitan organisasi tersebut, serta style seorang manajer.[11]

  1. Sentralisasi dan desentralisasi

Sentralisasi diartikan sebagai kadar sampai dimana pengambilan keputusan terkonsentrasi pada tingkat atas organisasi. Konsep ini hanya mencakup pada wewenang formal, yaitu hak-hak yang inheren dalam posisi seseorang. Sementara desentralisasi adalah pengalihan wewenang untuk membuat keputusan ke tingkat yang lebih rendah dalam suatu organisasi.[12]

Secara filosofis, desentralisasi ini dapat dikembalikan pada pengertian bahwasannya setiap manusia adalah pemimpin dan setiap orang adalah khalifah, selalu cenderung dalam desentralisasi.  Fungsi organisasi secara efekktif akan terhambat jika semua keputusan hanya diambil oleh segelintir manajemen puncak dan mereka pun tidak dapat berfungsi secara efektif apabila semua keputusan dilimpahkan pada anggota-anggota lainnya (tingkat bawah).[13]

  1. Menformalisasi dakwah

Formalisasi dakwah adalah sejauh mana pekerjaan atau tugas-tugas dakwah dalam sebuah organisasi dakwah dibakukan dan sejauh man tingkah laku, skill, dan keterampilan para da’I dibimbing dan diarahkan secara prosedural oleh peraturan.[14]

Dalam sebuah organisasi dengan tingkat formalisasi yang tinggi, terdapat uraian pekerjaan yang tegas, banyak peraturan organisasi, serta prosedur yang telah dirumuskan secara jelas. Dari formalisasi yang tinggi ini terdapat job-discription yang eksplisit, banyak aturan organisasi yang terdefinisi dengan jelas, yang meliputi proses kerja dalam organisasi. Sebaliknya jika formalisasi itu rendah, maka perilaku kerja cenderung untuk tidak terprogram dan para anggota memiliki keleluasaan dalam menjalankan kerja.

Apabila dalam formalisasi sangan terbatas, maka aktifitas da’I akan cenderung relative tidak terstruktur dan para da’I juga akan lebih banyak memiliki kebebasan untuk berimprovisasi tentang bagaimana cara mereka melakukan pekerjaan.

  1. Penentuan Strategi dan struktur dakwah

Struktur organisasi dakwah adalah sarana untuk menolong para manajer dalam mencapai sasaran, karena sasaran dakwah itu dirumuskan dari strategi organisasi.tegasnya,struktur organisasi dakwah harus mengikuti strategi strategi dakwah.[15]

  1. Penyelenggaraan dan desain orhanisasi dakwah

Para da’i baik dalam satu tim atau perorangan membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan dan menentukan strategis dakwah. ”penggunaan teknologi informasi sangat mempengaruhi cara anggota organisasi dakwah dalam berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan dalam melaksanakan aktivitas mereka.[16]

 

[1] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1  diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[2] http://noorsyafitriramadhani.blogspot.co.id/2014/02/tanzhim-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.27

[3] Op.Cit

[4] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[5] Op.cit

[6] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[7] Ibid

[8] Op.cit

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Op.cit

[12] Ibid

[13] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.14

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

PILKADA Usai, Saatnya Damai

images           Mendekati Pilkada putaran kedua lalu, yang diadakaan tanggal 19 April, situasi politik memanas. Beragam isu disebar, lalu disambut para pendukung. Media sosial ‘membara’ dengan tuduhan, klaim sepihak, hoax, adu argument bahkan makian.  Bahkan Polri menerima hingga 1900 laporan dugaan hoax terkait pilkada (Akbar Faizal, ILC 25 April 2017). Kondisi ini membuat beberapa pihak memprediksi akan terjadi chaos pasca pilkada.

Tapi, watak bangsa Indonesia memang istimewa. Kekhawatiran akan terjadi kerusuhan tidak terbukti. Pilkada berlangsung damai dan jujur. Hingga sekarang, hampir sebulan pasca Pilkada pun, keadaan Jakarta aman-aman saja.

Anehnya, yang ‘chaos’ justru di medsos. Isu-isu tak henti digoreng, entah siapa pelakunya. Yang jelas, mereka tak suka jika Indonesia damai. Sialnya lagi, banyak anak bangsa yang ikut-ikutan membumbui. Perang tweet, status facebook hingga tulisan di web masih terjadi. Walau Pilkada telah usia, dan hasilnya telah final, persaingan masih terasa.

Persaingan politik memang tak bisa dielakkan. Menghilangkan persaingan seperti halnya menjadikan system politik otoriter tanpa alternatif. Kedua, adanya kompetisi akan memacu kontestan menjadi yang terbaik. Setiap paslon akan memikirkan inovasi kreatif terbaik demi kemajuan masyarakat. Namun, konsep persaingan politik layaknya prinsip ‘zero sum’, setiap kemenangan dari satu pihak, berarti kekalahan dipihak lain. Itulah resiko demokrasi yang harus diterima lapang dada oleh masing-masing paslon dan pendukung setianya. Setiap kontestan yang ikut berdemokrasi harus paham bahwa ia tidak hadir sendirian, banyak lawan politik lain yang juga memiliki tujuan untuk berkuasa.

Dengan demikian, semestinya persaingan politik tidak dijaga sepanjang tahun. Cukuplah di masa-masa kampanye. Itupun sebatas adu program. Kemudian, actor politik, juga pendukungnya mesti legowo jika kalah. Namun yang menang tak terlalu jumawa. Karena gubernur terpilih adalah milik bersama. Itulah kelebihan demokrasi.

Sebagai contoh, seusai Pilpres Amerika tahun 2008, John McCain, lawan Barack Obama langsung mengucapkan selamat saat mengetahui ia kalah. “ Hari ini, kita akan mendapatkan seorang presiden baru. Dan saya akan membantu dia dengan segala kekuatan yang saya miliki untuk keluar dari krisis dan memajukan Amerika.” Katanya. Kira-kira itulah contoh kedewasaan dalam demokrasi.

Sikap seperti itu mestinya dimiliki setiap actor politik dan masyarakat secara umum. Apalagi, tujuan utama setiap kandidat sama-sama ingin memajukan Jakarta.  Walaupun dengan metode yang berbeda.

Warga Jakarta tak bisa tidak harus berdamai dan bersatu membangun kota. Bagaimanapun bagusnya program-program yang ditawarkan gubernur terpilih, tak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Kerenggangan hubungan antara pemimpin dan sebagian masyarakat justru akan membuat si ibu kota semakin merana. Demikian pula dengan tokoh-tokoh masyarakat yang berada di pihak yang kalah, sudah sehaarusnya membantu gubernur terpilih.

Adapun gubernur baru beserta pemilihnya, harus legowo meminta bantuan, koreksi dan masukan kepada semua orang. Tak terkecuali lawan politiknya. Bahkan tak ada salahnya melanjutkan program yang telah berjalan. Jika itu baik bagi warga ibukota, karena Jakarta milik semua.

​Aku bertanya ‘Perlukah #Revolusi?’

Revolusi

Ketika kaum miskin terlunta”….
Sedang yang kaya berfoya”….

Perlukah #Revolusi?

Ketika Bu Patmi merenggang nyawa karena menuntut haknya….

Sedang penguasa tertawa” di kursi empuknya….

Perlukah #Revolusi?

Ketika anak terbaik bangsa berakhir di penjara…..

Karena tuduhan yang dibuat” para pemain sandiwara….

Perlukah #Revolusi?

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Ketika pers menjadi corong pembualan….

Sementara yang benar ditenggelamkan….

Perlukan #Revolusi?

Ketika sang penista bebas berkeliaran….

Sementara Ulama diancam pembunuhan….

Perlukah #Revolusi?

Ketika aparat menjadi preman….

Seenaknya membubarkan pengajian….

Perlukah #Revolusi?

Ketika komunis mengancam Sang Garuda….

Sedang si panda menjadi garang dan berbisa….

Perlukah #Revolusi

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Indonesia merana….

Dunia tertawa….

Melihat martabat bangsa hilang entah kemana….

Sementara istana menunduk patuh tak berdaya….
Oh, kemana lagikah aku mengadu?

Selain kepada kalian yang merasa kita adalah satu?

Dan kepada kalian yang mengaku “Indonesia di hatiku?”

Juga kalian yang berteriak “Jaga NKRI dari pengadu, mari bersatu?”

Kita hanya menunggu waktu….

Kita menunggu perintah “Serbuuuu!!”…

Tak perlu #Revolusi???

M Faruq

Surabaya, Rabu, 00.00 WIB