The Sensitive Year

37176544-indonesia-mapa-en-un-fondo-de-la-bandera-de-indonesia-vendimia

Diawali oleh pidato mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama di pulau seribu lalu, public menjadi sensitive. Pidato penistaan agama tersebut menjadi pemicu berbagai peristiwa. Masyarakat terpecah menjadi berkubu-kubu. Setiap kubu mengklaim pihak yang benar. Maka, lahirlah aksi massa terbesar sepanjang sejarah, aksi 212. Setelah Ahok dipidana 2 tahun penjara, kembali terjadi aksi balasan. Aksi seribu lilin yang diadakan seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Walau peristiwa-peritiwa tersebut terjadi berbulan-bulan lalu, namun jejaknya tetap jelas. Kubu-kubu yang berseberangan masih ‘bertempur’. Paling tidak dimedsos. Public – yang dulunya tak bernafsu membahas masalah Negara – kini memelototi setiap kejadian. Public menjadi ‘penyusun puzzle’ setiap tragedi. Masyarakat menjadi sensitive. Apapun yang terjadi, akan dianggap sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Kelas menengah ke bawah, yang awalnya hanya memikirkan nasibnya, mulai ikut mengawas Negara. Para ibu rumah tangga, yang tahun lalu menggunakan medsos hanya untuk sharing masalah rumah tangga, kini mulai menganalisis setiap peristiwa yang terjadi. Dan mereka yang sedari dulu kritis, mendapat peluang ‘naik daun’. Tulisan-tulisan mereka di Facebook, di blog hingga cuitan di twitter semakin digandrungi. Menjadi rujukan yang berkepentingan.

Kondisi ini tentu ada plus minusnya. Berita baiknya adalah masyarakat mulai sadar akan perannya di negeri ini. Bahwa mereka punya tanggung jawab atas segala hal yang terjadi. Bahwa mereka berhak mengkritik dan berpendapat. Hal ini akan menjadi pengawas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pejabat akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Dengan meleknya masyarakat terhadap politik, diharap menjadi batu loncatan untuk menemukan tokoh yang benar-benar bersih. Yang lahir dari rahim rakyat dan mengerti kondisi rakyat. Bukan di’asuh’ oleh media. Bukan hasil pencitraan.

Namun, kondisi ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal buruk. ‘Devide at ampera’ atau politik belah bambu ala belanda sangat mudah diterapkan. Pihak-pihak yang tak suka dengan kebangkitan Indonesia akan terus menggoreng isu. Lalu, isu-isu yang telah ‘matang’ tersebut ‘dihidangkan’ di web, blog hingga medsos. Maka terjadilah perdebatan antar kubu. Bisa dipastikan umpatan, makian, olokan, juga ocehan akan bersileweran di kolom komentar.

Jika hal seperti itu sudah terjadi, bisa dipastikan keharmonisan dalam berbangsa akan hilang. Potensi-potensi besar Negara menjadi sia-sia, tak bernilai. Kemudian menjadi pintu masuk bagi kehancuran bangsa ini.

Solusinya adalah intropeksi masing-masing pihak. Berupaya “melihat kedalam”, bukan malah sibuk mencari kesalahan. Berkonstribusi nyata terhadap kemajuan, tidak malah menghancurkan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

1438 H, Ramadhan Edisi Spesial ku

18485642_1493168560734521_4449093307384508180_n.jpg

Sebagai seorang Muslim, Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Banyak cerita yang terukir dibulan penuh berkah ini. Bulan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan keseruan bagi setiap insan Muslim. Terasa begitu menggairahkan. Tak terkecuali bagi kami. Kami, Mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya khususnya semester 6.

Tapi, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang kami jalani dengan ‘gaya’ berbeda. Ya, saat banyak orang yang menikmati bulan berkah ini bersama keluarga, atau berlomba-lomba berumroh ke kota suci, Makkah, demi meraih pahala maksimal, kami memilih menghadapi Ramadhan dengan berbagi kepada sesama.

Yup, kami memasuki bulan Ramadhan di kampung asing. Saat itu, bertepatan dengan program KKN semester kami. Seperti kebiasaan kampus, lokasi yang dipilih untuk kegiatan ini adalah lokasi ‘menyulitkan’.

Desa yang kami tempati adalah sebuah lembah di kaki Gunung Semeru, masuk dalam kawasan taman nasional tengger, Kab. Lumajang, Jawa Timur. Desa ini berada di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Ranupani namanya. Seperti pada umumnya, pada ketinggian demikian, hawa dingin adalah hal pasti. Tapi, bagi kami sebagai orang yang terbiasa tinggal di daerah berhawa panas, hawa di sini tergolong ekstrim. Jadilah kami menjalani bulan penuh berkah dengan hawa dingin ektrim.

Ranupani memang memiliki budaya unik dan agak berbeda. Karena alasan hawa, rumah-rumah disini ‘wajib’ dilengkapi dengan tungku besar. Biasanya, waktu lebih banyak dihabiskan di sekitar tungku daripada daerah lain di rumah. Bahkan, menerima tamu pun dilakukan disekitar tungku yang berada di dapur.

Bahasa mereka juga agak berbeda. Walau agak mirip dengan bahasa jawa pada umumnya, bahasa jawa ini memiliki aksen yang berbeda. Beberapa warga mengatakan bahwa bahasa ini termasuk jawa kuno. Karena mayoritas kami adalah orang bersuku non-jawa, komunikasi menjadi agak sulit. Sementara bahasa Indonesia sangat jarang digunakan. Karena memang hanya segelintir orang yang mengerti bahasa persatuan ini.

Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani. Umumnya, mereka menanam kentang, kubis dan bawang pering. Ladang-ladang mereka kebanyakan di bukit. Lereng-lereng dengan kemiringan ekstrem dihiasi dengan tumbuhan jenis ini. mereka merupakan pekerja keras. Kentang mesti disemprot 2 hari sekali, bawang pering harus dibersihkan dari tumbuhan liar dan kubis mesti dijaga dari hama dan binatang pengerat. Karena ‘tuntutan alam’ semacam itu, mereka menjadi masyarakat disiplin.

Namun, pendidikan, baik agama maupun umum, tak banyak mendapat perhatian. Karena tergolong berpendapatan tinggi, kebanyakan masyarakat tidak lagi peduli dengan pendidikan. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Inilah sasaran utama kami.

Memahamkan penduduk tentang pentingnya pendidikan, khususnya agama, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Untungnya, Ramadhan ‘menjembatani’ tujuan itu. Detik demi detik di bulan Ramadhan kami upayakan untuk memberi pemahaman secara maksimal. Sasaran utamanya adalah anak-anak.

Ramadhan benar-benar membantu mensukseskan acara-acara yang telah direncanakan. Seperti biasa, di manapun itu, kesadaran masyarakat dalam hal ibadah meningkat. Sambutan untuk bulan suci yang meriah, suasana masjid-masjid yang ramai, persepsi masyarakat tentang bulan Ramadhan sebagai bulan berkah yang telah melekat, hingga sikap masyarakat yang menerima  kami dengan hangat telah membantu melupakan hawa dingin yang begitu ekstrim.

Bagi kami, berpuasa sambil mempelajari budaya baru, sekaligus berbagi ilmu merupakan hal baru. Pengalaman itu adalah hal special yang akan memperkaya wawasan kami. Membantu mengarungi dunia yang menyimpan begitu banyak rahasia. Bahkan menyemangati untuk membuka tabir kehidupan yang tersembunyi.