Menagih Janji Reformasi (Refleksi 20 Tahun Reformasi)

aksi-mahasiswa

Indonesia lahir 73 tahun silam setelah melalui proses yang tidak mudah. Berdarah-darah. Setelah lebih tiga ratus tahun hidup dalam penjajahan. Menjadi budak dinegeri sendiri. Tak punya kedaulatan. Maka, pembacaan proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 disambut gagap gempita. Dengan harapan hidup sejahtera.

Sebagai negara merdeka, Indonesia perlu tujuan. Para founding fathers memahami itu. Dibuatlah undang-undang dasar 1945 sebagai modal dasar negara makmur. Didalamnya tercantum empat tujuan mulia dibentuknya pemerintahan Indonesia; melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Dwi tunggal, Bung Karno dan Bung Hatta memulai upaya tersebut. Memimpin bangsa yang baru lahir saat itu penuh rintangan. Cengkraman penjajah belum sepenuhnya lepas. Aksi menggembosi Republik Indonesia (RI) kerap dilancarkan. Khususnya di awal kemerdekaan.

Berbagai tantangan tersebut sangat menguras tenaga bangsa. Elit penguasa juga kerap tak bisa berkompromi atas berbagai perbedaan. Puncaknya kepemimpinan dwi tunggal bubar saat Bung Hatta memilih mundur (1956). Sedang Bung Karno membubarkan konstantuante (legislatif). Situasi politik yang tidak kondusif tersebut menghalangi tercapainya amanat UUD tersebut di atas. Kesejahteraan rakyat terabaikan.

Prahara bangsa semakin dalam saat terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia, 30 September 1965. Gerakan yang dikenal dengan GESTAPU ini menjadi batu loncatan Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan. Beliau meyakinkan rakyat dengan Super Semar (surat perintah sebelas maret).

Selama 32 tahun, sang jenderal menahkodai negeri ini. Ideologi pancasila dikokohkan. Pembangunan juga digalakkan. Sekolah dibangun dimana-mana. Harga sembako diatur agar terjangkau masyarakat bawah. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia cukup disegani.

Namun, era orde baru juga menyimpan cerita pilu. Bapak pembangunan ini cenderung otoriter. Kemunculannya dari kalangan militer diselewengkan demi kekuasaan. Lawan politik diberangus. Rakyat kritis dan pers dibungkam agar tak berisik. Akhirnya, rakyat – khususnya kaum muda dan kaum terdidik – jenuh. Muncul gerakan untuk menumbangkan penguasa.

Gerakan tersebut menemui momentumnya pada tahun 1998 bulan Mei. Krisis ekonomi terjadi. Inflasi tinggi. Pengusaha banyak yang rugi. Mahasiswa menuntut reformasi. Presiden Soeharto dipaksa turun tahta. Meninggalkan istana merdeka. Akhirnya, Tanggal 21, Reformasi memulai cerita. Walau harus menumbalkan empat anak bangsa.

 

Janji Reformasi

Dalam KBBI, reformasi bermakna perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara. Artinya, reformasi menjanjikan perbaikan bangsa. Tentu dalam koridor amanat UUD 45 seperti yang telah disinggung sebelumnya.

Maka, kalangan elit politik merumuskan kembali mekanisme pengelolaan negara. Trias politica dikuatkan tugas dan fungsinya. Daerah diberi kuasa untuk mengelola wilayahnya (otonomi daerah). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk. Militer, aparatur sipil negara dan pegawai negeri sipil dibatasi hak politiknya. Selain mereka memiliki hak politik yang sama. Anggaran untuk pendidikan dinaikkan. Media pers diberi kebebasan bersuara. Pun demikian dengan rakyat, tak perlu takut bicara kritis. Katanya, dengan reformasi tersebut, amanat UUD 1945 dapat terwujud.

Kini, telah 20 tahun era reformasi (21 Mei 98 – 21 Mei 2018), muncul pertanyaan, apakah ‘janji’ reformasi telah terwujud? Atau malah membawa negeri ini semakin absurd?

Faktanya, kebebasan berbicara dan berpendapat menyuburkan caci-maki. Tuduh menuduh, menghina agama lain dan sarkasme. UU pers 1999 berdampak pada oligopoly media. Memang, media tumbuh bagai jamur, tapi hanya dikuasai beberapa kelompok – yang jika dilacak – terkait dengan partai politik tertentu. Akibatnya, konten berita sering tak jujur. Menutupi hal yang merugikan kelompoknya dan memviralkan peristiwa yang menguntungkannya. Sementara hadirnya media social membuat jagat maya dibanjiri hoax. Hujatan kian berani dilontarkan. Adab sosial yang sopan santun mulai dikesampingkan.

Dibidang politik, pemberlakuan otonomi daerah dan pemilihan langsung berdampak pada angka korupsi yang ‘menggila’. Bahkan, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo dalam Acara Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi di Hotel Bidakara, Jakarta (11/12/2017), mengatakan terjadi 313 kasus korupsi yang menimpa kepala daerah. Bahkan, hampir semua elemen pernah tersangkut kasus korupsi, tak terkecuali kalangan yudikatif. Padahal mereka adalah pengadil.

Sementara, penduduk miskin masih banyak. Survei BPS tahun 2017 menyebut angka 26.58 juta jiwa. Setara 10,12%   rakyat Indonesia. Dari sumber yang sama, pengangguran juga banyak. Sekitar 5.50% rakyat belum mendapat pekerjaan. Sementara 72% yang telah dapat kerja, merupakan pekerja penuh (bekerja 35 jam per minggu). Padahal, BBM terus naik. Listrik juga demikian. Harga sembako tentu ikut naik.

Tak heran jika di masyarakat lalu, muncul berbagai atribut bergampar Soeharto melambaikan tangan dengan tulisan ‘wis penak jamanku tho?’. Maknanya, masih enak jamanku kan? Bila demikian halnya, berhasilkah reformasi. Sudah terealisasikah janjinya? Yang berdasarkan pembukaan UUD 1945 alinea keempat, tentang tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia.

 

Pilkada Serentak 2018

Sekecewa apapun bangsa ini, setidaknya reformasi memberi harapan lima tahun sekali. Jika merasa pemerintah – baik daerah maupun pusat – belum mampu memberi kesejahteraan, rakyat memiliki hak pada pemilihan umum untuk memilih yang terbaik.

Tahun ini, tepatnya tanggal 27 Juni mendatang, akan berlangsung pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di 171 kota dan kabupaten. Pilkada serentak ini adalah yang kedua setelah pilkada serentak 2016 lalu. Kebijakan mengadakan pilkada serentak juga didasarkan pada pertimbangan anggaran pemilu yang selalu membengkak. Setidaknya, dengan diadakan serentak, biaya pemilihan umum berkurang.

Sebagai masyarakat pemilih, tentu berharap yang terbaik. Budaya black campaign, money politic dan sejenisnya harus dihentikan. Jika masyarakat pro-aktif menolak cara-cara kotor dalam pemilihan umum dan melihat calon pemimpin dengan jernih, akan lahir pemimpin yang berkompeten dalam mengurus rakyatnya. Khususnya memperjuangkan amanat UUD 1945 agar terlaksana di negara ini. Semoga!

 

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAIL Hidayatullah, Surabaya.

No Telp  : 085323594090

 

 

 

Iklan

Teroris Proyek Siapa?

bom

8 Mei, suasana di Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua, Depok mencekam. Ratusan napi terduga maupun tersangka teroris berontak. Membobol terali besi yang mengurung mereka. Menuju ruang amunisi lalu mulai menembak petugas. 5 polisi tewas dan satu menjadi sandera.

13 Mei, saat kaum kristiani sedang semangat ke gereja, satu keluarga meledakkan diri. 3 gereja di Surabaya diserang. 6 anggota keluarga ini kompak betul. Malamnya, satu keluarga lainnya ikut-ikutan. Mungkin terinspirasi keluarga sebelumnya. Sayangnya, mereka meledak sendiri. Kejadiannya di Sidoarjo. Paginya, giliran Mapolres Surabaya yang disasar. Tiga anggota polisi terluka.

15 Mei, Bang Karni mengangkat masalah ini. Presiden ILC ini mengaku bingung. Sama bingungnya dengan saya. Kok ada orang yang berpikir seperti teroris. Padahal mereka muslim. Islam sama sekali tak mengajarkan demikian. Lalu, kok mereka mau?

Pak Jenderal Polri, Muhammad Tito Karnavian buka suara. Lebih sejam, beliau jelaskan teroris ini. Sejarah, ideologi dan jaringannya. Katanya, teroris fenomena global. Hampir semua negara pernah bobol. Amerika sekalipun. Sampai sini, saya juga belum paham. Kenapa teroris muncul. Bagaimana cara berfikirnya.

Saat giliran Prof. Din Syamsuddin, barulah saya sedikit ngangguk. Kata beliau, teroris buka hanya karena ideology. Memang, dulu ada kelompok khawarij dalam islam. Tapi itu 14 abad yang lalu. Mereka bukan kelompok kuat. Berabad-abad mereka mati suri. Artinya, faktor ideology hanya salah satunya.

Saat Amerika adu kekuatan sama Uni Soviet, mereka merekrut orang. Pemuda muslim. Otaknya di cuci. Brain wash. Mereka diharapkan memerangi Uni Soviet dengan semangat. Tak takut mati. Senjata dipasok Amerika. Inilah cikal bakal Al-Qaeda. Akhirnya, operasi ini sukses. Uni Soviet pecah. Menjadi negara-negara kecil.

Ketika perang usai, Al-Qaeda terlanjur besar. Sebagian orang menganggap mereka pahlawan. Tapi Amerika tak senang. Serangan 11 September 2001 jadi alasan bagus. George Bush berteriak ‘war on terror’. Irak diserang. Selanjutnya Afghanistan, Libya, dan kini Suriah. Dunia Islam porak poranda. Masyarakat sipil mati, sengsara. Amerika justru dibenci. Serangan ke Irak rupanya demi minyak.

Ketika Suriah membara, ISIS muncul. Si bos, Al-Baghdadi naik daun. Berbagai serangan terjadi. Stadion Prancil bobol. Dunia olahraga berduka. Selanjunta terjadi aksi teror lain. Tabrak mobil. Berkali-kali. Di mana-mana. Indonesia juga jadi sasaran.

Stigma Islam Teroris

Lalu, siapa yang paling dirugikan? Tentu masyarakat dunia takut. Apa yang mereka takuti? Islam. Stigma bahwa Islam adalah agama teroris terbentuk. Terjadilah persekusi. Orang bercadar diganggu. Orang berjenggot dijauhi. Orang berjubah ditatap sinis. Islamophobia terjadi dimana-mana. Bahkan di Indonesia. Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Islam sangat dirugikan.

Dalam hal ini media berperan. Ketika terjadi aksi teror, yang dilihat siapa pelakunya. Jika muslim, ditulis teroris bla bla bla. Kalau bukan muslim, beritanya lain. Mereka akan bilang kelompok bersenjata. Atau penjahat bla bla bla. Kedua, jika pelakunya pakai jilbab, jilbabnya yang disorot. Kalau berjenggot, jenggotnya yang diungkit. Aneh.

Jadi, teroris proyek siapa?

 

 

‘Pahlawan Itu Bernama Ferry!’

pelni-tambah-armada-ke-surabaya

 “Dari sabang sampai merauke. Berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…..”

Penggalan lagu tersebut sangat familiar. Aku menghapalnya sejak sekolah dasar. Tapi saat itu, Aku menganggapnya hanya sekedar lagu. Di dalam otakku, jajaran pulau yang dimaksud hanya lima. Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Belakangan Aku tahu, anggapanku salah.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Memiliki sekitar 16.056 pulau (KKP 2017). Termasuk lima pulau terbesar di atas. Itu sebabnya, NKRI juga disebut negara maritim. Luas lautnya sekitar 3.200.000 km2 (Deklarasi Djuanda, 1957). Lebih luas dari daratnya yang hanya 2.000.000 km2.

Dengan demikian, transportasi laut menjadi penting. Sejak dulu, kapal menjadi andalan. Kapal Phinisi, salah satu yang melegenda. Walau sekarang transportasi udara telah maju, tapi masih banyak kawasan yang tak terjangkau oleh pesawat. Hanya bisa dengan memanfaatkan laut. Jalur laut juga relative lebih murah. Kapal juga bukan hanya berfungsi sebagai alat transportasi bagi manusia. Ia juga menggerakkan ekonomi masyarakat rural.

Salah satu moda transportasi laut yang familiar adalah kapal Ferry, kendaraan yang menjadi penghubung pulau-pulau terpencil. Dulu, saat aku duduk dibangku SMP, Aku selalu pulang dengan kapal Ferry. Maklum, Aku sekolah jauh dari rumah. Di Kota Makassar, Sulawesi selatan. Sementara rumahku di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Jadinya, setiap liburan, Aku harus melintasi laut. Itu jalur terdekat. Jika lewat darat, waktunya kelamaan. Duduk di dalam bis dalam waktu lama tentu sangat membosankan. Aku lebih memilih bis yang naik kapal. Kapal Ferry tepatnya. Dari pelabuhan Bajoe, Bone ke Pelabuhan Kolaka.

Naik Ferry itu asyik. Aku bisa melihat laut dari dekat. Laut biru yang terhampar. Indah. Luar biasa. Kadang ada ‘ikan terbang’ nongol ke permukaan. Kadang aku nyari lumba-lumba. Tapi tak pernah muncul. Mungkin bukan perairannya. Hehe.

Saat dijenjang SMA, Aku pindah sekolah. Di Kota Balikpapan. Pulang setahun sekali. Selalu dengan kapal. Pertama dengan kapal milik Pelni dari Balikpapan ke Pare-Pare. Lalu, naik mobil ke pelabuhan Siwa, lebih dekat. Dari situ, menuju Tobaku, Kolaka Utara dengan kapal Ferry. Dari sana, kadang singgah dirumah nenek, kadang langsung ke rumah.

Usia SMA, cukup dewasa untuk memaknai hidup. Masa pubertas. Ingin tahu banyak hal. Berada di atas kapal adalah anugerah. Di sana, berbagai jenis orang berkumpul. Dengan berbagai latar belakang. Berbagai pengalaman. Dan karakter yang juga berbeda. Dari sanalah, Aku banyak belajar. Memahami orang lain. Menghargai sesama. Bahkan saling berbagi kisah. Sharing pengalaman. Banyak ngobrol akan kaya wawasan dan menambah inspirasi.

Pernah suatu waktu, aku bertemu dengan seseorang. Ia mengaku naik kapal Ferry jurusan Kolaka – Bajoe (Bone) dua kali sepekan. Setiap Kamis dan Minggu. Ia adalah makelar hasil tani. Buah-buahan yang sulit ditemukan di sekitar Bone, ia beli di Sulawesi Tenggara. Sebaliknya, barang langka di sekitar Kolaka, ia cari di Bone, lalu mengangkutnya dengan kapal. Waktu itu, puluhan karung besar ia bawa. Di lain kesempatan, aku ngobrol dengan petani. Kebunnya di Konawe, Sultra, tapi keluarga besarnya di Maros. Sebulan sekali ia pulang.. Para pelajar (mahasiswa) dari daerah Sultra juga banyak yang kuliah di Makassar, ibu kota Sulsel. Tentu, mereka menyebrangi laut dengan kapal Ferry. Satu-satunya kapal yang selalu siap melayani. Boleh dikata, kapal Ferry adalaah pahlawan.

Tentu tak sedikit daerah seperti daerahku. Artinya, tak sedikit pula orang yang seperti kami. Yang sangat bergantung pada transportasi laut. Kehadiran armada laut ASDP Indonesia Ferry sangat membantu. Terutama di kawasan-kawasan pelosok. Dan  pulau-pulau terluar Indonesia.
So, jangan lupa, rasakan #AsyiknyaNaikFerry