Inspirasi Dari Jalan

sj_20110822094621_3YxXh

“Sebagai makhluk sosial, manusia butuh orang lain. Jalinan komunikasi akan membentuk simpati. Simpati akan mengundang harmoni. Dan kehidupan yang harmonis adalah modal menuju kebahagiaan sejati”

Tulisan ini aku buat untuk mengenang perjalannku. Yang ke Semarang itu. Dalam artikel sebelumnya (Ngebolang di Semarang), hanya mengangkat tentang perjuangan di perjalanan. Kali ini, tentang inspirasi yang kudapatkan dari interaksi kepada orang-orang. Dan ini lebih menarik.

Inspirasi pertama saat tiba di Salatiga. Kota madya antara Semarang dan Solo. Udaranya dingin, kota itulah yang aku tuju. Di sana, aku menginap di rumah teman dari adik. Saat baru menginjak halaman, suara murattal langsung terdengar. Aku terkesan. Lebih berkesan lagi ketika si mbah – nenek dari temen adikku – bilang kalau di rumah itu tak ada TV. “Maaf nak, gak ada apa-apa di rumah ini. Tak ada TV.” Katanya. Jelas saja, bukan karena tak mampu beli, namun tak mau. Buktinya, keluarga tersebut punya mobil. Rumahnya luas. Punya usaha. Kalau sekedar TV, pasti bisa beli. Tapi yang ada hanya MP3 berisi tilawah yang bunyi 24 jam. HP tentu punya. Untuk keperluan komunikasi. Bagi anak – anak, interaksi dengan gadget dibatasi. Hasilnya? Anak tertuanya lulus di Al-Azhar. Yah, yang di Mesir itu. Yang juga menarik, keluarga itu habis makan cuci piring masing-masing.

Yang kedua, saat aku di masjid Stasiun Tawang. Ngobrol dengan seorang guru PAI. Guru sejak tahun 1985. Usianya 52 tahun. Punya lima anak. Beliau banyak cerita tentang kehidupan keluarga. “Orang tua itu sangat menentukan karakter anak. Orang tua harus menjadikan baiti jannati (rumahku surgaku) bagi setiap anggota keluarga.” Katanya saat ku tanya tentang pendidikan antar generasi. Menurut beliau, anak sekarang rusak bukan hanya karena zaman yang memang berubah, tapi juga karena orang tua yang gagal mendidik. Salah satu cara mendidik yang paling baik, menurut beliau yaitu keteladanan. “Dulu, ayah saya setiap selesai makan, cuci piring sendiri. Ibu saya bilang ‘tuh liat bapak, cuci piring sendiri’, saya waktu itu belum mau ikut, tali setelah menikah baru saya sadar.” Ceritanya bersemangat. Selain itu, si bapak juga berpesan, “hidup ini nyari berkah dek, bukan yang lain.” Hasilnya? Anak pertamanya udah jadi dosen di kampus negeri.

Cerita ketiga dari ibu paruh baya teman duduk di kereta api. Beliau Bhayangkari. Istri polisi. Walau suaminya telah pensiun, beliau masih aktif di Bhayangkari. “Daripada diam di rumah, ikut arisan kan lebih bagus.” Katanya. Yang menarik saat si ibu cerita tentang keponakannya. Yang pergi ke Papua. Sendirian. Demi cinta. Padahal belum nikah. “Kok berani ya!!” Ucapnya keheranan. Aku bilang, ‘anak jaman now emang gitu bu’.

Tentu, ada beberapa orang lagi yang aku ajak bicara. Misalnya, sekelompok remaja asal Palangkaraya yang ke Jawa demi mendaki gunung Semeru. Itu lah hobi. Dilakukan sepenuh hati, sesulit apapun ia. Juga seorang bapak yang kupinjami charger di stasiun. Yang benci naik bus. Karena terlalu laju katanya. Padahal kereta lebih laju. Haha. Ada juga ibu yang mengantar anaknya masuk pesantren di Pasuruan. Ia orang Indramayu, Sunda. Suaminya orang Pasuruan, orang Jawa. Ini menepis mitos kalau orang Jawa tak boleh menikah dengan orang Sunda. Masih di kereta, aku ketemu pemuda dari Tegal. Ia akan kerja di Surabaya. Yah, cari kerja memang sulit. Apalagi saat ini, yang ekonomi sedang lesu. End.

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

The Opposition

Muh Faruq Al-Mundzir, anak kedua dari pasangan (Alm) Bapak Sahabuddin Ja'far dan Ibu Azizah Masyhud. Lahir di Balikpapan pada tanggal 13 Juli 1996. Menyelesaikan Sekolah Dasar di Desa Ulukalo, Kec. Iwoimenda, sebuah desa indah di Kab. Kolaka, Sultra. SMP-nya ia selesaikan di SMP Al-Bayan, Makassar. Lalu, ia melanjutkan SMA-nya di kota kelahirannya, Balikpapan. Saat ini, ia merupakan salah satu mahasiswa Jurusan Komunikasi di STAI Luqman Al-Hakim, Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s