​Kemana Idealisme Kami?

  

       Akhir-akhir ini, saya agak terganggu. Utamanya ketika berselancar di facebook atau twitter, bahkan juga WA. Bukan karena banyaknya foto-foto nikah teman seangkataan bahkan adik kelas (nikah muda bro), bukan pula karena banyaknya curhatan-curhatan ‘aneh’ oleh netter. Tapi karena beberapa status yang menyindir kami, para Mahasiswa. 
Yup, ada opini, puisi, surat hingga meme. Bahkan, mungkin saking gregetnya, si penulis opini memilih judul “Asma Dewi dan Matinya Idealisme Mahasiswa”. Penulis merupakan Aktivis Mahasiswa ’98 sekaligus mantan Ketua Umum HMI. Seperti diketahui, peristiwa ’98 yang membelokkan arah sejarah Indonesia diprakarsai oleh para Mahasiswa yang terlampau gerah. Menurut cerita, di masa-masa tersebut, perjuangan dan peran mahasiswa begitu terasa. Saat itulah tampil mahasiswa-mahasiswa pemberani dengan idealisme tinggi. Tak heran, peristiwa it uterus terkenang.

Sebagai pelaku sejarah, Dr. Ahmad Sastra yang menulis artikel tersebut membandingkan masa-masa beliau dengan mahasiswa sekarang. Beliau mempertanyakan keberadaan mahasiswa ditengah banyaknya kejadian-kejadian janggal di negeri ini. Intinya, beliau mempertanyakan idealism mahasiswa kini.

Diwaktu yang lain, saya menemukan ‘surat’ dari seorang ibu yang katanya anggota ‘Barian Emak-Emak Militan (BEM) Indonesia’. Sang ibu mengadu atas ketidakpedulian Mahasiswa. Di beberapa bagian tulisan, si ibu menyatakan akan mengambil alih fungsi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang dianggap telah kehilangan ruh perjuangan. 

Selain dua diatas, sebuah meme juga menambah persoalan. Katanya “Tahun 1998, Mahasiswa demo, para ibu menanggung logistic, sedang tahun 2017, para ibu demo, mahasiswa menghadiri acara TV”.

Bagi saya, sindiran-sindiran seperti di atas sangat menyinggung sekaligus memunculkan pertanyaan, ‘kemana idealisme kami?’. Kemana jiwa dan semangat muda kami?. Apakah kami telah kehilangan kemewahan? Seperti kata Tan Malaka “kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda ialah idealism”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya berfikir tentang banyak hal. Maka, saya temukan banyak sekali perbedaan antara mahasiswa dulu dan mahasiswa sekarang. Hal itu menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. 

Mahasiswa saat ini mayoritas mereka yang lahir antara tahun 1996 hingga tahun 2000. Tahun tersebut adalah masa mulainya keterbukaan informasi, kebebasan berpendapat dan berekspresi. Bandingkan dengan para mahasiswa yang hidup di masa orde baru. Saat politik berjalan tidak fair. Pembungkaman atas hak-hak rakyat marak terjadi. 

Kedua kondisi berbeda tersebut tentu melahirkan karakter yang berbeda pula. Mahasiswa saat ini merasa sudah memiliki kebebasan, mulai kebebasan berekspresi hingga berbicara. Ditambah lagi dengan berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pesat. Mereka merasa cukup dengan memanfaatkan medsos untuk berpendapat. Fasilitas yang tak dirasakan mahasiswa dulu. 

Implikasi perkembangan TIK juga membuat mahasiswa kini menjadi bagian masyarakat global. Mereka lebih banyak tahu tentang perkembangan dunia luar. Maka, agar bisa bersaing dengan Negara lain, mahasiswa harus banyak berkarya, menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Mengharumkan nama bangsa, itu juga doktrin yang ditanamkan para pendidik. 

Hal demikian menjadi factor penting mengapa mahasiswa kurang bertaji. Belum lagi status kondisi bangsa yang masih kontaversial. Masing-masing berargumentasi sebagai pihak yang benar. Akhirnya, mahasiswa tak berani bersikap. Just wait and see!!.

Iklan

Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

Masih hangat diingatan kita, statemen menteri komunikasi dan informasi (Menkominfo) medio juli lalu. Saat itu, selepas acara antiradikalisme di Universitas Padjajaran. Beliau menyampaikan keresahannya terhadap paham radikal yang terus berkembang. Menurutnya, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Baca: Medsos dan Media Massa) yang bertumbuh pesat berperan besar dalam penyebaran paham ini.

Lebih lanjut, ia menilai kaum radikal memanfaatkan TIK untuk ‘memancing’ calon anggota baru. Menteri yang akrab dengan nama Rudiantara mengancam akan menutup platform terkait bila diperlukan. Diwaktu yang berbeda, wakil presiden, Jusuf Kalla juga menunjuk TIK sebagai sebab menurunnya moralitas pemuda.

Pandangan seperti itu sebenarnya juga diamini oleh banyak professional di republik ini. Bahkan juga para orang tua dan guru. Bagi mereka, TIK bagai dua sisi mata uang. Selain memudahkan, ia juga  menggerus pendidikan anak dan remaja. Bahkan TIK dianggap sebagai biang kerok dari mayoritas permasalahan yang dialami generasi bangsa ini.

Perpepsi negative seperti ini memang tak hadir begitu saja. Banyak kejadian yang dijadikan dalih serta argumennya. Mulai dari kasus kekerasan, seks bebas, bullying dan kasus lain yang melibatkan pemuda. Regulasipun dibuat sedemikian rupa. Namun, hasilnya tak optimal.

Akan tetapi, pandangan tersebut sesungguhnya tak berlaku dikalangan anak muda. Khususnya yang disebut sebagai generasi Z. Mereka lebih optimis. Keyakinan bahwa TIK dapat dimanfaatkan untuk kebaikan tertanam dalam kalbu. Bagaimanapun, mereka hidup dan tumbuh bersama TIK.

Mereka paham, Indonesia, sebagai Negara yang kental dengan adat ketimuran, TIK menjadi problematic. Namun, globalisasi menghendaki modernisasi. Ia sangat sulit untuk dibendung. Untuk menjadi Negara yang competitive, mustahil tanpa TIK. Maka salah satu sikap terbaik adalah memanipulasi TIK untuk pendidikan.

Sebagai generasi yang memiliki masa depan yang masih panjang. Gen Z harus bergerak. Memberi bukti meyakinkan bahwa TIK sesungguhnya tak seburuk yang dipikirkan oangtua dan guru mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

 

            Generasi Z (Gen Z) merupakan istilah yang digunakan oleh seorang sosiolog, Karl Mannheim untuk menyebut mereka yang lahir bersamaan dengan hadirnya internet. Saat itu, ditahun 1923, ia menulis esai yang berjudul “The Problem of Generation”. Ia membagi manusia yang lahir setelah perang dunia II menjadi 4 generasi. Secara singkat yaitu; Pertama, generasi baby boomer (lahir 1946-1964), kedua, generasi X (lahir 1965-1980), ketiga, generasi Y (lahir 1981-1994) dan yang terakhir generasi Z (lahir 1995-2010).

Karena hidup pada era berkembangnya internet, gen Z adalah generasi yang paling ahli dan terbiasa menggunakan mobile phone (Andi Primareta, 2012). Mencari informasi sangat mudah bagi mereka. Termasuk berkomunikasi jarak jauh. Setali tiga uang, Akhmad Sudrajat menggambarkan gen Z sebagai generasi yang fasih teknologi, sosialis dan multitasking. Implikasinya, gen Z  cenderung suka dengan hal-hal instan dan tidak suka hal yang berbelit-belit.

Fakta tentang generasi Z tersebut tentu memiliki sisi positif namun juga negative. Mudahnya mengakses informasi yang tak terfilter membuat banyak Gen Z tak terkendali. Mereka menjadi kejam, pecandu sex, pemarah dan suka tawuran. Hal yang paling ditakuti ialah merosotnya moral ketimuran dikalangan gen Z.

Inilah yang mengundang keluhan bahkan cibiran dari Gen X dan Y. Biasanya, mereka membandingkan generasi mereka dengan generasi sekarang (gen Z), lalu menyimpulkan bahwa TIK adalah penyebabnya. Regulasi pun dibuat, namun tak banyak membuahkan hasil. Dunia pendidikan dianggap semakin menurun.

Padahal, untuk bisa competitive diera globalisasi ini, hampir mustahil dicapai tanpa peran TIK. Dunia berkembang sangat pesat semenjak hadirnya TIK akhir abad 20-an. TIK merupakan teknologi murah biaya, fleksibel dan instan. Sifatnya yang demikian sangat potensial untuk pemerataan pendidikan hingga daerah terpencil.

Sebagai genarasi yang besar bersama TIK, gen z sebenarnya sangat mampu diandalkan, namun dengan cara mereka sendiri. Cara yang mungkin tak dipahami generasi sebelumnya. Cara yang nyaman bagi mereka.

Cukup banyak bukti yang bisa kita lihat terkait pemanfaatan TIK oleh gen Z selama ini. Contoh, mayoritas youtubers Indonesia adalah gen Z, Sultan Haikal, si hacker usia 19 tahun yang sukses meretas ratusan situs adalah gen Z. Belum lagi generasi Z yang tak terekspos oleh media. Namun demikian, pemanfaatan TIK oleh mereka cenderung lebih ke ranah hiburan semata.

Nah, tahun ini, adalah tahun generasi pertama gen Z (kelahiran 1995) memasuki dunia kerja, masa-masa produktif. Sementara generasi terakhirnya (kelahiran 2010) normalnya masih duduk dibangku kelas 2 SD. Disinilah seharusnya gen Z dewasa berperan. Membuktikan bahwa TIK tak seburuk dugaan banyak pihak. Khususnya memanfaatkan dan mengembangkan TIK demi kemajuan pendidikan Nasional.

Walaupun sejatinya telah banyak upaya dalam hal ini, misalnya munculnya e-book, e-learning, e-labolatory, e-education, e-library dan lain sebagainya (Edy Haryanto, 2008). Namun, usaha tersebut belum terealisasi secara maksimal dan merata. Tak sedikitnya guru yang (maaf) gaptek menjadi salah satu kendala. Hal ini dapat dipahami karena profesi guru masih didominasi Generasi X dan Y.

Demi mencapai hasil maksimal, kami menyusun 3 tahapan umum penggunaan TIK dalam pendidikan, yaitu;

a). Jangka pendek (1 – 5 tahun) : program jangka pendek focus pada penerapan TIK dalam mendukung pembelajaran di sekolah. Beberapa hal yang bisa dilakukan seperti 1). Bembuatan kelompok kelas online. Whatsup dan telegram sangat mumpuni untuk digunakan dalam program ini. Siswa yang memiliki minat dan bakat yang sama bisa dikelompokkan dalam kelas online bersama guru pengampu. Disini, mereka bisa saling berdiskusi dan lain sebagainya, tergantung aturan yang disepakati. 2). Bimbingan konseling. Biasanya, beberapa remaja tak percaya diri ketika ingin mengungkapkan masalah pribadinya face to face. Maka, salah satu opsi yang dapat digunakan ialah konseling via Facebook, atau platform lain yang terjaga privasinya. Dengan cara ini, siswa diharapkan terbuka kepada guru. 3). Pembiasaan menggunakan CD, DVD, Video dll oleh guru untuk menyampaikan materi terkait. Hal ini lebih asik bagi gen Z.

 

b). Jangka menengah (5 – 10 tahun) : adapun program jangka menengah yang bisa dilaksanakan seperti; 1). Aplikasi Smartphone untuk belajar. Aplikasi pembelajaran dapat membantu siswa belajar dimana saja dan kapan saja. Sehingga mereka belajar karena senang tanpa tertekan. Dalam pelajaran bahasa inggris misalnya, guru perlu menyusun materi pelajaran harian yang terdiri dari grammar, reading, writing, dan listening bahkan speaking dengan memanfaatkan audio-visual. Pelajaran-pelajaran lain juga bisa memanfaatkan applikasi smartphone. Kurikulum bisa disesuaikan oleh guru. 2). Mendorong yuotubers untuk memuat konten-konten pembelajaran dalam video-video mereka. Tak dapat dipungkiri, youtubers banyak digandrungi para remaja. Karena kocak, video mereka menjadi ‘pelarian’ dari penatnya kehidupan. Namun, akan sangat bermanfaat jika para youtubers – yang notabene gen Z – menyelipkan atau sesekali membuat video pembelajaran yang kreatif. 3). Membuat platform medsos pendidikan. Media sosial yang saat ini marak cenderung tak terfilter. Setiap orang bebas meng-upload apa saja. Hal tersebut tentu tak baik bagi anak-anak dan remaja. Namun, jika gen Z membuat platform khusus untuk anak usia sekolah, lengkap dengan filter konten-konten negative, tentu akan lebih bermanfaat.

 

c). Jangka panjang (10 – 20 tahun) : program jangka panjang adalah program yang dilakukan secara all out oleh gen Z dalam memanfaatkan TIK. Program ini lebih cenderung dalam memanfaatkan mayoritas media TIK, mulai media cetak hingga TIK. Hal ini demi menyukseskan Indonesia Emas 2045. Gen Z mesti berkarir dibidang kemediaan. Baik cetak maupun elektronik. Bahkan menjadi pengambil kebijakan. Sehingga media-media yang ada digunakan untuk menciptakan ‘lingkungan yang kondusif’ untuk anak-anak dan remaja. Tidak ada berita hoax, pornografi, film kekerasan dan lain sebagainya.

Dasar dari pemikiran ini adalah bahwa media memiliki peranan penting dalam menciptakan budaya masyarakat. Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat dan yang mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan. Maka, jika media-media TIK digunakan hal-hal yang baik, akan tercipta lingkungan yang kondusif dan lahir generasi beridentitas kebangsaan yang modern.

Dari pemaparan diatas, setidaknya kekhawatiran gen X dan Y terhadap moral Gen Z bisa dibendung. TIK yang bagi sebagian orang menjadi perusak gen Z justru bisa dimanfaatkan. Harapannya ada pada gen Z sendiri. Sebagai generasi yang memiliki masa depan yag masih panjang, gen Z harus berpikir jauh kedepan.

Perencanaan yang matang harus tersusun rapi di setiap kepala gen Z. Identitas Indonesia dalam usianya yang ke-100 ditahun 2045 tergantung apa yang direncanakan gen Z bersama seluruh komponen bangsa saat ini.

Menilai Hoax dalam Konteks Demokrasi

gggd

Beberapa bulan tarakhir, kata ‘Hoax’ kerap kali muncul dalam pemberitaan. Hoax dianggap sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Dalam kasus ini, medsos menjadi ‘kambing hitam’. Ia diklaim sebagai media yang menumbuh-suburkan berita bohong tersebut. Pemerintah mengeluh. Hoax sulit diatasi.

Hoax sendiri banyak jenis. Tapi, dalam artikel ini, penulis tertarik untuk membahas hoax yang membahas masalah Negara. Hoax jenis ini tak kalah banyak. Bahkan dituduh telah mengakibatkan disintegrasi bangsa. Menjadi sebab berbagai perpecahan.

Namun, sebagai Negara demokrasi, hal tersebut tidak sepenuhnya buruk. Demokrasi secara umum bermakna “pemerintahan rakyat”. Atau menurut H. Harris Soche, “suatu bentuk pemerintahan rakyat, maka kekuasaan pemerintahan juga melekat pada rakyat. Sehingga sebuah HAM bagi rakyat untuk mempertahankan, mengatur dan melindungi diri dari setiap paksaan dalam suatu badan yang diserahkan untuk memerintah. Bahkan, salah satu ciri-ciri demokrasi dalam UUD 1945 yang disepakati ialah “kekuasaan yang dikontrol oleh rakyat (melalui perwakilan rakyat)”.

Dari pengertian di atas, tersebarnya hoax – khususnya yang membahas Negara –  di sosial media sebenarnya dapat menunjukkan beberapa hal. Pertama, meningkatnya rasa tanggungjawab masyarakat terhadap Negara. Berita hoax bisa dipandang sebagai rasa kepedulian masyarakat terhadap nasib bangsa. Berita bohong apapun, “positif” atau negative, menunjukkan bahwa public mencintai negaranya, walau dengan cara yang salah.

Sebaliknya, jika medsos hanya diisi dengan curhatan, informasi pribadi atau tips-tips menunjukkan jenuhnya netizen terhadap Negara. Mereka sama sekali tak perduli terhadap apapun yang terjadi. Kondisi ini lebih menunjukkan individualism daripada nasionalisme.

Kedua, para penyebar (korban) hoax menyadari bahwa demokrasi akan melindungi mereka. Indonesia sebagai Negara yang menjunjung tinggi kebebasan warganya tak akan dengan mudah menjerat para penyebar hoax. Artinya, masyarakat menyadari posisinya dalam konsep demokrasi.

Bandingkan dengan orde baru. Rakyat takut mengkritik. Mereka dihantui kediktatoran pemerintah. Kebenaran dipolitisasi oleh penguasa. Maka, reformasi dengan demokrasinya membawa angin segar bagi rakyat untuk pro-aktif terlibat dalam mengurus Negara. Sekali lagi, walau dengan cara yang salah.

Kedua hal di atas menunjukkan kesadaran public terhadap perpolitikan. Negara apapun, yang menerapkan konsep demokrasi pasti mengalami problem serupa. Hal seperti itu merupakan sebuah kewajaran.

Berita baiknya, public mulai membuka mata atas peristiwa yang terjadi di Negara ini. Masyarakat menjadi lebih “sensitive” terhadap isu yang berkembang, menjadi pengawas pemerintah. Potensi ini akan lebih productive jika mampu diarahkan, tanpa memberangus kesadaran tersebut.

 

 

 

The Sensitive Year

37176544-indonesia-mapa-en-un-fondo-de-la-bandera-de-indonesia-vendimia

Diawali oleh pidato mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama di pulau seribu lalu, public menjadi sensitive. Pidato penistaan agama tersebut menjadi pemicu berbagai peristiwa. Masyarakat terpecah menjadi berkubu-kubu. Setiap kubu mengklaim pihak yang benar. Maka, lahirlah aksi massa terbesar sepanjang sejarah, aksi 212. Setelah Ahok dipidana 2 tahun penjara, kembali terjadi aksi balasan. Aksi seribu lilin yang diadakan seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Walau peristiwa-peritiwa tersebut terjadi berbulan-bulan lalu, namun jejaknya tetap jelas. Kubu-kubu yang berseberangan masih ‘bertempur’. Paling tidak dimedsos. Public – yang dulunya tak bernafsu membahas masalah Negara – kini memelototi setiap kejadian. Public menjadi ‘penyusun puzzle’ setiap tragedi. Masyarakat menjadi sensitive. Apapun yang terjadi, akan dianggap sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Kelas menengah ke bawah, yang awalnya hanya memikirkan nasibnya, mulai ikut mengawas Negara. Para ibu rumah tangga, yang tahun lalu menggunakan medsos hanya untuk sharing masalah rumah tangga, kini mulai menganalisis setiap peristiwa yang terjadi. Dan mereka yang sedari dulu kritis, mendapat peluang ‘naik daun’. Tulisan-tulisan mereka di Facebook, di blog hingga cuitan di twitter semakin digandrungi. Menjadi rujukan yang berkepentingan.

Kondisi ini tentu ada plus minusnya. Berita baiknya adalah masyarakat mulai sadar akan perannya di negeri ini. Bahwa mereka punya tanggung jawab atas segala hal yang terjadi. Bahwa mereka berhak mengkritik dan berpendapat. Hal ini akan menjadi pengawas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pejabat akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Dengan meleknya masyarakat terhadap politik, diharap menjadi batu loncatan untuk menemukan tokoh yang benar-benar bersih. Yang lahir dari rahim rakyat dan mengerti kondisi rakyat. Bukan di’asuh’ oleh media. Bukan hasil pencitraan.

Namun, kondisi ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal buruk. ‘Devide at ampera’ atau politik belah bambu ala belanda sangat mudah diterapkan. Pihak-pihak yang tak suka dengan kebangkitan Indonesia akan terus menggoreng isu. Lalu, isu-isu yang telah ‘matang’ tersebut ‘dihidangkan’ di web, blog hingga medsos. Maka terjadilah perdebatan antar kubu. Bisa dipastikan umpatan, makian, olokan, juga ocehan akan bersileweran di kolom komentar.

Jika hal seperti itu sudah terjadi, bisa dipastikan keharmonisan dalam berbangsa akan hilang. Potensi-potensi besar Negara menjadi sia-sia, tak bernilai. Kemudian menjadi pintu masuk bagi kehancuran bangsa ini.

Solusinya adalah intropeksi masing-masing pihak. Berupaya “melihat kedalam”, bukan malah sibuk mencari kesalahan. Berkonstribusi nyata terhadap kemajuan, tidak malah menghancurkan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

1438 H, Ramadhan Edisi Spesial ku

18485642_1493168560734521_4449093307384508180_n.jpg

Sebagai seorang Muslim, Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Banyak cerita yang terukir dibulan penuh berkah ini. Bulan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan keseruan bagi setiap insan Muslim. Terasa begitu menggairahkan. Tak terkecuali bagi kami. Kami, Mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya khususnya semester 6.

Tapi, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang kami jalani dengan ‘gaya’ berbeda. Ya, saat banyak orang yang menikmati bulan berkah ini bersama keluarga, atau berlomba-lomba berumroh ke kota suci, Makkah, demi meraih pahala maksimal, kami memilih menghadapi Ramadhan dengan berbagi kepada sesama.

Yup, kami memasuki bulan Ramadhan di kampung asing. Saat itu, bertepatan dengan program KKN semester kami. Seperti kebiasaan kampus, lokasi yang dipilih untuk kegiatan ini adalah lokasi ‘menyulitkan’.

Desa yang kami tempati adalah sebuah lembah di kaki Gunung Semeru, masuk dalam kawasan taman nasional tengger, Kab. Lumajang, Jawa Timur. Desa ini berada di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Ranupani namanya. Seperti pada umumnya, pada ketinggian demikian, hawa dingin adalah hal pasti. Tapi, bagi kami sebagai orang yang terbiasa tinggal di daerah berhawa panas, hawa di sini tergolong ekstrim. Jadilah kami menjalani bulan penuh berkah dengan hawa dingin ektrim.

Ranupani memang memiliki budaya unik dan agak berbeda. Karena alasan hawa, rumah-rumah disini ‘wajib’ dilengkapi dengan tungku besar. Biasanya, waktu lebih banyak dihabiskan di sekitar tungku daripada daerah lain di rumah. Bahkan, menerima tamu pun dilakukan disekitar tungku yang berada di dapur.

Bahasa mereka juga agak berbeda. Walau agak mirip dengan bahasa jawa pada umumnya, bahasa jawa ini memiliki aksen yang berbeda. Beberapa warga mengatakan bahwa bahasa ini termasuk jawa kuno. Karena mayoritas kami adalah orang bersuku non-jawa, komunikasi menjadi agak sulit. Sementara bahasa Indonesia sangat jarang digunakan. Karena memang hanya segelintir orang yang mengerti bahasa persatuan ini.

Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani. Umumnya, mereka menanam kentang, kubis dan bawang pering. Ladang-ladang mereka kebanyakan di bukit. Lereng-lereng dengan kemiringan ekstrem dihiasi dengan tumbuhan jenis ini. mereka merupakan pekerja keras. Kentang mesti disemprot 2 hari sekali, bawang pering harus dibersihkan dari tumbuhan liar dan kubis mesti dijaga dari hama dan binatang pengerat. Karena ‘tuntutan alam’ semacam itu, mereka menjadi masyarakat disiplin.

Namun, pendidikan, baik agama maupun umum, tak banyak mendapat perhatian. Karena tergolong berpendapatan tinggi, kebanyakan masyarakat tidak lagi peduli dengan pendidikan. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Inilah sasaran utama kami.

Memahamkan penduduk tentang pentingnya pendidikan, khususnya agama, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Untungnya, Ramadhan ‘menjembatani’ tujuan itu. Detik demi detik di bulan Ramadhan kami upayakan untuk memberi pemahaman secara maksimal. Sasaran utamanya adalah anak-anak.

Ramadhan benar-benar membantu mensukseskan acara-acara yang telah direncanakan. Seperti biasa, di manapun itu, kesadaran masyarakat dalam hal ibadah meningkat. Sambutan untuk bulan suci yang meriah, suasana masjid-masjid yang ramai, persepsi masyarakat tentang bulan Ramadhan sebagai bulan berkah yang telah melekat, hingga sikap masyarakat yang menerima  kami dengan hangat telah membantu melupakan hawa dingin yang begitu ekstrim.

Bagi kami, berpuasa sambil mempelajari budaya baru, sekaligus berbagi ilmu merupakan hal baru. Pengalaman itu adalah hal special yang akan memperkaya wawasan kami. Membantu mengarungi dunia yang menyimpan begitu banyak rahasia. Bahkan menyemangati untuk membuka tabir kehidupan yang tersembunyi.

Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

 

 

Makalah Pengorganisasian Dakwah

MAKALAH

Pengorganisasian Dakwah

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengorganisasian Dakwah”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Miftahuddin, M.Si

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017


Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalam makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Miftahuddin, M.Si.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Makna Pengorganisasian Dakwah

Organisasi berasal dari kata “organisme”, yang artinya bagian-bagian yang terpadu dimana hubungan satu sama lain diatur oleh hubungan terhadap keseluruhannya. Oleh karena itu dalam organisasi paling sedikit terdiri atas dua orang yang keduanya saling bekerjasama satu sama lain demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Kerjasama tersebut terbentuk karena didorong oleh kehendak atau motif untuk pencapaian tujuan yang telah disepakati.[1] Adapun dakwah adalah aktivitas mengajak/menyeru manusia ke jalan yang benar menurut Islam. Baik melalui lisan, tulisan maupun perbuatan.

Secara terminologis berarti mengajak dan menyeru umat manusia baik perorangan maupun kelompok kepada agama islam, pedoman hidup yang di ridlai oleh Allah dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar dan amal shaleh dengan cara lisan maupun perbuatan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat nanti

Sehingga, pengorganisasian dakwah berarti keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka penciptaan tujuan yang telah ditentukan.

Sementara itu, Rosyad Saleh mengemukakan bahwa rumusan pengorganisasian dakwah itu adalah “rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi setiap kegiatan usaha dakwah dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan yang harus dilaksanakan serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara satuan-satuan organisasi atau petugasnya.

Pengorganisasian sangat erat hubungannya dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencpai tujuan, walaupun struktur itu bukan merupakan tujuan. Oleh karena itu, organizing dakwah sudah barang tentu disesuaikan dengan bidang garapan dakwah serta lokasi pewilayahan.[2]

Kualitas hubungan antara para pelaku organisasi, lebih-lebih organisasi dakwah, tidak selamanya bersifat formal tetapi juga informal, dalam bentuk perilaku pribadi yang bersifat emosional dan kadang-kadang juga irrasional.[3]

Tugas bagi para da’i adalah merancang sebuah struktur organisasi yang memungkinkan mereka untuk mengerjakan program dakwah secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuanorganisasi. Ada dua poin yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian, yaitu:

  1. Organizational Design [desain organisasi]
  2. Organizational structure [struktur organisasi]

Ketika para manajer menyusun atau mengubah struktur sebuah organisasi, maka mereka terlibat dalam suatu kegiatan dalam desain organisasi, yaitu suatu proses yang melibatkan keputusan-keputusan mengenai spesialisasi kerja, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, serta formalisasi. Jadi, pengorganisasian dakwah itu pada hakikatnya adalah sebagai tindakan pengelompokan, seperti subjek, objek dakwah, dan lain-lain.[4]

  1. Langkah-Langkah Pengorganisasian Dakwah:
  2. Penentuan Spesialisasi Kerja

Spesialisasi kerja diartikan sebagai tingkat kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang ditekuninya,dan tugas-tugas organisasi dibagi menjadi pekerjaaan-pekerjaan terpisah “pembagian kerja”.[5]

Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan yang dinyatakan dalam tiga komponen, yaitu:

  • Keterampilan teknis [technical skill], yaitu pengetahuan mengenai metode, proses prosedur, dan teknik untuk melakukan kegiatan khusus, serta kemampuan untuk menggunakan alat-alat dan peralatan yang relevan bagi kegiatan tersebut.
  • Keterampilan untuk melakukan hubungan antar pribadi [interpersonal skill], yaitu pengetahuan perilaku manusia dan proses-proses hubungan antar pribadi, kemampuan untuk mengerti perasaan, sikap dari motivasi orang lain tentang apa yang ia katakana dan lakukan [empati, sensitivitassosial], kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara jelas dan efektif [kemahiran berbicara, kemampuan persuasive], serta kemampuan untuk membuat hubungan yang efektif dan kooperatif [kebijaksanaan, diplomasi, keterampilan mendengarkan, pengetahuan mengenai perilaku sosial objek dakwah].
  • Keterampilan konseptual [conceptual skill], yaitu kemampuan analitis umum, berpikir nalar, kepandaian dalam membentuk konsep, serta konseptualisasi hubungan yang kompleks dan berarti dua, kreativitas dalam mengembangkan ide serta pemecahan masalah, kemampuan untuk menganalisis peristiwa-peristiwa dan kecenderungan-kecenderungan yang dirasakan, mengantisipasi perubahan-perubahan dan melihat peluang, serta masalah-masalah potensial.[6]
  1. Mendepertementalisasi dakwah

Setelah unit kerja dibagi-bagi melalui spesialisasi kerja maka selanjutnya diperlukan pengelompokkan pekerjaan –pekerjaan yang diklasifikasikan melalui departemensiliasi kerja ,sehingga tugas yang sama atau mirip dapat dikelompokkan secara sama-sama, sehingga dapat di koordinasikan.[7]

Pada tataran ini, secara historis pengelompokan kegiatan dakwah adalah menurut fungsi yang dilakukan atau departementalisasi fungsional. Sebagai contoh, dalam sebuah lembaga dakwah atau manajer dakwah dalam mengorganisasikan lembaganya dengan melakukan rancangan rekayasa umat, departemen finansialnya, bagian administrasinya, departemen dakwah bil-hal, bil-lisan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Kelebihan atau keuntungan dari departementalisasi dakwah adalah akan memperolehefisiensi dan mempersatukan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan, pengetahuan, dan orientasi yang sama ke dalam unit-unit yang sama.[8]

  1. Menentukan rantai komando

Rantai komando adalah sebuah garis wewenang yang tidak terputus membentang dari tingkat atas organisasi terus sampai tingkat paling bawah dan menjelaskan hasil kerja dakwah ke depertemen masing-masing.rantai ini memberikan sebuah kemudahan bagi para da’i untuk menentukan siapa siapa yang harus dituju jika mereka menemui permasalahan dan juga kepada siapa mereka bertanggung jawab.[9]

Dalam rantai komando ini tidak terlepas dari tiga konsep, yaitu:

  • Wewenang
  • Tanggungjawab
  • Komando
  1. Rentang kendali

Rentang kendali merupakan konsep yang merujuk pada jumlah bawahan yang dapat disurvei oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.[10]

Dalam memahami rentang kendali yang efektif dan efisien, maka akan ditentukan dengan melihat variabel kontingensi. Sebagai contoh, semakin banyak latihan dan pengalaman yang dimiliki para da’i, maka semakin berkurang pengawasan secara langsung oleh manajer. Pada variabel-variabel ini juga, sangat menentukan rentang yang pas mencakup kesamaan tugas para da’i, kerumitan tugas-tugas, kedekatan fisik anak buah, derajat sampai dimana prosedur-prosedur baku telah berjalan, canggihnya sistem informasi manajemen organisasi tersebut, kesulitan organisasi tersebut, serta style seorang manajer.[11]

  1. Sentralisasi dan desentralisasi

Sentralisasi diartikan sebagai kadar sampai dimana pengambilan keputusan terkonsentrasi pada tingkat atas organisasi. Konsep ini hanya mencakup pada wewenang formal, yaitu hak-hak yang inheren dalam posisi seseorang. Sementara desentralisasi adalah pengalihan wewenang untuk membuat keputusan ke tingkat yang lebih rendah dalam suatu organisasi.[12]

Secara filosofis, desentralisasi ini dapat dikembalikan pada pengertian bahwasannya setiap manusia adalah pemimpin dan setiap orang adalah khalifah, selalu cenderung dalam desentralisasi.  Fungsi organisasi secara efekktif akan terhambat jika semua keputusan hanya diambil oleh segelintir manajemen puncak dan mereka pun tidak dapat berfungsi secara efektif apabila semua keputusan dilimpahkan pada anggota-anggota lainnya (tingkat bawah).[13]

  1. Menformalisasi dakwah

Formalisasi dakwah adalah sejauh mana pekerjaan atau tugas-tugas dakwah dalam sebuah organisasi dakwah dibakukan dan sejauh man tingkah laku, skill, dan keterampilan para da’I dibimbing dan diarahkan secara prosedural oleh peraturan.[14]

Dalam sebuah organisasi dengan tingkat formalisasi yang tinggi, terdapat uraian pekerjaan yang tegas, banyak peraturan organisasi, serta prosedur yang telah dirumuskan secara jelas. Dari formalisasi yang tinggi ini terdapat job-discription yang eksplisit, banyak aturan organisasi yang terdefinisi dengan jelas, yang meliputi proses kerja dalam organisasi. Sebaliknya jika formalisasi itu rendah, maka perilaku kerja cenderung untuk tidak terprogram dan para anggota memiliki keleluasaan dalam menjalankan kerja.

Apabila dalam formalisasi sangan terbatas, maka aktifitas da’I akan cenderung relative tidak terstruktur dan para da’I juga akan lebih banyak memiliki kebebasan untuk berimprovisasi tentang bagaimana cara mereka melakukan pekerjaan.

  1. Penentuan Strategi dan struktur dakwah

Struktur organisasi dakwah adalah sarana untuk menolong para manajer dalam mencapai sasaran, karena sasaran dakwah itu dirumuskan dari strategi organisasi.tegasnya,struktur organisasi dakwah harus mengikuti strategi strategi dakwah.[15]

  1. Penyelenggaraan dan desain orhanisasi dakwah

Para da’i baik dalam satu tim atau perorangan membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan dan menentukan strategis dakwah. ”penggunaan teknologi informasi sangat mempengaruhi cara anggota organisasi dakwah dalam berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan dalam melaksanakan aktivitas mereka.[16]

 

[1] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1  diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[2] http://noorsyafitriramadhani.blogspot.co.id/2014/02/tanzhim-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.27

[3] Op.Cit

[4] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[5] Op.cit

[6] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[7] Ibid

[8] Op.cit

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Op.cit

[12] Ibid

[13] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.14

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid