​Kemana Idealisme Kami?

  

       Akhir-akhir ini, saya agak terganggu. Utamanya ketika berselancar di facebook atau twitter, bahkan juga WA. Bukan karena banyaknya foto-foto nikah teman seangkataan bahkan adik kelas (nikah muda bro), bukan pula karena banyaknya curhatan-curhatan ‘aneh’ oleh netter. Tapi karena beberapa status yang menyindir kami, para Mahasiswa. 
Yup, ada opini, puisi, surat hingga meme. Bahkan, mungkin saking gregetnya, si penulis opini memilih judul “Asma Dewi dan Matinya Idealisme Mahasiswa”. Penulis merupakan Aktivis Mahasiswa ’98 sekaligus mantan Ketua Umum HMI. Seperti diketahui, peristiwa ’98 yang membelokkan arah sejarah Indonesia diprakarsai oleh para Mahasiswa yang terlampau gerah. Menurut cerita, di masa-masa tersebut, perjuangan dan peran mahasiswa begitu terasa. Saat itulah tampil mahasiswa-mahasiswa pemberani dengan idealisme tinggi. Tak heran, peristiwa it uterus terkenang.

Sebagai pelaku sejarah, Dr. Ahmad Sastra yang menulis artikel tersebut membandingkan masa-masa beliau dengan mahasiswa sekarang. Beliau mempertanyakan keberadaan mahasiswa ditengah banyaknya kejadian-kejadian janggal di negeri ini. Intinya, beliau mempertanyakan idealism mahasiswa kini.

Diwaktu yang lain, saya menemukan ‘surat’ dari seorang ibu yang katanya anggota ‘Barian Emak-Emak Militan (BEM) Indonesia’. Sang ibu mengadu atas ketidakpedulian Mahasiswa. Di beberapa bagian tulisan, si ibu menyatakan akan mengambil alih fungsi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang dianggap telah kehilangan ruh perjuangan. 

Selain dua diatas, sebuah meme juga menambah persoalan. Katanya “Tahun 1998, Mahasiswa demo, para ibu menanggung logistic, sedang tahun 2017, para ibu demo, mahasiswa menghadiri acara TV”.

Bagi saya, sindiran-sindiran seperti di atas sangat menyinggung sekaligus memunculkan pertanyaan, ‘kemana idealisme kami?’. Kemana jiwa dan semangat muda kami?. Apakah kami telah kehilangan kemewahan? Seperti kata Tan Malaka “kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda ialah idealism”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya berfikir tentang banyak hal. Maka, saya temukan banyak sekali perbedaan antara mahasiswa dulu dan mahasiswa sekarang. Hal itu menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. 

Mahasiswa saat ini mayoritas mereka yang lahir antara tahun 1996 hingga tahun 2000. Tahun tersebut adalah masa mulainya keterbukaan informasi, kebebasan berpendapat dan berekspresi. Bandingkan dengan para mahasiswa yang hidup di masa orde baru. Saat politik berjalan tidak fair. Pembungkaman atas hak-hak rakyat marak terjadi. 

Kedua kondisi berbeda tersebut tentu melahirkan karakter yang berbeda pula. Mahasiswa saat ini merasa sudah memiliki kebebasan, mulai kebebasan berekspresi hingga berbicara. Ditambah lagi dengan berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pesat. Mereka merasa cukup dengan memanfaatkan medsos untuk berpendapat. Fasilitas yang tak dirasakan mahasiswa dulu. 

Implikasi perkembangan TIK juga membuat mahasiswa kini menjadi bagian masyarakat global. Mereka lebih banyak tahu tentang perkembangan dunia luar. Maka, agar bisa bersaing dengan Negara lain, mahasiswa harus banyak berkarya, menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Mengharumkan nama bangsa, itu juga doktrin yang ditanamkan para pendidik. 

Hal demikian menjadi factor penting mengapa mahasiswa kurang bertaji. Belum lagi status kondisi bangsa yang masih kontaversial. Masing-masing berargumentasi sebagai pihak yang benar. Akhirnya, mahasiswa tak berani bersikap. Just wait and see!!.

Iklan

Menilai Hoax dalam Konteks Demokrasi

gggd

Beberapa bulan tarakhir, kata ‘Hoax’ kerap kali muncul dalam pemberitaan. Hoax dianggap sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Dalam kasus ini, medsos menjadi ‘kambing hitam’. Ia diklaim sebagai media yang menumbuh-suburkan berita bohong tersebut. Pemerintah mengeluh. Hoax sulit diatasi.

Hoax sendiri banyak jenis. Tapi, dalam artikel ini, penulis tertarik untuk membahas hoax yang membahas masalah Negara. Hoax jenis ini tak kalah banyak. Bahkan dituduh telah mengakibatkan disintegrasi bangsa. Menjadi sebab berbagai perpecahan.

Namun, sebagai Negara demokrasi, hal tersebut tidak sepenuhnya buruk. Demokrasi secara umum bermakna “pemerintahan rakyat”. Atau menurut H. Harris Soche, “suatu bentuk pemerintahan rakyat, maka kekuasaan pemerintahan juga melekat pada rakyat. Sehingga sebuah HAM bagi rakyat untuk mempertahankan, mengatur dan melindungi diri dari setiap paksaan dalam suatu badan yang diserahkan untuk memerintah. Bahkan, salah satu ciri-ciri demokrasi dalam UUD 1945 yang disepakati ialah “kekuasaan yang dikontrol oleh rakyat (melalui perwakilan rakyat)”.

Dari pengertian di atas, tersebarnya hoax – khususnya yang membahas Negara –  di sosial media sebenarnya dapat menunjukkan beberapa hal. Pertama, meningkatnya rasa tanggungjawab masyarakat terhadap Negara. Berita hoax bisa dipandang sebagai rasa kepedulian masyarakat terhadap nasib bangsa. Berita bohong apapun, “positif” atau negative, menunjukkan bahwa public mencintai negaranya, walau dengan cara yang salah.

Sebaliknya, jika medsos hanya diisi dengan curhatan, informasi pribadi atau tips-tips menunjukkan jenuhnya netizen terhadap Negara. Mereka sama sekali tak perduli terhadap apapun yang terjadi. Kondisi ini lebih menunjukkan individualism daripada nasionalisme.

Kedua, para penyebar (korban) hoax menyadari bahwa demokrasi akan melindungi mereka. Indonesia sebagai Negara yang menjunjung tinggi kebebasan warganya tak akan dengan mudah menjerat para penyebar hoax. Artinya, masyarakat menyadari posisinya dalam konsep demokrasi.

Bandingkan dengan orde baru. Rakyat takut mengkritik. Mereka dihantui kediktatoran pemerintah. Kebenaran dipolitisasi oleh penguasa. Maka, reformasi dengan demokrasinya membawa angin segar bagi rakyat untuk pro-aktif terlibat dalam mengurus Negara. Sekali lagi, walau dengan cara yang salah.

Kedua hal di atas menunjukkan kesadaran public terhadap perpolitikan. Negara apapun, yang menerapkan konsep demokrasi pasti mengalami problem serupa. Hal seperti itu merupakan sebuah kewajaran.

Berita baiknya, public mulai membuka mata atas peristiwa yang terjadi di Negara ini. Masyarakat menjadi lebih “sensitive” terhadap isu yang berkembang, menjadi pengawas pemerintah. Potensi ini akan lebih productive jika mampu diarahkan, tanpa memberangus kesadaran tersebut.

 

 

 

The Sensitive Year

37176544-indonesia-mapa-en-un-fondo-de-la-bandera-de-indonesia-vendimia

Diawali oleh pidato mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama di pulau seribu lalu, public menjadi sensitive. Pidato penistaan agama tersebut menjadi pemicu berbagai peristiwa. Masyarakat terpecah menjadi berkubu-kubu. Setiap kubu mengklaim pihak yang benar. Maka, lahirlah aksi massa terbesar sepanjang sejarah, aksi 212. Setelah Ahok dipidana 2 tahun penjara, kembali terjadi aksi balasan. Aksi seribu lilin yang diadakan seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Walau peristiwa-peritiwa tersebut terjadi berbulan-bulan lalu, namun jejaknya tetap jelas. Kubu-kubu yang berseberangan masih ‘bertempur’. Paling tidak dimedsos. Public – yang dulunya tak bernafsu membahas masalah Negara – kini memelototi setiap kejadian. Public menjadi ‘penyusun puzzle’ setiap tragedi. Masyarakat menjadi sensitive. Apapun yang terjadi, akan dianggap sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Kelas menengah ke bawah, yang awalnya hanya memikirkan nasibnya, mulai ikut mengawas Negara. Para ibu rumah tangga, yang tahun lalu menggunakan medsos hanya untuk sharing masalah rumah tangga, kini mulai menganalisis setiap peristiwa yang terjadi. Dan mereka yang sedari dulu kritis, mendapat peluang ‘naik daun’. Tulisan-tulisan mereka di Facebook, di blog hingga cuitan di twitter semakin digandrungi. Menjadi rujukan yang berkepentingan.

Kondisi ini tentu ada plus minusnya. Berita baiknya adalah masyarakat mulai sadar akan perannya di negeri ini. Bahwa mereka punya tanggung jawab atas segala hal yang terjadi. Bahwa mereka berhak mengkritik dan berpendapat. Hal ini akan menjadi pengawas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pejabat akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Dengan meleknya masyarakat terhadap politik, diharap menjadi batu loncatan untuk menemukan tokoh yang benar-benar bersih. Yang lahir dari rahim rakyat dan mengerti kondisi rakyat. Bukan di’asuh’ oleh media. Bukan hasil pencitraan.

Namun, kondisi ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal buruk. ‘Devide at ampera’ atau politik belah bambu ala belanda sangat mudah diterapkan. Pihak-pihak yang tak suka dengan kebangkitan Indonesia akan terus menggoreng isu. Lalu, isu-isu yang telah ‘matang’ tersebut ‘dihidangkan’ di web, blog hingga medsos. Maka terjadilah perdebatan antar kubu. Bisa dipastikan umpatan, makian, olokan, juga ocehan akan bersileweran di kolom komentar.

Jika hal seperti itu sudah terjadi, bisa dipastikan keharmonisan dalam berbangsa akan hilang. Potensi-potensi besar Negara menjadi sia-sia, tak bernilai. Kemudian menjadi pintu masuk bagi kehancuran bangsa ini.

Solusinya adalah intropeksi masing-masing pihak. Berupaya “melihat kedalam”, bukan malah sibuk mencari kesalahan. Berkonstribusi nyata terhadap kemajuan, tidak malah menghancurkan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

 

 

Orang tua, Benteng Pendidikan Era Digital

Cara Damping Anak di Era Digital.cms

            Terungkapnya kelompok predator anak yang memanfaatkan jejaring media social beberapa waktu lalu menjadi alarm bagi masyarakat tentang bahaya yang mengintai generasi masa depan bangsa. Kasus ini terungkap setelah empat orang angota forum Internasional yaitu Official Loli Candy’s Group itu diamankan kepolisian daerah Metro Jaya.

Menurut penelusuran, grup bejat bersebut memiliki 7000 anggota dan mayoritas aktif.  Jumlah yang cukup mengancam bagi negeri yang terkenal beradab ini. Belum lagi pelaku pedofilia yang beraksi sendiri atau tidak tergabung grup tersebut. Bisa jadi lebih banyak lagi.

Kasus ini juga menambah panjang daftar kasus yang melibatkan anak sebagai korban maupun sebagai pelaku. Masih hangat di ingatan kita, kasus pemerkosaan oleh 4 pemuda di Lampung, lalu kasus pemerkosaan oleh 13 anak belasan tahun di Surabaya, kasus Skip Challenge, hingga viralnya video seorang siswa SD yang dengan pedenya mengungkap ‘isi hatinya’, ditambah lagi dengan beberapa percakapan dan foto-foto mesra anak di bawah umur.

Fakta-fakta tersebut adalah bukti merosotnya moral hingga tingkatan terbawah. Anak-anak pun terdampak oleh arus globalisasi. Padahal, bangsa ini kental dengan norma-norma agama. Dulu dan sekarang. Lalu, mengapa hal ini terjadi?

Jika ditelusuri, dekadensi moral terjadi seiring kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Boleh dikata, semakin maju TIK, maka semakin besar pula dekadensi moral yang terjadi dikalangan anak dan remaja.

Terutama media, baik internet maupun media social, bertanggung jawab atas hal ini. Media berbasis TIK, yang sejatinya dibuat untuk kemaslahatan umat manusia, justru digunakan untuk hal-hal tidak manusiawi. Bahkan digunakan secara terencana untuk merusak moral hingga memantik kebencian kelompok. Setiap orang bebas berbuat apa saja dan sebagai siapa saja dengan medsosnya tanpa takut apa-apa. Apalagi, akun-akun anonym yang tak jelas operatornya.

Ditambah lagi, kini, setiap rumah memiliki ‘kotak ajaib’ atau televise. Lalu balita hingga anak belasan tahun yang mahir dengan gadget adalah hal lumrah. Hal yang dulu dianggap tabu. Dan bisa dipastikan, mayoritas anak beriteraksi dengan media massa dan media sosial setiap hari. Padahal melalui keduanya nilai-nilai baru disebarkan.

Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Dengan demikian, media massa menjadi sumber kebenaran dari sebuah peristiwa. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat, mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan.

Peran Orang Tua

Walau agak terlambat, kondisi kritis ini mesti disikapi secara tepat. Setidaknya untuk mengurangi jatuhnya korban lain. Salah satu solusinya adalah dengan memaksimalkan peran orang tua, guru dan lingkungan dalam mendidik. Ketiganya perlu berkolaborasi membentuk karakter anak agar terhindar dari kejamnya kemoderenan.

Orang tua sebagai pihak yang paling banyak mendampingi anak harus jeli membaca perilaku anak. Termasuk bagaimana mendidik. Jika tidak terlalu dibutuhkan, gadget mestinya dijauhkan dari anak yang masih labil. Termasuk mengawasi siaran-siaran TV yang kurang mendidik untuk dilihat anak.

Hal lain misalnya, memahamkan sang anak tentang tujuan hidup menurut agama. Mengenalkan Masjid sejak dini, mengajarkan qur’an hingga membiasakan membantu sesama. Perilaku-perilaku yang dianggap sepele juga perlu diperhatikan.

Orang tua juga bertanggungjawab mencarikan guru dan aktif berkonsultasi. Hak tersebut agar tercapai kesepahaman tentang makna pendidikan yang sesuai norma-norma ke-Indonesia-an. Sebagai  pihak yang dianggap mengerti konsep mendidik, orang tua harus lapang dada terhadap apapun yang dilakukan sang guru. Muhammad II (Al-Fatih), sang penakluk konstantinopel adalah hasil dari proses pendidikan orang tua yang berkolaborasi dengan guru. Walaupun Al-Fatih anak sultan, sang guru tetap adil dan tegas dalam mendidik beliau.

Namun, perlu diingat, lingkungan adalah hal lain yang juga sangat menentukan hasil dari proses pembentukan karakter. Saking pentingnya, Hillary Clinton pernah berujar “perlu orang sekampung untuk mendidik seorang anak!”. Bagaimanapun, anak tak bisa lepas dari interaksi di lingkungan. Untuk itulah, orang tua bertanggungjawab memilih lingkungan yang baik untuk anak-anaknya. Atau menciptakan lingkungan yang kondusif, paling tidak dengan mengajak tetangga-tetangga untuk sama-sama mendidik.

Jika ketiga hal tersebut bisa dimaksimalkan, hadirnya generasi yang paham agama dan berakhlaq adalah keniscayaan, dan menjadi harapan Islam menuju kejayaannya. Aamiin. Wallahua’alam.

 

 

 

 

Menjadi ‘Agent of Change’

gt

Dalam sejarah umat manusia dari masa ke masa, pemuda selalu menjadi bagian penting dalam sebuah perubahan. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT banyak menceritakan kisah heroik pemuda, diantaraya kisah Ibrahim – bapak para nabi – yang sangat kritis terhadap kondisi masyarakat penyembah berhala. Ismail, pemuda yang sangat taat kepada Allah, bahkan jika disembelih sekalipun. Yusuf, pemuda tampan yang sabar dan bertaqwa. Sulaiman, pemuda bijaksana nan kaya raya. Hingga kisah Ashabul Kahfi yang gigih memperjuangkan agamanya.

Dalam sejarah peradaban islam juga tak jauh berbeda. Bahkan islam tetap eksis karena para pemuda yang setia membela Islam dari kafir Quraisy. Muhammad Al-Fatih, sang penakluk konstatinopel juga seorang pemuda. Selain yang telah disebutkan diatas, masih banyak contoh pemuda yang luar biasa, dari dulu hingga sekarang.

Fakta diatas menunjukkan bahwa ungkapan pemuda sebagai agent of change (agen perubahan) bukan sesuatu yang berlebihan. Masa-masa muda merupakan masa yang paling produktif dalam fase kehidupan manusia. Masa yang dipenuhi dengan semangat membara, jiwa yang haus serta cita-cita tinggi. Namun, apakah setiap pemuda adalah agent of change? apa tolak ukur seorang pemuda yang layak dijuluki dengan julukan ‘wah’ tersebut?.

Menjadi agen perubahan  tentu bukan hal mudah. Banyak rintangan dan godaan yang mesti dilalui. Terutama godaan syahwat. Godaan terbesar dalam hidup seorang pemuda. Tak heran jika banyak pemuda yang ‘rusak’ karena tak mampu mengendalikan syahwatnya. Itulah mengapa, salah satu jenis manusia yang mendapat perlindungan dari sengatan matahari di padang mahsyar ialah pemuda yang menolak ajakan wanita kaya nan jelita.

Hal lain yang menjadi rintangan adalah memaksimalkan waktu. Waktu seringkali menjadi masalah yang tak mampu diatasi banyak pemuda. Waktu yang seharusnya digunakan semaksimal mungkin justru dihabiskan dengan hal-hal kurang produktif. Padahal, setiap detik sangat berharga. Seorang agen perubahan tentu tak bisa diharapkan lahir dari sikap seperti ini. Jika kita membaca profil pemuda-pemuda sukses, maka sulit untuk menemukan sikap ‘waste of time’ seperti ini.

Selanjutnya ialah berprinsip kuat. Orang yang tak memiliki prinsip hanya akan menjadi pengekor. Hidup tanpa tujuan dan hanya ikut-ikutan. Pemuda seperti ini sangat tidak layak mendapat kehormatan sebagai ‘agent of change’. Jadilah seperti Bilal bin Rabah yang begitu tabah berpegang kepada prinsipnya walau menerima siksaan.

Terakhir, syarat menjadi pemuda pembawa perubahan adalah berkarya. Berkarya merupakan budaya orang besar. Para salafusshaleh telah mencontohkan hal ini. Imam Syafi’i mulai menulis di usia muda. Imam Ghazali, Ibnu Sina, Al-Araby, Al-Bukhari adalah sedikit contoh dari banyaknya nama besar yang telah berkarya di usia muda.

Itulah beberapa sikap pemuda yang layak mendapat predikat ‘agent of change’. Semoga kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Amien.

Mengawal Momentum Kebangkitan

aksi-damai-2-desember-di-monas_20161203_224618Sejak kemunduran kekhalifahan Turki Utsmani berbarengan dengan kebangkitan eropa, lambat laun umat islam tersingkirkan. Di masa kolonialisme, kekayaan umat Islam dirampas, alamnya dieksploitasi dan umat islam dijajah, bahkan di pecah menjadi banyak negara. Akibatnya, kekuatan umat melemah. Lalu, sejak era modern, kedzaliman demi kedzaliman bahkan semakin parah. Di berbagai belahan dunia, ketika umat islam minoritas, tragedy genosida kerap terjadi. Seperti di Bosnia, China, Rohingya dan Chechnya. Lebih parah lagi, di negara yang mayoritas muslim pun terjadi hal serupa. Palestina, Iraq, Afghanistan dan Suriah juga tak luput dari kekejian musuh Islam. Lalu, bagaimana dengan Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi muslim terbanyak di Dunia? Tak jauh berbeda, Muslim Indonesia juga kerap menjadi sasaran ketidakadilan. Beberapa kasus mengindikasikan ketidak-berdayaan Muslim Indonesia dalam menghadapi gempuran musuh. Stigma negative, fitnah keji, konflik agama selalu mengorbankan kaum muslimin. Namun demikian, Allah Subhanahu wata’ala rupanya punya rencana. Dengan kuasa-Nya, Ia ‘membuka kedok’ Ahok saat berpidato di Pulau seribu beberapa bulan lalu. Entah bagaimana ceritanya, pidato tersebut menimbulkan reaksi dahsyat dari kaum muslimin Indonesia, sesuatu yang tak pernah terduga. Aksi demi aksi menuntut keadilan terjadi. Termasuk aksi 212 yang dramatis nan fenomenal. Aksi yang menjadi titik balik umat Islam dalam beragama. Spiritnya tetap menyala dan terus membesar. Kini, semangat itu masih terjaga. Tapi, perlu diingat, Istiqamah merupakan perkara sulit. Apalagi, penguasa menjadi sandungan. Beberapa Ulama’ dikriminalisasi. Umat islam diadu. Hal-hal tersebut bisa saja membuat umat lelah. Lelah dengan penjangnya perjuangan dan banyaknya pengorbanan yang diperlukan. Saling Menasehati Jika dibiarkan, momentum berharga ini akan lepas. Maka, diperlukan kesabaran dan solidaritas umat untuk sama-sama menjaga. Allah SubhanahuWata’ala telah menyiratkan hal tersebut dalam surah Al-Asr ayat 2-3, yang artinya: “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” Pada intinya, sebagai makhluq yang selalu khilaf dan lupa, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sangat dibutuhkan. Dengan demikian, perjuangan panjang nan melelahkan ini tak berakhir sia-sia, tapi membawa kemerdekaan sejati bagi kaum muslimin seluruh dunia. Wallahua’lam bisshawab.