The Sensitive Year

37176544-indonesia-mapa-en-un-fondo-de-la-bandera-de-indonesia-vendimia

Diawali oleh pidato mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama di pulau seribu lalu, public menjadi sensitive. Pidato penistaan agama tersebut menjadi pemicu berbagai peristiwa. Masyarakat terpecah menjadi berkubu-kubu. Setiap kubu mengklaim pihak yang benar. Maka, lahirlah aksi massa terbesar sepanjang sejarah, aksi 212. Setelah Ahok dipidana 2 tahun penjara, kembali terjadi aksi balasan. Aksi seribu lilin yang diadakan seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Walau peristiwa-peritiwa tersebut terjadi berbulan-bulan lalu, namun jejaknya tetap jelas. Kubu-kubu yang berseberangan masih ‘bertempur’. Paling tidak dimedsos. Public – yang dulunya tak bernafsu membahas masalah Negara – kini memelototi setiap kejadian. Public menjadi ‘penyusun puzzle’ setiap tragedi. Masyarakat menjadi sensitive. Apapun yang terjadi, akan dianggap sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Kelas menengah ke bawah, yang awalnya hanya memikirkan nasibnya, mulai ikut mengawas Negara. Para ibu rumah tangga, yang tahun lalu menggunakan medsos hanya untuk sharing masalah rumah tangga, kini mulai menganalisis setiap peristiwa yang terjadi. Dan mereka yang sedari dulu kritis, mendapat peluang ‘naik daun’. Tulisan-tulisan mereka di Facebook, di blog hingga cuitan di twitter semakin digandrungi. Menjadi rujukan yang berkepentingan.

Kondisi ini tentu ada plus minusnya. Berita baiknya adalah masyarakat mulai sadar akan perannya di negeri ini. Bahwa mereka punya tanggung jawab atas segala hal yang terjadi. Bahwa mereka berhak mengkritik dan berpendapat. Hal ini akan menjadi pengawas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pejabat akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Dengan meleknya masyarakat terhadap politik, diharap menjadi batu loncatan untuk menemukan tokoh yang benar-benar bersih. Yang lahir dari rahim rakyat dan mengerti kondisi rakyat. Bukan di’asuh’ oleh media. Bukan hasil pencitraan.

Namun, kondisi ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal buruk. ‘Devide at ampera’ atau politik belah bambu ala belanda sangat mudah diterapkan. Pihak-pihak yang tak suka dengan kebangkitan Indonesia akan terus menggoreng isu. Lalu, isu-isu yang telah ‘matang’ tersebut ‘dihidangkan’ di web, blog hingga medsos. Maka terjadilah perdebatan antar kubu. Bisa dipastikan umpatan, makian, olokan, juga ocehan akan bersileweran di kolom komentar.

Jika hal seperti itu sudah terjadi, bisa dipastikan keharmonisan dalam berbangsa akan hilang. Potensi-potensi besar Negara menjadi sia-sia, tak bernilai. Kemudian menjadi pintu masuk bagi kehancuran bangsa ini.

Solusinya adalah intropeksi masing-masing pihak. Berupaya “melihat kedalam”, bukan malah sibuk mencari kesalahan. Berkonstribusi nyata terhadap kemajuan, tidak malah menghancurkan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

 

 

Orang tua, Benteng Pendidikan Era Digital

Cara Damping Anak di Era Digital.cms

            Terungkapnya kelompok predator anak yang memanfaatkan jejaring media social beberapa waktu lalu menjadi alarm bagi masyarakat tentang bahaya yang mengintai generasi masa depan bangsa. Kasus ini terungkap setelah empat orang angota forum Internasional yaitu Official Loli Candy’s Group itu diamankan kepolisian daerah Metro Jaya.

Menurut penelusuran, grup bejat bersebut memiliki 7000 anggota dan mayoritas aktif.  Jumlah yang cukup mengancam bagi negeri yang terkenal beradab ini. Belum lagi pelaku pedofilia yang beraksi sendiri atau tidak tergabung grup tersebut. Bisa jadi lebih banyak lagi.

Kasus ini juga menambah panjang daftar kasus yang melibatkan anak sebagai korban maupun sebagai pelaku. Masih hangat di ingatan kita, kasus pemerkosaan oleh 4 pemuda di Lampung, lalu kasus pemerkosaan oleh 13 anak belasan tahun di Surabaya, kasus Skip Challenge, hingga viralnya video seorang siswa SD yang dengan pedenya mengungkap ‘isi hatinya’, ditambah lagi dengan beberapa percakapan dan foto-foto mesra anak di bawah umur.

Fakta-fakta tersebut adalah bukti merosotnya moral hingga tingkatan terbawah. Anak-anak pun terdampak oleh arus globalisasi. Padahal, bangsa ini kental dengan norma-norma agama. Dulu dan sekarang. Lalu, mengapa hal ini terjadi?

Jika ditelusuri, dekadensi moral terjadi seiring kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Boleh dikata, semakin maju TIK, maka semakin besar pula dekadensi moral yang terjadi dikalangan anak dan remaja.

Terutama media, baik internet maupun media social, bertanggung jawab atas hal ini. Media berbasis TIK, yang sejatinya dibuat untuk kemaslahatan umat manusia, justru digunakan untuk hal-hal tidak manusiawi. Bahkan digunakan secara terencana untuk merusak moral hingga memantik kebencian kelompok. Setiap orang bebas berbuat apa saja dan sebagai siapa saja dengan medsosnya tanpa takut apa-apa. Apalagi, akun-akun anonym yang tak jelas operatornya.

Ditambah lagi, kini, setiap rumah memiliki ‘kotak ajaib’ atau televise. Lalu balita hingga anak belasan tahun yang mahir dengan gadget adalah hal lumrah. Hal yang dulu dianggap tabu. Dan bisa dipastikan, mayoritas anak beriteraksi dengan media massa dan media sosial setiap hari. Padahal melalui keduanya nilai-nilai baru disebarkan.

Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Dengan demikian, media massa menjadi sumber kebenaran dari sebuah peristiwa. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat, mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan.

Peran Orang Tua

Walau agak terlambat, kondisi kritis ini mesti disikapi secara tepat. Setidaknya untuk mengurangi jatuhnya korban lain. Salah satu solusinya adalah dengan memaksimalkan peran orang tua, guru dan lingkungan dalam mendidik. Ketiganya perlu berkolaborasi membentuk karakter anak agar terhindar dari kejamnya kemoderenan.

Orang tua sebagai pihak yang paling banyak mendampingi anak harus jeli membaca perilaku anak. Termasuk bagaimana mendidik. Jika tidak terlalu dibutuhkan, gadget mestinya dijauhkan dari anak yang masih labil. Termasuk mengawasi siaran-siaran TV yang kurang mendidik untuk dilihat anak.

Hal lain misalnya, memahamkan sang anak tentang tujuan hidup menurut agama. Mengenalkan Masjid sejak dini, mengajarkan qur’an hingga membiasakan membantu sesama. Perilaku-perilaku yang dianggap sepele juga perlu diperhatikan.

Orang tua juga bertanggungjawab mencarikan guru dan aktif berkonsultasi. Hak tersebut agar tercapai kesepahaman tentang makna pendidikan yang sesuai norma-norma ke-Indonesia-an. Sebagai  pihak yang dianggap mengerti konsep mendidik, orang tua harus lapang dada terhadap apapun yang dilakukan sang guru. Muhammad II (Al-Fatih), sang penakluk konstantinopel adalah hasil dari proses pendidikan orang tua yang berkolaborasi dengan guru. Walaupun Al-Fatih anak sultan, sang guru tetap adil dan tegas dalam mendidik beliau.

Namun, perlu diingat, lingkungan adalah hal lain yang juga sangat menentukan hasil dari proses pembentukan karakter. Saking pentingnya, Hillary Clinton pernah berujar “perlu orang sekampung untuk mendidik seorang anak!”. Bagaimanapun, anak tak bisa lepas dari interaksi di lingkungan. Untuk itulah, orang tua bertanggungjawab memilih lingkungan yang baik untuk anak-anaknya. Atau menciptakan lingkungan yang kondusif, paling tidak dengan mengajak tetangga-tetangga untuk sama-sama mendidik.

Jika ketiga hal tersebut bisa dimaksimalkan, hadirnya generasi yang paham agama dan berakhlaq adalah keniscayaan, dan menjadi harapan Islam menuju kejayaannya. Aamiin. Wallahua’alam.

 

 

 

 

Menjadi ‘Agent of Change’

gt

Dalam sejarah umat manusia dari masa ke masa, pemuda selalu menjadi bagian penting dalam sebuah perubahan. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT banyak menceritakan kisah heroik pemuda, diantaraya kisah Ibrahim – bapak para nabi – yang sangat kritis terhadap kondisi masyarakat penyembah berhala. Ismail, pemuda yang sangat taat kepada Allah, bahkan jika disembelih sekalipun. Yusuf, pemuda tampan yang sabar dan bertaqwa. Sulaiman, pemuda bijaksana nan kaya raya. Hingga kisah Ashabul Kahfi yang gigih memperjuangkan agamanya.

Dalam sejarah peradaban islam juga tak jauh berbeda. Bahkan islam tetap eksis karena para pemuda yang setia membela Islam dari kafir Quraisy. Muhammad Al-Fatih, sang penakluk konstatinopel juga seorang pemuda. Selain yang telah disebutkan diatas, masih banyak contoh pemuda yang luar biasa, dari dulu hingga sekarang.

Fakta diatas menunjukkan bahwa ungkapan pemuda sebagai agent of change (agen perubahan) bukan sesuatu yang berlebihan. Masa-masa muda merupakan masa yang paling produktif dalam fase kehidupan manusia. Masa yang dipenuhi dengan semangat membara, jiwa yang haus serta cita-cita tinggi. Namun, apakah setiap pemuda adalah agent of change? apa tolak ukur seorang pemuda yang layak dijuluki dengan julukan ‘wah’ tersebut?.

Menjadi agen perubahan  tentu bukan hal mudah. Banyak rintangan dan godaan yang mesti dilalui. Terutama godaan syahwat. Godaan terbesar dalam hidup seorang pemuda. Tak heran jika banyak pemuda yang ‘rusak’ karena tak mampu mengendalikan syahwatnya. Itulah mengapa, salah satu jenis manusia yang mendapat perlindungan dari sengatan matahari di padang mahsyar ialah pemuda yang menolak ajakan wanita kaya nan jelita.

Hal lain yang menjadi rintangan adalah memaksimalkan waktu. Waktu seringkali menjadi masalah yang tak mampu diatasi banyak pemuda. Waktu yang seharusnya digunakan semaksimal mungkin justru dihabiskan dengan hal-hal kurang produktif. Padahal, setiap detik sangat berharga. Seorang agen perubahan tentu tak bisa diharapkan lahir dari sikap seperti ini. Jika kita membaca profil pemuda-pemuda sukses, maka sulit untuk menemukan sikap ‘waste of time’ seperti ini.

Selanjutnya ialah berprinsip kuat. Orang yang tak memiliki prinsip hanya akan menjadi pengekor. Hidup tanpa tujuan dan hanya ikut-ikutan. Pemuda seperti ini sangat tidak layak mendapat kehormatan sebagai ‘agent of change’. Jadilah seperti Bilal bin Rabah yang begitu tabah berpegang kepada prinsipnya walau menerima siksaan.

Terakhir, syarat menjadi pemuda pembawa perubahan adalah berkarya. Berkarya merupakan budaya orang besar. Para salafusshaleh telah mencontohkan hal ini. Imam Syafi’i mulai menulis di usia muda. Imam Ghazali, Ibnu Sina, Al-Araby, Al-Bukhari adalah sedikit contoh dari banyaknya nama besar yang telah berkarya di usia muda.

Itulah beberapa sikap pemuda yang layak mendapat predikat ‘agent of change’. Semoga kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Amien.

Mengawal Momentum Kebangkitan

aksi-damai-2-desember-di-monas_20161203_224618Sejak kemunduran kekhalifahan Turki Utsmani berbarengan dengan kebangkitan eropa, lambat laun umat islam tersingkirkan. Di masa kolonialisme, kekayaan umat Islam dirampas, alamnya dieksploitasi dan umat islam dijajah, bahkan di pecah menjadi banyak negara. Akibatnya, kekuatan umat melemah. Lalu, sejak era modern, kedzaliman demi kedzaliman bahkan semakin parah. Di berbagai belahan dunia, ketika umat islam minoritas, tragedy genosida kerap terjadi. Seperti di Bosnia, China, Rohingya dan Chechnya. Lebih parah lagi, di negara yang mayoritas muslim pun terjadi hal serupa. Palestina, Iraq, Afghanistan dan Suriah juga tak luput dari kekejian musuh Islam. Lalu, bagaimana dengan Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi muslim terbanyak di Dunia? Tak jauh berbeda, Muslim Indonesia juga kerap menjadi sasaran ketidakadilan. Beberapa kasus mengindikasikan ketidak-berdayaan Muslim Indonesia dalam menghadapi gempuran musuh. Stigma negative, fitnah keji, konflik agama selalu mengorbankan kaum muslimin. Namun demikian, Allah Subhanahu wata’ala rupanya punya rencana. Dengan kuasa-Nya, Ia ‘membuka kedok’ Ahok saat berpidato di Pulau seribu beberapa bulan lalu. Entah bagaimana ceritanya, pidato tersebut menimbulkan reaksi dahsyat dari kaum muslimin Indonesia, sesuatu yang tak pernah terduga. Aksi demi aksi menuntut keadilan terjadi. Termasuk aksi 212 yang dramatis nan fenomenal. Aksi yang menjadi titik balik umat Islam dalam beragama. Spiritnya tetap menyala dan terus membesar. Kini, semangat itu masih terjaga. Tapi, perlu diingat, Istiqamah merupakan perkara sulit. Apalagi, penguasa menjadi sandungan. Beberapa Ulama’ dikriminalisasi. Umat islam diadu. Hal-hal tersebut bisa saja membuat umat lelah. Lelah dengan penjangnya perjuangan dan banyaknya pengorbanan yang diperlukan. Saling Menasehati Jika dibiarkan, momentum berharga ini akan lepas. Maka, diperlukan kesabaran dan solidaritas umat untuk sama-sama menjaga. Allah SubhanahuWata’ala telah menyiratkan hal tersebut dalam surah Al-Asr ayat 2-3, yang artinya: “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” Pada intinya, sebagai makhluq yang selalu khilaf dan lupa, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sangat dibutuhkan. Dengan demikian, perjuangan panjang nan melelahkan ini tak berakhir sia-sia, tapi membawa kemerdekaan sejati bagi kaum muslimin seluruh dunia. Wallahua’lam bisshawab.

Menyingkap ‘Identitas’ Valentine Day

valentineharam1

Jika Agustus terkenal karena terdapat hari kemerdekaan, maka Februari terkenal karena ada Valentine Day, tepatnya tanggal 14 Februari. Ya, bagi sebagian pemuda, valentine Day merupakan waktu yang tepat untuk menunjukkan kasih sayang kepada pasangan masing-masing, bahkan, jikapun kekasihnya bukan kekasih yang ‘halal’.

Valentine Day merupakan salah satu virus budaya barat yang disebarkan ke seluruh dunia melalui era Kolonialisme dan Globalisasi. Tak terkecuali Negeri-negeri muslim. Dengan ‘menekankan’ ‘hari kasih sayang’, barat tampaknya berhasil memprovokasi pemuda-pemuda muslim untuk ikut merayakannya. Apalagi, bagi mereka yang kurang iman, setan akan sangat mudah untuk menjerumuskan mereka ke dalam jurang kemaksiatan. Bahkan ironisnya, beberapa kalangan menjadikan kesempatan ini untuk kepentingan bisnis demi keuntungan pribadi.

Padahal, jika  merunut sejarah Valentine Day, maka kita akan menemukan kejanggalan demi kejanggalan, di ataranya :

Pertama, menyerupai perayaan kaum Romawi.

Sebelum adanya Valentine Day, bangsa Romawi selalu merayakan hari ‘Festival Lupercalia’. Yaitu perayaan yang dipersembahkan kepada dewa Lupercus, dewa kesehatan dan kesuburan dan Juno Februa sebagai Dewi pernikahan dan kesuburan. Perayaan ini dilakukan setiap tanggal 13-15 Februari.

Perayaan itu dimulai dengan menaruh nama-nama perawan di sebuah tempat dalm kertas-kertas yang terpisah. Kemudian para lelaki maju satu persatu untuk mengambilnya secara acak. Siapa yang terpilih, itulah yang akan menjadi partner untuk melakukan hubungan terlarang sepanjang malam.

Kedua, mitologi Yunani dan Satanis.

Dalam mitologi yunani, Lupercus setara dengan Pan yang biasa diilustrasikan sebagai manusia berkaki dan berkepala kambing. Dalam tradisi Yahudi penyembah setan (Satanis),  Pan menjelma menjadi Baphomet yang menjadi perlambangan renegeneratif lelaki dan wanita sekaligus lambang seks.

Diceritakan dalam legenda, Pan mempunyai affair dengan dewi kecantikan dan dewi cinta Aphrodite (Venus), dengan Eros (Cupid, anak Aphrodite). Menurut legenda yang lain, Aphrodite sangat tertarik dengan ketampanan anaknya sehingga melakukan hubungan badan dengan anaknya sendiri.

Adapun Juno Februa merupakan Istri dari Jupiter, pemimpin para dewa. Ia dikenal sebagai Hera yang menikah dengan Zeus pada bulan Gamelion. Yaitu antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari.

Ketiga, Dimodifikasi oleh Kristen.

Ketika kaum Kristen berhasil menguasai Romawi, tahun 494 M, paus Gelasius I mengakulturasi Festival Lupercalia menjadi ‘Festival Penyucian Bunda Maria’. Namun, esensi perayaan ini tetap sama.

Selain itu, Valentine Day pernah pula disandarkan kepada tokoh ‘Saint Valentine’ yang berjuang demi cinta hingga menjadi martir pada 14 Februari, walaupun kebenarannya tak bisa diverifikasi.

Demikian fakta Valentine Day yang tidak banyak diketahui. Pada intinya, perayaan ini adalah perayaan yang dilakukan untuk meneladani semangat Pan, Juno, Lupercus, Cupid, Saint Valentine yang semuanya bermuara pada ‘NAFSU SYAITON’. Sehingga, sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Wallahu A’lam.

 

Tegas atau Tergilas

fpi-habib-rizieq-shihab-foto-ist-709-640x415

Habib Rizieq Shihab, siapa yang tidak familiar dengan nama itu?. Apalagi, beberapa pekan terakhir, namanya terus menghiasi media, elektronik maupun cetak, walau dengan pemberitaan negative. Ketua FPI pusat ini telah berkali-kali dipanggil polisi, bahkan pernah dipenjara. Itu semua karena ketegasannya dalam memberantas kemungkaran. Banyak yang suka dengan beliau namun banyak juga yang menbenci.

Sayangnya, sebagian orang yang membenci juga termasuk umat Islam, bahkan beberapa diantaranya tokoh yang dikenal di tengah masyarakat. Menurut mereka, HBS – begitu biasa ia disebut – tak mencerminkan seorang ulama. Alasannya,  ia orang yang kasar dan bertolak belakang dengan gaya dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam yang penuh dengan kelembutan.

Memang, dalam berbagai kesempatan ceramah atau orasi, HBS selalu menampilkan ketegasan terhadap kemungkaran dan ketidakadilan yang diterima umat Islam. Namun, hal itu tidak bisa menjadi alasan untuk menyalahkannya. Karena dalam Islam, ketegasan kepada perbuatan buruk dan merugikan umat adalah keharusan. Hal itu dikenal dengan istilah nahi mungkar.

Bahkan dalam salah satu ayat Al Qur’an, Allah menyeru umat muslim agar tegas kepada kaum kafirin. Karena mereka sesungguhnya membenci kaum muslimin. Mereka tidak akan  rela kecuali umat Nabi Muhammad mengikuti ajaran mereka. Saat ini, hal tersebut benar-benar terbukti. Al-Qur’an beberapa kali dinistakan. Ajaran islam mereka larang. Umat islam mereka bohongi bahkan ulama mereka habisi dan bully di medsos. Mereka adalah jenis manusia yang suka berkhianat dan mementingkan nafsu duniawi.

Itulah mengapa, dalam perang khaibar, Rasulullah SAW memerintahkan pasukannya untuk membunuh seluruh kaum kafir (Yahudi) laki-laki. Itu semua beliau lakukan dengan berbagai pertimbangan. Nabi tidak ingin orang-orang kafir tersebut menjadi kuat lalu menghabisi kaum muslimin.

Dan itulah yang dilakukan seorang Habib Rizieq Shihab. Ia percaya kepada Al-Qur’an dan Rasulullah SAW tentang bahaya yang mengancam jika tidak tegas kepada kaum kuffar. Walaupun harus menghadapi ancaman dari pembencinya. Yang demikian dialami oleh para pendakwah sejati. Wallahu A’lam.