Hari ini, Amerika Layak Bersyukur!!

massa-aksi-bela-palestina-membakar-replika-bendera-amerika-serikat-_171215145052-909

“Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya’ud”

Ribuan orang memadati sekitaran Konsulat Amerika di Surabaya. Mereka meneriakkan yel-yel diatas dengan kompak, disusul suara takbir ‘Allahu Akbar’. Suasana yang sukses membakar semangat para ‘mujahid’ pembela palestina. Ditambah lagi suara lantang para orator yang membuat peserta aksi semakin membara.

“Relakah kalian jika Al-Quds dikotori oleh Israel sang penjajah?” Tanya salah satu orator kepada peserta, sekejap, pertanyaan tersebut dijawab “tidak!!”, “Takbir!” balas sang kiai di atas panggung. “siapkah kalian menyerbu konjen amerika jika mereka menolak menerima perwakilan umat islam?”, jamah segera menjawab tegas “siap, Allahu Akbar!!”

Sementara itu, beberapa meter di depan mereka, sekumpulan polisi anti huru-hara lengkap dengan atributnya bersiaga. Siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Namun sayangnya, setelah dua jam berlalu, tak ada satupun dari pihak konsulat jenderal Amerika yang menyatakan siap menerima perwakilan umat Islam. Padahal, niat umat Islam hanya menyampaikan aspirasi terhadap sikap Presiden AS, Donald Trump yang mengakui Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Sebuah sikap ‘banci’ yang ditunjukkan Negara yang selama ini begitu angkuh dan sombong.

Menyadari kepengecutan Amerika yang tak mau mendengar aspirasi kaum muslimin Surabaya, massa mulai memanas. Namun, panitia terus menenangkan. “aksi kita adalah aksi damai, tak boleh anarkis. kecuali jika mereka menolak menerima kita!” tegas panitia. Namun apa daya, umat kehabisan kesabaran. Salah satu peserta maju membawa bendera, hendak menerobos polisi. Para petugas keamanan tersebut merespon, membentuk barikade. Beberapa peserta ikut maju, siap melawan. Situasi memanas. “Yang di depan, mundur, munduuurr, ada saatnya kita maju!” komando keras dari komandan aksi. Para laskar umat islam segera maju, menenangkan  dan meminta massa agar mundur. Lalu, mereka ikut membuat barikade di depan polisi. Menghalangi para mujahid yang telah marah. Melihat situasi seperti itu, petinggi polisi akhirnya menyatakan siap memediasi umat islam dan konjen Amerika, dan komandan aksi menyeru peserta untuk bubar.

………..

Begitulah suasana demonstrasi damai yang digelar oleh gabungan ormas islam Jawa Timur, Jum’at, 15 Desember 2017. Sikap Amerika yang tak gentle hampir saja berujung anarkis. Kaum muslimin yang hadir karena terpanggil oleh Al-Quds telah siap lahir batin menerima kemungkinan terburuk. Untung saja, umat islam masih sangat sabar, toleran dan mengikuti komando. Bisa dibayangkan jika mereka dibiarkan, bisa saja konsulat jenderal Amerika di Surabaya kini teah tiada. Untuk itu, hari ini, Amerika layak bersyukur.

Iklan

Dibalik #Kids JamanNow

images (1)

Kids jaman now menjadi istilah yang sangat popular beberapa bulan terakhir. Hampir semua kalangan, kaum muda hingga orang tua telah akrab dengan kalimat blasteran ini. Bagaimana tidak, tiga kata perpaduan Inggris Indonesia ini bertebaran di jagat media social maupun media massa. Jadilah ia artis baru yang langsung nge-top.

Uniknya, kids jaman now selalu disandingkan generasi micin. Entah bagaimana asal-usulnya, yang jelas, dua slang ini diidentikkan dengan ‘style’ generasi masa kini. Khususnya usia-usia SD dan remaja. Kids jaman now atau generasi micin menjadi ‘kata baru’ untuk menggambarkan realitas generasi muda saat ini.

Perilaku-perilaku kids jaman now yang dulunya tak lazim dilakukan oleh usia muda sekarang menjadi hal lumrah. Beberapa video dan foto yang mempertontonkan ‘kedewasaan’ anak yang belum dewasa bertebaran di seantaro medsos. Misalnya, merokok, nge-vape, pacaran, mesra-mesraan dan sikap dewasa lain. Hal-hal itulah yang memicu munculnya anekdot kids jaman now juga generasi micin.

Namun, jika ditelaah lebih jauh, apa yang sebenarnya di balik fenomena ini, maka boleh jadi kita akan menemukan beberapa hal;

Pertama, pembiasaan. Slang ini sepertinya mencoba mensosialisasikan gaya baru di kalangan anak sekarang. Public dipaksa untuk membiasakan diri dengan model generasi saat ini. Bila dibahasakan, media seolah ingin mengatakan “ini loh gaya anak sekarang!”. Sehingga, perilaku yang dulu dianggap aneh, kini biasa-biasa saja. Tentu, hal ini berkaitan dengan paham relativisme, yang menganggap kebenaran tidak mutlak, tapi tergantung kondisi social dan budaya suatu tempat.

Kedua, pengkaburan. Maksudnya ialah, pencetus anekdot ini ingin mengaburkan apa yang memengaruhi kids jaman now. Mereka mengenalan ‘generasi micin’ seakan-akan anak mereka adalah korban micin. Micin sejak beberapa dekade dianggap merusak otak, membuat bodoh. Maka ‘generasi micin’ sebenarnya menyiratkan pesan ‘generasi bodoh karena micin’. Padahal, jika membongkar penyebab utama perilaku kid jaman now adalah media. Yah, baik itu media massa (mass media) atau media social (social media) yang tanpa kontrol. Maka, frase itu dibuat untuk mengaburkan penyebab utama gaya aneh kids jaman now.

Ketiga, pembodohan. Kids jaman now adalah pembodohan public. Ia dibuat hanya untuk mengelola isu. Ketika banyak orang berdebat dengan isu kids jaman now, isu lain ditenggelamkan. Rakyat dihibur dengan hal remeh temeh sementara ‘pemain sirkus’ menyusun rencana.

Tentu, ketiga hal di atas hanyalah pandangan kami semata. Sebagai seorang pemuda, kritis terhadap situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Tidak gampang terbawa arus lingkungan yang bias jadi rekayasa pihak-pihak yang tidak ingin generasi muda peduli pada hal-hal yang lebih besar. Terima kasih.

 

Agar Hidayatullah Tetap pada Khittah

images

Sudah menjadi sunnatullah dunia ini diisi oleh ideology yang saling berhadap-hadapan. Ideology bathil dan ideology haq. Konflik itu dimulai ketika iblis membangkang untuk bersujud pada Adam. Ia lalu memohon pada Allah untuk hidup selamanya untuk menyesatkan manusia. Permohonan itu dikabulkan oleh Allah dan mulailah iblis mencari partner.

Kedua ideology yang saling bertentangan tersebut saling tarik menarik. Hal ini telah dikabarkan Allah dalam Al-Qur’an. Banyak cara yang ditempuh oleh masing-masing pihak. Bagi pengusung ideology bathil, apapun cara yang mereka lakukan adalah representasi dari watak iblis. Sombong, angkuh dan mengikuti hawa nafsu. Bertolak belakang dengan pengusung ideology haq yang bersandar pada pengetahuan ilahiyyah.

Jika dianalisis secara adil, berdasarkan yang telah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa abad ke 17 hingga abad ini adalah masanya ideology bathil diangkat oleh Allah. Hal ini dapat dibuktikan dengan kondisi dunia yang mayoritas diisi materialisme, rasionalisme, sekularisme, humanism dan isme-isme lain yang bertentangan dengan ideology haq. Keadaan ini tentu membuat gamang manusia yang memahami posisinya didunia sebagai khalifah, wakil Allah di muka bumi.

Ditengah kegamangan itulah, beberapa orang bergerak untuk mempertahankan yang haq dengan berbagai cara. Salah satunya ialah KH. Abdullah Said yang mendirikan jama’ah Hidayatullah dengan konsep nubuwwah.  Hidayatullah lahir dari kegerahan beliau terhadap kondisi umat Islam yang kewalahan menghadapi perang ‘ideologi’ dan budaya dengan barat. Kaum muda banyak terjebak dalam kubangan fitnah dunia. Waktunya habis berfoya-foya. Sementara orang-orang dewasa tak jauh beda. Pemikirannya kacau, tindakannya malah menjauhkan dari agama. Sementara gempuran ideology dan budaya tak terbendung.

Dalam perjalanan sejarahnya, kehadiran Hidayatullah sedikit banyak mewarnai penyebaran ideology haq ditengah masyarakat Indonesia. Organisasi ini tak butuh waktu lama untuk hadir di setiap provinsi Indonesia. Hal demikian adalah sebuah prestasi luar biasa, namun di sisi lain menjadi ancaman. Prestasi karena tak banyak yang mampu menyamai dan dengan keadaan yang serba pas-pasan. Ancaman karena organisasi ini perlu banyak SDM dan kader yang siap melanjutkan espapeta organisasi. Dan telah menjadi hal lumrah, banyak organisasi islam yang mati atau kehilangan jati diri setelah regenerasi.

Disinilah generasi pelanjut  memainkan peran pentingnya. Kader lembaga yang dikenal dengan Syabab Hidayatullah adalah harapan besar para pendiri (assabiqunal ‘awwalun) organisasi ini. Syabab Hidayatullah dituntut untuk tetap menjaga khittah perjuangan sekaligus menggembangkan lembaga.

Tentu, tugas ini tidak ringan. Ia perlu dikerjakan dengan sepenuh hati sepenuh jiwa. Dalam hal ini, kami memaparkan 4 hal yang mestinya perlu diperhatikan oleh Syabab Hidayatullah dalam menjaga lembaga tetap pada khittahnya, yaitu ;

Pertama, menjaga aqidah. Ya, sebagai organisasi Islam, Hidayatullah mengusung semangat berislam. Maka, memiliki aqidah Islam yang lurus adalah sebuah kewajiban. Syabab Hidayatullah harus menguasai hal ini. Apalagi, era globalisasi yang dimanfaatkan untuk menyebarkan paham-paham barat yang seolah berasal dari Islam terbukti menjebak banyak akademisi muslim. Mereka terkesima dengan pemikiran yang sebenarnya bertentangan dengan aqidah Islam. Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme menjadi momok menakutkan bagi kaum muslimin.

Sejak kemunculan paham ini di tengah-tengah kaum muslimin, beberapa intelektual muslim yang notabene berasal dari organisasi keislaman pun teridentifikasi terpengaruh dengan pemikiran tersebut. Maka,sebelum terjadi,ini perlu dicegah. Salah satu solusi agar ini tak mengjangkiti Hidayatullah ialah dengan berhati-hati dalam belajar. Kemudian, mengkaji Islam secara benar dengan cara yang benar pula. Penanaman aqidah harus dikonsep sedemikian rupa di pesantren-pesantren milik Hidayatullah. Dengan demikian, persoalan penting ini bias teratasi.

Kedua, mempertahankan manhaj lembaga. Hidayatullah hadir bukan tanpa alasan. Saat itu, KH. Abdullah Said melihat kebobrokan masyarakat Islam diIndonesia. Padahal, ormas Islam sudah banyak. Namun mengapa kaum muslimin tak mengalami kemajuan. Sementara itu, dalam pemikiran beliau, Rasulullah hanya butuh 23 tahun untuk menyempurnakan ajaran ini menjadi sebuah solusi bagi masyarakat Arab kala itu. Hasil perenungan yang demikian dalamlah yang menginspirasi KH. Abdullah Said untuk mendirikan jamaah Hidayatullah yang pada perkembangan selanjutnya menjadi organisasi massa (Ormas).

Dengan mengikuti cara Allah mendidik Nabi melalui Wahyu, Hidayatullah tumbuh dan berkembang pesat. Dalam kurun waktu 40 tahun, Hidayatullah telah hadir di hampir 300 tempat seluruh Indonesia. Tentu, fakta ini menjadi tantangan tersendiri bagi Hidayatullah. Karena tidak berproses dari awal, beberapa kader Hidayatullah belum memahami seutuhnya Ke’Hidayatullah’an itu sendiri. Maka, Syabab sebagai pelanjut perjuangan mesti memikirkan hal ini dengan bijaksana. Karena, jika dibiarkan, maka akan terjadi disorientasi terhadap organisasi. Akibat terburuknya ialah keluarnya organisasi ini dari ‘rel’ yang telah disusun oleh para pendiri lembaga.

Ketiga, meningkatkan kompetensi. Globalisasi membuat kompetisi begitu terasa. Dunia yang terbuka, memungkinkan setiap orang berinteraksi dan bertransaksi satu sama lain. Artinya, semua orang (mad’u) bebas memilih pada siapa ia berinteraksi. Maka jika tidak memiliki kompetensi yang cukup, maka organisasi akan ditinggalkan simpatisan atau mad’unya.

Sehingga, setiap organisasi yang mau bertahan, harus kompetitif. Mereka harus punya kompetensi yang cukup untuk bersaing. Maka, tak ada alasan kader Hidayatullah untuk tidak ikut bersaing di dunia modern.

Apalagi, Islam, sebagai agama sempurna telah menyeru umatnya untuk berkompetisi. Fastabiqul Khoirot, kata Allah SWT dalam Al-Qur’an. Kira-kira maknanya “berlomba-lomba lah kalian dalam kebaikan.” Ayat ini jelas mempersilahkan kaum muslimin untuk berkompetisi dalam hal kebaikan. Kita yakin bahwa kaum muslimin adalah kaum terbaik, maka ia harus dibuktikan secara real dalam hidup. Meningkatkan Iman dan Taqwa (Imtaq) tanpa meninggalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah sebuah keharusan. Apalagi, jika kompetensi itu untuk bertarung melawan pengusung ideology kufur.

Keempat, mencetak kader. Kader merupakan pelanjut estapeta perjuangan. Tanpa kader, sebuah kelompok akan mati atau punah. Eksistensi suatu organisasi dimasa mendatang tergantung bagaimana ia mengkader.

Bahkan, jika kembali membuka lembaran sejarah Hidayatullah, terlihar jelas bagaimana para founding fathers sangat memperhatikan tugas ini. Pengkaderan sangat ditekankan. Kader yang dibentuk tentu harus memiliki kriteria yang jelas, seperti memahami organisasi secara utuh, berorientasi akhirat, berkarakter pejuang, loyal dan ikhlas dengan agama.

 

 

 

 

 

 

 

​Kemana Idealisme Kami?

  

       Akhir-akhir ini, saya agak terganggu. Utamanya ketika berselancar di facebook atau twitter, bahkan juga WA. Bukan karena banyaknya foto-foto nikah teman seangkataan bahkan adik kelas (nikah muda bro), bukan pula karena banyaknya curhatan-curhatan ‘aneh’ oleh netter. Tapi karena beberapa status yang menyindir kami, para Mahasiswa. 
Yup, ada opini, puisi, surat hingga meme. Bahkan, mungkin saking gregetnya, si penulis opini memilih judul “Asma Dewi dan Matinya Idealisme Mahasiswa”. Penulis merupakan Aktivis Mahasiswa ’98 sekaligus mantan Ketua Umum HMI. Seperti diketahui, peristiwa ’98 yang membelokkan arah sejarah Indonesia diprakarsai oleh para Mahasiswa yang terlampau gerah. Menurut cerita, di masa-masa tersebut, perjuangan dan peran mahasiswa begitu terasa. Saat itulah tampil mahasiswa-mahasiswa pemberani dengan idealisme tinggi. Tak heran, peristiwa it uterus terkenang.

Sebagai pelaku sejarah, Dr. Ahmad Sastra yang menulis artikel tersebut membandingkan masa-masa beliau dengan mahasiswa sekarang. Beliau mempertanyakan keberadaan mahasiswa ditengah banyaknya kejadian-kejadian janggal di negeri ini. Intinya, beliau mempertanyakan idealism mahasiswa kini.

Diwaktu yang lain, saya menemukan ‘surat’ dari seorang ibu yang katanya anggota ‘Barian Emak-Emak Militan (BEM) Indonesia’. Sang ibu mengadu atas ketidakpedulian Mahasiswa. Di beberapa bagian tulisan, si ibu menyatakan akan mengambil alih fungsi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang dianggap telah kehilangan ruh perjuangan. 

Selain dua diatas, sebuah meme juga menambah persoalan. Katanya “Tahun 1998, Mahasiswa demo, para ibu menanggung logistic, sedang tahun 2017, para ibu demo, mahasiswa menghadiri acara TV”.

Bagi saya, sindiran-sindiran seperti di atas sangat menyinggung sekaligus memunculkan pertanyaan, ‘kemana idealisme kami?’. Kemana jiwa dan semangat muda kami?. Apakah kami telah kehilangan kemewahan? Seperti kata Tan Malaka “kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda ialah idealism”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya berfikir tentang banyak hal. Maka, saya temukan banyak sekali perbedaan antara mahasiswa dulu dan mahasiswa sekarang. Hal itu menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. 

Mahasiswa saat ini mayoritas mereka yang lahir antara tahun 1996 hingga tahun 2000. Tahun tersebut adalah masa mulainya keterbukaan informasi, kebebasan berpendapat dan berekspresi. Bandingkan dengan para mahasiswa yang hidup di masa orde baru. Saat politik berjalan tidak fair. Pembungkaman atas hak-hak rakyat marak terjadi. 

Kedua kondisi berbeda tersebut tentu melahirkan karakter yang berbeda pula. Mahasiswa saat ini merasa sudah memiliki kebebasan, mulai kebebasan berekspresi hingga berbicara. Ditambah lagi dengan berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pesat. Mereka merasa cukup dengan memanfaatkan medsos untuk berpendapat. Fasilitas yang tak dirasakan mahasiswa dulu. 

Implikasi perkembangan TIK juga membuat mahasiswa kini menjadi bagian masyarakat global. Mereka lebih banyak tahu tentang perkembangan dunia luar. Maka, agar bisa bersaing dengan Negara lain, mahasiswa harus banyak berkarya, menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Mengharumkan nama bangsa, itu juga doktrin yang ditanamkan para pendidik. 

Hal demikian menjadi factor penting mengapa mahasiswa kurang bertaji. Belum lagi status kondisi bangsa yang masih kontaversial. Masing-masing berargumentasi sebagai pihak yang benar. Akhirnya, mahasiswa tak berani bersikap. Just wait and see!!.

Menilai Hoax dalam Konteks Demokrasi

gggd

Beberapa bulan tarakhir, kata ‘Hoax’ kerap kali muncul dalam pemberitaan. Hoax dianggap sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Dalam kasus ini, medsos menjadi ‘kambing hitam’. Ia diklaim sebagai media yang menumbuh-suburkan berita bohong tersebut. Pemerintah mengeluh. Hoax sulit diatasi.

Hoax sendiri banyak jenis. Tapi, dalam artikel ini, penulis tertarik untuk membahas hoax yang membahas masalah Negara. Hoax jenis ini tak kalah banyak. Bahkan dituduh telah mengakibatkan disintegrasi bangsa. Menjadi sebab berbagai perpecahan.

Namun, sebagai Negara demokrasi, hal tersebut tidak sepenuhnya buruk. Demokrasi secara umum bermakna “pemerintahan rakyat”. Atau menurut H. Harris Soche, “suatu bentuk pemerintahan rakyat, maka kekuasaan pemerintahan juga melekat pada rakyat. Sehingga sebuah HAM bagi rakyat untuk mempertahankan, mengatur dan melindungi diri dari setiap paksaan dalam suatu badan yang diserahkan untuk memerintah. Bahkan, salah satu ciri-ciri demokrasi dalam UUD 1945 yang disepakati ialah “kekuasaan yang dikontrol oleh rakyat (melalui perwakilan rakyat)”.

Dari pengertian di atas, tersebarnya hoax – khususnya yang membahas Negara –  di sosial media sebenarnya dapat menunjukkan beberapa hal. Pertama, meningkatnya rasa tanggungjawab masyarakat terhadap Negara. Berita hoax bisa dipandang sebagai rasa kepedulian masyarakat terhadap nasib bangsa. Berita bohong apapun, “positif” atau negative, menunjukkan bahwa public mencintai negaranya, walau dengan cara yang salah.

Sebaliknya, jika medsos hanya diisi dengan curhatan, informasi pribadi atau tips-tips menunjukkan jenuhnya netizen terhadap Negara. Mereka sama sekali tak perduli terhadap apapun yang terjadi. Kondisi ini lebih menunjukkan individualism daripada nasionalisme.

Kedua, para penyebar (korban) hoax menyadari bahwa demokrasi akan melindungi mereka. Indonesia sebagai Negara yang menjunjung tinggi kebebasan warganya tak akan dengan mudah menjerat para penyebar hoax. Artinya, masyarakat menyadari posisinya dalam konsep demokrasi.

Bandingkan dengan orde baru. Rakyat takut mengkritik. Mereka dihantui kediktatoran pemerintah. Kebenaran dipolitisasi oleh penguasa. Maka, reformasi dengan demokrasinya membawa angin segar bagi rakyat untuk pro-aktif terlibat dalam mengurus Negara. Sekali lagi, walau dengan cara yang salah.

Kedua hal di atas menunjukkan kesadaran public terhadap perpolitikan. Negara apapun, yang menerapkan konsep demokrasi pasti mengalami problem serupa. Hal seperti itu merupakan sebuah kewajaran.

Berita baiknya, public mulai membuka mata atas peristiwa yang terjadi di Negara ini. Masyarakat menjadi lebih “sensitive” terhadap isu yang berkembang, menjadi pengawas pemerintah. Potensi ini akan lebih productive jika mampu diarahkan, tanpa memberangus kesadaran tersebut.

 

 

 

The Sensitive Year

37176544-indonesia-mapa-en-un-fondo-de-la-bandera-de-indonesia-vendimia

Diawali oleh pidato mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama di pulau seribu lalu, public menjadi sensitive. Pidato penistaan agama tersebut menjadi pemicu berbagai peristiwa. Masyarakat terpecah menjadi berkubu-kubu. Setiap kubu mengklaim pihak yang benar. Maka, lahirlah aksi massa terbesar sepanjang sejarah, aksi 212. Setelah Ahok dipidana 2 tahun penjara, kembali terjadi aksi balasan. Aksi seribu lilin yang diadakan seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Walau peristiwa-peritiwa tersebut terjadi berbulan-bulan lalu, namun jejaknya tetap jelas. Kubu-kubu yang berseberangan masih ‘bertempur’. Paling tidak dimedsos. Public – yang dulunya tak bernafsu membahas masalah Negara – kini memelototi setiap kejadian. Public menjadi ‘penyusun puzzle’ setiap tragedi. Masyarakat menjadi sensitive. Apapun yang terjadi, akan dianggap sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Kelas menengah ke bawah, yang awalnya hanya memikirkan nasibnya, mulai ikut mengawas Negara. Para ibu rumah tangga, yang tahun lalu menggunakan medsos hanya untuk sharing masalah rumah tangga, kini mulai menganalisis setiap peristiwa yang terjadi. Dan mereka yang sedari dulu kritis, mendapat peluang ‘naik daun’. Tulisan-tulisan mereka di Facebook, di blog hingga cuitan di twitter semakin digandrungi. Menjadi rujukan yang berkepentingan.

Kondisi ini tentu ada plus minusnya. Berita baiknya adalah masyarakat mulai sadar akan perannya di negeri ini. Bahwa mereka punya tanggung jawab atas segala hal yang terjadi. Bahwa mereka berhak mengkritik dan berpendapat. Hal ini akan menjadi pengawas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pejabat akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Dengan meleknya masyarakat terhadap politik, diharap menjadi batu loncatan untuk menemukan tokoh yang benar-benar bersih. Yang lahir dari rahim rakyat dan mengerti kondisi rakyat. Bukan di’asuh’ oleh media. Bukan hasil pencitraan.

Namun, kondisi ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal buruk. ‘Devide at ampera’ atau politik belah bambu ala belanda sangat mudah diterapkan. Pihak-pihak yang tak suka dengan kebangkitan Indonesia akan terus menggoreng isu. Lalu, isu-isu yang telah ‘matang’ tersebut ‘dihidangkan’ di web, blog hingga medsos. Maka terjadilah perdebatan antar kubu. Bisa dipastikan umpatan, makian, olokan, juga ocehan akan bersileweran di kolom komentar.

Jika hal seperti itu sudah terjadi, bisa dipastikan keharmonisan dalam berbangsa akan hilang. Potensi-potensi besar Negara menjadi sia-sia, tak bernilai. Kemudian menjadi pintu masuk bagi kehancuran bangsa ini.

Solusinya adalah intropeksi masing-masing pihak. Berupaya “melihat kedalam”, bukan malah sibuk mencari kesalahan. Berkonstribusi nyata terhadap kemajuan, tidak malah menghancurkan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.