Sambut Ramadhan, Hidayatullah Undang KH. Abdul Samad

31453799_930301280485287_7004618878365990912_nBeberapa orang berpakaian hitam dan menggenggam handy talk terlihat sibuk. Memperhatikan jika ada peserta yang datang. Mereka betanggung jawab untuk mengarahkan peserta menuju tempat parkir yang telah disediakan. Sementara itu, digerbang masuk, tiga orang dengan piama putih menebar senyum kepada setiap peserta yang hadir. Masuk sedikit, terlihat meja di sisi kiri dan kanan, dengan kantong hitam menumpuk. Setiap yang hadir akan diberi kantong hitam tersebut. Isinya adalah sebotol air dan kurma kering. Setelahnya, anak-anak dengan baju orange bertuliskan ‘Pandu Hidayatullah’ berdiri tegak. Berjejer rapi.

Hanya butuh dua menit untuk sampai ke pusat acara. Masjid Aqshal Madinah yang merupakan pusat kegiatan keagamaan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Didalamnya telah terpasang back drop acara dan mimbar tepat di depannya. Sisi kiri dan kanan juga telah tersedia tenda. Lengkap dengan layar  LCD. Lima meter dibelakangnya adalah lapangan yang saat itu disulap menjadi tempat kaum wanita. Juga telah bertenda dan layar lebar.

Itulah gambaran situasi Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Acara ini dilakasanakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Pembicaranya adalah da’i yang dikenal pandai melucu, KH. Abdul Somad, Lc, MA.

Sejak pukul 6.00 jamaah sudah berdatangan. Pukul 9.00, tempat yang disediakan mulai terpenuhi. Khususnya tempat muslimah yang memang lebih mendominasi. Pukul 9.10, Kiai yang mendapat anugerah dari Republika sebagai salah satu orang paling berpengaruh di Indonesia akhirnya hadir. Di kawal sedan milik militer.

Akhirnya, acara dimulai. Diawali oleh sambutan oleh shahibul bait, Pembina ponpes Hidayatullah, KH. Abdurrahman S.Ag. Beliau mengucap terima kasih atas kehadiran KH. Abdul Samad ke pesantren binaannya. Beliau juga menyinggung bahwa Ramadhan adalah madrasah (sekolah) besar untuk seluruh kaum muslimin. Layaknya sebuah sekolah, ia memiliki kurikulum, yaitu qur’an dan sunnah. Siapa yang menerapkan kurikulum tersebut dengan baik, maka ia akan mendapat gelar taqwa. Ijazah menuju surga.

Acara selanjutnya adalah launching program 1000 hafidz qur’an di Jawa Timur. Sepuluh orang anak yang sedang dalam proses menghafal Al-Qur’an dikalungi surban oleh KH. Abdul Somad, sebagai simbol dimulainya program tersebut.

Setelah itu, acara inti. Tausiyah dari KH. Abdul Somad. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak kaum muslimin agar menjadikan Ramadhan untuk mensucikan hati dan pikiran. Salah satu menjaga makan dan minum, serta menjaga mata dari hal-hal syubhat, apalagi haram. Dan bulan suci Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mencapai itu semua. Jika hati dan pikiran umat telah bersih, insya Allah akan membawa keberkahan di bumi NKRI ini.

Iklan

FSLDK SurYa : Adili Ahok, Umat Islam Punya Harga Diri

Walau telah lewat tiga pekan, rupanya imbas dari perkataan calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaya Purnama alias Ahok belum juga meluntur. Perkataan yang diduga menistakan agama tersebut terus memantik respon masyarakat. Apalagi, Kapolri sebagai penegak hukum juga belum mengambil tindakan selayaknya.
Pagi tadi (Jum’at, 21/10/2016), FSLDK Surabaya Raya beserta 70 ormas lainnya melakukan aksi damai. Lembaga yang menaungi seluruh Lembaga Dakwah Kampus se-Surabaya tersebut turut serta menyampaikan aspirasinya dengan baju putih-putih beserta poster-poster tuntutan. Dimulai dari shalat Jum’at di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, dilanjutkan dengan longmarch bersama rombongan hingga Kapolda Surabaya. 

Dalam orasinya, Ahmad Mubarak selaku ketua mendesak aparat hukum agar segera menindak tegas kasus ini secara tuntas, tegas, cepat, tepat, proporsional, dan professional karena telah melanggar UU No.1/PNPS/1965 tentang pencegahan dan/atau penodaan penodaan Agama. Lebih lanjut, ia juga menghimbau kepada seluruh kaum muslimin agar mendukung penuh sikap dan putusan MUI dengan cara yang baik. 

Menurutnya, aksi damai ini bukanlah bentuk arogansi. “Umat islam adalah umat yang menjaga kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi beragama. Namun perlu diperhatikan adalah bahwa umat islam pun memiliki nilai dan prinsip dasar yang harus dihargai dan dihormati oleh pemeluk agama lain. Maka perlawanan kami atas hinaan terhadap agama Islam ini tidak lain adalah kewajiban yang memang semestinya kami lakukan atas dasar keimanan.”