My Teacher My Inspiration

“Ha, Apa, masa iya.? Kamu serius?” Tanyaku kaget. Heri, di ujung telepon terdengar terisak. “Serius Al, Aku dapat kabar dari Wawan, katanya dia sedang diperjalanan kesana. Pokoknya kita harus datang.” Tegas Heri.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.” Ucapku, mulai terisak. Aku, yang kini sedang duduk dibelakang meja kerjaku langsung bangkit. Beberapa rekan memandangku heran. ‘Kenapa pula  si Aldi menangis’, mungkin begitu piker mereka. Aku tak peduli, yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana sampai di rumah Pak Bahar secepatnya. Beliau adalah guruku sekaligus inspirasiku. Melalui beliaulah, Tuhan menurunkan hidayah-Nya.

………..

Ceritanya bermula ketika aku melanjutkan study SMA. Saat itu, aku adalah siswa yang bandel, sulit diatur. Aku ke sekolah hanya sebagai pelarian. Setidaknya aku bisa lebih bebas berekspresi, tanpa diketahui ayahku yang sangat tegas. Itupun, aku sering bolos. Dan yang paling keren, menjadi anggota geng paling ditakuti di sekolah. Memasuki tahun kedua, aku tak banyak berubah walau nilaiku banyak yang merah, bahkan hampir semua. Namaku termasuk yang diblacklist. Tapi bukannya menyesal. Aku justru bangga. Bagiku, hal tersebut menjadi bukti kalau aku pemberani. Berani menentang aturan yang bagiku tak masuk akal, terutama untuk remaja. Aku tidak begitu peduli dengan nilai, apalagi stigma orang terhadapku. Prinsipku, “lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, jangan biarkan orang lain mengendalikanmu”, it’s looking cool boy. Guru-guruku angkat tangan. Berulangkali aku dipanggil ke kantor, di ceramahi, dibotaki, dipermalukan di depan siswa-siswi lain, hingga dicambuk. Namun, hal tersebut justru membuatku kebal dan makin galak. Itu semua ku anggap “The challenge letter”.

Pada akhirnya, aku dikeluarkan dari sekolah. Ayahku murka, ibuku sedih hingga nyaris pingsan. aku? Sangat menyesal. Namun hanya hari itu. Segalanya kembali dihari kedua, saat my geng menemuiku. Aku kembali nongkrong dengan mereka, menghabiskan waktu dengan berfoya-foya. Entah berapa jam yang kuhabiskan percuma. Dengan alasan kebersamaan dan kebebasan, kami bertindak semaunya. Hingga, ayahku memutuskan untuk memasukkanku ke sebuah pesantren.

Aku diantar kesana. Sebelum meninggalkanku, ayah berpesan banyak hal. Menceramahiku panjang lebar. Mungkin cukup untuk dua kali khutbah Jum’at. Setelah itu, ayahku pulang. Sementara aku dituntun menuju asrama oleh calon pengasuhku.

Asrama tersebut berlantai dua, terbuat dari papan. Mungkin papan kayu ulin. Kelak, kuketahui kalau lantai bawah digunakan untuk makan. Sehari di pesantren, aku mulai percaya dengan kata-kata Riswan, teman se-geng-ku yang mengaku pernah nyantri.

“Ha, beneren boy, loe dimasukkan ke pesantren? You will dead!” begitu respon Riswan ketika itu, saat ku kabari aku akan masuk pesantren.

“Why bro, seburuk apa sih pesantren itu?” Tanyaku penasaran

“Wah, buruk banget lah boy, makan hanya dengan sepotong tempe atau tahu, kadang telur dadar tipis bagai kertas, transparan boy, nyuci sendiri, semuanya sendiri, pokoknya loe bakal kabur deh.” Jawab Riswan menakut-nakutiku. Aku ciut.

“But…loe kan suka challenge ya? Tepat sekali, pesantren is good challenge to conquer.? Fight boy!!.” Sela Febri memotivasi.

Mendengarnya, aku tersentak, di mana jiwa-jiwa “sombongku” selama ini. Masa hanya gara-gara masuk pesantren aku takut?.

“Okey, I will prove to you all, aku gak bakalan kabur. I promise, kecuali kalau dikeluarin lagi, hahaha” kataku.

“Licik loe Al, gak kasian loe ma orang tua. Loe mesti berubah lah!!” Arif, temanku yang paling alim menasehati. Aku sedikit tersadar. Hanya sedikit.

………..

Kini, dua bulan ku lalui di pesantren. Belum banyak yang berubah dari diriku. Aku malah berteman dengan Heri, orang nomor satu dalam hal kebandelan, walau tak separah teman-teman lamaku. Aku juga belum pernah melakukan pelanggaran serius. Paling banter aku kesulitan bangun sholat subuh dan banyak ketiduran di kelas.

Hingga…..

“Boy, keluar yuk!” Ajak Heri

“Mau ngapain Her?” tanyaku penuh selidik

“Yahh, Refreshing men, you don’t bore here?”

“Yes I am, but….bagaimana kalau…”

“Just do it bro. jangan takut, aku udah senior masalah ginian.”

Kamipun pergi. Menuju daerah perkebunan warga. Ternyata Heri mengajakku merokok bareng, salah satu pelanggaran berat di pesantren ini. Setelah itu, ia memanjat pohon mangga dan mulai menjatuhkan buah masaknya. Kami menyantapnya bersama.

“Punya siapa ini boy.” Tanyaku

“Punya manusia lah boy, kayak detektif aja loe nanya-nanya.” Jawab Heri santai

“I’m serious men”

“Yeah, and that is the serious answer………hahaha, punya pak Bahar, Guru matematika kita.”

“Oh, kalau ketahuan gimana boy.?”

“Jangan berfikir ketahuan lah boy”

Tiba-tiba…..

“Eh Heri, Lagi ngapain Her” Pak Bahar, yang ternyata sudah ada di belakang kami bertanya. Kami terkejut. Tanpa berkata apa-apa, Heri lari pontang-panting. Aku mengikutinya.

Dua hari setelah itu, kami tak pernah muncul di hadapan pak Bahar, selalu menghindar dari pandangannya, walau ia di kenal baik di kalangan santri, kami takut, malu tepatnya. Ketika ku ceritakan peristiwa itu kepada Wawan, ia menenangkan.

“Kalau pak Bahar sih, loe gak usah takut, beliau itu guru paling baik. Paling disiplin, liat aja, beliau paling cepat datang ke sekolah, cara mengajarnya pun baik, gak pernah marah, sabar banget. Dan dekat dengan siswanya. Waktunya tuh mungkin habis buat mikirin kita-kita. Kamu tau Sawir, waktu dia sakit, beliau tuh yang ngurusin semuanya, administrasinya, gizinya and other. Padahal Sawir tuh nakal banget. Masuk kelas Cuma tidur, apalagi pelajaran matematika. Pokoknya………”

“Al, Kita di panggil Pak Bahar.” Heri datang terburu-buru dengan wajah tegang.

“Jadi gimana nih.” Kataku.

“Don’t be Afraid guys.” Wawan meyakinkan.

Akhirnya kami menghadap Pak Bahar. Ia mengajak kami ke rumahnya dengan sepeda motornya. Bonceng tiga, maklum, rumahnya tak begitu jauh.

Rumah Pak Bahar tak begitu besar, sangat sederhana. Halamannya dipenuhi bebungaan. Kami dipersilahkan masuk di ruang tamu. Tulisan “Teacher is expectation” “The future of it’s country in teacher hand” “Guru, mendidik dengan karakter”. Di sebelah kanan, sebuah rak dengan koleksi-koleksi buku yang beragam ikut menghiasi.

2 menit berlalu…

“Mau di apakan kita boy?” Aku membuka percakapan

“Mana aku tau, liat aja sebentar, apapun itu, you must accept, responsible.”

Kemudian…..

Pak Bahar datang dengan sebuah baki besar. Di atasnya telah tersedia tiga cangkir teh, dua toples kue dan…….dua piring daging mangga yang telah di potong-potong. Aku terkesan. Pak Bahar meletakkan semuanya di atas meja kami, lantas ikut duduk.

“Maaf, Cuma seadanya, ibu lagi keluar. Silahkan dimakan!” seru Pak Bahar ramah.

“Iya pak, terima kasih.” Kataku sopan, nada paling sopan yang keluar melalui mulutku beberapa tahun terakhir.

Pak Bahar kembali masuk. Kami hanya diam, segan untuk memulai makan. Ketika keluar dan melihat makanan belum tersentuh sedikitpun, Pak Bahar kembali mempersilahkan, kali ini di tambah embel-embel “Jangan segan-segan, anggap rumah sendiri nak”. Akhirnya kamipun mulai menyantap.

Di luar dugaan kami, Pak Bahar sama sekali tak menyinggung masalah kami sebelumnya.  Seperti hal tersebut tak pernah terjadi. Hingga kami selesai, ia hanya bilang “ Kalau kalian masih mau ke sini aja, atau ambil aja di pohonnya sendiri.” Kemudian dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai. Kami terlihat akrab.

Kebaikan Pak Bahar seperti mengolok kenakalanku. Diperlakukan sebagai anak baik adalah hal yang langka bagiku, terutama sejak aku mulai berteman dengan anak-anak gaul di sekolah menengah pertamaku. Bahkan oleh orang tuaku sendiri. Cap nakal seolah sudah terstempel di jidatku.

Sejak saat itu, aku mulai banyak berinteraksi dengan beliau. Bercerita tentang masa-laluku, masalah-masalahku, dan impian-impianku, yang terbangun karena kedekatan kami. Ia seperti bukan guru-ku, yang membuat jarak dengan muridnya. ia kadang tampil sebagai sahabat, kadang sebagai ayah bahkan sebagai kakak bagiku, juga santri lainnya. Tanpa ada jarak, tanpa rasa segan. Namun secara perlahan, beliau suntikkan motivasi dan inspirasi, demi masa depan cerah. Untuk muridnya, untuk Indonesia.

Ayah, I Love U

Aku gelisah, resah. Mengguling kesana-kemari. Bukan karena hari ini aku baru saja dimarahi kepala sekolah dan di ancam tak dinaikkan kelas jika aku tak berubah, tapi karena saat ini, aku sedang menyaksikan si jago merah menghabisi sebuah rumah berdinding papan. Di samping kiriku, berdiri ibu, ia menangis tersedu, menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya dengan pemandangan yang sedang ia saksikan. Aku tegang. Lima meter dari kami, ayah sedang berlari kencang, lantas menerobos masuk ke rumah tersebut.

Tiga menit…….ayah belum juga muncul. Sementara api kian ganas. Asap tebal membumbung tinggi. Warga semakin panik. Berusaha memadamkan api dengan cara apapun yang mereka pikirkan.

“Astaga…..Tuhan, tolong selamatkan ayah dan adikku.” Gumamku. Air mata mulai menetes.

Lima menit………

Tujuh menit……waktu terasa melambat. Ibu kini memelukku. Ia pasti khawatir dengan ayah dan adikku yang belum juga muncul.

Dua belas menit………

“Ibu…..Kak Reza.” Terdengar suara memanggil. Lamat-lamat aku mendengarnya. Aku mencari sumber suara. Lima belas meter dari kami (aku, ibu dan adik pertamaku), Santi, dituntun seorang ibu Dina, tetanggaku, sedang mencari, menoleh kesana-kemari sambil menangis. Ibuku langsung lari menyusul, memeluk adikku erat-erat. Lantas teringat sesuatu.

“Ayahmu mana nak?”

“Pak Mukhtar telah di bawa ke rumah sakit bu, beliau tadi keluar lewat pintu belakang dang langsung meyerahkan Santi sebelum jatuh pingsan.” Ibu Dina yang menjawab, kemudian mengelus punggung ibuku, seakan berkata “Sabar ya.”

Tak butuh waktu lama, ibu langsung bangkit. Menggendong Santi.

“Reza, antar ibu ke rumah sakit. Kasian ayahmu nak.” Ibu berkata sambil terisak. Aku berpikir cepat. Kemuadian berlari kecil, meminjam motor.

Dua puluh menit kemudian, kami telah sampai di rumah sakit terdekat. Tanpa memarkir rapi, kami langsung berlari, tak menghiraukan petuga parkir yang kini berteriak protes. Kami buru-buru. Menuju UGD. Bertanya tentang pasien yang baru tiba. Sang petugas menunjukkan kami kamar tempat ayah sedang dirawat. Namun, kami tah diperbolehkan masuk. Ibu cemas, sangat cemas. Bibirnya tak pernah berhenti mengaharap kepada Tuhan.

Kamudian…….

“Rez, kenapa kau Reza?” aku mendengar suara. Tubuhku berguncang. Aku terbangun, dengan peluh yang membasahi tubuhku. Ah, ternyata Rehan, teman sekamarku yang membangunankan.

“Kau mimpi buruk lagi Rez?” Tanya Rehan memastikan.

“Iya, Han, mimpi itu lagi, aku trauma, aku yang menyebabkan kebakaran itu.”

“Itu kan sudah lima tahun lalu Rez, lagian Ayahmu masih selamat, walau lumpuh. Itu masih lebih baik dari yang tak pernah merasakan kasih sayang ayah.” Rehan menasehati, seperti biasa. Aku tak begitu peduli dengan kata-katanya. Sekarang, aku meraih handphone dan langsung menelpon. “Ah, di angkat.” Gumamku senang.

“Reza, sudah jam dua satu gini kamu belum tidur, nanti di sekolah ngantuk loh.” Suara di seberang sana langsung berujar.

“Ah, ayah, besokkan minggu.” Aku menggantung kalimatku, lalu melanjutkan. “Ayah, I love u.”

Ketika Pasrah Berbuah Hidayah

Masa-masa SMA adalah masa-masa yang penuh kenangan. Setidaknya begitu kata orang. Pun begitu denganku. Di masa SMA-ku, aku termasuk siswa yang keras kepala, egois dan suka dengan ‘sensasi’.

Karena aku sekolah di sebuah madrasah ‘aliyah yang berada dalam lingkungan pesantren, aku merasa terkekang oleh banyaknya peraturan yang ada, apalagi menurut otak kritisku, peraturan-peraturan tersebut tak ‘masuk akal’. Seperti larangan ke warnet dan belajar siang-malam. Menurutku, internet adalah suatu kebutuhan di era ini. Aku selalu berargumen bahwa Rasul telah bersabda ‘didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka tak hidup di zamanmu’. Dalil ini bagiku menunjukkan bahwa umat islam harus menyesuaikan dengan perubahan dunia. Walaupun ustadz beralasan larangan itu bertujuan agar kami terjaga dari hal-hal negatif yang sangat rentan jika kita ke warnet. Mengenai belajar siang-malam, bagiku hal tersebut akan membebani otak dan otak juga perlu istirahat.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menunjukkan kenakalan-kenakalan yang bagiku wajar sebagai remaja yang emosi-nya masih labil. Aku berteman dengan santri-santri yang juga sepertiku, keras kepala. Maklum, kebanyakan mereka adalah anak-anak yang telah terkontaminasi dengan lingkungan luar yang bebas. Bagi kami, masuk pesantren adalah kesalahan fatal. Untung saja, aku dilahirkan dan dididik dalam keluarga yang agamis. Maka, aku punya rambu-rambu dan prinsip sendiri dalam melanggar. Aku punya batasan, seperti tak merokok, tak pacaran dan tak mencuri. Walaupun teman-temanku rata-rata perokok berat.

Masuk kelas dua SMA, aku telah mendapat stigma negatif dikalangan guru lantaran banyaknya pelanggaran yang membuat kepalaku terus digundul. Bahkan hari pertama di kelas dua ku lalui dengan berdiri di depan barisan santri lama dan santri baru juga para ustadz yang baru saja selesai upacara. Bodohnya lagi, aku dijemput sendiri oleh guru sekaligus kepala asrama, sebutlah namanya pak Jo, ia datang demi mengadili-ku di depan santri, maka saat itu aku berdiri dengan pakaian biasa (tak memakai seragam sekolah) bersama dua terdakwa lainnya. Pelanggaran kami adalah main playstation ketika liburan semester dua. Aku benar-benar seperti terpidana mati yang sebentar lagi akan di eksekusi. Aku benar-benar malu. Terutama pada santri baru. Hari pertama mereka rusak oleh penggundulan kepalaku. Hari itu, aku di vonis mendapat surat peringatan ke-dua (SP 2). Artinya, sekali melanggar lagi, aku akan dikeluarkan.

Sayangnya, vonis tersebut sama-sekali tak mempengaruhiku. Aku sama sekali tak berfikir untuk melanggar lagi dan lagi. Aku justru menganggap tindakan ‘mempermalukan’ku di depan publik sebagai surat tantangan oleh ustadz untukku. Sejak itu, aku berjanji tidak akan ketahuan lagi dalam pelanggaran selanjutnya.

Akhirnya, kelas dua SMA ku lalui dengan bersih. Aku benar-benar tak lagi ketahuan walau berkali-kali keluar malam. Berkali-kali ke warnet atau ke PS. Peringatan dari teman-temanku ku anggap angin lalu. Bahkan tak jarang aku membuat lelucon dengan mengolok para guru yang menurutku tak lebih cerdik dariku. Terkait ‘kesombongan’ku, temanku – yang juga selalu melanggar—selalu berkata, “sepandai-pandainya tupai melompat, pada akhirnya akan jatuh juga”. Ungkapan tersebut biasanya ku jawab, “makanya jangan melompat bro”. Jawaban tersebut diiringi tawa kemenanganku.

Selama periode tersebut, aku selalu merasa berada di tepi jurang. Kena sentuhan sedikit saja, aku akan jatuh. Para guru seakan-akan telah melabeliku dengan label suram. Entah sudah berapa kali aku hampir ketahuan. Namun aku selalu saja lolos. Masuk kantor untuk diceramahi, dimarahi, bahkan diancam telah menjadi bagian dari keseharianku di pesantren. Aku tahu bahwa para guru telah menaruh curiga denganku. Mereka hanya butuh bukti yang cukup untuk segera membuatku ‘angkat tas’ alias minggat dari pesantren ini. Karena bagi mereka, keberadaan santri sepertiku bagaikan benalu atau yang lebih parah adalah seperti virus mematikan. Jika tak disingkirkan, akan menulari yang lain. Tapi seperti yang sudah ku bilang, aku adalah ‘penjahat’ yang lumayan cerdik. Mungkin seperki ‘WonderKid’ dalam komik Conan Edogawa.

Waktu terus berjalan sesuai sunnatullah. Ia sama sekali enggan untuk kembali. Waktu tak melihat apa yang manusia lakukan. Baik atau buruk sama sekali bukan urusannya. Tugasnya hanya ‘berlari’ kedepan dan pernah mundur. Walau kadang tersebab itu manusia justru sadar. Sadar akan waktunya yang semakin pendek. Sebuah kesadaran yang biasanya merubah hidup seseorang. Namun itu tidak sepenuhnya berlaku bagiku. Walau kadang iya, aku tetap tak berubah.Akibatnya, ketika penerimaan rapor, aku bersama dua teman lainnya, naik kelas dengan status percobaan. Jika selama satu semester kedepan tak ada perubahan signifikan, maka kami akan dikembalikan ke kelas dua. Entah kenapa, aku sama sekali tak takut dengan ancaman tersebut. Padahal sekitar tiga bulan sebelumnya, salah seorang temanku dikeluarkan karena ketahuan main PS sambil merokok, dua perbuatan yang sangat dilarang di pesantren ini. Memang seolah telah menjadi kutukan kalau ‘kaum’ seperti kami tak banyak yang keluar dari pesantren ini dengan status ‘lulus’. Kebanyakan di drop out atau keluar sendiri. Bahkan selama aku di sini, selalu saja ada korbandari kelas tiga. Padahal jadwal ujian nasional kurang dua bulan lagi. Tapi hal itu sama sekali tak dihiraukan oelh para guru. Hukum tetap berlaku walau dalam keadaan bagaimanapun.

Setengah tahun telah ku lewati sebagai siswa kelas tiga. Tak ada perubahan berarti dari sikap ku, juga kedua kawanku. Akhirnya, para guru sepakat mengembalikanku di kelas dua. Kau tahu kawan, aku menyambutnya dengan tawa. Bagiku, hukuman  tersebut adalah konsekuensi dari sikapku. Sejujurnya, aku—walau keras kepala—jika diberi hukuman, aku selalu menerimanya dengan lapang dada, walau kadang aku juga kesal, dengan begitu, aku merasa sportif. Sebaliknya, dua temanku yang juga di ‘turun-kelaskan’ tak terima. Namun setelah ku bujuk, satu dari mereka akhirnya terpengaruh. Satu lainnya benar-benar tak terima tapi malah menyalahkan guru. Maka, ia tetap belajar bersama kelas tiga yang teman se-angkatan kami.

Hari demi hari kami lewati tanpa merasa ada beban. padahal status kami sangat kritis. Terancam tak ikut ujian nasional yang artinya kami harus menunggu setahun lagi di pesantren ini dengan bayang-bayang hukuman dan cap ‘nakal’ yang seolah telah terstempel di jidat kami.

Keegoisan dan kokonyolan sikap kami akhirnya membuat kami ‘berkantor’ lagi. Tepatnya di panggil ke kantor oleh kepala sekolah untuk diceramahi lalu berjanji tak akan mengulangi lagi. Jika ketahuan sekali lagi, kami berjanji akan rela dikeluarkan. Janji kedua yang harus kami ucapkan adalah bahwa kami akan berubah dan akan mengikuti aturan sekolah seperti belajar, halaqah dan lainnya. Tapi dasar  ‘berkepala batu’, aku tak goyah. Janji tersebut menurutku bukan dariku, aku hanya melakukan apa yang diperintahkan.

Akhirnya, hanya berselang 38 jam setelah diancam, aku kembali melanggar, ke warnet bersama seorang temanku. Sialnya, aku ketahuan oleh seorang petugas keamanan. Otakku berputar cepat, memikirkan cara agar aku tak masuk kantor lagi. Maka kukelabui sang petugas tersebut lalu aku lari. Pada saat itu, aku benar-benar yakin bahwa kisahku di pesantren tamat saat itu juga. Aku yakin akan dikeluarkan. Pada saat itulah aku merasakan puncak kegalauan selama hidup. Pulang sama sekali tak ada dalam rencanaku selanjutnya. Aku sangat maludengan keluargaku jika mereka tahu. Aku benar-benar malu. bahkan aku sempat berfikir untuk bunuh diri. Untungnya, aku masih sangat percaya dengan tuhan. Apalagi pendidikan agama yang tertanam sejak kecil belum sepenuhnya hilang. Maka kuputuskan untuk kabur dari pesantren dan pergi sejauh-jauhnya. Kukemasi barang-barangku lalu ku simpan di sebuah bangunan yang biasa kami tempati untuk sembunyi. Aku tinggal menunggu biaya untuk bisa memuluskan rencana ‘brilian’ku. Berhari-hari aku tak menampakkan diri di depan para guru. Paling-paling hanya dapur tempat ramai yang biasa ku hadiri. Itupun jarang dan selalu sembunyi-sembunyi.

Rupanya, rencanaku ketahuan oleh seorang ustadz. Entah siapa yang memberitahu beliau. Ia kemudian melapor ke ibuku. Maka ketika suatu kali aku tak sengaja bertemu, ia menyapa lalu berkata bahwa ibuku ingin bicara. Akhrnya aku bicara dengan ibuku yang mendengar bahwa aku akan lari. Di seberang telepon, ibuku menangis tersedu-sedu menasehatiku. Aku membantah kalau aku ingin lari. namun tetap saja itu tak merubah apa-apa. Beliau memintaku agar bertahan di pesantren walau harus menunggu setahun lagi. Sementara aku sendiri yakin kalau aku sudah di drop out. Maka beliau memintaku agar pulang saja jika memang benar begitu.

Sore harinya, aku memberanikan diri menghadap kepada kepala sekolah. Aku meminta penjelasan mengenai statusku. Tentang apakah aku masih dianggap santri atau sudah menjadi mantan santri. Aku benar di marahai waktu itu. Kupingku panas mendengan ocehan-ocehan sang kepala sekolah. Entah darimana asalnya, kepala sekolahku berfikir bahwa aku sengaja melanggar agar segera dikeluarkan karena sudah tak tahan plus bosan berada di lingkungan pesantren.

“Enak betul kamu mau keluar gitu aja” kata sang kepala sekolah ketika itu. Aku hanya menunduk sambil tersenyum geli. “Darimana pula ia berfikir begitu” pikirku. Aku memang pengen keluar, tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku hanya akan keluar jika diizinkan oleh orang tuaku yang sebenarnya tak mungkin.

“Kalau kamu pengen keluar, kamu harus bayar biaya selama di sini. Biaya makan, listrik, air dan asrama , kamu kira itu gratis? Totalnya 12 juta.” ujar sang KepSek.

“Iya pak, akan saya bayar.” Aku, yang tak mau kalah berkata sambil beranjak. Gayaku benar-benar mirip anak Bill Gates. Padahal saat itu, selembar uang pun aku tak punya.

“Eh, enak betul antum, bayar sekarang. Kalaupun kamu lari, akan saya tagi ibu dan bapakmu. Kamu mau mau mereka susah gara-gara kamu, hah!!” Suaranya meninggi. Aku kembali duduk. “Rupanya, kabar tentang rencana kaburku telah ia dengar dan yakini.” Gumamku dalam hati.

“Tapi kalau kamu mau berubah, saya beri satu kesempatan lagi untukmu. Kamu tidak saya keluarkan tapi tidak ikut UN tahun ini.” Katanya. Mendengarnya, aku merasa lega dan bersyukur. Tak kusangka aku mendapat kesempatan kedua. Aku tau bahwa sikapku sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alasan untuk di-drop out. Tapi mungkin, para guru takut jika aku benar-benar kabur.

Singkat cerita, ku terima kebijakan tersebut dengan lapang dada. Aku benar-benar mulai berubah karena terkesan dengan sikap guruku. Kini, aku mulai rajin mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan. Tapi tetap saja stigma negatif orang-orang tentangku tidaklah hilang begitu saja. Aku sudah terlanjur dicap ‘nakal’. Ku maknai hukuman tersebut dengan yakin bahwa inilah yang terbaik buatku. Aku berusaha ikhlas menerima keputusan berat ini. Bahwa Allah Yang Maha Bijaksana tidak ingin aku keluar dari pesantren tanpa ada bekas kebaikan. Maka ku katakan kepada temanku bahwa aku tidaklah gagal. Bagiku, Allah SWT menghendaki ini bukan untuk menghukumku. Tapi, Allah SWT memberiku waktu setahun lagi untuk mengambil ancang-ancang agar mampu meloncat lebih jauh dan lebih tinggi dibanding jika aku keluar sekarang.

Seolah belum cukup dengan ‘penderitaanku’, aku kembali ‘berkantor’. Kali ini  karena terlibat perkelahian. Sebabnya, seorang teman se-angkatanku kehilangan HP lalu menuduhku sebagai pelakunya. Karena aku termasuk santri yang punya kelompok, mereka mandatangiku ketika aku sedang sendiri. Saat itu, dua orang dari mereka memukulku. Tentu saja keadaan tidak seimbang ini membuatku kalah telak. Kemarahanku memuncak saat itu. Sebelumnya aku belum pernah berkelahi dengan siapapun kecuali saat kelas 3 SD. Aku termasuk orang yang tak ingin membuat masalah dengan teman.Sebagai seorang remaja yang emosinya masih labil, aku menantang balik dan menginginkan battle yang sportif dan jantan. Single. Namun ia menolak.

Ternyata kabar tersebut sampai ke telinga ustadz. Semua yang terlibat di panggil. Saat itu, aku tidak berusaha membela diri walau si lawanku justru menyalahkanku. Aku hanya mengiyakan walau tak benar. Aku tak ingin memperburuk suasana. Saat itu, sang KepSek lagi-lagi membahas tentang keputusannya tidak mengikutkanku UN. Katanya, keputusan tersebut sudah final. Apalagi karena kasus anyarku ini. Aku cuman pasrah. Aku bahkan sudah sangat siap untuk tinggal di sini setahun lagi.

Sore menjelang maghrib, kawanku berkata bahwa ia siap berduel kembali. Maka aku menyambut dengan antusias. Ketika di WC, aku belajar menendang. Celakanya aku justru terjatuh karena lantai WC tersebut cukup licin. Akibatnya, pelipisku pecah. Seorang guru membawaku ke rumah sakit. Aku merasa sang guru terlalu baik kepadaku padahal selama ini aku selalu menjadikannya bahan olokan, makian dan cacian ketika ngumpul bersama teman-temanku. Aku kembali tersadar. Ternyata selama ini aku benar-benar buruk. Ku sesali perbuatanku yang dulu. Aku benar-benar merasa bersalah. Sepulang dari rumah sakit, aku menyalami teman yang memukulku dan berusaha memaafkannya walau sangat berat.

Hari demi hari berlalu. Hari-hari yang kulewati untuk memperbaiki diri. Hingga tibalah hari H-1 UN. Seperti biasa, ketika UN berlangsung, siswa kelas 1 dan 2 diharuskan mengikuti outbond atau camping. Maka sebagai siswa kelas dua, aku pun ikut. Walaupun aku malu karena tinggal kelas, aku sudah tak berharap para guru membatalkan keputusannya terkait keikut-sertaanku dalam UN. Aku pasrah, menyerahkan segalanya kepada tuhan. Tapi, malam harinya, sehabis  sahalat isya di hutan tempat camping, seorang ustadz yang mendampingi kami memanggilku bersama seorang temanku yang bernasib sama.

“kalian mau ikut UN kah.?” Tanya sang guru.

“Iya ustadz, tentu!” temanku menjawab cepat. Aku mengamini.

“tapi ada syaratnya!” katanya.

“Kalian harus lenjut disalah satu perguruan tinggi milik organisasi ini.” Sang guru melanjutkan. Aku berfikir sejenak. Kami tahu kalau pesantren ini punya banyak jaringan. Termasuk tiga perguruan tinggi yang di bawahi oleh pesantren. Belum sempat aku berfikir matang, temanku langsung mengiyakan. Lagi-lagi aku mengamini sambil membayangkan masa kuliahku yang juga di pesantren. Sejujurnya, aku sudah merasa bosan tinggal di pesantren. Apalagi, jurusan yang terdapat di perguruan tinggi tersebut bukanlah jurusan yang ku rencanakan. Tapi, aku memutuskan untuk menerimanya. Aku hanya berfikir positive bahwa aku memang belum pantas tinggal di lingkungan luar yang sangat bebas. Aku yakin bahwa inilah rencana tuhan untukku. Akhirnya malam itu, aku kembali ke pesantren. Setiba di pesantren, teka-teka mengenai mengapa para guru berubah pikiran secepat ini terjawab. Rupanya, seorang temanku yang juga tak diikutkan UN sangat tak terima. Ia memang menolak ketika ku ajak ikut camping bersama kelas 1 dan 2. Ia malah pergi ke rumah seorang guru lalu menangis bagai seorang hamba yang minta pengampunan tuhan. kabarnya lagi, ia juga mengancam Kepala Sekolah kami untuk melapor ke kemenag. Maklum, ibunya adalah pegawai kemenag. Sang kepsek kelabakan. Ia lalu menggelar rapat dadakan malam itu. Keputusannya, kami boleh ikut UN dengan syarat melanjutkan studi di Perguruan Tinggi milik organisasi.

Esok harinya, aku mengikuti UN yang ditakutkan banyak siswa indonesia itu. Alhamdulillah, aku, juga seluruh temanku dinyatakan lulus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hariati

Di sebuah rumah mungil nan reot di kawasan pemukiman kumuh Jakarta, terdengar suara isakan tangis yang berusaha ditahan. Di dalamnya, terbujur kaku seonggok mayat yang dibungkun kain kafan. Sementara di sekelilingnya, beberapa pria juga wanita menatapnya, meratapi kepergian tetangganya sekaligus sahabat mereka. Walaupun bukan keluarga, mereka tetap merasa kehilangan sesorang yang senasib. Sementara di sebuah bilik rumah tersebut, seorang wanita berkulit putih meraung dengan perun buncit, meronta-ronta tak karuan hingga akhirnya pingsan.

…………

Dua minggu setelah suami yang dicintainya meninggal dunia, hariati akhirnya terbiasa dengan kesendirian. Menghadapi dunia dalam kesepian. Namun, ia kasihan dengan anak yang sedang dikandungnnya. Sebenarnya, ia pernah berniat menggugurkan janin di rahimnya karena alasan ekonomi, namun tak sampai hati. Ia berfikir setelah melahirkan, ia untuk sementara akan menitipkan bayinya ke panti asuhan di wilayah tersebut lalu ia akan mencari pekerjaan untuk biaya hidupnya dan memulai hidup baru. Hingga saat ini, ia masih menggunakan uang peninggalan suaminya yang tak seberapa.

Sebulan lebih dua minggu ia akhirnye melahirkan. Tidak dengan bantuan bidan, ia melahirkan bayinya hanya dengan bantuan “semangat” dari para tetangganya.

Seperti yang telah direncanakannya, setelah pulih pasca malahirkan, ia segera membawa bayinya ke panti asuhan “kasih bunda” yang dipimpin seorang ibu bernama “firda” ibu firda.Lalu, ia menyusuri jalan sambil menoleh kiri-kanan berharap akan menemukan tempat untuk kerja. Namun, hingga sore menjelang, ia tak kunjung menemukan tempat kerja atau lebih tepat menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk singgah di sebuah warung untuk melepas lelah. Ketika ia duduk, ia tanpa sengaja melihat tulisan “lowongan kerja” di selembar kertas yang di tempel di dinding warung itu. Ia merasa pas dengan tawaran menjadi pembantu rumah tangga dengan syarat : wanita, usia maximal  25 tahun, di selebaran tersebut Tanpa ada rasa curiga. Karena tak punya HP untuk menghubungi nomer tersebut, ia lalu meminjam HP seorang pemuda di sampingnya.  Ia terlihat manggut-manggut ketika menelpon tanda sepakat.

…………

Rumah dengan cat hijau muda yang dikombinasikan dengan putih tulang tersebut terlihat megah. Pagarnya menjulang tinggi, tak mengizinkan para pencuri melewatinya. Maklum, rumah tersebut memang berada di sebuah perumahan elit ibukota. Sangat kontras dengan pemukiman kumuh tak jauh dari situ. Namun, rumah tersebut hanya diisi oleh seorang lelaki berumur sekitar 40-an tahun tanpa istri.

“Mungkin, itulah alasan mengapa ia butuh pembantu.” Pikir hariati

Di situlah hariati bekerja sebagai pembantu. Hari-harinya diisi dengan mencuci, memasak, menyetrika, mangepel dan pekerjaan rumah lainnya. Walaupun sangat sibuk, ia selalu menyempatkan waktu menemui bayinya setiap pulang kerja atau paling tidak menelpon bu’ firda dengan telpon umum.

Jarum jam terus berputar, mengikuti matahari dan bulan yang silih berganti menyinari bumi, hingga hari kelima, ia di panggil oleh majikannya.

“hariati.! Ikut saya..!” perintah majikannya

“baik tuan” balasnya

Hariati terlihat agak gugup duduk dikursi empuk   menghadap seorang lelaki yang lumayan tampan di balik meja itu. Di atas meja itu pula terdapat dua gelas minuman berwarna merah dan sebuah map kuning.

“bagaimana.? Kamu suka kerja disini.?” katanya membuka percakapan

“iya tuan, saya suka, terima kasih mau menerima saya di sini”jawab hariati sopan

“ah, gak usah manggil tuan lh.! Emm,sebenarnya saya hanya merasa kamu cocok di sini”

“baik tuan, eh pak”

“eh, kamu kan baru kerja di sini, jadi kamu perlu menandatangani dokumen ini, biar kamu bisa dapat hak-hak kamu” kata majikannya sambil menyodorkan sebuah map berwarna kuning

Tanpa membaca dan rasa curiga sedikitpun, hariati mengambil pulpen lalu menandatangani dokumen tersebet seadanya. Setelah itu ia mengembalikan dokumen tersebut.

“ini, sirupnya di minum”

“terima kasih pak” jawab hariati lalu meminum sirup itu hingga hanya menyisakan gelasnya

“oke, saya pergi dulu, kamu boleh make barang-barang yang ada disini” kata majikannya lalu beranjak pergi.

“terima kasih pak” tutup hariati

Hariati berdiri dari kursi itu. Namun ia merasa kepalanya pening dan berat. Ia merasa ada yang tidak beres. Ia berusaha keluar dari rumah itu, namun apa daya, belum sampai pintu utama ia telah ambruk ke lantai, pingsan. Majikannya yang sedari tadi memperhatikannya, mengambil HP dari saku celananya lalu menempelkannya di telinga.

“halo…is this alex.?” Katanya

“emm, I have a girl, I think she is pretty…….she haven’t family,…..ya….around  twenty two years old….yap, I wait you” lanjutnya kemudian memutus telpon dan meletakkan HPnya di atas meja. Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil APV memasuki halaman rumah itu lalu pergi.

…………

Hariati mendapati dirinya di sebuah ruangan kecil yang tak ada lubang sama sekali, cahaya di ruangan tersebut hanya dari sebatang lilin. Pandangannya masih berkunang-kunang dan kepalanya agak pening, ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, lalu berdiri. Memerhatikan keadaan sekelilingnya, samar-samar ia mendengar suara derap langkah kaki mendekat. Ia berfikir, mematikan lilin lalu di ambilnya sebatang balok di pojok ruangan. Ketika pintu terbuka, cahaya lampu dari luar menerangi sebagian kamar kecil itu dan seorang lelaki kekar masuk, dengan cepat, ia mengayunkan balok tersebut ke arahnya. Sialnya, ia tak sendiri. Seorang lelaki lain masuk, hariati ketakutan. Namun ia berusaha melawan. Setidaknya ia unggul dengan balok di tangannya, pikirnya. Namun, lawannya bukan lawan sembarangan. Dengan tiga gerakan cepat, ia behasil merampas balok dari tangan hariati lalu membuangnya.

“kau pikir kamu bisa menang, hah” kata lelaki itu ketika berhasil menangkap hariati dan mengikatnya di kursi

“tolong, tolooong..!!!” teriak hariati sambil meronta-ronta

“kau pikir ada yang akan dating menolongmu, hah, ini jam dua malam bung..!! hahaha”

“siapa kalian, apa yang kalian inginkan.?”

“kami hanya warga biasa kok, kami ingin kamu kaya”

“kalian akan menjadikanku pelacur kan” bentak hariati

“ternyata kamu tidak terlalu bodoh umtuk ukuran pembantu, hahaha.” Lalu bergegas keluar dan mengunci pintu

Untungnya, lelaki tadi tak mengikatnya dengan kuat. Ia hanya perlu usaha sedikit untuk melepas ikatannya. Hariati memperhatikan sesosok tubuh di hadapannya. Lalu terpikir olehnya untuk mencari sesuatu. Ia periksa saku celananya dan akhirnya ia menemukan sebuah HP. Derap langkah yang terdengar cepat mendekat. Hariati mengikat tanganya dan kembali ke kursi, mengambil posisi seperti sebelumnya.

Pintu terbuka dan dua orang lelaki masuk.

“sabar yah, jalang, sebentar lagi kamu akan pergi kok.!” Kata lelaki tersebut ketika baru masuk. Kemudian mengangkat sosok tubuh temannya yang sedang pingsan itu keluar. Pintu kembali di kunci.

Hariati segera melepas ikatannya, memeriksa HP yang baru saja di ambilnya dan tersenyum, ia menemukan sesuatu. Ia terlihat serius berfikir. Lalu di tekannya tombol-tombol HP itu dan mulai bicara.

“halo, dengan bu’ firda….ini saya, hariati…….ini alamatnya……….baik bu’”

Lima belas menit kemudian, dua mobil patroli mendekat di rumah itu. Hariati tersenyum penuh kemenangan. Ia mendobrak pintu tersebut sekedar memberi tahu bahwa ada orang di dalamnya.

…………

Keesokan harinya……

“pamirsa, polisi telah menangkap tujuh orang tersangka pembegalan, pencurian, narkoba dan penyelundupan narkoba dan perdaganganmanusia. Mereka di tangkap malam tadi sekitar pukul 02: 30 di jalan W.R. supratman. Sebenarnya,  Gerombolan mereka telah lama menjadi buronan polisi………………hingga saat ini, polisi masih menegmbangkan kasusnya dan di sinyalir akan ada tersangka lain……………….mereka berhasil di tangkap berkat seorang wanita bernama hariati………” kata seorang reporter wanita di layat kaca. Sementara itu, Seorang Wanita dengan bayi di gendongannya tersenyum dan terlihat gembira.

“hariati.! Ada yang nyari nh..! panggil bu’ firda

Ia menuju ruang tamu dan memdapati seorang perempuan dengan kartu persnya.

“jadi, kami dari M-TV bu’, bisa di ceritain kronologi kejadiannya bu’?

Hariati menceritakan dari kisahnya dari awal hingga akhir.

“tapi, bagaimana ibu mengetahui alamatnya, bukannya ibu di sekap?”

“ya, saya melihatnya ketika memeriksa HP bajingan itu, di situ saya melihat foto dengan latar belakang rumah yang ada alamatnya juga, saya hanya menebak dan berharap itu adalah rumah itu.” Jawab hariati menutup pembicaraan.

“oooo, begitu, emm iya, saya pamit dulu, terima kasih atas waktunya” balas reporter tersebut sambil beranjak pergi.

Si perusak masa depanku

 Si perusak masa depanku

Namaku syawal. Aku di beri nama tersebut oleh orang tuaku karna aku lahir pada bulan syawal, atau tepatnya 16 syawal. Aku menghabiskan masa kecil dan remajaku di tempat lahirku, di salah satu kota kecil di Kalimantan utara bersama keluargaku yang sangat sederhana, maklum, ayahku hanya seorang tukan bangunan yang kadang libur berhari-hari karena tak ada kontrak, sedangkan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Walaupun begitu, ayahku sangat perhatian dengan pendidikan anaknya, sehingga aku bisa menamatkan jenjang SMAku dengan tepat waktu. Namun setelah lulus  dari SMA, ayahku  tak snggup lagi membiayaiku untuk kuliah, karena akhir-akhir ini ia tak lagi menerima tawaran kerja disebabkan tubuhnya yang mulai renta.

Akhirnya, setelah minta izin dengan orang tuaku, kuputuskan untuk merantau kekota lain, tujuanku adalah samarinda. Rencanaku mencari pekerjaan dan menabung hasilnya untuk biaya pendaftaran di universitas mulawarman (UNMUL), salah satu universitas terbaik di Kalimantan walaupun aku juga belum yakin aku bisa lulus tes di universitas tersebut.

Setelah sampai di kota samarinda, aku langsung mencari pekerjaan untuk menghidupiku. Karena bekal yang  kubawa hanya cukup untuk beberapa hari saja. Sementara untuk tempat tinggal sementara, aku menumpang dengan seorang temanku saat SMP disebuah kos mungil dipinggiran kota. Setelah tiga hari lalu lalang mencari pekerjaan, akhirnya aku di terima di sebuah counter HP Samsung. Dan sang empunya toko tersebut bersedia menempatkanku di sebuah ruangan kecil yang menyatu dengan toko tersebut.

Akhirnya, keesokan harinya aku pamit dengan temanku dan memindahkan barang-barangku yang mayoritas pakaian ketempat baruku.

“bro, hati-hati kau kalau bergaul disini, banyak orang jahat!” kata temenku saat aku keluar dari kosnya dengan logat khas Kalimantan timur.

“tenang aja bro, akan kuingat pesanmu” kataku sambil berlalu.

Maka hari-hariku pun diisi dengan berdiam diri disebuah kursi biru tanpa sandaran, didepanku sebuah rak kaca panjang dengan berbagai merek HP, mulai dari sambung, oppo, nokia dan banyak merek HP buatan cina, yang baru maupun yang second. aktivitas lainnya yang kuanggap paling mengasyikkan adalah transaksi yang diawali perdebatan harga oleh pelanggan, banyak para pelanggan yang menawar dengan harga yang tak sesuai sehingga aku harus bisa bertahan dengan harga yang telah ditetapkan oleh bosku. Kadangkala setelah berdebat panjang, mereka malah pergi, atau melihat-lihat HP lainnya. Pekerjaan tersebut kulakukan setiap hari kecuali hari minggu. Karena pada hari minggu, aku secara khusus meminta diliburkan untuk refresing.

Hari minggu biasanya kumanfaatkan untuk bermain playstation yang memang kugemari semenjak SD. Permainan kesukaanku adalah sepak bola dan balapan mobil. Dari kebiasaan itulah, aku mulai mengenal para pemuda yang kemudian merubah atau lebih tepatnya menghancurkan hidupku.

Awal aku berkenalan dengan mereka adalah ketika aku datang ketempat PS dengan sedikit terlambat, kudapati tempat tersebut sudah penuh dengan anak-anak lain. Maka akupun menunggu anak yang akan selesai duluan. Pada saat itu seorang pemuda sebayaku yang juga sedang konsentrasi pada permainan bolanya melirik dan memanggilku.

“hey, sini! Maen sama-sama aja, kebetulan aku lagi sendiri nih. Kamu bisa main inikan (bola).” Katanya kepadaku dengan sopan

“oh iya, biasanya aku mainin permainan gitu juga” kataku sambil mengambil stik dan mencoloknya

“kamu suka klub apa kah?” tanyanya serius

“Manchester united dengan bayer munchen” jawabku seadanya

“oo, sama berarti kita, aku juga ngefans ma MU” katanya

Sambil bermain kami ngobrol tentang kehidupan dan pekerjaan kami

“Siapa namamu.?” Katanya membuka percakapan

“syamsul, kamu.?” Jawabku sambil nanya balik

“roy, kamu orang mana kah.?” Tanyanya kembali

“aku dari malinau, tapi tinggal disini, dicounter rezki tuh na” jawabku

“sudah lama tinggal di situ.?”

“Belum sih, baru sekitar sebulanan lh, kalu kamu..?”

“ aku tinggal di lorong depan situ nh, eh kamu merokok gak.?” Katanya sambil mengambil rokok sampoerna dari sakunya.

“oh enggak, terima kasih”.

Obrolan lain pun nyusul menyusul, hinnga tak terasa waktu siang akan segera menyapa. Akhirnya aku pamit dengannya dengan alasan lelah. Ia terlihat sedikit kecewa karena tak punya teman bermain dan kehilangan kesempatan membalas kekalahannya yang baru saja terjadi.

“besok-besok, kesini lagi ya..!” katanya mengharap

“iya, ada nomor teleponmu kah.?”

“o iya, cari aja di sini, namanya no.q” katanya sambil menyerahkan HP samsumg android keluaran terbaru. Setelah kudapatkan, akupun menyerahkannya kembali lalu beranjak pergi.

Setelah perkenalan tersebut, akupun lalu sering keluar malam-malam menuju tempat PS karena mendapat telepon darinya. Dan ketika sampai, aku sudah di tunggu oleh teman-temanya yang lain. Agaknya mereka cukup penasaran denganku karena berhasil mengalahkan teman mereka. Merekapun akhirnya berebutan melawanku. Sampai akhirnya aku mengenal mereka semua dan mulai akrab. Namun itulah awal kehancuranku, awal yang membuat harapan yang ku bawa jauh-jauh lenyap.

setelah aku akrab dengan mereka, mereka akhirnya selalu menghiasi malam-malamku. Hampir setiap took yang kujaga tutup pada jam 10 malam, aku langsung menuju tempat playstasion, nongkrong bersama mereka sambil memetik gitar hingga larut malam. Hingga pada suatu malam.

“ayo teman-teman, jalan yuk” ajak ikbal

“kemana.?” Tanya rian

“jalan-jalan aja, kemana ka, dari pada di sini terus” lanjutnya

“ayolah yuk, ke pantai aja, ayo wal, kamu kan belum pernah jalan-jalan bareng kami” sambung roy sambil melirik kepadaku

“okelah, tapi sampe jam berapa.?” Kataku

“ngga usah mikir jam bro, santai saja” balasnya lagi

“tapi aku besok kerja”

“sekali-kali bolos kn gak apa-apa, hahaha” tutupnya tanpa ingin dibantah

Akhirnya akupun mengikuti mereka dengan berboncengan sama roy, kerena aku belum bisa beli motor juga belu ada niat mau beli. Sesampainya dipantai, masing-masing mereka mengeluarkan rokok kesukaannya.

“ wal, rokok nh, gk usah malu-malu bro, tes-tes dulu” kata roy memaksa

Aku yang ingin menolak jadi tak enak hati, akhirnya malam itu menjadi malam perdanaku mengisap rokok, roy mengajariku bagaimana cara mengisapnya, mengeluarkan asapnya dengan bentuk-bentuk unik, aku pun terbawa malam itu. Kami baru pulang ketika jam menunjukkan pukul 2 WITA.

Pada malam-malam selanjutnya, aku menjadi terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baruku, bahkan malam ke 4 aku kumpul bersama mereka, kebiasaanku bertambah, mabuk karena bir oplosan.

Tersebab itulah, kinerjaku ditoko menurun drastic, ketika aku menjaga toko, mataku merah karena masih ngantuk sehinnga tak bergairah melayani pelanggan. Namun aku masih tetap bertahan.

Setelah lima bulan setelah berkenalan dengan mereka, hidupku benar-benar berubah drastis, yang dulunya hanyalah pemuda kampung yang polos menjadi salah satu anggota geng di ibukota kaltim tersebut. Hingga suatu ketika, ketika bosku datang ketoko pada jam 9-20, aku belum juga bangun, artinya took belum kubukan hingga jam tersebut. Sebenarnya akhir-akhir ini aku sering terlambat membuka toko, namun bosku belum tahu hingga hari itu. Maka pintuku pun digedor sangat kuat hingga aku bangun dengan kaget.

“udah jam berapa nih, kok belum di buka” bentaknya

“maaf pak, ngantuk pak”  mengungkap alasanku

“kenapa, keluluran kan kamu tiap malam, aku sudah tau semuanya, makanya penghasilan makin menurun, mulai sekarang kamu pergi dari sini, kemasi barangmu dan serahkan kuncinya, kamu kupecat” katanya sambil berlalu menuju motornya

“tapi pak, beri saya kesempatan kedua pak, please” kataku memelas, namun bosku bahkan tidak mendengarnya

Ditengah kegalauanku, kutelpon si roy

“eehh, jemput aku nah, di toko” kataku mengharap

“tumben mau jalan siang-siang” jawabnya heran

“nanti kujelaskan, kesini aja dulu” kataku lalu menutup telpon

Setelah ia datang menjemputku, akupun pergi ke rumahnya dan menjelaskan semuanya. Ia lalu mencari-cari solusi untukku.

“emm, santai aja bro, gak usah terlalu di pikirin, nanti kau pasti dapat kerjaan baru tuh” katanya menghibur

Malam pun tiba, dan aku masih dikamarnya roy dengan sejuta perasaan sedih dan galau yang amat sangat. Kebetulan ayah roy sedang keluar kota, sedangkan ibunya telah meninggal beberapa tahun lalu.  Lalu terdengar pintu diketuk.

“(tuk tuk tuk), roy.!” panggilnya

“tunggu bro” balas roy

Roy segera bergegas ke pintu dan membukakan tamunya, lalu mempersilahkannya masuk.

“nih,  pesananmu” katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan dari dalam kaus kakinya

“oh, terima kasih bos, ni uangnya, kamu gak ikutan..?”

“gak, aku ada urusan lain” balasnya sambil menuju motornya

Roy pun masuk kekamarnya dan mulai membuka bungkusan tersebut

“ini nah, kau isap, biar hilang galaumu” katanya menyodorkan benda yang baru kulihat tersebut

“apa nih, narkoba kah..?” tanyaku memastikan

“iya, jenis sabu-sabu”

Tanpa pikir panjang, aku langsung menikmatinya, benar-benar ajaib, masalahku seakan-seakan terbang keangkasa dan tinggallah kenikmatan yang kurasakan. Akhirnya selama tiga malam aku di rumah roy, setiap malam aku selalu menghirup benda haram tersebut, hingga akhirnya aku ketagihan. Maka akupun meminta tolong kepada roy untuk mendapatkan barang tersebut untukku lagi dengan memakai uang hasil kerjaku selama ini.

Minggu-minggu selanjutnya aku sudah akrab dengan barang tersebut, hingga akhirnya dompetku mulai menipis. Akhirnya kuutarakan masalahku ke roy.

“roy, kau punya kerjaan kah buat aku, uangku gk lama habis nih” kataku memelas

“kalau kamu mau, jadi pengedar aja, sekalian pecandu” katanya

“tapi bahaya gak yah, kalau aku ketangkap gimana.?” Jawabku

“makanya belajar dulu ma temanku yang udah pengalaman”

“okelah, tes-tes dulu”

Malam harinya aku dipertemukan dengan pengedar tersebut dan iapun mengajariku trik-trik agar lolos dari polisi. Awalnya aku mengedar bersamanya, namun setelah merasa bisa akupun berpisah.

Hanya butuh waktu tiga bulan sampai aku bisa menyewa sebuah kos-kosan  untuk tempat tinggalku dan membeli sebuah motor second. Pelangganku bertambah, hingga suatu malam aku mendapat telepon.

“ (tuut tuut tuut) halo, dengan syawal yah,..?” katanya

“iya, ini dengan siapa yah..?” tanyaku

“saya rehan, aku mau mesan sabu-sabu lagi, dua bungkus yah..!” jawabnya

“oh, oke bro, tunggu aja, kuambil dulu ma bos, di tempat bisa kan” tanyaku memastikan

“iya” jawabnya lalu mematikan telpon

Akupun pergi menyusuri lorong-lorong sempit tempat sebuah rumah mungil yang biasa kupakai bertransaksi dengan bos. Sesampainya dirumah tersebut.

“ syawal” lalu mengetuk pintu 2+3+3+2 sebagai kodeku

Akupun di bukakan pintu, namun tiba-tiba beberapa orang berpakaian preman ikut menyerbu masuk sambil menyodorkan pistol kearah kami.

“angkat tangan, sindikat kalian telah terbongkar” katanya membentak

Bosku yang berusaha kabur, akhirnya ditembak didaerah telapaknya dan akhirnya meraung kesakitan. Setelah kuperhatikan ternyata diantara mereka ada rehan yang ternyata seorang intel.

Polisi akhirnya membawaku bersama teman-temanku yang didalam rumah beserta beberapa kilo barang bukti.

Akhirnya setelah melalui proses hukum , aku divonis 17 tahun di penjara. Cita-citaku akhirnya lenyap didalam penjara.

Sesekali aku kesakitan karena efek dari narkoba yang biasa kukonsumsi.

Disnilah aku akhirnya menghabiskan masa mudaku, di balik jeruji besi. Kadang kumenyesali perkenalanku dengan roy dan barang-barang tersebut, juga menyesal tidak mendengarkan nasehat orang tuaku.