​Urgensi Paham Wasathiyyah sebagai Landasan Berfikir di Era Globalisasi 

            

Sejak kemunculan teknologi informasi dan komunikasi digital akhir abad 20, dunia internasional memasuki era barunya. Era ini dikenal dengan nama era globalisasi. Globalisasi sendiri secara umum bermakna suatu proses yang menyeluruh atau mendunia dimana setiap orang tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah, artinya setiap individu dapat terhubung dan saling bertukar informasi dimanapun dan kapanpun melalui media elektronik maupun cetak. Atau dalam pandangan Selo Soemardjan, globalisasi merupakan sebuah proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama.

Dua pandangan di atas menyepakati satu hal, yaitu globalisasi adalah proses mendunia yang tidak terbatas oleh wilayah-wilayah negara. Globalisasi menghendaki terciptanya sebuah system yang sama tanpa melihat siapa, apa dan dimana. Dalam proses tersebut, berdampak pada perubahan di seluruh dunia. Hal itu terjadi sebagai akibat dari interaksi sosial dalam skala global. Dalam hal ini, negara yang memiliki power besar dan kekuasaan luas (superior) justru tampil menghegemoni negara lain yang lebih kecil dan lemah (inferior). Hegemoni tersebut menjangkau segala sisi kehidupan, mulai dari budaya, pendidikan, politik hingga ekonomi. Tak jarang, intervensi kebijakan dilancarkan.

Indonesia sebagai negara yang masih lemah termasuk yang merasakan hegemoni tersebut. Budaya barat yang sangat berkembang, bahkan memimpin peradaban sangat mewarnai kehidupan bangsa Indonesia di masa kini. Interaksi tak terbatas terjadi secara intens berbuntut pada terkikisnya ciri khas bangsa Indonesia lalu tergantikan dengan budaya baru yang asing. Masyarakat mulai menjadi individualistic, komsumtif dan hedonis. 

Salah satu yang paling mendapat sorotan adalah lahirnya budaya baru dikalangan remaja bangsa. Globalisasi yang menelenjangi dunia bulat-bulat menjadikan para remaja tahu banyak tentang hal-hal baru yang terjadi di luar, padahal, remaja adalah fase masih labilnya mentalitas manusia. Akhirnya. ciri khas Indonesia sebagai negara timur terkikis dikalangan remaja. Gaya hidup negara barat diadopsi tanpa saringan. Landasan berfikir mereka kacau balau.

Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan pembagian kelompok sikap di negara-negara islam dalam menghadapi globalisasi. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, ulama kontemporer dari mesir, ada tiga kelompok kaum muslimin dalam menyikapi globalisasi yaitu;

Pertama, kelompok yang pro-globalisasi. Maksudnya adalah mereka memandang globalisasi sebagai angin segar untuk dunia, tidak memandang adanya efek negative dari proses globalisasi ini. Kelompok ini cenderung tidak bisa mengontrol dirinya. Mereka menjadi pengekor setia dari gaya hidup barat. Segala sesuatu yang datang dari barat, baik berupa gaya hidup, system atau paham dianggap perlu dicontoh, agar maju. Padahal, negera-negara barat adalah negara yang tidak mengindahkan spritualitas, cenderung ateis atau tidak mempercayai adanya tuhan. Akhirnya, kelompok ini hidup dengan gaya yang jauh dari identitas kebangsaan (Indonesia) yang cenderung ketimuran. 

Kedua, kelompok yang berhati-hati. Kelompok ini memilih sikap waspada terhadap globalisasi, namun tidak menutup diri secara total. Mereka tetap melihat globalisasi sebagai proses yang memiliki efek positif sekaligus negative. Banyak efek globalisasi yang tidak sejalan dengan konsep islam, namun globalisasi memang tidak dapat dihindari. Bagi mereka, globalisasi memang perlu diwaspadai, tapi secara proporsional, tidak berlebihan. Maka, kelompok ini memilih menyaring ha-hal yang muncul. Mereka cenderung lebih seimbang.

Ketiga, kelompok anti-globalisasi. Kelompok ini mengganggap bahwa globalisasi adalah bentuk hegemoni barat yang bertujuan menghancurkan kaum muslimin. Maka, haram hukumnya mengambil manfaat dari proses tersebut. Konsekuensinya adalah menjauh dari perubahan-perubahan yang lahir dari globalisasi. Bagi mereka, globalisasi tak berbeda dengan westernisasi, yaitu sebuah proses pembaratan. Indonesia tentu tak sesuai dengan budaya barat. Maka, satu-satunya solusi bagi mereka adalah menutup diri dari apapun yang berkaitan dengan globalisasi. Sebagian bahkan menganggap kafir kelompok pertama dan kedua. Landasan pemikiran yang melahirkan aksi-aksi teror.

Dikalangan remaja (Indonesia), kelompok pertama paling mendominasi. Saat ini dapat disaksikan, banyak remaja yang tersihir dengan paham dan gaya hidup barat. Bahkan, menurut data BKKBN tahun 2012, 45,9 % kasus HIV/AIDS adalah remaja, lalu data BNN tahun 2012 juga menunjukkan bahwa 22% pengguna NAPZA adalah remaja. Data tersebut sangat mungkin naik, mengikuti tren NAPZA yang juga terus naik dari tahun ke tahun. belum lagi kasus-kasus lain seperti aborsi, seks bebas, tawuran dan lain sebagainya. Sementara kelompok ketiga paling sedikit. Karena mereka cenderung menutup diri. Maka, kami tak akan mengupasnya secara mendalam.

Sementara itu, kelompok kedua didominasi kaum santri. Mereka inilah yang kami maksud sebagai kelompok wasathiyyah. Santri yang dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai orang yang mendalami agama islam, memang dididik untuk jernih melihat dan bijak dalam bertindak. Dalam menyikapi globalisasi, kaum santri tidak menolak secara ekstrim namun juga tidak menelan bulat-bulat. Kami memandang, kebijaksanaan tersebut muncul dari pendalaman agama yang diterima dipesantren atau dari kiai. Sikap wasathiyyah telah tertanam dalam pemikiran mereka.

Memang, terdapat khilafiah dalam mengartikan kata wasathiyyah, namun, dalam tulisan ini, kami memaknai kata ini dalam makna yang paling umum, yaitu wasathiyyah sebagai paham yang pertengahan atau adil. Pertengahan maksudnya proporsional dan adil berarti memberikan hak kepada pemiliknya. Dengan demikian, menyikapi globalisasi dengan paham wasathiyyah berarti menempatkan globalisasi secara proposional dan memandangnya dengan adil. 

Bagi kami, pandangan seperti itu memang yang paling sesuai. Sehingga, perlu disosialisasikan agar Indonesia bisa bersaing dalam kancah global tanpa kehilangan identitas ketimurannya. Bahkan, tidak hanya disosialisasikan, namun juga dikembangakan. Ia tidak hanya difungsikan secara defensive, namun menjadi batu loncatan untuk bertindak atau sebagai landasan berfikir.

Pada tataran inilah santri berperan. Sebagai individu yang telah mengeyam pendidikan agama secara mendalam, santri diharapkan mampu memberi penjelasan kepada masyarakat awam tentang pertingnya berwasathiyyah dalam menghadapi globalisasi. Bangsa ini perlu menyadari bahwa globalisasi tidak melulu positif namun juga tak negative total. Berangkat pada prinsip itu, wasathiyyah bisa dikembangkan dalam tindakan. Hal-hal yang lahir sebagai efek globalisasi diklasifikasi lalu dimodifikasi.

Misalnya, dalam menyikapi teknologi informasi dan komunikasi, kelompok pro-globalisasi mengikuti trend. Mereka menggunakan teknologi sebagaimana kaum barat menggunakannya. Tak ada batasan dan aturan. Sementara kelompok anti-globalisasi menjauh secara ekstrim. Teknologi informasi dan komunikasi dianggap menjadi sebab rusaknya moralitas generasi penerus agama. Maka, ia harus dijauhi. Namun, bagi kelompok santri yang berpaham wasathiyyah memandang teknologi memiliki efek positif sekaligus negatif. Tergantung siapa yang menggunakannya. Beranjak pada pemikiran ini, dibuatlah aturan bahwa bagi kelompok remaja, lebih baik meninggalkan TIK terlebih dahulu. Karena remaja cenderung masih labil emosinya. Teknologi semacam ini lebih berguna bagi yang telah memiliki dasar agama yang kuat dan memiliki mental yang stabil.

Contoh lain, dalam memandang demokrasi, santri yang berpaham wasathiyyah akan menganggapnya sebagai system yang kurang ideal. Namun, tidak harus dijauhi. Faktanya, demokrasi adalah alternative terbaik masa kini. Maka perlu dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama. Sehingga, lahirlah politisi-politisi muslim yang amanah, berhati-hati dan paham agama (agamis). Contoh lain, dalam menyikapi system ekonomi kapitalis, santri dengan paham wasathiyyahnya tidak serta merta menolak. Ia bisa dimodifikasi menjadi system syariah walau dalam bentuk yang belum semrpurna.

Sudah saatnya santri mempelopori perubahan di era globalisasi dengan turut mengambil bagian di segala bidang. Dengan pemahaman wasathiyyah, santri tidak hanya berkutat dalam hal agama dalam pengertian sempit — seperti saat ini — yaitu, ibadah hanya berupa ibadah-ibadah seperti dzikir, shalat, shalawat, puasa dan sebagainya. Namun, kompetensi-kompetensi umum yang dibutuhkan di era globalisasi perlu mendapat perhatian. Masalah ekonomi, sosial, budaya, pemerintahan akan baik jika dijalankan oleh orang-orang baik, yang berlandaskan spritualitas, mentalitas dan intelektualitas. Tiga instrument yang telah ditempakan bagi santri yang belajar di pesantren. 

Santri harus berani tampil memberi solusi atas permasalahan yang timbul. Sebelum para remaja yang merupakan aset masa depan bangsa dan agama tergrogoti oleh efek negative globalisasi. Dengan menjadikan islam wasathiyyah sebagai landasan berfikir, kami meyakini masyarakat Indonesia, baik yang modernis, agamis ataupun yang tradisionalis akan menerima konsep ini. Wallahu alam bishshawab.  

Iklan

Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

Masih hangat diingatan kita, statemen menteri komunikasi dan informasi (Menkominfo) medio juli lalu. Saat itu, selepas acara antiradikalisme di Universitas Padjajaran. Beliau menyampaikan keresahannya terhadap paham radikal yang terus berkembang. Menurutnya, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Baca: Medsos dan Media Massa) yang bertumbuh pesat berperan besar dalam penyebaran paham ini.

Lebih lanjut, ia menilai kaum radikal memanfaatkan TIK untuk ‘memancing’ calon anggota baru. Menteri yang akrab dengan nama Rudiantara mengancam akan menutup platform terkait bila diperlukan. Diwaktu yang berbeda, wakil presiden, Jusuf Kalla juga menunjuk TIK sebagai sebab menurunnya moralitas pemuda.

Pandangan seperti itu sebenarnya juga diamini oleh banyak professional di republik ini. Bahkan juga para orang tua dan guru. Bagi mereka, TIK bagai dua sisi mata uang. Selain memudahkan, ia juga  menggerus pendidikan anak dan remaja. Bahkan TIK dianggap sebagai biang kerok dari mayoritas permasalahan yang dialami generasi bangsa ini.

Perpepsi negative seperti ini memang tak hadir begitu saja. Banyak kejadian yang dijadikan dalih serta argumennya. Mulai dari kasus kekerasan, seks bebas, bullying dan kasus lain yang melibatkan pemuda. Regulasipun dibuat sedemikian rupa. Namun, hasilnya tak optimal.

Akan tetapi, pandangan tersebut sesungguhnya tak berlaku dikalangan anak muda. Khususnya yang disebut sebagai generasi Z. Mereka lebih optimis. Keyakinan bahwa TIK dapat dimanfaatkan untuk kebaikan tertanam dalam kalbu. Bagaimanapun, mereka hidup dan tumbuh bersama TIK.

Mereka paham, Indonesia, sebagai Negara yang kental dengan adat ketimuran, TIK menjadi problematic. Namun, globalisasi menghendaki modernisasi. Ia sangat sulit untuk dibendung. Untuk menjadi Negara yang competitive, mustahil tanpa TIK. Maka salah satu sikap terbaik adalah memanipulasi TIK untuk pendidikan.

Sebagai generasi yang memiliki masa depan yang masih panjang. Gen Z harus bergerak. Memberi bukti meyakinkan bahwa TIK sesungguhnya tak seburuk yang dipikirkan oangtua dan guru mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

 

            Generasi Z (Gen Z) merupakan istilah yang digunakan oleh seorang sosiolog, Karl Mannheim untuk menyebut mereka yang lahir bersamaan dengan hadirnya internet. Saat itu, ditahun 1923, ia menulis esai yang berjudul “The Problem of Generation”. Ia membagi manusia yang lahir setelah perang dunia II menjadi 4 generasi. Secara singkat yaitu; Pertama, generasi baby boomer (lahir 1946-1964), kedua, generasi X (lahir 1965-1980), ketiga, generasi Y (lahir 1981-1994) dan yang terakhir generasi Z (lahir 1995-2010).

Karena hidup pada era berkembangnya internet, gen Z adalah generasi yang paling ahli dan terbiasa menggunakan mobile phone (Andi Primareta, 2012). Mencari informasi sangat mudah bagi mereka. Termasuk berkomunikasi jarak jauh. Setali tiga uang, Akhmad Sudrajat menggambarkan gen Z sebagai generasi yang fasih teknologi, sosialis dan multitasking. Implikasinya, gen Z  cenderung suka dengan hal-hal instan dan tidak suka hal yang berbelit-belit.

Fakta tentang generasi Z tersebut tentu memiliki sisi positif namun juga negative. Mudahnya mengakses informasi yang tak terfilter membuat banyak Gen Z tak terkendali. Mereka menjadi kejam, pecandu sex, pemarah dan suka tawuran. Hal yang paling ditakuti ialah merosotnya moral ketimuran dikalangan gen Z.

Inilah yang mengundang keluhan bahkan cibiran dari Gen X dan Y. Biasanya, mereka membandingkan generasi mereka dengan generasi sekarang (gen Z), lalu menyimpulkan bahwa TIK adalah penyebabnya. Regulasi pun dibuat, namun tak banyak membuahkan hasil. Dunia pendidikan dianggap semakin menurun.

Padahal, untuk bisa competitive diera globalisasi ini, hampir mustahil dicapai tanpa peran TIK. Dunia berkembang sangat pesat semenjak hadirnya TIK akhir abad 20-an. TIK merupakan teknologi murah biaya, fleksibel dan instan. Sifatnya yang demikian sangat potensial untuk pemerataan pendidikan hingga daerah terpencil.

Sebagai genarasi yang besar bersama TIK, gen z sebenarnya sangat mampu diandalkan, namun dengan cara mereka sendiri. Cara yang mungkin tak dipahami generasi sebelumnya. Cara yang nyaman bagi mereka.

Cukup banyak bukti yang bisa kita lihat terkait pemanfaatan TIK oleh gen Z selama ini. Contoh, mayoritas youtubers Indonesia adalah gen Z, Sultan Haikal, si hacker usia 19 tahun yang sukses meretas ratusan situs adalah gen Z. Belum lagi generasi Z yang tak terekspos oleh media. Namun demikian, pemanfaatan TIK oleh mereka cenderung lebih ke ranah hiburan semata.

Nah, tahun ini, adalah tahun generasi pertama gen Z (kelahiran 1995) memasuki dunia kerja, masa-masa produktif. Sementara generasi terakhirnya (kelahiran 2010) normalnya masih duduk dibangku kelas 2 SD. Disinilah seharusnya gen Z dewasa berperan. Membuktikan bahwa TIK tak seburuk dugaan banyak pihak. Khususnya memanfaatkan dan mengembangkan TIK demi kemajuan pendidikan Nasional.

Walaupun sejatinya telah banyak upaya dalam hal ini, misalnya munculnya e-book, e-learning, e-labolatory, e-education, e-library dan lain sebagainya (Edy Haryanto, 2008). Namun, usaha tersebut belum terealisasi secara maksimal dan merata. Tak sedikitnya guru yang (maaf) gaptek menjadi salah satu kendala. Hal ini dapat dipahami karena profesi guru masih didominasi Generasi X dan Y.

Demi mencapai hasil maksimal, kami menyusun 3 tahapan umum penggunaan TIK dalam pendidikan, yaitu;

a). Jangka pendek (1 – 5 tahun) : program jangka pendek focus pada penerapan TIK dalam mendukung pembelajaran di sekolah. Beberapa hal yang bisa dilakukan seperti 1). Bembuatan kelompok kelas online. Whatsup dan telegram sangat mumpuni untuk digunakan dalam program ini. Siswa yang memiliki minat dan bakat yang sama bisa dikelompokkan dalam kelas online bersama guru pengampu. Disini, mereka bisa saling berdiskusi dan lain sebagainya, tergantung aturan yang disepakati. 2). Bimbingan konseling. Biasanya, beberapa remaja tak percaya diri ketika ingin mengungkapkan masalah pribadinya face to face. Maka, salah satu opsi yang dapat digunakan ialah konseling via Facebook, atau platform lain yang terjaga privasinya. Dengan cara ini, siswa diharapkan terbuka kepada guru. 3). Pembiasaan menggunakan CD, DVD, Video dll oleh guru untuk menyampaikan materi terkait. Hal ini lebih asik bagi gen Z.

 

b). Jangka menengah (5 – 10 tahun) : adapun program jangka menengah yang bisa dilaksanakan seperti; 1). Aplikasi Smartphone untuk belajar. Aplikasi pembelajaran dapat membantu siswa belajar dimana saja dan kapan saja. Sehingga mereka belajar karena senang tanpa tertekan. Dalam pelajaran bahasa inggris misalnya, guru perlu menyusun materi pelajaran harian yang terdiri dari grammar, reading, writing, dan listening bahkan speaking dengan memanfaatkan audio-visual. Pelajaran-pelajaran lain juga bisa memanfaatkan applikasi smartphone. Kurikulum bisa disesuaikan oleh guru. 2). Mendorong yuotubers untuk memuat konten-konten pembelajaran dalam video-video mereka. Tak dapat dipungkiri, youtubers banyak digandrungi para remaja. Karena kocak, video mereka menjadi ‘pelarian’ dari penatnya kehidupan. Namun, akan sangat bermanfaat jika para youtubers – yang notabene gen Z – menyelipkan atau sesekali membuat video pembelajaran yang kreatif. 3). Membuat platform medsos pendidikan. Media sosial yang saat ini marak cenderung tak terfilter. Setiap orang bebas meng-upload apa saja. Hal tersebut tentu tak baik bagi anak-anak dan remaja. Namun, jika gen Z membuat platform khusus untuk anak usia sekolah, lengkap dengan filter konten-konten negative, tentu akan lebih bermanfaat.

 

c). Jangka panjang (10 – 20 tahun) : program jangka panjang adalah program yang dilakukan secara all out oleh gen Z dalam memanfaatkan TIK. Program ini lebih cenderung dalam memanfaatkan mayoritas media TIK, mulai media cetak hingga TIK. Hal ini demi menyukseskan Indonesia Emas 2045. Gen Z mesti berkarir dibidang kemediaan. Baik cetak maupun elektronik. Bahkan menjadi pengambil kebijakan. Sehingga media-media yang ada digunakan untuk menciptakan ‘lingkungan yang kondusif’ untuk anak-anak dan remaja. Tidak ada berita hoax, pornografi, film kekerasan dan lain sebagainya.

Dasar dari pemikiran ini adalah bahwa media memiliki peranan penting dalam menciptakan budaya masyarakat. Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat dan yang mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan. Maka, jika media-media TIK digunakan hal-hal yang baik, akan tercipta lingkungan yang kondusif dan lahir generasi beridentitas kebangsaan yang modern.

Dari pemaparan diatas, setidaknya kekhawatiran gen X dan Y terhadap moral Gen Z bisa dibendung. TIK yang bagi sebagian orang menjadi perusak gen Z justru bisa dimanfaatkan. Harapannya ada pada gen Z sendiri. Sebagai generasi yang memiliki masa depan yag masih panjang, gen Z harus berpikir jauh kedepan.

Perencanaan yang matang harus tersusun rapi di setiap kepala gen Z. Identitas Indonesia dalam usianya yang ke-100 ditahun 2045 tergantung apa yang direncanakan gen Z bersama seluruh komponen bangsa saat ini.