Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

 

 

Mendulang Pahala Dibulan Istimewa

bulan-rajab

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Dzulqa’idah, Dzulhijjah dan Muharram. (satu bulan lagi) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (H.R Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

            Dalam hadits di atas, Rajab adalah salah satu bulan yang termasuk bulan haram. Menurut mayoritas ulama, disebut bulan haram karena dua hal; 1). Pada bulan itu diharamkan segala bentuk pembunuhan atau peperangan. Kemudian, 2). Pada bulan tersebut, larangan berbuat haram lebih ditekankan daripada bulan lainnya karena kemuliaan bulan-bulan tersebut.

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat dibulan tersebut dosanya lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al-Ma’arif, 207).

shalat

Selain itu, keistimewaan lain yang dimiliki Rajab ialah pada bulan inilah Allah meng-isra’ mi’rajkan Rasulullah. Artinya, perintah sholat lima waktu juga dimulai dari bulan Rajab.

Beberapa alasan di atas mestinya cukup untuk memotivasi kita untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah. Hitung-hitung untuk mempersiapkan diri kita menyambut bulan penuh berkah, Ramadhan.

Salah satu amalan yang bisa dimaksimalkan adalah puasa sunnah seperti puasa senin-kamis dan puasa daud. Selain menyehatkan, memperbanyak puasa dibulan rajab juga melatih mental dan tubuh untuk juga memanfaatkan bulan Sya’ban. Dimana, beberapa riwayat menyebutkan Rasulullah tidak melakukan puasa sunnah sebanyak di bulan Sya’ban.

Selain puasa, masih banyak amalan lain yang bisa dilakukan. Bersedekah, membantu orang lain, memperbanyak shalat tahajjud, shalat duha dan lain sebagainya. Semoga, kehadiran bulan Rajab mampu kita maksimalkan untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya, sehingga kita tidak termasuk orang yang merugi.

PAKET 554

554.jpg

            November lalu, Al-Maidah ayat 51 tiba-tiba muncul kepermukaan. Para ahli rame-rame mengkajinya. Seolah-olah ayat tersebut baru saja diturunkan jibril. Padahal, ia telah turun 14 abad lalu. Ahok – yang ‘mengenalkannya’ – menjadi perbincangan public secara nasional.

Jika dikaji lebih jauh, ayat tersebut tidak selesai sampai disitu. Ayat-ayat berikutnya menjelaskan konsekuensi dan solusi yang Allah SWT serukan kepada manusia. Ayat setelahnya bercerita tentang ketakutan orang-orang yang hatinya berpenyakit. Mereka berkata ‘kami takut akan mendapat bencana’, lalu mereka memilih mendekat kepada orang-orang kafir. Selanjutnya, ayat 53 menegaskan bahwa amal mereka menjadi sia-sia akibat kemunafikan mereka.

Nah, yang menarik adalah apa yang Allah sampaikan dalam ayat 54. Allah SWT menjanjikan akan menggantikan kaum yang Allah telah sebutkan sebelumnya. Allah mengungkap 1 paket ciri-ciri mereka yaitu;

  1. Allah SWT mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah SWT

Ayat ini menyebutkan sifat pertama dari mereka adalah mencintai Allah SWT sebagaimana Dia mencintai mereka. Namun, yang menarik adalah Allah lebih dulu menyebutkan tentang kecintaan-Nya kepada mereka. Hal ini menjadi penegasan tentang ke-maha penyayang-an Allah SWT kepada hambanya.

  1. Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslimin

Ciri kedua yang Allah sebutkan ialah kelemah lembutan kelompok ini kepada saudara-saudara semuslimnya. Mereka pantang memaki, menghujat atau mengghibah sesamanya. Dalam Islam, sifat seperti ini dikenal dengan istilah ukhuwah.

Inilah salah satu kekuatan kaum muslimin. Persatuan dan saling memahami antar muslimin yang dilandasi dengan syarat pertama (Cinta Allah SWT) terbukti menghasilkan kekuatan super dahsyat yang menguasai peradaban dunia berabad-abad lamanya.

  1. Keras (tegas) terhadap kaum kafir

Bersikap keras terhadap orang-orang kafir berfungsi untuk menjaga kemurnian Islam serta harga diri kaum muslimin. Islam tidak mengakui kebenaran agama-agama lain. Namun demikian, Islam telah mengatur muamalah antar pemeluk agama. Konsep toleransi telah ada dalam Islam yang sangat menjunjung tinggi humanism.

  1. Berjihad dijalan Allah

Jihad merupakan amalan mulia yang berbuah surga. Allah SWT menjelaskan masalah ini melalui ayat-ayatnya. Jihad fisabilillah demi membela agama adalah kewajiban. Berkat jihad inilah, Islam masih eksis hingga sekarang. Akan tetapi, Islam menolak untuk memulai konflik, jihad hanyalah respon selagi terusik.

  1. Tidak takut terhadap celaan

Kelompok ini adalah kaum yang benar-benar bergantung kepada-Nya semata. Hati mereka teguh dalam membela agama. Cemoohan, makian hingga celaan bukanlah hal yang ditakutkan. Mereka akan tetap terus pada keyakinannya walau harus menghadapi celaan musuh-musuh agama.

Demikianlah sepaket ciri kelompok yang akan mendapat pertolongan dari-Nya. Keberadaan mereka menjadi kekuatan bagi Islam dan cikal-bakal kemenangan kaum muslimin di muka bumi. Semoga kita termasuk orang-orang terpilih ini. Wallahu a’lam bisshwab./

Ilmu, Sang Peneguh Iman

(Kritik Terhadap Doktrin MA RM putra)

Selepas SMP, saya melanjutkan SMA di salah satu pesantren di desa Gunung Tembak, balikpapan. Ketika masa-masa orientasi atau OSPEK, salah satu doktrin yang selalu didengungkan adalah “Kita disini bukan untuk menuntut Ilmu, tapi berislam.” Atau terkadang berbunyi “salah kalau kalian kesini untuk nyari ilmu, di luar banyak kok yang lebih baik dari tempat ini. Tapi kalau kalian mau berislam, kalian datang di tempat yang tepat.” Kira-kira sepeti itulah bunyinya.

Kata-kata tersebut seolah-olah telah menjadi tradisi di pesantren tersebut. Setiap santri baru, dalam masa orientasi siswa, doktrin seperti itu selalu diucapkan. Bahkan ketika belajar pun, terkadang diselipi dengan doktrin yang sepertinya hebat tersebut. Namun, sejauh ini, doktrin tersebut benar-benar berhasil. Buktinya, orang-orang di pesantren tersebut memang dikendalikan dengan semangat berislam. Masjidnya bisa dipastikan penuh setiap shalat berjamaah, termasuk shalat lail dan shubuh yang banyak kaum muslimin lalai daripadanya.

Namun, terlepas dari itu semua, benarkah doktrin tersebut? Apakah memang, berislam lebih penting dari pada berilmu?, atau apakah berislam sama dengan beriman?

Dalam sejarah islam, khususnya sejarah mengenai turunnya wahyu, diketahui bahwa ayat yang pertama turun ialah Al-‘Alaq 1-5, 5 ayat ini – bersama beberapa ayat yang terdapat dalam urutan lima surah yang pertama turun – juga menjadi konsep pesantren, yaitu konsep SNW atau  Sistematika Nuzulnya Wahyu. Dalam ayat pertama, Allah SWT meyeru manusia untuk membaca, para mufassir kemudian berpendapat bahwa maksud membaca dalam hal ini adalah membaca ayat-ayat yang tertulis (Qauliyah) maupun ayat-ayat (tanda-tanda) yang tak tertulis namun tersebar dalam jagat raya ini (Kauniyah). Jika menalar lebih jauh ayat ini, maka sebenarnya perintah ‘berilmu’ adalah perintah yang paling awal, karena di turunkan paling awal dari seluruh ayat yang ada.

Lalu, apa sebenarnya rahasia dari fakta tersebut? Mari kita kupas tuntas. Allah SWT menyeru manusia untuk berilmu lebih awal adalah karena sesungguhnya ilmu adalah kendaraan menuju keimanan yang kokoh dan sempurna, juga kepada ibadah yang sesuai dengan syariah. Ilmu sangat diperlukan untuk meyakinkan manusia tentang kebenaran konsep-konsep islam. Tanpa ilmu, seorang hamba hanya akan ikut-ikutan dan tak mempunyai dasar dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT. Sehingga, imannya lemah, bahkan bisa jadi, ia tak beriman, namun hanya berislam, itupun karena kondisi dan lingkungan yang mendukungnya untuk menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, jika hanya ‘sebatas’ itu, ia hanya mampu menerapkan islam dalam kondisi dan lingkungan tertentu. Nah, apa jadinya jika misalnya ia tak sedang dalam kondisi dan tidak sedang dalam lingkungan tersebut? Apakah sikapnya sama dengan yang ia tunjukkan ketika sedang berada di tempat sebelumnya? Itulah yang menjadi persoalannya.  Yaitu, mereka berislam hanya karena kondisi tanpa mengilmui islam sebenarnya, atau bisa dikatakan ‘keislaman’ kelompok, bukan individu.

Memang jika dikatakan bahwa banyak orang yang berilmu namun tak beriman bahkan malah melenceng dari islam. Itu benar, namun dalam artikel ini, kami tak membahas tentang hal tersebut, yang kita ingin temukan ialah “apakah benar ‘doktrin’ yang dibanggakan tersebut di atas?” atau ada yang Lebih Baik?. Kita mencoba membandingkan manakan yang lebih mampu menguatkan iman? Apakh dengan ilmu, atau dengan ‘hanya’ pembiasaan?

Namun, jika kita melihat meraka yang benar-benar berislam dengan didasari dengan ilmu yang benar, maka, ia tak akan memperdulikan kondisi dan lingkungan, dalam artian ia tak terpengaruh dengan itu semua. Karena kekuatan keyakinan yang timbul karena ilmunya telah tertanam jauh di dalam hatinya. Sehingga, bagaimanapun kondisinya, ia tetap sama. Lebih lanjut, orang-orang yang berilmu banyak yang justru masuk islam. Ada yang karena meneliti fir’aun, ia akhirnya masuk islam karena yakin akan kebenarannya. Ada yang meneliti pertemuan antara air laut dan air sungai, yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa keduanya tak saling mencampuri, dan hal itu terbukti dengan penelitiannya hingga akhirnya ia masuk islam. Dan masih banyak lagi kisah sejenisnya. Bahkan Rasulullah SAW tidak sekedar beriman. Sebelum menerima wahyu pertama, beliau telah ‘mengilmui’ kondisi masyarakatnya. Pikirannya mengenai penyembahan kepada berhala yang baginya kerjaan sia-sia belaka, padahal ketika itu, masyarakat jahiliah menyembah berhala. Pun begitu dengan bapak para Nabi, Nabi Ibrahim AS. Beliau telah lebih dahulu ‘berfikir’ tentang ketuhanan. Ilmunya menuntunnya kepada pencarian kepada tuhan yang sesungguhnya.

Maka, jika dikatakan bahwa berislam (praktek) lebih utama ketimbang berilmu, seperti yang tersirat dalam doktrin tersebut, hal itu tentu kesalahan yang fatal. Karena dengan ilmu – yang dibantu dengan intuisi – manusia bisa mencapai kebenaran sejati. Tentu, dalam hal ini, ilmu yang dimaksud ialah ilmu dalam definisi islam, bukan dalam definisi barat. Wallahu A’lam Bisshawab

BUKU, Tak Asal Baca.!

Di sebuah kamar

“Wan, coba kamu lihat nih berita!”

“Berita apa sih, kok heboh betul?”

“Ini loh, salah satu Ulama terkenal di negeri ini bilang kalau umat islam boleh memilih pemimpin Non-Muslim!”

“terus kenapa?”

“Maksudnya?”

“Menurut seorang pemikir Muslim, semua agama itu sama aja, semua mengajarkan kebenaran dan akarnya juga sama, dari Agama Ibrahim, jadi perbedaaan Agama itu tak lebih seperti perbedaan Madzhab dalam Islam”

“Ah, nagawur kamu, siapa yang bilang tuh?”

“ Aku baca di buku, bukunya bagus dan argumentatif”

Akhirnya pecahlah perdebatan dikamar tersebut.

Cerita di atas hanyalah ilustrasi tentang besarnya pengaruh yang ditimbulkan dari sebuah buku. Sebuah buku bisa menjadi penyesat namun juga penyelamat, tergantung siapa dan bagaimana isi buku tersebut. Itulah salah satu problem besar kaum muslimin saat ini. Banyaknya pemikiran sesat yang dituang dalam bentuk buku menjadi ganjalan tersendiri bagi umat. Karena ditulis dengan gaya ilmiah, umat sering terkecoh dengan argumen-argumen yang terlihat menarik bahkan seolah-olah fakta.

Maka, seorang Muslim pembaca seharusnya terlebih dahulu telah mengerti tentang pemikiran islam secara baik dan jeli dalam memilih dan memilah buku. Jika pun membaca buku para intelektual Muslim yang pemikirannya nyeleneh, Muslim pembaca seharusnya punya rasa kritis terhadap buku yang dibacanya lalu diimbangi dengan buku-buku lainnya. Dengan demikian, buku-buku yang mengandung hal-hal yang dapat menyesatkan tidak diterima secara ‘telanjang’, namun terimbangi dengan buku-buku lainnya. Lebih dari pada itu, seorang pembaca mesti bisa memahami isi buku, lalu mengkonstruksi isi buku bahkan menulis buku baru yang mengkritik atau menguatkan buku tersebut. Jika hal tersebut bisa diterapkan, tentu akan lahir penulis-penulis baru yang memiliki pandangan berbeda dan bisa menjadi benteng aqidah Muslim lainnya.

Terlebih lagi bagi seorang anak yang belum memahami agama secara sempurna. Alih-alih menambah ilmu, namun justru jatuh ke jurang kesesatan karena buku yang dibacanya menuntun kejalan kesesatan. Sebaliknya, jika bukunya sesuai syariat, tentu akan mengantarkannya pada pemahaman yang baik tentang Islam, adab, dan kehidupan. Lihatlah Imam Syafi’i, seorang ulama besar, walau masih berumur belasan tahun, ia telah membaca dan memahami kitab Al-Muwaatta’ karya Imam Malik yang spektakuler pada masa itu. Hal tersebut tentu memiliki andil terhadap kepakarannya dalam agama.

Maka, dalam kasus ini, orang tua, guru, juga da’i mesti terlibat dalam memilihkan buku yang baik. Alasannya sederhana, karena otak (memori) seorang anak masih ‘kosong’, maka orang tua lah yang akan mengisinya dengan berbagai hal, buruk atau baik, termasuk buku bacaan apa yang dipilihkannya untuk sang buah hati. Wallahu ‘alam Bishshawwab.

Menggerakkan Peradaban Dengan Buku

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah SAW senantiasa mempergilirkan kekuasaan di antara manusia. Dalam hal ini kekuasaan bisa berarti peradaban suatu kaum. Dan hal itu terbukti. Sepanjang sejarah umat manusia, terdapat banyak peradaban yang silih berganti. Seperti misalnya peradaban Mesopotamia, China, India, Romawi, Islam dan sekarang peradaban Barat yang diwakili Kristen. Akan tetapi, terdapat kesamaan dalam hal bagaimana peradaban itu terbentuk. Kesamaan tersebut ialah bahwa peradaban tersebut terbangun berkat ilmu pengetahuan yang dibukukan. Sehingga tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku merupakan salah satu indikator keberhasilan terbangunnya sebuah peradaban.

Sejarah mencatat bagaimana buku berperan. Semenjak dahulu kala, transformasi ilmu pengetahuan dari seorang ahli kerap kali dilakukan melalui buku. Socrates, Aristoteles, Plato adalah sedikit contoh daro tokoh yang berhasil menggerakkan peradaban melalui buku (Baca: tulisan). Berkat buku-buku mereka, masyarakat Eropa yang ketika itu berada dalam kekuasaan Romawi tergerak hingga akhirnya terbangunlah peradaban Romawi yang digdaya ketika itu. Berabad-abad setelah masa mereka, hadirlah Islam dengan salah satu doktrinnya yaitu “Iqra” dan “Ilmu”. Bahwa seorang yang mengaku Islam mesti giat menuntut Ilmu lalu mengajarkannya lagi, bahkan mengancam mereka yang menyembunyikan Ilmu dengan ancaman neraka. Adapun cara-cara mengajarkan dan meyebarluaskan ilmu bisa dengan banyak cara. Salah satu yang efektif ialah dengan menulis buku.

Bagaimanapun, seseorang yang punya banyak ilmu dan ide-ide brilian akan menemui ajalnya.  Maka sangat disayangkan jika ilmunya ikut bersamanya ke liang kubur karena semasa hidupnya tak ‘menyimpannya’ dalam bentuk buku selain mengajarkannya kepada orang lain. Itulah alasannya, uluma-ulama salaf sangat bersemangat dalam menulis. Mereka rela menghabiskan waktunya demi menulis berjilid-jilid buku yang sangat tebal. Maka tidak heran jika kaum Muslim berhasil memimpin peradaban dunia dalam kurun waktu yang sangat lama. Salah satu petaka besar yang turut menjadi sebab tenggelamnya peradaban Islam adalah hilangnya semangat dalam budang tulis menulis buku. Selain itu, munculnya peradaban barat juga tak terlepas dari buku-buku yang meraka ‘jarah’ dari kaum muslimin ketika mereka berhasil menduduki daerah Islam dalam perang salib. Konon, saat itu, buku-buku karya ulama di angkut ke Eropa untuk dipelajari. Karena buku-buku tersebutlah, mereka tergerak untuk keluar dari masa kegelapan (the dark age) dalam kekangan agama (gereja) menuju kejayaan ilmu pengetahuan . Akhirnya, mereka pun berlomba-lomba menelurkan ide-ide besar mereka dalam buku-buku yang melahirkan sebuah peristiwa bersejarah sebagai awal peradaban barat yaitu peristiwa Renaissance. Maka bukan bualan jika dikatakan buku adalah salah satu alat yang sangat penting dalam menggerakkan sebuah peradaban.

Bahkan hingga sekarang, saat teknologi begitu mewarnai kehidupan masyarakat, buku masih memiliki kekuatan magis dalam memengaruhi orang lain. Justru, di era modern ini, menghasilkan buku bisa tidak sesulit masa-masa dahulu dimana seorang penulis hanya menggunakan alat yang ala kadarnya. Sayangnya, semangat ulama dulu belum dimiliki oleh banyak umat Islam. Sehingga toko-toko buku masih dipenuhi dengan buku-buku yang tak bernilai Islam. Bahkan merusak Islam. Padahal efek dari buku (baca: tulisan) begitu besar, seperti kata mujahid asal mesir, Sayyid Qutub, “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu buku mampu menembus ratusan bahkan jutaan kepala.”. Artinya, sebuah buku yang baik, akan menggiring kepada peradaban yang baik pula dan berlaku sebaliknya.

Berangkat dari fakta tersebut, sudah semestinya kaum muslimin mulai menekuni kembali cara-cara ini. Jangan sampai justru buku-buku non-Islam yang mewarnai pikiran-pikiran umat sehingga cita-cita besar kaum muslimin yaitu membangun perdaban Islam yang murni tercoreng bahkan gagal karena kalah dalam ‘perang buku’. Wallahu a’lam bisshawab.

Muslim Ekor Singa

 

Lebih baik menjadi Kepala kucing daripada Ekor singa.

Di mana dan kapanpun, kepala selalu menjadi hal yang sangat penting dan menentukan. Betapa tidak, di kepala berkumpul bagian-bagian penting dari tubuh. Mata sebagai indra penglihatan, hidung si indra penciuman, telinga sang pendengaran, lidah si pengecap dan otak sang pemikir dan pembuat keputusan semua bermarkas di kepala. Sebaliknya, ekor di beri posisi paling belakang. Hampir menjadi bagian yang tak memiliki peran dan tak begitu berharga. Hanya sebagai pelengkap atau hiasan. Bahkan cicak seringkali mengorbankan ekornya ketika dalam bahaya. Baginya, ekor diciptakan untuk dikorbankan. Burung kasuari, merak dan cendrawasih sedikit lebih beruntung karena di beri ekor yang indah. Tapi justru karena sebab itu, mereka di buru. Hanya karena ekor, mereka meregang nyawa. Pun juga dengan ekor singa. Walau termasuk dalam bagian hewan yang ditakuti, ekor tetaplah ekor. Tempatnya di belakang dan hanya mengikuti maunya kepala.

Itu baru contoh dari hewan. Dalam sistem manusia, kepala selalu identik dengan pemimpin ataupemilik ide. Seperti kepala polisi, kepala sekolah, kepala organisasi bahkan kepala pencuri atau kepala mafia. Sementara ekor identik dengan hal buruk. Pengekor dan tukang mengekor adalah dua contohnya. Kepala merefrentasikan sebuah kelompok sementara ekor  merefrentasikan penjiblak.

Deskripsi di atas hanyalah suatu pengantar untuk meloncat kepada pembahasan ini artikel ini. Yaitu tentang bangsa ekor singa. Mayoritas umat Islam tampaknya masuk dalam kategori tersebut. Padahal sebelumnya, terutama diabad pertengahan, umat ini adalah raja. Masa dimana kaum muslim betul-betul terasa pengaruhnya. Masa ketika hampir tak ada kejadian yang Islam tak terlibat di dalamnya.Ketika itu, kemajuan yang dicapai dunia adalah berkat Islam yang diamalkan secara kaffah.Itu dulu, ketika era kolonialisme belum di proklamirkan barat. Ketika Amerika dan Barat belum menjadi penguasa dunia (Baca: singa dunia). Ketika muslim punya identitas yang jelas.

Seiring berjalannya waktu, umat muslim mulai kehilangan semangat dalam berislam dan sangat cinta dunia dan takut mati. Akibatnya, Barat yang ‘baru bangun’ dari tidur panjangnya tiba-tiba menjadi ganas. Negeri-negeri kaum muslimin dijajah seenaknya sendiri. Era ini dikenal dengan era kolonial. Celakanya, kolonialisme juga membawa budayanya untuk dikenalkan kepada kaum muslim. Sejak saat itulah, kebanyakan umat muslim menjadi ekor singa. Negeri-negeri muslim mulai meninggalkan konsep Islam dan mepraktekkan konsep yang lahir dari otak ‘singa’. Konsep sekularisme, demokrasi, hermeneutika, kapitalis diimpor ke negri-negri muslim dan dijadikan konsep bernegara.

Mustafa Kemal Attaturk, Nasr Abdul Hamid Abu Zayd, M. Syahrur, M. Arkoun adalah sederet nama yang mempelopori gerakan ‘Muslim ekor singa’ tersebut. Khususnya di bidang pemikiran dan konsep. Beralasan ingin memajukan Islam yang terbelakang pada zaman modern, mereka kemudian seolah-olah memberi solusi. Berbagai argumen mereka lontarkan. Mulai dari penafsiran kembali Al-Qur’an hingga Al-Qur’an produk budaya dan telah terkontaminasi kepentingan politik. Al-Qur’an menjadi bahan kritik mereka (desakralisasi). Mereka seakan kepincut dengan Barat yang maju karena meninggalkan Bible mereka, atau setidaknya menafsirkan ulang Bible. Padahal, problem yang dialami barat bersama Bible sangat kontras dengan yang dialami muslim dengan Al-Qur’annya.

Ironisnya, banyak muslim yang terpengaruh pada pemikiran mereka hingga jadilah negeri-negeri mereka negeri ekor yang mengikuti kemanapun si kepala pergi. Tentu saja, tersebab itulah kaum muslim terbelakang. Pernahkah anda melihat ekor di depan?