Ketika Malaikat Maut Begitu Dekat

Ilustrasi-Waktu-Kematian

Puasa kali ini aku pulang. Ke Palu. Tempat tinggal keluargaku sejak 2014. Naik pesawat Boeing 707 milik Lion Air. Dari Surabaya-Makassar-Palu. Ongkosnya 850 ribu. Karena puasa, lebih hemat. Tak beli makanan apa-apa. Cuma Apel malang. Buat oleh-oleh.

Saat check in, aku dapat seat 35 F. Tepat di samping jendela. Saat transit di Makassar, aku dapat seat 25 C. Juga di samping jendela. Dan sayap pesawat. Baru kali ini aku duduk di samping jendela. Di siang hari. Saat daratan begitu jelas. Dan awan juga tak menghalangi.

Sepanjang perjalanan, pandanganku ke bawah. Sesekali ngobrol dengan teman duduk. Tapi lebih banyak memperhatikan bumi. Dari ketinggian ribuan kaki. Dan aku begidik. Entah mengapa aku takut. Hamparan daratan Jawa Timur dan lautnya. Darantan tersebut terlihat sama tinggi dengan laut. Apalagi pulau-pulau kecil. Tentu tak berdaya jika laut berontak. Surabaya, dengan gedung tingginya juga akan kalah.

Memikirkan itu, aku sadar. Manusia memang butuh tuhan. Yang mengendalikan semua hal di bumi. Yang menjaga agar air laut tidak menjadi bah. Menjaga tanah tidak longsor. Dan lainnya. Aneh ada manusia sombong. Padahal, mudah saja Allah menghabiskan manusia. Kun fayakun.

Saat transit di Makassar, kami pindah pesawat. Jenisnya sama. Kali ini aku duduk di samping jendela sayap. Posisi itu lebih menakutkan lagi. Aku teringat tulisan DI’s Way tentang penumpang pesawat di Amerika. Ia terisap keluar jendela. Hingga setengah badan. Sebabnya jendelanya terlepas karena terkena sesuatu dari sayap. Menyeramkan. Sepanjang perjalanan, ku kencangkan sabuk di kursi. Ngobrol dengan teman duduk. Dan selalu memperhatikan sayap.

Itu peristiwa pertama. Yang kedua, saat aku telah tiba di Palu dengan selamat. Ternyata, dua hari sebelumnya, teteh (sebutan orang kaili kepada kakek) masuk rumah sakit. Ia adalah adik dari nenek. Ibu dari ibuku. Dulu, ketika sekolah di Makassar, aku sering berkunjung ke rumahnya. Sering.

Esoknya, aku ke rumah sakit. Bersama nenek dan ibu. Menjenguk beliau yang terkulai lemah. Ia kesulitan bernafas. Dan BAB. Tak lama, kami pulang. Malamnya, ada kabar. Beliau masuk ruang ICU jantung. Esok paginya aku pergi lagi. Beliau tak lagi sadarkan diri. Kesulitan berbicara. Dan selalu berontak. Begitu hingga malam. Sore aku pulang. Besoknya datang lagi. Kondisinya sudah sangat lemah.

Aku duduk di sampingnya. Seperti merasakan penderitaannya. Hingga, alat pendeteksi jantung (entah apa namanya) menggambarkan kondisi buruk. Si teteh tak bergerak lagi. Tanteku, anak dari teteh segera memanggil dokter. Semua alat di keluarkan. Nyawa berusaha di selamatkan. Suasananya mencekam. Hingga dokter menyerah. Tuhan telah memanggilnya. Isak tangis pecah.

Itulah pengalaman pertamaku menyaksikan orang meninggal. Tentunya, malaikat maut begitu dekat. Hanya beberapa jengkal dariku. Untung saja bukan aku yang ia singgahi. Masih ada waktu bertaubat.

 

Iklan

Jangan Kehilangan Substansi!

jihad-ilmu.jpg

Di kalangan teman kampus, saya dianggap pemalas. Betapa tidak, beberapa kali, saat saya seharusnya duduk  manis di kursi kelas, saya malah memilih tidur nyenyak di asrama. Bahkan, terkadang saya hanya bergelut dengan kasur hingga berjam-jam lamanya. Tak ada aktivitas, padahal yang lain sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Melihat saya terlalu santai, mulailah mereka memprotes sikap saya. Jika itu sudah terjadi, saya tak mau kalah. Argumen yang terdengar logis akan mulai saya lontarkan, debat kusir edisi pagi tak terhindarkan. Bahkan, saat SMA (saya juga dianggap pemalas di SMA, suka ke warnet), saya pernah diminta maju untuk berbicara di depan kelas, saat itu saya utarakan pemikiran saya bahwa belajar tidak harus di kelas. Rupanya pernyataan saya menjadi bahan diskusi para guru. Wkwkwk.

Sebenarnya apa yang saya lakukan bukan tanpa dasar. Pondasi pemikiran saya sebenarnya sederhana, saya tak mau kehilangan substansi hanya karena yang tampak. Bagi saya, budaya pendidikan kita ‘menggambarkan’ system sekolah, bukan system belajar. Jika meminjam istilah Prof. Adian Husaini, beliau berpendapat bangsa kita terjebak pada paham ‘sekolahisme’. Kita memandang ‘yang penting sekolah’ bukan ‘yang penting belajar’. Akhirnya anak-anak digiring ke sekolah setiap hari, kita tidak mau tau apa yang akan mereka lakukan di sana.

Yang terjadi adalah, mereka ke sekolah / kampus untuk hal lain yang tidak substansial. Misalnya, sekolah untuk sekedar mengisi daftar hadir, kuliah untuk sekedar kuliah atau aktif berorganisasi bukan untuk belajar organisasi, sekedar ikut-ikutan dan popularitas. Maka yang terjadi adalah di kelas hanya tidur atau ngobrol,  di organisasi cuek dan omdo. Intinya mereka hadir bukan untuk ilmu baru.

Lalu, buktinya apa? Liat saja ketika ujian. Berapa persen pelajar / mahasiswa yang sembunyi-sembunyi buka buku? Berapa persen yang telah mempersiapkan contekannya di kulit tubuh? Berapa persen yang menyontek dan berapa persen yang tidak nyontek?

Hal demikian menunjukkan orientasi pendidikan kita hanya sekedar nilai di atas kertas. Tak lebih. Baik itu modelnya Raport, KHS, Ijazah dan sejenisnya, intinya sama. Kita kehilangan hal subtansial bahwa seharusnya kehadiran kita di sekolah untuk belajar, menyerap ilmu baru, dan belajar tidak harus dilakukan di kelas. Itulah yang di maksud “Thalibul Ilmi” atau penuntut Ilmu, bukan penuntut nilai besar.

Mau contoh? Prof. Buya Hamka mendapatkan gelar professornya bukan karena kuliah, tapi karena belajar. Mohammad Natsir, menjadi Menteri Penerangan diawal masa kemerdekaan bukan karena kuliah, tapi belajar. Yang lebih konkrit adalah Ibu Puji Astuti, Menteri Kelautan saat ini juga hanya lulusan SMP. Jadi, mau sekolah atau mau belajar?

 

Laa Izzata Illa Bil Islam!!

Aksi-Bela-Palestina.jpg

Kecerebohan Presiden Donald Trump dalam menyikapi konflik Israel-Palestina benar-benar menuai reaksi keras. Berbagai negara mengecam langkah orang nomor satu di AS tersebut. Bahkan, tak sedikit sekutu Amerika yang tak setuju.

Negara-negara islam yang termasuk anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bahkan telah berkumpul di Istanbul dan mendeklarasikan Yerussalem sebagai ibu kota Paletina. Protes juga terus berlangsung, di Iran, Turki, Pakistan, Gaza, dan Malaysia. Indonesia sendiri menggelar aksi besar-besaran Ahad (17/12) lalu di silang monas. Tak hanya itu, di Amerika sendiri berlangsung demo menentang keputusan Trump.

Ironisnya, Presiden dari Partai Republik tersebut malah ngeyel. “Aku hanya memenuhi janji kampanye.” Cuitnya di Twitter. Sebuah jawaban yang tak berkelas dari seorang kepala Negara. Padahal Negara-negara sekutunya seperti Inggris, Perancis dan Jerman tidak setuju. Mereka beranggapan, keputusan tersebut akan membangkitkan kembali aksi terorisme. Sel-sel teroris ISIS akan mendapat alasan bagus untuk kembali meneror.

Terlepas dari itu semua, seorang muslim mestinya bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bagaimanapun, Donal Trump telah membuka kembali mata dunia yang mulai lupa dengan nasib rakyat Palestina. Sekali lagi, kasus ini menyadarkan kembali umat islam bahwa “La Izzata Illa Bil’Islam”. Tidak ada kemuliaan tanpa mempraktekan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selama umat islam masih saling berhadapan, mengabaikan sunnah, tidak tegas dan tidak bangga dengan keislamannya, selama itu pula Islam menjadi mainan Negara-negara adidaya. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

 

 

Mendulang Pahala Dibulan Istimewa

bulan-rajab

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Dzulqa’idah, Dzulhijjah dan Muharram. (satu bulan lagi) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (H.R Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

            Dalam hadits di atas, Rajab adalah salah satu bulan yang termasuk bulan haram. Menurut mayoritas ulama, disebut bulan haram karena dua hal; 1). Pada bulan itu diharamkan segala bentuk pembunuhan atau peperangan. Kemudian, 2). Pada bulan tersebut, larangan berbuat haram lebih ditekankan daripada bulan lainnya karena kemuliaan bulan-bulan tersebut.

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat dibulan tersebut dosanya lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al-Ma’arif, 207).

shalat

Selain itu, keistimewaan lain yang dimiliki Rajab ialah pada bulan inilah Allah meng-isra’ mi’rajkan Rasulullah. Artinya, perintah sholat lima waktu juga dimulai dari bulan Rajab.

Beberapa alasan di atas mestinya cukup untuk memotivasi kita untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah. Hitung-hitung untuk mempersiapkan diri kita menyambut bulan penuh berkah, Ramadhan.

Salah satu amalan yang bisa dimaksimalkan adalah puasa sunnah seperti puasa senin-kamis dan puasa daud. Selain menyehatkan, memperbanyak puasa dibulan rajab juga melatih mental dan tubuh untuk juga memanfaatkan bulan Sya’ban. Dimana, beberapa riwayat menyebutkan Rasulullah tidak melakukan puasa sunnah sebanyak di bulan Sya’ban.

Selain puasa, masih banyak amalan lain yang bisa dilakukan. Bersedekah, membantu orang lain, memperbanyak shalat tahajjud, shalat duha dan lain sebagainya. Semoga, kehadiran bulan Rajab mampu kita maksimalkan untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya, sehingga kita tidak termasuk orang yang merugi.

PAKET 554

554.jpg

            November lalu, Al-Maidah ayat 51 tiba-tiba muncul kepermukaan. Para ahli rame-rame mengkajinya. Seolah-olah ayat tersebut baru saja diturunkan jibril. Padahal, ia telah turun 14 abad lalu. Ahok – yang ‘mengenalkannya’ – menjadi perbincangan public secara nasional.

Jika dikaji lebih jauh, ayat tersebut tidak selesai sampai disitu. Ayat-ayat berikutnya menjelaskan konsekuensi dan solusi yang Allah SWT serukan kepada manusia. Ayat setelahnya bercerita tentang ketakutan orang-orang yang hatinya berpenyakit. Mereka berkata ‘kami takut akan mendapat bencana’, lalu mereka memilih mendekat kepada orang-orang kafir. Selanjutnya, ayat 53 menegaskan bahwa amal mereka menjadi sia-sia akibat kemunafikan mereka.

Nah, yang menarik adalah apa yang Allah sampaikan dalam ayat 54. Allah SWT menjanjikan akan menggantikan kaum yang Allah telah sebutkan sebelumnya. Allah mengungkap 1 paket ciri-ciri mereka yaitu;

  1. Allah SWT mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah SWT

Ayat ini menyebutkan sifat pertama dari mereka adalah mencintai Allah SWT sebagaimana Dia mencintai mereka. Namun, yang menarik adalah Allah lebih dulu menyebutkan tentang kecintaan-Nya kepada mereka. Hal ini menjadi penegasan tentang ke-maha penyayang-an Allah SWT kepada hambanya.

  1. Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslimin

Ciri kedua yang Allah sebutkan ialah kelemah lembutan kelompok ini kepada saudara-saudara semuslimnya. Mereka pantang memaki, menghujat atau mengghibah sesamanya. Dalam Islam, sifat seperti ini dikenal dengan istilah ukhuwah.

Inilah salah satu kekuatan kaum muslimin. Persatuan dan saling memahami antar muslimin yang dilandasi dengan syarat pertama (Cinta Allah SWT) terbukti menghasilkan kekuatan super dahsyat yang menguasai peradaban dunia berabad-abad lamanya.

  1. Keras (tegas) terhadap kaum kafir

Bersikap keras terhadap orang-orang kafir berfungsi untuk menjaga kemurnian Islam serta harga diri kaum muslimin. Islam tidak mengakui kebenaran agama-agama lain. Namun demikian, Islam telah mengatur muamalah antar pemeluk agama. Konsep toleransi telah ada dalam Islam yang sangat menjunjung tinggi humanism.

  1. Berjihad dijalan Allah

Jihad merupakan amalan mulia yang berbuah surga. Allah SWT menjelaskan masalah ini melalui ayat-ayatnya. Jihad fisabilillah demi membela agama adalah kewajiban. Berkat jihad inilah, Islam masih eksis hingga sekarang. Akan tetapi, Islam menolak untuk memulai konflik, jihad hanyalah respon selagi terusik.

  1. Tidak takut terhadap celaan

Kelompok ini adalah kaum yang benar-benar bergantung kepada-Nya semata. Hati mereka teguh dalam membela agama. Cemoohan, makian hingga celaan bukanlah hal yang ditakutkan. Mereka akan tetap terus pada keyakinannya walau harus menghadapi celaan musuh-musuh agama.

Demikianlah sepaket ciri kelompok yang akan mendapat pertolongan dari-Nya. Keberadaan mereka menjadi kekuatan bagi Islam dan cikal-bakal kemenangan kaum muslimin di muka bumi. Semoga kita termasuk orang-orang terpilih ini. Wallahu a’lam bisshwab./

Ilmu, Sang Peneguh Iman

(Kritik Terhadap Doktrin MA RM putra)

Selepas SMP, saya melanjutkan SMA di salah satu pesantren di desa Gunung Tembak, balikpapan. Ketika masa-masa orientasi atau OSPEK, salah satu doktrin yang selalu didengungkan adalah “Kita disini bukan untuk menuntut Ilmu, tapi berislam.” Atau terkadang berbunyi “salah kalau kalian kesini untuk nyari ilmu, di luar banyak kok yang lebih baik dari tempat ini. Tapi kalau kalian mau berislam, kalian datang di tempat yang tepat.” Kira-kira sepeti itulah bunyinya.

Kata-kata tersebut seolah-olah telah menjadi tradisi di pesantren tersebut. Setiap santri baru, dalam masa orientasi siswa, doktrin seperti itu selalu diucapkan. Bahkan ketika belajar pun, terkadang diselipi dengan doktrin yang sepertinya hebat tersebut. Namun, sejauh ini, doktrin tersebut benar-benar berhasil. Buktinya, orang-orang di pesantren tersebut memang dikendalikan dengan semangat berislam. Masjidnya bisa dipastikan penuh setiap shalat berjamaah, termasuk shalat lail dan shubuh yang banyak kaum muslimin lalai daripadanya.

Namun, terlepas dari itu semua, benarkah doktrin tersebut? Apakah memang, berislam lebih penting dari pada berilmu?, atau apakah berislam sama dengan beriman?

Dalam sejarah islam, khususnya sejarah mengenai turunnya wahyu, diketahui bahwa ayat yang pertama turun ialah Al-‘Alaq 1-5, 5 ayat ini – bersama beberapa ayat yang terdapat dalam urutan lima surah yang pertama turun – juga menjadi konsep pesantren, yaitu konsep SNW atau  Sistematika Nuzulnya Wahyu. Dalam ayat pertama, Allah SWT meyeru manusia untuk membaca, para mufassir kemudian berpendapat bahwa maksud membaca dalam hal ini adalah membaca ayat-ayat yang tertulis (Qauliyah) maupun ayat-ayat (tanda-tanda) yang tak tertulis namun tersebar dalam jagat raya ini (Kauniyah). Jika menalar lebih jauh ayat ini, maka sebenarnya perintah ‘berilmu’ adalah perintah yang paling awal, karena di turunkan paling awal dari seluruh ayat yang ada.

Lalu, apa sebenarnya rahasia dari fakta tersebut? Mari kita kupas tuntas. Allah SWT menyeru manusia untuk berilmu lebih awal adalah karena sesungguhnya ilmu adalah kendaraan menuju keimanan yang kokoh dan sempurna, juga kepada ibadah yang sesuai dengan syariah. Ilmu sangat diperlukan untuk meyakinkan manusia tentang kebenaran konsep-konsep islam. Tanpa ilmu, seorang hamba hanya akan ikut-ikutan dan tak mempunyai dasar dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT. Sehingga, imannya lemah, bahkan bisa jadi, ia tak beriman, namun hanya berislam, itupun karena kondisi dan lingkungan yang mendukungnya untuk menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, jika hanya ‘sebatas’ itu, ia hanya mampu menerapkan islam dalam kondisi dan lingkungan tertentu. Nah, apa jadinya jika misalnya ia tak sedang dalam kondisi dan tidak sedang dalam lingkungan tersebut? Apakah sikapnya sama dengan yang ia tunjukkan ketika sedang berada di tempat sebelumnya? Itulah yang menjadi persoalannya.  Yaitu, mereka berislam hanya karena kondisi tanpa mengilmui islam sebenarnya, atau bisa dikatakan ‘keislaman’ kelompok, bukan individu.

Memang jika dikatakan bahwa banyak orang yang berilmu namun tak beriman bahkan malah melenceng dari islam. Itu benar, namun dalam artikel ini, kami tak membahas tentang hal tersebut, yang kita ingin temukan ialah “apakah benar ‘doktrin’ yang dibanggakan tersebut di atas?” atau ada yang Lebih Baik?. Kita mencoba membandingkan manakan yang lebih mampu menguatkan iman? Apakh dengan ilmu, atau dengan ‘hanya’ pembiasaan?

Namun, jika kita melihat meraka yang benar-benar berislam dengan didasari dengan ilmu yang benar, maka, ia tak akan memperdulikan kondisi dan lingkungan, dalam artian ia tak terpengaruh dengan itu semua. Karena kekuatan keyakinan yang timbul karena ilmunya telah tertanam jauh di dalam hatinya. Sehingga, bagaimanapun kondisinya, ia tetap sama. Lebih lanjut, orang-orang yang berilmu banyak yang justru masuk islam. Ada yang karena meneliti fir’aun, ia akhirnya masuk islam karena yakin akan kebenarannya. Ada yang meneliti pertemuan antara air laut dan air sungai, yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa keduanya tak saling mencampuri, dan hal itu terbukti dengan penelitiannya hingga akhirnya ia masuk islam. Dan masih banyak lagi kisah sejenisnya. Bahkan Rasulullah SAW tidak sekedar beriman. Sebelum menerima wahyu pertama, beliau telah ‘mengilmui’ kondisi masyarakatnya. Pikirannya mengenai penyembahan kepada berhala yang baginya kerjaan sia-sia belaka, padahal ketika itu, masyarakat jahiliah menyembah berhala. Pun begitu dengan bapak para Nabi, Nabi Ibrahim AS. Beliau telah lebih dahulu ‘berfikir’ tentang ketuhanan. Ilmunya menuntunnya kepada pencarian kepada tuhan yang sesungguhnya.

Maka, jika dikatakan bahwa berislam (praktek) lebih utama ketimbang berilmu, seperti yang tersirat dalam doktrin tersebut, hal itu tentu kesalahan yang fatal. Karena dengan ilmu – yang dibantu dengan intuisi – manusia bisa mencapai kebenaran sejati. Tentu, dalam hal ini, ilmu yang dimaksud ialah ilmu dalam definisi islam, bukan dalam definisi barat. Wallahu A’lam Bisshawab