Makalah Pengorganisasian Dakwah

MAKALAH

Pengorganisasian Dakwah

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengorganisasian Dakwah”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Miftahuddin, M.Si

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017


Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalam makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Miftahuddin, M.Si.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Makna Pengorganisasian Dakwah

Organisasi berasal dari kata “organisme”, yang artinya bagian-bagian yang terpadu dimana hubungan satu sama lain diatur oleh hubungan terhadap keseluruhannya. Oleh karena itu dalam organisasi paling sedikit terdiri atas dua orang yang keduanya saling bekerjasama satu sama lain demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Kerjasama tersebut terbentuk karena didorong oleh kehendak atau motif untuk pencapaian tujuan yang telah disepakati.[1] Adapun dakwah adalah aktivitas mengajak/menyeru manusia ke jalan yang benar menurut Islam. Baik melalui lisan, tulisan maupun perbuatan.

Secara terminologis berarti mengajak dan menyeru umat manusia baik perorangan maupun kelompok kepada agama islam, pedoman hidup yang di ridlai oleh Allah dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar dan amal shaleh dengan cara lisan maupun perbuatan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat nanti

Sehingga, pengorganisasian dakwah berarti keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka penciptaan tujuan yang telah ditentukan.

Sementara itu, Rosyad Saleh mengemukakan bahwa rumusan pengorganisasian dakwah itu adalah “rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi setiap kegiatan usaha dakwah dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan yang harus dilaksanakan serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara satuan-satuan organisasi atau petugasnya.

Pengorganisasian sangat erat hubungannya dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencpai tujuan, walaupun struktur itu bukan merupakan tujuan. Oleh karena itu, organizing dakwah sudah barang tentu disesuaikan dengan bidang garapan dakwah serta lokasi pewilayahan.[2]

Kualitas hubungan antara para pelaku organisasi, lebih-lebih organisasi dakwah, tidak selamanya bersifat formal tetapi juga informal, dalam bentuk perilaku pribadi yang bersifat emosional dan kadang-kadang juga irrasional.[3]

Tugas bagi para da’i adalah merancang sebuah struktur organisasi yang memungkinkan mereka untuk mengerjakan program dakwah secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuanorganisasi. Ada dua poin yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian, yaitu:

  1. Organizational Design [desain organisasi]
  2. Organizational structure [struktur organisasi]

Ketika para manajer menyusun atau mengubah struktur sebuah organisasi, maka mereka terlibat dalam suatu kegiatan dalam desain organisasi, yaitu suatu proses yang melibatkan keputusan-keputusan mengenai spesialisasi kerja, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, serta formalisasi. Jadi, pengorganisasian dakwah itu pada hakikatnya adalah sebagai tindakan pengelompokan, seperti subjek, objek dakwah, dan lain-lain.[4]

  1. Langkah-Langkah Pengorganisasian Dakwah:
  2. Penentuan Spesialisasi Kerja

Spesialisasi kerja diartikan sebagai tingkat kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang ditekuninya,dan tugas-tugas organisasi dibagi menjadi pekerjaaan-pekerjaan terpisah “pembagian kerja”.[5]

Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan yang dinyatakan dalam tiga komponen, yaitu:

  • Keterampilan teknis [technical skill], yaitu pengetahuan mengenai metode, proses prosedur, dan teknik untuk melakukan kegiatan khusus, serta kemampuan untuk menggunakan alat-alat dan peralatan yang relevan bagi kegiatan tersebut.
  • Keterampilan untuk melakukan hubungan antar pribadi [interpersonal skill], yaitu pengetahuan perilaku manusia dan proses-proses hubungan antar pribadi, kemampuan untuk mengerti perasaan, sikap dari motivasi orang lain tentang apa yang ia katakana dan lakukan [empati, sensitivitassosial], kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara jelas dan efektif [kemahiran berbicara, kemampuan persuasive], serta kemampuan untuk membuat hubungan yang efektif dan kooperatif [kebijaksanaan, diplomasi, keterampilan mendengarkan, pengetahuan mengenai perilaku sosial objek dakwah].
  • Keterampilan konseptual [conceptual skill], yaitu kemampuan analitis umum, berpikir nalar, kepandaian dalam membentuk konsep, serta konseptualisasi hubungan yang kompleks dan berarti dua, kreativitas dalam mengembangkan ide serta pemecahan masalah, kemampuan untuk menganalisis peristiwa-peristiwa dan kecenderungan-kecenderungan yang dirasakan, mengantisipasi perubahan-perubahan dan melihat peluang, serta masalah-masalah potensial.[6]
  1. Mendepertementalisasi dakwah

Setelah unit kerja dibagi-bagi melalui spesialisasi kerja maka selanjutnya diperlukan pengelompokkan pekerjaan –pekerjaan yang diklasifikasikan melalui departemensiliasi kerja ,sehingga tugas yang sama atau mirip dapat dikelompokkan secara sama-sama, sehingga dapat di koordinasikan.[7]

Pada tataran ini, secara historis pengelompokan kegiatan dakwah adalah menurut fungsi yang dilakukan atau departementalisasi fungsional. Sebagai contoh, dalam sebuah lembaga dakwah atau manajer dakwah dalam mengorganisasikan lembaganya dengan melakukan rancangan rekayasa umat, departemen finansialnya, bagian administrasinya, departemen dakwah bil-hal, bil-lisan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Kelebihan atau keuntungan dari departementalisasi dakwah adalah akan memperolehefisiensi dan mempersatukan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan, pengetahuan, dan orientasi yang sama ke dalam unit-unit yang sama.[8]

  1. Menentukan rantai komando

Rantai komando adalah sebuah garis wewenang yang tidak terputus membentang dari tingkat atas organisasi terus sampai tingkat paling bawah dan menjelaskan hasil kerja dakwah ke depertemen masing-masing.rantai ini memberikan sebuah kemudahan bagi para da’i untuk menentukan siapa siapa yang harus dituju jika mereka menemui permasalahan dan juga kepada siapa mereka bertanggung jawab.[9]

Dalam rantai komando ini tidak terlepas dari tiga konsep, yaitu:

  • Wewenang
  • Tanggungjawab
  • Komando
  1. Rentang kendali

Rentang kendali merupakan konsep yang merujuk pada jumlah bawahan yang dapat disurvei oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.[10]

Dalam memahami rentang kendali yang efektif dan efisien, maka akan ditentukan dengan melihat variabel kontingensi. Sebagai contoh, semakin banyak latihan dan pengalaman yang dimiliki para da’i, maka semakin berkurang pengawasan secara langsung oleh manajer. Pada variabel-variabel ini juga, sangat menentukan rentang yang pas mencakup kesamaan tugas para da’i, kerumitan tugas-tugas, kedekatan fisik anak buah, derajat sampai dimana prosedur-prosedur baku telah berjalan, canggihnya sistem informasi manajemen organisasi tersebut, kesulitan organisasi tersebut, serta style seorang manajer.[11]

  1. Sentralisasi dan desentralisasi

Sentralisasi diartikan sebagai kadar sampai dimana pengambilan keputusan terkonsentrasi pada tingkat atas organisasi. Konsep ini hanya mencakup pada wewenang formal, yaitu hak-hak yang inheren dalam posisi seseorang. Sementara desentralisasi adalah pengalihan wewenang untuk membuat keputusan ke tingkat yang lebih rendah dalam suatu organisasi.[12]

Secara filosofis, desentralisasi ini dapat dikembalikan pada pengertian bahwasannya setiap manusia adalah pemimpin dan setiap orang adalah khalifah, selalu cenderung dalam desentralisasi.  Fungsi organisasi secara efekktif akan terhambat jika semua keputusan hanya diambil oleh segelintir manajemen puncak dan mereka pun tidak dapat berfungsi secara efektif apabila semua keputusan dilimpahkan pada anggota-anggota lainnya (tingkat bawah).[13]

  1. Menformalisasi dakwah

Formalisasi dakwah adalah sejauh mana pekerjaan atau tugas-tugas dakwah dalam sebuah organisasi dakwah dibakukan dan sejauh man tingkah laku, skill, dan keterampilan para da’I dibimbing dan diarahkan secara prosedural oleh peraturan.[14]

Dalam sebuah organisasi dengan tingkat formalisasi yang tinggi, terdapat uraian pekerjaan yang tegas, banyak peraturan organisasi, serta prosedur yang telah dirumuskan secara jelas. Dari formalisasi yang tinggi ini terdapat job-discription yang eksplisit, banyak aturan organisasi yang terdefinisi dengan jelas, yang meliputi proses kerja dalam organisasi. Sebaliknya jika formalisasi itu rendah, maka perilaku kerja cenderung untuk tidak terprogram dan para anggota memiliki keleluasaan dalam menjalankan kerja.

Apabila dalam formalisasi sangan terbatas, maka aktifitas da’I akan cenderung relative tidak terstruktur dan para da’I juga akan lebih banyak memiliki kebebasan untuk berimprovisasi tentang bagaimana cara mereka melakukan pekerjaan.

  1. Penentuan Strategi dan struktur dakwah

Struktur organisasi dakwah adalah sarana untuk menolong para manajer dalam mencapai sasaran, karena sasaran dakwah itu dirumuskan dari strategi organisasi.tegasnya,struktur organisasi dakwah harus mengikuti strategi strategi dakwah.[15]

  1. Penyelenggaraan dan desain orhanisasi dakwah

Para da’i baik dalam satu tim atau perorangan membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan dan menentukan strategis dakwah. ”penggunaan teknologi informasi sangat mempengaruhi cara anggota organisasi dakwah dalam berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan dalam melaksanakan aktivitas mereka.[16]

 

[1] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1  diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[2] http://noorsyafitriramadhani.blogspot.co.id/2014/02/tanzhim-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.27

[3] Op.Cit

[4] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[5] Op.cit

[6] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[7] Ibid

[8] Op.cit

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Op.cit

[12] Ibid

[13] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.14

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

Iklan

MAKALAH “Etika Komunikasi Massa”

MAKALAH

Etika Komunikasi Massa

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Komunikasi Massa”Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq
201431110020

Dosen Pembimbing:
Ust. Alim Puspianto M.Kom


PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017

 

Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalm makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Alim Puspianto, M.Kom.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Komunikasi merupakan hal pokok yang dibutuhkan oleh setiap insan. Dengan begitu, interaksi antar manusia bisa berjalan. Komunikasi digunakan untuk menyampaikan informasi, gagasan serta perasaan antar manusia.

Salah satu jenis komunikasi yang banyak diperhatikan di era reformasi ini adalah komunikasi massa. Hal ini karena keran kebebasan dibuka sebesar-besarnya bagi setiap warga Negara. Dengan demikian, setiap warga Negara berhak menyampaikan pikirannya di depan public.

Namun demikian, walau setiap orang bebas berpendapat, Negara tetap mengatur etika menyampaikan pendapat di depan public. Hal ini agar tak terjadi kesenjangan akibat kebebasan yang kebablasan.

Untuk itulah, Negara membuat peraturan yang menyangkut bagaimana berkomunikasi dengan khalaya / komunikasi massa, baik melalui media cetak, televise hingga radio.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud etika komunikasi massa?
  3. Apa saja unsur etika komunikasi massa?
  4. Bagaimana realitas penerapan komunikasi massa?
  5. Tujuan
  6. Mengetahui makna etika komunikasi massa.
  7. Memahami unsur etika komunikasi massa.
  8. Memahami realitas penerapan etika komunikasi massa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika dan Komunikasi Massa

Etika berasal dari kata Latin Ethic. Ethic berarti kebiasaan.[1]Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlaq); kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq; nilai mengenai nilai benar dan salah, yang dianut suatu golongan masyarakat.[2]
Sedangkan menurut Suseno, (1987) Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral.[3]

Adapun komunikasi massa adalah suatu tempat organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin produksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang  besar, heterogen, dan tersebar.[4]

Dengan mengetahui makna dari etika dan komunikasi massa, Sobur (2001) menyebutkan etika pers atau etika komunikasi massa adalah filsafat moral yang berkenaan kewajiban-kewajiban pers tentang penilaian pers yang baik dan pers yang buruk. Dengan kata lain, etika pers adalah ilmu atau studi tentang peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku pers atau apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pers. Pers yang etis adalah pers yang memberikan informasi dan fakta yang benar dari berbagai sumber sehingga khalayak pembaca dapat menilai sendiri informasi tersebut.[5]

B. Unsur-Unsur Komunikasi Massa

Adapun unsur-unsur etika dalam komunikasi massa antara lain;

  1. Tanggung jawab

Dengan adanya tanggung jawab, media akan berhati-hati dalam menyiarkan atau menyebarkan informasinya.Seorang jurnalis atau wartawan harus memiliki tanggung jawab dalam pemberitaan atau apa pun yang ia siarkan; apa yang diberitakan atau disiarkan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada Tuhan, masyarakat, profesi, atau dirinya masing-masing. Jika apa yang diberitakan menimbulkan konsekuensi yang merugikan, pihak media massa harus bertanggung jawab dan bukan menghindarinya.[6]

  1. Kebebasan Pers

Kebebasan yang bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa tersampaikan ke masyarakat. Jakob Oetama (2001) dalam Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus mengemukakan bahwa “pers yang bebas dinilainya tetap bisa lebih memberikan kontribusi yang konstruktif melawan error and oppression (kekeliruan dan penindasan), sehingga akal sehat dan kemanusiaanlah yang berjaya”.[7]

  1. Masalah Etis

Jurnalis itu harus bebas dari kepentingan. Ia mengabdi kepada kepentingan umum. Walau pada kenyataannya bahwa pers tidak akan pernah lepas dari kepentingan-kepentingan, yang diutamakan adalah menekannya, sebab tidak ada ukuran pasti seberapa jauh kepentingan itu tidak boleh terlibat dalam pers.[8]

Ada beberapa ukuran normatif yang dijadikan pegangan oleh pers:

  1. Seorang jurnalis sebisa mungkin harus menolak hadiah, alias “amplop, menghidari menjadi “wartawan bodrek”.
  2. Seorang jurnalis perlu menghindari keterlibatan dirinya dalam politik, atau melayani organisasi masyarakat tertentu, demi menghindari conflict of interest.
  3. Tidak menyiarkan sumber individu jika tidak mempunyai nilai berita (news value).
  4. Wartawan atau jurnalis harus mencari berita yang memang benar-benar melayani kepentingan public, bukan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.
  5. Seorang jurnalis atau wartawan harus melaksanakan kode etik kewartawanan untuk melindungi rahasia sumber berita. Tugas wartawan adalah menyiarkan berita yang benar-benar terjadi.
  6. Seorang wartawan atau jurnalis harus menghindari praktek plagiarisme.

Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), diantaranya adalah :[9]

  1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar
  2. Wartawan Indonesia menempuh tata cara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber berita.
  3. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat.
  4. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah sadis, dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
  5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi.
  6. Wartawan Indonesia memiliki Hak Tolak, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan.
  7. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.
  1. Ketepatan dan Objektivitas

Ketepatan dan objektivitas di sini berarti dalam menulis berita wartawan harus akurat, cermat, dan diusahakan tidak ada kesalahan. Objektivitas yang dimakusd adalah pemberitaan yang didasarkan fakta-fakta di lapangan, bukan opini wartawannya. Oleh sebab itu harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan:[10]

  • Kebenaran adalah tujuan utama; orientasi berita yang berdasarkan kebenaran harus menjadi pegangan pkok setiap wartawan.
  • Objektivitas dalam pelaporan beritanya merupakan tujuan lain untuk melayani pbulik sebagai bukti pengalaman profesional di dunia kewartawanan. Objektif itu berarti tidak berat sebalh; harus menerapkan prinsip cover both sides.
  • Tiada maaf bagi wartawan yang melakukan ketidakakuratan dan kesembronoan dalam penulisan atau peliputan beritanya. Dalam hal ini, wartawan dituntuk untuk cermat di dalam proses peliputannya.
  • Headline yang dimunculkan harus benar-benar sesuai dengan isi yang diberitakan.
  • Penyiar radio atau reporter televisi harus bisa membedakan dan menekankan dalam ucapannya mana laporan berita dan mana opini dirinya. Laporan berita harus bebas dari opini atau bias dan merepresentasikan semua sisi peristiwa yang dilaporkan.
  • Editorial yang partisansip dianggap melanggar profesionalisme atau semangat kewartawanan. Editorial atau tajuk rencana yang dibuat, meskipun subjektif sifatnya (karena merepresentasikan kepentingan media yang bersangkutan) harus ditekan untuk “membela” sat golongan dan memojokkan golongan lain. Praktik jurnalisme ini sangat sulit dilakukan oleh media cetak yang awal berdirinya sudah partisansip, tetapi ketika dia sudah mengklaim media umum, tidak ada alasan untuk membela golongannya.
  • Artikel khusus atau semua bentuk penyajian yang isinya berupa pembelaan atau keseimpulan sendiri penulisnya harus menyebutkan nama dan identitas dirinya.
  1. Tindakan Adil untuk Semua Orang
  • Media harus melawan campur tangan individi dalam medianya. Artinya, pihak media harus berani melawan keistimewaan yang diinginkan seorang individu dalam medianya.
  • Media tidak boleh menjadi “kaki tangan” pihak tertentu yang akan memengaruhi proses pemberitaannya.
  • Media berita mempunyai kewajiban membuat koreksi lengkap dan tepat jika terjadi ketidaksengajaan kesalahan yang dibuat (fair play).
  • Wartawan bertanggung jawab atas lapprang beritanya kepada public dan public sendiri harus berani menyampaikan keberatannya pada media.
  • Media tidak perlu melakukan tuduhan yang bertubi-tubi pada seseorang atas suatu kesalahan tanpa member ksempatan tertuduh untuk melakukan pembelaan dan tanggapan. Media dilarang melakukan trial bu the press (media massa sudah mengadili seseorang sebelum pengadilan memutuskan ia bersalah atau tidak.

            C. Pentingnya Etika Komunikasi Massa

Di era reformasi, dimana kebebasan sangat dijunjung tinggi, peluang untuk menyebarkan informasi sangat besar. Apalagi, teknologi informasi dan komunikasi sanagat mendukung untuk melakukan hal-hal tersebut. Disinilah pentingnya peran etika. Bagaimanapun, seorang penulis, pembawa berita, narasumber di acara TV, pengelola media cetak, harian umum, TV hingga radio wajib mencederai komunikasi. Efek yang ditimbulkan ketika jurnalis selalu melakukan pelanggaran, bisa menimbulkan perpecahan, persepsi yang salah dan sikap yang salah dari pamirsa.

Rivers, et al (2003) mengemukakan ukuran-ukuran tentang pelaksanaan tugas media yang baik mulai dibakukan, seperti yang terjadi di Amerika Serikat tentang kode etik profesi pers. Diantaranya :[11]

  • Tahun 1923 American Society of Newspaper Editors (sebuah organisasi nasional) memberlakukan Kode Etik Jurnalisme yang mewajibkan surat kabar senantiasa memperhatikan kesejahteraan umum, kejujuran, ketulusan, ketidakberpihakan, kesopanan dan penghormatan tyerhadap privasi individu. Adanya kode etik ini bukan hal yang ringan, karena surat kabar sudah berusia 300 tahun ketika kode etik diberlakukan, dan selama abad 17 dan 18 surat kabar gigih memperjuangkan kebebasannya.[12]
  • Tahun 1937 Kode Etik Radio Siaran dan 1952 Kode Etik Televisi sudah beberapa kali disempurnakan, ditengah ketatnya kontrol pemerintah yang mengharuskan media elektronik tidak hanya mengikuti perubahan iklim intelektual, tetapi juga mengharuskan media elektronik selalu memperhatikan “kepentingan, kenyamanan dan kebutuhan publik”. Kode etik memperlakukan media elektronik terutama sebagai sumber hiburan, selain menjalankan fungsi pendidikan bagi masyarakat.[13]
  • Tahun 1930 mulai diterapkan Kode Perfilman tentang standar perilaku minimum yang tidak boleh dilanggar. Namun dalam kode ini tidak terlalu diperhatikan terutama sejak 1960-an, selain ketentuan tentang standar jenis film untuk setiap golongan usia. Kepatuhan terhadap ketentuan atau kode-kode etik itu jelas merupakan pelanggaran terhadap teori libertarian. Karena itu media lebih dekat dengan teori tanggung jawab sosial.[14]
  1. Realitas Pelaksanaan Etika Komunikasi

Walaupun etika dalam komunikasi massa telah diatur sedemikian rupa, realitasnya masih banyak pelaku komunikasi massa masih terjebak dalam berbagai kepentingan hingga menciderai kode etik jurnalistik.

Beberapa hal yang biasanya dilanggar oleh pelaku komunikasi massa, baik itu melalui media cetak – online maupun cetak –, televisi, hingga radio yaitu; objektivitas, menghakimi, tendensius, tidak meralat kesalahan berita hingga independensi.

Salah satu yang menghalangi terciptanya etika tersebut ialah, kepentingan-kepentingan titipan bahkan kebiasaan plagiat kepada media lain yang tidak objektif. Apalagi, beberapa media digunakan sebagai mesin propaganda beberapa kelompok. Tentunya, hal seperti ini tidak mencerminkan etika yang baik.

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari materi yang telah dipaparkan diatas, setidaknya diperoleh beberapa kesimpulan.

  1. Era modern dan demokrasi sangat menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan berbicara di depan public, hingga kebebasan memperolah informasi.
  2. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang pesat, setiap orang berpeluang untuk mensosialisasikan ide dan pikirannya melalui media public.
  3. Bahwa dalam menyampaikan sebuah berita, ada etika yang perlu diperhatikan oleh pelaku komunikasi massa. Hal tersebut telah diatur dalam kode etik jurnalis.
  4. Bahwa realitas yang terjadi dalam penerapan etika komunikasi massa belum maksimal. Beberapa media masih sering membuat pelanggaran terhadap kode etik mereka.

B. Saran

Maka, untuk menanggulangi permasalahan tersebut diatas, penulis menyarankan;

  1. Memberlakukan hukum sebagai guidance, setiap pelanggaran harus mendapat teguran melalui proses yang disepakati.
  2. Memberi pelatihan dan pemahaman kepada jurnalis dan semua yang terlibat dalam komunikasi massa agar memperhatikan kode etik yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Soyomukti, Nurani, Pengantar Ilmu Komunikasi, 2016, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta

Internet

http://naufalfauzy.blogspot.co.id/2014/12/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 26 April 2017 Pukul 19.26

https://jhohandewangga.wordpress.com/2012/02/24/pengertian-etika/ diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.05

http://tamarligori.blogspot.com/2014/03/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.53

http://aginapuspa.blogspot.com/2013/04/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.54

 

http://ariska2607.blogspot.co.id/2016/06/makalah-efek-dan-etika-komunikasi-massa.html diambil jam 26 April 2017 pukul 19.29

 

 

 

 

 

[1] http://naufalfauzy.blogspot.co.id/2014/12/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 26 April 2017 Pukul 19.26

[2] https://jhohandewangga.wordpress.com/2012/02/24/pengertian-etika/ diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.05

[3] Ibid

[4] Nurani Soyomukti, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jogjakarta (Ar-Ruzz Media) 2016

[5] Op.Cit

[6] http://tamarligori.blogspot.com/2014/03/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.53

[7] http://aginapuspa.blogspot.com/2013/04/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.54

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] http://ariska2607.blogspot.co.id/2016/06/makalah-efek-dan-etika-komunikasi-massa.html diambil jam 26 April 2017 pukul 19.29

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

Makalah Komunikasi Antarbudaya dan Perubahan Sosial

MAKALAH

Komunikasi Antarbudaya dan Perubahan Sosial

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Komunikasi Antarbudaya”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Alim Puspianto M.Kom

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM SURABAYA

T.A 2016/2017

 

Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalm makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Alim Puspianto, M.Kom.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang special dan unik. Special karena memiliki kemampuan berfikir, menalar dan menentukan arah kehidupan dan sejarah. Unik karena berbeda-beda dan mempunyai kekhasan tersendiri disetiap daerah. Manusia terus berkembang dan berkembang.

Salah satu kekhasan manusia adalah sifat social dan kebudayaan yang dimilikinya. Setiap kelompok manusia memiliki cara berbeda dalam bersosial dan berbudaya. Namun, karena perkembangan teknologi, pertemuan-pertemuan antarbudaya tak bisa dielakkan. Antara kelompom masyarakat satu dan masyarakat yang lain tak bisa menghindar dari komunikasi. Maka lahirlah komunikasi antarbudaya yang dinamis.

Komunikasi antarbudaya tentu menimbulkan gejolak. Meninggalkan budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam sebuah kelompok masyarakat lalu menerima kebudayaan lain bukanlah sesuatu yang mudah. Sehingga perubahan social dan budaya lahir bukan tanpa tantangan.

Makalah ini berusaha mengungkap hal-hal tersebut di atas. Setelah mengumpulkan berbagai literature yang ada, penulis berusaha menyajikan teori-teori dan hasil penelitian terhadap masalah ini.

2. Rumusan Masalah

a. Apa definisi Komunikasi Antarbudaya?

b. Apa yang dimaksud dengan perubahan social?

c. Apa hakekat perubahan social dan budaya?

d. Apa sifat-sifat perubahan social dan budaya?

e. Bagaimana tahapan-tahapan perubahan social budaya?

3. Tujuan

a. Menemukan definisi Komunikasi Antarbudaya.

b. Memahami makna perubahan social dan budaya.

c. Memahami hakekat perubahan social dan budaya.

d. Mengetahui sifat-sifat perubahan social dan budaya.

e. Mengetahui tahapan-tahapan perubahan social dan budaya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sekilas Tentang Komunikasi Antarbudaya

Pembicaraan tentang komunikasi antarbudaya tidak dapat dielakkan dari pengertian kebudayaan (budaya). Komunikasi dan kebudayaan tidak sekedar dua kata namun merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dimana studi komunikasi antarbudaya (William dalam Liliweri, 2013: 8) dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi.[1]

Liliweri (2013: 9) mendefinisikan komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara dua orang/lebih yang berbeda latar belakang kebudayaan. Sependapat dengan Jandt (1998: 36) mendefinisikan Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture yang berarti bahwa komunikasi antarbudaya secara umum merujuk pada interaksi face to face diantara orang-orang dengan berbagai kebudayaan yang berbeda.[2]

B. Perubahan Sosial

Perubahan social adalah proses social yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur budaya dan system-system social, dimana setiap tingkatan kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan social yang lama, kemudian menyesuaikan dengan yang baru.[3]

Perubahan social juga dapat diartikan sebagai perubahan pada lembaga-lembaga social dalam suatu masyarakat. Perubahan-perubahan pada lembaga social ini kemudian memberikan pengaruh pada perubahan system sosialnya. Termasuk nilai-nilai pola perilaku ataupun sikap.[4]

Ada pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial itu merupakan suatu respons atau jawaban dialami terhadap perubahan – perubahan tiga unsur utama ;
a. Faktor alam
b. Faktor teknologi
c. Faktor kebudayaan

  • Tahapan tahapan dari perubahan sosial itu sendiri adalah sebagai berikut :
    a. Primitif ; pada tahapan ini manusia hidup secara terisolir dan berpindah –pindah disesuaikan dengan lingkungan alam yang mendukungnya.
    b. Agrokultural ; saat lingkungan alam mulai tidak mendukung maka pilihan buday cocok tanam menjadi pilihan.
    c.  Tradisional ; masyarakat mulai hidup secara menetap disuatu tempat yang dianggap strategis.
    d. Transisi ; kehidupan desa sudah sangat maju, isolasi kehidupan hampir tidak ditemukan lagi.
    e.  Modern ; ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas meninggalkan fase transisi.
    d.  Postmodern ; masyarakt modern yang telah melampaui tahapan – tahapanya.

 

  1. Adapun Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahapan berurutan :
    a. Invensi yaitu proses dimana ide – ide baru diciptakan dan dikembangkan.
    b. Difusi yaitu proses dimana ide – ide itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial
    c. Konsekwensi yakni perubahan – perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi.[5]

 

  1. Hakekat Perubahan Sosial

Studi tentang perubahan sosial-budaya umumnya me­rupakan salah satu dari bermacam-macam studi tentang masyarakat. Mengapa? Karena setiap pola kehidupan atau sodai pattern dapat diidentifikasi dan diuji sepanjang waktu. Per­kembangan simbol-simbol baru yang memberikan makna dalam agama, seni, literatur dan musik merupakan contoh dari per­ubahan kebudayaan, semuanya ini menjadi subjek studi teoritis yang bersifat makro. Sementara itu cara individu berinteraksi dengan seseorang atau dalam proses kelompok kecil, merupakan subjek teori atau studi-studi pada asas mikro. Jika kita sepakat bahwa perubahan sosial-budaya itu meliputi aras makro dan mikro yang terjadi dalam sebuah masyarakat maka ada baiknya kita melihat sejenak paradigma sebuah masyarakat.[6]

Kingsley Davis mengartikan perubahan-perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya timbul pengorganisasian. Contoh ini mudah terlihat dalam masyarakat kapitalis yang juga dikenal oleh masyarakat sekarang, seperti didirikannya pelbagai pabrik yang padat modal (kapital) maka terjadi perubahan hubungan antara buruh dengan majikan yang kemudian menyebabkan perubahan-perubahan dalam oganisasi ekonomi dan politik.[7]

Mac Iver membedakan perubahan sosial antara perubahan utilitarian elements dengan cultural elements yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Karena itu menurutnya, semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat diklasifikasi ke dalam dua kategori tersebut di atas, dimana utilitarian elements merupakan ciri peradaban. Contoh, kita mungkin belum memerlukan alat bantu teknologi hitung seperti kalkulator, namun lantaran sarana tersebut sangat membantu mempercepat penyelesaian pekerjaan matematis maka kita mem­beli kalkulator. Hal menggunakan materi sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan merupakan salah satu bentuk peradaban, yakni tindakan utilitarian elements namun kemauan kehendak motivasi, dorongan menggunakan alat bantu adalah kebudayaan yaitu cultural elements.

 

  1. Sifat-Sifat Perubahan

Dengan memperhatikan model-model perspektif masyarakat yang menjelaskan sistem sosial dan ruang lingkup staft masyarakat tersebut di atas maka para sosiolog maupun antropolog mulai memfokuskan analisis studi mereka terhadap komunitas. Banyak teoritis pada aras makro lebih memilih sebuah bangsa dan kelompok budaya yang luas, misalnya suatu bangsa seperti Indonesia yang berbeda etnik namun berbicara dalam bahasa Indonesia. Hanya sedikit teoritis di asas makro yang berhasil membangun suatu analisis yang mereka sebut “sistem dunia”, misalnya aneka ragam hubungan sistem ekonomi dan politik yang beruang lingkup dunia. Beberapa karakteristik perubahan itu antara lain sebagai berikut:[8]

b. Perubahan Struktural

Setiap orang dalam masyarakatnya mempunyai posisi sosial tertentu, contoh adalah pekerjaan. Dari pekerjaan dapat ditentukan jenis peran setiap orang dalam masyarakatnya. Apabila suatu saat seseorang mendapat promosi maka kita bilang orang itu naik pangkat, karena orang itu berubah peran yang makin tinggi dengan tanggungjawab yang makin besar. Dalam studi mobilitas sosial, perubahan semacam ini digolongkan sebagai perubahan sosial semata-mata dalam peran individu. Kapan kita menyebut­kan sebuah perubahan itu sebagai sebuah perubahan struktural? Kita akan bilang perubahan itu sebagai perubahan struktural kalau perubahan itu mengandung diferensiasi sosial yakni salah satu jenis perubahan struktural karena ada sesuatu yang baru dari perubahan itu, misalnya perubahan yang menghasilkan peran-peran yang lebih khusus (ada pengembangan spesialisasi).

c. Perubahan Dinamika dan Stabilitas

Stabilitas itu penting dalam semua kebudayaan. Acap kali kita mengatakan bahwa jika salah satu nilai mengalami kemajuan dan pertumbuhan, maka di sana akan terjadi dinamika. Hampir semua model masyarakat dipandang sebagai sebuah sistem yang stabil, karena di dalamnya ada struktur institusional untuk me­layani dan menangani pola-pola budaya. Dalam ilmu sosial, istilah stabil itu tidak berarti tidak ada perubahan, sebab di sana ada perubahan yang terjadi perlahan-lahan dari masyarakat masa lalu dan mengikuti perubahan waktu hingga ke masa sekarang Model suatu masyarakat yang cenderung berkembang telah di­jadikan topik bahasan ilmuwan sosial sejak abad 19, tatkala para ilmuwan itu mulai meminjam kata “sistem” dari biologi untuk menjelaskan dinamika stabilitas.[9]

a. Progress

Pilihan sistem dengan memperhatikan dinamika stabilitas merupakan model bagi suatu masyarakat yang didasarkan pada pengalaman historis dari masyarakat industrial. Namun demi­kian di sana ditunjukkan pula betapa banyak negara yang gagal mencapai kemajuan untuk memecahkan masalah-masalah bangsanya. Model ini diimplikasikan dalam perencanaan pem­bangunan untuk menciptakan suatu masa transisi secara gradual dari satu sistem ke sebuah sistem yang lebih baik. Itulah yang banyak negara diaplikasikan sebagai program pem­bangunan berkesinambungan.[10]

d. Perubahan Revolusioner

Model perubahan sosial yang revolusioner tidak berakhir dengan kekacauan sosial, tetapi model ini merupakan model untuk menjelaskan perubahan yang cepat, kacau dan acapkali ditandai dengan perubahan yang relatif stabil dari suatu masyarakat. Dalam teori revolusioner dikatakan bahwa ketegangan sosial dan konflik dapat dipandang sebagai faktor yang me­nentukan pembaharuan sosial, misalnya dari proses evolusi men­jadi revolusi. Perbedaan gradual antara perubahan sosial yang revolusioner dengan evolusioner terletak pada penggantian proses sosial dan struktur sosial.[11]

e. Beberapa Catatan tentang Pembangunan sebagai Perubahan

Jika pembangun­an dilihat sebagai proses perubahan, maka ada beberapa pen­dekatan dalam studi pembangunan yang harus diperhatikan; yaitu: (1) Pendekatan modernitas dan variannya adalah: a. pen­dekatan modernisasi, b. pemerataan kembali dengan pertumbuh­an, c. pendekatan kebutuhan dasar; dan (2) Pendekatan ekonomi politik yang terdiri dari; a. pendekatan ketergantungan, b. pendekatan sistem dunia, dan c. pendekatan artikulasi modus produksi.

Saya hanya mengambil satu pendekatan yang menurut pandangan saya relevan dengan pengaruh perubahan terhadap komunikasi antarbudaya, yakni gagasan fungsionalisme struktural dari Talcot Parsons. Jika konotasi kemajuan ditentukan dalam perbandingan atas perubahan suatu masyarakat modem dengan masyarakat tradisional maka kita akan merujuk pada lima variabel {pattern variables) yang sekaligus menunjukkan tahap pembangunan, yaitu; (1) afektif-netral afektif; (2) partikularistik – universalistik; (3) orientasi kolektif – orientasi diri; (4) status yang diberikan/ askripsi – status yang diperoleh {achievement); dan (5) fungsi tersebar – fungsi spesifik. Pertama, variabel pertama yang dibandingkan antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern adalah afektif-netral-afektif.Parsons ingin menyebutkan bahwa hubungan sosial pada masyarakat tradisional bersifat afektif personal, emosional, tingkat tatap muka. Hubungan sosial dalam masyarakat modern, impersonal, bebas emosi, dan tidak pernah bersifat langsung. Kedua, variabel partikularistik – universalis tik; dalam masyarakat tradisional orang cenderung bekerja sama dengan orang dari latar belakang yang sama, kelompok yang sama, perjanjian kerja bersifat informal dan kadang-kadang ver­bal. Masyarakat modern bersifat universalistik, penduduk kota makin padat, pembagian kerja dengan diferensiasi makin tinggi, pergaulan meluas ke masyarakat yang berbeda, kerja sama dilandasi perjanjian formal/kontrak.[12]

Ketiga, variabel orientasi kolektif dalam masyarakat tradisi­onal mengajarkan kesetiaan serta pengorbanan untuk kelompok (keluarga, komunitas, atau suku). Sebaliknya orientasi diri, mengembangkan kemampuan dan kebebasan individu. Keempat, mengutamakan status askripsi, orang dilihat dari latar belakang keluarga, warna kulit. Dalam masyarakat modem orang dinilai menurut apa yang dicapai dengan prestasi kerja. Kelima, fungsi terrebar menjelaskan bahwa peran seorang sering kali tumpang tindih dan tidak mempunyai batas yang jelas. Sebaliknya, dalam masyarakat modern peran-peran yang berbeda ini biasanya dipegang oleh orang yang berbeda-beda dan cenderung tidak ada ketumpangtindihan.

5. Teori-Teori Perubahan Sosial

a. Teori Evolusi ( Evolution Theory )

Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theories of evolution, dan multilined theories of evolution.[13]

  • Unilinear Theories of Evolution

Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain Auguste Comte dan Herbert Spencer.[14]

  • Universal Theories of Evolution

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen menjadi kelompok yang heterogen.[15]

  • Multilined Theories of Evolution

Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahaptahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.[16]

b. Teori Konflik ( Conflict Theory )

Menurut pandangan teori ini, pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat.[17]

c. Teori Fungsionalis ( Functionalist Theory )

Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .[18]

d. Teori Siklis ( Cyclical Theory )

Beberapa bentuk Teori Siklis adalah sebagai berikut.

  • Teori Oswald Spengler (1880-1936)

Menurut teori ini, pertumbuhan manusia mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat, bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.

  • Teori Pitirim A. Sorokin (1889-1968)

Sorokin berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini adalah kebudayaan ideasional, idealistis, dan sensasi.

1) Kebudayaan ideasional, yaitu kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

2) Kebudayaan idealistis, yaitu kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal.

3) Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

  • Teori Arnold Toynbee (1889-1975)

Toynbee menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian. Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali peradaban Barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahannya.

  1. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya dan Penyebabnya

Perubahan sosial budaya dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk berikut ini.

  • Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat (Evolusi dan Revolusi)
  • Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
  • Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan

 

  1. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya

a . Sebab-Sebab yang Berasal dari Dalam Masyarakat (Sebab Intern)

  • Dinamika penduduk
  • Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat
  • Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
  • Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar.

b . Sebab-Sebab yang Berasal dari Luar Masyarakat (Sebab Ekstern)

  • Adanya pengaruh bencana alam.
  • Adanya peperangan
  • Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari teori-teori yang telah penulis rangkum tentang komunikasi antarbudaya dan perubahan social, dapat disimpulkan beberapaah hal;

  1. Bahwa antara social dan budaya adalah hal yang tak terpisahkan. Keduanya merupakan dua kata yang sangat berkaitan erat satu sama lain. Maka, untuk memahami salah satunya, harus membahas kedua-duanya.
  2. Perubahan social dan budaya adalah hal yang terus menerus terjadi. Hal tersebut telah menjadi hokum alam atau ketentuan kehidupan manusia. Perubahan ini terjadi karena banyak factor. Salah satunya teknologi dan sifat inferioritas manusia.
  3. Perubahan social terjadi karena factor-faktor yang ada. Baik factor tersebut berasal dari internal masyarakat maupun dari eksternal masyarakat.
  4. Perubahan social terjadi untuk memenuhi tuntutan zaman atau agar tak terhindar dari system universl yang dibuat oleh masyarakat mayoritas di dunia.

2. Saran

Perubahan social adalah sebuah keharusan yang mesti dipenuhi agar tak tergilas oleh zaman yang terus berubah. Akan tetapi, perubahan social dan budaya harus dikendalikan oleh setiap anggota masyarakat. Hal tersebut unruk menghindari perubahan yang justru merusak tatanan masyarakat yang telah terbentuk.

Kemudian, perubahan social dan buday tidak berarti meninggalkan system social dan kebudayaan yang menjadi khas sebuah kelompok masyarakat. Perubahan radikal dalam sebuah kelompok masyarakat yang diadopsi dari masyaraaat lain berarti pengkhianatan terhadap budaya leluhur, dengan catatan bahwa system tersebut adalah system yang baik dan bermaslahat.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

BUKU

Berry, J.W. (1999). Psikologi Lintas Budaya, Riset dan Aplikasi. Alih Bahasa dari

Edi Suhardono. 1999.Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Forse, Michel. (2004). “Teori-Teori Perubahan Sosial” dalam Sosiologi, Sejarah dan Pemikirnya. Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Liliweri, A. (2007). Prasangka & Konflik, Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : LkiS.

Samovar, L.A., Porter, R.E., dan McDaniel, E.R. (2010). Komunikasi  Lintas Budaya; Communication Between Cultures. Jakarta: Salemba Humanika

Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi ; suatu pengantar PT Rajawali Pers : Jakarta\

Burhan, Bungin. 2008. Sosiologi komunikasi ; teori, paradigma dan diskursus komunikasi di masyarakat PT kencana : Jakarta

INTERNET

http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.32

http://lembahbanyu.blogspot.co.id/2013/04/komunikasi-antar-budaya-dan-perubahan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

 

 

 

[1] Diambil dari http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.32

[2] Ibid

[3] Diambil dari http://lembahbanyu.blogspot.co.id/2013/04/komunikasi-antar-budaya-dan-perubahan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Diambil dari http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Op cit

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Ibid

MAKALAH [Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Isi Media Massa]

MAKALAH

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Isi Media Massa

Dibuat sebagai pemenuhan tugas dan akan dipresentasikan di Prodi KPI semester V pada mata kuliah “Media Komunikasi”.

 

Dosen Pengampu:

Alim Puspianto. M.Kom.I

logo-stail 

 

Muh. Faruq
2014.31.11.0020

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL-HAKIM

PONPES HIDAYATULLAH SURABAYA

2016-2017

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Di era globalisasi perkembangan media massa sangatlah pesat. Baik itu media massa cetak seerti koran, majalah dan tabloid maupun media elektronik seperti televisi, Radio dan Internet. Saat ini kehidupan masyarakat di seluruh Dunia, bahkan masyarakat Indonesia pun tidak lepas dari yang namanya akses Informasi dan komunikasi dari media massa. Karena sudah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam kehidupan sosial bermasyarakat untuk mengakses informasi baik seputar lingkungan masyarakat sekitar, keadaan Negara maupun mancanegara.

DeFleur dan Rokeach (1989: 265-269) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengkonseptualisasikan sebuah peristiwa atau keadaan oleh seseorang merupakan usaha untuk mengkonstruksi realitas, demikian halnya dengan upaya para pekerja media ketika berusaha untuk menampilkan suatu realitas tertentu dalam medianya. Unsur utama dan penting yang dipakai dalam konstruksi realitas adalah bahasa, baik bahasa verbal (kata-kata tertulis atau lisan) maupun bahasa non verbal, seperti gambar, foto, gerak-gerik, grafik, angka dan tabel.

Namun dalam proses penyampaian Informasi melalui media massa itu tidak sepenuhnya berjalan semestinya ataupun sesuai dengan fakta dan keadaan yang ada. Karena ada faktor yang mempengaruhi isi media massa tersebut. Selain faktor bahasa verbal dan non verbal ada juga lima faktor yang mempengaruhi isi media. Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese (1996), dalam Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content, menyusun berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan Mereka mengidentifikasikan ada lima faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi dalam menentukan isi media. Diantaranya adalah Faktor Individual, Rutinitas Media, Organisasi, Ekstra Media dan Ideologi.

  1. Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini penulis akan menyampaikan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas, diantaranya adalah :

1)      Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi isi media massa?

2)      Apa saja karakteristik isi media massa?

3)      Bagaimana pengaruh faktor individual terhadap isi media massa?

4)      Bagaimana pengaruh Rutinitas media terhadap isi media massa?

5)      Bagaimana pengaruh Organisasi terhadap isi media massa?

6)      Bagaimana pengaruh Ekstra media terhadap isi media massa?

7)      Bagaimana pengaruh Ideologi terhadap isi media massa?

  1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1)      Memenuhi tugas kelompok mata kuliah Komunikasi Massa

2)      Mengetahui karakteristik isi media Massa

3)      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi isi media Massa

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Media Massa

Menurut Leksikon Komunikasi, media massa adalah “sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar”.

Menurut Cangara, media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak, sedangkan pengertian media massa sendiri alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi.

Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam hubungannya  satu sama lain (Soehadi, 1978:38).

Media Massa adalah sarana komunikasi massa dimana proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.

  1. Karakteristik Isi Media Massa

Media Massa menerima informasi dan berita dari berbagai sumber. Disini berita akan masuk ke Gate Keeper (redaksi) ,untuk menyeleksi pemberitaan yang layak untuk dimuat.

  • Karakteristik Isi Pesan Media Massa (koran, majalah, radio, tv dan film) antara lain :
  • Novalti : Sesuatu yang baru . “Sesuatu yang baru” merupakan unsur yang terpenting bagi suatu pesan media massa
  • Jarak : Dekat atau jauh. Jarak terjadinya suatu peristiwa dengan tempat publikasinya peristiwa mempunyai arti penting. Khalayak akan tertarik untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan lingkungannya.
  • Popularitas : Peliputan tentang tokoh organisasi/ kelompok ,tempat dan waktu yang penting dan terkenal akan menjadi berita besar dan menarik perhatian khalayak.
  • Pertentangan : Konflik. Hal-hal yang mengungkapkan pertentangan,baik dalam bentuk kekerasan atau menyangkut perbedaan pendapat dan nilai biasanya disukai oleh khalayak.
  • Komedi : Humor. Manusia pada dasarnya tertarik pada hal yang lucu dan menyenangkan. Oleh karena itu,bentuk penyampaian pesan yang lucu disukai khalayak.
  • Seks dan keindahan : Salah satu sifat manusia adalah menyenangi unsur seks dan kecantikan atau keindahan sehingga unsur tersebut bersifat universal,dan menarik minat khalayak. Maka,media massa seringkali mengangkat kedua unsur tersebut kedalam tulisannya.
  • Emosi : Hal-hal yang berkaitan menyentuh kebutuhan dasar (basic needs) seringkali menimbulkan emosi dan simpati khalayak.
  • Nostalgia : Menunjukkan pada hal yang mengungkapkan pengalaman di masa lalu.
  • Human Interest : Setiap orang pada dasarnya ingin mengetahui segala peristiwa yang menyangkut kehidupan orang lain. Hal ini sering diangkat media massa melalui tulisan biografi,bibliografi,berita,feature dan acara deskriptif lainnya.
  1. Faktor-faktor Pengaruh Isi Media Massa

Dalam menyajikan realitas sosial, media memiliki bahasa tersendiri, bahasa yang terdiri atas seperangkat tanda tidak pernah membawa makna tunggal di dalamnya. Berita dalam media selalu memiliki ideologi dominan yang terbentuk melalui tanda tersebut, artinya jika kita gali lebih dalam, teks media membawa kepentingan-kepentingan yang lebih luas dan kompleks. Oleh karenanya, harus diakui bahwa apa yang dimuat media massa tidak terlepas dari berbagai kepentingan atau kekuatan yang dibelakangnya. Media juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, termasuk kecenderungan opini yang berkembang dan ideologi yang berkembang di masyarakat.

DeFleur dan Rokeach (1989: 265-269) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengkonseptualisasikan sebuah peristiwa atau keadaan oleh seseorang merupakan usaha untuk mengkonstruksi realitas, demikian halnya dengan upaya para pekerja media ketika berusaha untuk menampilkan suatu realitas tertentu dalam medianya. Unsur utama dan penting yang dipakai dalam konstruksi realitas adalah bahasa, baik bahasa verbal (kata-kata tertulis atau lisan) maupun bahasa non verbal, seperti gambar, foto, gerak-gerik, grafik, angka dan tabel.

Bahasa bukanlah sesuatu yang netral, tetapi mengandung makna. Sebagai alat untuk mempresentasikan realitas, melalui pilihan kata-kata dan cara penyajiannya, bahasa juga dapat menciptakan realitas dan menentukan corak dari realitas yang ditampilkannya,  sekaligus menentukan makna yang muncul darinya. Bahasa dapat memberikan aksen tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan tertentu, dengan cara mempertajam, memperlembut, melecehkan, membelokkan atau mengaburkan peristiwa atau tindakan tersebut. Walaupun kegiatan jurnalistik menggunakan bahasa dalam memproduksi berita. Namun, bagi media bahasa bukan hanya sekedar alat komunikasi untuk menggambarkan realitas, namun juga menentukan gambaran atau citra tertentu yang hendak ditanamkan kepada publik (Sobur, 2001:89). Berger dan Luckman (dalam Littlejohn, 1999) menyatakan bahwa ada serangkaian cara untuk memahami objek. Bahasa yang kita gunakan adalah salah satu cara untuk memahami objek dan untuk memberikan label terhadap suatu objek agar dapat dibedakan dengan objek lainnya.

Sebagai contoh,  ketika Surat Kabar menyajikan berita tentang kondisi   perempuan di Indonesia, bahasa yang digunakan masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kapitalisme dan nilai atau aturan di masyarakat yang didominasi pandangan patriarkis. Media menentukan realitas perempuan melalui berbagai cara, yaitu pemakaian kata-kata yang terpilih untuk tujuan tertentu, melakukan pembingkaian (framing) berita,  dan mempergunakan simbol-simbol agar menimbulkan citra tertentu ketika diterima khalayak serta menentukan apakah isu tersebut penting atau tidak penting.

Selain aspek penggunaan bahasa yang dianggap turut mempengaruhi adanya perbedaan dalam penyajian suatu realitas, perbedaan  dan kecenderungan tertentu setiap media dalam memproduksi isi media dipengaruhi oleh beberapa faktor  mulai dari sikap pribadi dan konsepsi peran para pekerja media, rutinitas pekerjaan media, struktur dan budaya organisasi media, hubungan antara media dengan institusi sosial lainnya serta kekuatan ideologi dan budaya yang luas. Pamela Shoemaker dan Stephen D. Reese menyebut pengaruh-pengaruh hierarchy of influence yang merupakan lapisan-lapisan yang  melingkupi institusi media tersebut (Shoemaker dan Resse, 1996).

Masyarakat memandang berita sebagai sebuah fakta di lapangan yang kemudian disajikan apa adanya oleh media. Hal ini menyebabkan masayarakat merasa terkejut saat menyaksikan apa yang ditayangkan di media ternyata tidak sama dengan apa yang mereka saksikan. Dengan kata lain, apa yang ditampilkan media sudah melalui berbagai proses sehingga hasilnya tidak utuh lagi seperti fakta. Memang, tidak semua fakta bisa ditampilkan utuh dalam berita, tapi paling tidak campur tangan atau rekayasanya tidak terlalu menyimpang dari kondisi yang sesungguhnya. Dengan demikian, masyarakat harus menyadari berbagai pengaruh yang dihadapi media dalam menyampaikan sebuah berita.

Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese (1996), dalam Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content, menyusun berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan. Mereka mengidentifikasikan ada lima faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi dalam menentukan isi media (bandingkan dengan McQuail, 1987), sebagai berikut:

  1. Faktor Individual

Faktor ini berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media. Level individual melihat bagaimana pengaruh aspek-aspek personal dari pengelola media mempengaruhi pemberitaan yang akan ditampilkan kepada khalayak. Latar belakang individu seperti jenis kelamin, umur, atau agama, dan sedikit banyak mempengaruhi apa yang ditampilkan media. Latar belakang pendidikan, atau kecenderungan orientasi pada partai politik sedikit banyak bisa mempengaruhi profesionalisme dalam pemberitaan media.

Faktor individu-individu pekerja media juga turut  mempengaruhi produksi isi media. Sejumlah faktor individual seperti karakteristik dari pekerja, latar belakang personal dan profesional atau pengalaman individual, juga nilai-nilai serta kepercayaan serta etika yang mereka anut juga turut mempengaruhi isi media.

  1. Rutinitas Media

Faktor rutinitas institusi media  juga akan mempengaruhi isi media, bahkan Shoemaker dan Reese mengatakan bahwa rutinitas mempunyai dampak yang besar terhadap isi media, karena rutinitas adalah lingkungan sesungguhnya dari pekerja media dan tidak dapat dipisahkan dengan pekerja media dalam melakukan pekerjaan mereka. Rutinitas diibaratkan dua sisi mata uang bagi media,  disatu sisi rutinitas meringankan pekerjaan media karena akan menjamin kelancaran roda organisasi media dan efisiensi, tetapi disisi lain dia merupakan penghambat atau penghalang bagi individu pekerja media dalam melaksanakan tugas karena adanya keterbatasan dalam  pilihan dan keleluasaan penulisan dan pemuatan berita. Rutinitas dalam media biasanya berkaitan dengan kegiatan seleksi yang dilakukan oleh wartawan yang menjalankan fungsinya sebagai gatekeeper (penjaga gawang). Tugas gatekeeper adalah memilih sedemikian banyak berita yang masuk untuk dibuat pada halaman tertentu.  Hal lain yang juga mempengaruhi adalah adanya deadline dan rintangan waktu yang lain, keterbatasan space untuk menyajikan berita, struktur piramida terbalik dalam penulisan berita dan kepercayaan reporter  pada sumber-sumber resmi dalam suatu berita.

Jenis media pun mempengaruhi rutinitas sebuah media yang pada akhirnya berpengaruh pada isi dari media. Contoh yang paling menonjol adalah perbedaan antara media cetak dengan media penyiaran seperti televisi. Para pencari berita media cetak lebih bebas dalam memberikan warna pada pemberitaannya. Ini dikarenakan media cetak terbit sekali sehari dan tidak ada tuntutan untuk memberitakan sebuah berita secara langsung. Sedangkan reporter televisi lebih terpaku dalam memberitakan sebuah berita. Biasanya seorang reporter memberitakan langsung dari tempat kejadian dan hanya bersifat melaporkan.

  1. Organisasi

Level organisasi berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan. Pengelola media dan wartawan bukan orang tunggal yang ada dalam organisasi berita, ia sebaliknya hanya bagian kecil dari organisasi media itu . Masing-masing komponen dalam organisasi media bisa jadi mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Di dalam organisasi media, misalnya, selain bagian redaksi ada juga bagian pemasaran, bagian iklan, bagian sirkulasi, bagian umum, dan seterusnya. Masing-masing bagian tersebut tidak selalu sejalan. Mereka mempunyai tujuan dan target masing-masing, sekaligus strategi yang berbeda untuk mewujudkan target tersebut. Bagian redaksi misalnya menginginkan agar berita tertentu yang disajikan, tetapi bagian sirkulasi menginginkan agar berita lain yang ditonjolkan karena terbukti dapat menaikkan penjualan. Setiap organisasi berita, selain mempunyai banyak elemen juga mempunyai tujuan dan filosofi organisasi sendiri, berbagai elemen tersebut mempengaruhi bagaimana seharusnya wartawan bersikap, dan bagaimana juga seharusnya peristiwa disajikan dalam berita.

  1. Ekstra Media

Level ini berhubungan dengan faktor lingkungan di luar media. Meskipun berada di luar organisasi media, hal-hal di luar organisasi media ini sedikit banyak dalam banyak kasus mempengaruhi pemberitaan media. Ada beberapa faktor yang termasuk dalam lingkungan di luar media:

  • Sumber berita. Sumber berita di sini dipandang bukanlah sebagai pihak yang netral yang memberikan informasi apa adanya, ia juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi media dengan berbagai alasan: memenangkan opini publik, atau memberi citra tertentu kepada khalayak, dan seterusnya. Sebagai pihak yang mempunyai kepentingan, sumber berita tentu memberlakukan politik pemberitaan. Ia akan memberikan informasi yang sekiranya baik bagi dirinya, dan mengembargo informasi yang tidak baik bagi dirinya. Kepentingan sumber berita ini sering kali tidak disadari oleh media.
  • Sumber penghasilan media, berupa iklan, bisa juga berupa pelanggan/pembeli media. Media harus survive, dan untuk bertahan hidup kadangkala media harus berkompromi dengan sumber daya yang menghidupi mereka. Misalnya media tertentu tidak memberitakan kasus tertentu yang berhubungan dengan pengiklan. Pihak pengiklan juga mempunyai strategi untuk memaksakan versinya pada media. Ia tentu saja ingin kepentingannya dipenuhi, itu dilakukan di antaranya dengan cara memaksa media mengembargo berita yang buruk bagi mereka. Pelanggan dalam banyak hal juga ikut mewarnai pemberitaan media. Tema tertentu yang menarik dan terbukti mendongkrak penjualan, akan terus-menerus diliput oleh media. Media tidak akan menyia-nyiakan momentum peristiwa yang disenangi oleh khalayak.
  • Pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis. Pengaruh ini sangat ditentukan oleh corak dari masing-masing lingkungan eksternal media (baca teori normatif komunikasi massa, dan teori makro). Dalam negara yang otoriter misalnya, pengaruh pemerintah menjadi faktor yang dominan dalam menentukan berita apa yang disajikan. Keadaan ini tentu saja berbeda di negara yang demokratis dan menganut liberalisme. Campur tangan negara praktis tidak ada, justru pengaruh yang besar terletak pada lingkungan pasar dan bisnis.
  1. Ideologi

Diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Berbeda dengan elemen sebelumnya yang tampak konkret, level ideologi ini abstrak. Ia berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas. Raymond William (dalam eriyanto, 2001) mengklasifikasikan penggunaan ideologi tersebut dalam tiga ranah.

  • Sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu. Definisi ini terutama dipakai oleh kalangan psikologi yang melihat ideologi sebagai seperangkat sikap yang dibentuk dan diorganisasikan dalam bentuk yang koheren. Sebagai misal, seseorang mungkin mempunyai seperangkat sikap tertentu mengenai demontrasi buruh. Ia percaya bahwa buruh yang berdemontrasi mengganggu kelangsungan produksi. Oleh karenanya, demontrasi tidak boleh ada, karena hanya akan menyusahkan orang lain, membuat keresahan, menggangu kemacetan lalulintas, dan membuat persahaan mengalami kerugian besar. Jika bisa memprediksikan sikap seseorang semacam itu, kita dapat mengatakan bahwa orang itu mempunyai ideologi kapitalis atau borjuis. Meskipun ideologi disini terlihat sebagai sikap seseorang, tetapi ideologi di sini tidak dipahami sebagai sesuatu yang ada dalam diri individu sendiri, melainkan diterima dari masyarakat.
  • Sebuah sistem kepercayaan yang dibuat –ide palsu atau kesadaran palsu- yang biasa dilawankan dengan pengetahuan ilmiah. Ideologi dalam pengertian ini adalah seperangkat kategori yang dibuat dan kesadaran palsu dimana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk mendominasi kelompok lain. Karena kelompok yang dominan mengontrol kelompok lain dengan menggunakan perangkat ideologi yang disebarkan ke dalam masyarakat, akan membuat kelompok yang didominasi melihat hubungan itu nampak natural, dan diterima sebagai kebenaran. Di sini, ideologi disebarkan lewat berbagai instrumen dari pendidikan, politik sampai media massa.
  • Proses umum produksi makna dan ide. Ideologi disini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan produksi makna.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Media Massa adalah sarana komunikasi massa dimana proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak. Media Massa menerima informasi dan berita dari berbagai sumber. Disini berita akan masuk ke Gate Keeper (redaksi) ,untuk menyeleksi pemberitaan yang layak untuk dimuat.

Faktor Individual

Faktor ini berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media.

Rutinitas Media

rutinitas adalah lingkungan sesungguhnya dari pekerja media dan tidak dapat dipisahkan dengan pekerja media dalam melakukan pekerjaan mereka.

Organisasi

Level organisasi berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan. Pengelola media dan wartawan bukan orang tunggal yang ada dalam organisasi berita, ia sebaliknya hanya bagian kecil dari organisasi media itu.

Ektra Media

  • Sumber berita. Sumber berita di sini dipandang bukanlah sebagai pihak yang netral yang memberikan informasi apa adanya, ia juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi media dengan berbagai alasan: memenangkan opini publik, atau memberi citra tertentu kepada khalayak, dan seterusnya.
  • Sumber penghasilan media, berupa iklan, bisa juga berupa pelanggan/pembeli media.
  • Pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis. Pengaruh ini sangat ditentukan oleh corak dari masing-masing lingkungan eksternal media (baca teori normatif komunikasi massa, dan teori makro).

Ideologi

diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya.

Daftar Pustaka

Buku

Eriyanto, 2001, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta: LKiS.

McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga

Shoemaker & Reese, 1996, Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, USA:Longman.

Internet

http://www.ut.ac.id/html/suplemen/skom4314/materi3.htm

http://husnun.wordpress.com/2011/05/18/kuliah-media-dan-masyarakat-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-isi-media/

http://libradee.blogspot.com/2011/12/pesan-media-massa-media-massa-menerima.html

Makalah: Analisis Perang Salib

ANALISIS PERANG SALIB

MAKALAH

Disampaikan untuk memenuhi syarat tugas kuliah

Yang Dipresentasikan di Seminar Kelas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Kelas Takhasus

logo-stail


Oleh:

 

Mohammad Faruq

201431110020

Muhammad Isa Anshori

20143118

 

Dosen Pembimbing:

Nurul Huda, M.Pd.I


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM

SURABAYA

T.A. 2015-2016

 

 

 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, sungguh suatu kesyukuran yang  besar kepada Allah Swt karena masih memberi kekuatan, kesehatan serta nikmat-nikamat lain sehingga dengannya nikmat tersebut, kami mampu menyelesaikan tugas kami yaitu pembuatan makalah dengan tepat waktu tanpa ada masalah berarti. Shalawat serta salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang dengan gagah berani memperjuangkan agama ini. Sehingga agama ini sampai kepada kita.

Kemudian, ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah, khususnya kepada Dosen pengampu mata kuliah ini, Ustadz Nurul Huda, M.Pd.I. Tanpa andil beliau dan teman-teman lain, tentu makalah ini tak akan jadi.

Namun seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, makalah ini juga tak lepas dari kesalahan dan masih jauh dari kesempurnaan. Sebagai manusia biasa yang ak luput dari kesalahan, hal seperti ini tak mungkin dihindari. Maka kami memohon maaf yang sebesar-besarnya terkat hal itu. Selanjutnya kami mohon bimbingan, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak agar kiranya kami bisa memperbaiki hal-hal tersebut.

Demikian kata pengantar ini dibuat, kami ucapkan terima kasih sekaligus permohonan maaf atas kekhilafan kami.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Islam sebagai agama telah melalui berbagai macam kejadian dari awal hingga sekarang.  Berbagai kejadian datag silih berganti demi mewarnai buku sejarah dunia. Hal itu merupakan hal yang wajar dan mesti dilalui oleh golongan besar.

Salah satu peristiwa yang turut menjadi perbincangan dalam sejarah islam yaitu tentang peristiwa perang salib. Sebuah peristiwa yang menjadi penentu kebijakan dunia hingga saat ini. Akan tetapi, sebagian muslim—bahkan kebanyakan—tidak banyak mengetahui tentang peristiwa tersebut.

Berangkat dari fakta tersebut, makalah ini kami hadirkan untuk menjelaskan kepada kita semua hakekat peristiwa tersebut. Bagaimana sebab terjadinya, pelaku-pelakunya, kapan, dimana, dan akibatnya dibahas tuntas dalam makalah ini dengan referensi yang terpercaya.

Semoga dengan hadirnya makalah ini kita bisa mendapat titik terang tentang sejarah perang salib yang sebenarnya dan kita bisa mengambil pelajaran darinya. Lalu, semangat keislaman kita bertambah sehingga izzah islam ini tetap terjaga.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana perjalanan perang salib dari awal hingga akhir.?
  3. Apa yang melatar-belakangi perang salib .?
  4. Seperti apa dampak yang ditimbulkan perang salib.?

 

  1. Tujuan
  2. Memberi pemahaman yang benar tentang peristiwa perang salib.
  3. Mengambil hikmah dari peristiwa perang salib.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian

Perang Salib (bahasa InggrisCrusade, jamak: Crusades) merupakan serangkaian kampanye militer berselang dari tahun 1096 sampai 1487 yang disahkan oleh beberapa paus. Pada tahun 1095 Kaisar Bizantium Alexius I Komnenus mengirimkan seorang utusan kepada Paus Urbanus II untuk meminta dukungan militer dalam konflik Kekaisaran Romawi Timur dengan bangsa Turk yang melakukan migrasi ke arah barat di Anatolia (Turki masa kini). Sang paus menanggapinya dengan memanggil umat Katolik untuk bergabung dengan apa yang kemudian disebut sebagai Perang Salib Pertama.

Secara terminology, Crusade (Perang Salib) adalah sebuah istilah modern yang berasal dari kata Perancis croisade dan Spanyol cruzada; pada tahun 1750 bentuk-bentuk dari kata “crusade” telah terbentuk sendiri dalam bahasa Inggris, Perancis, dan JermanOxford English Dictionary mencatat penggunaannya pertama kali dalam bahasa Inggris oleh William Shenstone pada tahun 1757. Ketika seorang tentara salib mengucapkan suatu sumpah (votus) untuk pergi ke Yerusalem, ia akan menerima sehelai kain salib (crux) untuk dijahitkan di pakaiannya. Hal “mengenakan salib” ini menjadi terkait dengan keseluruhan perjalanan, dan para tentara salib memandang diri mereka melakukan suatu iter (perjalanan) atauperegrinatio (ziarah bersenjata). Inspirasi akan “mesianisme kaum miskin” ini merupakan suatu pengilahian (apotheosis) massal yang diharapkan di Yerusalem.

Salah satu tujuan yang dinyatakan oleh Paus Urbanus adalah menjamin akses para peziarah ke tempat-tempat suci di Tanah Suci yang berada di bawah kendali penguasa Muslim, sementara strateginya yang lebih luas yaitu menyatukan kembali cabang-cabang Timur dan Barat dari dunia Kekristenan setelah perpecahan mereka pada tahun 1054, serta menetapkan diri sebagai kepala Gereja yang dipersatukan. Hal ini mengawali suatu perjuangan yang kompleks selama 200 tahun di wilayah tersebut.

Ratusan ribu orang dari berbagai negara dan kelas yang berbeda di Eropa Barat menjadi tentara salib dengan mengambil suatu sumpah publik dan menerima indulgensi penuh dari gereja tersebut. Beberapa tentara salib adalah para petani yang berharap atas pengilahian di Yerusalem.[5]Paus Urbanus II mengklaim bahwa siapa pun yang ikut serta akan diampuni dosa-dosanya. Selain menunjukkan pengabdian kepada Allah, sebagaimana dinyatakan olehnya, keikutsertaan memenuhi kewajiban feodal dan berkesempatan memperoleh manfaat ekonomi dan politik. Para tentara salib seringkali menjarah negara-negara yang mereka lalui dalam perjalanan, dan berlawanan dengan janji-janji mereka, para pemimpin tentara salib menguasai banyak dari wilayah ini bukan mengembalikannya kepada Bizantium.

Penomoran Perang-perang Salib menjadi bahan perdebatan, beberapa sejarawan menghitung ada tujuh Perang Salib besar dan sejumlah kecil lainnya antara tahun 1096–1291.[3] Kalangan lain menganggap Perang Salib Kelima yang melibatkan Frederik II sebagai dua perang salib, sehingga perang salib yang dilakukan oleh Louis IX pada tahun 1270 menjadi Perang Salib Kedelapan. Terkadang Perang Salib Kedelapan ini dianggap dua, sebab yang kedua dianggap sebagai Perang Salib Kesembilan.

Pandangan pluralistik mengenai Perang-perang Salib berkembang selama abad ke-20, “Perang Salib” dianggap mencakup semua kampanye militer di Asia Barat atau di Eropa yang direstui oleh kepausan. Perbedaan utama antara Perang-perang Salib dan perang suci lainnya adalah bahwa pengesahan untuk melakukan Perang-perang Salib bersumber langsung dari paus, yang mengaku melakukannya atas nama Kristus. Dikatakan demikian karena mempertimbangkan pandangan Gereja Katolik Roma dan mereka yang hidup pada zaman abad pertengahan, seperti Santo Bernardus dari Clairvaux, yang mana memberikan prioritas setara untuk kampanye militer yang dilakukan untuk alasan politik dan untuk memerangi paganisme dan bidah. Definisi yang luas ini mencakup penganiayaan terhadap kaum bidah di Perancis Selatankonflik politik antara umat Kristen di Sisilia,penaklukan kembali Iberia oleh kaum Kristen, dan penaklukan atas kaum pagan di Baltik. Suatu pandangan yang lebih sempit adalah bahwa Perang-perang Salib merupakan perang pertahanan diri di Levant terhadap kaum Muslim untuk membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslim.

  1. Sebab-Sebab Terjadinya

Setelah pasukan Muslim mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Yarmuk pada tahun 636, Palestina berada di bawah kendali Kekhalifahan UmayyahAbbasiyah, dan Fatimiyah Hubungan politik, perdagangan, dan toleransi antara negara-negara Arab dan Kristen Eropa mengalami pasang surut hingga tahun 1072, ketika Fatimiyah kehilangan kendali atas Palentina dan beralih ke Kekaisaran Seljuk Raya yang berkembang pesat. Kendati kalifah Fatimiyah Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus, penerusnya mengizinkan Kekaisaran Bizantium untuk membangunnya kembali. Para penguasa Muslim mengizinkan peziarahan oleh umat Katolik ke tempat-tempat suci. Para pemukim Kristen dianggap sebagai dzimmi dan perkawinan campur tidaklah jarang terjadi. Budaya dan keyakinan hidup berdampingan dan saling bersaing, namun kondisi-kondisi daerah perbatasan tidak bersahabat bagi para pedagang dan peziarah Katolik. Gangguan atas peziarahanoleh karena penaklukan bangsa Turk Seljuk memicu dukungan bagi Perang-perang Salib di Eropa Barat.

Sejumlah pakar sejarah juga  berargumen terkait sebab-sebab terjadinya perang salib. Di antaranya :

Pertama, bahwa perang salib merupakan puncak dari sejumlah konflik antara negeri barat dan negeri timur, jelasnya antara pihak Kristen dan pihak muslim. Perkembangan dan kemajuan ummat muslim yang sangat pesat, pada akhir-akhir ini, menimbulkan kecemasan tokoh-tokoh barat Kristen. Terdorong oleh kecemasan ini, maka mereka melancarkan serangan terhadap kekuatan muslim.

Kedua, munculnya kekuatan Bani Saljuk yang berhasil merebut Asia Kecil setelah mengalahkan pasukan Bizantium di Manzikart tahun 1071, dan selanjutnya Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fatimiyah tahun 1078 M. Kekuasaan Saljuk di Asia Kecil dan yerusalem dianggap sebagai halangan bagi pihak Kristen barat untuk melaksanakan haji ke Bait al-Maqdis.

Ketiga, bahwa semenjak abad ke sepuluh pasukan muslim menjadi penguasa jalur perdagangan di lautan tengah. Para pedagang Pisa, Vinesia, dan Cenoa merasa terganggu atas kehadiran pasukan lslam sebagai penguasa jalur perdagangan di laut tengah ini. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperlancar perdagangan mereka adalah dengan mendesak kekuatan muslim dari lautan ini”

Keempat, propaganda Alexius Comnenus kepada paus Urbanus ll. Untuk membalas kekalahannya dalam peperangan melawan pasukan Saljuk. Bahwa paus merupakan sumber otoritas tertinggi di barat yang didengar dan ditaati propagandanya. Paus Urbanus II segera rnengumpulkan tokoh-tokoh Kristen pada 26 November 1095 di Clermont, sebelah tenggara Perancis. Dalam pidatonya di Clermont sang Paus memerintahkan kepada pengikut kristen agar mengangkat senjata melawan pasukan musim.

  1. Periode-Periode Perang Salib

Perang salib sendiri terdiri dari beberapa periode. Mulai dari jatuhnya kota Yerussalem ke tangan Kristen, kemudian pembebasannya oleh Salahuddin Al-Ayyubi hingga upaya-upaya Kristen untuk merebutnya kembali. Sejarahwan mencatat 8 peperangan yang berhubungan dengan perang salib.

Pertama, Perang Salib I (1096–1099)

Bala tentara salib yang resmi berangkat dari Perancis dan Italia pada bulan Agustus dan September 1096. Sejumlah besar pasukan tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang mana melakukan perjalanan secara terpisah menuju Konstantinopel. Jika memperhitungkan orang-orang selain pejuang, pasukan barat mungkin berjumlah sebanyak 100.000 orang. Para pasukan tersebut melakukan perjalanan ke arah timur lewat jalan darat menuju Konstantinopel, di mana mereka menerima sambutan kehati-hatian dari sang Kaisar Bizantium. Pasukan utamanya, kebanyakan terdiri dari kesatria Norman dan Perancis di bawah kepemimpinan para baron, berjanji untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang hilang kepada kekaisaran tersebut dan mereka berbaris menuju selatan melalui Anatolia. Para pemimpin Perang Salib Pertama ini misalnya Godefroy dari BouillonRobert CurthoseHugues I dari VermandoisBaudouin dari BoulogneTancred dari HautevilleRaymond IV dari ToulouseBohemond dari TarantoRobert II dari Flandria, dan Étienne, Comte Blois. Raja Perancis danHeinrich IV, Kaisar Romawi Suci, saat itu sedang dalam konflik dengan sang Paus dan tidak ikut berpartisipasi.

Bala tentara salib awalnya berperang melawan bangsa Turk dalam Pengepungan Antiokhia yang berlangsung cukup lama, dimulai sejak bulan Oktober 1097 dan berakhir Juni 1098. Ketika mereka memasuki Antiokhia, para tentara salib membantai penduduk Muslim dan menjarah kota tersebut. Namun sejumlah besar pasukan Muslim yang dipimpin oleh Kerboga segera mengepung para tentara salib, yang saat itu berada di dalam Antiokhia. Bohemond dari Taranto berhasil menghimpun kembali para tentara salib itu dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni. Bohemond dan pasukannya tetap memegang kendali atas kota tersebut, kendati telah berjanji mengembalikannya kepada Alexius. Sebagian besar bala tentara salib yang tersisa itu bergerak menuju selatan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di sepanjang pesisir tersebut, dan akhirnya tiba di Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099 dengan hanya sebagian kecil dari kekuatan asli mereka.

Kaum Yahudi dan Muslim berjuang bersama-sama untuk mempertahankan Yerusalem dalam menghadapi invasi kaum Franka itu, tetapi para tentara salib berhasil masuk ke dalam kota tersebut pada tanggal 15 Juli 1099. Mereka mulai melakukan pembantaian penduduk sipil Muslim dan Yahudi, serta menjarah atau menghancurkan masjid-masjid atau kota itu sendiri. Dalam Historia Francorum qui ceperunt Iherusalem karyanya, Raymond D’Aguilers meninggikan tindakan-tindakan yang mana akan dianggap sebagai kekejaman dari suatu sudut pandang modern. Sebagai akibat dari Perang Salib Pertama, tercipta empat negara tentara salib yang utama: Edessa, Antiokhia, Tripoli, dan Yerusalem. Pada suatu tingkatan populer, Perang Salib Pertama dianggap melepaskan suatu gelombang amarah Katolik yang saleh dan emosional, yang mana diungkapkan dalam pembantaian orang-orang Yahudi yang mengiringi perang-perang salib tersebut dan perlakuan kejam atas kaum Kristen Ortodoks “skismatik” dari timur.

Setelah Perang Salib Pertama, berlangsung yang kedua, perang salib yang kurang berhasil dan disebut Perang Salib 1101, di mana bangsa Turk yang dipimpin oleh Kilij Arslan Imengalahkan para tentara salib dalam tiga pertempuran terpisah.

Kedua, Perang Salib II (1147-1187)

Periode kedua ini adalah masa-masa perebutan kembali tanah suci oleh kaum muslim di bawah pimpinan Nurudddin Zanki lalu dilanjutkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi setelah sebelumnya Imaduddin Zanki (ayah Nuruddin Zanki) memulai upaya tersebut. Ia berhasil merebut satu-persatu daerah yang telah dikuasai pasukan salib. Keberhasilannya yang paling gemilang adalah merebut kota Edessa yang merupakan tempat berdirinya salah satu kerajaan Kristen sebagai akibat perang salib pertama.

Dengan jatuhnya kembali kota Edesa oleh pasukan muslim, tokoh-tokoh Kristen Eropa dilanda rasa cemas. St Bernard segera menyerukan kembali perang salib melawan kekuatan muslim. Seruan tersebut membuka gerakan perang salib kedua dalam sejarah Eropa. Beberapa penguasa Eropa menanggapi poiitif seruan perang suci ini. Kaisar jerman yang bernama Conrad III, dan kaisar perancis yang bernama Louis VII segera mengerahkan pasukannya keAsia. Namun kedua pasukan ini dapat dihancurkan ketika sedang dalam perjalanan menuju Syiria. Dengan sejumlah pasukan yang tersisa mereka berusaha mencapai Antioch, dan dari sini mereka menuju ke Damaskus.

Pengepungan Damaskus telah berlangsung beberapa hari, ketika Nuruddin tiba di kota ini. Karena terdesak oleh pasukan Nuruddin, pasukan salib segera melarikan diri ke Palestina, sementara Conrad III dan Louis VII kembali ke Eropa dengan tangan hampa.

Nuruddin segera mulai memainkan peran baru sebagai sang penakluk. Tidak lama setelah mengalahkan pasukan salib, ia berhasil rnenduduki benteng Xareirna, merebut wilayah perbatasan Apamea pada tahun 544 H/1149 M., dan kota Joscelin. Pendek kata, kota-kota penting pasukan salib berhasil dikuasainya. la segera menyambut baik permohonan masyarakat Damaskus dalam perjuangan melawan penguasa Damaskus yang menindas. Keberhasilan Nuruddin menaklukkan kota damaskus membuat sang khalifah di Bagdad berkenan rnemberinya gelar kehormatan “al-Malik al- ’Adil”.

Penaklukkan-penaklukkan tersebut terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada tahun 1187 M. saat itu, kurang lebih 50.000 pasukan muslim di bawah pimpinan Salahudddin Al-ayyubi berhadapan dengan pasukan salib yang berjumlah sekitar 32.000 di bawah pimpinan raja Guy dari Yerussalem. Pertempuran ini dikenal dengan perang hittin, karena terjadi di tanduk hittin, sebuah daerah dekat tiberias di danau galilea.

Karena semangat tak kenal menyerah dan strategi cerdik, pasukan islam memperoleh kemenangan besar. Perang tersebut benar-benar memberi kerugian besar bagi pasukan salib. Sehingga memudahkan Salahuddin merebut kembali Yerussalem dari Kristen.

Sejarahwan mencatat bagimana sikap Salahuddin ketika berhasil membebaskan Yerussalem. Kebijakan yang diambilnya sungguh bijaksana. Ia tak seperti kaum salib saat menaklukkan Yerussalem yaitu membantai penduduk muslim. Salahuddi justru melindungi warga Kristen dan berjanji memberi akses kepada kaum Kristen untuk berziarah ke Yerussalem dengan syarat tak membawa pedang atau senjata.

Ketiga, Perang Salib III (1189-1193 )

Jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan Salahuddin menimbulkan keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan prestis kekuatan mereka yang telah hilang. Menyambut seruan kalangan gereja, maka kaisar Jerman yang bernama Frederick Barbarosa, Philip August, kaisar Perancis yang bernama Richard, beberapa pembesar kristen rnembentuk gabungan pasukan salib. Dalam hal ini seorang ahli sejarah menyatakan bahwa Perancis mengerahkan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan lautnya. Bahkan wanita-wanita Kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini. Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.

Menanggapi serangan besar ini, Salahuddin memutuskan untuk bertahan di dalam negeri. Padahal para Amir menyarankan agar bertahan di luar. Karena itu, pada tanggal 14 september 1189, pasukan muslim terdesak di kota acre. Untung saja kemenakan Salahuddin yang bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengembalikan hubungan dengan Acre. Akan tetapi, kondisi ini tak berlangsung lama, sebab kaum muslim kembali terdesak dan kota Acre kembali terkepung hingga hampir dua tahun lamanya. Segala upaya pertahanan pasukan muslim semakin tidak membawa hasil, bahkan mereka merasa frustasi ketika Richard dan Philip August tiba dengan kekuatan pasukan salib yang maha besar. Sultan Salahuddin merasa kepayahan menghadapi peperangan ini, sementara itu pasukan muslim dilanda wabah penyakit dan kelaparan. Masytub, seorang komandan Salauhuddin akhirnya mengajukan tawaran damai dengan kesediaan atas beberapa persyaratan sebagaimana yang pernah diberikan kepada pasukan Kristen sewaktu penaklukan Yerusalem dahulu. Namun sang raja yang tidak mengenal balas budi ini sedikit pun tidak memberi belas kasih terhadap ummat muslim. la membantai pasukan muslirn secara kejam.

Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersamaan dengan itu Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba d i fucalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin. Setelah berlangsung perdebatan yang kritis, akhirnya sang sultan bersedia menerirna tawaran damai tersebut. ”Antar pihak Muslim dan pihak pasukan salib menyatakan bahwa wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan masing-masing, dan bahwa warga negara kedua belah pihak dapat saling keluar masuk ke wilayah lainnya tanpa, gangguan apa pun”. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang salib ke tiga yakni pada tahun 1193. Enam bulan kemudian, Salahuddin wafat karena sakit. Peristiwa ini sangat menyedihkan bagi kaum muslimin. Bahkan sejarahwan menyebutkan bahwa tidak ada duka sebesar ini setelah kematian empat khalifah pertama selain duka atas meninggalnya Salahuddin.

Keempat, Perang Salib IV

Dua tahun setelah kematian Salahuddin berkobar perang salib keempat atas inisiatif Paus Celestine III. Namun sesungguhnya peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Kristen telah berakhir dengan usianya perang salib ketiga. Sehingga peperangan berikutnya tidak banyak dikenal. Pada tahun 1195 M. pasukan salib menundukkan Sicilia, kemudian terjadi dua kali penyerangan terhadap Syria. Pasukan kristen ini mendarat di pantai Phoenecia dan menduduki Beirut. Anak Salahuddin yang bernama al-Adil segera rnenghalau pasukan salib. la selanjutnya menyerang kota perlindungan pasukan salib. Mereka kemudian mencari tempat perlindungan ke Tibinim, lantaran semakin kuatnya tekanan dari pasukan muslim, pihak salib akhirnya menempuh inisiatif damai. Sebuah perundingan menghasilkan kesepakatan pada tahun 1198M, bahwa peperangan ini harus dihentikan selama tiga tahun.

Kelima, Perang salib V

Belum genap mencapai tiga tahun, Kaisar Innocent III menyatakan secara tegas berkobarnya perang salib ke lima setelah berhasil rnenyusun kekuatan miliier. Jenderal Richard di lnggris menolak keras untuk bergabung dalam pasukan salib ini, sedang mayoritas penguasa Eropa lainnya menyarnbut gembira seruan perang tersebut. Pada kesempatan ini pasukan salib yang bergerak menuju Syria tiba-tiba mereka membelokkan geiakannya menuju Konstantinopel. Begitu tiba di kota ini, mereka membantai ribuan bangsa romawi baik laki-laki maupun perempuan secara bengis dan kejam. pembantai ini berlangsung dalam beberapa hari. Jadi pasukan muslim sama sekali tidak mengalami kerugian karena tidak terlibat dalam peristiwa ini.

Keenam Perang Salib VI

Pada tahun 613 H/1216M, Innocent III mengobarkan propaganda perang salib ke enam. 250.000 pasukan salib, mayoritas Jerman, mendarat di Syria. Mereka terserang wabah penyakit di wilayah pantai Syria hingga kekuatan pasukan tinggal tersisa sebagian. Mereka kemudian bergerak menuju Mesir dan kemudian mengepung kota Dimyat. Dari 70.000 personil, pasukan salib berkurang lagi hingga tinggal 3.000 pasukan yang tahan dari serangkaian wabah penyakit. Bersamaan dengin ini, datang tambahan pasukan yang berasal dari perancis yang bergerak menuju Kairo. Narnun akibat serangan pasukan muslim yang terus-menerus, mereka men jadi terdesak dan terpaksa rnenempuh jalan damai. Antara keduanya tercapai kesepakatan damai dengan syarat bahwa pasukan salib harus segera meninggalkan kota Dimyat.

Ketujuh, Perang Salib VII

Untuk mengatasi konflik politik internal, Sultan Kamil mengadakan perundingan kerja sarna dengan seorang jenderal Jerman yang bernarna Frederick. Frederick bersedia membantunya rnenghadapi musuh-musuhnya dari kalangan Bani Ayyub sendiri, sehingga Frederick nyaris menduduki dan sekaligus berkuasa di Yerusalem. Yerusalem berada di bawah kekuasaan tentara salib sampai dengan tahun 1244 M., setelah itu kekuasaan salib direbut oleh Malik al-shalih Najamuddi al-Ayyubi atas bantuan pasukan Turki Khawarizmi yang berhasil meiarikan diri dari kekuasaan Jenghis Khan.

Kedelapan, Perang Salib VIII

Dengan direbutnya kota Yerusalern oleh Malik al- Shalih, pasukan salib kembali menyusun penyerangan terhadap wilayah lslam. Kali ini Louis IX, kaisar perancis, yang memimpin pasukan salib kedelapan. Mereka mendarat di Dirnyat dengan mudah tanpa perlawanan yang beranti. Karena pada saat itu Sultan Malikal-shalih sedang menderita sakit keras sehingga disiplin tentara muslim merosot. Ketika pasukan Louis IX bergerak menuju ke Kairo melalui jalur sungai Nil, mereka mengalami kesulitan lantaran arus sungai mencapai ketinggiannya, dan mereka juga terserang oleh wabah penyakit, sehingga kekuatan salib dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Turan Syah, putra Ayyub.

Setelah berakhir perang salib ke delapan ini, pasukan Salib-Kristen berkali-kali berusaha mernbalas kekalahannya, namun selalu mengalami kegagalan.

  1. Akibat Perang Salib

Perang salib yang berlangsung lebih kurang dua abad membawa beberapa akibat yang sangat berarti bagi perjalanan sejarah dunia. Perang salib ini menjadi penghubung bagi bangsa Eropa mengenali dunia lslam secara lebih dekat yang berarti kontak hubungan antara barat dan timur semakin dekat. Kontak hubungan barat-timur ini mengawali terjadinya pertukaran ide antara kedua wilayah tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat timur yang”maju menjadi daya dorong pertumbuhan intelektual bangsa barat, yakni Eropa. Hal ini sangat-besar andil dan peranannya dalam meahirkan era renaissance di Eropa.

Pasukan salib merupakan penyebar hasrat bangsa Eropa dalam bidang perdagangan dan perniagaan terhadap bangsa-bangsa timur. Selama ini bangsa barat tidak mengenal kemajuan pemikiran bangsa timur. Maka perang salib ini juga membawa akibat timbulnya kegiatan penyelidikan bangsa Eropa mengenai berbagai seni dan pengetahuan penting dan berbagai penemuan yang telah dikenali ditimur. Misalnya, kompas kelautan, kincir angin, dan lain-lain, Mereka juga menyelidiki sistem pertanian, dan yang lebih penting adalah mereka rnengenali sistem industri timur yang telah maju. Ketika kembali ke negerinya, Eropa, mereka lantas mendirikan sistem pemasaran barang-barang produk timur. Masyarakat barat semakin menyadari betapa pentingnya produk-produk tersebut. Hal ini menjadikan sernakin pesatnya pertumbuhan kegiatan perdagangan antara timur dan barat. Kegiatan perdagangan ini semakin berkembang pesat seiring dengan kemajuan pelayaran di laut tengah. Namun, pihak muslim yang semula menguasai jalur pelayaran di laut tengah kehilangan supremasinya ketika bangsa-bangsa Eropa menempuh rute pelayaran laut tengah secara bebas.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Setelah mengetahui sejarah panjang Perang salib, kita bisa menyimpulkan bahwa perang salib merupakan salah satu perang yang berlangsung lama dan menentukan arah perjalanan dunia. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting dan banyak diperbincangkan oleh public. Selain itu, perang salib adalah puncak perselisihan umat Islam dan Kristen dan akan terus berlanjut. Bahkan zaman ini. Walaupun bukan dengan kontak fisik, tapi dengan cara-cara yang lebih tersembunyi dan terorganisir. Kaum intelektual menyebutnya dengan perang pemikiran (ghazwul fikr).

Kemudian dampak dari perang salib juga sangat besar terutama bagi kaum Kristen. Dari perang saliblah mereka tau tentang system timur yang sangat maju saat itu. Dengan begitu, hasrat mereka untuk maju semakin besar. Hal itu terbukti dengan dibuatnya system industry, pertanian dan pemasaran produk-produk timur oleh bangsa eropa.

Adapun hikmah dari perang salib khususnya bagi kum muslimin, bahwa jatuhnya Yerussalem ke tangan musuh adalah akibat perpecahan dan lemahnya iman kaum muslimin, seperti perebutan kekuasaan, sangat cinta dunia dan takut mati. Sebaliknya, kemenangan kaum muslimin di bawah Salahuddin Al-Ayyubi adalah berkat persatuan dan semangat jihad kaum muslimin. Maka dapat dikatakan bahwa tak ada kemenangan tanpa persatuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengembangan dan Perusakan Hubungan

MAKALAH

“Pengembangan dan Perusakan Hubungan”

 

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah ‘Komunikasi Interpersonal’ dan dipresentasikan di kelas Komunikasi dan Penyiaran Islam semester V STAI Luqman Al-Hakim

Oleh :

Muhammad Faruq A
2014.31.11.0020

Maulana Syafi’i
2014.31.11.0017

 

Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim

Surabaya

Tahun Ajaran 2016-2017

 

Kata pengantar

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang masih memberi kesempatan bagi kita untuk berbuat baik kepada makhluk-makhluknya di muka bumi. Dan dengan kesempatan itu pul, kami mampu membuat makalah sederhana ini sesuai waktu yang ditentukan tanpa ada hambatan besar. Shalawat serta salam semoga terus tercurah limpahkan kepada manusia paling sempurna, Nabi Muhammad SAW yang dengannya Allah SWT menurunkan risalah ini sehingga sampai kepada kita.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Tentu, tanpa bantuan dari pihak-pihak tersebut, makalah ini tak akan rampung sebagaimana mestinya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kita semua.

Kemudian, permohonan maaf kami ucapkan kepada pembaca, dosen pengampu serta para mahasiswa atas kesalahan-kesalahan dalam makalah ini. Baik kesalahan huruf, kalimat, susunan kata, atau materi. Terlepas dari itu, kami berharap makalah ini bisa menjadi referensi tambahan dan memudahkan teman-teman dalam memahami materi-materi perkuliahan wawasan pergerakan islam.

Terakhir, kami memohon saran serta kritik yang membangun dari dosen, mahasiswa serta pembaca dalam rangka perbaikan makalah ini. Semoga langkah tersebut menjadi bekal bagi kami untuk membuat makalah yang lebih baik dikemudian hari.


BAB I

Pendahuluan

  1. Latar belakang

Salah satu yang menjadi pembahasan urgent dari mata kuliah komunikasi interpersonal adalah bahasan mengenai hubungan dalam skala antarpribadi. Jika lebih didetailkan, maka kita akan menemukan penjelasan tentang pengembangan hubungan serta perusakannya. Bagaimanapun, bahasan ini sering terjadi dikehidupan manusia.

Kadang kita merasa perlu untuk mengembangkan hubungan kita ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih dekat. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan kita, kita perlu memperhatikan kaidah dan teori-teori yang didasari oleh para ahli tentang pengembangan hubungan. Hal itu juga berlaku bagi perusakan hubungan.

Berangkat dari fakta tersebut, kami berusaha membuat makalah tentang pengembangan hubungan dan perusakan hubungan secara detail dari berbagai sumber dengan harapan mampu menjadi penjelasan yang mudah untuk dipahami khususnya oleh mahasiswa.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa maksud dari pengembangan hubungan?
  3. Bagaimana strategi pengembangan hubungan?
  4. Mengapa kita mengembangkan hubungan?
  5. Apa itu perusakan hubungan?
  6. Apa sebab-sebab perusakan hubungan?
  1. Tujuan makalah
  2. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah komunikasi interpersonal
  3. Memberi penjelasan singkat tentang hubungan
  4. Menjelaskan tentang pengembangan hubungan
  5. Menjelaskan tentang perusakan hubungan

 


BAB II

Pembahasan

  1. Pengertian Hubungan Dalam Komunikasi Interpersonal

Menurut kamus Longman pengertian hubungan ialah “The way in which two people or twu groups feel about each other and behave toward each other[1] (cara dua orang atau dua kelompok merasakam satu dan lainnya dan cara mereka bertingkah laku satu dan lainnya).

Pengertian hubungan merupakan sejumlah harapan yang dua orang miliki bagi perilaku mereka didasarkan pada pola interaksi antara mereka. (Littlejohn,2002). Hubungan antarpribadi dapat di definisikan sebagai serangkaian interaksi antara dua individu yang saling kenal satu sama lain (Duck dan Gilmour, 1981).[2] Sedangkan menurut Miller dan Steinberg (1975) hubungan antarpribadi adalah hubungan komunikasi meliputi prediksi timbal balik berdasarkan data psikologis.[3]

Hubungan yang baik adalah ketika interaksi-interaksi antara dua orang tersebut dapat memuaskan masing-masing pihak. Namun, hubungan yang baik tak tercipta begitu saja dan tidak juga tumbuh serta  terpelihara secara otomatis. Pada kenyataannya, seperti yang dikatakan oleh Canary dan Dainton (2002) bahwa kebanyakan orang yang berakal sehat tahu bahwa hubungan memerlukan usaha.[4] Bahasan selanjutnya akan menekankan tentang pengembangan hubungan dan perusakan hubungan dari sudut pandang kamunikasi interpersonal/antarpribadi.

  1. Pengembangan Hubungan
  1. Tinjauan mengenai proses pengembangan

Apabila kita berbicara tentang pengembangan hubungan antarpribadi, maka kita mengacu pada proses di mana manusia mengadakan kontak antara satu sama lain dan mendasarkan prediksi tentang perilaku komunikasi satu sama lain terutama pada data psikologis.[5] Kesempatan untuk mengadakan kontak jelas merupakan syarat bagi setiap pengembangan hubungan komunikasi. Di luar itu, intensitas serta konteks  komunikasi juga memiliki hubungan yang kuat terhadap hubungan-hubungan lainnya. Selain itu, pertukaran informasi antara keduanya sangat penting karena akan menjadi dasar bagi seseorang dalam menentukan bentuk hubungan yang mereka inginkan.

Menurut Miller dan Steinberg (1975) tiga ciri-ciri mengenai proses pengembangan yang harus dijelaskan karena hal tersebut seringkali menimbulkan kekacauan dan salah pengertian.[6]  Ketiga hal tersebut ialah;

Pertama, orang kadang-kadang lalai dalam mempertimbangkan sifat transaksi proses-proses ini. Dua orang paling sedikit berpartisipasi dalam transaksi dan masing-masing memainkan bagian yang penting. Sedangkan adakalanya bermanfaat untuk memahami mengapa seseorang memutuskan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, namun kita lebih tertarik untuk mempejari bagaimana dua orang mengadakan hubungan satu sama lain secara timbal balik. Untuk menggambarkan secara pragmatis, jika seseorang ingin menciptakan hubungan antarpribadi dengan orang lain, tidak cukup hanya dengan melihat kepentingan dirinya dengan orang itu, namun akan sangat bermanfaat baginya untuk mengetahui apa yang menjadi daya tarik dirinya di mata pihak lain, agar ia bisa memaksimalkan pertukaran mengenai imbalan hubungan. [7]

Kedua, pengembangan hubungan sangatlah kompleks. Proses tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dengan mempelajari satu atau dua variable. Bagian dari proses itu mungkin bersifat kognitif: orang dengan sadar atau sengaja memutuskan untuk membangun hubungan bersama. Teman sekamar misalnya, sebelum bertemu satu sama lain demi keuntungan dan kebaikan, mereka sudah akan berkomunikasi, harus dibedakan antara komunkasi antarpribadi. Proses-proses emosional bisa memberikan dorongan awal, ketika orang jatuh cinta. Komunikasi antarpribadi akan terjadi saat itu, tanpa masing-masing mengambil keputusan apa-apa. Tapi factor-faktor ini tak dapat mempertahankan hubungan jika tak ada saling pengertian, tidak dapat mencapai akurasi dalam komunikasi atau tidak mampu membangun pola-pola kendali secara timbale balik. Selanjutnya, semua hubungan komunikasi berkembang dalam lingkungan sosial.[8]

Namun, tiap pengalaman orang dengan orang lain memengaruhi alasan-alasan mengapa ia membangun hubungan, imbalan macam apa yang ia harapkan dari hubungan tersebut dan terutama penilaiannya mengenai hubungan tersebut.[9]

Ketiga, setiap pendekatan pada pengembangan hubungan harus dibedakan antara kondisi dan proses pengembangan antarpribadi dan non-antarpribadi. Misalnya, menurut konsepsi kita mengenai komunikasi antarpribadi, kebanyakan apa yang biasa dianggap sebagai daya tarik antarpribadi harus digolongka sebagai non-antarpribadi. Kalau dikatakan mencintai seseorang karena fisiknya merupakan contoh daya tarik antarpribadi agaknya tidak konsisten dengan konseptualisasi kita. Anda memilih orang cantik atau ganteng dari golongan atau kelas manusia di mana kultur anda mendefinisikan cantik dan ganteng (subjektif). Akibatnya, bahwa daya tarik bukan lagi bersifat antarpribadi tetapi sosialogis.[10]

  1. Alasan-Alasan untuk Pengembangan Hubungan

Ada empat alasan yang umumnya dugunakan orang yang mengembangkan hubungan;

  1. Mengurangi Kesepian

Adakalanya, seseorang merasa kesepian karena secara fisik ia sendirian, walaupun kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Kali lain kita merasa kesepian walaupun ditengah-tengah khalayak ramai karena mungkin kita punya kebutuhan yang terpenuhi akan kontak yang dekat dan akrab – kadang secara fisik, kadang emosioanal, lebih sering keduanya.[11]

  1. Mendapat Rangsangan

Manusia  merupakan gabungan dari banyak dimensi yang berbeda-beda dan semua dimensi tersebut membutuhkan stimulasi. Kita adalah makhluk intelektual, sehingga kita butuh stimulasi intelektual, misalnya dengan belajar di kelas, diskusi, debat dan kegiatan semacamnya yang akan meningkatkan dan mempertajam dimensi intelektual kita.[12]

  1. Mendapat Pengetahuan-Diri

Sebagian orang mempelajari dirinya dari orang lain. Dalam diskusi mengenai kesadaran diri telah dijelaskan bahwa kita melihat diri sendiri sebagian dari persepsi orang lain. Jika kawan-kawan kita menilai kita sebagai orang yang hangat dan pemurah, bisa jadi kita pun akan menilai demikian terhadap diri kita. Persepsi diri kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini dipikirkan oleh orang lain tentang kita.[13]

  1. Memaksimalkan Kesenangan, Meminimalkan Penderitaan.

Alasan yang paling umum tentang membina hubungan adalah demi memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan. Kita mungkin perlu berbagi rasa dengan orang lain tentang kebahagiaan maupun penderitaan yang kita alami, baik secara fisik maupun secara emosional.[14]

  1. Memprakarsai Hubungan : Jumpa Pertama

Barangkali, aspek paling sukar namun juga paling penting dalam pengembangan hubungan adalah permulaannya. Bertemu dengan seseorang, menampilkan diri sendiri lalu berusaha beralih ke tahap yang lebih tinggi merupakan hal yang sukar.  Menurut Murray Davis dalam Intimate Relations (1973), jumpa pertama terdiri dari enam tahap, yaitu;

  1. Meneliti Kualitas

Kualitas merupakan hal pertama yang menarik orang untuk berhubungan. Kualitas secara fisik yang nampak seperti penampilan, maupun tak tersembunyi seperti kepribadian.

  1. Melihat Lampu Hijau

Jika kualitas telah cocok, selanjutnya kita perlu melihat ‘lampu hijau’ dari kenalan baru kita. Maksudnya adalah, apakah hubungan kita dengannya bisa berlanjut tanpa ada hambatan.

  1. Membuka Perjumpaan

Davis menyarankan agar mencari dua hal, pertama, mencari topik yang menarik lawan bicara kita, kedua, carilah isyarat bahwa orang tersebut siap untuk perjumpaan yang lebih panjang.

  1. Topik yang Memadukan

Maksudnya adalah topik yang anda dan partner anda sukai. Selain itu, topik yang anda bahas akan membantu anda untuk menyatu. Umumnya, topik ini didapat dari analisis atas informasi ‘gratis’ dan dari pertanyaan maupun jawaban anda berdua. Informasi ‘gratis’ maksudnya adalah informasi tentang orang tersebut yang anda dapat selama percakapan berlangsung.

  1. Ciptakan citra yang menyenangkan

Langkah selanjutnya adalah anda harus membuat citra pribadi anda yang kira-kira akan membuat pertner anda tertarik atau terpikat. Sehingga membuat orang tersebut berpikiran untuk melanjutkan pertemuan dilain waktu.

  1. Rencanakan Pertemuan yang kedua

Jika kedua belah pihak telah merasa cocok, hal terakhir yang perlu dilakukan untuk mengembangkan hubungan adalah menentukan pertemuan kedua. Pertemuan tersebut bisa bersifat umum atau khusus.[15]

Selanjutnya, berikut ini disajikan beberapa secara khusus yang dapat diterapkan pada perjumpaan pertama yang bersifat non-verbal dan verbal.

a). Perjumpaan Non-Verbal

  • Ciptakan kontak mata
  • Senyum dan isyaratkan minat anda serta tanggapan positif secara non-verbal
  • Pusatkan perhatian namun jangan sampai membuat orang tersebut tidak nyaman
  • Ciptakan kedekatan fisik atau dekati
  • Peliharalah postur yang terbuka atau mengisyaratkan keterbukaan akan interaksi
  • Beri tanggapan yang nyata dan jelas
  • Kukuhkan perilaku yang positif
  • Hidari sikap yang berlebihan[16]

b). Perjumpaan Verbal

  • Perkenalkan diri anda
  • Pusatkan percakapan tentang partner baru anda
  • Beri pujian atau dukungan
  • Tunjukkan semangat
  • Tekankan hal positif
  • Hindari pengungkapan diri yang negatif atau terlalu akrab
  • Carilah kesamaan.[17]
  1. Model-Model Pengembangan Hubungan
  2. Knapp’s Relationship Escalation Model

Yaitu model pengembangan hubungan yang terdiri dari beberapa tahap;

  • Sebelum mengenal satu sama lain lalu langsung tertarik. Pada tahap ini, masing-masing pihak berusaha membuat kesan pertama yang kekal.
  • Setelah itu, keduanya ingin lebih mengenal satu sama lain. Mereka berbagi hal-hal yang disukan dan tidak disukainya juga mencari hal-hal yang menarik bagi partnernya. Hasil dari tahap ini bisa jadi dua hal yakni ; pertama, antara keduanya merasa cocok dan memutuskan melanjutkan hubungan. Kedua, tidak merasa cocok sehingga mereka memutuskan hubungan.
  • Jika keduanya merasa cocok, mereka akan berupaya untuk menguatkan hubungan. Misalnya dengan membuat komitmen bersama dan bersiap menuju hubungan yang panjang.
  • Tahap selanjutnya dimulai ketika mereka mulai melakukan suatu kegiatan bersama-sama. Misalnya makan malam bersama, belanja bersama dll.
  • Terakhir adalah mereka memutuskan untuk memiliki ikatan.[18]
  1. Knapp’s Relationship Termination Model

Yaitu model pengembangan hubungan yang tak dengan komunikasi efektif dan terjadi kesalahpahaman yang menimbulkan konflik. Hubungan yang stagnan dapat diidentifikasi jika kedua belah pihak saling menghindar.[19]

  1. Duck’s Relationship Filtering Model

Seperti namanya, model ini memiliki beberapa filter yaitu; jarak, persepsi dan penampilan fisik.[20]

 

  1. Perusakan hubungan

Separuh lain dari pengembangan hubungan adalah perusakan-menurunnya hubungan dan kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan (Duck, 1982). Disini kita mengamati hakikat dari perusakan hubungan, beberapa sebab utamanya, serta perubahan komunikasi yang terjadi selama perusakan hubungan.[21]

  1. Hakikat perusakan hubungan

            Yang dimaksud perusakan hubungan adalah melemahnya ikatan yang mempertalikan orang bersama. Perusakan hubungan dapat terjadi secara berangsur atau mendadak, sedikit demi sedikit ekstrim.

  1. Perusakan Berangsur dan Mendadak.

Proses perusakan dapat terjadi berangsur atau mendadak.Murray Davis (1973), dalam intimate relations, menggunakan istilah passing away untuk perusakan berangsur dan sudden death untuk perusakan yang mendadak. Contoh perusakan berangsur (passing away) terjadi bila salah satu pihak mengembangkan hubungan dekat dengan pacar baru dan hubungan ini perlahan-lahan menyingkirkan pacar lama.

  1. Beberapa manfaat putusnya hubungan.

Adakalanya suatu hubungan mungkin tidak produktif bagi salah satu atau kedua belah pihak, dan pemutusan hubungan sering kali merupakan hal yang terbaik. Pemutusan hubungan seperti ini dapat memberikan waktu bagi kedua pihak untuk memperoleh kembali kemandirian dan kebebasan mereka.[22]

  1. Beberapa sebab perusakan hubungan.

Sebab-sebab rusaknya hubungan sama banyak dengan jumlah orang terlibat di dalamnya. Tetapi, kita dapat menyebutkan beberapa sebab utama. Kita mulai dengan melihat beberapa alasan perkembangan hubungan dan mengamati bagaimana perubahan-perubahan pada faktor-faktor ini dapat menyebabkan perusakan hubungan.

a. Alasan-alasan untuk membina hubungan telah meluntur.

Bila alasan kita untuk membina hubungan berubah secara drastis, hubungan itu dapat menjadi rusak. Sebagai contoh, bila kesepian tidak lagi berkurang, hubungan mungkin menuju kehancuran.

b. Hubungan pihak ketiga.

Hubungan dibina dan dipelihara sebagian besar karena di dalamnya, kesenangan menjadi maksimal dan penderitaan menjadi minimal. Bila hal ini tidak lagi terjadi, kecil harapan hubungan itu dapat bertahan.

c. Perubahan sikap hubungan.

Perubahan sifat hubungan pada salah satu atau kedua belah pihak dapat mendorong rusaknya hubungan. Perubahan psikologis seperti perkembangan minat intelektual yang berbeda atau sikap yang tidak besesuaian dapat menimbulkan masalah hubungan.

d. Harapan yang tak terkatakan.

Adakalanya konflik kelihatannya menyangkut soal-soal “remeh”. Siapa yang harus mencici piring dan siapa yg harus mencuci pakaian? Siapa yang harus memasak? Siapa yang akan memakai mobil baru dan siapa yg akan memakai mobil lama? Bagi orang luar masalah-masalah ini tampaknya tidak penting, tetapi ingatlah bahwa dalam konflik ini soal isi (content) bukanlah hal yang pokok.

e. Seks.

Sedikit sekali hubungan seksual yang bebas dari masalah. Menurut Blumstein dan Schwaartz (1963), masalah seksual menduduki tiga besar dalam peringkat masalah yang sering kali di jumpai dalam penelitian terhadap pasangan suami istri baru.

Ketidakbahagiaan dengan pekerjaan sering kali menimbulkan kesulitan hubungan. Riset oleh Philiph Blumstein dan Pepper Schwartz (1983). Menunjukkan bahwa orang tidak bisa memisahkan masalah di tempat kerja dengan hubungan mereka.

f. Masalah Keuangan.

Dalam survei tentang masalah yang dialami pasangan-pasangan, masalah keuangan rupanya cukup mengancam. Uang barangkali merupakan topik yang baru dibicarakan pada tahap-tahap awal suatu hubungan.

Bila suatu hubungan memperhatikan tanda-tanda memburuk tetapi masih ada komitmen kuat pada kedua pihak untuk mempertahankannya, mereka akan mengatasi hambatan dan memperbaiki keadaan.

g. Komitmen keuangan.

Komitmen terkait erat dengan pertimbangan keuangan. Di satu pihak, hanya setelah kedua pihak mengembangkan komitmen yang kuatlah baru mereka bersedia menggabungkan sember daya keuangan mereka.

h. Komitmen waktu.

Komitmen juga dapat didasarkan atas investasi waktu. Orang mungkin merasa bahwa karena telah hidup bersama selama 10 atau 15 tahun, waktu selama ini akan sia-sia jika mereka harus mengakhiri hubungan.

i. Komitmen Emosional.

Adakalanya komitmen didasarkan pada investasi emosional. Orang mungkin merasa bahwa mereka telah banyak menghabiskan energi emosional untuk membina hubungan sehingga sulit bagi mereka untuk memutuskannya begitu saja.[23]

3.      Komunikasi dalam Kerusakan Hubungan

Kerusakan hubungan ditandai dengan pola komunikasi sebagai berikut:

  • Penolakan (Withdrawal)

Secara nonverbal, ruang pribadi semakin besar; berkurangnya sentuhan dan kontak mata; berkurangnya kesamaan serta menghindari penggunaan barang yang berhubungan dengan pasangan (Miller &  Parks, 1982; Knapp & Vangelisti, 2009). Hal ini juga termasuk menghindari percakapan, terutama keinginan untuk mendengarkan.

  • Menutup diri (Decline in self-disclosure)

Mengurangi penyingkapan diri terhadap pasangan dilakukan karena kita memandang pasangan tak lagi mampu menerima kita apa adanya, tidak mendukung maupun empati.

  • Pengingkaran/pembohongan (Deception)

Berkembang sebagai akhir/hancurnya hubungan. Pisah tempat, tidak berkabar bahkan memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan lain (bisa jadi dengan orang lain) yang tidak berhubungan dengan pasangan. Kebohongan juga digunakan untuk menutupi rasa malu karena tidak ingin dipandang rendah.

  • Pesan positif dan negatif (Positive and Negative messages)

Pada hubungan yang sedang bermasalah, intensitas pesan negatif semakin meningkat seiring dengan berkurangnya pesan positif. Memuji beralih menjadi kritikan. Perilaku dalam hubungan pada dasarnya tidak berubah, namun cara pandang terhadap perilaku tersebutlah yang berubah. Kebiasaan yang dulu dimaklumi dan dianggap lucu kini menjadi menyebalkan. Permintaan terhadap perilaku menyenangkan seperti “Tolong ambilkan handukku” semakin berkurang, sebaliknya tuntutan agar pasangan mengurangi perilaku yang tidak menyenangkan semakin meningkat, seperti “Hentikan memakai handukku untuk mengelap tanganmu!” (Lederer, 1984). Bahkan dalam kondisi hubungan yang bermasalah, pesan positif cenderung disampaikan secara negatis. Misalnya, “Aku ingin secangkir kopi untuk sarapanku, sayang” disampaikan ,” Mana kopiku, aku sudah terlambat!”.[24]

BAB III

Penutup

  1. Kesimpulan

Dari bahasan dalam makalah ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengembangan hubungan didasari oleh alasan-alasan logis terkait kepentingan kita. Akan tetapi, dalam mencapai tujuan, ada tahap-tahap yang perlu dilalui oleh kedua belah pihak.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Morissan, Teori komunikasi, dari individu hingga massa, (Kencana, 2013)

Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem, Teori kominikasi Antarpribadi (Kencana, 2011)

Joseph A Devito, Komunikasi Antarmanusia, (Karisma publishing group, 2011)

Internet

http://managementstudyguide.com/interpersonal-relationship-development.htm

http://dokumen.tips/download/link/tugas-kelompok-2-relationship-development-and-deterioration,

Footnote

[1] Longman, Dictionary of contemporary English, dalam Morissan, Teori komunikasi, dari individu hingga massa, Kencana, 2013, hal. 281

[2] Muhammad Budyatna dan Leila Mona Ganiem, Teori kominikasi Antarpribadi, Kencana, 2011, hal. 36

[3] Ibid, hal. 44

[4] Ibid, hal. 36

[5] Ibid, hal. 44

[6] Ibid, hal. 44-45

[7] Ibid, hal 45

[8] Ibid, hal. 46

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Joseph A Devito, Komunikasi Antarmanusia, Karisma publishing group, 2011, hal 268

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Diambil dari http://managementstudyguide.com/interpersonal-relationship-development.htm, pukul 17:12 tgl 25 sept 2016

[19] Ibid

[20] Ibid

[21] Op Cit, Josept A Devito, hal 273

[22] Ibid

[23] Ibid

[24] Diambil dari http://dokumen.tips/download/link/tugas-kelompok-2-relationship-development-and-deterioration, pukul 17:49 selasa 11 Okt 2016

MAKALAH “METODOLOGI PENELITIAN”

MAKALAH

 

 MACAM-MACAM METODELOGI PENELITIAN

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Metodelogi Penelitian”

Dosen Pengampu  Drs. Mahmudi

logo stail.jpg 

Disusun Oleh: 

  1. Faruq
  2. Fandi Waluyo
  3. Arjun

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL-HAKIM

PONPES HIDAYATULLAH SURABAYA

T.A2016-2017

KATA PENGANTAR

            Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita kesempatan, kesehatan, waktu luang serta fasilitas sehingga kami mampu merampungkan makalah ini tanpa ada kesulitan yang berarti. Salam serta shalawat kepada suri tauladan sekaligus nabi terakhir yang diutus untuk seluruh manusia, Muhaammad SAW. Yang telah berjuang maksimal demi agama Islam ini.

Makalah ini kami buat sebagai pemenuhan tugas mata kuliah ‘Meodelogi Penelitian’ di kampus STAIL. Ucapan terimakasih kami haturkan kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam pembuatan makalah ini.

  • Kepada Bapak Drs. Mahmudi, terima kasih atas bimbingannya
  • Kepada pengurus Perpusda, terima kasih atas buku-bukunya
  • Kepada teman-teman STAIL, terima kasih telah mendukung pembuatan makalah ini

Tentunya, tanpa bantuan dan peranan seluruhnya, pembuatan makalah ini tak akan berjalan sebagaimana mestinya. Semoga Allah membalas kebaikan kita semua. Amiin.

Namun, sebagai manusia yang tak terlepas dari kesalahan, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan, baik itu ejaan, kekurangan huruf, kesalahan kalimat, ataupun format dll. Untuk itu, saran serta kritik yang membangun  sangat kami harapkan sebagai pertimbangan pembuatan makalah selanjutnya.

Terlepas dari itu semua, besar harapan kami, makalah ini dapat membantu dalam perkuliahan ‘metodelogi penelitian’ sebagai referensi bagi teman-teman mahasiswa maupun dosen. Sekian.

 

 

 

DAFTAR ISI

 BAB I  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan

 

BAB II  PEMBAHASAN

  1. Metode Penelitian
  2. Sekilas tentang metode penelitian

 

  1. Jenis-Jenis Penelitian
  2. Berdasarkan bidang penelitian
  3. Berdasarkan tujuan penelitian
  4. Berdasarkan metode penelitian
  5. Berdasarkan tingkat ekplanasi penelitian
  6. Berdasarkan waktu penelitian

 

  1. Macam-Macam Metode Penelitian
  2. Macam-Macam Metode Penelitian Kuntitatif
  3. Macam-Macam Metode Penelitian Kualitatif

 

BAB III  PENUTUP

  1. KESIMPULAN

 

 

 

 

 

 

BAB I

Pendahuluan

  1. Latar belakang

Sebagai mata kuliah, metodelogi penelitian sangat penting untuk menjadi rujukan para mahasiswa dalam melakukan penelitian di semester akhir, yaitu pembuatan skripsi. metodelogi penelitian menjadi pijakan bagi calon sarjana untuk mengembangkan penelitian mereka, sehingga jadilah mata kuliah ini teramat menentukan model skripsi sebagai tugas akhir sarjana S1.

Salah satu yang perlu didalami oleh mahasiswa adalah bahasan mengenai macam-macam metode penelitian yang menjadi focus bahasan pada makalah kami. Itulah sebabnya kami berusaha membuat makalah ini semaksimal yang kami bisa.

Semoga makalah ini bisa memberi penjelasan kepada kita semua terkait macam-macam metode penelitian sebagaimana yang diharapkan.

  1. Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu ;

  • Apa sajakah macam-macam metode penelitian kualitatif?
  • Apa sajakah macam-macam metode penelitian kuantitatif?
  • Apa perbedaan antara macam-macam metode penelitian?
  • Apa kelebihan serta kekurangan antara masing-masing metode penelitian?

 

  1. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini yakni;

  • Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah metodelogi penelitian
  • Sebagai bahan referensi mata kuliah metodelogi penelitian
  • Menjelaskan macam-macam metode penelitian

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

A. Metode Penelitian

  1. Sekilas tentang metodelogi penelitian

Pengertian metode, berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau menuju suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya (Rosdy Ruslan,2003:24).

Sedangkan pengertian penelitian, diantaranya :

Research is a systematic attempt to provide answer to questions. Such answer may be abstract and general as is often the case in basic research or they may be highly concrete and specific as is often the case in applied research. ( Tuckman 1978 : 1)[1]

Berdasarkan definisi di atas secara sederhana dapat dikatakan bahwa penelitian merupakan cara-cara yang sistematis untuk menjawab masalah yang sedang di teliti. Kata sistematis merupakan kata kunci yang berkaitan dengan metode ilmiah yang berarti adanya prosedur yang ditandai dengan keteraturan dan ketuntasan.[2] Secara lebih detail, davis (1985) memberikan karakteristik suatu metode ilmiah sebagai berikut:

  • Metode harus bersifat kritis dan analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat dan benar untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk masalah tersebut.[3]
  • Metode harus bersifat logis, yaitu adanya metode yang digunakan untuk memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional didasarkan pada bukti-bukti yang tersedia.[4]
  • Metode bersifat obyektif, yakni obyektivitas itu menghasilkan penyelidikan yang dapat di contoh oleh ilmuan lain dalam studi dan kondisi yang sama.[5]
  • Metode harus bersifat konseptual dan teoritis; oleh karena itu, untuk mengarahkan proses penelitian yang dijalankan, peneliti membutuhkan pengembangan konsep dan struktur teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.[6]
  • Metode bersifat empiris, yaitu metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.[7]

 

  1. Jenis-Jenis Penelitian

Terdapat banyak jenis penelitian, antara lain;

  1. Berdasarkan bidang penelitian
  • Akademis
  • Professional
  • Institusional
  1. Berdasarkan tujuan penelitian
  • Murni
  • Terapan
  1. Berdasarkan metode penelitian
  • Survey
  • Expostfacto
  • Eksperiment
  • Naturalistic
  • Policy research
  • Action research
  • Evaluasi
  • Sejarah
  • R & D
  1. Berdasarkan tingkat ekplanasi penelitian
  • Deskriptif
  • Komparatif
  • Asosiatif
  1. Berdasarkan waktu penelitian
  • Cross sectional
  • Longitudinal

Selain itu, metode penelitian juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan dan tingkat kealamiahan.[8]

 

  1. Macam-macam metode penelitian

Penelitian pada dasarnya merupakan suatu pencarian (inquiry), menghimpun data, mengadakan pengukuran, analisis, sintesis, membandingkan, mencari hubungan dan menafsirkan hal-hal yang bersifat teka-teki.[9]

Banyak metode penelitian atau model rancangan penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian bidang sosial dan pendidikan. Mcmillan dan Schumacher (2001) memulai dengan membedakannnya antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dalam pendekatan kuatitatif, dibedakan pula antara penelitian eksperimental dan non-eksperimental. Demikian pula dalam penelitian kualitatif, dibedakan antara kualitatif interaktif dan non-interaktif.[10]

  1. Macam-macam metode penelitian kuantitatif

Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivism yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi ojektifitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistic, struktur dan percobaan terkontrol.[11]

Orang yang berjasa dalam pengembangan filsafat positivistic diantaranya ialah August Comte (1798-1857). Perkembangan berikutnya positivistic mendominasi filsafat ilmu pengetahuan terutama pada awal abad ke 20 an.[12]

Menurut aliran posivistik, khususnya ilmu pengetahuan kealaman, harus memiliki dua kriteria penting yaitu ekplanatori dan prediktif. Kriteria ekplanatori berkaitan dengan penjelasan sedangkan kriteria prediktif berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Artinya, hasil suatu penelitian mempunyai daya ramal yang tinggi.[13]Berdasarkan dua criteria tersebut, maka semua ilmu pengetahuan harus memiliki sifat-sifat tertentu;

  1. Objektif, artinya teori-teori tentang semesta haruslah menjelaskan apa adanya yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun sehingga sifatnya harus bebas nilai.[14]
  2. Fenomenalisme, yaitu ilmu pengetahuan hanya bicara tentang sesuatu yang dapat diamati atau dapat diindra atau berdasarkan data.[15]
  3. Reduksionisme, artinya segala sesuatu, yakni data yang ditemukan mesti dapat direduksi menjadi fakta-fakta yang jelas, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan.[16]
  4. Naturalism, artinya alam semesta itu adalah objek-objek yang bergerak secara mekanis dan tetap berdasarkan hokum-hukum tertentu.[17]

Ada beberapa macam metode penelitian yang termasuk dalam penelitian kuantitatif yang bersifat non-eksperimental, yaitu metode; deskriptif, survey, eksposfakto, komparatif, kolerasional, dan penelitian tindakan.[18]

  1. Deskriptif

Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau yang telah lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya.[19]

Contoh pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan penelitian deskriptif antara lain, Bagaimana sikap penduduk yang tinggal di pegunungan terhadap kemoderenan?, Berapa jam rata-rata para siswa belajar secara mandiri? Dll.

Penelitian ini tidak hanya bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, namun juga mendeskripsikan keadaan pada tahapan-tahapan perkembangannya atau penelitian perkembangan (developmental studies). Contohnya yaitu perkembangan pendidikan di sebuah desa; sebelum ada sekolah, setelah ada sekolah, sebelum dan setelah pergantian metode pembelajaran, dan sebagainya.

Dalam penelitian perkembangan, ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau potongan waktu/ satu tahapan saja.

  1. survey

Penelitian model ini digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah besar orang terhadap topic atau isu-isu tertentu. Ada tiga karakteristik utama dari survey: a) informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu, seperti; kemampuan, sikap, kepercayaan, pengetahuan dari populasi, b)dikumpulkan mealui pengajuan pertanyaan (umumnya tertulis walaupun bisa juga lisan) dari suatu populasi, c) informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi.[20]

Tujuan utama dari survey adalah mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi. Pada dasarnya yang ingin dicari peneliti adalah bagaimana anggota dari suatu populasi tersebar dalam satu atau lebih variabel, seperti usia, etnis, jenis kelamin, agama dll. Seperti halnya metode deskriptif, survey juga ada yang bersifat longitudinal dan cross sectional.

  1. Ekspos Fakto (exspost facto research)

Penelitian ini meneliti hubungan sebab-akibat yang tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan (dirancang dan dilaksanakan) oleh peneliti. Penelitian hubungan sebab-akibat dilakukan terhadap program, kegiatan atau kejadian yang telah berlangsung atau telah terjadi. Adanya hubungan sebab-akibat didasarkan atas kajian teoritis, bahwa suatu variabel disebabkan atau dilatarbelakangi oleh variabel tertentu atau mengakibatkan variabel tertentu. Umpamanya pelatihan meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para peserta, gizi yang cukup pada waktu ibu hamil menyebabkan bayi sehat, koperasi yang sehat dapat meningkatkan kesejahteraan para anggota-anggotanya.[21]

Penelitian ekspos fakto mirip dengan penelitian eksperimen, tetapi tanpa ada pengontrolan variabel dan biasanya juga tak ada pra tes. Penelitian ini dapat dilakukan dengan baik dengan menggunakan kelompok pembanding. Kelompok pembanding yang dipilih harus memiliki karakteristik yang sama tetapi melakukan kegiatan program atau kejadian yang berbeda. Missal, sejumlah keluarga yang memiliki ekonomi sama, kelompok satu sangat memerhatikan gizi bayi mereka, sedang kelompok pembandingnya tidak terlalu peduli dengan gizi bayi mereka. jika bayi dari keluarga yang perhatian terhadap gizi lebih sehat dari bayi dari keluarga yang tidak peduli terhadap gizi bayi mereka, maka dapat diperkirakan penyebabnya adalah masalah gizi.

  1. Penelitian Komparatif

Penelitian macam ini ditujukan untuk mengetahui apakah antara dua atau lebih dari dua kelompok ada perbedaan dalam aspek atau veriabel yang teliti. Dalam penelitian ini tak ada pengontrolan variabel maupun manipulasi/perlakuan dari peneliti. Penelitian dilakukan secara alamiah, peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan instrument yang bersifat mengukur. Hasilnya dianalisis secara statistic untuk mencari perbedaan antar variabel-variabel yang diteliti. Penelitian ini juga dapat memberikan hasil yang terpercaya, selain karena menggunakan instrument yang sudah diuji, juga karena kelompok-kelompok yang dibandingkan memiliki karakteristik yang sama ataupun hamper sama.[22]

  1. Penelitian Korelasional

Tujuan penelitian model ini ialah mencari hubungan suatu variabel dengan variabel-variabel lain. Hubungan antara satu dengan beberapa variabel lain dinyatakan dengan besarnya koefisien korelasi dan keberartian (signifikansi) secara statistic. Adanya korelasi antara dua veriabel atau lebih, tidak berarti adanya pengaruh atau hubungan sebab-akibat dari satu veriabel terhadap veriabel lainnya. Korelasi positif berarti nilai yang tinggi dalam suatu variabel berhubungan dengan nilai yang tinggi pada veriabel lainnya. Korelasi negative berarti nilai yang tinggi dalam satu variabel berhubungan dengan nilai yang rendah dalam veriabel lain.[23]

Penelitian korelasi berbeda dengan penelitian eksperimen. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan dan proses penelitiannya. Kalau pada eksperimen, tujuan yang hendak ditemukan adalah ada atau tidaknya pengaruh suatu perlakuan terhadap sesuatu atau biasa dikatakan pengaruh ‘x’ terhadap ‘y’. Sedangkan penelitian korelasi lebih kepada pertanyaan “apakah kenaikan variabel ‘x’ juga diikuti kenaikan veribel ‘y’ atau sebaliknya?”. Contoh, penelitian tentang kebiasaan membaca (variabel X) dengan prestasi belajar (variabel Y). Apakah ada peningkatan antara semakin sering membaca dengan prestasi belajar?

  1. Penelitian tindakan (action research)

Penelitian tindakan bertujuan pada pemecahan masalah atau pebaikan. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan penelitian tindakan.[24] Contoh penelitian ini antara lain; para guru yang mengadakan pemecahan masalah yang terjadi di dalam kelas, atau kepala sekolah yang melakukan perbaikan manajemen sekolah.

Penelitian tindakan juga biasa dilakukan dengan meminta bantuan para ahli. Penelitian tindakan seperti ini diklasifikasikan sebagai penelitian tindakan kolaboratif (collaborative action research) {Oja & Sumarjan, 1989, Stinger, 1996}. Penelitian tindakan kolaboratif selain diarahkan kepada perbaikan proses dan hasil, juga bertujuan meningkatkan kemampuan para pelaksana, sebab penelitian kolaboratif merupakan bagian dari program pengembangan staf.

 

  1. Penelitian dan pengembangan (research and development)

Penelitian dan pengembangan merupakan metode untuk mengembangkan dan mengkaji suatu produk (Borg, W.R & Gall, M.D. 2001). Metode ini banyak digunakan di dunia industry demi mengevaluasi dan menyempurnakan produk-produk mereka. biasanya juga untuk mengembangkan produk baru.[25]Dalam bidang pendidikandapat digunakan untuk mengembangkan buku, modul, media pembelajaran, kurikulum, evaluasi, manajemen, pembinaan staf dll.

Secara garis besar, ada tiga tahapan penelitian dan pengembangan. Pertama, studi pendahuluan, yaitu mengkaji teori dan mengamai produk atau kegiatan yang ada, kedua, melakukan pengembangan produk atau program kegiatan baru, dan ketiga, menguji atau memvalidasi produk atau proggam kegiatan baru.

  1. Eksperimen

Eksperimen adalah metode peneltian yang bertujuan untuk menjelaskan dan meramalkan yang akan terjadi pada suatu variabel manakala diberikan suatu perlakuan tertentu pada variabel lainnya. Ada beberapa ciri dalam penelitian eksperimen.[26]

Pertama, eksperimen berhubungan dengan populasi dan sampel penelitian. Artinya perlakuan yang diberikan baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok control adalah pada sejumlah anggota sampel (bagian dari populasi) yang ditarik dengan tehnik sampling tertentu sehingga anggota sampel tersebut bersifat representative atau menyimpulkan seluruh anggota populasi.

Kedua, eksperimen juga berkaitan dengan hipotesis. Artinya, sebelum mengolah data, peneliti mengajukan hipotesis, selanjutnya data diolah untuk menerima atau menolah hipotesis tersebut. Dengan demikian, hipotisis mutlak harus dirumuskan dalam eksperimen.

Ketiga, eksperimen berkaitan dengan penelitian yang diarahkan untuk melihat ada tidanya pengaruh perlakuan (variabel x/variabel bebas) terhadap variabel ‘y’ atau variabel terikat.

  1. Macam-macam metode penelitian kualitatif

Penelitian Kualitatif (Qualitative research) adalah suatu penelitian yang bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi atau pemikiran orang secara individual maupun kelompok.

Pijakan penelitian kualitative adalah naturalistic dan antara peneliti dan yang di teliti bersifat interaktif, tidak bisa dipisahkan, suatu kesatuan terbentuk secara simultan dan bertimbal balik, tidak mungkin memisahkan sebab-akibat, dan penelitian ini melibatkan nilai-nilai.

Tujuan kualitatif memiliki dua tujuan, yaitu menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain).

Ada lima macam metode kualitatif interaktif yaitu:

  1. Studi Etnografik ( Ethnograpic Studies)

Studi Etnografik mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok sosial atau sistem. Meskipun makna budaya itu sangat luas tetapi studi etnografik biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiatan, bahasa, kepercayaan, ritual, dan cara-cara hidup. Proses penelitian etnografik dilaksanakan di lapangan dalam waktu yang cukup lama, bentuk observasi dan wawancara secara alamiah dengan cara partisipan, dalam berbagai bentuk kesempatan kegiatan, serta mengumpulkan dokumen-dokumen dan benda-benda (artifak).

Hasil akhir penelitian bersifat komperensif, suatu naratif deskriptif yang bersifat menyeluruh di sertai interpretasi yang mengitegrasikan seluruh aspek-aspek kehidupan dan menggambarkan kompleksitas kehidupan tersebut.[27]

 

  1. Studi Historis (Historical Studies)

Studi Historis meneliti peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Peristiwa-peristiwa sejarah direka-ulang dengan menggunakan sumber data primer berupa kesaksian dari pelaku sejarah yng masih ada, kesaksian tak sengaja yang tidak dimaksudkan untuk disimpan, sebagai catatan atau rekaman, seperti peninggalan-peninggalan sejarah, adan kesaksian sengaja berup catatan dan dokumen-dokumen. Penelitian historis menggunakan pendekatan, metode dan materi yang mungkin sama dengan penelitian etnografis, tetapi dengan fokus, tekanan dan sistematika berbeda. Beberapa peneliti juga menggunakn pendekatan dan metode ilmiah (positivistis) seperti mengadakan pembatasan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan dan analisis data, uji hipotesis dan generalisasi walaupun sudah tentu dalam keterbatasan waktu: kegiatan, peristiwa, karakteristik, nilai-nilai, kemajuan bahkan kemunduran, dilihat dan dikaji dalam konteks waktu.[28]

 

  1. Studi Fenomenologis (Phenomenological Studies)

Fenomenologi mempunyai dua makna, sebagai filsafat sains dan sebagai metode pencarian (penelitian). Studi fenomenologis mencoba mencari arti dari pengalaman dalam kehidupan. Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian, sikap, penilaian dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman-pengalaman dalam kehidupan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari atau menemukan makna dari hal-hal yang esensial atau mendasar dari pengalaman hidup tarsebut.

Penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam yang lama dengan partisipan wawancara diarahakan pada pemahaman tentang persepsi dan sikap-sikap informan terhadap pengalaman hidupnya sehari-hari.[29]

 

  1. Studi Kasus (case studies)

Merupakan Penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem’’. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.

 

  1. Teori Dasar (grounded theory)

Merupakan penelitian yang diarahkan pada penemuan atau minimal menguatkan terhadap suatu teori. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif memberikan deskripsi yang bersifat terurai, tetapi dari deskripsi tersebut diadakan abstraksi atau inferensi sehingga diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang mendasar yang membentuk prinsip, dalil atau kaidah-kaidah. Penelitian ini dilaksanakan dengan berbagai tehnik pengumpulan data, diadakan cek ricek kelapangan, studi perbandingan antar kategori, fenomena dan situasi melalui kajian induktif, deduktif dan verifikasi samapi pada titk jenuh.[30]

 

  1. Studi Kritis

Ada hal yang mendapat perhataian  dalam penelitian kritis:

Pertaama, penelitian kritis tidak bersifat deskrit, meskipun masing-masing punya implikasi metodelogis. Model studinya berbeda dalam tujuan, peranan teori, tehnik pemgumpulan data, peranan peneliti, format laporan dan narasinya, meskipun juga ada yang tumpang tindih.

Kedua, penelitian kritis menggunakan pendekatan studi kasus, kajian terhadap suatu kasus  (kasus tunggal), kajian yang bersifat mendalam yang berbeda dengan kajian eksperimental atau kajian lain yang bersifat generalisasi maupun perbandingan.[31]

 

  1. Penelitian Non-interaktif (non interaktive inquiry)

Di sebut juga penelitian analisis, mengadakan pengkajian berdasarkan analisis dokumen. Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan sistesis data, untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep, kebijakan, peristiwa yang secara langsung maupun tidak langsung dapat diamati. Penelitian ini tidak menghimpun data secara interaktif atau melalui interaksi dengan sumber data manusia, sumberdatanya dalan dokumen-dokumen.

Ada tiga macam penelitian non interaktif yaitu:

  1. Analisis Konsep, merupakan kajian atau analisis terhadap konsep-konsep penting yang diinterpretasikan pengguna atau pelaksana secara beragam sehingga banyak menimbulkan kebingungan umpamanya cara belajar aktif, kurikulum berbasis kompetensi dll.
  2. Analisis Historis menganalisis data kegiatan, program. Kebijakan yang telah dilaksanakan pada masa yang lalu. Peneliti ini lebih diarahkan kepada menganalisis peristiwa, kegiatan, program, kebijakan, keterkaitan, dll.
  3. Analisis Kebijakan menganalisis berbagai dokumen yang berkenaan dengan kebijakan tertentu, umpamanya kebijakan otonomi daerah dalam pendidikan, ujian akhir sekolah, pembiayaan pendidikan dsb.[32]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Penutup

 

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas kita dapat melihat berbagai macam metode penelitian. Ada yang termasuk penelitian Kuantitatif dan juga Kualitatif. Perbedaan keduanya terletak pada beberapa sisi, seperti pijakannya. Yang mana penelitian jenis kuantitatif berangkat dari filsafat posivistik sedangkan penelitian jenis kualitatif didasari filsafat naturalistic.

Selain itu, dalam penelitian kualitatif interaktif, seorang peneliti dituntut untuk aktif dalam berinteraksi dengan yang diteliti. Adapun penelitian kuantitatif ada yang berjalan secara alamiah tanpa ada manipulasi terhadap veriabel dan beriorientasi pada angka-angka.

Pada intinya, kedua jenis metode penelitian ini memiliki cirri-ciri tersendiri dan kelebihan masing-masing dalam meraih hasil yang akurat. Beberapa peneliti bahkan ada yang melakukan kombinasi terhadap kedua jeni penelitian ini walaupun belum bisa kami bahas secara maksimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, 2012, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung)

Sugiyono, metode penelitian pendidikan, 2015 (Alfabeta, Bandung)

Sarwono, Jonathan, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, 2006 (Graha Ilmu, Yogyakarta) (Pdf)

Sanjaya, Wina, Penelitian pendidikan, 2013 (Kencana, Jakarta)

 

 

 

 

 

 

 

[1] Jonathan sarwono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, Graha Ilmu, Yogyakarta 2006, hal. 15

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ibid hal 16

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Sugiyono, metode penelitian pendidikan, alfabeta, bandung, 2015, hal. 7 & 9

[9] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012, Hal. 52

[10] Ibid, hal 53

[11] Ibid.

[12] Wina Sanjaya, Penelitian pendidikan, Kencana, Jakarta 2013, hal. 34

[13] Ibid, hal 35

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Op cit, Nana Syaodih sukmadinata, hal 53

[19] Ibid hal 54

[20] Ibid hal. 54-55

[21] Ibid hal 55

[22] Ibid hal 56

[23] Ibid

[24] Ibid

[25] Ibid

[26] Op cit, Wina Sanjaya, hal 38

[27] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012, Hal, 62

[28]Ibid hal, 63

[29]Ibid

[30]Ibid hal,64

[31]Ibid hal,65

[32]Ibid hal,65-66