Sumber Budaya Organisasi Dakwah (Menurut Dr. Abdul Mannan, M.A)

Pentingnya Komunikasi Dalam Organisasi.JPGA. Sumber Budaya Organisasi

Secara alami, manusia itu memiliki keinginan untuk hidup berkelompok, karena dengan begitu, ia dapat mengidentifikasian dirinya dengan anggota kelompok lain, dalam rangka menemukan dan mengaktualisasikan dirinya.

Seorang individu yang hidup berkelompok atau berorganisasi biasanya termotivasi oleh adanya kepentingan ideology, politik, ekonomi, social atau keamanan. Dalam berbagai aspek itulah mereka memberikan komitmen kerja dan partisipasinya. Disisi lain, ketika seseorang memutuskan untuk hidup berorganisasi, maka ia secara otomatis terikat oleh aturan dan kesepakatan yang berlaku di organisasi tersebut.

Selanjutnya, untuk melahirkan konsistensi hidup berorganisasi, ia harus memahami falsafah organisasinya.

  1. Falsafah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai individu dan pemimpin umat yang tiada tara bandingnya dalam memberikan celupan budaya. Kepemimpinannya tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan organisasi dakwah.

Buah dari kalimat tauhid pada saat itu adalah budaya kerja keras, disiplin, dan budaya apa saja yang tersimpul dalam satu kata, ‘akhlaq’. Interaksi manusia yang berbudaya tinggi berkat akhlaq yang mulia akan menjamin keseimbangan hidup, sebab budaya yang dilahirkan dari fasafah tauhid pasti memuat misi ‘kaaffatan linnas’ dan ‘rahmatan lil’alamin’.

Maka, dalam menerapkan falsafah tauhid tersebut, manajemen puncak perlu membuat visi-misi yang jelas sebagai tujuan organisasi ;

2. Visi dan Misi

Visi organisasi dakwah islam ialah tegaknya daulah atas dasar syari’ah islam yang bersal dari Allah di muka bumi ini. Adapun misinya ialah ‘kaaffatan linnas’ dan ‘rahmatan lil ‘alamin’, atau kesejahteraan dan kedamaian dunia.

Salah satu tujuan adanya visi-misi organisasi ialah untuk memotivasi semua anggota fungsional dan structural agar berusaha keras menyampaikan misi islam kepada semua sasaran. Apapun statuus sosialnya, setiap anggota organisasi harus aktiv menyampaikan misi dakwah. Bahkan bagi orang yang paham falsafah tauhid secara benar, ia akan merasakan hidupnya gersang tanpa dakwah. Jika prinsip ini disadari oleh semua anggota organisasi dakwah, maka akan tercipta budaya kompetisi yang dalam al-Qur’an disebut dengan kata ‘fastabiqul khairat’.

3. Sejarah Organisasi

Berdirinya sebuah organisasi tentu dilatar belakangi oleh berbagai hal. Salah satunya ialah motivasi dari idealisme penggagasnya. Lahirnya pemikiran dan perasaan idealism pendiri organisasi kerapkali dibentuk oleh lingkungan yang tidak ideal. Sehingga, factor sejarah berdirinya organisasi itu sangat mendominasi tumbuhnya suatu budaya organisasi.

4. Gaya Kepemimpinan

Seringkali, yang menjadi pimpinan puncak sebuah organisasi ialah perdirinya. Hal ini wajar, mengingat sang penggagas pertamalah yang akan mentransfer nilai yang dikandungnya, selain memberi keteladanan bagaimana mengimplementasikan gagasannya.

Menurut Koontz, O’Donnel dan Weihrich, gaya manajemen dapat digolongkan berdasarkan cara seorang pemimpin menggunakan otoritasnya, yaitu;

  • Otokratik ; jenis kepemimpinan yang semua keputusan berada berada dalam kendali pimpinan puncak.
  • Partisipatif (Demokratik) ; sebuah keputusan diambil dengan melibatkan bawahan / anggota organisasi.
  • Free Rein ; gaya seorang pemimpin yang sangat membatasi kekuasaannya dan memberikan banyak kebebasan kepada anggota organisasinya.

Jika melihat gaya kepemimpinan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dapat disimpulkan bahwa beliau memimpin dengan cara ‘demokratik otoriter’. Demokratik dapat dilihat disurah Ali Imron ayat 159. Sedangkan gaya kepemimpinan otoritas tergambar dalam surah An-Nisa ayat 59.

4. Lingkungan

Interaksi lingkungan eksternal dan internal organisasi memerlukan transformasi yang cukup lama untuk saling memahami budaya. Apalagi, jika keberadaan organisasi ditengah masyarakat adalah pendatang baru. Maka, factor lingkungan internal dan eksternal sangat kuat dalam proses mempengaruhi kebijakan organisasi.

a. Lingkungan Eksternal

  • Falsafah hidup
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Politik
  • Teknologi

b. Lingkungan Internal

  • Fungsionaris
  • Anggota / Jama’ah

c. Lingkungan Alam

Karakter sebuah organisasi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam sekitar. Seperti kondisi geografis dan iklim.

Iklan

BAB 8 (1) MELATIH DAN MENGEMBANGKAN PEKERJA YANG BERDAYA SAING (Resume buku ‘Pengelolaan Sumber Daya Manusia’ karya Jackson, Schuler dan Werner)

Hasil gambar untuk buku 'Pengelolaan Sumber Daya Manusia'  karya Jackson, Schuler dan Werner

A. Kepentingan Strategis dari Pelatihan dan Pengembangan

Meningkatkan kompetensi pekerja adalah salah satu cara di mana pelatihan dan pengembangan dapat menciptakan sebuah keuntungan kompetitif, tetapi ini bukanlah satu-satunya cara. Aktivitas pelatihan dan pengembangan juga berkontribusi bagi keberhasilan perusahaan dengan cara yang tidak langsung. Contohnya, pelatihan dan pengembangan dapat memberikan pengelaman bersama yang meningkatkan pemahaman di antara para pegawai dengan latar belakang yang berbeda., serta mempercepat kepaduan perusahaan dan komitmen pegawai. Dengan memberikan kesempatan untuk pelatihan dan pengembangan, perusahaan membantu pegawai untuk mengembangkan keuntungan kompetitifnya dan memastikan pekerjaan mereka untuk jangka panjang.

  1. Meningkatkan Perekrutan dan Pemerataan

Bagi sebagian besar pegawai, melakukan sebuah pergerakan karier yang signifikan membutuhkan pemilihan pekerjaan yang memerlukan kompetensi yang tidak dibutuhkan dalam pekerjaan yang sedang mereka jalani.Banyak orang yang mencari perusahaan yang menyediakan aktivitas pelatihan dan pengembangan yang dapat membantu karier mereka.

2. Meningkatkan Daya Saing

Banyak perusahaan Amerika Serikat (AS) yang menghabiskan lebih dar $60 miliar setiap tahunnya untuk program pelatihan dan pengembangan pegawai yang menggunakan sekitar 1,5 miliar jam untuk lebih dari 56 juta pegawai yang terlibat. Investasi yang besar dalam pelatihan dan pengembangan terkadang dibenarkan oleh sebuah keyakinan bahwa pelatihan dan pengembangan akan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk bersaing secara efektif.

Dalam industri yang sangat kompetitif, pelatihan dan pengingkatan kinerja yang cepat sangat penting bagi perusahaan yang memiliki tingkat produktifitas atau kepuasan pelanggan (atau konsumen) yang mandek atau bahkan menurun. Menurut Pat Galagan, direktur eksekutif untuk American Society for Training & Development, “Perusahaan-perusahaan semakin baik dalam menghubungkan upaya-upaya pembelajaran dengan strategi dan bisnis. Sebelumnya, pelatihan dilakukan begitu saja, tanpa memikirkab cara pelatihan tersebut dapat mendukung tujuan bisnis tertentu.”

3. Menggunakan Teknologi Baru

Teknologi-teknologi baru sangat diharapkan dapat meningkatkan tingkat produktivitas yang dicapai dalam beberapa tahun terakhir.Namun, teknologi baru jarang dapat diperkenalkan tanpa adanya pelatihan dalam penggunaannya.Para pegawai diizinkan untuk mengikuti sebanyak mungkin sesi pelatihan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan penguasaan mereka. Selain pelatihan teknis, para pegawai diajarkan mengenai keuntungan jangka panjang yang akan terwujud ketika mereka sudah dapat menggunakan teknologi baru.

a. Meningkatkan Layanan Public

Pelatihan dapat meningkatkan layanan pelanggan dengan berbagai cara. Palatihan dapat membantu pegawai memahami kebutuhan pelanggan sambil menciptakan budaya yang berorientasi kepada pelanggan.

  • Memahami Kebutuhan Pelanggan.

Memberikan layanan pelanggan yang baik sangat penting bagi Infosys BPO, sebuah perusahaan outsourcing di Bangalore, India.Setiap enam bulan, ratusan pagawai baru brtkumpul di Infosys BPO untuk belajar bagaimana mereka dapat meningkatkan layanan pelanggan dan keterampilan berkomunikasinya.Keterampilan tersebut sangat penting untuk memberikan dukungan bagi para klien Infosys BPO yang mencakup perusahaan-perusahaan dalam bidang perbankan, telekomunikasi dan keuangan.

  • Pelatihan Untuk Pelanggan.

Aktivitas-aktivitas pelatihan selanjutnya melewati batasan-batasan organisasi.Selain melatih pekerjanya, banyak perusahaan membantu melatih pelanggan mereka dan mengembangkan pekerja mereka.Pelatihan untuk pelanggan dilakukan untuk mematikan bahwa semua teknologi maju perusahaaan benar-benar digunakan dan keuntungan mereka benar-benar diwujudkan.

b. Pelatihan Etika

Majalah Workforce Management membiayai Ethical Practice Award untuk mengakui perusahaan-perusahaan yang memiliki praktik-praktik SDM berkelas dunia yang ditujukan untuk memastikan bahwa pegawai memenuhi standar etika yang tinggi.

c. Manajemen Pengetahuan dan Perusahaan yang Belajar

Perusahaan-perusahaan yang berusaha menjadikan pembelajaran sebagai sebuah aktivitas yang terjadi dengan berbagai cara setiap harinya dalam semua bagian perusahaan itu disebut perusahaan yang belajar.

  • Teknologi-Teknologi Manajemen Pengetahuan

Menajemen pengetahuan akan memastikan bahwa pengetahuan dan pegawai, tim, serta satuan-satuan dalam sebuah perusahaan disimpan, diingat, ditata, dan dibagi dengan perusahaan lain. Karena teknologi manajemen pengetahuan ditujukan untuk memfasilitasi pembeljaran, pegawai harus mau membagikaan pengetahuan dan pengalaman serta menggunakan gagasan dan pengetahuan pegawai lain.

  • Komunitas Praktik

Komunitas praktik (Community of practice) adalah sebuah jejaring sosial dari orang-orang yang memiliki minat yang sama dan komitmen untuk bekerja sama dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan kesamaan minat mereka.

4. Merger dan Akuisisi

Setelah merger dan akuisisi, pelatihan yang berfokus untuk membantu pegawai memahami budaya yang baru mungkin merupakan pendekatan yang paling umum.Namun, mengedepankan keselarasan budaya bukanlah satu-satunya tujuan dari pelatihan pascamerger. Mempertahankan pegawai adalah tujuan lain dari pelatihan pascamerger.

B. Pelatihan dan Pengembangan dalam Sebuah Sistem MSDM Terpadu

Secara umum, praktik-praktik pelatihan dan pengembangan suatu perusahaan adalah upaya-upaya yang memang disengaja untuk meningkatkan kinerja terkini dan di masa datang dengan membantu pegawai mendapatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap-sikap yang dibutuhkan untuk menjadi tenaga kerja yang kompetitif.

  1. Pelatihan, Pengembangan dan Sosialisasi

Pelatihan (training) bertujuan meningkatkan kinerja dalam jangka pendek dan dalam suatu peerjaan tertentu dalam meningkatkan kompetensi pegawai.Pengembangan (development) adalah aktivitas-aktivitas yang dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi untuk jangka panjang sebagai antisipasi atas kebutuhan perusahaan di masa datang.Sosialisasi(socialization) memiliki tujuan utama untuk mengajarkan pegawai mengenai sejarah, budaya, dan praktik-praktik manajemn perusahaan.Melalui sosialisasi, pegawai baru belajar dan melihat bagaimana pekerjaan dilakukan dalam lingkungan yang baru, termasuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak dituliskan dalam kebijakan atau buku panduan prosedur.

2. Tautan-tautan ke Aktivitas SDM Lainnya

Bagian ini menjelaskan bahwa pelatihan dan pengembangan yang diberikan kepada pegawai idealnya berorientasi pada sasaran mana yang dituju. Misal, ketika sasaran pelatihan adalah meningkatkan kinerja pekerjaan, pelatihan harus dirancang dengan menggunakan informasi analisis pekerjaan mengenai apa yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

  • Pemenuhan Hukum

Dibanyak industry, seperti layanan keuangan dan perumahan, pegawai harus punya lisensi atau sertifikat untuk memegang jawaban tertentu.Ketika lisensi atau sertifikat dibutuhkan, perusahaan dapat memberikan pelatihan yang dibutuhkan sebagai bagian dari strategi pengaturan stafnya.

  • Analisis Pekerjan, Percontohan Kompetensi dan Perencanaan SDM

Secara bersama-sama, analisis pekerjaan dn percontohan kompetensi menentukan tugas-tugas yang dilakukan dalam suatu pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk kinerja pekerjaan yang efektif. Bagi banyak perusahaan, gelombang pensiun Angkatan tua telah menciptakan kekhawatiran mengenai apakah generasi selanjutnya siap mengisi pekerjaan-pekerjaan yang lebih tinggi yang akan ditinggalkan oleh para Angkatan tua. Dengan memiliki pemahaman mengenai kompensasi yang akan dibutuhkan oleh para pemimpin di masa datang, sekarang, semua perusahaan sudah mulai mengembangkan bakat-bakat manajerial dan eksekutif yang akan mereka butuhkan.

  • Perekrutan dan Seleksi

Perekrutan dan penyeleksian pegawai merupakan hal yang juga mendapat perhatian. Disney misalnya memulai proses sosialisasi saat perekrutan sebagai sebuah cara untuk membatasi pelamar yang mungkin tidak akan sesuai dengan buday perusahaan. Untuk memastikan agar semua orang mengetahui apa yang diharapkan, salah satu langkah awal dalam proses penerimaan adalah menunjukkan video kepada pelamar yang berisi tata cara berpakaian dan aturan-aturan pengurusan dan kedisiplinan.

3. Mengevaluasi Pelatihan dan Pengembangan

Karena program pelatihan dn pengembangan memiliki banyak sasaran berbeda, berbagai cara pengukuran dapat digunakan untuk mengevaluasi efektifitasnya. IBM menggunakan system metric untuk mengevaluasi sejumlah besar praktik SDM-nya, termasuk pelatihan.

C. Tiga Serangkai SDM

  • Manajer

Selain memberikan sumber daya keuangan dan waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan dan pengembangan, manajer dapat meningkatkan efektifitas upaya perusahaannya dengan cara berpartisipasi sebagai pelatih, penggembleng dan pengajar.

  • Pegawai

Efektifitas system pelatihan suatu perusahaan membutuhkan dukungan dan kerjasama dari semua pegawai dalam system tersebut – dukungan manajemen teratas tidaklah cukup. Walaupun sebagian besar pegawai tidak terlibat secara langsung dalam penyusunan dan penyampaian system pelatihan, sebagian besar perusahaan  sangat bergantung pada pegawai yang mencari kesempatan untuk menggunakan system yang ada untuk keuntungan merreka.

  • Pakar SDM

Pakar SDM biasanya terlibat dalam penyusunan sitem pelatihan dan pengembangan serta penyampaian program pelatihan formal. Mereka bertanggung jawab mengidentifikasi sasaran yang akan dicapai melalui pelatihan dan pengembangan serta memilih atau menyusun aktivitas pelatihan dan pengembangan yang sesuai, berdasarkan sasaran tersebut.

D. Menentukan Kebutuhan Pelatihan dan Pengembangan

Pelatihan biasanya diberikan berdasarkan kebutuhan untuk memperbaiki kekurangan keterampilan, memberikan kompetensi pekerjaan tertentu kepada pegawai, mempersiapkan pegawai untuk peran-pran yang akan mereka dapatkan di masa mendatang dsb.

Walaupun pelatihan dan pengembangan dapat memenuhi tujuan-tujuan tersebut, penilaian kebutuhan formal adalah bagian penting dari sebuah system pelatihan. Empat komponen utama dari proses penilaian kebutuhan yaitu;

  • Kebutuhan demografis
  • Kebutuhan perorangan
  • Kebutuhan pekerjaan
  • Kebutuhan perusahaan
  • Jangka pendek
  • Jangka panjang
  1. Analisis Kebutuhan Perusahaan

Analisis kebutuhan perusahaan (organizational needs analysis) dimulai dengan sebuah penilaian atas strategi jangka pendek dan jangka panjang serta sasaran bisnis strategi perusahaan.Analisis ini lebih menitikberatkan pada pengidentifikasian implikasi bagi aktivitas pelatihan dan pengembangan di masa mendatang.

  • Tujuan

Analisis kebutuhan perusahaan haru menghasilkan sebuah pernyataan yang jelas mengenai tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh aktivitas pelatihan dan pengembangan  perusahaan tersebut.

  • Iklim untuk pelatihan

Iklim pelatihan yang mendukung akan meningkatkan peluang bahwa pegawai akan dapat memindahkan apa yang telah mereka pelajari dari program pelatihan ke pekerjaannya. Berikut beberapa indicator iklim pelatihan yang mendukung;

  • Intensif diberikan untuk mendorong pegawai berpartisipasi dalam aktivitas pelatihan dan pengembangan.
  • Manajer memberikan kemudahan bagi pegawai yang melapor langsung untuk mengikuti program pelatihan dan pengembangan.
  • Pegawai saling menyemangati untuk mempraktikkan keterampilan-keterampilan baru dan tidak saling menjatuhkan.
  • Pegawai yang berhasil menggunakan kompetensi barunya diakui dan diberi hadiah dengan pemberian tugas khusus dan promosi.
  • Tidak ada hukuman tersembunyi karena berpartisipasi dalam pelatihan dan pengembangan (misalnya, aktivitas peatihan dan pengembangan tidak dijadwal agar bentrok dengan acara penting lainnya).
  • Manajer dan siapa pun yang menjadi penyelia pelatihan dan pengembangan yang diakui dan diberi penghargaan.

Kondisi-kondisi tersebut akan mudah ditemukan dalam perusahaan yang belajar.

  • Sumber Daya dan Batasan

Akhirnya, analisis kebutuhan perusahaan harus mengidentifikasi sumber daya yang ada dan batasan-batasan yang harus dipertimbangkan ketika menyusun program serta aktivitas pelatihan dan pengembangan.Misalnya, dapatkan pegawai diminta meninggalkan pekerjaannya untuk berpartisipasi dalam pelatihan dan pengembangan?Jika ya, untuk berapa lama?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

2. Analisis Kebutuhan Pekerjaan

Analisis kebutuhan pekerjaan atau tugas (job or task needs analysis) mengidentifikasi keterampilan, pengetahuan dan perilaku tertentu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas-tugas yang diwajibkan oleh pekerjaan saat ini atau di masa mendatang. Jika pelatihan akan diberikan untuk pekerjaan yang ada, analisis pekerjaan tradisional dan percontohan kompetensi saja sudah cukup. Jika pelatihan dan pengembangan ditujukan untuk mengatasi kebutuhan di masa mendatang, maka analisis pekerjaan untuk masa mendatang dan percontohan kompetensi harus digunakan untuk analisis pekerjaan.

3. Analisis Kebutuhan Perorangan

Setelah informasi mengenai pekerjaan berhasil dikumpulkan, analisisnya bergeser ke perorangan. Analisis kebutuhan perorangan (person needs analisis mengidentifikasi celah-celah antara kompetensi seseorang saat ini dengan kompetensi yang diperlukan atau diinginkan. Analisis kebutuhan perorangan dapat memiliki cakupan yang luas atau sempit.Pendekatan yang luas membandingkan kinerja yang sebenarnya dengan standar kinerja terendah dan dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan pelatihan bagi pekerjaan yang sedang dilaksanakan.Pendekatan yang lebih sempit membandingkan evaluasi kecakapan pegawai pada setiap dimensi keterampilan yang dibutuhkan dengan tingkat kecakapan yang dibutuhkan untuk setiap keterampilan.

  • Pengukuran Hasil

Data kinerja (produktivitas, kecelakaan, keluhan pelanggan dll) dan tingkat penilaian kinerja dapat menjadi bukti dari kekurangan kinerja.

  • Kebutuhan Pelatihan yang Dinilai Sendiri

Penilaian kebutuhan oleh diri sendiri mulai berkembang pesat.Banyak perusahaan di AS mengizinkan manajernya untuk mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan jangka pendek atau yang dibiayai perusahaan atau program pendidikan.Penilaian sendiri dapat bersifat informal, seperti mengumumkan daftar kursus-kursus yang dibiayai perusahaan dan meminta siapa saja untuk mengikutinya, atau bersifat formal seperti melakukan survei yang berhubungan dengan kebutuhan pelatihan. Survey dan lembar pertanyaan adalah alat bantu yang sesuai untuk penilaian sendiri.

  • Diskusi Perencanaan Karier

Untuk membantu pegawai dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka, beberapa perusahaan memastikan bahwa manajer mengadakan diskusi perencanaan karier dengan pegawainya.

  • Survei Sikap

Survey sikap yang dinilai oleh bawahan pengawas dan/atau pelanggan dapat memberikan informasi mengenai kebutuhan pelatihan pengawas. Seorang pengawas yang menerima nilai yang cukup rendah  dalam keadilan perlakuannya kepada bawahan mungkin membutuhkan pelatihan dalam hal tersebut.

4. Analisis Kebutuhan Demografis

Tujuan analisis kebutuhan demografis (demographic needs analysis) adalah menentukan kebutuhan pelatihan dari populasi pekerja tertentu. Analisis kebutuhan demografis juga dapat digunakan untuk menilai apakah semua pegawai memiliki akses yang sama terhadap pengalaman pertumbuhan dan tantangan perkembangan yang merupakan metode on-yhe-job yang berguna untuk  memajukan perkembangan keterampilan.

E. Kondisi-Kondisi untuk Pelatihan dan Pengembangan yang Efektif

Pelaksanaan pelatihan dan pengembangan bergantung pada pemberian program-program yang tepat dalam kondisi yang tepat.Namun, sebelum membahas hal itu, pertama-tama, kita melihat pentingnya menciptakan kondisi yang tepat.

  1. Menciptakan Kondisi yang Tepat

Personnel Decision International (PDI), sebuah badan usaha konsultasi SDM mengembangkan sebuah kerangka kerja sederhana yang memiliki lima komponen. Dengan mengikuti setiap komponen tersebut, perusahaan dapat memastikan bahwa kondisi yang telah tercipta.Kelima komponen tersebut ialah:

  • Pengetahuan
  • Motivasi
  • Akuisisi pengetahuan dan keterampilan baru
  • Praktik di dunia nyata
  • Akuntabilitas

2. Memutuskan Siapa yang Memandu

Aktivitas pelatihan dan pengembangan dapat diberikan oleh beberapa orang, termasuk :

  • Pengawas dan manajer lainnya

Dibanyak perusahaan, on-the-job training (OJT) adalah satu-satunya bentuk pelatihan yang diberikan.Dari kondisi ini, pengawas hampir selalu menjadi penyedia apapun pelatihan yang diterima pegawai.Lagipula, karena posisi mereka di perusahaan, pengawas dan manajer dapat berhubungan langsung dengan pegawai serta memiliki kendali atas penugasan erja pegawai yang memfasilitasi aktivitas mereka.

  • Rekan Kerja

Rekan kerja dapaat menjadi pelatih yang efektif.Rekan kerja juga lebih mengetahui pekerjaan dibanding siapapun.Meski demikian, efektifitas mereka sebagai pelatih atau pengajar tidak boleh dibebankan.

  • Subject matter expert (SME) internal atau eksternal

Pakar atau SME mungkin tidak akrab dengan prosedur-prosedur dalam budaya perusahaan tertentu.Namun, jika tidak ada anggota perusahaan yang memiliki pengetahuan yang dibutuhkan atau jika banyak pegawai yang harus dilatih, maka pilihan yang ada mungkin menyewa pakar. Para pakar yang ekspresif ketika memberikan pelatihan dan sangat terorganisir akan sangat efektif.

  • Pegawai

Pengajaran sendiri juga merupakan suatu pilihan.Dengan berkembangnya pelatihan berbasis computer, pengajaran sendiri menjadi lebih umum.

F. Menentukan Sasaran Pembelajaran

  1. Pengetahuan dan Praktik Pembelajaran

Pengetahuan kognitif mencakup informasi yang dimiliki pegawai, cara mereka mengorganisasi informasi tersebut, dan strategi mereka untuk menggunakan informasi tersebut. Dari komponen-komponen ini, apa yang dibutuhkan pegawai adalah jenis pengetahuan kognotif utama yang coba diatasi oleh perusahaan melalui system pelatihan.

  • Kebijakan dan Praktik Perusahaan

Program orientasi (orientatation program) memberikan keterangan singkat kepada pegawai mengenai keuntungan program dan pilihannya, memberitahukan mengenai aturan dan regulasi, serta menjelaskan kebijakan dan praktik perusahaan.

  • Pengetahuan Dasar dan Tiga R (Three Rs)

Perusahaan semakin peduli pada pengetahuan kognitif dari sifat yang lebih medasar : tiga R (reading, writing, and arithmetic). Program-program pelatihan dirancang untuk memperbaiki kekurangan keterampilan dasar dalam tata bahasa, matematika, keselamatan, membaca, mendengarkan, dan menulis masih dianggap penting bagi banyak perusahaan.

  • Gambaran Besar

Para pegawai yang sedang berusaha atau sedang memegang posisi manajerial mungkin membutuhkan pengetahuan mengenai struktur perusahaan, produk dan layanan perusahaan, strategi bisnis perusahaan serta kondisi yang berubah-ubah dalam lingkungan kerja. Sebagian besar jens pengalaman ini dipelajari melalui pemberian pekerjaan standard an pengalaman pembelajaran pengembangan sementara, sperti bekerja dalam satuan tugas atau bekerja di luar negeri.

2. Keterampilan

Jika pengetahuan kognitif sangat penting dalam kepala, maka keterampilang merupakan nyata dalam perilaku.Pembelajaran berbasis keterampilan biasanya melibatkan praktik-praktik perilaku yang diharapkan, seperti perilaku yang menunjukan keterampilan teknis, interpersonal atau bahasa.

  • Teknis

Karena perubahan yang cepat dalam teknologi dan sifat pekerjaan, serta penggunaan kantor yang terotomatisasi, industrial dan system manajerial, pemutakhiran teknologi dan pembentukan keterampilan menjadi dorongan utama dalam pelatihan.

  • Interpersonal

Keterampilan dalam komunikasi, melakukan penilaian kinerja, membangun tim, kepemimpinan dan negosiasi semakin dibutuhkan.Perkembangan keterampilan interpersonal sangat penting bagi manajer tingkat bawah dan menengah serta pegawai yang memiliki hubungan langsung dengan masyarakat (contoh, sales dll).

  • Bahasa

Bagi perusahaan yang mempekerjakan banyak imigran, memberikan pelatihan bahasa adalah cara yang efektif untuk mengurangi kesalaahan dan meningkatkan kinerja pekerjaan , serta meningkatkan kesetiaan pegawai pada saat yang sama.

3. Hasil-hasil Afektif

Ketika hasil yang diinginkan dari pengalaman sosialisasi, pelatihan atau pengembangan adalah sebuah perubahan dalam motivasi, sikap, ataau nilai-nilai (atau ketiganya), sasaran pembelajarannya adalah hasil-hasil afektif.

Program-program pelatihan dirancang untuk meningkatkan kecerdasan emosional pegawai merupakan contoh lain dari upaya-upayaa yang menargetkan hasil-hasil afektif. Kecerdasan emosional (emotional intelligence) adalah pengenalan dan pengaturan emosi dalam diri sendiri dan diri orang lain. Kecerdasan ini meliputi kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan manajemen hubungan.

4. Perilaku Etis

Hanya mengandalkan pegawai untuk menggunakan penilaian terbaiknya tampaknya tidak cukup untuk memastikan bahwa pegawai dalam posisi kepemimpinan berperilaku secara etis.Sehingga, perusahaan perlu memberikan pelatihan terkait hal-hal tersebut.

G. Memilih Format Program

  1. e-Learning

Segala jenis teknologi yang memudahkan kita untuk menggabungkan berbagai format dan menyampaikannya sebagaai system pembelajaran terpadu yang menggabungkan, misalnya pembelajaran berbasis web, kelas-kelas maya, modul pembelajaran terkomputerisasi, tv interaktif, siaran satelit dan sara lainnya disebut e-learning.

2. On the Job

OJT berlangsung ketika pegawai belajar mengenai pekerjaan mereka di bwah penguasaan langsung.Peserta pelatihan belajar dengan memperhatikan pegawai yang telah berpengalaman.OJT akan efektif jika dirancang secara teliti dan dianggap sebagai proses formal untuk mengelola kinerja pekerja.

  • Masa Magang, Masa Percobaan dan Masa Perbantuan

Sebuah metode untuk memperkecil kerugian dari on-the-job training adalah menggabungkannya dengan off-the-job training.Pelatihan masa magang, masa percobaan dan masa perbantuan didasarkan pada kombinasi ini.

  • Pengalamaan Pekerjaan

Program rotasi pekerjaan (job rotation programs) merotasikan pegawai ke beberapa pekerjaan di tingkat kesulitan yang sama untuk melatih mereka dalam berbagaai pekerjaan dan situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan.

Penempatan pekerjaan pengembangan (developmental job assignment) adalah penempatan yang menempatkan pegawai dalam pekerjaan-pekerjaan yang memberikan tantangan dan rintangan baru yang sulit.

  • Bantuan Pengawasan dan Pengajaran

Hal ini merupakan bagian pelatihan dan pengembangan yang bersifat informal.Bantuan pengawasan adalaah bagian regular dari pekerjaan pengawas.Bantuan tersebut meliputi palatihan, bimbingan dan pengawasan harian pegawai atas bagaimana melakukan pekerjaan dan baimana berbaur dalam perusahaan.Pengajaran (mentoring), pegawai yang berpengalaman membantu perkembangan pekerja atau anak didik yang kurang berpengalaman.

  • Kepelatihan

Pelatih pribadi (personal coaches) biasanya mengamati pegawai saat bekerja, kemudian memberikan kritik atau masukan dan panduan untuk meningkatkan keterampilan interaksi mereka di masa mendatang.

3. On-Site, tetapi Tidak On the Job

Dalam hal ini, pegawai dilatih dengan simulai, bukan langsung praktek sambil latihan.Ini biasanya digunakan untuk pelatihan pilot, sopir dan sebagainya. Ketika keterampilan dasar sudah dikuasai, pegawai kembali ke perusahaan dan pelatih tetap berada di sana.

  • Universitas Perusahaan dan Program Pendidikan Eksekutif

Universitas perusahaan berfokus pada pendidikan yang berhubungan dengan kebutuhan perusahaan.Dimulai tahun 1961, McDonald’s Hamburger University adalah salah satu universitas perusahaan tertua.

  • Pelatihan Video Interaktif

Pelatihan video interaktif (interactive video training – IVT) adalah program yang memberikan sebuah presentasi video pendek dan narasinya, selanjutnya mengharuskan peserta pelatihan untuk mananggapi video tersebut.

4. Off-Site

Masalah pengalihan (transfer) – apakah pegawai siap menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari selama pelatihan – adalah salah satu pertimbangan yang paling penting ketika memilih format pelatihan.

  • Kursus-Kursus Formal

Kursus formal dapat dilakukan oleh peserta pelatihan – dengan menggunakan pelajaran terprogram, pengajaran yang dibantu computer, membaca, dan kursus korespondensi – atau oleh orang lain seperti dalam kursus dan pengajaran formal di kelas.

  • Simulasi

Simulasi (simulations) memberikan situasi-situasi yang samaa dengan kondisi pekerjaan yang sebenarnya dan memungkinkan peserta pelatihan untuk belajar bagaimana bersikap dalam situasi-situasi tersebut.

  • Pusat-pusat Penilaian

Hanya karena terkenal dalam seleksi manajerial, pusat penilaian adalah teknik simulasi yang semakin popular untuk mengembangkan manajer. Aspek-aspek tertentu dari pusat penilaian , seperti permainan manajemen dan latihan in-basket sangat baik untuk pelatihan.

  • Business BoardGames

Banyak perusahaan yang mengetahui bahwa mereka mengeluarkan uang agar semua perusahaan mengetahui bagaimana perusahaan menghasilkan uang, dan banyaknya keuntungan yang dihasil perusahaan pada setiap penjualan. Untuk memfasilitasi ini, Prudential dan Sears menggunakan board games, bentuknya samaa seperti permainan monopoly, yang mengungkap cara kerja perusahaan.

  • Petualangan Alam Liar dan Pelatihan di Tempat Terbuka

Untuk meningkatkan pengertian pegawai mengenai saat ini dan meningkatkan kepercayaan dirinya, perusahaan terkadang menggunakan program-program yang melibatkan kekuatan fisik, daya tahan dan kerja sama tim. Seperti contoh, petualangan alam liar ke hutan, gunung atau laut.

  • Kegiatan Masak-Masak

Salah satu bentuk pelatihan off-site adalah mematangkan tim. Salah satu kegiatan untuk mencapai hal tersebut ialah masak-masak bersama. Kegiatan ini dapat membantu mengembangkan keterampilan kerja sama tim pegawai.

H. Memaksimalkan Pembelajaran

  1. Menetapkan Tahapan Pembelajaran
  • Instruksi yang Jelas

Instuksi yang jelas akan membentuk harapan perilaku yang tepat. Harapan pelatihan harus dinyatakan dalam istilah khusus.

  • Percontohan Perilaku

Percontohan perilaku (behavioral modeling) yang menjelaskan perilaku yang akan dipelajari kepada peserta pelatihan dengan seorang model yang memberikan demonstrasi visual dari perilaku yang diharapkan, memungkinkan peserta pelatihan untuk meniru perilaku tersebut dan memberikan kritik.

2. Meningkatkan Pembelajaran Selama Pelatihan

  • Partisipasi Aktif

Pegawai bekerja secara lebih baik jika mereka dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.  Melalui partisipasi yang aktif, individu tetap lebih waspada dan akan lebih percaya diri.

  • Penguasaan

Jika pengalaman pelatihan gagal memvalidasi ketakutan atas kegagalan, peserta pelatihan akan merasa kurang terancam dan akan mengembangkan rasa penguasaan. Untuk membantu penguasaan, pelatih harus menyusun subjek masalah sehingga peserta pelatihan mengalami keberhasilan.

  • Kritik/Masukan

Kritk/masukan dapat diberikan oleh pengawas, rekan kerja, pelanggan, computer, atau orang yang melakukan pekerjaan tersebut.Ia harus spesifik, tepat waktu, berdasarkan perilaku dan bukan kepribadian serta praktis.

  • Praktik

Tujuan pelatihan adalah memastikan bahwa perilaku yang diharapkan tidak hanya terjadi sekali, namun secara konsisten. Konsistensi akan terjadi jika peserta pelatihan mampu mempraktikkan dan meningkatkan standar kinerja.

3. Mempertahankan Kinerja setelah Pelatihan

  • Tujuan Khusus

Tanpa tujuan yang khusus dan terukur, pegawai hanya memiliki sedikit dasar untuk menilai apa yang mereka lakukan. Tujuan-tujuan khusus untuk kinerja setelah pelatihan harus menantang, namun tidak terlalu sulit sehingga masih dapat dicapai.

  • Penguat

Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang mengikuti perilaku.Penguatan dapat bersifat positive (pujian atau penghargaan) dan negative (ex. ‘jika Anda bekerja sesuai yang diharapkan, sayaa tidak akan memarahi Anda lagi’), tetapi konsekuensinya harus sesuai dengan kinerja.

  • Penguatan Diri

Karena orang lain tidak selalu mungkin menguatkan seorang pekerja individu, tujuan jangka panjang harus mengajarkan kepada pegawai bagaimana menetapkan tujuan mereka dan melaksanakan penguatan mereka sendiri.

 

  1. Pelatihan dan Pengembangan Tim

Manajemen sering terburu-buru dalam membentuk tim-tim kerja tanpa mempertimbangkan bagaimana perilaku yang dibutuhkan untuk kerja sama tim yang efektif berbeda dari perilaku yang dibutuhkan untuk kontribusi individu yang efektif. Semua anggota tim bisa mendapatkan sedikit pelatihan atau tidak sama sekali untuk memastikan bahwa mereka dapat melakukan tugas-tugas yang diminta dan mencapai tujuan yang ditetapkan.

  1. Pelatihan untuk Mengembangkan Kepaduan Tim

Untuk mengembangkan kepaduan tim, banyak perusahaan yang menggunakan pelatihan petualangan berbasis pengalaman. Semua anggota perserikatan dan manajer dilatih bersamaan selama jam kerja pegawai biasa. Sehabis setiap aktivitas, pelatih mendiskusikan pengalaman mereka untuk mengidentifikasi pelajaran yang akan dipelajari dari pengalaman tersebut.

4. Pelatihan dalam Prosedur Tim

Semua tim kerja diberi kuasa untuk melakukan pekerjaan yang sebelumnya bukan merupakan tanggung jawab mereka. Semakin besar tingkat manajemen dirinya, maka tim tersebut semakin memiliki otoritas, tanggung jawab dan kebebasan untuk mengambil keputusan atas pekerjaannya.

5. Pelatihan untuk Pemimpin Tim

Pemimpin tim yang baik bersedia menerima kontribusi anggotanya dan tidak menolak atau menerima gagasan atas dasar pandangan pribadinya saja. Pemimpin yang baik meringkatkan informasi, memancing diskusi, menciptakan kesadaran atas masalah serta mendeteksi ketika tim sudah siap menyelesaikan perbedaan dan menyetujui satu solusi. Pelatihan mengenai cara mendukung pertentangan dan mengatur pertemuan sangat berguna bagi pemimpin tim kerja yang baru.

  • Mendukung pertentangan. Pertentangan dapat diatasi jika pemimpin mau menerima perbedaan di dalam tim, menunda mengambil keputusan, dan memisahkan pembentukan gagasan dari evaluasi gagasan. Pemimpin yang terampil mampu menciptakan atmosfer untuk tumbuhnya solusi yang inovatif.
  • Mengelola pertemuan. Pegawai yang menolak kerja sama tim sering menganggap bahwa waktu yang dihabiskan dalam pertemuan sebagai sumber ketidakpuasan yang besar. Melatih pemimpin tim dengan menggunakan taktik pertemuan berjalan dapat membuat pertemuan menjadi lebih efisien.

I. Masalah-Masalah Terkini

  1. Pelatihan Perbedaan bagi Pegawai di Amerika Serikat

Karena pentingnya pembelajaran untuk mengelola perbedaan pegawai semakin penting bagi banyak perusahaan di AS, banyak perusahaan yang mencoba program lintas budaya sebagai solusi.Asumsinya adalah perbedaan dapat mengganggu perusahaan dan menciptakan ketidakpuasan di antara pegawai jika semua orang dari berbagai latar belakang tidak saling memahami perbedaan budayanya.

  • Pelatihan Kesadaran Budaya

Sasaran utama dari pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan pegawai mengenai budayanya dan budaya orang lain.

  • Membangun Kompetensi

Pelatihan yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi interpersonal yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja yang berbeda mencakup sesi permainan peran dan latihan. Perilaku interpersonal yang diajarkan meliputi menunjukkan rasa hormat dan memperlakukan orang lain secara setara.

  • Menambahkan Pelatihan Perbedaan

Karena perusahaan belajar dengan cepat, pelatihan perbedaan saja tidak dapat menciptakan perubahan mendasar dalam keefektifan perusahaan mengatasi perbedaan. Menghubungkan pembayaran dan penghargaan orang lain dengan keberhasilan dalam memenuhi tujuan perekrutan, penerimaan, pengembangan, dan promosi pegawai dari berbagai latar belakang telah berhasi meningkatkan keberhasilan pelatihan perbedaan dan intervensi pengembangan.

2. Pelatihan dan Pengembangan Kepemimpinan Global

Bagi banyak CEO, hal ini menjadi salah satu yang sulit.Pera pemimpin global harus mengelola operasi di beberapa Negara berbeda secara bersamaan.Kompetensi kepemimpinan global sangat penting dalam perusahaan-perusahaan global yang lebih tersusun menurut produk ketimbang wilayah-wilayah geografis.

Apa yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin global yang efektif? Langkah pertama adalah memahami bagaimanaa pegawai di berbagai budaya berpikir mengenai kepemimpinan; kepemimpinan yang efektif di AS belum tentu efektif di tempat lain. Beberapa langkah lain adalah bekerja sebagai anggota dari tim lintas fungsional internasional, bekerja di berbagai tugas internasional yang lebih lama, serta menerima bimbingan dan pengajaran.

Makalah Pengorganisasian Dakwah

MAKALAH

Pengorganisasian Dakwah

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengorganisasian Dakwah”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Miftahuddin, M.Si

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017


Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalam makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Miftahuddin, M.Si.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Makna Pengorganisasian Dakwah

Organisasi berasal dari kata “organisme”, yang artinya bagian-bagian yang terpadu dimana hubungan satu sama lain diatur oleh hubungan terhadap keseluruhannya. Oleh karena itu dalam organisasi paling sedikit terdiri atas dua orang yang keduanya saling bekerjasama satu sama lain demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Kerjasama tersebut terbentuk karena didorong oleh kehendak atau motif untuk pencapaian tujuan yang telah disepakati.[1] Adapun dakwah adalah aktivitas mengajak/menyeru manusia ke jalan yang benar menurut Islam. Baik melalui lisan, tulisan maupun perbuatan.

Secara terminologis berarti mengajak dan menyeru umat manusia baik perorangan maupun kelompok kepada agama islam, pedoman hidup yang di ridlai oleh Allah dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar dan amal shaleh dengan cara lisan maupun perbuatan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat nanti

Sehingga, pengorganisasian dakwah berarti keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka penciptaan tujuan yang telah ditentukan.

Sementara itu, Rosyad Saleh mengemukakan bahwa rumusan pengorganisasian dakwah itu adalah “rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi setiap kegiatan usaha dakwah dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan yang harus dilaksanakan serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara satuan-satuan organisasi atau petugasnya.

Pengorganisasian sangat erat hubungannya dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencpai tujuan, walaupun struktur itu bukan merupakan tujuan. Oleh karena itu, organizing dakwah sudah barang tentu disesuaikan dengan bidang garapan dakwah serta lokasi pewilayahan.[2]

Kualitas hubungan antara para pelaku organisasi, lebih-lebih organisasi dakwah, tidak selamanya bersifat formal tetapi juga informal, dalam bentuk perilaku pribadi yang bersifat emosional dan kadang-kadang juga irrasional.[3]

Tugas bagi para da’i adalah merancang sebuah struktur organisasi yang memungkinkan mereka untuk mengerjakan program dakwah secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuanorganisasi. Ada dua poin yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian, yaitu:

  1. Organizational Design [desain organisasi]
  2. Organizational structure [struktur organisasi]

Ketika para manajer menyusun atau mengubah struktur sebuah organisasi, maka mereka terlibat dalam suatu kegiatan dalam desain organisasi, yaitu suatu proses yang melibatkan keputusan-keputusan mengenai spesialisasi kerja, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, serta formalisasi. Jadi, pengorganisasian dakwah itu pada hakikatnya adalah sebagai tindakan pengelompokan, seperti subjek, objek dakwah, dan lain-lain.[4]

  1. Langkah-Langkah Pengorganisasian Dakwah:
  2. Penentuan Spesialisasi Kerja

Spesialisasi kerja diartikan sebagai tingkat kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang ditekuninya,dan tugas-tugas organisasi dibagi menjadi pekerjaaan-pekerjaan terpisah “pembagian kerja”.[5]

Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan yang dinyatakan dalam tiga komponen, yaitu:

  • Keterampilan teknis [technical skill], yaitu pengetahuan mengenai metode, proses prosedur, dan teknik untuk melakukan kegiatan khusus, serta kemampuan untuk menggunakan alat-alat dan peralatan yang relevan bagi kegiatan tersebut.
  • Keterampilan untuk melakukan hubungan antar pribadi [interpersonal skill], yaitu pengetahuan perilaku manusia dan proses-proses hubungan antar pribadi, kemampuan untuk mengerti perasaan, sikap dari motivasi orang lain tentang apa yang ia katakana dan lakukan [empati, sensitivitassosial], kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara jelas dan efektif [kemahiran berbicara, kemampuan persuasive], serta kemampuan untuk membuat hubungan yang efektif dan kooperatif [kebijaksanaan, diplomasi, keterampilan mendengarkan, pengetahuan mengenai perilaku sosial objek dakwah].
  • Keterampilan konseptual [conceptual skill], yaitu kemampuan analitis umum, berpikir nalar, kepandaian dalam membentuk konsep, serta konseptualisasi hubungan yang kompleks dan berarti dua, kreativitas dalam mengembangkan ide serta pemecahan masalah, kemampuan untuk menganalisis peristiwa-peristiwa dan kecenderungan-kecenderungan yang dirasakan, mengantisipasi perubahan-perubahan dan melihat peluang, serta masalah-masalah potensial.[6]
  1. Mendepertementalisasi dakwah

Setelah unit kerja dibagi-bagi melalui spesialisasi kerja maka selanjutnya diperlukan pengelompokkan pekerjaan –pekerjaan yang diklasifikasikan melalui departemensiliasi kerja ,sehingga tugas yang sama atau mirip dapat dikelompokkan secara sama-sama, sehingga dapat di koordinasikan.[7]

Pada tataran ini, secara historis pengelompokan kegiatan dakwah adalah menurut fungsi yang dilakukan atau departementalisasi fungsional. Sebagai contoh, dalam sebuah lembaga dakwah atau manajer dakwah dalam mengorganisasikan lembaganya dengan melakukan rancangan rekayasa umat, departemen finansialnya, bagian administrasinya, departemen dakwah bil-hal, bil-lisan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Kelebihan atau keuntungan dari departementalisasi dakwah adalah akan memperolehefisiensi dan mempersatukan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan, pengetahuan, dan orientasi yang sama ke dalam unit-unit yang sama.[8]

  1. Menentukan rantai komando

Rantai komando adalah sebuah garis wewenang yang tidak terputus membentang dari tingkat atas organisasi terus sampai tingkat paling bawah dan menjelaskan hasil kerja dakwah ke depertemen masing-masing.rantai ini memberikan sebuah kemudahan bagi para da’i untuk menentukan siapa siapa yang harus dituju jika mereka menemui permasalahan dan juga kepada siapa mereka bertanggung jawab.[9]

Dalam rantai komando ini tidak terlepas dari tiga konsep, yaitu:

  • Wewenang
  • Tanggungjawab
  • Komando
  1. Rentang kendali

Rentang kendali merupakan konsep yang merujuk pada jumlah bawahan yang dapat disurvei oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.[10]

Dalam memahami rentang kendali yang efektif dan efisien, maka akan ditentukan dengan melihat variabel kontingensi. Sebagai contoh, semakin banyak latihan dan pengalaman yang dimiliki para da’i, maka semakin berkurang pengawasan secara langsung oleh manajer. Pada variabel-variabel ini juga, sangat menentukan rentang yang pas mencakup kesamaan tugas para da’i, kerumitan tugas-tugas, kedekatan fisik anak buah, derajat sampai dimana prosedur-prosedur baku telah berjalan, canggihnya sistem informasi manajemen organisasi tersebut, kesulitan organisasi tersebut, serta style seorang manajer.[11]

  1. Sentralisasi dan desentralisasi

Sentralisasi diartikan sebagai kadar sampai dimana pengambilan keputusan terkonsentrasi pada tingkat atas organisasi. Konsep ini hanya mencakup pada wewenang formal, yaitu hak-hak yang inheren dalam posisi seseorang. Sementara desentralisasi adalah pengalihan wewenang untuk membuat keputusan ke tingkat yang lebih rendah dalam suatu organisasi.[12]

Secara filosofis, desentralisasi ini dapat dikembalikan pada pengertian bahwasannya setiap manusia adalah pemimpin dan setiap orang adalah khalifah, selalu cenderung dalam desentralisasi.  Fungsi organisasi secara efekktif akan terhambat jika semua keputusan hanya diambil oleh segelintir manajemen puncak dan mereka pun tidak dapat berfungsi secara efektif apabila semua keputusan dilimpahkan pada anggota-anggota lainnya (tingkat bawah).[13]

  1. Menformalisasi dakwah

Formalisasi dakwah adalah sejauh mana pekerjaan atau tugas-tugas dakwah dalam sebuah organisasi dakwah dibakukan dan sejauh man tingkah laku, skill, dan keterampilan para da’I dibimbing dan diarahkan secara prosedural oleh peraturan.[14]

Dalam sebuah organisasi dengan tingkat formalisasi yang tinggi, terdapat uraian pekerjaan yang tegas, banyak peraturan organisasi, serta prosedur yang telah dirumuskan secara jelas. Dari formalisasi yang tinggi ini terdapat job-discription yang eksplisit, banyak aturan organisasi yang terdefinisi dengan jelas, yang meliputi proses kerja dalam organisasi. Sebaliknya jika formalisasi itu rendah, maka perilaku kerja cenderung untuk tidak terprogram dan para anggota memiliki keleluasaan dalam menjalankan kerja.

Apabila dalam formalisasi sangan terbatas, maka aktifitas da’I akan cenderung relative tidak terstruktur dan para da’I juga akan lebih banyak memiliki kebebasan untuk berimprovisasi tentang bagaimana cara mereka melakukan pekerjaan.

  1. Penentuan Strategi dan struktur dakwah

Struktur organisasi dakwah adalah sarana untuk menolong para manajer dalam mencapai sasaran, karena sasaran dakwah itu dirumuskan dari strategi organisasi.tegasnya,struktur organisasi dakwah harus mengikuti strategi strategi dakwah.[15]

  1. Penyelenggaraan dan desain orhanisasi dakwah

Para da’i baik dalam satu tim atau perorangan membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan dan menentukan strategis dakwah. ”penggunaan teknologi informasi sangat mempengaruhi cara anggota organisasi dakwah dalam berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan dalam melaksanakan aktivitas mereka.[16]

 

[1] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1  diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[2] http://noorsyafitriramadhani.blogspot.co.id/2014/02/tanzhim-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.27

[3] Op.Cit

[4] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[5] Op.cit

[6] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[7] Ibid

[8] Op.cit

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Op.cit

[12] Ibid

[13] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.14

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

MAKALAH “Etika Komunikasi Massa”

MAKALAH

Etika Komunikasi Massa

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Komunikasi Massa”Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq
201431110020

Dosen Pembimbing:
Ust. Alim Puspianto M.Kom


PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017

 

Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalm makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Alim Puspianto, M.Kom.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Komunikasi merupakan hal pokok yang dibutuhkan oleh setiap insan. Dengan begitu, interaksi antar manusia bisa berjalan. Komunikasi digunakan untuk menyampaikan informasi, gagasan serta perasaan antar manusia.

Salah satu jenis komunikasi yang banyak diperhatikan di era reformasi ini adalah komunikasi massa. Hal ini karena keran kebebasan dibuka sebesar-besarnya bagi setiap warga Negara. Dengan demikian, setiap warga Negara berhak menyampaikan pikirannya di depan public.

Namun demikian, walau setiap orang bebas berpendapat, Negara tetap mengatur etika menyampaikan pendapat di depan public. Hal ini agar tak terjadi kesenjangan akibat kebebasan yang kebablasan.

Untuk itulah, Negara membuat peraturan yang menyangkut bagaimana berkomunikasi dengan khalaya / komunikasi massa, baik melalui media cetak, televise hingga radio.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud etika komunikasi massa?
  3. Apa saja unsur etika komunikasi massa?
  4. Bagaimana realitas penerapan komunikasi massa?
  5. Tujuan
  6. Mengetahui makna etika komunikasi massa.
  7. Memahami unsur etika komunikasi massa.
  8. Memahami realitas penerapan etika komunikasi massa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika dan Komunikasi Massa

Etika berasal dari kata Latin Ethic. Ethic berarti kebiasaan.[1]Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlaq); kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq; nilai mengenai nilai benar dan salah, yang dianut suatu golongan masyarakat.[2]
Sedangkan menurut Suseno, (1987) Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral.[3]

Adapun komunikasi massa adalah suatu tempat organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin produksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang  besar, heterogen, dan tersebar.[4]

Dengan mengetahui makna dari etika dan komunikasi massa, Sobur (2001) menyebutkan etika pers atau etika komunikasi massa adalah filsafat moral yang berkenaan kewajiban-kewajiban pers tentang penilaian pers yang baik dan pers yang buruk. Dengan kata lain, etika pers adalah ilmu atau studi tentang peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku pers atau apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pers. Pers yang etis adalah pers yang memberikan informasi dan fakta yang benar dari berbagai sumber sehingga khalayak pembaca dapat menilai sendiri informasi tersebut.[5]

B. Unsur-Unsur Komunikasi Massa

Adapun unsur-unsur etika dalam komunikasi massa antara lain;

  1. Tanggung jawab

Dengan adanya tanggung jawab, media akan berhati-hati dalam menyiarkan atau menyebarkan informasinya.Seorang jurnalis atau wartawan harus memiliki tanggung jawab dalam pemberitaan atau apa pun yang ia siarkan; apa yang diberitakan atau disiarkan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada Tuhan, masyarakat, profesi, atau dirinya masing-masing. Jika apa yang diberitakan menimbulkan konsekuensi yang merugikan, pihak media massa harus bertanggung jawab dan bukan menghindarinya.[6]

  1. Kebebasan Pers

Kebebasan yang bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa tersampaikan ke masyarakat. Jakob Oetama (2001) dalam Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus mengemukakan bahwa “pers yang bebas dinilainya tetap bisa lebih memberikan kontribusi yang konstruktif melawan error and oppression (kekeliruan dan penindasan), sehingga akal sehat dan kemanusiaanlah yang berjaya”.[7]

  1. Masalah Etis

Jurnalis itu harus bebas dari kepentingan. Ia mengabdi kepada kepentingan umum. Walau pada kenyataannya bahwa pers tidak akan pernah lepas dari kepentingan-kepentingan, yang diutamakan adalah menekannya, sebab tidak ada ukuran pasti seberapa jauh kepentingan itu tidak boleh terlibat dalam pers.[8]

Ada beberapa ukuran normatif yang dijadikan pegangan oleh pers:

  1. Seorang jurnalis sebisa mungkin harus menolak hadiah, alias “amplop, menghidari menjadi “wartawan bodrek”.
  2. Seorang jurnalis perlu menghindari keterlibatan dirinya dalam politik, atau melayani organisasi masyarakat tertentu, demi menghindari conflict of interest.
  3. Tidak menyiarkan sumber individu jika tidak mempunyai nilai berita (news value).
  4. Wartawan atau jurnalis harus mencari berita yang memang benar-benar melayani kepentingan public, bukan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.
  5. Seorang jurnalis atau wartawan harus melaksanakan kode etik kewartawanan untuk melindungi rahasia sumber berita. Tugas wartawan adalah menyiarkan berita yang benar-benar terjadi.
  6. Seorang wartawan atau jurnalis harus menghindari praktek plagiarisme.

Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), diantaranya adalah :[9]

  1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar
  2. Wartawan Indonesia menempuh tata cara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber berita.
  3. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat.
  4. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah sadis, dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
  5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi.
  6. Wartawan Indonesia memiliki Hak Tolak, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan.
  7. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.
  1. Ketepatan dan Objektivitas

Ketepatan dan objektivitas di sini berarti dalam menulis berita wartawan harus akurat, cermat, dan diusahakan tidak ada kesalahan. Objektivitas yang dimakusd adalah pemberitaan yang didasarkan fakta-fakta di lapangan, bukan opini wartawannya. Oleh sebab itu harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan:[10]

  • Kebenaran adalah tujuan utama; orientasi berita yang berdasarkan kebenaran harus menjadi pegangan pkok setiap wartawan.
  • Objektivitas dalam pelaporan beritanya merupakan tujuan lain untuk melayani pbulik sebagai bukti pengalaman profesional di dunia kewartawanan. Objektif itu berarti tidak berat sebalh; harus menerapkan prinsip cover both sides.
  • Tiada maaf bagi wartawan yang melakukan ketidakakuratan dan kesembronoan dalam penulisan atau peliputan beritanya. Dalam hal ini, wartawan dituntuk untuk cermat di dalam proses peliputannya.
  • Headline yang dimunculkan harus benar-benar sesuai dengan isi yang diberitakan.
  • Penyiar radio atau reporter televisi harus bisa membedakan dan menekankan dalam ucapannya mana laporan berita dan mana opini dirinya. Laporan berita harus bebas dari opini atau bias dan merepresentasikan semua sisi peristiwa yang dilaporkan.
  • Editorial yang partisansip dianggap melanggar profesionalisme atau semangat kewartawanan. Editorial atau tajuk rencana yang dibuat, meskipun subjektif sifatnya (karena merepresentasikan kepentingan media yang bersangkutan) harus ditekan untuk “membela” sat golongan dan memojokkan golongan lain. Praktik jurnalisme ini sangat sulit dilakukan oleh media cetak yang awal berdirinya sudah partisansip, tetapi ketika dia sudah mengklaim media umum, tidak ada alasan untuk membela golongannya.
  • Artikel khusus atau semua bentuk penyajian yang isinya berupa pembelaan atau keseimpulan sendiri penulisnya harus menyebutkan nama dan identitas dirinya.
  1. Tindakan Adil untuk Semua Orang
  • Media harus melawan campur tangan individi dalam medianya. Artinya, pihak media harus berani melawan keistimewaan yang diinginkan seorang individu dalam medianya.
  • Media tidak boleh menjadi “kaki tangan” pihak tertentu yang akan memengaruhi proses pemberitaannya.
  • Media berita mempunyai kewajiban membuat koreksi lengkap dan tepat jika terjadi ketidaksengajaan kesalahan yang dibuat (fair play).
  • Wartawan bertanggung jawab atas lapprang beritanya kepada public dan public sendiri harus berani menyampaikan keberatannya pada media.
  • Media tidak perlu melakukan tuduhan yang bertubi-tubi pada seseorang atas suatu kesalahan tanpa member ksempatan tertuduh untuk melakukan pembelaan dan tanggapan. Media dilarang melakukan trial bu the press (media massa sudah mengadili seseorang sebelum pengadilan memutuskan ia bersalah atau tidak.

            C. Pentingnya Etika Komunikasi Massa

Di era reformasi, dimana kebebasan sangat dijunjung tinggi, peluang untuk menyebarkan informasi sangat besar. Apalagi, teknologi informasi dan komunikasi sanagat mendukung untuk melakukan hal-hal tersebut. Disinilah pentingnya peran etika. Bagaimanapun, seorang penulis, pembawa berita, narasumber di acara TV, pengelola media cetak, harian umum, TV hingga radio wajib mencederai komunikasi. Efek yang ditimbulkan ketika jurnalis selalu melakukan pelanggaran, bisa menimbulkan perpecahan, persepsi yang salah dan sikap yang salah dari pamirsa.

Rivers, et al (2003) mengemukakan ukuran-ukuran tentang pelaksanaan tugas media yang baik mulai dibakukan, seperti yang terjadi di Amerika Serikat tentang kode etik profesi pers. Diantaranya :[11]

  • Tahun 1923 American Society of Newspaper Editors (sebuah organisasi nasional) memberlakukan Kode Etik Jurnalisme yang mewajibkan surat kabar senantiasa memperhatikan kesejahteraan umum, kejujuran, ketulusan, ketidakberpihakan, kesopanan dan penghormatan tyerhadap privasi individu. Adanya kode etik ini bukan hal yang ringan, karena surat kabar sudah berusia 300 tahun ketika kode etik diberlakukan, dan selama abad 17 dan 18 surat kabar gigih memperjuangkan kebebasannya.[12]
  • Tahun 1937 Kode Etik Radio Siaran dan 1952 Kode Etik Televisi sudah beberapa kali disempurnakan, ditengah ketatnya kontrol pemerintah yang mengharuskan media elektronik tidak hanya mengikuti perubahan iklim intelektual, tetapi juga mengharuskan media elektronik selalu memperhatikan “kepentingan, kenyamanan dan kebutuhan publik”. Kode etik memperlakukan media elektronik terutama sebagai sumber hiburan, selain menjalankan fungsi pendidikan bagi masyarakat.[13]
  • Tahun 1930 mulai diterapkan Kode Perfilman tentang standar perilaku minimum yang tidak boleh dilanggar. Namun dalam kode ini tidak terlalu diperhatikan terutama sejak 1960-an, selain ketentuan tentang standar jenis film untuk setiap golongan usia. Kepatuhan terhadap ketentuan atau kode-kode etik itu jelas merupakan pelanggaran terhadap teori libertarian. Karena itu media lebih dekat dengan teori tanggung jawab sosial.[14]
  1. Realitas Pelaksanaan Etika Komunikasi

Walaupun etika dalam komunikasi massa telah diatur sedemikian rupa, realitasnya masih banyak pelaku komunikasi massa masih terjebak dalam berbagai kepentingan hingga menciderai kode etik jurnalistik.

Beberapa hal yang biasanya dilanggar oleh pelaku komunikasi massa, baik itu melalui media cetak – online maupun cetak –, televisi, hingga radio yaitu; objektivitas, menghakimi, tendensius, tidak meralat kesalahan berita hingga independensi.

Salah satu yang menghalangi terciptanya etika tersebut ialah, kepentingan-kepentingan titipan bahkan kebiasaan plagiat kepada media lain yang tidak objektif. Apalagi, beberapa media digunakan sebagai mesin propaganda beberapa kelompok. Tentunya, hal seperti ini tidak mencerminkan etika yang baik.

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari materi yang telah dipaparkan diatas, setidaknya diperoleh beberapa kesimpulan.

  1. Era modern dan demokrasi sangat menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan berbicara di depan public, hingga kebebasan memperolah informasi.
  2. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang pesat, setiap orang berpeluang untuk mensosialisasikan ide dan pikirannya melalui media public.
  3. Bahwa dalam menyampaikan sebuah berita, ada etika yang perlu diperhatikan oleh pelaku komunikasi massa. Hal tersebut telah diatur dalam kode etik jurnalis.
  4. Bahwa realitas yang terjadi dalam penerapan etika komunikasi massa belum maksimal. Beberapa media masih sering membuat pelanggaran terhadap kode etik mereka.

B. Saran

Maka, untuk menanggulangi permasalahan tersebut diatas, penulis menyarankan;

  1. Memberlakukan hukum sebagai guidance, setiap pelanggaran harus mendapat teguran melalui proses yang disepakati.
  2. Memberi pelatihan dan pemahaman kepada jurnalis dan semua yang terlibat dalam komunikasi massa agar memperhatikan kode etik yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Soyomukti, Nurani, Pengantar Ilmu Komunikasi, 2016, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta

Internet

http://naufalfauzy.blogspot.co.id/2014/12/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 26 April 2017 Pukul 19.26

https://jhohandewangga.wordpress.com/2012/02/24/pengertian-etika/ diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.05

http://tamarligori.blogspot.com/2014/03/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.53

http://aginapuspa.blogspot.com/2013/04/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.54

 

http://ariska2607.blogspot.co.id/2016/06/makalah-efek-dan-etika-komunikasi-massa.html diambil jam 26 April 2017 pukul 19.29

 

 

 

 

 

[1] http://naufalfauzy.blogspot.co.id/2014/12/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 26 April 2017 Pukul 19.26

[2] https://jhohandewangga.wordpress.com/2012/02/24/pengertian-etika/ diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.05

[3] Ibid

[4] Nurani Soyomukti, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jogjakarta (Ar-Ruzz Media) 2016

[5] Op.Cit

[6] http://tamarligori.blogspot.com/2014/03/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.53

[7] http://aginapuspa.blogspot.com/2013/04/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.54

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] http://ariska2607.blogspot.co.id/2016/06/makalah-efek-dan-etika-komunikasi-massa.html diambil jam 26 April 2017 pukul 19.29

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

Makalah Komunikasi Antarbudaya dan Perubahan Sosial

MAKALAH

Komunikasi Antarbudaya dan Perubahan Sosial

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Komunikasi Antarbudaya”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Alim Puspianto M.Kom

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM SURABAYA

T.A 2016/2017

 

Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalm makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Alim Puspianto, M.Kom.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang special dan unik. Special karena memiliki kemampuan berfikir, menalar dan menentukan arah kehidupan dan sejarah. Unik karena berbeda-beda dan mempunyai kekhasan tersendiri disetiap daerah. Manusia terus berkembang dan berkembang.

Salah satu kekhasan manusia adalah sifat social dan kebudayaan yang dimilikinya. Setiap kelompok manusia memiliki cara berbeda dalam bersosial dan berbudaya. Namun, karena perkembangan teknologi, pertemuan-pertemuan antarbudaya tak bisa dielakkan. Antara kelompom masyarakat satu dan masyarakat yang lain tak bisa menghindar dari komunikasi. Maka lahirlah komunikasi antarbudaya yang dinamis.

Komunikasi antarbudaya tentu menimbulkan gejolak. Meninggalkan budaya leluhur yang telah mengakar kuat dalam sebuah kelompok masyarakat lalu menerima kebudayaan lain bukanlah sesuatu yang mudah. Sehingga perubahan social dan budaya lahir bukan tanpa tantangan.

Makalah ini berusaha mengungkap hal-hal tersebut di atas. Setelah mengumpulkan berbagai literature yang ada, penulis berusaha menyajikan teori-teori dan hasil penelitian terhadap masalah ini.

2. Rumusan Masalah

a. Apa definisi Komunikasi Antarbudaya?

b. Apa yang dimaksud dengan perubahan social?

c. Apa hakekat perubahan social dan budaya?

d. Apa sifat-sifat perubahan social dan budaya?

e. Bagaimana tahapan-tahapan perubahan social budaya?

3. Tujuan

a. Menemukan definisi Komunikasi Antarbudaya.

b. Memahami makna perubahan social dan budaya.

c. Memahami hakekat perubahan social dan budaya.

d. Mengetahui sifat-sifat perubahan social dan budaya.

e. Mengetahui tahapan-tahapan perubahan social dan budaya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sekilas Tentang Komunikasi Antarbudaya

Pembicaraan tentang komunikasi antarbudaya tidak dapat dielakkan dari pengertian kebudayaan (budaya). Komunikasi dan kebudayaan tidak sekedar dua kata namun merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dimana studi komunikasi antarbudaya (William dalam Liliweri, 2013: 8) dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi.[1]

Liliweri (2013: 9) mendefinisikan komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara dua orang/lebih yang berbeda latar belakang kebudayaan. Sependapat dengan Jandt (1998: 36) mendefinisikan Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture yang berarti bahwa komunikasi antarbudaya secara umum merujuk pada interaksi face to face diantara orang-orang dengan berbagai kebudayaan yang berbeda.[2]

B. Perubahan Sosial

Perubahan social adalah proses social yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur budaya dan system-system social, dimana setiap tingkatan kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan social yang lama, kemudian menyesuaikan dengan yang baru.[3]

Perubahan social juga dapat diartikan sebagai perubahan pada lembaga-lembaga social dalam suatu masyarakat. Perubahan-perubahan pada lembaga social ini kemudian memberikan pengaruh pada perubahan system sosialnya. Termasuk nilai-nilai pola perilaku ataupun sikap.[4]

Ada pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial itu merupakan suatu respons atau jawaban dialami terhadap perubahan – perubahan tiga unsur utama ;
a. Faktor alam
b. Faktor teknologi
c. Faktor kebudayaan

  • Tahapan tahapan dari perubahan sosial itu sendiri adalah sebagai berikut :
    a. Primitif ; pada tahapan ini manusia hidup secara terisolir dan berpindah –pindah disesuaikan dengan lingkungan alam yang mendukungnya.
    b. Agrokultural ; saat lingkungan alam mulai tidak mendukung maka pilihan buday cocok tanam menjadi pilihan.
    c.  Tradisional ; masyarakat mulai hidup secara menetap disuatu tempat yang dianggap strategis.
    d. Transisi ; kehidupan desa sudah sangat maju, isolasi kehidupan hampir tidak ditemukan lagi.
    e.  Modern ; ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas meninggalkan fase transisi.
    d.  Postmodern ; masyarakt modern yang telah melampaui tahapan – tahapanya.

 

  1. Adapun Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahapan berurutan :
    a. Invensi yaitu proses dimana ide – ide baru diciptakan dan dikembangkan.
    b. Difusi yaitu proses dimana ide – ide itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial
    c. Konsekwensi yakni perubahan – perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi.[5]

 

  1. Hakekat Perubahan Sosial

Studi tentang perubahan sosial-budaya umumnya me­rupakan salah satu dari bermacam-macam studi tentang masyarakat. Mengapa? Karena setiap pola kehidupan atau sodai pattern dapat diidentifikasi dan diuji sepanjang waktu. Per­kembangan simbol-simbol baru yang memberikan makna dalam agama, seni, literatur dan musik merupakan contoh dari per­ubahan kebudayaan, semuanya ini menjadi subjek studi teoritis yang bersifat makro. Sementara itu cara individu berinteraksi dengan seseorang atau dalam proses kelompok kecil, merupakan subjek teori atau studi-studi pada asas mikro. Jika kita sepakat bahwa perubahan sosial-budaya itu meliputi aras makro dan mikro yang terjadi dalam sebuah masyarakat maka ada baiknya kita melihat sejenak paradigma sebuah masyarakat.[6]

Kingsley Davis mengartikan perubahan-perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya timbul pengorganisasian. Contoh ini mudah terlihat dalam masyarakat kapitalis yang juga dikenal oleh masyarakat sekarang, seperti didirikannya pelbagai pabrik yang padat modal (kapital) maka terjadi perubahan hubungan antara buruh dengan majikan yang kemudian menyebabkan perubahan-perubahan dalam oganisasi ekonomi dan politik.[7]

Mac Iver membedakan perubahan sosial antara perubahan utilitarian elements dengan cultural elements yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Karena itu menurutnya, semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat diklasifikasi ke dalam dua kategori tersebut di atas, dimana utilitarian elements merupakan ciri peradaban. Contoh, kita mungkin belum memerlukan alat bantu teknologi hitung seperti kalkulator, namun lantaran sarana tersebut sangat membantu mempercepat penyelesaian pekerjaan matematis maka kita mem­beli kalkulator. Hal menggunakan materi sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan merupakan salah satu bentuk peradaban, yakni tindakan utilitarian elements namun kemauan kehendak motivasi, dorongan menggunakan alat bantu adalah kebudayaan yaitu cultural elements.

 

  1. Sifat-Sifat Perubahan

Dengan memperhatikan model-model perspektif masyarakat yang menjelaskan sistem sosial dan ruang lingkup staft masyarakat tersebut di atas maka para sosiolog maupun antropolog mulai memfokuskan analisis studi mereka terhadap komunitas. Banyak teoritis pada aras makro lebih memilih sebuah bangsa dan kelompok budaya yang luas, misalnya suatu bangsa seperti Indonesia yang berbeda etnik namun berbicara dalam bahasa Indonesia. Hanya sedikit teoritis di asas makro yang berhasil membangun suatu analisis yang mereka sebut “sistem dunia”, misalnya aneka ragam hubungan sistem ekonomi dan politik yang beruang lingkup dunia. Beberapa karakteristik perubahan itu antara lain sebagai berikut:[8]

b. Perubahan Struktural

Setiap orang dalam masyarakatnya mempunyai posisi sosial tertentu, contoh adalah pekerjaan. Dari pekerjaan dapat ditentukan jenis peran setiap orang dalam masyarakatnya. Apabila suatu saat seseorang mendapat promosi maka kita bilang orang itu naik pangkat, karena orang itu berubah peran yang makin tinggi dengan tanggungjawab yang makin besar. Dalam studi mobilitas sosial, perubahan semacam ini digolongkan sebagai perubahan sosial semata-mata dalam peran individu. Kapan kita menyebut­kan sebuah perubahan itu sebagai sebuah perubahan struktural? Kita akan bilang perubahan itu sebagai perubahan struktural kalau perubahan itu mengandung diferensiasi sosial yakni salah satu jenis perubahan struktural karena ada sesuatu yang baru dari perubahan itu, misalnya perubahan yang menghasilkan peran-peran yang lebih khusus (ada pengembangan spesialisasi).

c. Perubahan Dinamika dan Stabilitas

Stabilitas itu penting dalam semua kebudayaan. Acap kali kita mengatakan bahwa jika salah satu nilai mengalami kemajuan dan pertumbuhan, maka di sana akan terjadi dinamika. Hampir semua model masyarakat dipandang sebagai sebuah sistem yang stabil, karena di dalamnya ada struktur institusional untuk me­layani dan menangani pola-pola budaya. Dalam ilmu sosial, istilah stabil itu tidak berarti tidak ada perubahan, sebab di sana ada perubahan yang terjadi perlahan-lahan dari masyarakat masa lalu dan mengikuti perubahan waktu hingga ke masa sekarang Model suatu masyarakat yang cenderung berkembang telah di­jadikan topik bahasan ilmuwan sosial sejak abad 19, tatkala para ilmuwan itu mulai meminjam kata “sistem” dari biologi untuk menjelaskan dinamika stabilitas.[9]

a. Progress

Pilihan sistem dengan memperhatikan dinamika stabilitas merupakan model bagi suatu masyarakat yang didasarkan pada pengalaman historis dari masyarakat industrial. Namun demi­kian di sana ditunjukkan pula betapa banyak negara yang gagal mencapai kemajuan untuk memecahkan masalah-masalah bangsanya. Model ini diimplikasikan dalam perencanaan pem­bangunan untuk menciptakan suatu masa transisi secara gradual dari satu sistem ke sebuah sistem yang lebih baik. Itulah yang banyak negara diaplikasikan sebagai program pem­bangunan berkesinambungan.[10]

d. Perubahan Revolusioner

Model perubahan sosial yang revolusioner tidak berakhir dengan kekacauan sosial, tetapi model ini merupakan model untuk menjelaskan perubahan yang cepat, kacau dan acapkali ditandai dengan perubahan yang relatif stabil dari suatu masyarakat. Dalam teori revolusioner dikatakan bahwa ketegangan sosial dan konflik dapat dipandang sebagai faktor yang me­nentukan pembaharuan sosial, misalnya dari proses evolusi men­jadi revolusi. Perbedaan gradual antara perubahan sosial yang revolusioner dengan evolusioner terletak pada penggantian proses sosial dan struktur sosial.[11]

e. Beberapa Catatan tentang Pembangunan sebagai Perubahan

Jika pembangun­an dilihat sebagai proses perubahan, maka ada beberapa pen­dekatan dalam studi pembangunan yang harus diperhatikan; yaitu: (1) Pendekatan modernitas dan variannya adalah: a. pen­dekatan modernisasi, b. pemerataan kembali dengan pertumbuh­an, c. pendekatan kebutuhan dasar; dan (2) Pendekatan ekonomi politik yang terdiri dari; a. pendekatan ketergantungan, b. pendekatan sistem dunia, dan c. pendekatan artikulasi modus produksi.

Saya hanya mengambil satu pendekatan yang menurut pandangan saya relevan dengan pengaruh perubahan terhadap komunikasi antarbudaya, yakni gagasan fungsionalisme struktural dari Talcot Parsons. Jika konotasi kemajuan ditentukan dalam perbandingan atas perubahan suatu masyarakat modem dengan masyarakat tradisional maka kita akan merujuk pada lima variabel {pattern variables) yang sekaligus menunjukkan tahap pembangunan, yaitu; (1) afektif-netral afektif; (2) partikularistik – universalistik; (3) orientasi kolektif – orientasi diri; (4) status yang diberikan/ askripsi – status yang diperoleh {achievement); dan (5) fungsi tersebar – fungsi spesifik. Pertama, variabel pertama yang dibandingkan antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern adalah afektif-netral-afektif.Parsons ingin menyebutkan bahwa hubungan sosial pada masyarakat tradisional bersifat afektif personal, emosional, tingkat tatap muka. Hubungan sosial dalam masyarakat modern, impersonal, bebas emosi, dan tidak pernah bersifat langsung. Kedua, variabel partikularistik – universalis tik; dalam masyarakat tradisional orang cenderung bekerja sama dengan orang dari latar belakang yang sama, kelompok yang sama, perjanjian kerja bersifat informal dan kadang-kadang ver­bal. Masyarakat modern bersifat universalistik, penduduk kota makin padat, pembagian kerja dengan diferensiasi makin tinggi, pergaulan meluas ke masyarakat yang berbeda, kerja sama dilandasi perjanjian formal/kontrak.[12]

Ketiga, variabel orientasi kolektif dalam masyarakat tradisi­onal mengajarkan kesetiaan serta pengorbanan untuk kelompok (keluarga, komunitas, atau suku). Sebaliknya orientasi diri, mengembangkan kemampuan dan kebebasan individu. Keempat, mengutamakan status askripsi, orang dilihat dari latar belakang keluarga, warna kulit. Dalam masyarakat modem orang dinilai menurut apa yang dicapai dengan prestasi kerja. Kelima, fungsi terrebar menjelaskan bahwa peran seorang sering kali tumpang tindih dan tidak mempunyai batas yang jelas. Sebaliknya, dalam masyarakat modern peran-peran yang berbeda ini biasanya dipegang oleh orang yang berbeda-beda dan cenderung tidak ada ketumpangtindihan.

5. Teori-Teori Perubahan Sosial

a. Teori Evolusi ( Evolution Theory )

Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theories of evolution, dan multilined theories of evolution.[13]

  • Unilinear Theories of Evolution

Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain Auguste Comte dan Herbert Spencer.[14]

  • Universal Theories of Evolution

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen menjadi kelompok yang heterogen.[15]

  • Multilined Theories of Evolution

Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahaptahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.[16]

b. Teori Konflik ( Conflict Theory )

Menurut pandangan teori ini, pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat.[17]

c. Teori Fungsionalis ( Functionalist Theory )

Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .[18]

d. Teori Siklis ( Cyclical Theory )

Beberapa bentuk Teori Siklis adalah sebagai berikut.

  • Teori Oswald Spengler (1880-1936)

Menurut teori ini, pertumbuhan manusia mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat, bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.

  • Teori Pitirim A. Sorokin (1889-1968)

Sorokin berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini adalah kebudayaan ideasional, idealistis, dan sensasi.

1) Kebudayaan ideasional, yaitu kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

2) Kebudayaan idealistis, yaitu kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal.

3) Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

  • Teori Arnold Toynbee (1889-1975)

Toynbee menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian. Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali peradaban Barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahannya.

  1. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya dan Penyebabnya

Perubahan sosial budaya dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk berikut ini.

  • Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat (Evolusi dan Revolusi)
  • Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
  • Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan

 

  1. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya

a . Sebab-Sebab yang Berasal dari Dalam Masyarakat (Sebab Intern)

  • Dinamika penduduk
  • Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat
  • Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
  • Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar.

b . Sebab-Sebab yang Berasal dari Luar Masyarakat (Sebab Ekstern)

  • Adanya pengaruh bencana alam.
  • Adanya peperangan
  • Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari teori-teori yang telah penulis rangkum tentang komunikasi antarbudaya dan perubahan social, dapat disimpulkan beberapaah hal;

  1. Bahwa antara social dan budaya adalah hal yang tak terpisahkan. Keduanya merupakan dua kata yang sangat berkaitan erat satu sama lain. Maka, untuk memahami salah satunya, harus membahas kedua-duanya.
  2. Perubahan social dan budaya adalah hal yang terus menerus terjadi. Hal tersebut telah menjadi hokum alam atau ketentuan kehidupan manusia. Perubahan ini terjadi karena banyak factor. Salah satunya teknologi dan sifat inferioritas manusia.
  3. Perubahan social terjadi karena factor-faktor yang ada. Baik factor tersebut berasal dari internal masyarakat maupun dari eksternal masyarakat.
  4. Perubahan social terjadi untuk memenuhi tuntutan zaman atau agar tak terhindar dari system universl yang dibuat oleh masyarakat mayoritas di dunia.

2. Saran

Perubahan social adalah sebuah keharusan yang mesti dipenuhi agar tak tergilas oleh zaman yang terus berubah. Akan tetapi, perubahan social dan budaya harus dikendalikan oleh setiap anggota masyarakat. Hal tersebut unruk menghindari perubahan yang justru merusak tatanan masyarakat yang telah terbentuk.

Kemudian, perubahan social dan buday tidak berarti meninggalkan system social dan kebudayaan yang menjadi khas sebuah kelompok masyarakat. Perubahan radikal dalam sebuah kelompok masyarakat yang diadopsi dari masyaraaat lain berarti pengkhianatan terhadap budaya leluhur, dengan catatan bahwa system tersebut adalah system yang baik dan bermaslahat.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

BUKU

Berry, J.W. (1999). Psikologi Lintas Budaya, Riset dan Aplikasi. Alih Bahasa dari

Edi Suhardono. 1999.Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Forse, Michel. (2004). “Teori-Teori Perubahan Sosial” dalam Sosiologi, Sejarah dan Pemikirnya. Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Liliweri, A. (2007). Prasangka & Konflik, Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : LkiS.

Samovar, L.A., Porter, R.E., dan McDaniel, E.R. (2010). Komunikasi  Lintas Budaya; Communication Between Cultures. Jakarta: Salemba Humanika

Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi ; suatu pengantar PT Rajawali Pers : Jakarta\

Burhan, Bungin. 2008. Sosiologi komunikasi ; teori, paradigma dan diskursus komunikasi di masyarakat PT kencana : Jakarta

INTERNET

http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.32

http://lembahbanyu.blogspot.co.id/2013/04/komunikasi-antar-budaya-dan-perubahan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html diunduh tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

 

 

 

[1] Diambil dari http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.32

[2] Ibid

[3] Diambil dari http://lembahbanyu.blogspot.co.id/2013/04/komunikasi-antar-budaya-dan-perubahan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Diambil dari http://sofianti2.blogspot.co.id/2016/06/bab-iii-komunikasi-antarbudaya-dan.html tanggal 04 April 2017 Pukul 18.33

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Op cit

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Ibid

MAKALAH [Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Isi Media Massa]

MAKALAH

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Isi Media Massa

Dibuat sebagai pemenuhan tugas dan akan dipresentasikan di Prodi KPI semester V pada mata kuliah “Media Komunikasi”.

 

Dosen Pengampu:

Alim Puspianto. M.Kom.I

logo-stail 

 

Muh. Faruq
2014.31.11.0020

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL-HAKIM

PONPES HIDAYATULLAH SURABAYA

2016-2017

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Di era globalisasi perkembangan media massa sangatlah pesat. Baik itu media massa cetak seerti koran, majalah dan tabloid maupun media elektronik seperti televisi, Radio dan Internet. Saat ini kehidupan masyarakat di seluruh Dunia, bahkan masyarakat Indonesia pun tidak lepas dari yang namanya akses Informasi dan komunikasi dari media massa. Karena sudah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam kehidupan sosial bermasyarakat untuk mengakses informasi baik seputar lingkungan masyarakat sekitar, keadaan Negara maupun mancanegara.

DeFleur dan Rokeach (1989: 265-269) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengkonseptualisasikan sebuah peristiwa atau keadaan oleh seseorang merupakan usaha untuk mengkonstruksi realitas, demikian halnya dengan upaya para pekerja media ketika berusaha untuk menampilkan suatu realitas tertentu dalam medianya. Unsur utama dan penting yang dipakai dalam konstruksi realitas adalah bahasa, baik bahasa verbal (kata-kata tertulis atau lisan) maupun bahasa non verbal, seperti gambar, foto, gerak-gerik, grafik, angka dan tabel.

Namun dalam proses penyampaian Informasi melalui media massa itu tidak sepenuhnya berjalan semestinya ataupun sesuai dengan fakta dan keadaan yang ada. Karena ada faktor yang mempengaruhi isi media massa tersebut. Selain faktor bahasa verbal dan non verbal ada juga lima faktor yang mempengaruhi isi media. Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese (1996), dalam Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content, menyusun berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan Mereka mengidentifikasikan ada lima faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi dalam menentukan isi media. Diantaranya adalah Faktor Individual, Rutinitas Media, Organisasi, Ekstra Media dan Ideologi.

  1. Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini penulis akan menyampaikan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas, diantaranya adalah :

1)      Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi isi media massa?

2)      Apa saja karakteristik isi media massa?

3)      Bagaimana pengaruh faktor individual terhadap isi media massa?

4)      Bagaimana pengaruh Rutinitas media terhadap isi media massa?

5)      Bagaimana pengaruh Organisasi terhadap isi media massa?

6)      Bagaimana pengaruh Ekstra media terhadap isi media massa?

7)      Bagaimana pengaruh Ideologi terhadap isi media massa?

  1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1)      Memenuhi tugas kelompok mata kuliah Komunikasi Massa

2)      Mengetahui karakteristik isi media Massa

3)      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi isi media Massa

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Media Massa

Menurut Leksikon Komunikasi, media massa adalah “sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar”.

Menurut Cangara, media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak, sedangkan pengertian media massa sendiri alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi.

Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam hubungannya  satu sama lain (Soehadi, 1978:38).

Media Massa adalah sarana komunikasi massa dimana proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.

  1. Karakteristik Isi Media Massa

Media Massa menerima informasi dan berita dari berbagai sumber. Disini berita akan masuk ke Gate Keeper (redaksi) ,untuk menyeleksi pemberitaan yang layak untuk dimuat.

  • Karakteristik Isi Pesan Media Massa (koran, majalah, radio, tv dan film) antara lain :
  • Novalti : Sesuatu yang baru . “Sesuatu yang baru” merupakan unsur yang terpenting bagi suatu pesan media massa
  • Jarak : Dekat atau jauh. Jarak terjadinya suatu peristiwa dengan tempat publikasinya peristiwa mempunyai arti penting. Khalayak akan tertarik untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan lingkungannya.
  • Popularitas : Peliputan tentang tokoh organisasi/ kelompok ,tempat dan waktu yang penting dan terkenal akan menjadi berita besar dan menarik perhatian khalayak.
  • Pertentangan : Konflik. Hal-hal yang mengungkapkan pertentangan,baik dalam bentuk kekerasan atau menyangkut perbedaan pendapat dan nilai biasanya disukai oleh khalayak.
  • Komedi : Humor. Manusia pada dasarnya tertarik pada hal yang lucu dan menyenangkan. Oleh karena itu,bentuk penyampaian pesan yang lucu disukai khalayak.
  • Seks dan keindahan : Salah satu sifat manusia adalah menyenangi unsur seks dan kecantikan atau keindahan sehingga unsur tersebut bersifat universal,dan menarik minat khalayak. Maka,media massa seringkali mengangkat kedua unsur tersebut kedalam tulisannya.
  • Emosi : Hal-hal yang berkaitan menyentuh kebutuhan dasar (basic needs) seringkali menimbulkan emosi dan simpati khalayak.
  • Nostalgia : Menunjukkan pada hal yang mengungkapkan pengalaman di masa lalu.
  • Human Interest : Setiap orang pada dasarnya ingin mengetahui segala peristiwa yang menyangkut kehidupan orang lain. Hal ini sering diangkat media massa melalui tulisan biografi,bibliografi,berita,feature dan acara deskriptif lainnya.
  1. Faktor-faktor Pengaruh Isi Media Massa

Dalam menyajikan realitas sosial, media memiliki bahasa tersendiri, bahasa yang terdiri atas seperangkat tanda tidak pernah membawa makna tunggal di dalamnya. Berita dalam media selalu memiliki ideologi dominan yang terbentuk melalui tanda tersebut, artinya jika kita gali lebih dalam, teks media membawa kepentingan-kepentingan yang lebih luas dan kompleks. Oleh karenanya, harus diakui bahwa apa yang dimuat media massa tidak terlepas dari berbagai kepentingan atau kekuatan yang dibelakangnya. Media juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, termasuk kecenderungan opini yang berkembang dan ideologi yang berkembang di masyarakat.

DeFleur dan Rokeach (1989: 265-269) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengkonseptualisasikan sebuah peristiwa atau keadaan oleh seseorang merupakan usaha untuk mengkonstruksi realitas, demikian halnya dengan upaya para pekerja media ketika berusaha untuk menampilkan suatu realitas tertentu dalam medianya. Unsur utama dan penting yang dipakai dalam konstruksi realitas adalah bahasa, baik bahasa verbal (kata-kata tertulis atau lisan) maupun bahasa non verbal, seperti gambar, foto, gerak-gerik, grafik, angka dan tabel.

Bahasa bukanlah sesuatu yang netral, tetapi mengandung makna. Sebagai alat untuk mempresentasikan realitas, melalui pilihan kata-kata dan cara penyajiannya, bahasa juga dapat menciptakan realitas dan menentukan corak dari realitas yang ditampilkannya,  sekaligus menentukan makna yang muncul darinya. Bahasa dapat memberikan aksen tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan tertentu, dengan cara mempertajam, memperlembut, melecehkan, membelokkan atau mengaburkan peristiwa atau tindakan tersebut. Walaupun kegiatan jurnalistik menggunakan bahasa dalam memproduksi berita. Namun, bagi media bahasa bukan hanya sekedar alat komunikasi untuk menggambarkan realitas, namun juga menentukan gambaran atau citra tertentu yang hendak ditanamkan kepada publik (Sobur, 2001:89). Berger dan Luckman (dalam Littlejohn, 1999) menyatakan bahwa ada serangkaian cara untuk memahami objek. Bahasa yang kita gunakan adalah salah satu cara untuk memahami objek dan untuk memberikan label terhadap suatu objek agar dapat dibedakan dengan objek lainnya.

Sebagai contoh,  ketika Surat Kabar menyajikan berita tentang kondisi   perempuan di Indonesia, bahasa yang digunakan masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kapitalisme dan nilai atau aturan di masyarakat yang didominasi pandangan patriarkis. Media menentukan realitas perempuan melalui berbagai cara, yaitu pemakaian kata-kata yang terpilih untuk tujuan tertentu, melakukan pembingkaian (framing) berita,  dan mempergunakan simbol-simbol agar menimbulkan citra tertentu ketika diterima khalayak serta menentukan apakah isu tersebut penting atau tidak penting.

Selain aspek penggunaan bahasa yang dianggap turut mempengaruhi adanya perbedaan dalam penyajian suatu realitas, perbedaan  dan kecenderungan tertentu setiap media dalam memproduksi isi media dipengaruhi oleh beberapa faktor  mulai dari sikap pribadi dan konsepsi peran para pekerja media, rutinitas pekerjaan media, struktur dan budaya organisasi media, hubungan antara media dengan institusi sosial lainnya serta kekuatan ideologi dan budaya yang luas. Pamela Shoemaker dan Stephen D. Reese menyebut pengaruh-pengaruh hierarchy of influence yang merupakan lapisan-lapisan yang  melingkupi institusi media tersebut (Shoemaker dan Resse, 1996).

Masyarakat memandang berita sebagai sebuah fakta di lapangan yang kemudian disajikan apa adanya oleh media. Hal ini menyebabkan masayarakat merasa terkejut saat menyaksikan apa yang ditayangkan di media ternyata tidak sama dengan apa yang mereka saksikan. Dengan kata lain, apa yang ditampilkan media sudah melalui berbagai proses sehingga hasilnya tidak utuh lagi seperti fakta. Memang, tidak semua fakta bisa ditampilkan utuh dalam berita, tapi paling tidak campur tangan atau rekayasanya tidak terlalu menyimpang dari kondisi yang sesungguhnya. Dengan demikian, masyarakat harus menyadari berbagai pengaruh yang dihadapi media dalam menyampaikan sebuah berita.

Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese (1996), dalam Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content, menyusun berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan. Mereka mengidentifikasikan ada lima faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi dalam menentukan isi media (bandingkan dengan McQuail, 1987), sebagai berikut:

  1. Faktor Individual

Faktor ini berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media. Level individual melihat bagaimana pengaruh aspek-aspek personal dari pengelola media mempengaruhi pemberitaan yang akan ditampilkan kepada khalayak. Latar belakang individu seperti jenis kelamin, umur, atau agama, dan sedikit banyak mempengaruhi apa yang ditampilkan media. Latar belakang pendidikan, atau kecenderungan orientasi pada partai politik sedikit banyak bisa mempengaruhi profesionalisme dalam pemberitaan media.

Faktor individu-individu pekerja media juga turut  mempengaruhi produksi isi media. Sejumlah faktor individual seperti karakteristik dari pekerja, latar belakang personal dan profesional atau pengalaman individual, juga nilai-nilai serta kepercayaan serta etika yang mereka anut juga turut mempengaruhi isi media.

  1. Rutinitas Media

Faktor rutinitas institusi media  juga akan mempengaruhi isi media, bahkan Shoemaker dan Reese mengatakan bahwa rutinitas mempunyai dampak yang besar terhadap isi media, karena rutinitas adalah lingkungan sesungguhnya dari pekerja media dan tidak dapat dipisahkan dengan pekerja media dalam melakukan pekerjaan mereka. Rutinitas diibaratkan dua sisi mata uang bagi media,  disatu sisi rutinitas meringankan pekerjaan media karena akan menjamin kelancaran roda organisasi media dan efisiensi, tetapi disisi lain dia merupakan penghambat atau penghalang bagi individu pekerja media dalam melaksanakan tugas karena adanya keterbatasan dalam  pilihan dan keleluasaan penulisan dan pemuatan berita. Rutinitas dalam media biasanya berkaitan dengan kegiatan seleksi yang dilakukan oleh wartawan yang menjalankan fungsinya sebagai gatekeeper (penjaga gawang). Tugas gatekeeper adalah memilih sedemikian banyak berita yang masuk untuk dibuat pada halaman tertentu.  Hal lain yang juga mempengaruhi adalah adanya deadline dan rintangan waktu yang lain, keterbatasan space untuk menyajikan berita, struktur piramida terbalik dalam penulisan berita dan kepercayaan reporter  pada sumber-sumber resmi dalam suatu berita.

Jenis media pun mempengaruhi rutinitas sebuah media yang pada akhirnya berpengaruh pada isi dari media. Contoh yang paling menonjol adalah perbedaan antara media cetak dengan media penyiaran seperti televisi. Para pencari berita media cetak lebih bebas dalam memberikan warna pada pemberitaannya. Ini dikarenakan media cetak terbit sekali sehari dan tidak ada tuntutan untuk memberitakan sebuah berita secara langsung. Sedangkan reporter televisi lebih terpaku dalam memberitakan sebuah berita. Biasanya seorang reporter memberitakan langsung dari tempat kejadian dan hanya bersifat melaporkan.

  1. Organisasi

Level organisasi berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan. Pengelola media dan wartawan bukan orang tunggal yang ada dalam organisasi berita, ia sebaliknya hanya bagian kecil dari organisasi media itu . Masing-masing komponen dalam organisasi media bisa jadi mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Di dalam organisasi media, misalnya, selain bagian redaksi ada juga bagian pemasaran, bagian iklan, bagian sirkulasi, bagian umum, dan seterusnya. Masing-masing bagian tersebut tidak selalu sejalan. Mereka mempunyai tujuan dan target masing-masing, sekaligus strategi yang berbeda untuk mewujudkan target tersebut. Bagian redaksi misalnya menginginkan agar berita tertentu yang disajikan, tetapi bagian sirkulasi menginginkan agar berita lain yang ditonjolkan karena terbukti dapat menaikkan penjualan. Setiap organisasi berita, selain mempunyai banyak elemen juga mempunyai tujuan dan filosofi organisasi sendiri, berbagai elemen tersebut mempengaruhi bagaimana seharusnya wartawan bersikap, dan bagaimana juga seharusnya peristiwa disajikan dalam berita.

  1. Ekstra Media

Level ini berhubungan dengan faktor lingkungan di luar media. Meskipun berada di luar organisasi media, hal-hal di luar organisasi media ini sedikit banyak dalam banyak kasus mempengaruhi pemberitaan media. Ada beberapa faktor yang termasuk dalam lingkungan di luar media:

  • Sumber berita. Sumber berita di sini dipandang bukanlah sebagai pihak yang netral yang memberikan informasi apa adanya, ia juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi media dengan berbagai alasan: memenangkan opini publik, atau memberi citra tertentu kepada khalayak, dan seterusnya. Sebagai pihak yang mempunyai kepentingan, sumber berita tentu memberlakukan politik pemberitaan. Ia akan memberikan informasi yang sekiranya baik bagi dirinya, dan mengembargo informasi yang tidak baik bagi dirinya. Kepentingan sumber berita ini sering kali tidak disadari oleh media.
  • Sumber penghasilan media, berupa iklan, bisa juga berupa pelanggan/pembeli media. Media harus survive, dan untuk bertahan hidup kadangkala media harus berkompromi dengan sumber daya yang menghidupi mereka. Misalnya media tertentu tidak memberitakan kasus tertentu yang berhubungan dengan pengiklan. Pihak pengiklan juga mempunyai strategi untuk memaksakan versinya pada media. Ia tentu saja ingin kepentingannya dipenuhi, itu dilakukan di antaranya dengan cara memaksa media mengembargo berita yang buruk bagi mereka. Pelanggan dalam banyak hal juga ikut mewarnai pemberitaan media. Tema tertentu yang menarik dan terbukti mendongkrak penjualan, akan terus-menerus diliput oleh media. Media tidak akan menyia-nyiakan momentum peristiwa yang disenangi oleh khalayak.
  • Pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis. Pengaruh ini sangat ditentukan oleh corak dari masing-masing lingkungan eksternal media (baca teori normatif komunikasi massa, dan teori makro). Dalam negara yang otoriter misalnya, pengaruh pemerintah menjadi faktor yang dominan dalam menentukan berita apa yang disajikan. Keadaan ini tentu saja berbeda di negara yang demokratis dan menganut liberalisme. Campur tangan negara praktis tidak ada, justru pengaruh yang besar terletak pada lingkungan pasar dan bisnis.
  1. Ideologi

Diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Berbeda dengan elemen sebelumnya yang tampak konkret, level ideologi ini abstrak. Ia berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas. Raymond William (dalam eriyanto, 2001) mengklasifikasikan penggunaan ideologi tersebut dalam tiga ranah.

  • Sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu. Definisi ini terutama dipakai oleh kalangan psikologi yang melihat ideologi sebagai seperangkat sikap yang dibentuk dan diorganisasikan dalam bentuk yang koheren. Sebagai misal, seseorang mungkin mempunyai seperangkat sikap tertentu mengenai demontrasi buruh. Ia percaya bahwa buruh yang berdemontrasi mengganggu kelangsungan produksi. Oleh karenanya, demontrasi tidak boleh ada, karena hanya akan menyusahkan orang lain, membuat keresahan, menggangu kemacetan lalulintas, dan membuat persahaan mengalami kerugian besar. Jika bisa memprediksikan sikap seseorang semacam itu, kita dapat mengatakan bahwa orang itu mempunyai ideologi kapitalis atau borjuis. Meskipun ideologi disini terlihat sebagai sikap seseorang, tetapi ideologi di sini tidak dipahami sebagai sesuatu yang ada dalam diri individu sendiri, melainkan diterima dari masyarakat.
  • Sebuah sistem kepercayaan yang dibuat –ide palsu atau kesadaran palsu- yang biasa dilawankan dengan pengetahuan ilmiah. Ideologi dalam pengertian ini adalah seperangkat kategori yang dibuat dan kesadaran palsu dimana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk mendominasi kelompok lain. Karena kelompok yang dominan mengontrol kelompok lain dengan menggunakan perangkat ideologi yang disebarkan ke dalam masyarakat, akan membuat kelompok yang didominasi melihat hubungan itu nampak natural, dan diterima sebagai kebenaran. Di sini, ideologi disebarkan lewat berbagai instrumen dari pendidikan, politik sampai media massa.
  • Proses umum produksi makna dan ide. Ideologi disini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan produksi makna.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Media Massa adalah sarana komunikasi massa dimana proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak. Media Massa menerima informasi dan berita dari berbagai sumber. Disini berita akan masuk ke Gate Keeper (redaksi) ,untuk menyeleksi pemberitaan yang layak untuk dimuat.

Faktor Individual

Faktor ini berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media.

Rutinitas Media

rutinitas adalah lingkungan sesungguhnya dari pekerja media dan tidak dapat dipisahkan dengan pekerja media dalam melakukan pekerjaan mereka.

Organisasi

Level organisasi berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan. Pengelola media dan wartawan bukan orang tunggal yang ada dalam organisasi berita, ia sebaliknya hanya bagian kecil dari organisasi media itu.

Ektra Media

  • Sumber berita. Sumber berita di sini dipandang bukanlah sebagai pihak yang netral yang memberikan informasi apa adanya, ia juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi media dengan berbagai alasan: memenangkan opini publik, atau memberi citra tertentu kepada khalayak, dan seterusnya.
  • Sumber penghasilan media, berupa iklan, bisa juga berupa pelanggan/pembeli media.
  • Pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis. Pengaruh ini sangat ditentukan oleh corak dari masing-masing lingkungan eksternal media (baca teori normatif komunikasi massa, dan teori makro).

Ideologi

diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya.

Daftar Pustaka

Buku

Eriyanto, 2001, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta: LKiS.

McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga

Shoemaker & Reese, 1996, Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, USA:Longman.

Internet

http://www.ut.ac.id/html/suplemen/skom4314/materi3.htm

http://husnun.wordpress.com/2011/05/18/kuliah-media-dan-masyarakat-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-isi-media/

http://libradee.blogspot.com/2011/12/pesan-media-massa-media-massa-menerima.html

Makalah: Analisis Perang Salib

ANALISIS PERANG SALIB

MAKALAH

Disampaikan untuk memenuhi syarat tugas kuliah

Yang Dipresentasikan di Seminar Kelas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Kelas Takhasus

logo-stail


Oleh:

 

Mohammad Faruq

201431110020

Muhammad Isa Anshori

20143118

 

Dosen Pembimbing:

Nurul Huda, M.Pd.I


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM

SURABAYA

T.A. 2015-2016

 

 

 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, sungguh suatu kesyukuran yang  besar kepada Allah Swt karena masih memberi kekuatan, kesehatan serta nikmat-nikamat lain sehingga dengannya nikmat tersebut, kami mampu menyelesaikan tugas kami yaitu pembuatan makalah dengan tepat waktu tanpa ada masalah berarti. Shalawat serta salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang dengan gagah berani memperjuangkan agama ini. Sehingga agama ini sampai kepada kita.

Kemudian, ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah, khususnya kepada Dosen pengampu mata kuliah ini, Ustadz Nurul Huda, M.Pd.I. Tanpa andil beliau dan teman-teman lain, tentu makalah ini tak akan jadi.

Namun seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, makalah ini juga tak lepas dari kesalahan dan masih jauh dari kesempurnaan. Sebagai manusia biasa yang ak luput dari kesalahan, hal seperti ini tak mungkin dihindari. Maka kami memohon maaf yang sebesar-besarnya terkat hal itu. Selanjutnya kami mohon bimbingan, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak agar kiranya kami bisa memperbaiki hal-hal tersebut.

Demikian kata pengantar ini dibuat, kami ucapkan terima kasih sekaligus permohonan maaf atas kekhilafan kami.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Islam sebagai agama telah melalui berbagai macam kejadian dari awal hingga sekarang.  Berbagai kejadian datag silih berganti demi mewarnai buku sejarah dunia. Hal itu merupakan hal yang wajar dan mesti dilalui oleh golongan besar.

Salah satu peristiwa yang turut menjadi perbincangan dalam sejarah islam yaitu tentang peristiwa perang salib. Sebuah peristiwa yang menjadi penentu kebijakan dunia hingga saat ini. Akan tetapi, sebagian muslim—bahkan kebanyakan—tidak banyak mengetahui tentang peristiwa tersebut.

Berangkat dari fakta tersebut, makalah ini kami hadirkan untuk menjelaskan kepada kita semua hakekat peristiwa tersebut. Bagaimana sebab terjadinya, pelaku-pelakunya, kapan, dimana, dan akibatnya dibahas tuntas dalam makalah ini dengan referensi yang terpercaya.

Semoga dengan hadirnya makalah ini kita bisa mendapat titik terang tentang sejarah perang salib yang sebenarnya dan kita bisa mengambil pelajaran darinya. Lalu, semangat keislaman kita bertambah sehingga izzah islam ini tetap terjaga.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana perjalanan perang salib dari awal hingga akhir.?
  3. Apa yang melatar-belakangi perang salib .?
  4. Seperti apa dampak yang ditimbulkan perang salib.?

 

  1. Tujuan
  2. Memberi pemahaman yang benar tentang peristiwa perang salib.
  3. Mengambil hikmah dari peristiwa perang salib.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian

Perang Salib (bahasa InggrisCrusade, jamak: Crusades) merupakan serangkaian kampanye militer berselang dari tahun 1096 sampai 1487 yang disahkan oleh beberapa paus. Pada tahun 1095 Kaisar Bizantium Alexius I Komnenus mengirimkan seorang utusan kepada Paus Urbanus II untuk meminta dukungan militer dalam konflik Kekaisaran Romawi Timur dengan bangsa Turk yang melakukan migrasi ke arah barat di Anatolia (Turki masa kini). Sang paus menanggapinya dengan memanggil umat Katolik untuk bergabung dengan apa yang kemudian disebut sebagai Perang Salib Pertama.

Secara terminology, Crusade (Perang Salib) adalah sebuah istilah modern yang berasal dari kata Perancis croisade dan Spanyol cruzada; pada tahun 1750 bentuk-bentuk dari kata “crusade” telah terbentuk sendiri dalam bahasa Inggris, Perancis, dan JermanOxford English Dictionary mencatat penggunaannya pertama kali dalam bahasa Inggris oleh William Shenstone pada tahun 1757. Ketika seorang tentara salib mengucapkan suatu sumpah (votus) untuk pergi ke Yerusalem, ia akan menerima sehelai kain salib (crux) untuk dijahitkan di pakaiannya. Hal “mengenakan salib” ini menjadi terkait dengan keseluruhan perjalanan, dan para tentara salib memandang diri mereka melakukan suatu iter (perjalanan) atauperegrinatio (ziarah bersenjata). Inspirasi akan “mesianisme kaum miskin” ini merupakan suatu pengilahian (apotheosis) massal yang diharapkan di Yerusalem.

Salah satu tujuan yang dinyatakan oleh Paus Urbanus adalah menjamin akses para peziarah ke tempat-tempat suci di Tanah Suci yang berada di bawah kendali penguasa Muslim, sementara strateginya yang lebih luas yaitu menyatukan kembali cabang-cabang Timur dan Barat dari dunia Kekristenan setelah perpecahan mereka pada tahun 1054, serta menetapkan diri sebagai kepala Gereja yang dipersatukan. Hal ini mengawali suatu perjuangan yang kompleks selama 200 tahun di wilayah tersebut.

Ratusan ribu orang dari berbagai negara dan kelas yang berbeda di Eropa Barat menjadi tentara salib dengan mengambil suatu sumpah publik dan menerima indulgensi penuh dari gereja tersebut. Beberapa tentara salib adalah para petani yang berharap atas pengilahian di Yerusalem.[5]Paus Urbanus II mengklaim bahwa siapa pun yang ikut serta akan diampuni dosa-dosanya. Selain menunjukkan pengabdian kepada Allah, sebagaimana dinyatakan olehnya, keikutsertaan memenuhi kewajiban feodal dan berkesempatan memperoleh manfaat ekonomi dan politik. Para tentara salib seringkali menjarah negara-negara yang mereka lalui dalam perjalanan, dan berlawanan dengan janji-janji mereka, para pemimpin tentara salib menguasai banyak dari wilayah ini bukan mengembalikannya kepada Bizantium.

Penomoran Perang-perang Salib menjadi bahan perdebatan, beberapa sejarawan menghitung ada tujuh Perang Salib besar dan sejumlah kecil lainnya antara tahun 1096–1291.[3] Kalangan lain menganggap Perang Salib Kelima yang melibatkan Frederik II sebagai dua perang salib, sehingga perang salib yang dilakukan oleh Louis IX pada tahun 1270 menjadi Perang Salib Kedelapan. Terkadang Perang Salib Kedelapan ini dianggap dua, sebab yang kedua dianggap sebagai Perang Salib Kesembilan.

Pandangan pluralistik mengenai Perang-perang Salib berkembang selama abad ke-20, “Perang Salib” dianggap mencakup semua kampanye militer di Asia Barat atau di Eropa yang direstui oleh kepausan. Perbedaan utama antara Perang-perang Salib dan perang suci lainnya adalah bahwa pengesahan untuk melakukan Perang-perang Salib bersumber langsung dari paus, yang mengaku melakukannya atas nama Kristus. Dikatakan demikian karena mempertimbangkan pandangan Gereja Katolik Roma dan mereka yang hidup pada zaman abad pertengahan, seperti Santo Bernardus dari Clairvaux, yang mana memberikan prioritas setara untuk kampanye militer yang dilakukan untuk alasan politik dan untuk memerangi paganisme dan bidah. Definisi yang luas ini mencakup penganiayaan terhadap kaum bidah di Perancis Selatankonflik politik antara umat Kristen di Sisilia,penaklukan kembali Iberia oleh kaum Kristen, dan penaklukan atas kaum pagan di Baltik. Suatu pandangan yang lebih sempit adalah bahwa Perang-perang Salib merupakan perang pertahanan diri di Levant terhadap kaum Muslim untuk membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslim.

  1. Sebab-Sebab Terjadinya

Setelah pasukan Muslim mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Yarmuk pada tahun 636, Palestina berada di bawah kendali Kekhalifahan UmayyahAbbasiyah, dan Fatimiyah Hubungan politik, perdagangan, dan toleransi antara negara-negara Arab dan Kristen Eropa mengalami pasang surut hingga tahun 1072, ketika Fatimiyah kehilangan kendali atas Palentina dan beralih ke Kekaisaran Seljuk Raya yang berkembang pesat. Kendati kalifah Fatimiyah Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus, penerusnya mengizinkan Kekaisaran Bizantium untuk membangunnya kembali. Para penguasa Muslim mengizinkan peziarahan oleh umat Katolik ke tempat-tempat suci. Para pemukim Kristen dianggap sebagai dzimmi dan perkawinan campur tidaklah jarang terjadi. Budaya dan keyakinan hidup berdampingan dan saling bersaing, namun kondisi-kondisi daerah perbatasan tidak bersahabat bagi para pedagang dan peziarah Katolik. Gangguan atas peziarahanoleh karena penaklukan bangsa Turk Seljuk memicu dukungan bagi Perang-perang Salib di Eropa Barat.

Sejumlah pakar sejarah juga  berargumen terkait sebab-sebab terjadinya perang salib. Di antaranya :

Pertama, bahwa perang salib merupakan puncak dari sejumlah konflik antara negeri barat dan negeri timur, jelasnya antara pihak Kristen dan pihak muslim. Perkembangan dan kemajuan ummat muslim yang sangat pesat, pada akhir-akhir ini, menimbulkan kecemasan tokoh-tokoh barat Kristen. Terdorong oleh kecemasan ini, maka mereka melancarkan serangan terhadap kekuatan muslim.

Kedua, munculnya kekuatan Bani Saljuk yang berhasil merebut Asia Kecil setelah mengalahkan pasukan Bizantium di Manzikart tahun 1071, dan selanjutnya Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti Fatimiyah tahun 1078 M. Kekuasaan Saljuk di Asia Kecil dan yerusalem dianggap sebagai halangan bagi pihak Kristen barat untuk melaksanakan haji ke Bait al-Maqdis.

Ketiga, bahwa semenjak abad ke sepuluh pasukan muslim menjadi penguasa jalur perdagangan di lautan tengah. Para pedagang Pisa, Vinesia, dan Cenoa merasa terganggu atas kehadiran pasukan lslam sebagai penguasa jalur perdagangan di laut tengah ini. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperlancar perdagangan mereka adalah dengan mendesak kekuatan muslim dari lautan ini”

Keempat, propaganda Alexius Comnenus kepada paus Urbanus ll. Untuk membalas kekalahannya dalam peperangan melawan pasukan Saljuk. Bahwa paus merupakan sumber otoritas tertinggi di barat yang didengar dan ditaati propagandanya. Paus Urbanus II segera rnengumpulkan tokoh-tokoh Kristen pada 26 November 1095 di Clermont, sebelah tenggara Perancis. Dalam pidatonya di Clermont sang Paus memerintahkan kepada pengikut kristen agar mengangkat senjata melawan pasukan musim.

  1. Periode-Periode Perang Salib

Perang salib sendiri terdiri dari beberapa periode. Mulai dari jatuhnya kota Yerussalem ke tangan Kristen, kemudian pembebasannya oleh Salahuddin Al-Ayyubi hingga upaya-upaya Kristen untuk merebutnya kembali. Sejarahwan mencatat 8 peperangan yang berhubungan dengan perang salib.

Pertama, Perang Salib I (1096–1099)

Bala tentara salib yang resmi berangkat dari Perancis dan Italia pada bulan Agustus dan September 1096. Sejumlah besar pasukan tersebut dibagi menjadi empat bagian, yang mana melakukan perjalanan secara terpisah menuju Konstantinopel. Jika memperhitungkan orang-orang selain pejuang, pasukan barat mungkin berjumlah sebanyak 100.000 orang. Para pasukan tersebut melakukan perjalanan ke arah timur lewat jalan darat menuju Konstantinopel, di mana mereka menerima sambutan kehati-hatian dari sang Kaisar Bizantium. Pasukan utamanya, kebanyakan terdiri dari kesatria Norman dan Perancis di bawah kepemimpinan para baron, berjanji untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang hilang kepada kekaisaran tersebut dan mereka berbaris menuju selatan melalui Anatolia. Para pemimpin Perang Salib Pertama ini misalnya Godefroy dari BouillonRobert CurthoseHugues I dari VermandoisBaudouin dari BoulogneTancred dari HautevilleRaymond IV dari ToulouseBohemond dari TarantoRobert II dari Flandria, dan Étienne, Comte Blois. Raja Perancis danHeinrich IV, Kaisar Romawi Suci, saat itu sedang dalam konflik dengan sang Paus dan tidak ikut berpartisipasi.

Bala tentara salib awalnya berperang melawan bangsa Turk dalam Pengepungan Antiokhia yang berlangsung cukup lama, dimulai sejak bulan Oktober 1097 dan berakhir Juni 1098. Ketika mereka memasuki Antiokhia, para tentara salib membantai penduduk Muslim dan menjarah kota tersebut. Namun sejumlah besar pasukan Muslim yang dipimpin oleh Kerboga segera mengepung para tentara salib, yang saat itu berada di dalam Antiokhia. Bohemond dari Taranto berhasil menghimpun kembali para tentara salib itu dan mengalahkan Kerboga pada tanggal 28 Juni. Bohemond dan pasukannya tetap memegang kendali atas kota tersebut, kendati telah berjanji mengembalikannya kepada Alexius. Sebagian besar bala tentara salib yang tersisa itu bergerak menuju selatan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya di sepanjang pesisir tersebut, dan akhirnya tiba di Yerusalem pada tanggal 7 Juni 1099 dengan hanya sebagian kecil dari kekuatan asli mereka.

Kaum Yahudi dan Muslim berjuang bersama-sama untuk mempertahankan Yerusalem dalam menghadapi invasi kaum Franka itu, tetapi para tentara salib berhasil masuk ke dalam kota tersebut pada tanggal 15 Juli 1099. Mereka mulai melakukan pembantaian penduduk sipil Muslim dan Yahudi, serta menjarah atau menghancurkan masjid-masjid atau kota itu sendiri. Dalam Historia Francorum qui ceperunt Iherusalem karyanya, Raymond D’Aguilers meninggikan tindakan-tindakan yang mana akan dianggap sebagai kekejaman dari suatu sudut pandang modern. Sebagai akibat dari Perang Salib Pertama, tercipta empat negara tentara salib yang utama: Edessa, Antiokhia, Tripoli, dan Yerusalem. Pada suatu tingkatan populer, Perang Salib Pertama dianggap melepaskan suatu gelombang amarah Katolik yang saleh dan emosional, yang mana diungkapkan dalam pembantaian orang-orang Yahudi yang mengiringi perang-perang salib tersebut dan perlakuan kejam atas kaum Kristen Ortodoks “skismatik” dari timur.

Setelah Perang Salib Pertama, berlangsung yang kedua, perang salib yang kurang berhasil dan disebut Perang Salib 1101, di mana bangsa Turk yang dipimpin oleh Kilij Arslan Imengalahkan para tentara salib dalam tiga pertempuran terpisah.

Kedua, Perang Salib II (1147-1187)

Periode kedua ini adalah masa-masa perebutan kembali tanah suci oleh kaum muslim di bawah pimpinan Nurudddin Zanki lalu dilanjutkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi setelah sebelumnya Imaduddin Zanki (ayah Nuruddin Zanki) memulai upaya tersebut. Ia berhasil merebut satu-persatu daerah yang telah dikuasai pasukan salib. Keberhasilannya yang paling gemilang adalah merebut kota Edessa yang merupakan tempat berdirinya salah satu kerajaan Kristen sebagai akibat perang salib pertama.

Dengan jatuhnya kembali kota Edesa oleh pasukan muslim, tokoh-tokoh Kristen Eropa dilanda rasa cemas. St Bernard segera menyerukan kembali perang salib melawan kekuatan muslim. Seruan tersebut membuka gerakan perang salib kedua dalam sejarah Eropa. Beberapa penguasa Eropa menanggapi poiitif seruan perang suci ini. Kaisar jerman yang bernama Conrad III, dan kaisar perancis yang bernama Louis VII segera mengerahkan pasukannya keAsia. Namun kedua pasukan ini dapat dihancurkan ketika sedang dalam perjalanan menuju Syiria. Dengan sejumlah pasukan yang tersisa mereka berusaha mencapai Antioch, dan dari sini mereka menuju ke Damaskus.

Pengepungan Damaskus telah berlangsung beberapa hari, ketika Nuruddin tiba di kota ini. Karena terdesak oleh pasukan Nuruddin, pasukan salib segera melarikan diri ke Palestina, sementara Conrad III dan Louis VII kembali ke Eropa dengan tangan hampa.

Nuruddin segera mulai memainkan peran baru sebagai sang penakluk. Tidak lama setelah mengalahkan pasukan salib, ia berhasil rnenduduki benteng Xareirna, merebut wilayah perbatasan Apamea pada tahun 544 H/1149 M., dan kota Joscelin. Pendek kata, kota-kota penting pasukan salib berhasil dikuasainya. la segera menyambut baik permohonan masyarakat Damaskus dalam perjuangan melawan penguasa Damaskus yang menindas. Keberhasilan Nuruddin menaklukkan kota damaskus membuat sang khalifah di Bagdad berkenan rnemberinya gelar kehormatan “al-Malik al- ’Adil”.

Penaklukkan-penaklukkan tersebut terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada tahun 1187 M. saat itu, kurang lebih 50.000 pasukan muslim di bawah pimpinan Salahudddin Al-ayyubi berhadapan dengan pasukan salib yang berjumlah sekitar 32.000 di bawah pimpinan raja Guy dari Yerussalem. Pertempuran ini dikenal dengan perang hittin, karena terjadi di tanduk hittin, sebuah daerah dekat tiberias di danau galilea.

Karena semangat tak kenal menyerah dan strategi cerdik, pasukan islam memperoleh kemenangan besar. Perang tersebut benar-benar memberi kerugian besar bagi pasukan salib. Sehingga memudahkan Salahuddin merebut kembali Yerussalem dari Kristen.

Sejarahwan mencatat bagimana sikap Salahuddin ketika berhasil membebaskan Yerussalem. Kebijakan yang diambilnya sungguh bijaksana. Ia tak seperti kaum salib saat menaklukkan Yerussalem yaitu membantai penduduk muslim. Salahuddi justru melindungi warga Kristen dan berjanji memberi akses kepada kaum Kristen untuk berziarah ke Yerussalem dengan syarat tak membawa pedang atau senjata.

Ketiga, Perang Salib III (1189-1193 )

Jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan Salahuddin menimbulkan keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan prestis kekuatan mereka yang telah hilang. Menyambut seruan kalangan gereja, maka kaisar Jerman yang bernama Frederick Barbarosa, Philip August, kaisar Perancis yang bernama Richard, beberapa pembesar kristen rnembentuk gabungan pasukan salib. Dalam hal ini seorang ahli sejarah menyatakan bahwa Perancis mengerahkan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan lautnya. Bahkan wanita-wanita Kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini. Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.

Menanggapi serangan besar ini, Salahuddin memutuskan untuk bertahan di dalam negeri. Padahal para Amir menyarankan agar bertahan di luar. Karena itu, pada tanggal 14 september 1189, pasukan muslim terdesak di kota acre. Untung saja kemenakan Salahuddin yang bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengembalikan hubungan dengan Acre. Akan tetapi, kondisi ini tak berlangsung lama, sebab kaum muslim kembali terdesak dan kota Acre kembali terkepung hingga hampir dua tahun lamanya. Segala upaya pertahanan pasukan muslim semakin tidak membawa hasil, bahkan mereka merasa frustasi ketika Richard dan Philip August tiba dengan kekuatan pasukan salib yang maha besar. Sultan Salahuddin merasa kepayahan menghadapi peperangan ini, sementara itu pasukan muslim dilanda wabah penyakit dan kelaparan. Masytub, seorang komandan Salauhuddin akhirnya mengajukan tawaran damai dengan kesediaan atas beberapa persyaratan sebagaimana yang pernah diberikan kepada pasukan Kristen sewaktu penaklukan Yerusalem dahulu. Namun sang raja yang tidak mengenal balas budi ini sedikit pun tidak memberi belas kasih terhadap ummat muslim. la membantai pasukan muslirn secara kejam.

Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersamaan dengan itu Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba d i fucalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Salahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin. Setelah berlangsung perdebatan yang kritis, akhirnya sang sultan bersedia menerirna tawaran damai tersebut. ”Antar pihak Muslim dan pihak pasukan salib menyatakan bahwa wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan masing-masing, dan bahwa warga negara kedua belah pihak dapat saling keluar masuk ke wilayah lainnya tanpa, gangguan apa pun”. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang salib ke tiga yakni pada tahun 1193. Enam bulan kemudian, Salahuddin wafat karena sakit. Peristiwa ini sangat menyedihkan bagi kaum muslimin. Bahkan sejarahwan menyebutkan bahwa tidak ada duka sebesar ini setelah kematian empat khalifah pertama selain duka atas meninggalnya Salahuddin.

Keempat, Perang Salib IV

Dua tahun setelah kematian Salahuddin berkobar perang salib keempat atas inisiatif Paus Celestine III. Namun sesungguhnya peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Kristen telah berakhir dengan usianya perang salib ketiga. Sehingga peperangan berikutnya tidak banyak dikenal. Pada tahun 1195 M. pasukan salib menundukkan Sicilia, kemudian terjadi dua kali penyerangan terhadap Syria. Pasukan kristen ini mendarat di pantai Phoenecia dan menduduki Beirut. Anak Salahuddin yang bernama al-Adil segera rnenghalau pasukan salib. la selanjutnya menyerang kota perlindungan pasukan salib. Mereka kemudian mencari tempat perlindungan ke Tibinim, lantaran semakin kuatnya tekanan dari pasukan muslim, pihak salib akhirnya menempuh inisiatif damai. Sebuah perundingan menghasilkan kesepakatan pada tahun 1198M, bahwa peperangan ini harus dihentikan selama tiga tahun.

Kelima, Perang salib V

Belum genap mencapai tiga tahun, Kaisar Innocent III menyatakan secara tegas berkobarnya perang salib ke lima setelah berhasil rnenyusun kekuatan miliier. Jenderal Richard di lnggris menolak keras untuk bergabung dalam pasukan salib ini, sedang mayoritas penguasa Eropa lainnya menyarnbut gembira seruan perang tersebut. Pada kesempatan ini pasukan salib yang bergerak menuju Syria tiba-tiba mereka membelokkan geiakannya menuju Konstantinopel. Begitu tiba di kota ini, mereka membantai ribuan bangsa romawi baik laki-laki maupun perempuan secara bengis dan kejam. pembantai ini berlangsung dalam beberapa hari. Jadi pasukan muslim sama sekali tidak mengalami kerugian karena tidak terlibat dalam peristiwa ini.

Keenam Perang Salib VI

Pada tahun 613 H/1216M, Innocent III mengobarkan propaganda perang salib ke enam. 250.000 pasukan salib, mayoritas Jerman, mendarat di Syria. Mereka terserang wabah penyakit di wilayah pantai Syria hingga kekuatan pasukan tinggal tersisa sebagian. Mereka kemudian bergerak menuju Mesir dan kemudian mengepung kota Dimyat. Dari 70.000 personil, pasukan salib berkurang lagi hingga tinggal 3.000 pasukan yang tahan dari serangkaian wabah penyakit. Bersamaan dengin ini, datang tambahan pasukan yang berasal dari perancis yang bergerak menuju Kairo. Narnun akibat serangan pasukan muslim yang terus-menerus, mereka men jadi terdesak dan terpaksa rnenempuh jalan damai. Antara keduanya tercapai kesepakatan damai dengan syarat bahwa pasukan salib harus segera meninggalkan kota Dimyat.

Ketujuh, Perang Salib VII

Untuk mengatasi konflik politik internal, Sultan Kamil mengadakan perundingan kerja sarna dengan seorang jenderal Jerman yang bernarna Frederick. Frederick bersedia membantunya rnenghadapi musuh-musuhnya dari kalangan Bani Ayyub sendiri, sehingga Frederick nyaris menduduki dan sekaligus berkuasa di Yerusalem. Yerusalem berada di bawah kekuasaan tentara salib sampai dengan tahun 1244 M., setelah itu kekuasaan salib direbut oleh Malik al-shalih Najamuddi al-Ayyubi atas bantuan pasukan Turki Khawarizmi yang berhasil meiarikan diri dari kekuasaan Jenghis Khan.

Kedelapan, Perang Salib VIII

Dengan direbutnya kota Yerusalern oleh Malik al- Shalih, pasukan salib kembali menyusun penyerangan terhadap wilayah lslam. Kali ini Louis IX, kaisar perancis, yang memimpin pasukan salib kedelapan. Mereka mendarat di Dirnyat dengan mudah tanpa perlawanan yang beranti. Karena pada saat itu Sultan Malikal-shalih sedang menderita sakit keras sehingga disiplin tentara muslim merosot. Ketika pasukan Louis IX bergerak menuju ke Kairo melalui jalur sungai Nil, mereka mengalami kesulitan lantaran arus sungai mencapai ketinggiannya, dan mereka juga terserang oleh wabah penyakit, sehingga kekuatan salib dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Turan Syah, putra Ayyub.

Setelah berakhir perang salib ke delapan ini, pasukan Salib-Kristen berkali-kali berusaha mernbalas kekalahannya, namun selalu mengalami kegagalan.

  1. Akibat Perang Salib

Perang salib yang berlangsung lebih kurang dua abad membawa beberapa akibat yang sangat berarti bagi perjalanan sejarah dunia. Perang salib ini menjadi penghubung bagi bangsa Eropa mengenali dunia lslam secara lebih dekat yang berarti kontak hubungan antara barat dan timur semakin dekat. Kontak hubungan barat-timur ini mengawali terjadinya pertukaran ide antara kedua wilayah tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat timur yang”maju menjadi daya dorong pertumbuhan intelektual bangsa barat, yakni Eropa. Hal ini sangat-besar andil dan peranannya dalam meahirkan era renaissance di Eropa.

Pasukan salib merupakan penyebar hasrat bangsa Eropa dalam bidang perdagangan dan perniagaan terhadap bangsa-bangsa timur. Selama ini bangsa barat tidak mengenal kemajuan pemikiran bangsa timur. Maka perang salib ini juga membawa akibat timbulnya kegiatan penyelidikan bangsa Eropa mengenai berbagai seni dan pengetahuan penting dan berbagai penemuan yang telah dikenali ditimur. Misalnya, kompas kelautan, kincir angin, dan lain-lain, Mereka juga menyelidiki sistem pertanian, dan yang lebih penting adalah mereka rnengenali sistem industri timur yang telah maju. Ketika kembali ke negerinya, Eropa, mereka lantas mendirikan sistem pemasaran barang-barang produk timur. Masyarakat barat semakin menyadari betapa pentingnya produk-produk tersebut. Hal ini menjadikan sernakin pesatnya pertumbuhan kegiatan perdagangan antara timur dan barat. Kegiatan perdagangan ini semakin berkembang pesat seiring dengan kemajuan pelayaran di laut tengah. Namun, pihak muslim yang semula menguasai jalur pelayaran di laut tengah kehilangan supremasinya ketika bangsa-bangsa Eropa menempuh rute pelayaran laut tengah secara bebas.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Setelah mengetahui sejarah panjang Perang salib, kita bisa menyimpulkan bahwa perang salib merupakan salah satu perang yang berlangsung lama dan menentukan arah perjalanan dunia. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting dan banyak diperbincangkan oleh public. Selain itu, perang salib adalah puncak perselisihan umat Islam dan Kristen dan akan terus berlanjut. Bahkan zaman ini. Walaupun bukan dengan kontak fisik, tapi dengan cara-cara yang lebih tersembunyi dan terorganisir. Kaum intelektual menyebutnya dengan perang pemikiran (ghazwul fikr).

Kemudian dampak dari perang salib juga sangat besar terutama bagi kaum Kristen. Dari perang saliblah mereka tau tentang system timur yang sangat maju saat itu. Dengan begitu, hasrat mereka untuk maju semakin besar. Hal itu terbukti dengan dibuatnya system industry, pertanian dan pemasaran produk-produk timur oleh bangsa eropa.

Adapun hikmah dari perang salib khususnya bagi kum muslimin, bahwa jatuhnya Yerussalem ke tangan musuh adalah akibat perpecahan dan lemahnya iman kaum muslimin, seperti perebutan kekuasaan, sangat cinta dunia dan takut mati. Sebaliknya, kemenangan kaum muslimin di bawah Salahuddin Al-Ayyubi adalah berkat persatuan dan semangat jihad kaum muslimin. Maka dapat dikatakan bahwa tak ada kemenangan tanpa persatuan.