​Aku bertanya ‘Perlukah #Revolusi?’

Revolusi

Ketika kaum miskin terlunta”….
Sedang yang kaya berfoya”….

Perlukah #Revolusi?

Ketika Bu Patmi merenggang nyawa karena menuntut haknya….

Sedang penguasa tertawa” di kursi empuknya….

Perlukah #Revolusi?

Ketika anak terbaik bangsa berakhir di penjara…..

Karena tuduhan yang dibuat” para pemain sandiwara….

Perlukah #Revolusi?

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Ketika pers menjadi corong pembualan….

Sementara yang benar ditenggelamkan….

Perlukan #Revolusi?

Ketika sang penista bebas berkeliaran….

Sementara Ulama diancam pembunuhan….

Perlukah #Revolusi?

Ketika aparat menjadi preman….

Seenaknya membubarkan pengajian….

Perlukah #Revolusi?

Ketika komunis mengancam Sang Garuda….

Sedang si panda menjadi garang dan berbisa….

Perlukah #Revolusi

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Indonesia merana….

Dunia tertawa….

Melihat martabat bangsa hilang entah kemana….

Sementara istana menunduk patuh tak berdaya….
Oh, kemana lagikah aku mengadu?

Selain kepada kalian yang merasa kita adalah satu?

Dan kepada kalian yang mengaku “Indonesia di hatiku?”

Juga kalian yang berteriak “Jaga NKRI dari pengadu, mari bersatu?”

Kita hanya menunggu waktu….

Kita menunggu perintah “Serbuuuu!!”…

Tak perlu #Revolusi???

M Faruq

Surabaya, Rabu, 00.00 WIB

hujan

Titik-titk air jatuh membasahi

Membuat tumbuhan menari-nari

Kucing-kucing berlari menjauhi

Itulah hujan pertama februari

 

hujan selalu datang

tanpa ada yang mengundang

memenuhi selokan-selokan

membanjiri jalanan perkotaan

 

Ingin rasanya kurayu awan

Agar tak berlebihan

Menurunkan air lautan

Dan tak membasahi jemuran

 

Oh……hujan

Engkau adalah harapan

Untuk kehidupan ciptaan tuhan

Namun kadang sebagai cobaan

Bagi mereka yang beriman

Dan sebagai peringatan

Bagi mereka yang ingkar kepada tuhan

 

 

 

 

 

 

 

Guru

Darimu awan, ku kenal hujan

Darimu malam, ku kenal bulan

Darimu lautan, ku kenal ikan

Darimu ibu, ku kenal kehidupan

Darimu ayah, ku kenal kebijaksanaan

Darimu kawan, ku kenal ketulusan

Darimu guru, ku kenal pengetahuan

Tentang arti kehidupan

Tentang alam semesta

Tentang berperilaku sopan

Engkau Mengusir kebodohan

Untukmu tuhan, terimakasih kuucapkan

Atas guru-guru yang kau kirimkan

Dan anugerah yang kau berikan

Sendiri

Rasanya ku ingin terbang

Menggapai bintang

Menyapa bulan

Lalu terjun ke lautan

 

Membujuk paus biru

Agar mencari pulau baru

Yang tak berpenghuni

Tanpa tikus-tikus berdasi

 

Aku ingin sendiri

Berteman dengan sepi

Bercengkrama dengan mentari

Lalu mati dengan senang hati

 

Daripada hidup berkawan sedih, kecewa

Di negeri yang kaya raya

Namun pejabatnya ahli korupsi

Rakyatnya tak peduli

Dengan nasib orang lain

rembulan

rembulan oh rembulan

engkau selalu membawa harapan

dalam mimpi-mimpi kesepian

juga kepada para nelayan

rembulan oh rembulan

hadirmu menentramkan

menghilangkan kegelapan

mengusir kegalauan

tapi…oh rembulan

tidakkah engkau bosan

menyinari dunia dalam kesunyian

hanya bintang dan awan yang kadang menutupi sinarmu

oh rembulan

betapa sabarnya engkau

padahal setiap malam kau saksikan

manusia dengan keserakahannya

muda mudi yang berpacaran dan bergandengan tangan

para pejabat yang tidak puas dngan kekayaannya

juga para pemimpin yang takut kehilangan kekuasaan

tentang manusia yang lupa siapa yang menciptakan

semuanya terjadi dibawah sinarmu

tidakkah kau merasa di manfaatkan

oleh bnyak orang untuk berbuat kejahatan

oh..betapa sedihnya engkau kusaksikan

oh..ku lihat engkau merindukan

masa-masa empat belas abad silam

ketika sebagian manusia di penuhi ketundukan kepada tuhan

lalu mendirikan suatu peradaban

tapi..oh rembulan

itu bukan lah salahmu

manusia memang serakah

manusia memang tak pandai bersukur kepa tuhan

jadi, oh rembulan

janganlah engkau bosan

tuk menyinari malam

dengan sinarmu yang mendamaikan…