Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

Masih hangat diingatan kita, statemen menteri komunikasi dan informasi (Menkominfo) medio juli lalu. Saat itu, selepas acara antiradikalisme di Universitas Padjajaran. Beliau menyampaikan keresahannya terhadap paham radikal yang terus berkembang. Menurutnya, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Baca: Medsos dan Media Massa) yang bertumbuh pesat berperan besar dalam penyebaran paham ini.

Lebih lanjut, ia menilai kaum radikal memanfaatkan TIK untuk ‘memancing’ calon anggota baru. Menteri yang akrab dengan nama Rudiantara mengancam akan menutup platform terkait bila diperlukan. Diwaktu yang berbeda, wakil presiden, Jusuf Kalla juga menunjuk TIK sebagai sebab menurunnya moralitas pemuda.

Pandangan seperti itu sebenarnya juga diamini oleh banyak professional di republik ini. Bahkan juga para orang tua dan guru. Bagi mereka, TIK bagai dua sisi mata uang. Selain memudahkan, ia juga  menggerus pendidikan anak dan remaja. Bahkan TIK dianggap sebagai biang kerok dari mayoritas permasalahan yang dialami generasi bangsa ini.

Perpepsi negative seperti ini memang tak hadir begitu saja. Banyak kejadian yang dijadikan dalih serta argumennya. Mulai dari kasus kekerasan, seks bebas, bullying dan kasus lain yang melibatkan pemuda. Regulasipun dibuat sedemikian rupa. Namun, hasilnya tak optimal.

Akan tetapi, pandangan tersebut sesungguhnya tak berlaku dikalangan anak muda. Khususnya yang disebut sebagai generasi Z. Mereka lebih optimis. Keyakinan bahwa TIK dapat dimanfaatkan untuk kebaikan tertanam dalam kalbu. Bagaimanapun, mereka hidup dan tumbuh bersama TIK.

Mereka paham, Indonesia, sebagai Negara yang kental dengan adat ketimuran, TIK menjadi problematic. Namun, globalisasi menghendaki modernisasi. Ia sangat sulit untuk dibendung. Untuk menjadi Negara yang competitive, mustahil tanpa TIK. Maka salah satu sikap terbaik adalah memanipulasi TIK untuk pendidikan.

Sebagai generasi yang memiliki masa depan yang masih panjang. Gen Z harus bergerak. Memberi bukti meyakinkan bahwa TIK sesungguhnya tak seburuk yang dipikirkan oangtua dan guru mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

 

            Generasi Z (Gen Z) merupakan istilah yang digunakan oleh seorang sosiolog, Karl Mannheim untuk menyebut mereka yang lahir bersamaan dengan hadirnya internet. Saat itu, ditahun 1923, ia menulis esai yang berjudul “The Problem of Generation”. Ia membagi manusia yang lahir setelah perang dunia II menjadi 4 generasi. Secara singkat yaitu; Pertama, generasi baby boomer (lahir 1946-1964), kedua, generasi X (lahir 1965-1980), ketiga, generasi Y (lahir 1981-1994) dan yang terakhir generasi Z (lahir 1995-2010).

Karena hidup pada era berkembangnya internet, gen Z adalah generasi yang paling ahli dan terbiasa menggunakan mobile phone (Andi Primareta, 2012). Mencari informasi sangat mudah bagi mereka. Termasuk berkomunikasi jarak jauh. Setali tiga uang, Akhmad Sudrajat menggambarkan gen Z sebagai generasi yang fasih teknologi, sosialis dan multitasking. Implikasinya, gen Z  cenderung suka dengan hal-hal instan dan tidak suka hal yang berbelit-belit.

Fakta tentang generasi Z tersebut tentu memiliki sisi positif namun juga negative. Mudahnya mengakses informasi yang tak terfilter membuat banyak Gen Z tak terkendali. Mereka menjadi kejam, pecandu sex, pemarah dan suka tawuran. Hal yang paling ditakuti ialah merosotnya moral ketimuran dikalangan gen Z.

Inilah yang mengundang keluhan bahkan cibiran dari Gen X dan Y. Biasanya, mereka membandingkan generasi mereka dengan generasi sekarang (gen Z), lalu menyimpulkan bahwa TIK adalah penyebabnya. Regulasi pun dibuat, namun tak banyak membuahkan hasil. Dunia pendidikan dianggap semakin menurun.

Padahal, untuk bisa competitive diera globalisasi ini, hampir mustahil dicapai tanpa peran TIK. Dunia berkembang sangat pesat semenjak hadirnya TIK akhir abad 20-an. TIK merupakan teknologi murah biaya, fleksibel dan instan. Sifatnya yang demikian sangat potensial untuk pemerataan pendidikan hingga daerah terpencil.

Sebagai genarasi yang besar bersama TIK, gen z sebenarnya sangat mampu diandalkan, namun dengan cara mereka sendiri. Cara yang mungkin tak dipahami generasi sebelumnya. Cara yang nyaman bagi mereka.

Cukup banyak bukti yang bisa kita lihat terkait pemanfaatan TIK oleh gen Z selama ini. Contoh, mayoritas youtubers Indonesia adalah gen Z, Sultan Haikal, si hacker usia 19 tahun yang sukses meretas ratusan situs adalah gen Z. Belum lagi generasi Z yang tak terekspos oleh media. Namun demikian, pemanfaatan TIK oleh mereka cenderung lebih ke ranah hiburan semata.

Nah, tahun ini, adalah tahun generasi pertama gen Z (kelahiran 1995) memasuki dunia kerja, masa-masa produktif. Sementara generasi terakhirnya (kelahiran 2010) normalnya masih duduk dibangku kelas 2 SD. Disinilah seharusnya gen Z dewasa berperan. Membuktikan bahwa TIK tak seburuk dugaan banyak pihak. Khususnya memanfaatkan dan mengembangkan TIK demi kemajuan pendidikan Nasional.

Walaupun sejatinya telah banyak upaya dalam hal ini, misalnya munculnya e-book, e-learning, e-labolatory, e-education, e-library dan lain sebagainya (Edy Haryanto, 2008). Namun, usaha tersebut belum terealisasi secara maksimal dan merata. Tak sedikitnya guru yang (maaf) gaptek menjadi salah satu kendala. Hal ini dapat dipahami karena profesi guru masih didominasi Generasi X dan Y.

Demi mencapai hasil maksimal, kami menyusun 3 tahapan umum penggunaan TIK dalam pendidikan, yaitu;

a). Jangka pendek (1 – 5 tahun) : program jangka pendek focus pada penerapan TIK dalam mendukung pembelajaran di sekolah. Beberapa hal yang bisa dilakukan seperti 1). Bembuatan kelompok kelas online. Whatsup dan telegram sangat mumpuni untuk digunakan dalam program ini. Siswa yang memiliki minat dan bakat yang sama bisa dikelompokkan dalam kelas online bersama guru pengampu. Disini, mereka bisa saling berdiskusi dan lain sebagainya, tergantung aturan yang disepakati. 2). Bimbingan konseling. Biasanya, beberapa remaja tak percaya diri ketika ingin mengungkapkan masalah pribadinya face to face. Maka, salah satu opsi yang dapat digunakan ialah konseling via Facebook, atau platform lain yang terjaga privasinya. Dengan cara ini, siswa diharapkan terbuka kepada guru. 3). Pembiasaan menggunakan CD, DVD, Video dll oleh guru untuk menyampaikan materi terkait. Hal ini lebih asik bagi gen Z.

 

b). Jangka menengah (5 – 10 tahun) : adapun program jangka menengah yang bisa dilaksanakan seperti; 1). Aplikasi Smartphone untuk belajar. Aplikasi pembelajaran dapat membantu siswa belajar dimana saja dan kapan saja. Sehingga mereka belajar karena senang tanpa tertekan. Dalam pelajaran bahasa inggris misalnya, guru perlu menyusun materi pelajaran harian yang terdiri dari grammar, reading, writing, dan listening bahkan speaking dengan memanfaatkan audio-visual. Pelajaran-pelajaran lain juga bisa memanfaatkan applikasi smartphone. Kurikulum bisa disesuaikan oleh guru. 2). Mendorong yuotubers untuk memuat konten-konten pembelajaran dalam video-video mereka. Tak dapat dipungkiri, youtubers banyak digandrungi para remaja. Karena kocak, video mereka menjadi ‘pelarian’ dari penatnya kehidupan. Namun, akan sangat bermanfaat jika para youtubers – yang notabene gen Z – menyelipkan atau sesekali membuat video pembelajaran yang kreatif. 3). Membuat platform medsos pendidikan. Media sosial yang saat ini marak cenderung tak terfilter. Setiap orang bebas meng-upload apa saja. Hal tersebut tentu tak baik bagi anak-anak dan remaja. Namun, jika gen Z membuat platform khusus untuk anak usia sekolah, lengkap dengan filter konten-konten negative, tentu akan lebih bermanfaat.

 

c). Jangka panjang (10 – 20 tahun) : program jangka panjang adalah program yang dilakukan secara all out oleh gen Z dalam memanfaatkan TIK. Program ini lebih cenderung dalam memanfaatkan mayoritas media TIK, mulai media cetak hingga TIK. Hal ini demi menyukseskan Indonesia Emas 2045. Gen Z mesti berkarir dibidang kemediaan. Baik cetak maupun elektronik. Bahkan menjadi pengambil kebijakan. Sehingga media-media yang ada digunakan untuk menciptakan ‘lingkungan yang kondusif’ untuk anak-anak dan remaja. Tidak ada berita hoax, pornografi, film kekerasan dan lain sebagainya.

Dasar dari pemikiran ini adalah bahwa media memiliki peranan penting dalam menciptakan budaya masyarakat. Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat dan yang mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan. Maka, jika media-media TIK digunakan hal-hal yang baik, akan tercipta lingkungan yang kondusif dan lahir generasi beridentitas kebangsaan yang modern.

Dari pemaparan diatas, setidaknya kekhawatiran gen X dan Y terhadap moral Gen Z bisa dibendung. TIK yang bagi sebagian orang menjadi perusak gen Z justru bisa dimanfaatkan. Harapannya ada pada gen Z sendiri. Sebagai generasi yang memiliki masa depan yag masih panjang, gen Z harus berpikir jauh kedepan.

Perencanaan yang matang harus tersusun rapi di setiap kepala gen Z. Identitas Indonesia dalam usianya yang ke-100 ditahun 2045 tergantung apa yang direncanakan gen Z bersama seluruh komponen bangsa saat ini.

Iklan

1438 H, Ramadhan Edisi Spesial ku

18485642_1493168560734521_4449093307384508180_n.jpg

Sebagai seorang Muslim, Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Banyak cerita yang terukir dibulan penuh berkah ini. Bulan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan keseruan bagi setiap insan Muslim. Terasa begitu menggairahkan. Tak terkecuali bagi kami. Kami, Mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya khususnya semester 6.

Tapi, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang kami jalani dengan ‘gaya’ berbeda. Ya, saat banyak orang yang menikmati bulan berkah ini bersama keluarga, atau berlomba-lomba berumroh ke kota suci, Makkah, demi meraih pahala maksimal, kami memilih menghadapi Ramadhan dengan berbagi kepada sesama.

Yup, kami memasuki bulan Ramadhan di kampung asing. Saat itu, bertepatan dengan program KKN semester kami. Seperti kebiasaan kampus, lokasi yang dipilih untuk kegiatan ini adalah lokasi ‘menyulitkan’.

Desa yang kami tempati adalah sebuah lembah di kaki Gunung Semeru, masuk dalam kawasan taman nasional tengger, Kab. Lumajang, Jawa Timur. Desa ini berada di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Ranupani namanya. Seperti pada umumnya, pada ketinggian demikian, hawa dingin adalah hal pasti. Tapi, bagi kami sebagai orang yang terbiasa tinggal di daerah berhawa panas, hawa di sini tergolong ekstrim. Jadilah kami menjalani bulan penuh berkah dengan hawa dingin ektrim.

Ranupani memang memiliki budaya unik dan agak berbeda. Karena alasan hawa, rumah-rumah disini ‘wajib’ dilengkapi dengan tungku besar. Biasanya, waktu lebih banyak dihabiskan di sekitar tungku daripada daerah lain di rumah. Bahkan, menerima tamu pun dilakukan disekitar tungku yang berada di dapur.

Bahasa mereka juga agak berbeda. Walau agak mirip dengan bahasa jawa pada umumnya, bahasa jawa ini memiliki aksen yang berbeda. Beberapa warga mengatakan bahwa bahasa ini termasuk jawa kuno. Karena mayoritas kami adalah orang bersuku non-jawa, komunikasi menjadi agak sulit. Sementara bahasa Indonesia sangat jarang digunakan. Karena memang hanya segelintir orang yang mengerti bahasa persatuan ini.

Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani. Umumnya, mereka menanam kentang, kubis dan bawang pering. Ladang-ladang mereka kebanyakan di bukit. Lereng-lereng dengan kemiringan ekstrem dihiasi dengan tumbuhan jenis ini. mereka merupakan pekerja keras. Kentang mesti disemprot 2 hari sekali, bawang pering harus dibersihkan dari tumbuhan liar dan kubis mesti dijaga dari hama dan binatang pengerat. Karena ‘tuntutan alam’ semacam itu, mereka menjadi masyarakat disiplin.

Namun, pendidikan, baik agama maupun umum, tak banyak mendapat perhatian. Karena tergolong berpendapatan tinggi, kebanyakan masyarakat tidak lagi peduli dengan pendidikan. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Inilah sasaran utama kami.

Memahamkan penduduk tentang pentingnya pendidikan, khususnya agama, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Untungnya, Ramadhan ‘menjembatani’ tujuan itu. Detik demi detik di bulan Ramadhan kami upayakan untuk memberi pemahaman secara maksimal. Sasaran utamanya adalah anak-anak.

Ramadhan benar-benar membantu mensukseskan acara-acara yang telah direncanakan. Seperti biasa, di manapun itu, kesadaran masyarakat dalam hal ibadah meningkat. Sambutan untuk bulan suci yang meriah, suasana masjid-masjid yang ramai, persepsi masyarakat tentang bulan Ramadhan sebagai bulan berkah yang telah melekat, hingga sikap masyarakat yang menerima  kami dengan hangat telah membantu melupakan hawa dingin yang begitu ekstrim.

Bagi kami, berpuasa sambil mempelajari budaya baru, sekaligus berbagi ilmu merupakan hal baru. Pengalaman itu adalah hal special yang akan memperkaya wawasan kami. Membantu mengarungi dunia yang menyimpan begitu banyak rahasia. Bahkan menyemangati untuk membuka tabir kehidupan yang tersembunyi.

PILKADA Usai, Saatnya Damai

images           Mendekati Pilkada putaran kedua lalu, yang diadakaan tanggal 19 April, situasi politik memanas. Beragam isu disebar, lalu disambut para pendukung. Media sosial ‘membara’ dengan tuduhan, klaim sepihak, hoax, adu argument bahkan makian.  Bahkan Polri menerima hingga 1900 laporan dugaan hoax terkait pilkada (Akbar Faizal, ILC 25 April 2017). Kondisi ini membuat beberapa pihak memprediksi akan terjadi chaos pasca pilkada.

Tapi, watak bangsa Indonesia memang istimewa. Kekhawatiran akan terjadi kerusuhan tidak terbukti. Pilkada berlangsung damai dan jujur. Hingga sekarang, hampir sebulan pasca Pilkada pun, keadaan Jakarta aman-aman saja.

Anehnya, yang ‘chaos’ justru di medsos. Isu-isu tak henti digoreng, entah siapa pelakunya. Yang jelas, mereka tak suka jika Indonesia damai. Sialnya lagi, banyak anak bangsa yang ikut-ikutan membumbui. Perang tweet, status facebook hingga tulisan di web masih terjadi. Walau Pilkada telah usia, dan hasilnya telah final, persaingan masih terasa.

Persaingan politik memang tak bisa dielakkan. Menghilangkan persaingan seperti halnya menjadikan system politik otoriter tanpa alternatif. Kedua, adanya kompetisi akan memacu kontestan menjadi yang terbaik. Setiap paslon akan memikirkan inovasi kreatif terbaik demi kemajuan masyarakat. Namun, konsep persaingan politik layaknya prinsip ‘zero sum’, setiap kemenangan dari satu pihak, berarti kekalahan dipihak lain. Itulah resiko demokrasi yang harus diterima lapang dada oleh masing-masing paslon dan pendukung setianya. Setiap kontestan yang ikut berdemokrasi harus paham bahwa ia tidak hadir sendirian, banyak lawan politik lain yang juga memiliki tujuan untuk berkuasa.

Dengan demikian, semestinya persaingan politik tidak dijaga sepanjang tahun. Cukuplah di masa-masa kampanye. Itupun sebatas adu program. Kemudian, actor politik, juga pendukungnya mesti legowo jika kalah. Namun yang menang tak terlalu jumawa. Karena gubernur terpilih adalah milik bersama. Itulah kelebihan demokrasi.

Sebagai contoh, seusai Pilpres Amerika tahun 2008, John McCain, lawan Barack Obama langsung mengucapkan selamat saat mengetahui ia kalah. “ Hari ini, kita akan mendapatkan seorang presiden baru. Dan saya akan membantu dia dengan segala kekuatan yang saya miliki untuk keluar dari krisis dan memajukan Amerika.” Katanya. Kira-kira itulah contoh kedewasaan dalam demokrasi.

Sikap seperti itu mestinya dimiliki setiap actor politik dan masyarakat secara umum. Apalagi, tujuan utama setiap kandidat sama-sama ingin memajukan Jakarta.  Walaupun dengan metode yang berbeda.

Warga Jakarta tak bisa tidak harus berdamai dan bersatu membangun kota. Bagaimanapun bagusnya program-program yang ditawarkan gubernur terpilih, tak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Kerenggangan hubungan antara pemimpin dan sebagian masyarakat justru akan membuat si ibu kota semakin merana. Demikian pula dengan tokoh-tokoh masyarakat yang berada di pihak yang kalah, sudah sehaarusnya membantu gubernur terpilih.

Adapun gubernur baru beserta pemilihnya, harus legowo meminta bantuan, koreksi dan masukan kepada semua orang. Tak terkecuali lawan politiknya. Bahkan tak ada salahnya melanjutkan program yang telah berjalan. Jika itu baik bagi warga ibukota, karena Jakarta milik semua.

Konsekuensi Keimanan

bumi-tangan-2

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang mendustakan [Q.S Al-Ankabut ayat 2-3]

“CUKUP, Keluar dari rumah ini,..kau telah mengecewakanku!” Wajah bapak itu merah padam, suaranya berat, baru kali ini ia semarah itu. “Cepat, jangan sekali-kali memperlihatkan wajahmu itu lagi, PERGIII!!” hardiknya tanpa menoleh.

………………………………

Rian terbangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya. “Ah, mimpi itu lagi!” desahnya.  Ia mengusap wajahnya sambil bangkit, menuju kamar mandi dan berwudhu. Namun bayangan itu tak juga hilang. Kini, raut wajahnya berubah murung, persis seperti anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya. Namun, ia tak berusaha lari dari kenyataan hidupnya itu, ia juga tak menyesalinya. Yah, kejadin 5 bulan lalu itu memang telah merenggut semuanya. Keluarganya, harapan-harapannya, harta bendanya bahkan masa depannya, semua hilang dalam sekejap.

Ia ingat, saat itu, ia baru masuk tahun ajaran ke-2 di salah satu Universitas ternama. Sebagai anak dari orang kaya nan terpandang, ia menjalani hidupnya dengan mudah, santai dan foya-foya. Segala fasilitas telah tersedia, ia betul-betul tipe anak manja. Kehidupan seperti di surga itu tiba-tiba hancur gara-gara ia iseng membaca sebuah tulisan di Mading kampusnya. Tulisan berjudul ‘Hidup setelah mati’ itu ditulis oleh salah satu anak LDK yang kebetulan se-jurusan dengannya. Sebagai anak yang dididik oleh orang tua atheis, awalnya ia ragu dengan argumentasi-argumentasi di tulisan itu, namun ternyata, ia telah terlanjur tersentil dengan pertanyaan-pertanyaan tentang esensi kehidupan, penciptaan hingga masalah akhirat.

Saat itu, tak ada solusi yang ia dapatkan selain bertanya mendalam kepada si pembuat tulisan. Khaidir namanya.

“Dir, kamu kan yang nulis artikel tentang ‘Hidup setelah mati’ di Mading kampus!?” tanyanya to the point saat mereka tak sengaja berpapasan di tangga.

“Iya tuh, kenapa akh?” Khaidir menjawab simple. ‘jangan-jangan, si anak atheis ini dah sadar’ pikirnya.

“Akh? Maksudnya?” Tanya Rian polos.

“Akh itu panggilan ‘sayang’ sesama muslim, dari bahasa Arab, artinya ‘Saudara’!” Jawab Khaidir singkat.

“ow gitu,…eh, aku punya banyak pertanyaan buatmu! Kapan kamu punya waktu, aku pengen diskusi!”

“Ow, bagus tuh, Insya Allah besok yah, di Masjid Al-Hidayah!”

“Oke, siip!” tutupnya sambil berlalu.

Keesokan harinya, Rian dengan antusias datang ke tempat perjanjian, Masjid Al-Hidayah. Di sana, ia telah ditunggu oleh Khaidir beserta beberapa orang yang tidak ia kenal. Namun anehnya, mereka semua terasa akrab.

Mereka pun diskusi tentang banyak hal. Jamuan makan dan minum yang disediakan si Khaidir sama sekali tak disentuh. Bukan karena tak selera, namun karena ia sangat tertarik dengan kata-kata ‘pancingan’ si Khaidir. Diskusi itu ‘dihentikan’ oleh azan dhuhur dan berlanjut keesokan paginya. Hingga hari ke-lima, keyakinannya berubah. Sekarang, ia meyakini tentang keberadaan tuhan, adanya hidup setelah mati, tujuan hidup hingga kebenaran Al-Qur’an. Sesekali, ia ikut sholat walau belum bersyahadat. Barulah dua minggu setelah diskusi ia memantapkan hati untuk bersyahadat secara sembunyi-sembunyi. Hanya disaksikan oleh Khaidir dan teman-temannya.

Semenjak itu, jadwalnya berubah. Jika dulu ia adalah jagonya maksiat, kini ia ahli ibadah. Namun, keimanan memang akan membawa konsekuensi tersendiri. Ikrar dua kalimat syahadat bukanlah kalimat biasa yang dapat ditanggung oleh orang biasa. Ia adalah kalimat luar biasa dengan resiko yang luar biasa pula.

Sebulan kemudian, ketika ia sudah siap untuk mengakui keimanannya, ia dengan gugup membuka pintu. Tepat di kursi sana, ayahnya telah menunggu.

“Rian, apakah betul kamu telah percaya dengan hal-hal yang tak masuk akal itu.” Sergap ayahnya.

“Tidak ayah, saya tak percaya pada hal-hal yang tak masuk akal.” Rian membantah.

“Jawab dengan jujur!!” seru ayahnya sambil mengangkat sebuah buku diari. Rian terkesiap, namun ia telah mempersiapkan jawabannya.

“Yah, saya memang telah percaya dengan keyakinan Islam, namun itu karena semua hal tersebut sangat masuk akal! Saya akan……”

“DIAM, kamu tahu siapa ayah, ayah adalah orang yang paling getol menyuarakan kebebasan hidup dan ketiadaan tuhan. Buku-buku dengan bukti ilmiah dan argumentasi telah ayah tuliskan untuk orang-orang bodoh diluar sana! Tapi ternyata, ayah tak sadar kalau didalam rumah ini juga ada orang seperti mereka!!” ujar ayahnya keras sambil berbalik.

“Saya akan jelaskan ayah, paham komunis itu…!”

““CUKUP, Keluar dari rumah ini,..kau telah mengecewakanku!” Wajah ayahnya merah padam, suaranya berat, baru kali ini ia semarah itu. “Cepat, jangan sekali-kali memperlihatkan wajahmu itu lagi, PERGIII!!” hardiknya tanpa menoleh.

Rian tersentak kaget. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapat respon seberat itu. Padahal, ia telah berdo’a kepada Allah SWT selama ini. Do’a untuk melembutkan hati seperti yang diajarkan oleh Khaidir. ia menjadi lemas, air matanya ingin menetes, namun ia teringat akan ayat yang pernah ia pelajari tentang ujian orang-orang yang mengaku beriman. Ayat itu benar-benar meneguhkan hatinya.

“Baiklah ayah, saya akan pergi dari rumah ini, tapi mudah-mudahan ayah juga akan menemukan kebenaran seperti yang saya temukan!!” Tutupnya sambil berlalu.

………………………………….

Rian tersenyum mengingat kejadian itu. Ia memilih bertahan dengan keyakinannya tentang kebenaran Islam. Walau kini hidupnya susah, serba kekurangan, namun ia tetap semangat menjalaninya bersama Khaidir dan 50 santri lainnya di sebuah Pesantren Mahasiswa. Wawasan keislamannya berkembang pesat.

“creeeng…creeeng…creeeng….” HP Nokia Jadul bergetar di kantongnya. Ia segera menjawab.

“Halo, Assalamualaikum? Dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?” ia langsung menyerang dengan pertanyaan beruntun.

“Waalakumsalam warahmatullahi,..Rian, ini ayahmu,….kamu pulang yah….ayah tunggu kamu”. Suara yang sangat ia kenal itu terdengar. Tak terasa, ia meneteskan air mata. Terharu.
 

 

 

 

 

​Perkuat Peran LDK, MUI Jatim Gelar Mudzakarah Da,i

Berangkat dari kondisi umat, khususnya mahasiswa muslim yang masih dangkal pemahaman ke-Islamannya, MUI Jatim mengundang seluruh Lembaga Dakwah Kampus Se-Jatim beserta ormas Islam untuk mengikuti acara Mudzakarah Da’i pada hari Sabtu 29 Oktober 2016 dengan tema “Peran Dakwah Kampus Dalam Mengembangkan Islam Washatiyyah”.
Acara yang diadakan di Masjid Ulul Azmi Kampus C UNAIR tersebut menghadirkan dua pengurus MUI Jatim sebagai narasumber. Yaitu Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng yang juga merupakan guru besar ITS sekaligus Rektor UNUSA dan Prof. Dr. Ali Aziz M. Yang juga guru besar UINSA Surabaya. Selain itu, acara tersebut juga dihadiri tokoh-tokoh MUI, seperti KH. Abdusshamad Buchari dan KH. Muhammad Navis.

Acara dimulai dengan presentasi oleh KH. Abdusshamad Buchari yang memaparkan kondisi umat dari zaman Rasulullah hingga kini. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi umat Islam saat ini. Utamanya tentang banyaknya hal-hal negatif dan menyesatkan yang mengepung umat, seperti aliran sesat, kelompok ekstrim dan kelompok liberal. Padahal menurut beliau, cara beragama yang benar adalah washatiyyah (Al-Baqarah 143).   

Selanjutnya, acara dilanjutkan oleh Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie yang menegaskan pentingnya peran dakwah kampus dalam mengembangkan Dakwah Wasathiyyah. Menurutnya, Dakwah Kampus sangat strategis untuk melahirkan generasi yang lurus aqidahnya dan juga menjadi benteng bagi pemikiran-pemikiran sesat yang menyerang kampus. Pasalnya, selama ini, banyak mahasiswa-mahasiswa muslim yang terjerumus pada pemikiran-pemikiran tersebut. Karena memang, mahasiswa adalah ‘agent of change’ dan ‘Future reserves’ sehingga menjadi incaran banyak pihak.

Sementara itu, Prof. Dr. Ali Aziz M.Ag berjanji MUI akan membimbing dan mewadahi aktivis LDK untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu lahirnya generasi yang bersatu dan lurus aqidahnya. Diharapkan, aktivis LDK benar-benar serius dan konsisten terhadap persatuan umat Islam.

Acara ‘Mudzakarah Da’i’ ini sendiri akan dilakukan secara rutin sebulan sekali hingga Mei 2017 dan akan dilakukan diberbagai tempat. Ini sudah menjadi komitmen MUI sebagai bentuk tanggung jawab ulama menjaga umat Islam agar tak tersesat./Muh Faruq Al-Mundzir

​“Tolong Ajari Kami Cara Mencintai Indonesia” 


28 Oktober 1928 silam, kalian para pemuda seperti kami berkumpul bersama. Dengan semangat membara bersumpah untuk indonesia. Bersumpah untuk berjuang demi kemerdekaan bangsa yang saat itu masih terjajah. Tak terbayang bagaimana gelora kalian demi membawa Indonesia menuju kebebasan dari keterjajahan. 
Oh tuhan, itu dulu, zaman kalian. Itu tahun 1928, sudah 88 tahun yang lalu. Kini, negara yang diperjuangkan oleh kalian amburadul. Masalah datang silih berganti. Krisis politik, krisis ekonomi, krisis sosial adalah contohnya. Tapi semuanya bersumber dari krisis moral. Oh Mr. W.R Soepratman, Maafkan kami tak bisa menjaga Indonesia mu. Maafkan kami belum bisa semangat seperti semangatmu dan kawan-kawan seperjuanganmu. 

Sekarang, seandainya engkau bisa melihat keadaan anak-anak muda penerusmu, mungkin engkau akan menangis, sedih. Pemuda sekarang tak banyak yang punya jiwa patriotisme seperti pemuda jamanmu. Kami sekarang lebih sibuk bersantai di sudut warung dengan kopi dengan Gadget digenggam. Kami kini tak banyak yang siap berkorban seperti kalian dulu. Bahkan kami hilangkan identitas ketimuran kami. Budaya yang dulu kalian jaga kini telah tergantikan. Bahasa yang dulu kalian banggakan kini tak lagi dianggap berharga. Tanah air yang dulu engkau perjuangkan kini carut marut tak karuan. Sementara kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami sibuk dengan urusan pribadi.

Kami tau engkau tak bisa mendengar lagi. Kami tahu engkau tak akan pernah membaca tulisan ini. Kami tau kalau engkau telah pergi menghadap Ilahi. Tapi, pada siapa lagi kami harus meminta semangat. Memang hari bersejarahmu masih diperingati setiap tahun. Tapi….hanya sebatas itu. Para pemimpin negeri ini tak lagi peduli. Tak lagi mau mendengar suara-suara kami. Suara-suara pemuda bangsa yang rindu perubahan. Mereka sibuk dengan diri sendiri, tak jauh beda dengan kami. Sibuk menghitung rupiah-rupiah hasil korupsi. Sibuk mengurus hal-hal yang tak berguna. Sementara kami, para pemuda yang akan mewarnai Indonesia tak digubris aspirasinya, tak dihargai prestasinya. Bahkan mendapat cemoohan, mendapat gertakan hingga pukulan.

Demi Regenerasi, BEM STAIL Gelar Kongres


(Surabaya, 09/Oktober/2016) mengingat pentingnya Regenerasi, BEM Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, kembali melakukan Kongres yang kesebelas dengan tema “melahirkan pemuda yang berjiwa ulama dan umara” di aula Rahmat Rahman Pondok Pesantren Hidayatullah. Tujuan Kongres ini adalah peninjauan kembali AD/ART dan GBHP serta acara pamungkas untuk menentukan Presiden BEM periode 2016-2017.
Namun, acara ini sedikit berbeda dengan acara semisal. Para calon Presiden BEM tak dipilih melalui voting suara. Namun dengan sistem syuro’ (musyawarah) antar anggota sidang yang terdiri dari DLM (Dewan legislatif Mahasiswa), HMPR (Himpunan Mahasiswa Program Reguler) serta Kosma setiap Angkatan ( smt 1, 3, 5, dan 7).
Hadir dalam acara tersebut, Ust Nur Huda S.Ag, M.Pd.I selaku ketua STAIL dan Ust Faishal Haq M.Pd.I selaku PK II STAIL. Dalam sambutannya, Ust Nur Huda mengingatkan tentang esensi dari kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan bisa menjadi ladang amal jika dijalankan dengan amanah namun akan menjadi azab jika diselewengkan. Untuk itu beliau menghimbau agar siapapun yang terpilih harus bertanggung jawab dan menjunjung tinggi syariat Islam.
Adapun kandidat presiden BEM yang sebelumnya telah diusulkan oleh semester V (Umumnya, para Kandidat dari Smt.V) adalah Nashirul Haq yang merupakan Sekjen BEM 2015-2016 dan Mutawalli Mursyid, Mahasiswa asal Batam. Para kandidat akan menyampaikan visi dan misinya jika terpilih menjadi Presiden BEM. Selanjutnya, DLM, Pengurus BEM serta Kandidat akan bermusyawarah untuk menentukan presiden terpilih. Setelah sepakat, pimpinan sidang akan mengumumkan hasil musyawarah. Terakhir, presiden BEM terpilih akan menyusun kabinetnya lalu dilantik paling lambat seminggu setelahnya.