1438 H, Ramadhan Edisi Spesial ku

18485642_1493168560734521_4449093307384508180_n.jpg

Sebagai seorang Muslim, Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Banyak cerita yang terukir dibulan penuh berkah ini. Bulan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan keseruan bagi setiap insan Muslim. Terasa begitu menggairahkan. Tak terkecuali bagi kami. Kami, Mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya khususnya semester 6.

Tapi, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang kami jalani dengan ‘gaya’ berbeda. Ya, saat banyak orang yang menikmati bulan berkah ini bersama keluarga, atau berlomba-lomba berumroh ke kota suci, Makkah, demi meraih pahala maksimal, kami memilih menghadapi Ramadhan dengan berbagi kepada sesama.

Yup, kami memasuki bulan Ramadhan di kampung asing. Saat itu, bertepatan dengan program KKN semester kami. Seperti kebiasaan kampus, lokasi yang dipilih untuk kegiatan ini adalah lokasi ‘menyulitkan’.

Desa yang kami tempati adalah sebuah lembah di kaki Gunung Semeru, masuk dalam kawasan taman nasional tengger, Kab. Lumajang, Jawa Timur. Desa ini berada di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Ranupani namanya. Seperti pada umumnya, pada ketinggian demikian, hawa dingin adalah hal pasti. Tapi, bagi kami sebagai orang yang terbiasa tinggal di daerah berhawa panas, hawa di sini tergolong ekstrim. Jadilah kami menjalani bulan penuh berkah dengan hawa dingin ektrim.

Ranupani memang memiliki budaya unik dan agak berbeda. Karena alasan hawa, rumah-rumah disini ‘wajib’ dilengkapi dengan tungku besar. Biasanya, waktu lebih banyak dihabiskan di sekitar tungku daripada daerah lain di rumah. Bahkan, menerima tamu pun dilakukan disekitar tungku yang berada di dapur.

Bahasa mereka juga agak berbeda. Walau agak mirip dengan bahasa jawa pada umumnya, bahasa jawa ini memiliki aksen yang berbeda. Beberapa warga mengatakan bahwa bahasa ini termasuk jawa kuno. Karena mayoritas kami adalah orang bersuku non-jawa, komunikasi menjadi agak sulit. Sementara bahasa Indonesia sangat jarang digunakan. Karena memang hanya segelintir orang yang mengerti bahasa persatuan ini.

Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani. Umumnya, mereka menanam kentang, kubis dan bawang pering. Ladang-ladang mereka kebanyakan di bukit. Lereng-lereng dengan kemiringan ekstrem dihiasi dengan tumbuhan jenis ini. mereka merupakan pekerja keras. Kentang mesti disemprot 2 hari sekali, bawang pering harus dibersihkan dari tumbuhan liar dan kubis mesti dijaga dari hama dan binatang pengerat. Karena ‘tuntutan alam’ semacam itu, mereka menjadi masyarakat disiplin.

Namun, pendidikan, baik agama maupun umum, tak banyak mendapat perhatian. Karena tergolong berpendapatan tinggi, kebanyakan masyarakat tidak lagi peduli dengan pendidikan. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Inilah sasaran utama kami.

Memahamkan penduduk tentang pentingnya pendidikan, khususnya agama, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Untungnya, Ramadhan ‘menjembatani’ tujuan itu. Detik demi detik di bulan Ramadhan kami upayakan untuk memberi pemahaman secara maksimal. Sasaran utamanya adalah anak-anak.

Ramadhan benar-benar membantu mensukseskan acara-acara yang telah direncanakan. Seperti biasa, di manapun itu, kesadaran masyarakat dalam hal ibadah meningkat. Sambutan untuk bulan suci yang meriah, suasana masjid-masjid yang ramai, persepsi masyarakat tentang bulan Ramadhan sebagai bulan berkah yang telah melekat, hingga sikap masyarakat yang menerima  kami dengan hangat telah membantu melupakan hawa dingin yang begitu ekstrim.

Bagi kami, berpuasa sambil mempelajari budaya baru, sekaligus berbagi ilmu merupakan hal baru. Pengalaman itu adalah hal special yang akan memperkaya wawasan kami. Membantu mengarungi dunia yang menyimpan begitu banyak rahasia. Bahkan menyemangati untuk membuka tabir kehidupan yang tersembunyi.

PILKADA Usai, Saatnya Damai

images           Mendekati Pilkada putaran kedua lalu, yang diadakaan tanggal 19 April, situasi politik memanas. Beragam isu disebar, lalu disambut para pendukung. Media sosial ‘membara’ dengan tuduhan, klaim sepihak, hoax, adu argument bahkan makian.  Bahkan Polri menerima hingga 1900 laporan dugaan hoax terkait pilkada (Akbar Faizal, ILC 25 April 2017). Kondisi ini membuat beberapa pihak memprediksi akan terjadi chaos pasca pilkada.

Tapi, watak bangsa Indonesia memang istimewa. Kekhawatiran akan terjadi kerusuhan tidak terbukti. Pilkada berlangsung damai dan jujur. Hingga sekarang, hampir sebulan pasca Pilkada pun, keadaan Jakarta aman-aman saja.

Anehnya, yang ‘chaos’ justru di medsos. Isu-isu tak henti digoreng, entah siapa pelakunya. Yang jelas, mereka tak suka jika Indonesia damai. Sialnya lagi, banyak anak bangsa yang ikut-ikutan membumbui. Perang tweet, status facebook hingga tulisan di web masih terjadi. Walau Pilkada telah usia, dan hasilnya telah final, persaingan masih terasa.

Persaingan politik memang tak bisa dielakkan. Menghilangkan persaingan seperti halnya menjadikan system politik otoriter tanpa alternatif. Kedua, adanya kompetisi akan memacu kontestan menjadi yang terbaik. Setiap paslon akan memikirkan inovasi kreatif terbaik demi kemajuan masyarakat. Namun, konsep persaingan politik layaknya prinsip ‘zero sum’, setiap kemenangan dari satu pihak, berarti kekalahan dipihak lain. Itulah resiko demokrasi yang harus diterima lapang dada oleh masing-masing paslon dan pendukung setianya. Setiap kontestan yang ikut berdemokrasi harus paham bahwa ia tidak hadir sendirian, banyak lawan politik lain yang juga memiliki tujuan untuk berkuasa.

Dengan demikian, semestinya persaingan politik tidak dijaga sepanjang tahun. Cukuplah di masa-masa kampanye. Itupun sebatas adu program. Kemudian, actor politik, juga pendukungnya mesti legowo jika kalah. Namun yang menang tak terlalu jumawa. Karena gubernur terpilih adalah milik bersama. Itulah kelebihan demokrasi.

Sebagai contoh, seusai Pilpres Amerika tahun 2008, John McCain, lawan Barack Obama langsung mengucapkan selamat saat mengetahui ia kalah. “ Hari ini, kita akan mendapatkan seorang presiden baru. Dan saya akan membantu dia dengan segala kekuatan yang saya miliki untuk keluar dari krisis dan memajukan Amerika.” Katanya. Kira-kira itulah contoh kedewasaan dalam demokrasi.

Sikap seperti itu mestinya dimiliki setiap actor politik dan masyarakat secara umum. Apalagi, tujuan utama setiap kandidat sama-sama ingin memajukan Jakarta.  Walaupun dengan metode yang berbeda.

Warga Jakarta tak bisa tidak harus berdamai dan bersatu membangun kota. Bagaimanapun bagusnya program-program yang ditawarkan gubernur terpilih, tak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Kerenggangan hubungan antara pemimpin dan sebagian masyarakat justru akan membuat si ibu kota semakin merana. Demikian pula dengan tokoh-tokoh masyarakat yang berada di pihak yang kalah, sudah sehaarusnya membantu gubernur terpilih.

Adapun gubernur baru beserta pemilihnya, harus legowo meminta bantuan, koreksi dan masukan kepada semua orang. Tak terkecuali lawan politiknya. Bahkan tak ada salahnya melanjutkan program yang telah berjalan. Jika itu baik bagi warga ibukota, karena Jakarta milik semua.

Konsekuensi Keimanan

bumi-tangan-2

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang mendustakan [Q.S Al-Ankabut ayat 2-3]

“CUKUP, Keluar dari rumah ini,..kau telah mengecewakanku!” Wajah bapak itu merah padam, suaranya berat, baru kali ini ia semarah itu. “Cepat, jangan sekali-kali memperlihatkan wajahmu itu lagi, PERGIII!!” hardiknya tanpa menoleh.

………………………………

Rian terbangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya. “Ah, mimpi itu lagi!” desahnya.  Ia mengusap wajahnya sambil bangkit, menuju kamar mandi dan berwudhu. Namun bayangan itu tak juga hilang. Kini, raut wajahnya berubah murung, persis seperti anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya. Namun, ia tak berusaha lari dari kenyataan hidupnya itu, ia juga tak menyesalinya. Yah, kejadin 5 bulan lalu itu memang telah merenggut semuanya. Keluarganya, harapan-harapannya, harta bendanya bahkan masa depannya, semua hilang dalam sekejap.

Ia ingat, saat itu, ia baru masuk tahun ajaran ke-2 di salah satu Universitas ternama. Sebagai anak dari orang kaya nan terpandang, ia menjalani hidupnya dengan mudah, santai dan foya-foya. Segala fasilitas telah tersedia, ia betul-betul tipe anak manja. Kehidupan seperti di surga itu tiba-tiba hancur gara-gara ia iseng membaca sebuah tulisan di Mading kampusnya. Tulisan berjudul ‘Hidup setelah mati’ itu ditulis oleh salah satu anak LDK yang kebetulan se-jurusan dengannya. Sebagai anak yang dididik oleh orang tua atheis, awalnya ia ragu dengan argumentasi-argumentasi di tulisan itu, namun ternyata, ia telah terlanjur tersentil dengan pertanyaan-pertanyaan tentang esensi kehidupan, penciptaan hingga masalah akhirat.

Saat itu, tak ada solusi yang ia dapatkan selain bertanya mendalam kepada si pembuat tulisan. Khaidir namanya.

“Dir, kamu kan yang nulis artikel tentang ‘Hidup setelah mati’ di Mading kampus!?” tanyanya to the point saat mereka tak sengaja berpapasan di tangga.

“Iya tuh, kenapa akh?” Khaidir menjawab simple. ‘jangan-jangan, si anak atheis ini dah sadar’ pikirnya.

“Akh? Maksudnya?” Tanya Rian polos.

“Akh itu panggilan ‘sayang’ sesama muslim, dari bahasa Arab, artinya ‘Saudara’!” Jawab Khaidir singkat.

“ow gitu,…eh, aku punya banyak pertanyaan buatmu! Kapan kamu punya waktu, aku pengen diskusi!”

“Ow, bagus tuh, Insya Allah besok yah, di Masjid Al-Hidayah!”

“Oke, siip!” tutupnya sambil berlalu.

Keesokan harinya, Rian dengan antusias datang ke tempat perjanjian, Masjid Al-Hidayah. Di sana, ia telah ditunggu oleh Khaidir beserta beberapa orang yang tidak ia kenal. Namun anehnya, mereka semua terasa akrab.

Mereka pun diskusi tentang banyak hal. Jamuan makan dan minum yang disediakan si Khaidir sama sekali tak disentuh. Bukan karena tak selera, namun karena ia sangat tertarik dengan kata-kata ‘pancingan’ si Khaidir. Diskusi itu ‘dihentikan’ oleh azan dhuhur dan berlanjut keesokan paginya. Hingga hari ke-lima, keyakinannya berubah. Sekarang, ia meyakini tentang keberadaan tuhan, adanya hidup setelah mati, tujuan hidup hingga kebenaran Al-Qur’an. Sesekali, ia ikut sholat walau belum bersyahadat. Barulah dua minggu setelah diskusi ia memantapkan hati untuk bersyahadat secara sembunyi-sembunyi. Hanya disaksikan oleh Khaidir dan teman-temannya.

Semenjak itu, jadwalnya berubah. Jika dulu ia adalah jagonya maksiat, kini ia ahli ibadah. Namun, keimanan memang akan membawa konsekuensi tersendiri. Ikrar dua kalimat syahadat bukanlah kalimat biasa yang dapat ditanggung oleh orang biasa. Ia adalah kalimat luar biasa dengan resiko yang luar biasa pula.

Sebulan kemudian, ketika ia sudah siap untuk mengakui keimanannya, ia dengan gugup membuka pintu. Tepat di kursi sana, ayahnya telah menunggu.

“Rian, apakah betul kamu telah percaya dengan hal-hal yang tak masuk akal itu.” Sergap ayahnya.

“Tidak ayah, saya tak percaya pada hal-hal yang tak masuk akal.” Rian membantah.

“Jawab dengan jujur!!” seru ayahnya sambil mengangkat sebuah buku diari. Rian terkesiap, namun ia telah mempersiapkan jawabannya.

“Yah, saya memang telah percaya dengan keyakinan Islam, namun itu karena semua hal tersebut sangat masuk akal! Saya akan……”

“DIAM, kamu tahu siapa ayah, ayah adalah orang yang paling getol menyuarakan kebebasan hidup dan ketiadaan tuhan. Buku-buku dengan bukti ilmiah dan argumentasi telah ayah tuliskan untuk orang-orang bodoh diluar sana! Tapi ternyata, ayah tak sadar kalau didalam rumah ini juga ada orang seperti mereka!!” ujar ayahnya keras sambil berbalik.

“Saya akan jelaskan ayah, paham komunis itu…!”

““CUKUP, Keluar dari rumah ini,..kau telah mengecewakanku!” Wajah ayahnya merah padam, suaranya berat, baru kali ini ia semarah itu. “Cepat, jangan sekali-kali memperlihatkan wajahmu itu lagi, PERGIII!!” hardiknya tanpa menoleh.

Rian tersentak kaget. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapat respon seberat itu. Padahal, ia telah berdo’a kepada Allah SWT selama ini. Do’a untuk melembutkan hati seperti yang diajarkan oleh Khaidir. ia menjadi lemas, air matanya ingin menetes, namun ia teringat akan ayat yang pernah ia pelajari tentang ujian orang-orang yang mengaku beriman. Ayat itu benar-benar meneguhkan hatinya.

“Baiklah ayah, saya akan pergi dari rumah ini, tapi mudah-mudahan ayah juga akan menemukan kebenaran seperti yang saya temukan!!” Tutupnya sambil berlalu.

………………………………….

Rian tersenyum mengingat kejadian itu. Ia memilih bertahan dengan keyakinannya tentang kebenaran Islam. Walau kini hidupnya susah, serba kekurangan, namun ia tetap semangat menjalaninya bersama Khaidir dan 50 santri lainnya di sebuah Pesantren Mahasiswa. Wawasan keislamannya berkembang pesat.

“creeeng…creeeng…creeeng….” HP Nokia Jadul bergetar di kantongnya. Ia segera menjawab.

“Halo, Assalamualaikum? Dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?” ia langsung menyerang dengan pertanyaan beruntun.

“Waalakumsalam warahmatullahi,..Rian, ini ayahmu,….kamu pulang yah….ayah tunggu kamu”. Suara yang sangat ia kenal itu terdengar. Tak terasa, ia meneteskan air mata. Terharu.
 

 

 

 

 

​Perkuat Peran LDK, MUI Jatim Gelar Mudzakarah Da,i

Berangkat dari kondisi umat, khususnya mahasiswa muslim yang masih dangkal pemahaman ke-Islamannya, MUI Jatim mengundang seluruh Lembaga Dakwah Kampus Se-Jatim beserta ormas Islam untuk mengikuti acara Mudzakarah Da’i pada hari Sabtu 29 Oktober 2016 dengan tema “Peran Dakwah Kampus Dalam Mengembangkan Islam Washatiyyah”.
Acara yang diadakan di Masjid Ulul Azmi Kampus C UNAIR tersebut menghadirkan dua pengurus MUI Jatim sebagai narasumber. Yaitu Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng yang juga merupakan guru besar ITS sekaligus Rektor UNUSA dan Prof. Dr. Ali Aziz M. Yang juga guru besar UINSA Surabaya. Selain itu, acara tersebut juga dihadiri tokoh-tokoh MUI, seperti KH. Abdusshamad Buchari dan KH. Muhammad Navis.

Acara dimulai dengan presentasi oleh KH. Abdusshamad Buchari yang memaparkan kondisi umat dari zaman Rasulullah hingga kini. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi umat Islam saat ini. Utamanya tentang banyaknya hal-hal negatif dan menyesatkan yang mengepung umat, seperti aliran sesat, kelompok ekstrim dan kelompok liberal. Padahal menurut beliau, cara beragama yang benar adalah washatiyyah (Al-Baqarah 143).   

Selanjutnya, acara dilanjutkan oleh Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie yang menegaskan pentingnya peran dakwah kampus dalam mengembangkan Dakwah Wasathiyyah. Menurutnya, Dakwah Kampus sangat strategis untuk melahirkan generasi yang lurus aqidahnya dan juga menjadi benteng bagi pemikiran-pemikiran sesat yang menyerang kampus. Pasalnya, selama ini, banyak mahasiswa-mahasiswa muslim yang terjerumus pada pemikiran-pemikiran tersebut. Karena memang, mahasiswa adalah ‘agent of change’ dan ‘Future reserves’ sehingga menjadi incaran banyak pihak.

Sementara itu, Prof. Dr. Ali Aziz M.Ag berjanji MUI akan membimbing dan mewadahi aktivis LDK untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu lahirnya generasi yang bersatu dan lurus aqidahnya. Diharapkan, aktivis LDK benar-benar serius dan konsisten terhadap persatuan umat Islam.

Acara ‘Mudzakarah Da’i’ ini sendiri akan dilakukan secara rutin sebulan sekali hingga Mei 2017 dan akan dilakukan diberbagai tempat. Ini sudah menjadi komitmen MUI sebagai bentuk tanggung jawab ulama menjaga umat Islam agar tak tersesat./Muh Faruq Al-Mundzir

​“Tolong Ajari Kami Cara Mencintai Indonesia” 


28 Oktober 1928 silam, kalian para pemuda seperti kami berkumpul bersama. Dengan semangat membara bersumpah untuk indonesia. Bersumpah untuk berjuang demi kemerdekaan bangsa yang saat itu masih terjajah. Tak terbayang bagaimana gelora kalian demi membawa Indonesia menuju kebebasan dari keterjajahan. 
Oh tuhan, itu dulu, zaman kalian. Itu tahun 1928, sudah 88 tahun yang lalu. Kini, negara yang diperjuangkan oleh kalian amburadul. Masalah datang silih berganti. Krisis politik, krisis ekonomi, krisis sosial adalah contohnya. Tapi semuanya bersumber dari krisis moral. Oh Mr. W.R Soepratman, Maafkan kami tak bisa menjaga Indonesia mu. Maafkan kami belum bisa semangat seperti semangatmu dan kawan-kawan seperjuanganmu. 

Sekarang, seandainya engkau bisa melihat keadaan anak-anak muda penerusmu, mungkin engkau akan menangis, sedih. Pemuda sekarang tak banyak yang punya jiwa patriotisme seperti pemuda jamanmu. Kami sekarang lebih sibuk bersantai di sudut warung dengan kopi dengan Gadget digenggam. Kami kini tak banyak yang siap berkorban seperti kalian dulu. Bahkan kami hilangkan identitas ketimuran kami. Budaya yang dulu kalian jaga kini telah tergantikan. Bahasa yang dulu kalian banggakan kini tak lagi dianggap berharga. Tanah air yang dulu engkau perjuangkan kini carut marut tak karuan. Sementara kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami sibuk dengan urusan pribadi.

Kami tau engkau tak bisa mendengar lagi. Kami tahu engkau tak akan pernah membaca tulisan ini. Kami tau kalau engkau telah pergi menghadap Ilahi. Tapi, pada siapa lagi kami harus meminta semangat. Memang hari bersejarahmu masih diperingati setiap tahun. Tapi….hanya sebatas itu. Para pemimpin negeri ini tak lagi peduli. Tak lagi mau mendengar suara-suara kami. Suara-suara pemuda bangsa yang rindu perubahan. Mereka sibuk dengan diri sendiri, tak jauh beda dengan kami. Sibuk menghitung rupiah-rupiah hasil korupsi. Sibuk mengurus hal-hal yang tak berguna. Sementara kami, para pemuda yang akan mewarnai Indonesia tak digubris aspirasinya, tak dihargai prestasinya. Bahkan mendapat cemoohan, mendapat gertakan hingga pukulan.

Demi Regenerasi, BEM STAIL Gelar Kongres


(Surabaya, 09/Oktober/2016) mengingat pentingnya Regenerasi, BEM Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, kembali melakukan Kongres yang kesebelas dengan tema “melahirkan pemuda yang berjiwa ulama dan umara” di aula Rahmat Rahman Pondok Pesantren Hidayatullah. Tujuan Kongres ini adalah peninjauan kembali AD/ART dan GBHP serta acara pamungkas untuk menentukan Presiden BEM periode 2016-2017.
Namun, acara ini sedikit berbeda dengan acara semisal. Para calon Presiden BEM tak dipilih melalui voting suara. Namun dengan sistem syuro’ (musyawarah) antar anggota sidang yang terdiri dari DLM (Dewan legislatif Mahasiswa), HMPR (Himpunan Mahasiswa Program Reguler) serta Kosma setiap Angkatan ( smt 1, 3, 5, dan 7).
Hadir dalam acara tersebut, Ust Nur Huda S.Ag, M.Pd.I selaku ketua STAIL dan Ust Faishal Haq M.Pd.I selaku PK II STAIL. Dalam sambutannya, Ust Nur Huda mengingatkan tentang esensi dari kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan bisa menjadi ladang amal jika dijalankan dengan amanah namun akan menjadi azab jika diselewengkan. Untuk itu beliau menghimbau agar siapapun yang terpilih harus bertanggung jawab dan menjunjung tinggi syariat Islam.
Adapun kandidat presiden BEM yang sebelumnya telah diusulkan oleh semester V (Umumnya, para Kandidat dari Smt.V) adalah Nashirul Haq yang merupakan Sekjen BEM 2015-2016 dan Mutawalli Mursyid, Mahasiswa asal Batam. Para kandidat akan menyampaikan visi dan misinya jika terpilih menjadi Presiden BEM. Selanjutnya, DLM, Pengurus BEM serta Kandidat akan bermusyawarah untuk menentukan presiden terpilih. Setelah sepakat, pimpinan sidang akan mengumumkan hasil musyawarah. Terakhir, presiden BEM terpilih akan menyusun kabinetnya lalu dilantik paling lambat seminggu setelahnya.

MAKALAH “METODOLOGI PENELITIAN”

MAKALAH

 

 MACAM-MACAM METODELOGI PENELITIAN

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Metodelogi Penelitian”

Dosen Pengampu  Drs. Mahmudi

logo stail.jpg 

Disusun Oleh: 

  1. Faruq
  2. Fandi Waluyo
  3. Arjun

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL-HAKIM

PONPES HIDAYATULLAH SURABAYA

T.A2016-2017

KATA PENGANTAR

            Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita kesempatan, kesehatan, waktu luang serta fasilitas sehingga kami mampu merampungkan makalah ini tanpa ada kesulitan yang berarti. Salam serta shalawat kepada suri tauladan sekaligus nabi terakhir yang diutus untuk seluruh manusia, Muhaammad SAW. Yang telah berjuang maksimal demi agama Islam ini.

Makalah ini kami buat sebagai pemenuhan tugas mata kuliah ‘Meodelogi Penelitian’ di kampus STAIL. Ucapan terimakasih kami haturkan kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam pembuatan makalah ini.

  • Kepada Bapak Drs. Mahmudi, terima kasih atas bimbingannya
  • Kepada pengurus Perpusda, terima kasih atas buku-bukunya
  • Kepada teman-teman STAIL, terima kasih telah mendukung pembuatan makalah ini

Tentunya, tanpa bantuan dan peranan seluruhnya, pembuatan makalah ini tak akan berjalan sebagaimana mestinya. Semoga Allah membalas kebaikan kita semua. Amiin.

Namun, sebagai manusia yang tak terlepas dari kesalahan, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan, baik itu ejaan, kekurangan huruf, kesalahan kalimat, ataupun format dll. Untuk itu, saran serta kritik yang membangun  sangat kami harapkan sebagai pertimbangan pembuatan makalah selanjutnya.

Terlepas dari itu semua, besar harapan kami, makalah ini dapat membantu dalam perkuliahan ‘metodelogi penelitian’ sebagai referensi bagi teman-teman mahasiswa maupun dosen. Sekian.

 

 

 

DAFTAR ISI

 BAB I  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan

 

BAB II  PEMBAHASAN

  1. Metode Penelitian
  2. Sekilas tentang metode penelitian

 

  1. Jenis-Jenis Penelitian
  2. Berdasarkan bidang penelitian
  3. Berdasarkan tujuan penelitian
  4. Berdasarkan metode penelitian
  5. Berdasarkan tingkat ekplanasi penelitian
  6. Berdasarkan waktu penelitian

 

  1. Macam-Macam Metode Penelitian
  2. Macam-Macam Metode Penelitian Kuntitatif
  3. Macam-Macam Metode Penelitian Kualitatif

 

BAB III  PENUTUP

  1. KESIMPULAN

 

 

 

 

 

 

BAB I

Pendahuluan

  1. Latar belakang

Sebagai mata kuliah, metodelogi penelitian sangat penting untuk menjadi rujukan para mahasiswa dalam melakukan penelitian di semester akhir, yaitu pembuatan skripsi. metodelogi penelitian menjadi pijakan bagi calon sarjana untuk mengembangkan penelitian mereka, sehingga jadilah mata kuliah ini teramat menentukan model skripsi sebagai tugas akhir sarjana S1.

Salah satu yang perlu didalami oleh mahasiswa adalah bahasan mengenai macam-macam metode penelitian yang menjadi focus bahasan pada makalah kami. Itulah sebabnya kami berusaha membuat makalah ini semaksimal yang kami bisa.

Semoga makalah ini bisa memberi penjelasan kepada kita semua terkait macam-macam metode penelitian sebagaimana yang diharapkan.

  1. Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu ;

  • Apa sajakah macam-macam metode penelitian kualitatif?
  • Apa sajakah macam-macam metode penelitian kuantitatif?
  • Apa perbedaan antara macam-macam metode penelitian?
  • Apa kelebihan serta kekurangan antara masing-masing metode penelitian?

 

  1. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini yakni;

  • Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah metodelogi penelitian
  • Sebagai bahan referensi mata kuliah metodelogi penelitian
  • Menjelaskan macam-macam metode penelitian

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

A. Metode Penelitian

  1. Sekilas tentang metodelogi penelitian

Pengertian metode, berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau menuju suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya (Rosdy Ruslan,2003:24).

Sedangkan pengertian penelitian, diantaranya :

Research is a systematic attempt to provide answer to questions. Such answer may be abstract and general as is often the case in basic research or they may be highly concrete and specific as is often the case in applied research. ( Tuckman 1978 : 1)[1]

Berdasarkan definisi di atas secara sederhana dapat dikatakan bahwa penelitian merupakan cara-cara yang sistematis untuk menjawab masalah yang sedang di teliti. Kata sistematis merupakan kata kunci yang berkaitan dengan metode ilmiah yang berarti adanya prosedur yang ditandai dengan keteraturan dan ketuntasan.[2] Secara lebih detail, davis (1985) memberikan karakteristik suatu metode ilmiah sebagai berikut:

  • Metode harus bersifat kritis dan analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat dan benar untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk masalah tersebut.[3]
  • Metode harus bersifat logis, yaitu adanya metode yang digunakan untuk memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional didasarkan pada bukti-bukti yang tersedia.[4]
  • Metode bersifat obyektif, yakni obyektivitas itu menghasilkan penyelidikan yang dapat di contoh oleh ilmuan lain dalam studi dan kondisi yang sama.[5]
  • Metode harus bersifat konseptual dan teoritis; oleh karena itu, untuk mengarahkan proses penelitian yang dijalankan, peneliti membutuhkan pengembangan konsep dan struktur teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.[6]
  • Metode bersifat empiris, yaitu metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.[7]

 

  1. Jenis-Jenis Penelitian

Terdapat banyak jenis penelitian, antara lain;

  1. Berdasarkan bidang penelitian
  • Akademis
  • Professional
  • Institusional
  1. Berdasarkan tujuan penelitian
  • Murni
  • Terapan
  1. Berdasarkan metode penelitian
  • Survey
  • Expostfacto
  • Eksperiment
  • Naturalistic
  • Policy research
  • Action research
  • Evaluasi
  • Sejarah
  • R & D
  1. Berdasarkan tingkat ekplanasi penelitian
  • Deskriptif
  • Komparatif
  • Asosiatif
  1. Berdasarkan waktu penelitian
  • Cross sectional
  • Longitudinal

Selain itu, metode penelitian juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan dan tingkat kealamiahan.[8]

 

  1. Macam-macam metode penelitian

Penelitian pada dasarnya merupakan suatu pencarian (inquiry), menghimpun data, mengadakan pengukuran, analisis, sintesis, membandingkan, mencari hubungan dan menafsirkan hal-hal yang bersifat teka-teki.[9]

Banyak metode penelitian atau model rancangan penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian bidang sosial dan pendidikan. Mcmillan dan Schumacher (2001) memulai dengan membedakannnya antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dalam pendekatan kuatitatif, dibedakan pula antara penelitian eksperimental dan non-eksperimental. Demikian pula dalam penelitian kualitatif, dibedakan antara kualitatif interaktif dan non-interaktif.[10]

  1. Macam-macam metode penelitian kuantitatif

Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivism yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi ojektifitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistic, struktur dan percobaan terkontrol.[11]

Orang yang berjasa dalam pengembangan filsafat positivistic diantaranya ialah August Comte (1798-1857). Perkembangan berikutnya positivistic mendominasi filsafat ilmu pengetahuan terutama pada awal abad ke 20 an.[12]

Menurut aliran posivistik, khususnya ilmu pengetahuan kealaman, harus memiliki dua kriteria penting yaitu ekplanatori dan prediktif. Kriteria ekplanatori berkaitan dengan penjelasan sedangkan kriteria prediktif berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Artinya, hasil suatu penelitian mempunyai daya ramal yang tinggi.[13]Berdasarkan dua criteria tersebut, maka semua ilmu pengetahuan harus memiliki sifat-sifat tertentu;

  1. Objektif, artinya teori-teori tentang semesta haruslah menjelaskan apa adanya yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun sehingga sifatnya harus bebas nilai.[14]
  2. Fenomenalisme, yaitu ilmu pengetahuan hanya bicara tentang sesuatu yang dapat diamati atau dapat diindra atau berdasarkan data.[15]
  3. Reduksionisme, artinya segala sesuatu, yakni data yang ditemukan mesti dapat direduksi menjadi fakta-fakta yang jelas, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan.[16]
  4. Naturalism, artinya alam semesta itu adalah objek-objek yang bergerak secara mekanis dan tetap berdasarkan hokum-hukum tertentu.[17]

Ada beberapa macam metode penelitian yang termasuk dalam penelitian kuantitatif yang bersifat non-eksperimental, yaitu metode; deskriptif, survey, eksposfakto, komparatif, kolerasional, dan penelitian tindakan.[18]

  1. Deskriptif

Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau yang telah lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya.[19]

Contoh pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan penelitian deskriptif antara lain, Bagaimana sikap penduduk yang tinggal di pegunungan terhadap kemoderenan?, Berapa jam rata-rata para siswa belajar secara mandiri? Dll.

Penelitian ini tidak hanya bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, namun juga mendeskripsikan keadaan pada tahapan-tahapan perkembangannya atau penelitian perkembangan (developmental studies). Contohnya yaitu perkembangan pendidikan di sebuah desa; sebelum ada sekolah, setelah ada sekolah, sebelum dan setelah pergantian metode pembelajaran, dan sebagainya.

Dalam penelitian perkembangan, ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau potongan waktu/ satu tahapan saja.

  1. survey

Penelitian model ini digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah besar orang terhadap topic atau isu-isu tertentu. Ada tiga karakteristik utama dari survey: a) informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu, seperti; kemampuan, sikap, kepercayaan, pengetahuan dari populasi, b)dikumpulkan mealui pengajuan pertanyaan (umumnya tertulis walaupun bisa juga lisan) dari suatu populasi, c) informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi.[20]

Tujuan utama dari survey adalah mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi. Pada dasarnya yang ingin dicari peneliti adalah bagaimana anggota dari suatu populasi tersebar dalam satu atau lebih variabel, seperti usia, etnis, jenis kelamin, agama dll. Seperti halnya metode deskriptif, survey juga ada yang bersifat longitudinal dan cross sectional.

  1. Ekspos Fakto (exspost facto research)

Penelitian ini meneliti hubungan sebab-akibat yang tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan (dirancang dan dilaksanakan) oleh peneliti. Penelitian hubungan sebab-akibat dilakukan terhadap program, kegiatan atau kejadian yang telah berlangsung atau telah terjadi. Adanya hubungan sebab-akibat didasarkan atas kajian teoritis, bahwa suatu variabel disebabkan atau dilatarbelakangi oleh variabel tertentu atau mengakibatkan variabel tertentu. Umpamanya pelatihan meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para peserta, gizi yang cukup pada waktu ibu hamil menyebabkan bayi sehat, koperasi yang sehat dapat meningkatkan kesejahteraan para anggota-anggotanya.[21]

Penelitian ekspos fakto mirip dengan penelitian eksperimen, tetapi tanpa ada pengontrolan variabel dan biasanya juga tak ada pra tes. Penelitian ini dapat dilakukan dengan baik dengan menggunakan kelompok pembanding. Kelompok pembanding yang dipilih harus memiliki karakteristik yang sama tetapi melakukan kegiatan program atau kejadian yang berbeda. Missal, sejumlah keluarga yang memiliki ekonomi sama, kelompok satu sangat memerhatikan gizi bayi mereka, sedang kelompok pembandingnya tidak terlalu peduli dengan gizi bayi mereka. jika bayi dari keluarga yang perhatian terhadap gizi lebih sehat dari bayi dari keluarga yang tidak peduli terhadap gizi bayi mereka, maka dapat diperkirakan penyebabnya adalah masalah gizi.

  1. Penelitian Komparatif

Penelitian macam ini ditujukan untuk mengetahui apakah antara dua atau lebih dari dua kelompok ada perbedaan dalam aspek atau veriabel yang teliti. Dalam penelitian ini tak ada pengontrolan variabel maupun manipulasi/perlakuan dari peneliti. Penelitian dilakukan secara alamiah, peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan instrument yang bersifat mengukur. Hasilnya dianalisis secara statistic untuk mencari perbedaan antar variabel-variabel yang diteliti. Penelitian ini juga dapat memberikan hasil yang terpercaya, selain karena menggunakan instrument yang sudah diuji, juga karena kelompok-kelompok yang dibandingkan memiliki karakteristik yang sama ataupun hamper sama.[22]

  1. Penelitian Korelasional

Tujuan penelitian model ini ialah mencari hubungan suatu variabel dengan variabel-variabel lain. Hubungan antara satu dengan beberapa variabel lain dinyatakan dengan besarnya koefisien korelasi dan keberartian (signifikansi) secara statistic. Adanya korelasi antara dua veriabel atau lebih, tidak berarti adanya pengaruh atau hubungan sebab-akibat dari satu veriabel terhadap veriabel lainnya. Korelasi positif berarti nilai yang tinggi dalam suatu variabel berhubungan dengan nilai yang tinggi pada veriabel lainnya. Korelasi negative berarti nilai yang tinggi dalam satu variabel berhubungan dengan nilai yang rendah dalam veriabel lain.[23]

Penelitian korelasi berbeda dengan penelitian eksperimen. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan dan proses penelitiannya. Kalau pada eksperimen, tujuan yang hendak ditemukan adalah ada atau tidaknya pengaruh suatu perlakuan terhadap sesuatu atau biasa dikatakan pengaruh ‘x’ terhadap ‘y’. Sedangkan penelitian korelasi lebih kepada pertanyaan “apakah kenaikan variabel ‘x’ juga diikuti kenaikan veribel ‘y’ atau sebaliknya?”. Contoh, penelitian tentang kebiasaan membaca (variabel X) dengan prestasi belajar (variabel Y). Apakah ada peningkatan antara semakin sering membaca dengan prestasi belajar?

  1. Penelitian tindakan (action research)

Penelitian tindakan bertujuan pada pemecahan masalah atau pebaikan. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan penelitian tindakan.[24] Contoh penelitian ini antara lain; para guru yang mengadakan pemecahan masalah yang terjadi di dalam kelas, atau kepala sekolah yang melakukan perbaikan manajemen sekolah.

Penelitian tindakan juga biasa dilakukan dengan meminta bantuan para ahli. Penelitian tindakan seperti ini diklasifikasikan sebagai penelitian tindakan kolaboratif (collaborative action research) {Oja & Sumarjan, 1989, Stinger, 1996}. Penelitian tindakan kolaboratif selain diarahkan kepada perbaikan proses dan hasil, juga bertujuan meningkatkan kemampuan para pelaksana, sebab penelitian kolaboratif merupakan bagian dari program pengembangan staf.

 

  1. Penelitian dan pengembangan (research and development)

Penelitian dan pengembangan merupakan metode untuk mengembangkan dan mengkaji suatu produk (Borg, W.R & Gall, M.D. 2001). Metode ini banyak digunakan di dunia industry demi mengevaluasi dan menyempurnakan produk-produk mereka. biasanya juga untuk mengembangkan produk baru.[25]Dalam bidang pendidikandapat digunakan untuk mengembangkan buku, modul, media pembelajaran, kurikulum, evaluasi, manajemen, pembinaan staf dll.

Secara garis besar, ada tiga tahapan penelitian dan pengembangan. Pertama, studi pendahuluan, yaitu mengkaji teori dan mengamai produk atau kegiatan yang ada, kedua, melakukan pengembangan produk atau program kegiatan baru, dan ketiga, menguji atau memvalidasi produk atau proggam kegiatan baru.

  1. Eksperimen

Eksperimen adalah metode peneltian yang bertujuan untuk menjelaskan dan meramalkan yang akan terjadi pada suatu variabel manakala diberikan suatu perlakuan tertentu pada variabel lainnya. Ada beberapa ciri dalam penelitian eksperimen.[26]

Pertama, eksperimen berhubungan dengan populasi dan sampel penelitian. Artinya perlakuan yang diberikan baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok control adalah pada sejumlah anggota sampel (bagian dari populasi) yang ditarik dengan tehnik sampling tertentu sehingga anggota sampel tersebut bersifat representative atau menyimpulkan seluruh anggota populasi.

Kedua, eksperimen juga berkaitan dengan hipotesis. Artinya, sebelum mengolah data, peneliti mengajukan hipotesis, selanjutnya data diolah untuk menerima atau menolah hipotesis tersebut. Dengan demikian, hipotisis mutlak harus dirumuskan dalam eksperimen.

Ketiga, eksperimen berkaitan dengan penelitian yang diarahkan untuk melihat ada tidanya pengaruh perlakuan (variabel x/variabel bebas) terhadap variabel ‘y’ atau variabel terikat.

  1. Macam-macam metode penelitian kualitatif

Penelitian Kualitatif (Qualitative research) adalah suatu penelitian yang bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi atau pemikiran orang secara individual maupun kelompok.

Pijakan penelitian kualitative adalah naturalistic dan antara peneliti dan yang di teliti bersifat interaktif, tidak bisa dipisahkan, suatu kesatuan terbentuk secara simultan dan bertimbal balik, tidak mungkin memisahkan sebab-akibat, dan penelitian ini melibatkan nilai-nilai.

Tujuan kualitatif memiliki dua tujuan, yaitu menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore) dan menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain).

Ada lima macam metode kualitatif interaktif yaitu:

  1. Studi Etnografik ( Ethnograpic Studies)

Studi Etnografik mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya, kelompok sosial atau sistem. Meskipun makna budaya itu sangat luas tetapi studi etnografik biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiatan, bahasa, kepercayaan, ritual, dan cara-cara hidup. Proses penelitian etnografik dilaksanakan di lapangan dalam waktu yang cukup lama, bentuk observasi dan wawancara secara alamiah dengan cara partisipan, dalam berbagai bentuk kesempatan kegiatan, serta mengumpulkan dokumen-dokumen dan benda-benda (artifak).

Hasil akhir penelitian bersifat komperensif, suatu naratif deskriptif yang bersifat menyeluruh di sertai interpretasi yang mengitegrasikan seluruh aspek-aspek kehidupan dan menggambarkan kompleksitas kehidupan tersebut.[27]

 

  1. Studi Historis (Historical Studies)

Studi Historis meneliti peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Peristiwa-peristiwa sejarah direka-ulang dengan menggunakan sumber data primer berupa kesaksian dari pelaku sejarah yng masih ada, kesaksian tak sengaja yang tidak dimaksudkan untuk disimpan, sebagai catatan atau rekaman, seperti peninggalan-peninggalan sejarah, adan kesaksian sengaja berup catatan dan dokumen-dokumen. Penelitian historis menggunakan pendekatan, metode dan materi yang mungkin sama dengan penelitian etnografis, tetapi dengan fokus, tekanan dan sistematika berbeda. Beberapa peneliti juga menggunakn pendekatan dan metode ilmiah (positivistis) seperti mengadakan pembatasan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan dan analisis data, uji hipotesis dan generalisasi walaupun sudah tentu dalam keterbatasan waktu: kegiatan, peristiwa, karakteristik, nilai-nilai, kemajuan bahkan kemunduran, dilihat dan dikaji dalam konteks waktu.[28]

 

  1. Studi Fenomenologis (Phenomenological Studies)

Fenomenologi mempunyai dua makna, sebagai filsafat sains dan sebagai metode pencarian (penelitian). Studi fenomenologis mencoba mencari arti dari pengalaman dalam kehidupan. Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian, sikap, penilaian dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman-pengalaman dalam kehidupan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari atau menemukan makna dari hal-hal yang esensial atau mendasar dari pengalaman hidup tarsebut.

Penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam yang lama dengan partisipan wawancara diarahakan pada pemahaman tentang persepsi dan sikap-sikap informan terhadap pengalaman hidupnya sehari-hari.[29]

 

  1. Studi Kasus (case studies)

Merupakan Penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan sistem’’. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.

 

  1. Teori Dasar (grounded theory)

Merupakan penelitian yang diarahkan pada penemuan atau minimal menguatkan terhadap suatu teori. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif memberikan deskripsi yang bersifat terurai, tetapi dari deskripsi tersebut diadakan abstraksi atau inferensi sehingga diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang mendasar yang membentuk prinsip, dalil atau kaidah-kaidah. Penelitian ini dilaksanakan dengan berbagai tehnik pengumpulan data, diadakan cek ricek kelapangan, studi perbandingan antar kategori, fenomena dan situasi melalui kajian induktif, deduktif dan verifikasi samapi pada titk jenuh.[30]

 

  1. Studi Kritis

Ada hal yang mendapat perhataian  dalam penelitian kritis:

Pertaama, penelitian kritis tidak bersifat deskrit, meskipun masing-masing punya implikasi metodelogis. Model studinya berbeda dalam tujuan, peranan teori, tehnik pemgumpulan data, peranan peneliti, format laporan dan narasinya, meskipun juga ada yang tumpang tindih.

Kedua, penelitian kritis menggunakan pendekatan studi kasus, kajian terhadap suatu kasus  (kasus tunggal), kajian yang bersifat mendalam yang berbeda dengan kajian eksperimental atau kajian lain yang bersifat generalisasi maupun perbandingan.[31]

 

  1. Penelitian Non-interaktif (non interaktive inquiry)

Di sebut juga penelitian analisis, mengadakan pengkajian berdasarkan analisis dokumen. Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan sistesis data, untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep, kebijakan, peristiwa yang secara langsung maupun tidak langsung dapat diamati. Penelitian ini tidak menghimpun data secara interaktif atau melalui interaksi dengan sumber data manusia, sumberdatanya dalan dokumen-dokumen.

Ada tiga macam penelitian non interaktif yaitu:

  1. Analisis Konsep, merupakan kajian atau analisis terhadap konsep-konsep penting yang diinterpretasikan pengguna atau pelaksana secara beragam sehingga banyak menimbulkan kebingungan umpamanya cara belajar aktif, kurikulum berbasis kompetensi dll.
  2. Analisis Historis menganalisis data kegiatan, program. Kebijakan yang telah dilaksanakan pada masa yang lalu. Peneliti ini lebih diarahkan kepada menganalisis peristiwa, kegiatan, program, kebijakan, keterkaitan, dll.
  3. Analisis Kebijakan menganalisis berbagai dokumen yang berkenaan dengan kebijakan tertentu, umpamanya kebijakan otonomi daerah dalam pendidikan, ujian akhir sekolah, pembiayaan pendidikan dsb.[32]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Penutup

 

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas kita dapat melihat berbagai macam metode penelitian. Ada yang termasuk penelitian Kuantitatif dan juga Kualitatif. Perbedaan keduanya terletak pada beberapa sisi, seperti pijakannya. Yang mana penelitian jenis kuantitatif berangkat dari filsafat posivistik sedangkan penelitian jenis kualitatif didasari filsafat naturalistic.

Selain itu, dalam penelitian kualitatif interaktif, seorang peneliti dituntut untuk aktif dalam berinteraksi dengan yang diteliti. Adapun penelitian kuantitatif ada yang berjalan secara alamiah tanpa ada manipulasi terhadap veriabel dan beriorientasi pada angka-angka.

Pada intinya, kedua jenis metode penelitian ini memiliki cirri-ciri tersendiri dan kelebihan masing-masing dalam meraih hasil yang akurat. Beberapa peneliti bahkan ada yang melakukan kombinasi terhadap kedua jeni penelitian ini walaupun belum bisa kami bahas secara maksimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, 2012, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung)

Sugiyono, metode penelitian pendidikan, 2015 (Alfabeta, Bandung)

Sarwono, Jonathan, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, 2006 (Graha Ilmu, Yogyakarta) (Pdf)

Sanjaya, Wina, Penelitian pendidikan, 2013 (Kencana, Jakarta)

 

 

 

 

 

 

 

[1] Jonathan sarwono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, Graha Ilmu, Yogyakarta 2006, hal. 15

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ibid hal 16

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Sugiyono, metode penelitian pendidikan, alfabeta, bandung, 2015, hal. 7 & 9

[9] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012, Hal. 52

[10] Ibid, hal 53

[11] Ibid.

[12] Wina Sanjaya, Penelitian pendidikan, Kencana, Jakarta 2013, hal. 34

[13] Ibid, hal 35

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Ibid

[18] Op cit, Nana Syaodih sukmadinata, hal 53

[19] Ibid hal 54

[20] Ibid hal. 54-55

[21] Ibid hal 55

[22] Ibid hal 56

[23] Ibid

[24] Ibid

[25] Ibid

[26] Op cit, Wina Sanjaya, hal 38

[27] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode penelitian Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012, Hal, 62

[28]Ibid hal, 63

[29]Ibid

[30]Ibid hal,64

[31]Ibid hal,65

[32]Ibid hal,65-66