Ternyata Sulit!

ilustrasi-kejahatan-_170305201843-176

Seorang lelaki berbatik kuning tergesa-gesa dijejeran bemo. Dua langkah dibelakangnya, seorang wanita berlari-lari kecil, berusaha menggapai lelaki kurus tersebut. Sekejap kemudian, tangan kirinya menyerahkan sebuah HP ke dalam bemo ketiga yang langsung disambut seorang lelaki lain berbaju biru. Si batik kuning lantas berbalik, melayani rengekan wanita tadi, “Hp? Hp apaan? Gue tak ngerti” ujarnya. “bapak tadi ambil Hp saya di sini.”rengek si wanita menunjuk kantong celananya.”mana Hpnya, gak ada tuh Hp di sini.” Ujar sang lelakiyang kini mengangkat bajunya, berusaha meyakinkan. Dibelakangnya, pria berbaju biru tadi bergegas meninggalkan bemo, melangkah cepat entah kemana.

Sementara itu, kami, yang beberapa langkah dari tempat kejadian hanya bengong. Terlambat sadar bahwa peristiwa tersebut adalah pencopetan. Butuh waktu kurang lebih 4 menit untuk memutuskan apa yang harus kami lakukan. Itupun hanya sekedar memberi tahu si korban (wanita) tentang kronologis kejadian yang kami saksikan. Hanya sebatas itu, jejak Hpnya sudah hilang.

……………….

Kawan, kisah di atas adalah kisah nyata yang kami alami. Waktu itu, kami (berempat) sedang berjalan menuju stasiun pasar senen, salah satu stasiun kereta api. Tepat sebelum memasuki areal stasiun, kejadian itu kami saksikan. Sayangnya, tak ada yang bisa kami lakukan selain apa yang telah kami sebutkan. Pertama, kami beralasan ‘orang jauh’, kedua, tak mau terlibat, ketiga, cuma berempat.

Mungkin, sebagian kita, jika ditanya ‘apa yang akan kamu lakukan jika menyaksikan sebuah kedzoliman?’ kita dengan yakin menjawab ‘saya akan berusaha mencegahnya!’ atau ‘tentu, saya akan membela kebenaran!’, atau mungkin jawaban lain yang tak kalah ‘wahh’. Karena klaim kedzoliman pula, banyak mahasiswa berdemo, para professor menulis di koran, politisi berbicara berapi-api di televise. Tapi, apa yang terjadi ketika kita benar-benar dihadapkan pada situasi kondisi seperti di atas. Tindakan apa yang akan kita lakukan?. Benarkah akan seperti yang kita ucapkan? Ternyata, mencegah kedzoliman itu tak mudah, wajar jika Allah berjanji memberi balasan surga bagi mereka yang memiliki keberanian mencegah kemungkaran.

Iklan

1438 H, Ramadhan Edisi Spesial ku

18485642_1493168560734521_4449093307384508180_n.jpg

Sebagai seorang Muslim, Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Banyak cerita yang terukir dibulan penuh berkah ini. Bulan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan keseruan bagi setiap insan Muslim. Terasa begitu menggairahkan. Tak terkecuali bagi kami. Kami, Mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya khususnya semester 6.

Tapi, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang kami jalani dengan ‘gaya’ berbeda. Ya, saat banyak orang yang menikmati bulan berkah ini bersama keluarga, atau berlomba-lomba berumroh ke kota suci, Makkah, demi meraih pahala maksimal, kami memilih menghadapi Ramadhan dengan berbagi kepada sesama.

Yup, kami memasuki bulan Ramadhan di kampung asing. Saat itu, bertepatan dengan program KKN semester kami. Seperti kebiasaan kampus, lokasi yang dipilih untuk kegiatan ini adalah lokasi ‘menyulitkan’.

Desa yang kami tempati adalah sebuah lembah di kaki Gunung Semeru, masuk dalam kawasan taman nasional tengger, Kab. Lumajang, Jawa Timur. Desa ini berada di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Ranupani namanya. Seperti pada umumnya, pada ketinggian demikian, hawa dingin adalah hal pasti. Tapi, bagi kami sebagai orang yang terbiasa tinggal di daerah berhawa panas, hawa di sini tergolong ekstrim. Jadilah kami menjalani bulan penuh berkah dengan hawa dingin ektrim.

Ranupani memang memiliki budaya unik dan agak berbeda. Karena alasan hawa, rumah-rumah disini ‘wajib’ dilengkapi dengan tungku besar. Biasanya, waktu lebih banyak dihabiskan di sekitar tungku daripada daerah lain di rumah. Bahkan, menerima tamu pun dilakukan disekitar tungku yang berada di dapur.

Bahasa mereka juga agak berbeda. Walau agak mirip dengan bahasa jawa pada umumnya, bahasa jawa ini memiliki aksen yang berbeda. Beberapa warga mengatakan bahwa bahasa ini termasuk jawa kuno. Karena mayoritas kami adalah orang bersuku non-jawa, komunikasi menjadi agak sulit. Sementara bahasa Indonesia sangat jarang digunakan. Karena memang hanya segelintir orang yang mengerti bahasa persatuan ini.

Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani. Umumnya, mereka menanam kentang, kubis dan bawang pering. Ladang-ladang mereka kebanyakan di bukit. Lereng-lereng dengan kemiringan ekstrem dihiasi dengan tumbuhan jenis ini. mereka merupakan pekerja keras. Kentang mesti disemprot 2 hari sekali, bawang pering harus dibersihkan dari tumbuhan liar dan kubis mesti dijaga dari hama dan binatang pengerat. Karena ‘tuntutan alam’ semacam itu, mereka menjadi masyarakat disiplin.

Namun, pendidikan, baik agama maupun umum, tak banyak mendapat perhatian. Karena tergolong berpendapatan tinggi, kebanyakan masyarakat tidak lagi peduli dengan pendidikan. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Inilah sasaran utama kami.

Memahamkan penduduk tentang pentingnya pendidikan, khususnya agama, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Untungnya, Ramadhan ‘menjembatani’ tujuan itu. Detik demi detik di bulan Ramadhan kami upayakan untuk memberi pemahaman secara maksimal. Sasaran utamanya adalah anak-anak.

Ramadhan benar-benar membantu mensukseskan acara-acara yang telah direncanakan. Seperti biasa, di manapun itu, kesadaran masyarakat dalam hal ibadah meningkat. Sambutan untuk bulan suci yang meriah, suasana masjid-masjid yang ramai, persepsi masyarakat tentang bulan Ramadhan sebagai bulan berkah yang telah melekat, hingga sikap masyarakat yang menerima  kami dengan hangat telah membantu melupakan hawa dingin yang begitu ekstrim.

Bagi kami, berpuasa sambil mempelajari budaya baru, sekaligus berbagi ilmu merupakan hal baru. Pengalaman itu adalah hal special yang akan memperkaya wawasan kami. Membantu mengarungi dunia yang menyimpan begitu banyak rahasia. Bahkan menyemangati untuk membuka tabir kehidupan yang tersembunyi.