Inspirasi Dari Jalan

sj_20110822094621_3YxXh

“Sebagai makhluk sosial, manusia butuh orang lain. Jalinan komunikasi akan membentuk simpati. Simpati akan mengundang harmoni. Dan kehidupan yang harmonis adalah modal menuju kebahagiaan sejati”

Tulisan ini aku buat untuk mengenang perjalannku. Yang ke Semarang itu. Dalam artikel sebelumnya (Ngebolang di Semarang), hanya mengangkat tentang perjuangan di perjalanan. Kali ini, tentang inspirasi yang kudapatkan dari interaksi kepada orang-orang. Dan ini lebih menarik.

Inspirasi pertama saat tiba di Salatiga. Kota madya antara Semarang dan Solo. Udaranya dingin, kota itulah yang aku tuju. Di sana, aku menginap di rumah teman dari adik. Saat baru menginjak halaman, suara murattal langsung terdengar. Aku terkesan. Lebih berkesan lagi ketika si mbah – nenek dari temen adikku – bilang kalau di rumah itu tak ada TV. “Maaf nak, gak ada apa-apa di rumah ini. Tak ada TV.” Katanya. Jelas saja, bukan karena tak mampu beli, namun tak mau. Buktinya, keluarga tersebut punya mobil. Rumahnya luas. Punya usaha. Kalau sekedar TV, pasti bisa beli. Tapi yang ada hanya MP3 berisi tilawah yang bunyi 24 jam. HP tentu punya. Untuk keperluan komunikasi. Bagi anak – anak, interaksi dengan gadget dibatasi. Hasilnya? Anak tertuanya lulus di Al-Azhar. Yah, yang di Mesir itu. Yang juga menarik, keluarga itu habis makan cuci piring masing-masing.

Yang kedua, saat aku di masjid Stasiun Tawang. Ngobrol dengan seorang guru PAI. Guru sejak tahun 1985. Usianya 52 tahun. Punya lima anak. Beliau banyak cerita tentang kehidupan keluarga. “Orang tua itu sangat menentukan karakter anak. Orang tua harus menjadikan baiti jannati (rumahku surgaku) bagi setiap anggota keluarga.” Katanya saat ku tanya tentang pendidikan antar generasi. Menurut beliau, anak sekarang rusak bukan hanya karena zaman yang memang berubah, tapi juga karena orang tua yang gagal mendidik. Salah satu cara mendidik yang paling baik, menurut beliau yaitu keteladanan. “Dulu, ayah saya setiap selesai makan, cuci piring sendiri. Ibu saya bilang ‘tuh liat bapak, cuci piring sendiri’, saya waktu itu belum mau ikut, tali setelah menikah baru saya sadar.” Ceritanya bersemangat. Selain itu, si bapak juga berpesan, “hidup ini nyari berkah dek, bukan yang lain.” Hasilnya? Anak pertamanya udah jadi dosen di kampus negeri.

Cerita ketiga dari ibu paruh baya teman duduk di kereta api. Beliau Bhayangkari. Istri polisi. Walau suaminya telah pensiun, beliau masih aktif di Bhayangkari. “Daripada diam di rumah, ikut arisan kan lebih bagus.” Katanya. Yang menarik saat si ibu cerita tentang keponakannya. Yang pergi ke Papua. Sendirian. Demi cinta. Padahal belum nikah. “Kok berani ya!!” Ucapnya keheranan. Aku bilang, ‘anak jaman now emang gitu bu’.

Tentu, ada beberapa orang lagi yang aku ajak bicara. Misalnya, sekelompok remaja asal Palangkaraya yang ke Jawa demi mendaki gunung Semeru. Itu lah hobi. Dilakukan sepenuh hati, sesulit apapun ia. Juga seorang bapak yang kupinjami charger di stasiun. Yang benci naik bus. Karena terlalu laju katanya. Padahal kereta lebih laju. Haha. Ada juga ibu yang mengantar anaknya masuk pesantren di Pasuruan. Ia orang Indramayu, Sunda. Suaminya orang Pasuruan, orang Jawa. Ini menepis mitos kalau orang Jawa tak boleh menikah dengan orang Sunda. Masih di kereta, aku ketemu pemuda dari Tegal. Ia akan kerja di Surabaya. Yah, cari kerja memang sulit. Apalagi saat ini, yang ekonomi sedang lesu. End.

 

 

 

 

Iklan

Ngebolang di Semarang

IMG_20180713_055258_HDR.jpg

Hari Selasa, aku ke Salatiga. Sebuah kota madya setelah Boyolali. Terletak antara Solo dan Semarang. Perlu lebih sembilan jam untuk sampai. Itu jika menggunakan bus. Itupun harus ganti bus di Solo. Sebenarnya bisa langsung, tapi waktu itu aku ketinggalan bus langsung itu. Sampai Salatiga, hawa dingin langsung menyapa. Daerah ini memang dingin. Terletak di kaki Merbabu.

 

Aku bersama adik perempuan ku. Nurul Afifah. Ia memilih mondok di kota tersebut untuk melanjutkan hafalannya. Yang sudah 15 Juz. Pemiliknya bernama Ustadz Mahmud, alumni sekaligus guru di Al-Irsyad. Pondok Pesantren salaf yang cukup terkenal.

 

Pulangnya aku lewat Semarang. Itu keputusan dadakan. Sekalian lihat-lihat ibukota Jawa Tengah ini. Toh ongkosnya sama jika ke Solo. 15 ribu rupiah. Rencananya, aku akan naik kereta. Yang kulihat jam 11 esok hari. Sialnya, tiketnya telah habis. Yang 90 ribu juga habis. Yang ada tinggal yang 100 ribu. Berangkat jam 9 malam. Tiba jam 1.40 di Surabaya. Jadi, aku masih punya waktu 34 jam untuk menikmati hidangan tuhan di Semarang.

 

34 jam tanpa teman, keluarga dan yang lebih parah tanpa charger HP. Sebenarnya aku punya teman, tapi tempatnya agak jauh dari pusat kota. Ongkosnya lumayan. Maka, ku putuskan untuk ngebolang. Ya, ngebolang, bukan di alam bebas, tapi di kota metro. Seperti yang pernah aku lakukan di Jogja, satu setengah tahun lalu. Tapi waktu itu aku bersama teman, 4 orang. Kini aku sendiri. Lebih menantang.

 

Seperti di Jogja, Semarang juga punya Bus Rapid Transit (BRT) trans Semarang. Mirip trans Jakarta. Bodinya bertuliskan ‘Semarang Hebat’. Sekali jalan 3.500,-. Untuk pelajar yang berseragam dan membawa kartu pelajar, cuma di pungut 1.000,-. Murah dan mudah. Untuk naik BRT, harus ke Halte terdekat. Tujuanku simpang lima, yang katanya pusat kota. Di tengahnya ada taman. Tapi karena matahari terik, taman itu sepi. Ku putuskan untuk ke St. Tawang, tempatku naik esok harinya. Disana ada tempat cash milik stasiun. Jadinya aku nyari counter. Beli cash dan pergi. Sampai stasiun, ada yang menarik. Ternyata, setiap hari ada group musik yang menghibur penumpang. Sawer musik. Lagunya tergantung permintaan penumpang. Baru kali itu aku lihat pemetik biola. Lumayan menghibur.

 

Menjelang ashar, HP kucabut, walau belum full. Aku ke masjid. Yang satu kompleks dengan stasiun. Ku lihat google map. Nyari posisi masjid Agung. Tempatnya di Citarum. Untuk ke sana, bisa menggunakan BRT juga. Turunnya di pasar yaik. Yang baru direlokasi. Aku harus manjat pagar untuk sampai di kompleks masjid. Karena lewat samping, kemegahan masjid belum terlihat. Hanya terlihat muda-mudi yang sedang jogging sore. Mengikuti lintasan yang mengelilingi masjid. Aku masuk dan langsung mencari kamar mandi. Sejak pagi aku memang belum mandi. Hehe. Hanya mandi subuh. Setelah mandi, aku naik tangga. Mencari terminal listrik yang nganggur. HP ku sudah mau lowbat lagi. Di situlah kusadari, charger yang belum sehari itu hilang. Entah hilang dimana. Yang jelas di tasku tak ada. Kacau.

 

Kekecewaanku segera tergantikan oleh kemegahan MAJT – Masjid Agung Jawa Tengah – utamanya daerah depan. Daerah itu adalah halaman depan yang terbuka. Dilengkapi payung raksasa buka tutup seperti di Masjid Nabawi. Sore itu banyak pengunjung. Dengan berbagai kegiatan. Mulai jogging, latihan karate, atau sekedar ngisi waktu sore bersama keluarga. Suasananya ramai. Sampai menjelang Maghrib.

 

Orang-orang mulai berdatangan. Dengan baju gamis. Sebagian kaos oblong. Mungkin mereka musafir yang kebetulan lewat situ. Adzan segera berkumandang. Suaranya merdu memanggil. Agar makin banyak yang datang. Selepas shalat, aku keluar. Mencari charger baru. Tanpa HP aktif, suasana kesendirian akan tambah merana. Cukup jauh untuk menemukan counter. Itupun, pilihan chargernya cuma dua. Satu untuk Nokia jadul, satunya yang umum digunakan. Cocok untuk android. Ku beli dan kembali ke masjid. Setelah shalat isya, aku ke lantai dua. Segera mencari colokan, mengecharge HP dan bersiap tidur. Malam itu, aku tidur sendirian. Di MAJT. Setelah mendengar kajian yang dilaksanakan lantai bawah. Ternyata, saat aku berbaring siap tidur, banyak yang datang. Bukan manusia, bukan pula hantu. Tapi nyamuk. Ya, hewan kecil hitam dekil itu sangat menggangu. Apalagi, sukanya terbang Deket telinga. Ihhh, sebel deh pokoknya. wkwkwk. Untung saja ada sarung. Setidaknya cukup untuk melindungi area wajah dari serangan pasukan hitam itu. Jelas saja, tidurku tak nyenyak. Tapi lumayan untuk menghilangkan rasa pegal di kaki.

 

Esoknya, aku masih di masjid yang dibangun selama 4 tahun itu (2002-2006). Pagi hari juga banyak pengunjung. Dari kota-kota sekitar Semarang. Saat matahari sudah agak tinggi, aku jalan melihat lihat kompleks masjid. Lalu menuju perpustakaan Cheng Ho, tak ada pengunjung di sana. Hanya petugas seorang diri. Aku masuk dan memilih buku tentang sejarah imam 4. Lumayan menambah wawasan.

 

Saat sholat Jum’at, jamaahnya ramai. Sang khatib mengangkat masalah toleransi dalam Islam. Bahwa Islam tak memaksa siapapun untuk beriman. Selepas Jum’at memang ada acara pengucapan syahadatain dari 3 orang mualaf. 2 laki 1 perempuan. Sebelumnya mereka cristiani. Saat syahadat itu, si perempuan nangis. Antara bahagia karena telah menemukan agama yang benar atau menyesal mengingat masa lalu. Yang entah bagaimana.

 

Dalam rencana ku, aku akan ke stasiun setelah Jum’at. Tapi karena cuaca terik, aku putuskan untuk istirahat. Tidur hingga menjelang ashar. Setelah itu, aku keluar. Mencari sandalku yang kuletakkan di rak. Tak ada. Di tangga depan. Tak ada. Di samping. Juga tak ada. Di manapun tak ada. Kesimpulannya sandalku hilang. Solusinya ; beli lagi. Lalu ke stasiun lagi, dan berangkat ke Surabaya. Gitu aja.

 

 

 

 

 

Aku Bukan Jomblo!!

IMG_20180708_174608_HDR.jpg

Pertanyaan itu muncul lagi. Kali ini dari sepupu ku. Perempuan. Umurnya sebaya denganku. Entah apa motivasinya, ia bertanya. Pertanyaan yang sejak dulu membuatku ragu. Yah, aku ragu untuk menjawab pertanyaan “Kamu punya pacar?” Atau sejenisnya. Menjawab ‘Ya’ berarti aku berbohong. Menjawab ‘Tidak’ bagiku tidak tepat. Pemuda yang “Tidak punya pacar” akan dianggap sebagai jomblo. Sementara aku tak merasa sebagai jomblo.

Allah yang maha kuasa telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan, pria dan wanita, jantan dan betina. Artinya, sejak lahir pun, kita sudah berpasangan. Agar lebih romantis, Allah belum mempertemukan kita. Dengan si dia. Butuh usaha dan ikhtiar agar perjuangan meraih cinta dari jodoh lebih bermakna. Di sinilah sisi romantisnya.

Lalu, bagaimana mengusahakan agar menemukan ‘sepotong hati’ yang belum ketemu? Bagaimana agar kita menjadi sempurna dengan berpasangan? Ini yang sering disalah-pahami. Ada yang  beralasan ‘pacaran’ adalah pintu awal untuk menikah. Padahal, setelah menjalin hubungan bertahun-tahun, akhirnya putus. Yang menyakitkan jika si dia malah nikah sama orang lain. Lebih parah lagi jika malah kehilangan nyawa atas nama cinta. Seperti banyak kasus itu. Bunuh diri atau dibunuh pacarnya sendiri. Niat cari jodoh, nyawa melayang.

Padahal, Allah telah memberi jalan. Islam memiliki konsep sendiri dalam mencari jodoh. Jika tertarik pada seseorang, syariah memberi jalan untuk berkenalan (ta’aruf). Namun, niat awal dalam bertaaruf haruslah untuk menikah. Bukan untuk gagah-gagahan. Atau pamer. Apalagi jika sebatas pelampiasan. Setelah merasa cocok, barulah melamar. Dalam hal ini, wanita berhak menolak atau menerima.

Dari penjelasan singkat ini, sebenarnya tak ada jomblo. Setiap orang telah memiliki pasangan. Dan diberi jalan untuk menemukan pasangannya. Ada yang mengikuti jalan tersebut, ada pula yang tidak. Beberapa orang – yang sangat baik – memilih menjaga jodoh orang lain. Setelah berpisah, yang tinggal hanya sakit hati. END.

 

Pesan Dari Rusia

10-169

Tahun ini lumayan menegangkan. Setidaknya bagi dua benua. Asia dan Amerika. Entah mengapa, kedua benua ini selalu saja bersinggungan. Marah-marahan. Cuek-cuekan. Gentok-gentokan. Dalam banyak hal. Ekonomi, politik, militer dan sebagainya.

Saat beberapa negara Asia bagian tengah timur bergejolak, U.S.A ikut campur. Mulai Afghansitan, Amerika hadir. Perang Iraq, Amerika bosnya. Perang Suriah, Amerika tak mau ketinggalan. Berebut pengaruh dengan Rusia dan Turki. Terakhir, Polisi dunia itu buat gaduh dunia Islam. Keputusannya memindahkan kedutaan ke Jerussalem sebagai bentuk pengakuan ke Israel dikutuk seluruh dunia. Tapi, tetap saja dilakukan. Walau mayoritas negara-negara anggota PBB menolak. Kita paham, itu memang gayanya si bos dari benua Amerika. Angkuh.

Tapi, itu Asia bagian timur tengah. Dengan Asia timur jauh beda lagi. Negeri paman sam lumayan keteteran. China, negara paling maju di Asia maju sebagai penantang kuat. Ekonominya terkuat kedua di dunia. Tahun ini baru saja meresmikan kapal induk buatan sendiri. Benar-benar buatan sendiri. Tak dibantu siapa pun. Si Trump, yang bilang mau make America great again nantang perang dagang. Dinaikkannya bea cukai barang-barang China. China tak mau kalah. 60 jenis barang impor dari Amerika juga dibuat sengsara. Kebanyakan hasil pertanian. Impass!!

Tahun ini juga, Amerika mau berunding. Dengan salah satu negara Asia timur jauh. Negaranya Kim Jong-Un. Yang rambutnya keren itu. Penyelenggaranya juga di Asia. Tetangga kita, Singapura. Setelah bertahun-tahun maki-makian, ancam-ancaman, olok-olokan, Korut dan AS bersalaman. Berdamai. Itu sejarah besar.

Satu lagi yang bikin tegang. Tadi malam (19/06/2018) Jepang mengalahkan Kolombia. Dalam pertandingan bola sejagad. Itu juga sejarah. Jarang negara Asia bagian ini menang lawan negara dari benua Amerika. Walau bukan menaklukan si AS, setidaknya dari sana. Apalagi, secara itung-itungan, dalam sepakbola, negaranya Falcao lebih hebat dari negaranya Paman Sam.

Itu tanda. Bahwa Asia bisa bangkit. Melawan kepongahan negara digdaya. Amerika harusnya mulai sadar, yang lemah tak selamanya lemah. Dan yang kuat tak selamanya kuat. Dunia itu berputar. Maka yang kuat tak boleh menindas yang lemah. Sekian!!

 

Ketika Malaikat Maut Begitu Dekat

Ilustrasi-Waktu-Kematian

Puasa kali ini aku pulang. Ke Palu. Tempat tinggal keluargaku sejak 2014. Naik pesawat Boeing 707 milik Lion Air. Dari Surabaya-Makassar-Palu. Ongkosnya 850 ribu. Karena puasa, lebih hemat. Tak beli makanan apa-apa. Cuma Apel malang. Buat oleh-oleh.

Saat check in, aku dapat seat 35 F. Tepat di samping jendela. Saat transit di Makassar, aku dapat seat 25 C. Juga di samping jendela. Dan sayap pesawat. Baru kali ini aku duduk di samping jendela. Di siang hari. Saat daratan begitu jelas. Dan awan juga tak menghalangi.

Sepanjang perjalanan, pandanganku ke bawah. Sesekali ngobrol dengan teman duduk. Tapi lebih banyak memperhatikan bumi. Dari ketinggian ribuan kaki. Dan aku begidik. Entah mengapa aku takut. Hamparan daratan Jawa Timur dan lautnya. Darantan tersebut terlihat sama tinggi dengan laut. Apalagi pulau-pulau kecil. Tentu tak berdaya jika laut berontak. Surabaya, dengan gedung tingginya juga akan kalah.

Memikirkan itu, aku sadar. Manusia memang butuh tuhan. Yang mengendalikan semua hal di bumi. Yang menjaga agar air laut tidak menjadi bah. Menjaga tanah tidak longsor. Dan lainnya. Aneh ada manusia sombong. Padahal, mudah saja Allah menghabiskan manusia. Kun fayakun.

Saat transit di Makassar, kami pindah pesawat. Jenisnya sama. Kali ini aku duduk di samping jendela sayap. Posisi itu lebih menakutkan lagi. Aku teringat tulisan DI’s Way tentang penumpang pesawat di Amerika. Ia terisap keluar jendela. Hingga setengah badan. Sebabnya jendelanya terlepas karena terkena sesuatu dari sayap. Menyeramkan. Sepanjang perjalanan, ku kencangkan sabuk di kursi. Ngobrol dengan teman duduk. Dan selalu memperhatikan sayap.

Itu peristiwa pertama. Yang kedua, saat aku telah tiba di Palu dengan selamat. Ternyata, dua hari sebelumnya, teteh (sebutan orang kaili kepada kakek) masuk rumah sakit. Ia adalah adik dari nenek. Ibu dari ibuku. Dulu, ketika sekolah di Makassar, aku sering berkunjung ke rumahnya. Sering.

Esoknya, aku ke rumah sakit. Bersama nenek dan ibu. Menjenguk beliau yang terkulai lemah. Ia kesulitan bernafas. Dan BAB. Tak lama, kami pulang. Malamnya, ada kabar. Beliau masuk ruang ICU jantung. Esok paginya aku pergi lagi. Beliau tak lagi sadarkan diri. Kesulitan berbicara. Dan selalu berontak. Begitu hingga malam. Sore aku pulang. Besoknya datang lagi. Kondisinya sudah sangat lemah.

Aku duduk di sampingnya. Seperti merasakan penderitaannya. Hingga, alat pendeteksi jantung (entah apa namanya) menggambarkan kondisi buruk. Si teteh tak bergerak lagi. Tanteku, anak dari teteh segera memanggil dokter. Semua alat di keluarkan. Nyawa berusaha di selamatkan. Suasananya mencekam. Hingga dokter menyerah. Tuhan telah memanggilnya. Isak tangis pecah.

Itulah pengalaman pertamaku menyaksikan orang meninggal. Tentunya, malaikat maut begitu dekat. Hanya beberapa jengkal dariku. Untung saja bukan aku yang ia singgahi. Masih ada waktu bertaubat.

 

Teroris Proyek Siapa?

bom

8 Mei, suasana di Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua, Depok mencekam. Ratusan napi terduga maupun tersangka teroris berontak. Membobol terali besi yang mengurung mereka. Menuju ruang amunisi lalu mulai menembak petugas. 5 polisi tewas dan satu menjadi sandera.

13 Mei, saat kaum kristiani sedang semangat ke gereja, satu keluarga meledakkan diri. 3 gereja di Surabaya diserang. 6 anggota keluarga ini kompak betul. Malamnya, satu keluarga lainnya ikut-ikutan. Mungkin terinspirasi keluarga sebelumnya. Sayangnya, mereka meledak sendiri. Kejadiannya di Sidoarjo. Paginya, giliran Mapolres Surabaya yang disasar. Tiga anggota polisi terluka.

15 Mei, Bang Karni mengangkat masalah ini. Presiden ILC ini mengaku bingung. Sama bingungnya dengan saya. Kok ada orang yang berpikir seperti teroris. Padahal mereka muslim. Islam sama sekali tak mengajarkan demikian. Lalu, kok mereka mau?

Pak Jenderal Polri, Muhammad Tito Karnavian buka suara. Lebih sejam, beliau jelaskan teroris ini. Sejarah, ideologi dan jaringannya. Katanya, teroris fenomena global. Hampir semua negara pernah bobol. Amerika sekalipun. Sampai sini, saya juga belum paham. Kenapa teroris muncul. Bagaimana cara berfikirnya.

Saat giliran Prof. Din Syamsuddin, barulah saya sedikit ngangguk. Kata beliau, teroris buka hanya karena ideology. Memang, dulu ada kelompok khawarij dalam islam. Tapi itu 14 abad yang lalu. Mereka bukan kelompok kuat. Berabad-abad mereka mati suri. Artinya, faktor ideology hanya salah satunya.

Saat Amerika adu kekuatan sama Uni Soviet, mereka merekrut orang. Pemuda muslim. Otaknya di cuci. Brain wash. Mereka diharapkan memerangi Uni Soviet dengan semangat. Tak takut mati. Senjata dipasok Amerika. Inilah cikal bakal Al-Qaeda. Akhirnya, operasi ini sukses. Uni Soviet pecah. Menjadi negara-negara kecil.

Ketika perang usai, Al-Qaeda terlanjur besar. Sebagian orang menganggap mereka pahlawan. Tapi Amerika tak senang. Serangan 11 September 2001 jadi alasan bagus. George Bush berteriak ‘war on terror’. Irak diserang. Selanjutnya Afghanistan, Libya, dan kini Suriah. Dunia Islam porak poranda. Masyarakat sipil mati, sengsara. Amerika justru dibenci. Serangan ke Irak rupanya demi minyak.

Ketika Suriah membara, ISIS muncul. Si bos, Al-Baghdadi naik daun. Berbagai serangan terjadi. Stadion Prancil bobol. Dunia olahraga berduka. Selanjunta terjadi aksi teror lain. Tabrak mobil. Berkali-kali. Di mana-mana. Indonesia juga jadi sasaran.

Stigma Islam Teroris

Lalu, siapa yang paling dirugikan? Tentu masyarakat dunia takut. Apa yang mereka takuti? Islam. Stigma bahwa Islam adalah agama teroris terbentuk. Terjadilah persekusi. Orang bercadar diganggu. Orang berjenggot dijauhi. Orang berjubah ditatap sinis. Islamophobia terjadi dimana-mana. Bahkan di Indonesia. Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Islam sangat dirugikan.

Dalam hal ini media berperan. Ketika terjadi aksi teror, yang dilihat siapa pelakunya. Jika muslim, ditulis teroris bla bla bla. Kalau bukan muslim, beritanya lain. Mereka akan bilang kelompok bersenjata. Atau penjahat bla bla bla. Kedua, jika pelakunya pakai jilbab, jilbabnya yang disorot. Kalau berjenggot, jenggotnya yang diungkit. Aneh.

Jadi, teroris proyek siapa?

 

 

‘Pahlawan Itu Bernama Ferry!’

pelni-tambah-armada-ke-surabaya

 “Dari sabang sampai merauke. Berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…..”

Penggalan lagu tersebut sangat familiar. Aku menghapalnya sejak sekolah dasar. Tapi saat itu, Aku menganggapnya hanya sekedar lagu. Di dalam otakku, jajaran pulau yang dimaksud hanya lima. Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Belakangan Aku tahu, anggapanku salah.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Memiliki sekitar 16.056 pulau (KKP 2017). Termasuk lima pulau terbesar di atas. Itu sebabnya, NKRI juga disebut negara maritim. Luas lautnya sekitar 3.200.000 km2 (Deklarasi Djuanda, 1957). Lebih luas dari daratnya yang hanya 2.000.000 km2.

Dengan demikian, transportasi laut menjadi penting. Sejak dulu, kapal menjadi andalan. Kapal Phinisi, salah satu yang melegenda. Walau sekarang transportasi udara telah maju, tapi masih banyak kawasan yang tak terjangkau oleh pesawat. Hanya bisa dengan memanfaatkan laut. Jalur laut juga relative lebih murah. Kapal juga bukan hanya berfungsi sebagai alat transportasi bagi manusia. Ia juga menggerakkan ekonomi masyarakat rural.

Salah satu moda transportasi laut yang familiar adalah kapal Ferry, kendaraan yang menjadi penghubung pulau-pulau terpencil. Dulu, saat aku duduk dibangku SMP, Aku selalu pulang dengan kapal Ferry. Maklum, Aku sekolah jauh dari rumah. Di Kota Makassar, Sulawesi selatan. Sementara rumahku di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Jadinya, setiap liburan, Aku harus melintasi laut. Itu jalur terdekat. Jika lewat darat, waktunya kelamaan. Duduk di dalam bis dalam waktu lama tentu sangat membosankan. Aku lebih memilih bis yang naik kapal. Kapal Ferry tepatnya. Dari pelabuhan Bajoe, Bone ke Pelabuhan Kolaka.

Naik Ferry itu asyik. Aku bisa melihat laut dari dekat. Laut biru yang terhampar. Indah. Luar biasa. Kadang ada ‘ikan terbang’ nongol ke permukaan. Kadang aku nyari lumba-lumba. Tapi tak pernah muncul. Mungkin bukan perairannya. Hehe.

Saat dijenjang SMA, Aku pindah sekolah. Di Kota Balikpapan. Pulang setahun sekali. Selalu dengan kapal. Pertama dengan kapal milik Pelni dari Balikpapan ke Pare-Pare. Lalu, naik mobil ke pelabuhan Siwa, lebih dekat. Dari situ, menuju Tobaku, Kolaka Utara dengan kapal Ferry. Dari sana, kadang singgah dirumah nenek, kadang langsung ke rumah.

Usia SMA, cukup dewasa untuk memaknai hidup. Masa pubertas. Ingin tahu banyak hal. Berada di atas kapal adalah anugerah. Di sana, berbagai jenis orang berkumpul. Dengan berbagai latar belakang. Berbagai pengalaman. Dan karakter yang juga berbeda. Dari sanalah, Aku banyak belajar. Memahami orang lain. Menghargai sesama. Bahkan saling berbagi kisah. Sharing pengalaman. Banyak ngobrol akan kaya wawasan dan menambah inspirasi.

Pernah suatu waktu, aku bertemu dengan seseorang. Ia mengaku naik kapal Ferry jurusan Kolaka – Bajoe (Bone) dua kali sepekan. Setiap Kamis dan Minggu. Ia adalah makelar hasil tani. Buah-buahan yang sulit ditemukan di sekitar Bone, ia beli di Sulawesi Tenggara. Sebaliknya, barang langka di sekitar Kolaka, ia cari di Bone, lalu mengangkutnya dengan kapal. Waktu itu, puluhan karung besar ia bawa. Di lain kesempatan, aku ngobrol dengan petani. Kebunnya di Konawe, Sultra, tapi keluarga besarnya di Maros. Sebulan sekali ia pulang.. Para pelajar (mahasiswa) dari daerah Sultra juga banyak yang kuliah di Makassar, ibu kota Sulsel. Tentu, mereka menyebrangi laut dengan kapal Ferry. Satu-satunya kapal yang selalu siap melayani. Boleh dikata, kapal Ferry adalaah pahlawan.

Tentu tak sedikit daerah seperti daerahku. Artinya, tak sedikit pula orang yang seperti kami. Yang sangat bergantung pada transportasi laut. Kehadiran armada laut ASDP Indonesia Ferry sangat membantu. Terutama di kawasan-kawasan pelosok. Dan  pulau-pulau terluar Indonesia.
So, jangan lupa, rasakan #AsyiknyaNaikFerry