1438 H, Ramadhan Edisi Spesial ku

18485642_1493168560734521_4449093307384508180_n.jpg

Sebagai seorang Muslim, Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Banyak cerita yang terukir dibulan penuh berkah ini. Bulan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan keseruan bagi setiap insan Muslim. Terasa begitu menggairahkan. Tak terkecuali bagi kami. Kami, Mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya khususnya semester 6.

Tapi, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang kami jalani dengan ‘gaya’ berbeda. Ya, saat banyak orang yang menikmati bulan berkah ini bersama keluarga, atau berlomba-lomba berumroh ke kota suci, Makkah, demi meraih pahala maksimal, kami memilih menghadapi Ramadhan dengan berbagi kepada sesama.

Yup, kami memasuki bulan Ramadhan di kampung asing. Saat itu, bertepatan dengan program KKN semester kami. Seperti kebiasaan kampus, lokasi yang dipilih untuk kegiatan ini adalah lokasi ‘menyulitkan’.

Desa yang kami tempati adalah sebuah lembah di kaki Gunung Semeru, masuk dalam kawasan taman nasional tengger, Kab. Lumajang, Jawa Timur. Desa ini berada di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Ranupani namanya. Seperti pada umumnya, pada ketinggian demikian, hawa dingin adalah hal pasti. Tapi, bagi kami sebagai orang yang terbiasa tinggal di daerah berhawa panas, hawa di sini tergolong ekstrim. Jadilah kami menjalani bulan penuh berkah dengan hawa dingin ektrim.

Ranupani memang memiliki budaya unik dan agak berbeda. Karena alasan hawa, rumah-rumah disini ‘wajib’ dilengkapi dengan tungku besar. Biasanya, waktu lebih banyak dihabiskan di sekitar tungku daripada daerah lain di rumah. Bahkan, menerima tamu pun dilakukan disekitar tungku yang berada di dapur.

Bahasa mereka juga agak berbeda. Walau agak mirip dengan bahasa jawa pada umumnya, bahasa jawa ini memiliki aksen yang berbeda. Beberapa warga mengatakan bahwa bahasa ini termasuk jawa kuno. Karena mayoritas kami adalah orang bersuku non-jawa, komunikasi menjadi agak sulit. Sementara bahasa Indonesia sangat jarang digunakan. Karena memang hanya segelintir orang yang mengerti bahasa persatuan ini.

Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani. Umumnya, mereka menanam kentang, kubis dan bawang pering. Ladang-ladang mereka kebanyakan di bukit. Lereng-lereng dengan kemiringan ekstrem dihiasi dengan tumbuhan jenis ini. mereka merupakan pekerja keras. Kentang mesti disemprot 2 hari sekali, bawang pering harus dibersihkan dari tumbuhan liar dan kubis mesti dijaga dari hama dan binatang pengerat. Karena ‘tuntutan alam’ semacam itu, mereka menjadi masyarakat disiplin.

Namun, pendidikan, baik agama maupun umum, tak banyak mendapat perhatian. Karena tergolong berpendapatan tinggi, kebanyakan masyarakat tidak lagi peduli dengan pendidikan. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Inilah sasaran utama kami.

Memahamkan penduduk tentang pentingnya pendidikan, khususnya agama, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Untungnya, Ramadhan ‘menjembatani’ tujuan itu. Detik demi detik di bulan Ramadhan kami upayakan untuk memberi pemahaman secara maksimal. Sasaran utamanya adalah anak-anak.

Ramadhan benar-benar membantu mensukseskan acara-acara yang telah direncanakan. Seperti biasa, di manapun itu, kesadaran masyarakat dalam hal ibadah meningkat. Sambutan untuk bulan suci yang meriah, suasana masjid-masjid yang ramai, persepsi masyarakat tentang bulan Ramadhan sebagai bulan berkah yang telah melekat, hingga sikap masyarakat yang menerima  kami dengan hangat telah membantu melupakan hawa dingin yang begitu ekstrim.

Bagi kami, berpuasa sambil mempelajari budaya baru, sekaligus berbagi ilmu merupakan hal baru. Pengalaman itu adalah hal special yang akan memperkaya wawasan kami. Membantu mengarungi dunia yang menyimpan begitu banyak rahasia. Bahkan menyemangati untuk membuka tabir kehidupan yang tersembunyi.

Iklan

Ketika Cinta Justru Menyakiti

Puisi Cinta yang Menyakiti                Tahun 2016 lalu, sebanyak 193 perempuan meninggal karena dibunuh. Anehnya, 50% dari jumlah tersebut merenggang nyawa karena ulah pasangan atau mantannya sendiri. Itu baru kasus pembunuhan. Kasus kekerasan ebih banyak lagi, ditemukan sebanyak 259.150 kasus sepanjang 2016.

Data tersebut adalah data yang dikeluarkan kelompok ‘menghitung pembunuhan perempuan’ yang diprakarsai Kate Walton, sorang aktivis feminis berkebangsaan Australia yang kini menetap di Jakarta. Ia mengumpulkannya dari berbagai sumber terpercaya. Lalu, bagaimana dengan 2017?

Hingga bulan April, setidaknya telah terjadi 19 kasus pembunuhan yang terdeteksi. Yang mengenaskan 11 diantaranya dibunuh oleh pasangan, perinciannya 6 oleh suami dan 6 oleh pacar. Apa yang salah? Yang mutakhir, pria atas nama Suryanto (25) membunuh sang pacar inisial SO (19) di palembang. Diduga, pelaku sakit hati karena cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pacar. Kasus di bulan April juga tak kalah tragis, Afsul Mutmainnah (16) yang ditemukan tewas setelah hilang seminggu ternyata dibunuh oleh AN atau Rofik (19), yang juga pacar korban.

Menurut penuturan polisi, pelaku membunuh karena cemburu. Saat itu, mereka berdua sedang bersantai di bawah pohon pinus milik Perhutani. Saat sedang duduk-duduk, HP milik korban berbunyi tanda SMS masuk. Lalu, pelaku menanyakan perihal SMS tersebut. Korban diam tak menjawab. Cemburu, pelaku langsung mencekik lalu memukul korban hingga tewas.

Fakta di atas memang paradoks. Bukankah mereka sepasang ‘kekasih’!?. Bukankah sepasang kekasih saling mencintai? Dan saling melengkapi? Bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi atas nama cinta? Benarkah cinta itu menyakiti?.

Pertanyaan demi pertanyaan  mungkin terus bermunculan di kepala kita. Kadang, kita juga yang menjawabnya. Namun, menjadi semakin paradox. Manusia memang sulit dipahami oleh manusia. Itulah mengapa kita butuh ‘penjelasan’ dari yang paling tahu. siapa lagi yang paling tahu tentang sesuatu selain penciptanya?

Jika ditelusuri lebih jauh, masalah ini sebenarnya telah ada sejak dahulu kala. Ia dikenal Al-Isyq. Penyakit ini terjadi karena setidaknya 2 hal, yaitu menganggap indah yang dicintai dan perasaan ingin memiliki. Nah, jika keinginan tersebut tak tercapai, muncullah amarah bercampur rasa kecewa yang sulit dipahami.

Akibatnya, bagi mereka yang introvert, mereka cenderung melampiaskan amarah dan kecewanya kepada dirinya sendiri, bisa dengan bunuh diri hingga gila sendiri. Sedangkan bagi mereka yang ekstrovert, mereka akan melampiaskan kepada orang lain, itulah mengapa banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap pasangannya sendiri.

Atas dasar itulah, Islam tak memberi peluang sedikit pun untuk terjadinya hal-hal seperti diatas. Allah juga dengan gamblang menyatakan, anak dan istri hanyalah titipan Allah yang harus dijaga. Bukan untuk dimiliki. Keikhlasan akan

Untuk kasus kedua (pembunuhan oleh pacar), Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu sekali-kali mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra ayat 32)

Artinya, melalui ayat ini Allah telah mewanti-wanti kepada seluruh manusia agar menghindarkan diri dari zina. Ia telah mengetahui resiko bagi mereka yang melanggar. Ada yang membunuh justru karena takut kehilangan (tak direstui padahal telah lama menjalin hubungan), ada yang membunuh karena takut ketahuan berhubungan ( ketika sang kekasih hamil duluan), hingga membunuh janin yang tak bersalah akibat zina.

Maka, satu-satunya solusi adalaah berusaha menahan diri dari segala hal yang berbau zina. Utamanya jika menyangkut ‘pacaran’. Karena, Allah telah menentukan jodoh bagi hamba-hambanya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

 

 

 

Makalah Pengorganisasian Dakwah

MAKALAH

Pengorganisasian Dakwah

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengorganisasian Dakwah”

Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq

201431110020

Dosen Pembimbing:

Ust. Miftahuddin, M.Si

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017


Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalam makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Miftahuddin, M.Si.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Makna Pengorganisasian Dakwah

Organisasi berasal dari kata “organisme”, yang artinya bagian-bagian yang terpadu dimana hubungan satu sama lain diatur oleh hubungan terhadap keseluruhannya. Oleh karena itu dalam organisasi paling sedikit terdiri atas dua orang yang keduanya saling bekerjasama satu sama lain demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Kerjasama tersebut terbentuk karena didorong oleh kehendak atau motif untuk pencapaian tujuan yang telah disepakati.[1] Adapun dakwah adalah aktivitas mengajak/menyeru manusia ke jalan yang benar menurut Islam. Baik melalui lisan, tulisan maupun perbuatan.

Secara terminologis berarti mengajak dan menyeru umat manusia baik perorangan maupun kelompok kepada agama islam, pedoman hidup yang di ridlai oleh Allah dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar dan amal shaleh dengan cara lisan maupun perbuatan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat nanti

Sehingga, pengorganisasian dakwah berarti keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka penciptaan tujuan yang telah ditentukan.

Sementara itu, Rosyad Saleh mengemukakan bahwa rumusan pengorganisasian dakwah itu adalah “rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi setiap kegiatan usaha dakwah dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan yang harus dilaksanakan serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara satuan-satuan organisasi atau petugasnya.

Pengorganisasian sangat erat hubungannya dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencpai tujuan, walaupun struktur itu bukan merupakan tujuan. Oleh karena itu, organizing dakwah sudah barang tentu disesuaikan dengan bidang garapan dakwah serta lokasi pewilayahan.[2]

Kualitas hubungan antara para pelaku organisasi, lebih-lebih organisasi dakwah, tidak selamanya bersifat formal tetapi juga informal, dalam bentuk perilaku pribadi yang bersifat emosional dan kadang-kadang juga irrasional.[3]

Tugas bagi para da’i adalah merancang sebuah struktur organisasi yang memungkinkan mereka untuk mengerjakan program dakwah secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuanorganisasi. Ada dua poin yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian, yaitu:

  1. Organizational Design [desain organisasi]
  2. Organizational structure [struktur organisasi]

Ketika para manajer menyusun atau mengubah struktur sebuah organisasi, maka mereka terlibat dalam suatu kegiatan dalam desain organisasi, yaitu suatu proses yang melibatkan keputusan-keputusan mengenai spesialisasi kerja, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, serta formalisasi. Jadi, pengorganisasian dakwah itu pada hakikatnya adalah sebagai tindakan pengelompokan, seperti subjek, objek dakwah, dan lain-lain.[4]

  1. Langkah-Langkah Pengorganisasian Dakwah:
  2. Penentuan Spesialisasi Kerja

Spesialisasi kerja diartikan sebagai tingkat kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang ditekuninya,dan tugas-tugas organisasi dibagi menjadi pekerjaaan-pekerjaan terpisah “pembagian kerja”.[5]

Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan yang dinyatakan dalam tiga komponen, yaitu:

  • Keterampilan teknis [technical skill], yaitu pengetahuan mengenai metode, proses prosedur, dan teknik untuk melakukan kegiatan khusus, serta kemampuan untuk menggunakan alat-alat dan peralatan yang relevan bagi kegiatan tersebut.
  • Keterampilan untuk melakukan hubungan antar pribadi [interpersonal skill], yaitu pengetahuan perilaku manusia dan proses-proses hubungan antar pribadi, kemampuan untuk mengerti perasaan, sikap dari motivasi orang lain tentang apa yang ia katakana dan lakukan [empati, sensitivitassosial], kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara jelas dan efektif [kemahiran berbicara, kemampuan persuasive], serta kemampuan untuk membuat hubungan yang efektif dan kooperatif [kebijaksanaan, diplomasi, keterampilan mendengarkan, pengetahuan mengenai perilaku sosial objek dakwah].
  • Keterampilan konseptual [conceptual skill], yaitu kemampuan analitis umum, berpikir nalar, kepandaian dalam membentuk konsep, serta konseptualisasi hubungan yang kompleks dan berarti dua, kreativitas dalam mengembangkan ide serta pemecahan masalah, kemampuan untuk menganalisis peristiwa-peristiwa dan kecenderungan-kecenderungan yang dirasakan, mengantisipasi perubahan-perubahan dan melihat peluang, serta masalah-masalah potensial.[6]
  1. Mendepertementalisasi dakwah

Setelah unit kerja dibagi-bagi melalui spesialisasi kerja maka selanjutnya diperlukan pengelompokkan pekerjaan –pekerjaan yang diklasifikasikan melalui departemensiliasi kerja ,sehingga tugas yang sama atau mirip dapat dikelompokkan secara sama-sama, sehingga dapat di koordinasikan.[7]

Pada tataran ini, secara historis pengelompokan kegiatan dakwah adalah menurut fungsi yang dilakukan atau departementalisasi fungsional. Sebagai contoh, dalam sebuah lembaga dakwah atau manajer dakwah dalam mengorganisasikan lembaganya dengan melakukan rancangan rekayasa umat, departemen finansialnya, bagian administrasinya, departemen dakwah bil-hal, bil-lisan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Kelebihan atau keuntungan dari departementalisasi dakwah adalah akan memperolehefisiensi dan mempersatukan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan, pengetahuan, dan orientasi yang sama ke dalam unit-unit yang sama.[8]

  1. Menentukan rantai komando

Rantai komando adalah sebuah garis wewenang yang tidak terputus membentang dari tingkat atas organisasi terus sampai tingkat paling bawah dan menjelaskan hasil kerja dakwah ke depertemen masing-masing.rantai ini memberikan sebuah kemudahan bagi para da’i untuk menentukan siapa siapa yang harus dituju jika mereka menemui permasalahan dan juga kepada siapa mereka bertanggung jawab.[9]

Dalam rantai komando ini tidak terlepas dari tiga konsep, yaitu:

  • Wewenang
  • Tanggungjawab
  • Komando
  1. Rentang kendali

Rentang kendali merupakan konsep yang merujuk pada jumlah bawahan yang dapat disurvei oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.[10]

Dalam memahami rentang kendali yang efektif dan efisien, maka akan ditentukan dengan melihat variabel kontingensi. Sebagai contoh, semakin banyak latihan dan pengalaman yang dimiliki para da’i, maka semakin berkurang pengawasan secara langsung oleh manajer. Pada variabel-variabel ini juga, sangat menentukan rentang yang pas mencakup kesamaan tugas para da’i, kerumitan tugas-tugas, kedekatan fisik anak buah, derajat sampai dimana prosedur-prosedur baku telah berjalan, canggihnya sistem informasi manajemen organisasi tersebut, kesulitan organisasi tersebut, serta style seorang manajer.[11]

  1. Sentralisasi dan desentralisasi

Sentralisasi diartikan sebagai kadar sampai dimana pengambilan keputusan terkonsentrasi pada tingkat atas organisasi. Konsep ini hanya mencakup pada wewenang formal, yaitu hak-hak yang inheren dalam posisi seseorang. Sementara desentralisasi adalah pengalihan wewenang untuk membuat keputusan ke tingkat yang lebih rendah dalam suatu organisasi.[12]

Secara filosofis, desentralisasi ini dapat dikembalikan pada pengertian bahwasannya setiap manusia adalah pemimpin dan setiap orang adalah khalifah, selalu cenderung dalam desentralisasi.  Fungsi organisasi secara efekktif akan terhambat jika semua keputusan hanya diambil oleh segelintir manajemen puncak dan mereka pun tidak dapat berfungsi secara efektif apabila semua keputusan dilimpahkan pada anggota-anggota lainnya (tingkat bawah).[13]

  1. Menformalisasi dakwah

Formalisasi dakwah adalah sejauh mana pekerjaan atau tugas-tugas dakwah dalam sebuah organisasi dakwah dibakukan dan sejauh man tingkah laku, skill, dan keterampilan para da’I dibimbing dan diarahkan secara prosedural oleh peraturan.[14]

Dalam sebuah organisasi dengan tingkat formalisasi yang tinggi, terdapat uraian pekerjaan yang tegas, banyak peraturan organisasi, serta prosedur yang telah dirumuskan secara jelas. Dari formalisasi yang tinggi ini terdapat job-discription yang eksplisit, banyak aturan organisasi yang terdefinisi dengan jelas, yang meliputi proses kerja dalam organisasi. Sebaliknya jika formalisasi itu rendah, maka perilaku kerja cenderung untuk tidak terprogram dan para anggota memiliki keleluasaan dalam menjalankan kerja.

Apabila dalam formalisasi sangan terbatas, maka aktifitas da’I akan cenderung relative tidak terstruktur dan para da’I juga akan lebih banyak memiliki kebebasan untuk berimprovisasi tentang bagaimana cara mereka melakukan pekerjaan.

  1. Penentuan Strategi dan struktur dakwah

Struktur organisasi dakwah adalah sarana untuk menolong para manajer dalam mencapai sasaran, karena sasaran dakwah itu dirumuskan dari strategi organisasi.tegasnya,struktur organisasi dakwah harus mengikuti strategi strategi dakwah.[15]

  1. Penyelenggaraan dan desain orhanisasi dakwah

Para da’i baik dalam satu tim atau perorangan membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan dan menentukan strategis dakwah. ”penggunaan teknologi informasi sangat mempengaruhi cara anggota organisasi dakwah dalam berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan dalam melaksanakan aktivitas mereka.[16]

 

[1] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1  diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[2] http://noorsyafitriramadhani.blogspot.co.id/2014/02/tanzhim-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.27

[3] Op.Cit

[4] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[5] Op.cit

[6] http://andininursyarifah.blogspot.co.id/2016/11/pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.25

[7] Ibid

[8] Op.cit

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Op.cit

[12] Ibid

[13] http://arshadgraffity.blogspot.co.id/2011/01/makalah-pengorganisasian-dakwah.html?m=1 diambil tanggal 16 April 2017 jam 20.14

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

PILKADA Usai, Saatnya Damai

images           Mendekati Pilkada putaran kedua lalu, yang diadakaan tanggal 19 April, situasi politik memanas. Beragam isu disebar, lalu disambut para pendukung. Media sosial ‘membara’ dengan tuduhan, klaim sepihak, hoax, adu argument bahkan makian.  Bahkan Polri menerima hingga 1900 laporan dugaan hoax terkait pilkada (Akbar Faizal, ILC 25 April 2017). Kondisi ini membuat beberapa pihak memprediksi akan terjadi chaos pasca pilkada.

Tapi, watak bangsa Indonesia memang istimewa. Kekhawatiran akan terjadi kerusuhan tidak terbukti. Pilkada berlangsung damai dan jujur. Hingga sekarang, hampir sebulan pasca Pilkada pun, keadaan Jakarta aman-aman saja.

Anehnya, yang ‘chaos’ justru di medsos. Isu-isu tak henti digoreng, entah siapa pelakunya. Yang jelas, mereka tak suka jika Indonesia damai. Sialnya lagi, banyak anak bangsa yang ikut-ikutan membumbui. Perang tweet, status facebook hingga tulisan di web masih terjadi. Walau Pilkada telah usia, dan hasilnya telah final, persaingan masih terasa.

Persaingan politik memang tak bisa dielakkan. Menghilangkan persaingan seperti halnya menjadikan system politik otoriter tanpa alternatif. Kedua, adanya kompetisi akan memacu kontestan menjadi yang terbaik. Setiap paslon akan memikirkan inovasi kreatif terbaik demi kemajuan masyarakat. Namun, konsep persaingan politik layaknya prinsip ‘zero sum’, setiap kemenangan dari satu pihak, berarti kekalahan dipihak lain. Itulah resiko demokrasi yang harus diterima lapang dada oleh masing-masing paslon dan pendukung setianya. Setiap kontestan yang ikut berdemokrasi harus paham bahwa ia tidak hadir sendirian, banyak lawan politik lain yang juga memiliki tujuan untuk berkuasa.

Dengan demikian, semestinya persaingan politik tidak dijaga sepanjang tahun. Cukuplah di masa-masa kampanye. Itupun sebatas adu program. Kemudian, actor politik, juga pendukungnya mesti legowo jika kalah. Namun yang menang tak terlalu jumawa. Karena gubernur terpilih adalah milik bersama. Itulah kelebihan demokrasi.

Sebagai contoh, seusai Pilpres Amerika tahun 2008, John McCain, lawan Barack Obama langsung mengucapkan selamat saat mengetahui ia kalah. “ Hari ini, kita akan mendapatkan seorang presiden baru. Dan saya akan membantu dia dengan segala kekuatan yang saya miliki untuk keluar dari krisis dan memajukan Amerika.” Katanya. Kira-kira itulah contoh kedewasaan dalam demokrasi.

Sikap seperti itu mestinya dimiliki setiap actor politik dan masyarakat secara umum. Apalagi, tujuan utama setiap kandidat sama-sama ingin memajukan Jakarta.  Walaupun dengan metode yang berbeda.

Warga Jakarta tak bisa tidak harus berdamai dan bersatu membangun kota. Bagaimanapun bagusnya program-program yang ditawarkan gubernur terpilih, tak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Kerenggangan hubungan antara pemimpin dan sebagian masyarakat justru akan membuat si ibu kota semakin merana. Demikian pula dengan tokoh-tokoh masyarakat yang berada di pihak yang kalah, sudah sehaarusnya membantu gubernur terpilih.

Adapun gubernur baru beserta pemilihnya, harus legowo meminta bantuan, koreksi dan masukan kepada semua orang. Tak terkecuali lawan politiknya. Bahkan tak ada salahnya melanjutkan program yang telah berjalan. Jika itu baik bagi warga ibukota, karena Jakarta milik semua.

​Aku bertanya ‘Perlukah #Revolusi?’

Revolusi

Ketika kaum miskin terlunta”….
Sedang yang kaya berfoya”….

Perlukah #Revolusi?

Ketika Bu Patmi merenggang nyawa karena menuntut haknya….

Sedang penguasa tertawa” di kursi empuknya….

Perlukah #Revolusi?

Ketika anak terbaik bangsa berakhir di penjara…..

Karena tuduhan yang dibuat” para pemain sandiwara….

Perlukah #Revolusi?

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Ketika pers menjadi corong pembualan….

Sementara yang benar ditenggelamkan….

Perlukan #Revolusi?

Ketika sang penista bebas berkeliaran….

Sementara Ulama diancam pembunuhan….

Perlukah #Revolusi?

Ketika aparat menjadi preman….

Seenaknya membubarkan pengajian….

Perlukah #Revolusi?

Ketika komunis mengancam Sang Garuda….

Sedang si panda menjadi garang dan berbisa….

Perlukah #Revolusi

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Indonesia merana….

Dunia tertawa….

Melihat martabat bangsa hilang entah kemana….

Sementara istana menunduk patuh tak berdaya….
Oh, kemana lagikah aku mengadu?

Selain kepada kalian yang merasa kita adalah satu?

Dan kepada kalian yang mengaku “Indonesia di hatiku?”

Juga kalian yang berteriak “Jaga NKRI dari pengadu, mari bersatu?”

Kita hanya menunggu waktu….

Kita menunggu perintah “Serbuuuu!!”…

Tak perlu #Revolusi???

M Faruq

Surabaya, Rabu, 00.00 WIB

MAKALAH “Etika Komunikasi Massa”

MAKALAH

Etika Komunikasi Massa

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Komunikasi Massa”Dan akan dipresentasikan di kelas semester VI program studi komunikasi dan penyaiaran islam 

logo-stail

Oleh:

Muh. Faruq
201431110020

Dosen Pembimbing:
Ust. Alim Puspianto M.Kom


PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya

T.A 2016/2017

 

Kata Pengantar

            Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmatnya sehingga kami mampu menyeesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah disepakati. Tiada daya dan upaya selain dari Allah Subhanahu wata’ala.

Untaian salam serta shalawat semoga terus tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi washallam atas jasa-jasa beliau dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Makalah ini kami buat selain karena tugas kuliah, juga sebagai bentuk kepedulian terhadap ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis secara pribadi. Didorong oleh hal tersebut, kami berusaha memberikan sesuai kemampuan kami dalm makalah ini. untuk itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil dalam pembuatan makalah ini, terutama teruntuk dosen pengampu kami, Ust. Alim Puspianto, M.Kom.

Menyadari kekurangan penulis sebagai manusia biasa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca atas kekeliruan yang ada dalam makalah ini, mulai dari kekeliruan huruf, susunan kata dan kalimat dan lain sebagainya. Untuk itu, penulis mengharap saran dan kritik yang membangun sebagai acuan untuk memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Walau demikian, besar harapan penulis, makalah ini bisa menjadi referensi, menambah literature ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi orang lain. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Komunikasi merupakan hal pokok yang dibutuhkan oleh setiap insan. Dengan begitu, interaksi antar manusia bisa berjalan. Komunikasi digunakan untuk menyampaikan informasi, gagasan serta perasaan antar manusia.

Salah satu jenis komunikasi yang banyak diperhatikan di era reformasi ini adalah komunikasi massa. Hal ini karena keran kebebasan dibuka sebesar-besarnya bagi setiap warga Negara. Dengan demikian, setiap warga Negara berhak menyampaikan pikirannya di depan public.

Namun demikian, walau setiap orang bebas berpendapat, Negara tetap mengatur etika menyampaikan pendapat di depan public. Hal ini agar tak terjadi kesenjangan akibat kebebasan yang kebablasan.

Untuk itulah, Negara membuat peraturan yang menyangkut bagaimana berkomunikasi dengan khalaya / komunikasi massa, baik melalui media cetak, televise hingga radio.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud etika komunikasi massa?
  3. Apa saja unsur etika komunikasi massa?
  4. Bagaimana realitas penerapan komunikasi massa?
  5. Tujuan
  6. Mengetahui makna etika komunikasi massa.
  7. Memahami unsur etika komunikasi massa.
  8. Memahami realitas penerapan etika komunikasi massa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika dan Komunikasi Massa

Etika berasal dari kata Latin Ethic. Ethic berarti kebiasaan.[1]Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlaq); kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq; nilai mengenai nilai benar dan salah, yang dianut suatu golongan masyarakat.[2]
Sedangkan menurut Suseno, (1987) Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral.[3]

Adapun komunikasi massa adalah suatu tempat organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin produksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang  besar, heterogen, dan tersebar.[4]

Dengan mengetahui makna dari etika dan komunikasi massa, Sobur (2001) menyebutkan etika pers atau etika komunikasi massa adalah filsafat moral yang berkenaan kewajiban-kewajiban pers tentang penilaian pers yang baik dan pers yang buruk. Dengan kata lain, etika pers adalah ilmu atau studi tentang peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku pers atau apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pers. Pers yang etis adalah pers yang memberikan informasi dan fakta yang benar dari berbagai sumber sehingga khalayak pembaca dapat menilai sendiri informasi tersebut.[5]

B. Unsur-Unsur Komunikasi Massa

Adapun unsur-unsur etika dalam komunikasi massa antara lain;

  1. Tanggung jawab

Dengan adanya tanggung jawab, media akan berhati-hati dalam menyiarkan atau menyebarkan informasinya.Seorang jurnalis atau wartawan harus memiliki tanggung jawab dalam pemberitaan atau apa pun yang ia siarkan; apa yang diberitakan atau disiarkan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada Tuhan, masyarakat, profesi, atau dirinya masing-masing. Jika apa yang diberitakan menimbulkan konsekuensi yang merugikan, pihak media massa harus bertanggung jawab dan bukan menghindarinya.[6]

  1. Kebebasan Pers

Kebebasan yang bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa tersampaikan ke masyarakat. Jakob Oetama (2001) dalam Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus mengemukakan bahwa “pers yang bebas dinilainya tetap bisa lebih memberikan kontribusi yang konstruktif melawan error and oppression (kekeliruan dan penindasan), sehingga akal sehat dan kemanusiaanlah yang berjaya”.[7]

  1. Masalah Etis

Jurnalis itu harus bebas dari kepentingan. Ia mengabdi kepada kepentingan umum. Walau pada kenyataannya bahwa pers tidak akan pernah lepas dari kepentingan-kepentingan, yang diutamakan adalah menekannya, sebab tidak ada ukuran pasti seberapa jauh kepentingan itu tidak boleh terlibat dalam pers.[8]

Ada beberapa ukuran normatif yang dijadikan pegangan oleh pers:

  1. Seorang jurnalis sebisa mungkin harus menolak hadiah, alias “amplop, menghidari menjadi “wartawan bodrek”.
  2. Seorang jurnalis perlu menghindari keterlibatan dirinya dalam politik, atau melayani organisasi masyarakat tertentu, demi menghindari conflict of interest.
  3. Tidak menyiarkan sumber individu jika tidak mempunyai nilai berita (news value).
  4. Wartawan atau jurnalis harus mencari berita yang memang benar-benar melayani kepentingan public, bukan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.
  5. Seorang jurnalis atau wartawan harus melaksanakan kode etik kewartawanan untuk melindungi rahasia sumber berita. Tugas wartawan adalah menyiarkan berita yang benar-benar terjadi.
  6. Seorang wartawan atau jurnalis harus menghindari praktek plagiarisme.

Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), diantaranya adalah :[9]

  1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar
  2. Wartawan Indonesia menempuh tata cara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber berita.
  3. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat.
  4. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah sadis, dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
  5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi.
  6. Wartawan Indonesia memiliki Hak Tolak, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan.
  7. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.
  1. Ketepatan dan Objektivitas

Ketepatan dan objektivitas di sini berarti dalam menulis berita wartawan harus akurat, cermat, dan diusahakan tidak ada kesalahan. Objektivitas yang dimakusd adalah pemberitaan yang didasarkan fakta-fakta di lapangan, bukan opini wartawannya. Oleh sebab itu harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan:[10]

  • Kebenaran adalah tujuan utama; orientasi berita yang berdasarkan kebenaran harus menjadi pegangan pkok setiap wartawan.
  • Objektivitas dalam pelaporan beritanya merupakan tujuan lain untuk melayani pbulik sebagai bukti pengalaman profesional di dunia kewartawanan. Objektif itu berarti tidak berat sebalh; harus menerapkan prinsip cover both sides.
  • Tiada maaf bagi wartawan yang melakukan ketidakakuratan dan kesembronoan dalam penulisan atau peliputan beritanya. Dalam hal ini, wartawan dituntuk untuk cermat di dalam proses peliputannya.
  • Headline yang dimunculkan harus benar-benar sesuai dengan isi yang diberitakan.
  • Penyiar radio atau reporter televisi harus bisa membedakan dan menekankan dalam ucapannya mana laporan berita dan mana opini dirinya. Laporan berita harus bebas dari opini atau bias dan merepresentasikan semua sisi peristiwa yang dilaporkan.
  • Editorial yang partisansip dianggap melanggar profesionalisme atau semangat kewartawanan. Editorial atau tajuk rencana yang dibuat, meskipun subjektif sifatnya (karena merepresentasikan kepentingan media yang bersangkutan) harus ditekan untuk “membela” sat golongan dan memojokkan golongan lain. Praktik jurnalisme ini sangat sulit dilakukan oleh media cetak yang awal berdirinya sudah partisansip, tetapi ketika dia sudah mengklaim media umum, tidak ada alasan untuk membela golongannya.
  • Artikel khusus atau semua bentuk penyajian yang isinya berupa pembelaan atau keseimpulan sendiri penulisnya harus menyebutkan nama dan identitas dirinya.
  1. Tindakan Adil untuk Semua Orang
  • Media harus melawan campur tangan individi dalam medianya. Artinya, pihak media harus berani melawan keistimewaan yang diinginkan seorang individu dalam medianya.
  • Media tidak boleh menjadi “kaki tangan” pihak tertentu yang akan memengaruhi proses pemberitaannya.
  • Media berita mempunyai kewajiban membuat koreksi lengkap dan tepat jika terjadi ketidaksengajaan kesalahan yang dibuat (fair play).
  • Wartawan bertanggung jawab atas lapprang beritanya kepada public dan public sendiri harus berani menyampaikan keberatannya pada media.
  • Media tidak perlu melakukan tuduhan yang bertubi-tubi pada seseorang atas suatu kesalahan tanpa member ksempatan tertuduh untuk melakukan pembelaan dan tanggapan. Media dilarang melakukan trial bu the press (media massa sudah mengadili seseorang sebelum pengadilan memutuskan ia bersalah atau tidak.

            C. Pentingnya Etika Komunikasi Massa

Di era reformasi, dimana kebebasan sangat dijunjung tinggi, peluang untuk menyebarkan informasi sangat besar. Apalagi, teknologi informasi dan komunikasi sanagat mendukung untuk melakukan hal-hal tersebut. Disinilah pentingnya peran etika. Bagaimanapun, seorang penulis, pembawa berita, narasumber di acara TV, pengelola media cetak, harian umum, TV hingga radio wajib mencederai komunikasi. Efek yang ditimbulkan ketika jurnalis selalu melakukan pelanggaran, bisa menimbulkan perpecahan, persepsi yang salah dan sikap yang salah dari pamirsa.

Rivers, et al (2003) mengemukakan ukuran-ukuran tentang pelaksanaan tugas media yang baik mulai dibakukan, seperti yang terjadi di Amerika Serikat tentang kode etik profesi pers. Diantaranya :[11]

  • Tahun 1923 American Society of Newspaper Editors (sebuah organisasi nasional) memberlakukan Kode Etik Jurnalisme yang mewajibkan surat kabar senantiasa memperhatikan kesejahteraan umum, kejujuran, ketulusan, ketidakberpihakan, kesopanan dan penghormatan tyerhadap privasi individu. Adanya kode etik ini bukan hal yang ringan, karena surat kabar sudah berusia 300 tahun ketika kode etik diberlakukan, dan selama abad 17 dan 18 surat kabar gigih memperjuangkan kebebasannya.[12]
  • Tahun 1937 Kode Etik Radio Siaran dan 1952 Kode Etik Televisi sudah beberapa kali disempurnakan, ditengah ketatnya kontrol pemerintah yang mengharuskan media elektronik tidak hanya mengikuti perubahan iklim intelektual, tetapi juga mengharuskan media elektronik selalu memperhatikan “kepentingan, kenyamanan dan kebutuhan publik”. Kode etik memperlakukan media elektronik terutama sebagai sumber hiburan, selain menjalankan fungsi pendidikan bagi masyarakat.[13]
  • Tahun 1930 mulai diterapkan Kode Perfilman tentang standar perilaku minimum yang tidak boleh dilanggar. Namun dalam kode ini tidak terlalu diperhatikan terutama sejak 1960-an, selain ketentuan tentang standar jenis film untuk setiap golongan usia. Kepatuhan terhadap ketentuan atau kode-kode etik itu jelas merupakan pelanggaran terhadap teori libertarian. Karena itu media lebih dekat dengan teori tanggung jawab sosial.[14]
  1. Realitas Pelaksanaan Etika Komunikasi

Walaupun etika dalam komunikasi massa telah diatur sedemikian rupa, realitasnya masih banyak pelaku komunikasi massa masih terjebak dalam berbagai kepentingan hingga menciderai kode etik jurnalistik.

Beberapa hal yang biasanya dilanggar oleh pelaku komunikasi massa, baik itu melalui media cetak – online maupun cetak –, televisi, hingga radio yaitu; objektivitas, menghakimi, tendensius, tidak meralat kesalahan berita hingga independensi.

Salah satu yang menghalangi terciptanya etika tersebut ialah, kepentingan-kepentingan titipan bahkan kebiasaan plagiat kepada media lain yang tidak objektif. Apalagi, beberapa media digunakan sebagai mesin propaganda beberapa kelompok. Tentunya, hal seperti ini tidak mencerminkan etika yang baik.

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari materi yang telah dipaparkan diatas, setidaknya diperoleh beberapa kesimpulan.

  1. Era modern dan demokrasi sangat menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan berbicara di depan public, hingga kebebasan memperolah informasi.
  2. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang pesat, setiap orang berpeluang untuk mensosialisasikan ide dan pikirannya melalui media public.
  3. Bahwa dalam menyampaikan sebuah berita, ada etika yang perlu diperhatikan oleh pelaku komunikasi massa. Hal tersebut telah diatur dalam kode etik jurnalis.
  4. Bahwa realitas yang terjadi dalam penerapan etika komunikasi massa belum maksimal. Beberapa media masih sering membuat pelanggaran terhadap kode etik mereka.

B. Saran

Maka, untuk menanggulangi permasalahan tersebut diatas, penulis menyarankan;

  1. Memberlakukan hukum sebagai guidance, setiap pelanggaran harus mendapat teguran melalui proses yang disepakati.
  2. Memberi pelatihan dan pemahaman kepada jurnalis dan semua yang terlibat dalam komunikasi massa agar memperhatikan kode etik yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Soyomukti, Nurani, Pengantar Ilmu Komunikasi, 2016, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta

Internet

http://naufalfauzy.blogspot.co.id/2014/12/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 26 April 2017 Pukul 19.26

https://jhohandewangga.wordpress.com/2012/02/24/pengertian-etika/ diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.05

http://tamarligori.blogspot.com/2014/03/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.53

http://aginapuspa.blogspot.com/2013/04/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.54

 

http://ariska2607.blogspot.co.id/2016/06/makalah-efek-dan-etika-komunikasi-massa.html diambil jam 26 April 2017 pukul 19.29

 

 

 

 

 

[1] http://naufalfauzy.blogspot.co.id/2014/12/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 26 April 2017 Pukul 19.26

[2] https://jhohandewangga.wordpress.com/2012/02/24/pengertian-etika/ diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.05

[3] Ibid

[4] Nurani Soyomukti, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jogjakarta (Ar-Ruzz Media) 2016

[5] Op.Cit

[6] http://tamarligori.blogspot.com/2014/03/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.53

[7] http://aginapuspa.blogspot.com/2013/04/etika-komunikasi-massa.html diambil tanggal 23 April 2017 Pukul 09.54

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] http://ariska2607.blogspot.co.id/2016/06/makalah-efek-dan-etika-komunikasi-massa.html diambil jam 26 April 2017 pukul 19.29

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

Orang tua, Benteng Pendidikan Era Digital

Cara Damping Anak di Era Digital.cms

            Terungkapnya kelompok predator anak yang memanfaatkan jejaring media social beberapa waktu lalu menjadi alarm bagi masyarakat tentang bahaya yang mengintai generasi masa depan bangsa. Kasus ini terungkap setelah empat orang angota forum Internasional yaitu Official Loli Candy’s Group itu diamankan kepolisian daerah Metro Jaya.

Menurut penelusuran, grup bejat bersebut memiliki 7000 anggota dan mayoritas aktif.  Jumlah yang cukup mengancam bagi negeri yang terkenal beradab ini. Belum lagi pelaku pedofilia yang beraksi sendiri atau tidak tergabung grup tersebut. Bisa jadi lebih banyak lagi.

Kasus ini juga menambah panjang daftar kasus yang melibatkan anak sebagai korban maupun sebagai pelaku. Masih hangat di ingatan kita, kasus pemerkosaan oleh 4 pemuda di Lampung, lalu kasus pemerkosaan oleh 13 anak belasan tahun di Surabaya, kasus Skip Challenge, hingga viralnya video seorang siswa SD yang dengan pedenya mengungkap ‘isi hatinya’, ditambah lagi dengan beberapa percakapan dan foto-foto mesra anak di bawah umur.

Fakta-fakta tersebut adalah bukti merosotnya moral hingga tingkatan terbawah. Anak-anak pun terdampak oleh arus globalisasi. Padahal, bangsa ini kental dengan norma-norma agama. Dulu dan sekarang. Lalu, mengapa hal ini terjadi?

Jika ditelusuri, dekadensi moral terjadi seiring kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Boleh dikata, semakin maju TIK, maka semakin besar pula dekadensi moral yang terjadi dikalangan anak dan remaja.

Terutama media, baik internet maupun media social, bertanggung jawab atas hal ini. Media berbasis TIK, yang sejatinya dibuat untuk kemaslahatan umat manusia, justru digunakan untuk hal-hal tidak manusiawi. Bahkan digunakan secara terencana untuk merusak moral hingga memantik kebencian kelompok. Setiap orang bebas berbuat apa saja dan sebagai siapa saja dengan medsosnya tanpa takut apa-apa. Apalagi, akun-akun anonym yang tak jelas operatornya.

Ditambah lagi, kini, setiap rumah memiliki ‘kotak ajaib’ atau televise. Lalu balita hingga anak belasan tahun yang mahir dengan gadget adalah hal lumrah. Hal yang dulu dianggap tabu. Dan bisa dipastikan, mayoritas anak beriteraksi dengan media massa dan media sosial setiap hari. Padahal melalui keduanya nilai-nilai baru disebarkan.

Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Dengan demikian, media massa menjadi sumber kebenaran dari sebuah peristiwa. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat, mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan.

Peran Orang Tua

Walau agak terlambat, kondisi kritis ini mesti disikapi secara tepat. Setidaknya untuk mengurangi jatuhnya korban lain. Salah satu solusinya adalah dengan memaksimalkan peran orang tua, guru dan lingkungan dalam mendidik. Ketiganya perlu berkolaborasi membentuk karakter anak agar terhindar dari kejamnya kemoderenan.

Orang tua sebagai pihak yang paling banyak mendampingi anak harus jeli membaca perilaku anak. Termasuk bagaimana mendidik. Jika tidak terlalu dibutuhkan, gadget mestinya dijauhkan dari anak yang masih labil. Termasuk mengawasi siaran-siaran TV yang kurang mendidik untuk dilihat anak.

Hal lain misalnya, memahamkan sang anak tentang tujuan hidup menurut agama. Mengenalkan Masjid sejak dini, mengajarkan qur’an hingga membiasakan membantu sesama. Perilaku-perilaku yang dianggap sepele juga perlu diperhatikan.

Orang tua juga bertanggungjawab mencarikan guru dan aktif berkonsultasi. Hak tersebut agar tercapai kesepahaman tentang makna pendidikan yang sesuai norma-norma ke-Indonesia-an. Sebagai  pihak yang dianggap mengerti konsep mendidik, orang tua harus lapang dada terhadap apapun yang dilakukan sang guru. Muhammad II (Al-Fatih), sang penakluk konstantinopel adalah hasil dari proses pendidikan orang tua yang berkolaborasi dengan guru. Walaupun Al-Fatih anak sultan, sang guru tetap adil dan tegas dalam mendidik beliau.

Namun, perlu diingat, lingkungan adalah hal lain yang juga sangat menentukan hasil dari proses pembentukan karakter. Saking pentingnya, Hillary Clinton pernah berujar “perlu orang sekampung untuk mendidik seorang anak!”. Bagaimanapun, anak tak bisa lepas dari interaksi di lingkungan. Untuk itulah, orang tua bertanggungjawab memilih lingkungan yang baik untuk anak-anaknya. Atau menciptakan lingkungan yang kondusif, paling tidak dengan mengajak tetangga-tetangga untuk sama-sama mendidik.

Jika ketiga hal tersebut bisa dimaksimalkan, hadirnya generasi yang paham agama dan berakhlaq adalah keniscayaan, dan menjadi harapan Islam menuju kejayaannya. Aamiin. Wallahua’alam.