Teroris Proyek Siapa?

bom

8 Mei, suasana di Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua, Depok mencekam. Ratusan napi terduga maupun tersangka teroris berontak. Membobol terali besi yang mengurung mereka. Menuju ruang amunisi lalu mulai menembak petugas. 5 polisi tewas dan satu menjadi sandera.

13 Mei, saat kaum kristiani sedang semangat ke gereja, satu keluarga meledakkan diri. 3 gereja di Surabaya diserang. 6 anggota keluarga ini kompak betul. Malamnya, satu keluarga lainnya ikut-ikutan. Mungkin terinspirasi keluarga sebelumnya. Sayangnya, mereka meledak sendiri. Kejadiannya di Sidoarjo. Paginya, giliran Mapolres Surabaya yang disasar. Tiga anggota polisi terluka.

15 Mei, Bang Karni mengangkat masalah ini. Presiden ILC ini mengaku bingung. Sama bingungnya dengan saya. Kok ada orang yang berpikir seperti teroris. Padahal mereka muslim. Islam sama sekali tak mengajarkan demikian. Lalu, kok mereka mau?

Pak Jenderal Polri, Muhammad Tito Karnavian buka suara. Lebih sejam, beliau jelaskan teroris ini. Sejarah, ideologi dan jaringannya. Katanya, teroris fenomena global. Hampir semua negara pernah bobol. Amerika sekalipun. Sampai sini, saya juga belum paham. Kenapa teroris muncul. Bagaimana cara berfikirnya.

Saat giliran Prof. Din Syamsuddin, barulah saya sedikit ngangguk. Kata beliau, teroris buka hanya karena ideology. Memang, dulu ada kelompok khawarij dalam islam. Tapi itu 14 abad yang lalu. Mereka bukan kelompok kuat. Berabad-abad mereka mati suri. Artinya, faktor ideology hanya salah satunya.

Saat Amerika adu kekuatan sama Uni Soviet, mereka merekrut orang. Pemuda muslim. Otaknya di cuci. Brain wash. Mereka diharapkan memerangi Uni Soviet dengan semangat. Tak takut mati. Senjata dipasok Amerika. Inilah cikal bakal Al-Qaeda. Akhirnya, operasi ini sukses. Uni Soviet pecah. Menjadi negara-negara kecil.

Ketika perang usai, Al-Qaeda terlanjur besar. Sebagian orang menganggap mereka pahlawan. Tapi Amerika tak senang. Serangan 11 September 2001 jadi alasan bagus. George Bush berteriak ‘war on terror’. Irak diserang. Selanjutnya Afghanistan, Libya, dan kini Suriah. Dunia Islam porak poranda. Masyarakat sipil mati, sengsara. Amerika justru dibenci. Serangan ke Irak rupanya demi minyak.

Ketika Suriah membara, ISIS muncul. Si bos, Al-Baghdadi naik daun. Berbagai serangan terjadi. Stadion Prancil bobol. Dunia olahraga berduka. Selanjunta terjadi aksi teror lain. Tabrak mobil. Berkali-kali. Di mana-mana. Indonesia juga jadi sasaran.

Stigma Islam Teroris

Lalu, siapa yang paling dirugikan? Tentu masyarakat dunia takut. Apa yang mereka takuti? Islam. Stigma bahwa Islam adalah agama teroris terbentuk. Terjadilah persekusi. Orang bercadar diganggu. Orang berjenggot dijauhi. Orang berjubah ditatap sinis. Islamophobia terjadi dimana-mana. Bahkan di Indonesia. Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Islam sangat dirugikan.

Dalam hal ini media berperan. Ketika terjadi aksi teror, yang dilihat siapa pelakunya. Jika muslim, ditulis teroris bla bla bla. Kalau bukan muslim, beritanya lain. Mereka akan bilang kelompok bersenjata. Atau penjahat bla bla bla. Kedua, jika pelakunya pakai jilbab, jilbabnya yang disorot. Kalau berjenggot, jenggotnya yang diungkit. Aneh.

Jadi, teroris proyek siapa?

 

 

Iklan

‘Pahlawan Itu Bernama Ferry!’

pelni-tambah-armada-ke-surabaya

 “Dari sabang sampai merauke. Berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…..”

Penggalan lagu tersebut sangat familiar. Aku menghapalnya sejak sekolah dasar. Tapi saat itu, Aku menganggapnya hanya sekedar lagu. Di dalam otakku, jajaran pulau yang dimaksud hanya lima. Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Belakangan Aku tahu, anggapanku salah.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Memiliki sekitar 16.056 pulau (KKP 2017). Termasuk lima pulau terbesar di atas. Itu sebabnya, NKRI juga disebut negara maritim. Luas lautnya sekitar 3.200.000 km2 (Deklarasi Djuanda, 1957). Lebih luas dari daratnya yang hanya 2.000.000 km2.

Dengan demikian, transportasi laut menjadi penting. Sejak dulu, kapal menjadi andalan. Kapal Phinisi, salah satu yang melegenda. Walau sekarang transportasi udara telah maju, tapi masih banyak kawasan yang tak terjangkau oleh pesawat. Hanya bisa dengan memanfaatkan laut. Jalur laut juga relative lebih murah. Kapal juga bukan hanya berfungsi sebagai alat transportasi bagi manusia. Ia juga menggerakkan ekonomi masyarakat rural.

Salah satu moda transportasi laut yang familiar adalah kapal Ferry, kendaraan yang menjadi penghubung pulau-pulau terpencil. Dulu, saat aku duduk dibangku SMP, Aku selalu pulang dengan kapal Ferry. Maklum, Aku sekolah jauh dari rumah. Di Kota Makassar, Sulawesi selatan. Sementara rumahku di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Jadinya, setiap liburan, Aku harus melintasi laut. Itu jalur terdekat. Jika lewat darat, waktunya kelamaan. Duduk di dalam bis dalam waktu lama tentu sangat membosankan. Aku lebih memilih bis yang naik kapal. Kapal Ferry tepatnya. Dari pelabuhan Bajoe, Bone ke Pelabuhan Kolaka.

Naik Ferry itu asyik. Aku bisa melihat laut dari dekat. Laut biru yang terhampar. Indah. Luar biasa. Kadang ada ‘ikan terbang’ nongol ke permukaan. Kadang aku nyari lumba-lumba. Tapi tak pernah muncul. Mungkin bukan perairannya. Hehe.

Saat dijenjang SMA, Aku pindah sekolah. Di Kota Balikpapan. Pulang setahun sekali. Selalu dengan kapal. Pertama dengan kapal milik Pelni dari Balikpapan ke Pare-Pare. Lalu, naik mobil ke pelabuhan Siwa, lebih dekat. Dari situ, menuju Tobaku, Kolaka Utara dengan kapal Ferry. Dari sana, kadang singgah dirumah nenek, kadang langsung ke rumah.

Usia SMA, cukup dewasa untuk memaknai hidup. Masa pubertas. Ingin tahu banyak hal. Berada di atas kapal adalah anugerah. Di sana, berbagai jenis orang berkumpul. Dengan berbagai latar belakang. Berbagai pengalaman. Dan karakter yang juga berbeda. Dari sanalah, Aku banyak belajar. Memahami orang lain. Menghargai sesama. Bahkan saling berbagi kisah. Sharing pengalaman. Banyak ngobrol akan kaya wawasan dan menambah inspirasi.

Pernah suatu waktu, aku bertemu dengan seseorang. Ia mengaku naik kapal Ferry jurusan Kolaka – Bajoe (Bone) dua kali sepekan. Setiap Kamis dan Minggu. Ia adalah makelar hasil tani. Buah-buahan yang sulit ditemukan di sekitar Bone, ia beli di Sulawesi Tenggara. Sebaliknya, barang langka di sekitar Kolaka, ia cari di Bone, lalu mengangkutnya dengan kapal. Waktu itu, puluhan karung besar ia bawa. Di lain kesempatan, aku ngobrol dengan petani. Kebunnya di Konawe, Sultra, tapi keluarga besarnya di Maros. Sebulan sekali ia pulang.. Para pelajar (mahasiswa) dari daerah Sultra juga banyak yang kuliah di Makassar, ibu kota Sulsel. Tentu, mereka menyebrangi laut dengan kapal Ferry. Satu-satunya kapal yang selalu siap melayani. Boleh dikata, kapal Ferry adalaah pahlawan.

Tentu tak sedikit daerah seperti daerahku. Artinya, tak sedikit pula orang yang seperti kami. Yang sangat bergantung pada transportasi laut. Kehadiran armada laut ASDP Indonesia Ferry sangat membantu. Terutama di kawasan-kawasan pelosok. Dan  pulau-pulau terluar Indonesia.
So, jangan lupa, rasakan #AsyiknyaNaikFerry

 

Sambut Ramadhan, Hidayatullah Undang KH. Abdul Samad

31453799_930301280485287_7004618878365990912_nBeberapa orang berpakaian hitam dan menggenggam handy talk terlihat sibuk. Memperhatikan jika ada peserta yang datang. Mereka betanggung jawab untuk mengarahkan peserta menuju tempat parkir yang telah disediakan. Sementara itu, digerbang masuk, tiga orang dengan piama putih menebar senyum kepada setiap peserta yang hadir. Masuk sedikit, terlihat meja di sisi kiri dan kanan, dengan kantong hitam menumpuk. Setiap yang hadir akan diberi kantong hitam tersebut. Isinya adalah sebotol air dan kurma kering. Setelahnya, anak-anak dengan baju orange bertuliskan ‘Pandu Hidayatullah’ berdiri tegak. Berjejer rapi.

Hanya butuh dua menit untuk sampai ke pusat acara. Masjid Aqshal Madinah yang merupakan pusat kegiatan keagamaan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Didalamnya telah terpasang back drop acara dan mimbar tepat di depannya. Sisi kiri dan kanan juga telah tersedia tenda. Lengkap dengan layar  LCD. Lima meter dibelakangnya adalah lapangan yang saat itu disulap menjadi tempat kaum wanita. Juga telah bertenda dan layar lebar.

Itulah gambaran situasi Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Acara ini dilakasanakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Pembicaranya adalah da’i yang dikenal pandai melucu, KH. Abdul Somad, Lc, MA.

Sejak pukul 6.00 jamaah sudah berdatangan. Pukul 9.00, tempat yang disediakan mulai terpenuhi. Khususnya tempat muslimah yang memang lebih mendominasi. Pukul 9.10, Kiai yang mendapat anugerah dari Republika sebagai salah satu orang paling berpengaruh di Indonesia akhirnya hadir. Di kawal sedan milik militer.

Akhirnya, acara dimulai. Diawali oleh sambutan oleh shahibul bait, Pembina ponpes Hidayatullah, KH. Abdurrahman S.Ag. Beliau mengucap terima kasih atas kehadiran KH. Abdul Samad ke pesantren binaannya. Beliau juga menyinggung bahwa Ramadhan adalah madrasah (sekolah) besar untuk seluruh kaum muslimin. Layaknya sebuah sekolah, ia memiliki kurikulum, yaitu qur’an dan sunnah. Siapa yang menerapkan kurikulum tersebut dengan baik, maka ia akan mendapat gelar taqwa. Ijazah menuju surga.

Acara selanjutnya adalah launching program 1000 hafidz qur’an di Jawa Timur. Sepuluh orang anak yang sedang dalam proses menghafal Al-Qur’an dikalungi surban oleh KH. Abdul Somad, sebagai simbol dimulainya program tersebut.

Setelah itu, acara inti. Tausiyah dari KH. Abdul Somad. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak kaum muslimin agar menjadikan Ramadhan untuk mensucikan hati dan pikiran. Salah satu menjaga makan dan minum, serta menjaga mata dari hal-hal syubhat, apalagi haram. Dan bulan suci Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mencapai itu semua. Jika hati dan pikiran umat telah bersih, insya Allah akan membawa keberkahan di bumi NKRI ini.

Kalau Ada yang Lebih Baik, Kenapa Nggak #2019GANTIPRESIDEN

IMG_20180429_065919

Hari ini, kami ikut car free day (CFD). Tempatnya di taman bungkul. Pusat CFD masyarakat Surabaya. Sampai di sana, kami bergegas. Menuju depan toko ketan punel. Menurut informasi, akan ada gerakan #2019GANTIPRESIDEN di sana. Ternyata benar. Tak sulit menemukan tempat itu. Puluhan orang telah memakai baju dengan hestag tersebut. Putih dan hitam mendominasi. Cukup ramai. Kami ikut gabung. Ikut pula menandatangani petisi #2019GANTIPRESIDEN. Beberapa polisi pamong praja terlihat di sana. Sempat terjadi ketegangan dengan beberapa peserta. Tapi kembali rileks. Toh aksi itu konstitusional. Tak ada yang dilanggar.

Gerakan #2019GANTIPRESIDEN terbentuk spontan. Tak terlacak siapa yang mengawali. Pak Mardani Ali Sera, Ketua DPP PKS memang mengklaim sebagai idea maker. Tapi seorang pengamat tidak setuju. Kata beliau, Pak Mardani hanya memviralkan. Dengan hestag. Melalui twitter dan kaos. Menurut kami, tak penting siapa penggagasnya. Yang penting #2019GANTIPRESIDEN. Tentu melalui pilpres. Bukan dengan kekerasan.

Jokowi punya prestasi. Infrastruktur digenjot. Tanah disertifikasi. Tapi, masih banyak yang perlu diperbaiki. Masalah disintegrasi bangsa. Masalah tenaga kerja asing. Masalah utang. Masalah pendidikan. Harga barang yang naik. Juga BBM. Subsidi dicabut. Dan sebagainya. Solusinya, #2019GANTIPRESIDEN. Tentu, itu debatable. Setiap orang bisa berbeda pendapat. Itu wajar. Kita negara demokrasi.

Sumber daya alam kita melimpah. Minyak, emas, nikel, batu bara. Tapi dikelola asing. Padahal bangsa kita banyak. 260 juta jiwa. Keempat di dunia. Saya sulit percaya, kalau tak ada yang mampu. Sudah hampir 73 tahun sejak proklamasi bung Karno baca. Tapi kita masih terjajah. Pak Jokowi tak bisa diharap. Beberapa UU justru memungkinkan BUMN dipimpin asing. Maka saatnya #2019GANTIPRESIDEN.

Jika sesuai rencana, pilpres kurang setahun. Saatnya rakyat memilih. Bilik suara harus ‘kondusif’. Tak boleh ada intervensi. Rakyat Indonesia cerdas. Mereka tahu, ada yang lebih baik dari Pak Jokowi. #2019GANTIPRESIDEN akan tercapai.

 

Rocky Gerung Show

polisi-terus-pelajari-kasus-kitab-suci-fiksi-rocky-gerung-xv1JBxaFId

“Produsen hoax terbaik adalah penguasa.”  kira-kira begitu kalimat sederhana yang diucapkan Pak Rocky Gerung (RG) saat first show-nya  sebagai narasumber ILC. Tepuk tangan membahana. Mengamini opini tersebut. Dalam istilah komunikasi, ia mampu memberikan first impression yang mengejutkan. Era Rocky pun dimulai.

Saat publik sedang di puncak kekecewaan pada penguasa, RG muncul dengan pikiran kritisnya. Memang, tokoh kritis banyak. Tapi mayoritas tokoh agama. Maka yang disampaikan adalah dalil agama. Sementara RG membawa logika. Ia menambah amunisi oposisi untuk bertarung.

Sejak penampilan pertama, ia menjadi tidak asing lagi. Berkali-kali hadir diberbagai stasiun televisi. Gayanya sama. Unik. Dengan retorika menarik. Tapi yang paling ditunggu publik adalah dalil baru. Yang bisa digunakan menyerang pemerintah. Atau paling tidak menarik jika dibuat meme.

Satu hal lagi, RG selalu melawan arus. Ia berdikari. Walau anti Jokowi, keberpihakannya tak kentara. Satu-satunya yang ia bela adalah pikirannya sendiri. Tapi oposisi menikmatinya. Paling tidak, berlaku kaidah politk disini. Jika elektabilitas Prabowo jauh di bawah Jokowi, ada dua cara agar sama. Bisa dengan kampanye agar elektabilitas Probowo naik atau kampanye agar elektabilitas Jokowi menurun. RG memainkan yang kedua. Menyerang Jokowi tanpa henti.

Para cebongers – begitu pak RG menyebut pendukung Jokowi – tentu terganggu. Baik yang kelas elit atau kelas menengah. Kelas bawah tak mengerti. Bahasa pak RG cukup sulit dicerna. Serangan pun diluncurkan. Di twitter, ia jadi bulan-bulanan. Berbagai tuduhan disematkan padanya. Termasuk soal gelarnya. Tapi RG menjawab santai. Tapi sarkastik. Gaya khasnya.

Hingga pada ILC 10 April lalu, RG mengejutkan banyak pihak. Mengucap ‘kitab suci itu fiksi’. Walau beliau sudah menjelaskan, tetap saja itu celah. Celah untuk ‘ditusuk’. Khususnya bagi mereka yang selama ini kepanasan. Benar saja, RG dilaporkan ke polisi. Dengan aduan penistaan agama. Yang melapor dulunya pembela penista agama. Warna politiknya kentara. Memang aneh. Tapi itulah politik. Semua “tentang apa untungnya buat saya?”.

Akibat kontroversi itu, ia justru makin tenar. Bolak-balik ke stasiun tv. Mengklarifikasi pernyataannya atau sekedar show. Kecerdasannya terlihat jelas. Pilihan diksi dalam berbicara menujukkan kelasnya. Sarjana rasa professor. Sampai di sini, ia unggul. Tapi besok, entah jadi apa. Itu tergantung polisi.

 

 

 

Berawal Nekat, Berakhir Sekarat, Selanjutnya Sukses Kuadrat

bangkit-dari-keterpurukan

“Bergeraklah, take action. Setiap orang punya ‘jatah salah’, maka habiskan jatah salahmu diwaktu muda. Lalu bangkitlah, kini kau tahu melakukan hal yang benar dengan benar. Rise and shine.”

Mungkin kalian pernah membaca kalimat di atas, atau yang sejenisnya. Akan mudah menemukannya di buku-buku motivasi. Dan kalian tahu, aku baru saja mempraktekannya, sehari yang lalu. Aku nekat take action, hasilnya ? sekarat, tapi tak sampai mati. Dan kini ku tahu, bagaimana seharusnya melakukannya. Yup, apalagi, aku masih muda – setidaknya itu yang ku rasa, hehe – secara matematis, aku masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya. Atau paling tidak, satu jatah salahku udah hilang. 😉

Ceritanya dimulai 2 bulan lalu. Saat itu, kami merencanakan sebuah hal yang besar. Event dengan anggaran tak main-main. Tanpa ada bekingan, belum berpengalaman, semua serba tak memadai. Modal berani, cenderung nekat – berani dan nekat beda tipis – kami tetap bergerak.

Sebenarnya, semua kami pertimbangkan. Tapi salah perhitungan, sangat mungkin karena kurang pengalaman dengan yang gini-ginian. Walaupun aku sudah beberapa kali melakukannya, tapi dalam skala yang lebih rendah.

H-6 mulai kelihatan amburadul. Kami putar otak. Solusinya tak ketemu. Kami rapat. Muncul beberapa opsi sebagai solusi. H-2, opsi pertama terkonfirmasi negatif. Kembali menyusun rencana. H-1 pindah ke opsi kedua. Tanpa persiapan, tak ada modal. Tetap jalan, sambil mikir. Yah, nothing to lose.

Akhirnya, detik-detik itupun tiba. Hari H, si partner marah. Kami kena semprot. Malu pastinya. Pengen lari, menghilang. Tapi kami memilih bertanggung jawab. Hadapi kenyataan dengan kepala tegak, pura-pura tegar. Padahal hati hancur, lebih hancur daripada saat kalian diputusin pacar. Aww. Lebay. Temenku bilang ini pengalaman paling memalukan dalam hidupnya. Haha. Aku sependapat. Makanku tak lelap, tidurku tak sedap, mandi tengkurap.

Tapi, kini pengalaman mengesankan itu telah lewat sehari. Buat kami, hanya ada dua pilihan. Terperosok semakin dalam karena kehilangan keberanian take action atau bangkit dan kembali bergerak, take action. Aku? Aku memilih yang kedua. Insya Allah selanjutnya sukses kuadrat. Kalian gimana? 😉

 

 

 

Let’s Think Positive

MerdekaKolom

Belum lama ini, Indonesia ribut lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, keributan itu bermula dari pernyataan seorang tokoh. Kali ini, tokohnya adalah Prabowo Subianto, Ketum sebuah partai. Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun partainya, sang mantan Danjen Kopassus tersebut berstatemen bahwa Indonesia akan bubar tahun2030. Ketika dikonfirmasi, ternyata pernyataan tersebut ia kutip dari sebuah novel Ghost Fleet karya penulis terkenal luar negeri, Peter Warren Singer. Ia merupakan pakar perang asimetris, ahli geo politik, pakar intelijen dan ilmuwan politik.

Fakta tersebut dimanfaatkan lawan politik sang jendral. Berbagai kritik dilontarkan. Tentu, loyalis capres tersebut tak terima. Sambut menyambut komentar pun memanjang. ‘Satu republic meradang’. Pembuat hoax dan hate speech kembali dapat bahan.

Padahal, jika mau ditanggapi dengan santai dan positif, kalimat kontraversial ini justru berpotensi menjadi momentum menyadarkan public tentang pergaulan internasional. Walau bersumber dari novel, tetapi ditulis berdasarkan data intelijen. Penulisnya pun bukan orang sembarangan. Menurut Arya Insanyuda, seorang pengamat hubungan internasional, novel tersebut juga menjadi rujukan militer diberbagai negara. Bahkan, beberapa analisisnya tentang perkembangan perpolitikan internasional terbukti setelah bertahun-tahun. Tentu, pilihan untuk menyadarkan public melalui statemen ini lebih baik dari pada berkomentar tak berisi.

Kedua, pernyataan ini juga bisa dijadikan ‘alat’ memupuk semangat nasionalisme. Seorang analis intelijen yang menjadi salah satu narasumber diskusi di tvone, Prayitno, menyatakan bahwa tak ada satupun negara di asia tenggara yang meraih kemerdekaan dengan berdara-darah, kecuali Indonesia. Namun, setelah merebut kemerdekaan, bangsa kita justru terseok-seok. Bahkan terpecah-belah. Disaat negara adidaya merencanakan sesuatu yang negative terhadap negeri ini, justru direspon dengan sambutan hangat. Lihatlah Freeport, Newmont, dan berbagai perusahaan besar yang mencakar-cakar kedaulatan Indonesia. Pajak tak dibayar sesuai kesepakatan. Mereka kaya, kita tetap miskin, tapi banyak diantara rakyat tak peduli. Yah, betapa baiknya orang Indonesia. Memberi makan pada singa yang akan menerkamnya ketika lengah.

Dalam buku Pikiran dan Gagasan Daud Jousoef, 10 Wacana Tentang Aneka Masalah Kehidupan Bersama, ada sebuah kalimat menarik ‘mati karena dipangku’. Kondisi negeri saat ini bisa dibaca dalam konteks kalimat sederhana ini. Menurut beliau, negeri hebat ini berusaha dibuai dengan berbagai pujian melenakan. Misalnya, kita bangsa yang cinta damai, kita bangsa yang ramah, lembut dan sebagainya. Tanpa kita sadari, kata-kata tersebut adalah psi-war (perang psikologi) untuk membuat kita tak tegas, lemah tak berdaya saat ditindas.

Dengan demikian, semangat nasionalisme (dengan berlandaskan agama) seperti saat berjuang meraih kemerdekaan perlu dipupuk kembali. Setidaknya, jika prediksi itu benar, rakyat memiliki keberanian untuk berjuang sekali meraih kemerdekaan sepenuhnya.