Inspirasi Dari Jalan

sj_20110822094621_3YxXh

“Sebagai makhluk sosial, manusia butuh orang lain. Jalinan komunikasi akan membentuk simpati. Simpati akan mengundang harmoni. Dan kehidupan yang harmonis adalah modal menuju kebahagiaan sejati”

Tulisan ini aku buat untuk mengenang perjalannku. Yang ke Semarang itu. Dalam artikel sebelumnya (Ngebolang di Semarang), hanya mengangkat tentang perjuangan di perjalanan. Kali ini, tentang inspirasi yang kudapatkan dari interaksi kepada orang-orang. Dan ini lebih menarik.

Inspirasi pertama saat tiba di Salatiga. Kota madya antara Semarang dan Solo. Udaranya dingin, kota itulah yang aku tuju. Di sana, aku menginap di rumah teman dari adik. Saat baru menginjak halaman, suara murattal langsung terdengar. Aku terkesan. Lebih berkesan lagi ketika si mbah – nenek dari temen adikku – bilang kalau di rumah itu tak ada TV. “Maaf nak, gak ada apa-apa di rumah ini. Tak ada TV.” Katanya. Jelas saja, bukan karena tak mampu beli, namun tak mau. Buktinya, keluarga tersebut punya mobil. Rumahnya luas. Punya usaha. Kalau sekedar TV, pasti bisa beli. Tapi yang ada hanya MP3 berisi tilawah yang bunyi 24 jam. HP tentu punya. Untuk keperluan komunikasi. Bagi anak – anak, interaksi dengan gadget dibatasi. Hasilnya? Anak tertuanya lulus di Al-Azhar. Yah, yang di Mesir itu. Yang juga menarik, keluarga itu habis makan cuci piring masing-masing.

Yang kedua, saat aku di masjid Stasiun Tawang. Ngobrol dengan seorang guru PAI. Guru sejak tahun 1985. Usianya 52 tahun. Punya lima anak. Beliau banyak cerita tentang kehidupan keluarga. “Orang tua itu sangat menentukan karakter anak. Orang tua harus menjadikan baiti jannati (rumahku surgaku) bagi setiap anggota keluarga.” Katanya saat ku tanya tentang pendidikan antar generasi. Menurut beliau, anak sekarang rusak bukan hanya karena zaman yang memang berubah, tapi juga karena orang tua yang gagal mendidik. Salah satu cara mendidik yang paling baik, menurut beliau yaitu keteladanan. “Dulu, ayah saya setiap selesai makan, cuci piring sendiri. Ibu saya bilang ‘tuh liat bapak, cuci piring sendiri’, saya waktu itu belum mau ikut, tali setelah menikah baru saya sadar.” Ceritanya bersemangat. Selain itu, si bapak juga berpesan, “hidup ini nyari berkah dek, bukan yang lain.” Hasilnya? Anak pertamanya udah jadi dosen di kampus negeri.

Cerita ketiga dari ibu paruh baya teman duduk di kereta api. Beliau Bhayangkari. Istri polisi. Walau suaminya telah pensiun, beliau masih aktif di Bhayangkari. “Daripada diam di rumah, ikut arisan kan lebih bagus.” Katanya. Yang menarik saat si ibu cerita tentang keponakannya. Yang pergi ke Papua. Sendirian. Demi cinta. Padahal belum nikah. “Kok berani ya!!” Ucapnya keheranan. Aku bilang, ‘anak jaman now emang gitu bu’.

Tentu, ada beberapa orang lagi yang aku ajak bicara. Misalnya, sekelompok remaja asal Palangkaraya yang ke Jawa demi mendaki gunung Semeru. Itu lah hobi. Dilakukan sepenuh hati, sesulit apapun ia. Juga seorang bapak yang kupinjami charger di stasiun. Yang benci naik bus. Karena terlalu laju katanya. Padahal kereta lebih laju. Haha. Ada juga ibu yang mengantar anaknya masuk pesantren di Pasuruan. Ia orang Indramayu, Sunda. Suaminya orang Pasuruan, orang Jawa. Ini menepis mitos kalau orang Jawa tak boleh menikah dengan orang Sunda. Masih di kereta, aku ketemu pemuda dari Tegal. Ia akan kerja di Surabaya. Yah, cari kerja memang sulit. Apalagi saat ini, yang ekonomi sedang lesu. End.

 

 

 

 

Iklan

‘Pahlawan Itu Bernama Ferry!’

pelni-tambah-armada-ke-surabaya

 “Dari sabang sampai merauke. Berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…..”

Penggalan lagu tersebut sangat familiar. Aku menghapalnya sejak sekolah dasar. Tapi saat itu, Aku menganggapnya hanya sekedar lagu. Di dalam otakku, jajaran pulau yang dimaksud hanya lima. Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Belakangan Aku tahu, anggapanku salah.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Memiliki sekitar 16.056 pulau (KKP 2017). Termasuk lima pulau terbesar di atas. Itu sebabnya, NKRI juga disebut negara maritim. Luas lautnya sekitar 3.200.000 km2 (Deklarasi Djuanda, 1957). Lebih luas dari daratnya yang hanya 2.000.000 km2.

Dengan demikian, transportasi laut menjadi penting. Sejak dulu, kapal menjadi andalan. Kapal Phinisi, salah satu yang melegenda. Walau sekarang transportasi udara telah maju, tapi masih banyak kawasan yang tak terjangkau oleh pesawat. Hanya bisa dengan memanfaatkan laut. Jalur laut juga relative lebih murah. Kapal juga bukan hanya berfungsi sebagai alat transportasi bagi manusia. Ia juga menggerakkan ekonomi masyarakat rural.

Salah satu moda transportasi laut yang familiar adalah kapal Ferry, kendaraan yang menjadi penghubung pulau-pulau terpencil. Dulu, saat aku duduk dibangku SMP, Aku selalu pulang dengan kapal Ferry. Maklum, Aku sekolah jauh dari rumah. Di Kota Makassar, Sulawesi selatan. Sementara rumahku di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Jadinya, setiap liburan, Aku harus melintasi laut. Itu jalur terdekat. Jika lewat darat, waktunya kelamaan. Duduk di dalam bis dalam waktu lama tentu sangat membosankan. Aku lebih memilih bis yang naik kapal. Kapal Ferry tepatnya. Dari pelabuhan Bajoe, Bone ke Pelabuhan Kolaka.

Naik Ferry itu asyik. Aku bisa melihat laut dari dekat. Laut biru yang terhampar. Indah. Luar biasa. Kadang ada ‘ikan terbang’ nongol ke permukaan. Kadang aku nyari lumba-lumba. Tapi tak pernah muncul. Mungkin bukan perairannya. Hehe.

Saat dijenjang SMA, Aku pindah sekolah. Di Kota Balikpapan. Pulang setahun sekali. Selalu dengan kapal. Pertama dengan kapal milik Pelni dari Balikpapan ke Pare-Pare. Lalu, naik mobil ke pelabuhan Siwa, lebih dekat. Dari situ, menuju Tobaku, Kolaka Utara dengan kapal Ferry. Dari sana, kadang singgah dirumah nenek, kadang langsung ke rumah.

Usia SMA, cukup dewasa untuk memaknai hidup. Masa pubertas. Ingin tahu banyak hal. Berada di atas kapal adalah anugerah. Di sana, berbagai jenis orang berkumpul. Dengan berbagai latar belakang. Berbagai pengalaman. Dan karakter yang juga berbeda. Dari sanalah, Aku banyak belajar. Memahami orang lain. Menghargai sesama. Bahkan saling berbagi kisah. Sharing pengalaman. Banyak ngobrol akan kaya wawasan dan menambah inspirasi.

Pernah suatu waktu, aku bertemu dengan seseorang. Ia mengaku naik kapal Ferry jurusan Kolaka – Bajoe (Bone) dua kali sepekan. Setiap Kamis dan Minggu. Ia adalah makelar hasil tani. Buah-buahan yang sulit ditemukan di sekitar Bone, ia beli di Sulawesi Tenggara. Sebaliknya, barang langka di sekitar Kolaka, ia cari di Bone, lalu mengangkutnya dengan kapal. Waktu itu, puluhan karung besar ia bawa. Di lain kesempatan, aku ngobrol dengan petani. Kebunnya di Konawe, Sultra, tapi keluarga besarnya di Maros. Sebulan sekali ia pulang.. Para pelajar (mahasiswa) dari daerah Sultra juga banyak yang kuliah di Makassar, ibu kota Sulsel. Tentu, mereka menyebrangi laut dengan kapal Ferry. Satu-satunya kapal yang selalu siap melayani. Boleh dikata, kapal Ferry adalaah pahlawan.

Tentu tak sedikit daerah seperti daerahku. Artinya, tak sedikit pula orang yang seperti kami. Yang sangat bergantung pada transportasi laut. Kehadiran armada laut ASDP Indonesia Ferry sangat membantu. Terutama di kawasan-kawasan pelosok. Dan  pulau-pulau terluar Indonesia.
So, jangan lupa, rasakan #AsyiknyaNaikFerry

 

Mahasiswa NGOMPOL? Harus!

000ActionAlertMegaphone-655x405

Indonesia – sebagai Negara – memiliki sejarah politik yang menarik. Sejak proklmasi kemerdekaan pada 17 agustus 1945, Negara republic ini terus bergerak dinamis. Mulai era generasi pertama yang dipimpim dwi tunggal, Bung Karno dan Bung Hatta yang akhirnya pecah kongsi. Pada masa ini politik kenegaraan masih belum stabil. Apalagi setelah Bung Hatta ‘minggat’ dari posisinya sebagai Wapres, lalu Bung Karno mengeluarkan dekrit presiden yang membubarkan konstituante. Langkah tersebut menjadikan sang proklamator menjadi dictator.

Selanjutnya, militer (Soeharto) muncul dan mengambil alih pemerintahan melalui Super Semar (Surat Perintah Sebelas Maret). Politik yang dijalankan juga tak lebih baik dari masa sebelumnnya. Rezim yang dikenal dengan nama orde baru ini berlangsung selama 32 tahun. Sepanjang masa itu, penguasa tak tersentuh, cenderung otoriter.

Melihat kondisi seperti ini, para mahasiswa mulai memainkan perannya. Kesadaran politik mahasiswa tumbuh dan akhirnya meledak pada tahun 1998, mereka tumpah ruah di jalan, bersuara lantang menuntut pemerintahan otoriter dihentikan. Reformasi akhirnya tercapai. Iklim politik dibenahi sedemikian rupa melalui system baru.

Kini, menjelang 20 tahun era reformasi, republic ini mulai ‘memetik buah’ dari perjuangan mahasiswa tersebut. Kebebasan bersuara, berunjuk rasa dan menyampaikan pendapat dilindungi undang-undang. Demokrasi berjalan baik, namun masalah tak kunjung selesai.

Dengan system demokrasi seperti ini, mahasiswa hidup nyaman. Fasilitas tersedia lengkap, Negara menjamin hak-hak mahasiswa. Namun, ditengah berbagai ‘hidangan lezat’ tersebut, mahasiswa mulai abai terhadap kondisi bangsa yang sedikit demi sedikit nyungsep. Pergantian presiden tak banyak merubah wajah Indonesia. Malah, pengelolaan Negara semakin rumit, sementara korupsi merajalela. Dan sekali lagi, mahasiswa entah kemana!

Mahasiswa kini sibuk mengejar title sarjana, menasbihkan diri sebagai kaum intelektual Negara. Ngomong Politik (NGOMPOL) menjadi ‘tabu’ dikalangan mereka. Apalagi jika jurusan yang mereka geluti tak ada sangkut pautnya dengan politik. Padahal status sebagai warga Negara telah cukup untuk turut mengamati dan nimbrung dalam perpolitikan nasional. Karena imbasnya juga kembali kepada setiap rakyat.

Dengan melihat fakta tersebut, sikap abai mahasiswa tentu bukan hal baik. Mahasiswa semestinya mengawal apa yang telah diperjuangkan oleh generasi sebelumnya. Jangan sampai, sejarah emas kaum marhaen dalam merubah iklim politik nasional terlupakan, karena tidak lagi perduli terhadap perjalanan politik Negara besar ini. Pemikiran ‘jadul’ bahwa hanya kaum tua yang berkompeten bicara tentang politik sudah seharusnya dirubah. Karena perjalanan politik negeri ini telah membuktikan betapa kaum muda memiliki peran besarnya sendiri.

 

 

 

 

Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

Masih hangat diingatan kita, statemen menteri komunikasi dan informasi (Menkominfo) medio juli lalu. Saat itu, selepas acara antiradikalisme di Universitas Padjajaran. Beliau menyampaikan keresahannya terhadap paham radikal yang terus berkembang. Menurutnya, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Baca: Medsos dan Media Massa) yang bertumbuh pesat berperan besar dalam penyebaran paham ini.

Lebih lanjut, ia menilai kaum radikal memanfaatkan TIK untuk ‘memancing’ calon anggota baru. Menteri yang akrab dengan nama Rudiantara mengancam akan menutup platform terkait bila diperlukan. Diwaktu yang berbeda, wakil presiden, Jusuf Kalla juga menunjuk TIK sebagai sebab menurunnya moralitas pemuda.

Pandangan seperti itu sebenarnya juga diamini oleh banyak professional di republik ini. Bahkan juga para orang tua dan guru. Bagi mereka, TIK bagai dua sisi mata uang. Selain memudahkan, ia juga  menggerus pendidikan anak dan remaja. Bahkan TIK dianggap sebagai biang kerok dari mayoritas permasalahan yang dialami generasi bangsa ini.

Perpepsi negative seperti ini memang tak hadir begitu saja. Banyak kejadian yang dijadikan dalih serta argumennya. Mulai dari kasus kekerasan, seks bebas, bullying dan kasus lain yang melibatkan pemuda. Regulasipun dibuat sedemikian rupa. Namun, hasilnya tak optimal.

Akan tetapi, pandangan tersebut sesungguhnya tak berlaku dikalangan anak muda. Khususnya yang disebut sebagai generasi Z. Mereka lebih optimis. Keyakinan bahwa TIK dapat dimanfaatkan untuk kebaikan tertanam dalam kalbu. Bagaimanapun, mereka hidup dan tumbuh bersama TIK.

Mereka paham, Indonesia, sebagai Negara yang kental dengan adat ketimuran, TIK menjadi problematic. Namun, globalisasi menghendaki modernisasi. Ia sangat sulit untuk dibendung. Untuk menjadi Negara yang competitive, mustahil tanpa TIK. Maka salah satu sikap terbaik adalah memanipulasi TIK untuk pendidikan.

Sebagai generasi yang memiliki masa depan yang masih panjang. Gen Z harus bergerak. Memberi bukti meyakinkan bahwa TIK sesungguhnya tak seburuk yang dipikirkan oangtua dan guru mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peran Generasi Z dalam Pemanfaatan dan Pengembangan TIK terhadap Pendidikan Nasional

 

            Generasi Z (Gen Z) merupakan istilah yang digunakan oleh seorang sosiolog, Karl Mannheim untuk menyebut mereka yang lahir bersamaan dengan hadirnya internet. Saat itu, ditahun 1923, ia menulis esai yang berjudul “The Problem of Generation”. Ia membagi manusia yang lahir setelah perang dunia II menjadi 4 generasi. Secara singkat yaitu; Pertama, generasi baby boomer (lahir 1946-1964), kedua, generasi X (lahir 1965-1980), ketiga, generasi Y (lahir 1981-1994) dan yang terakhir generasi Z (lahir 1995-2010).

Karena hidup pada era berkembangnya internet, gen Z adalah generasi yang paling ahli dan terbiasa menggunakan mobile phone (Andi Primareta, 2012). Mencari informasi sangat mudah bagi mereka. Termasuk berkomunikasi jarak jauh. Setali tiga uang, Akhmad Sudrajat menggambarkan gen Z sebagai generasi yang fasih teknologi, sosialis dan multitasking. Implikasinya, gen Z  cenderung suka dengan hal-hal instan dan tidak suka hal yang berbelit-belit.

Fakta tentang generasi Z tersebut tentu memiliki sisi positif namun juga negative. Mudahnya mengakses informasi yang tak terfilter membuat banyak Gen Z tak terkendali. Mereka menjadi kejam, pecandu sex, pemarah dan suka tawuran. Hal yang paling ditakuti ialah merosotnya moral ketimuran dikalangan gen Z.

Inilah yang mengundang keluhan bahkan cibiran dari Gen X dan Y. Biasanya, mereka membandingkan generasi mereka dengan generasi sekarang (gen Z), lalu menyimpulkan bahwa TIK adalah penyebabnya. Regulasi pun dibuat, namun tak banyak membuahkan hasil. Dunia pendidikan dianggap semakin menurun.

Padahal, untuk bisa competitive diera globalisasi ini, hampir mustahil dicapai tanpa peran TIK. Dunia berkembang sangat pesat semenjak hadirnya TIK akhir abad 20-an. TIK merupakan teknologi murah biaya, fleksibel dan instan. Sifatnya yang demikian sangat potensial untuk pemerataan pendidikan hingga daerah terpencil.

Sebagai genarasi yang besar bersama TIK, gen z sebenarnya sangat mampu diandalkan, namun dengan cara mereka sendiri. Cara yang mungkin tak dipahami generasi sebelumnya. Cara yang nyaman bagi mereka.

Cukup banyak bukti yang bisa kita lihat terkait pemanfaatan TIK oleh gen Z selama ini. Contoh, mayoritas youtubers Indonesia adalah gen Z, Sultan Haikal, si hacker usia 19 tahun yang sukses meretas ratusan situs adalah gen Z. Belum lagi generasi Z yang tak terekspos oleh media. Namun demikian, pemanfaatan TIK oleh mereka cenderung lebih ke ranah hiburan semata.

Nah, tahun ini, adalah tahun generasi pertama gen Z (kelahiran 1995) memasuki dunia kerja, masa-masa produktif. Sementara generasi terakhirnya (kelahiran 2010) normalnya masih duduk dibangku kelas 2 SD. Disinilah seharusnya gen Z dewasa berperan. Membuktikan bahwa TIK tak seburuk dugaan banyak pihak. Khususnya memanfaatkan dan mengembangkan TIK demi kemajuan pendidikan Nasional.

Walaupun sejatinya telah banyak upaya dalam hal ini, misalnya munculnya e-book, e-learning, e-labolatory, e-education, e-library dan lain sebagainya (Edy Haryanto, 2008). Namun, usaha tersebut belum terealisasi secara maksimal dan merata. Tak sedikitnya guru yang (maaf) gaptek menjadi salah satu kendala. Hal ini dapat dipahami karena profesi guru masih didominasi Generasi X dan Y.

Demi mencapai hasil maksimal, kami menyusun 3 tahapan umum penggunaan TIK dalam pendidikan, yaitu;

a). Jangka pendek (1 – 5 tahun) : program jangka pendek focus pada penerapan TIK dalam mendukung pembelajaran di sekolah. Beberapa hal yang bisa dilakukan seperti 1). Bembuatan kelompok kelas online. Whatsup dan telegram sangat mumpuni untuk digunakan dalam program ini. Siswa yang memiliki minat dan bakat yang sama bisa dikelompokkan dalam kelas online bersama guru pengampu. Disini, mereka bisa saling berdiskusi dan lain sebagainya, tergantung aturan yang disepakati. 2). Bimbingan konseling. Biasanya, beberapa remaja tak percaya diri ketika ingin mengungkapkan masalah pribadinya face to face. Maka, salah satu opsi yang dapat digunakan ialah konseling via Facebook, atau platform lain yang terjaga privasinya. Dengan cara ini, siswa diharapkan terbuka kepada guru. 3). Pembiasaan menggunakan CD, DVD, Video dll oleh guru untuk menyampaikan materi terkait. Hal ini lebih asik bagi gen Z.

 

b). Jangka menengah (5 – 10 tahun) : adapun program jangka menengah yang bisa dilaksanakan seperti; 1). Aplikasi Smartphone untuk belajar. Aplikasi pembelajaran dapat membantu siswa belajar dimana saja dan kapan saja. Sehingga mereka belajar karena senang tanpa tertekan. Dalam pelajaran bahasa inggris misalnya, guru perlu menyusun materi pelajaran harian yang terdiri dari grammar, reading, writing, dan listening bahkan speaking dengan memanfaatkan audio-visual. Pelajaran-pelajaran lain juga bisa memanfaatkan applikasi smartphone. Kurikulum bisa disesuaikan oleh guru. 2). Mendorong yuotubers untuk memuat konten-konten pembelajaran dalam video-video mereka. Tak dapat dipungkiri, youtubers banyak digandrungi para remaja. Karena kocak, video mereka menjadi ‘pelarian’ dari penatnya kehidupan. Namun, akan sangat bermanfaat jika para youtubers – yang notabene gen Z – menyelipkan atau sesekali membuat video pembelajaran yang kreatif. 3). Membuat platform medsos pendidikan. Media sosial yang saat ini marak cenderung tak terfilter. Setiap orang bebas meng-upload apa saja. Hal tersebut tentu tak baik bagi anak-anak dan remaja. Namun, jika gen Z membuat platform khusus untuk anak usia sekolah, lengkap dengan filter konten-konten negative, tentu akan lebih bermanfaat.

 

c). Jangka panjang (10 – 20 tahun) : program jangka panjang adalah program yang dilakukan secara all out oleh gen Z dalam memanfaatkan TIK. Program ini lebih cenderung dalam memanfaatkan mayoritas media TIK, mulai media cetak hingga TIK. Hal ini demi menyukseskan Indonesia Emas 2045. Gen Z mesti berkarir dibidang kemediaan. Baik cetak maupun elektronik. Bahkan menjadi pengambil kebijakan. Sehingga media-media yang ada digunakan untuk menciptakan ‘lingkungan yang kondusif’ untuk anak-anak dan remaja. Tidak ada berita hoax, pornografi, film kekerasan dan lain sebagainya.

Dasar dari pemikiran ini adalah bahwa media memiliki peranan penting dalam menciptakan budaya masyarakat. Dalam teori komunikasi [media] massa, dikenal teori hypodermic needle theory (teori jarum suntik) yang menyatakan bahwa media memiliki kuasa untuk menyebarkan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut merasuki pikiran audience hingga diterapkan dalam kehidupan tanpa sadar. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘kesalahan yang terus disampaikan berulang-ulang akan dianggap benar’.

Sementara itu, secara psikologis, fase anak-anak dan remaja merupakan fase-fase yang mudah terpengaruh. Mereka akan mempraktekkan apa yang mereka lihat dan yang mereka dengar tanpa peduli salah benarnya. Pada fase ini karakter seseorang dibangun oleh lingkungan. Fase yang sangat krusial dalam perjalanan kehidupan. Maka, jika media-media TIK digunakan hal-hal yang baik, akan tercipta lingkungan yang kondusif dan lahir generasi beridentitas kebangsaan yang modern.

Dari pemaparan diatas, setidaknya kekhawatiran gen X dan Y terhadap moral Gen Z bisa dibendung. TIK yang bagi sebagian orang menjadi perusak gen Z justru bisa dimanfaatkan. Harapannya ada pada gen Z sendiri. Sebagai generasi yang memiliki masa depan yag masih panjang, gen Z harus berpikir jauh kedepan.

Perencanaan yang matang harus tersusun rapi di setiap kepala gen Z. Identitas Indonesia dalam usianya yang ke-100 ditahun 2045 tergantung apa yang direncanakan gen Z bersama seluruh komponen bangsa saat ini.

The Sensitive Year

37176544-indonesia-mapa-en-un-fondo-de-la-bandera-de-indonesia-vendimia

Diawali oleh pidato mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama di pulau seribu lalu, public menjadi sensitive. Pidato penistaan agama tersebut menjadi pemicu berbagai peristiwa. Masyarakat terpecah menjadi berkubu-kubu. Setiap kubu mengklaim pihak yang benar. Maka, lahirlah aksi massa terbesar sepanjang sejarah, aksi 212. Setelah Ahok dipidana 2 tahun penjara, kembali terjadi aksi balasan. Aksi seribu lilin yang diadakan seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Walau peristiwa-peritiwa tersebut terjadi berbulan-bulan lalu, namun jejaknya tetap jelas. Kubu-kubu yang berseberangan masih ‘bertempur’. Paling tidak dimedsos. Public – yang dulunya tak bernafsu membahas masalah Negara – kini memelototi setiap kejadian. Public menjadi ‘penyusun puzzle’ setiap tragedi. Masyarakat menjadi sensitive. Apapun yang terjadi, akan dianggap sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Kelas menengah ke bawah, yang awalnya hanya memikirkan nasibnya, mulai ikut mengawas Negara. Para ibu rumah tangga, yang tahun lalu menggunakan medsos hanya untuk sharing masalah rumah tangga, kini mulai menganalisis setiap peristiwa yang terjadi. Dan mereka yang sedari dulu kritis, mendapat peluang ‘naik daun’. Tulisan-tulisan mereka di Facebook, di blog hingga cuitan di twitter semakin digandrungi. Menjadi rujukan yang berkepentingan.

Kondisi ini tentu ada plus minusnya. Berita baiknya adalah masyarakat mulai sadar akan perannya di negeri ini. Bahwa mereka punya tanggung jawab atas segala hal yang terjadi. Bahwa mereka berhak mengkritik dan berpendapat. Hal ini akan menjadi pengawas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pejabat akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Dengan meleknya masyarakat terhadap politik, diharap menjadi batu loncatan untuk menemukan tokoh yang benar-benar bersih. Yang lahir dari rahim rakyat dan mengerti kondisi rakyat. Bukan di’asuh’ oleh media. Bukan hasil pencitraan.

Namun, kondisi ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal buruk. ‘Devide at ampera’ atau politik belah bambu ala belanda sangat mudah diterapkan. Pihak-pihak yang tak suka dengan kebangkitan Indonesia akan terus menggoreng isu. Lalu, isu-isu yang telah ‘matang’ tersebut ‘dihidangkan’ di web, blog hingga medsos. Maka terjadilah perdebatan antar kubu. Bisa dipastikan umpatan, makian, olokan, juga ocehan akan bersileweran di kolom komentar.

Jika hal seperti itu sudah terjadi, bisa dipastikan keharmonisan dalam berbangsa akan hilang. Potensi-potensi besar Negara menjadi sia-sia, tak bernilai. Kemudian menjadi pintu masuk bagi kehancuran bangsa ini.

Solusinya adalah intropeksi masing-masing pihak. Berupaya “melihat kedalam”, bukan malah sibuk mencari kesalahan. Berkonstribusi nyata terhadap kemajuan, tidak malah menghancurkan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

​Aku bertanya ‘Perlukah #Revolusi?’

Revolusi

Ketika kaum miskin terlunta”….
Sedang yang kaya berfoya”….

Perlukah #Revolusi?

Ketika Bu Patmi merenggang nyawa karena menuntut haknya….

Sedang penguasa tertawa” di kursi empuknya….

Perlukah #Revolusi?

Ketika anak terbaik bangsa berakhir di penjara…..

Karena tuduhan yang dibuat” para pemain sandiwara….

Perlukah #Revolusi?

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Ketika pers menjadi corong pembualan….

Sementara yang benar ditenggelamkan….

Perlukan #Revolusi?

Ketika sang penista bebas berkeliaran….

Sementara Ulama diancam pembunuhan….

Perlukah #Revolusi?

Ketika aparat menjadi preman….

Seenaknya membubarkan pengajian….

Perlukah #Revolusi?

Ketika komunis mengancam Sang Garuda….

Sedang si panda menjadi garang dan berbisa….

Perlukah #Revolusi

Aku bertanya “Perlukah #Revolusi?”

Indonesia merana….

Dunia tertawa….

Melihat martabat bangsa hilang entah kemana….

Sementara istana menunduk patuh tak berdaya….
Oh, kemana lagikah aku mengadu?

Selain kepada kalian yang merasa kita adalah satu?

Dan kepada kalian yang mengaku “Indonesia di hatiku?”

Juga kalian yang berteriak “Jaga NKRI dari pengadu, mari bersatu?”

Kita hanya menunggu waktu….

Kita menunggu perintah “Serbuuuu!!”…

Tak perlu #Revolusi???

M Faruq

Surabaya, Rabu, 00.00 WIB